Wednesday, September 26, 2007

Bawakan Aku.. Djawa!

[nyilet2 orang mode: OFF]

Daripada bulan puasa nyilet2 melulu.. gw cerita yang lain aja deh ;-)

Jumat lalu, pas pulang kantor, dapat sebuah kejutan manis: kiriman CD album pertama Djawa. Memang, dua adik ‘maya’ ini beberapa waktu sebelumnya sudah woro2 bahwa gw cukup beruntung mendapatkan satu dari lima belas keping mini-album perdana mereka. Belum launching sih, jadi kirimannya pun ada embel2: kasih komentar dongg ;-)

Well.. komentar sudah dikirimkan via jalur pribadi, sebenernya. Tapi.. lantaran gw ini punya kecenderungan jadi Sri Narsiswati*, makaa.. terpaksa deh gw tulis juga komentarnya di blog. Lagian, sebagai bukti otentik kalau2 nanti ada dispute tentang siapa yang boleh mematenkan komentar ini duluan ;-)

Duet Djawa ini dibentuk oleh sepasang bocah mbencekno(c) jebolan Akademi Fantasi Indosiar, putaran kedua: Adit & Nia. Kisah kasih masa karantina berlanjut sekeluarnya mereka dari asrama, dan.. setelah kontrak dengan Indosiar selesai, mereka berdua berkongsi untuk mencoba peruntungannya di dunia hiburan. Kenapa dipilih namanya Djawa? Nggak tahu juga, gw belum sempat nanya.. hehehe.. Tapi kayaknya nggak jauh2 dari fakta bahwa mereka berdua Jawa, dan dulu mewakili kontingen Jawa Timur ;-)

Ada 4 lagu di mini-album terkirim itu. Temanya cinta2an semua.. cocok banget kalau sponsornya es krim yang menggunakan “Selalu ada Cinta” sebagai mottonya ;-)

Oops.. kok jadi ngomongin es krim ;-). Lanjut ke albumnya aja deh ;-)

Empat lagu tersebut disusun secara manis, sehingga bisa menimbulkan kesan perjalanan sebuah kisah cinta: dari ketakutan akan hilangnya cinta, benar2 kehilangan cinta, mengkaji ulang mengapa cinta hilang, dan.. terakhir.. ditutup dengan penerimaan bahwa cinta yang hilang tak perlu ditangisi ;-)

Untuk lebih jelasnya, gw kasih cuplikan lagu2nya aja ya.. ;-). Nggak berani ngasih full lyric, karena belum keluar albumnya ;-)

***

Aku tak ingin itu
Rasa itu menusuk kalbuku
Akankah kau hilang?

Reff: Ku tak ingin engkau pergi
Tinggalkan aku
Yang saat ini mencintaimu
Setulus hati

Track 01 - AKANKAH KAU HILANG?

Lagu ini menjadi pembuka di mini-album ini. Lagunya mellow yellow, dengan banyak sekali bermain di nada2 setengah. Kesannya jadi sendu abis, karena iringan musiknya hanya gitar dan piano. Pianonya pun lebih banyak bermain di chord, bukan irama.

Lagu2 mellow yellow begini memang ”makanannya” Nia. Makanya dia cocok banget menyanyikan lagu ini. Yang agak keteteran Adit, karena dipaksa bernyanyi dengan nada rendah di sini. Maklum, sebagai cowok suara Adit sama sekali nggak bass.

Still, dengan ketidaksempurnaan ini, lagu ini masih cukup enak didengar. Pada dasarnya musiknya memang ringan mengalir. Dan.. nada sendu yang dipilih, pas banget untuk menyampaikan isi cerita: ketakutan akan hilangnya cinta. Saat2 ketidakpastian cinta akan dibawa kemana. Ketika rasa takut itu menusuk kalbu, dan kita selalu bertanya2: masihkah kita punya waktu untuk terus bersamanya? Akankah dia selamanya di sini? Atau.. akankah dia hilang?

Track 02 - BAWAKAN AKU

Kata ”Tidak” cukuplah untukmu
Hancur, habislah aku

Reff: Bawakan aku cinta
Bawakan aku keindahan duniamu
Bawakan aku sejuta kasih
Walau kau masih tak bisa mencintaiku

Ini lagu kedua, dengan irama yang masih mellow yellow. Kesan sendu lebih ”dapat” lagi di sini, terutama karena hanya diiringi oleh dentingan gitar akustik. Deuuh.. nggak tahu ya.. apa gara2 dulu gw suka dengerin orang main gitar, jadinya kalau ada bunyi gitar akustik tuh bawaannya mellow banget ;-) Itu gara2 gw-nya, atau gara2 gitar akustiknya sih ;-)?

Biarpun lagu ini mellow (baca: makanannya Nia banget ;-)), di sini Adit sudah bisa mengimbangi. Mungkin karena nadanya nggak terlalu rendah lagi.

Personally, gw suka sama syair lagu ini. Benar2 menggambarkan rasa ketika menghadapi kenyataan pahit kehilangan cinta. Segampang itu menghilangkan cinta, dengan sepenggal kata ”Tidak”. Kata ”tidak” yang artinya bisa banyak: tidak mau melanjutkan hubungan? Tidak mau lagi berjalan beriringan? Tidak mau lagi ditelfon? Tidak mau lagi di-SMS?

Sepenggal kata ”Tidak”, tapi cukup untuk membuat seseorang hancur dan ”habislah aku”. Dan selanjutnya hanya bisa berharap: ”Bawakan aku sejuta kasih, walau kau masih tak bisa mencintaiku”.

Duh! Luka itu pedih, Jenderal!

Reff: Salahkah ’ku mencintamu
Lebih dari adanya?
Posesifnya ’ku padamu
Jika kau tak suka itu
’Kan kupertanyakan
Rasa cintamu kepada diriku

Mungkin aku yang tak sadar
Telah membodohi kamu
Dengan aturan cintaku

Track 03 - POSESIVEKU

Gw gak salah tulis, judulnya memang ”Posesiveku”, bukan ”Posesifku” atau ”Posesivku”, apalagi ”My Possessiveness” ;-)

*oops, katanya nyilet2 mode: OFF, tapi masih cari kesempatan.. hehehe.. Maaf ya, ’sifat dasar’ gw emang suka nyilet sih. Cambuk diri sendiri dulu deh ;-)*

Nggak seperti dua lagu pertama, lagu ketiga ini nggak mellow yellow, meskipun masih dalam kategori lagu slow. Kalau di lagu pertama dan kedua Djawa memberi warna dengan musik pengiring yang hanya 1-2 alat musik, di sini mereka pakai full band. Tapi tetap ada warna khususnya: intronya menggunakan refrain yang suaranya dimodifikasi seolah2 keluar dari perangkat lain (Radio? Toa?). Jadi kebayang sebuah video klip dimana si tokoh sedang duduk mendengarkan lagu yang diputar di radio, sebelum kemudian mulai bernyanyi; mengumandangkan jawaban yang baru ditemukannya (dari lagu di radio itu) tentang mengapa cintanya hilang.

Yup! Kalau lagu pertama cerita tentang takut kehilangan cinta, lagu kedua cerita tentang rasanya kehilangan cinta, lagu ketiga ini seolah jawaban mengapa cinta itu hilang. Mungkin, ada egoisme dalam cinta itu, tanpa kita sadari. Dan pada saatnya, egoisme itu yang membuat cinta kita hilang. Mungkin aku yang tak sadar telah membodohi kamu dengan aturan cintaku. Meskipun pembodohan itu dilakukan karena ku mencintaimu lebih dari adanya ;-).

Memang, yang berlebihan itu nggak pernah baik. Tidak juga cinta ;-) Don’t blame it on the rain ;-) When we lose our love, blame it on ourselves ;-)

Ohya, khusus lagu Posesiveku ini bisa disimak di sini. Ini direkam Bro Iwan saat Djawa diwawancara VOA di CTV Banten beberapa waktu lalu. Pinjem ya, bro! Kalau ada suara2 yang nggak pas, atau rekamannya kurang indah, yaah.. maklum aja. Kesalahan pada kuping Anda.. HAHAHAHA.. ;-)

Track 04 - PERGI SAJA

Sekian lama kita berpisah
Dan tak menyisakan rasa yang indah
Kini kau datang lagi padak
u
Sayang aku ada yang punya

Reff: oooh.. pergi saja dirimu dari hadapanku
Sebelum dirinya datang dan kan melukaimu
Maafkan aku jika ku sudah ada yang punya

Album ditutup dengan sebuah lagu bernada riang. Menggebrak! Si gila Adit baru kelihatan gilanya di lagu ini ;-) Teriak2an non-sense syllable khas Adit seperti “whoopa!” baru mulai kedengeran lagi di sini. Growl-nya Adit yang berbasis rock juga kedengaran jelas. Nia, yang sebenernya lebih cocok nyanyi lagu mellow, juga bisa mengimbangi di sini. Tawanya yang girlie memberi warna tersendiri pada lagu ;-)

Syair lagu ini menutup manis perjalanan kisah cinta yang dirangkai dari lagu pertama. Kisah lama yang sudah berhasil dilupakan. Sehingga ketika si-cerita-lama datang kembali, bisa dengan tenang menjawab: pergi saja dirimu dari hadapanku ;-)

Personally, gw suka banget sama lagu ini, biarpun syairnya paling denotatif di antara lagu2 lainnya. Hehehe.. biasanya kan gw nggak suka sama syair yang nggak konotatif, tapi.. sekali ini gw suka sama aura riang-gembira-menjurus-ke-gila musiknya ;-)

***

So.. gitu deh, komentar yang gw kirim untuk Djawa yang baru melangkah memasuki dunia baru. Semoga sukses ya, Nduk, Le, dengan albumnya ;-)

Dan jangka pendeknya, semoga sukses dengan acara live performance Djawa yang pertama. Mal Citraland, 27 September 2007 kan ;-)? Can’t join you there, but be sure that I’m proud of you two ;-)

Aaanyway.. buat yang penasaran mendengar lagunya.. well, mungkin bisa jalan2 ke Surabaya dulu.. hehehe.. Beberapa radio swasta di Surabaya sudah mulai memutar lagu ini. Kabarnya sih sambutan di sana cukup hangat, sehangat lumpur Lapindo ;-). Kalau di Jakarta.. yaah.. mudah2an dalam waktu dekat deh diputar. Live performance aja dulu ;-)

-----

*Sri Narsiswati: tokoh rekaan dalam blog Kamar Cewek yang dimatikan saat novelnya terbit ;-)

Monday, September 24, 2007

Masih ada "Dan"-nya

Hari kedua puasa lalu, gw dapat email dari seorang teman lama yang tinggal nun jauh di belahan bumi yang berbeda. Email balasan terhadap email gw seminggu sebelumnya, dan dimulai dengan:

pertama2 minta maaf. bukan karena puasa huahahhaha karena gue ngga puasa (tahu deh.. belum terpanggil, maunya sih lebih ke arah puasa nahan marah, soalnya kalau makan dan minum ngga bulan puasa pun suka ngga sempet/lupa)

Jujur aja, gw agak kaget baca pembukaan emailnya ini ;-)

Nggak, gw nggak berhak dan nggak ingin menilai keimanan seseorang, apalagi hanya karena dia [walaupun muslim] tidak berpuasa. Gw tahu susahnya berpuasa di negeri yang berbeda musim. To tell you the truth, track record gw beberapa kali puasa di negeri lain yang berbeda musim, nggak pernah bagus.. hehehe.. Paling banter 3:1 deh, 3 hari nggak puasa, sehari berhasil puasa ;-) Kalau lagi summer, gw nggak tahan panasnya. Kalau lagi winter.. ternyata.. dingin itu bikin laper, Jenderal! Haus sih kagak, tapi badan menggigil karena cadangan lemak menyusut.

*Catatan: jaman dulu lemak gw belum sebanyak sekarang! Catet!*

Yang terakhir, tahun 1996, malah gw cuma membukukan angka 9:2.. hehehe.. Satu hari puasa, 3 hari tepar, 6 hari nyoba puasa lagi tapi nggak full, baru di hari terakhir sebelum lebaran dipaksain puasa lagi. Salah gw juga sih.. pas berangkat itu gw bingung mengira2 jam imsak di pesawat. Ngeyel nggak mau pakai privilege sebagai musafir ;-) Jadi.. biar aman, gw makan/minum terakhir jam 21:00, sebelum pesawat berangkat. Dua belas jam kemudian mendarat, baru jam 14:00 di destination yang 5 jam lebih cepat dari Jakarta itu. Maghribnya menjelang jam 21:00, jadi masih harus puasa lagi cukup lama. Total jenderal 21 jam gw puasa, dalam keadaan lelah dan jet-lag. Teparlah besoknya, radang tenggorokan!

OK, jadi gw nggak menyalahkan si teman lama jika dia tidak berpuasa. Apalagi menilik sejarah lingkungan keluarganya yang priyayi-abangan, dan sekarang ia menikah dengan seorang non-muslim, tentu susah untuk meyakinkannya untuk berpuasa. Biar kata teman gw ini punya personality yang kuat, bisa jadi apa saja yang dia mau, tapi belief system yang terlanjur tertanam dan terkuatkan oleh lingkungan dimana ia dibesarkan adalah puasa-itu-tidak-perlu.

Cumaa.. gw bener2 kaget membaca alasannya. Gw kaget karena gw nggak bisa mengingat kapan terakhir kali gw mengasosiasikan puasa dengan menahan lapar dan haus ;-)

Ohya, bulan puasa itu memang default-nya menahan lapar dan haus kan? Dari imsak sampai maghrib. Tapi justru itu masalahnya! Buat gw lapar & haus itu sudah jadi default, bukan tujuan puasa lagi ;-) Tujuan puasa lebih dari sekedar menahan lapar dan haus. Itu cuma prasyarat aja. Prasyarat biar kita bisa menggapai tujuan yang sebenarnya dari puasa itu: mampu menahan diri dari segala hal yang buruk. Nggosip. Marah. Nyilet orang. Sok tahu. Mau tauuu aja urusan orang... ;-) Sesuatu yang susah dilakukan dalam keadaan tidak lapar dan haus, APALAGI dalam keadaan lapar & haus ;-)

Maka, gw cukup kaget ketika menemukan seseorang yang usianya nggak jauh dari gw masih melihat puasa sebagai a mere lapar dan haus. OK-lah, kalau dia nggak lihat perlunya atau pentingnya.. hehehe.. Biarpun kita punya pandangan yang beda aja, setidaknya itu bikin dia kelihatan ngerti apa maunya. Ngerti kenapa dia nggak mau puasa. Tapi.. mengatakan bahwa nggak puasa karena toh sehari2 sudah sering nggak makan dan nggak minum, meletakkan puasa sebagai sekedar menahan lapar & haus.. lha.. kok jalan pikirannya kayak anak seumur Ima sih? Hehehe..

**

Belum habis kekagetan gw, tadi pagi nonton berita di TV. Ada berita FPI sedang merazia warung yang buka di siang hari. Di tayangan televisi jelas terlihat bagaimana mereka mengobrak-abrik warung yang buka; membanting gelas, menghancurkan meja2, mencongkel dinding2 kayu mencari makanan/minuman yang disembunyikan. Klausul yang menjustifikasi tindakan mereka: ini bulan puasa, dan warung yang buka berarti tidak menghormati bulan puasa.

WTF!

Gw hanya bisa tersenyum melihat ini. Sedang membela bulan puasa dengan merazia warung yang buka? Atau sebaliknya: menginjak2 bulan puasa dengan melanggar apa yang sebenarnya menjadi tujuan puasa, beyond lapar dan haus yang default itu?

**

Tadi pagi juga sempat blogwalking, menemukan sebuah cerita menarik di blog Mamah Ani, bibinya Neng Astrini. Tentang ibu2 di kampung seputar Serpong yang [meminjam kata2 si Mamah]: ”separuh wajib” ikut pengajian, dengerin ustadz atau ustadzah “ngajarin yang baik baik”, kalau nggak hadir, ya dikucilkan, ya diomongin, ya dicap kapir.

Deeuh! Ini lagi yang lucu.. hehehe.. seolah2 perbuatan buruk yang wajib dihindari di bulan puasa ini terbatas pada tidak ikut pengajian. Sementara mengucilkan orang, memberi label kafir pada orang lain, hukumnya sah2 aja ;-) Jadi inget sinetron2 Indonesia.. dimana ”pendosa” kena azab Tuhan, sementara penduduk kampung yang mencacimaki si ”pendosa” selamat2 aja. Padahal.. emangnya perbuatan yang mereka lakukan itu gak tergolong ”dosa” ;-)?

**

Melihat2 semua itu, jadi inget lagunya Tasya, yang berjudul ”Apakah Arti Puasa?

Apakah arti puasa?
Puasa tidak makan
Puasa tidak minum
Sejak subuh sampai maghrib

Apakah arti puasa?
Puasa menahan lapar
Puasa menahan haus
Dan menjaga perilaku

Itu lagu siapa yang menciptakan ya?

Siapa pun yang menciptakan, sayang sekali kalimat dan menjaga perilaku” itu ditaruh di bait kedua. Jadinya.. yaaah.. sampai sekarang, orang2 sering lupa bahwa dalam yang namanya puasa itu menahan lapar dan haus bukan lagi berita utama ;-) Selalu saja lupa bahwa masih ada ”dan”-nya: menjaga perilaku ;-)

Dan… kata sambungnya “dan” lho, ya… bukan “atau”. Jadi tidak bisa terpisahkan atau menggantikan menahan lapar/haus ;-)

Saturday, September 22, 2007

Terang Bulan

“’Terang bulan, terang bulan di kali.. Buaya timbul disangkalah mati,’ Malaysiaaaa... Malaysia! Lagu kebangsaan aja kok nyontek lagu keroncong Indonesia!”

Begitu Bapak biasa mencela tiap kali mendengar lagu kebangsaan Malaysia berkumandang, misalnya saja ketika Malaysia memenangkan pertandingan Piala Thomas. Bikin gw cengar-cengir sendiri, karena memang nada “Keroncong Terang Bulan” yang beliau nyanyikan itu sama persis sis dengan “Negaraku”, lagu kebangsaan Malaysia. Nggak tahulah versi siapa yang benar; kalau menurut versi Bapak (baca: Indonesia?), Keroncong Terang Bulan itu muncul duluan. Tapi.. kalau menurut versi lain yang gw dengar (versi Malaysia?), Indonesia yang membuat lagu kebangsaan Malaysia menjadi berirama keroncong di masa2 konfrontasi RI-Malaysia. Tentang lagu2 itu, baca ajalah di sini, kalau yang dua tautan tadi versi Wiki-Ms ;-)

Bokap gw tukang nyilet kayak gw ya? Hehehe.. Atau malah rasis ;-)?

Entah juga. Menurut gw mungkin gejala yang wajar saja. Kuliah di FH Unpad dengan program studi kesenatmahasiswaan pada masa gencar2nya promosi “Ganyang Malaysia!”, nggak heran kalau Bapak punya soft spot untuk negeri jiran ini. Pokoknya, buat Bapak, Malaysia itu nggak ada apa2nya dibandingkan dengan negeri tercinta Indonesia ini.

*Catatan dulu: eh, bentar.. jangan pada repot2 mencari tahu tentang program studi yang gw sebut di atas ;-) Itu cuma lelucon temen2nya Bapak untuk menggambarkan Bapak yang selama kuliah lebih sering nongkrong di organisasi mahasiswa daripada ruang kuliah. Tapi jaman Bapak kuliah memang ekstrakurikulernya lebih rame daripada kuliah sih.. selain ada konfrontasi RI-Malaysia, ada pemberontakan G30S PKI, .. siapa juga yang bisa tahan duduk manis di ruang kuliah kalau kayak gitu ;-)*

Balik ke cerita awal.. ;-) Buat Bapak, Malaysia itu second to Indonesia.

“Kalau kelihatan agak bagus, itu karena mereka beruntung aja dijajah Inggris, bukan dijajah Belanda. Inggris itu penjajah profesional; mereka nggak maruk menguras kekayaan alam koloninya, melainkan membuat sistem sedemikian rupa supaya koloninya selalu terikat pada mereka. Beda sama penjajah amatir seperti Belanda, yang berpikirnya jangka pendek. Makanya rakyat Indonesia akhirnya muak sama Belanda dan angkat senjata, sementara Malaysia nunggu disuapi kemerdekaan oleh Inggris”

Ah, Bapak, Bapak. Masih nyolot aja setelah sekian tahun konfrontasi berakhir.. hehehe..

Eh, dulu gw pikir omongan Bapak ini cuma sisa2 ke-sensi-an seorang mantan aktivis mahasiswa lho! Baru hari ini gw nyadar Bapak punya point of view yang bisa dipertanggungjawabkan ;-) Yaitu setelah membaca Laporan Khusus Kompas bertajuk “Malaysia Sudah Berjalan Jauh” (Sabtu, 22 September 2007). Salah satu artikelnya, berjudul “Sentralisme yang Kian Mengkhawatirkan” menuliskan kalimat yang senada:

Sebagai bekas jajahan Inggris, Malaysia lebih “beruntung” ketimbang Indonesia. Pemerintah Inggris meninggalkan banyak hal, infrastruktur dan tata administrasi, sehingga Malaysia tidak perlu menguras energi dan waktu untuk membangun pemerintahan dan kelembagaan hingga pelosok.

(hal. 44)

Iya ya, sedikit banyak Malaysia lebih beruntung. Bandingkan dengan infrastruktur yang ditinggalkan Belanda untuk kita. Dari dulu yang bisa disebut2 kok cuma jalan sepanjang Anyer – Panarukan yang diprakarsai oleh Daendels ya.. hehehe.. Emang ada juga sih Banjir Kanal Barat, dan beberapa infrastruktur lain, tapi.. secara umum tampaknya Malaysia memang lebih beruntung karena penjajahan sistematis dan profesional ala Inggris ;-)

Cumaa.. kalau dalam sekian puluh tahun, Malaysia yang sering dicela2 Bapak itu kini sudah melangkah jauh, tentu bukan hanya karena faktor keberuntungan karena pernah dijajah Inggris ya? Lebih banyak karena usaha mereka sendiri yang lebih fokus dan lebih disiplin untuk membangun negara.

Simak artikel lain di halaman 34, yang berjudul “Ekonomi Malaysia Kian Melaju”. Ada empat faktor yang disebut2 di belakang kesuksesan Malaysia.

Malaysia amat diuntungkan memiliki Mahathir Mohamad, pemimpin yang visioner dan berani membuat keputusan yang strategis untuk menyelamatkan negara dan rakyatnya. Dia menolak mengikuti paket program pemulihan ekonomi yang ditawarkan Dana Moneter Internasional. Mahathir juga berani mematok nilai tukar satu dolar AS setara dengan 3,8 RM.

Kedua, Pemerintah Malaysia konsisten dalam bekerja. Setiap kebijakan, baik jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang yang telah diputuskan, dilaksanakan dengan konsisten.

Ketiga, saat krisis terjadi, jumlah penganggur hanya berkisar tiga sampai empat persen.

Keempat, Malaysia memiliki stabilitas politik yang terjaga sehingga proses pemulihan krisis ekonomi berjalan efektif.

Hmm.. bener juga! Indonesia kurang memiliki 4 faktor ini, sehingga kurang cepat majunya.

Well.. kalau sekarang, yang ketiga dan keempat itu memang mungkin masih sulit ya.. untuk Indonesia. Dengan jumlah penduduk yang sudah terlanjur terlalu banyak, sangat susah untuk mulai menekan angka pengangguran di bawah 5%. Dan mengatur penduduk yang sedemikian banyak untuk menjaga stabilitas politik juga hal yang susah. Makin banyak kepala, makin banyak maunya, makin sulit menjaga kestabilan politik.

Tapi.. kayaknya kita masih bisa berharap pada dua poin pertama deh: pemimpin revolusioner yang berani membuat keputusan strategis, serta pemerintahan yang konsisten dalam bekerja. Jadi.. kenapa nggak mulai dari kedua poin ini?

Para pemimpin dan orang2 pemerintahan itu bisa lhooo... mulai melangkah ke arah maju seperti Malaysia. Asal jangan dibiasakan lagi ngambil 15 milyar – 35 milyar (bukan juta) dollar AS seperti... (baca pojok usil di Kompas pada hari yang sama, halaman 6 ;-)).

Kalau pemimpin2 kita masih macam ini.. yaah.. baiknya kita ganti aja lagu kebangsaan kita dengan Keroncong Terang Bulan. Pakai syair aslinya:

Terang bulan,
Terang bulan di kali
Buaya timbul disangkalah mati

Jangan percaya,
Mulutlah lelaki pemimpin RI
Berani sumpah, tapi takut mati

Ayoo! Mainkan ukulelenya.. hehehe.. Oops! Jadi usil beneran ;-)

**

PS: Ngomong2, ada yang ngerti nggak sih, kenapa di tautan Wiki-En ini, lagu Terang Bulan dilanjutkan dengan Potong Padi? Emang bisa gitu ya, motong padi waktu terang bulan? Kayak Dayang Sumbi & Roro Jonggrang aja.. lagi terang bulan buru2 menumbuk beras biar Sangkuriang dan Bandung Bondowoso gagal mempersuntingnya ;-)

Friday, September 21, 2007

[Bukan] Tragedi Buah Apel

Apel itu buah yang istimewa.

Nggak percaya? Coba hitung berapa dongeng yang mencantumkan apel sebagai bahan baku utamanya ;-)

Pertama2, kita punya kisah Snow White, si Putih Salju. Bagaimana ia bisa tertidur hingga terbangun oleh ciuman sang pangeran? Yak! Benar! Karena ibu tirinya yang menyamar menjadi seorang nenek tua penjual apel memberikan sebuah apel beracun untuknya.

Terus.. Mitologi Yunani pun punya beberapa kisah tentang apel. Yang pertama bercerita bagaimana Hippomenes akhirnya bisa menaklukkan (dan akhirnya memperistri) si pemburu cantik Atalanta dengan berbekal kecerdikan serta tiga butir apel emas. Lalu ada juga kisah tentang Tugas-tugas Hercules, dimana tugas ke-11 adalah Mencuri Apel Emas dari Taman Hesperides. Pohon Apel Emas yang buahnya harus dicuri Hercules itu sendiri punya kisahnya sendiri: merupakan hadiah pernikahan untuk Hera, si Dewi Pernikahan, dari Gaia, si Dewi Bumi.

Satu lagi kisah mitologi Yunani tentang apel adalah The Judgment of Paris. Ketiga dewi cantik Hera, Athena, dan Aphrodite, berebut apel emas. Paris of Troy, yang terkenal bijak, diminta menjadi arbitrator untuk perebutan ini. Yang menarik di sini, masalah apel emas ini pun akhirnya membuat Paris of Troy menjadi tidak bijak. Terbukti dengan pilihannya memenangkan Aphrodite karena diiming2i untuk dapat menikah dengan Helen, yang saat itu sudah menikah dengan Menelaus. Ketidakbijaksanaan Paris inilah yang kemudian menjadi cikal bakal Perang Troya.

Masih mau kisah tentang apel lagi?

Sebagian penganut agama samawi menterjemahkan buah terlarang sebagai apel. Setan membujuk Eva, yang kemudian merengek kepada Adam, untuk mengambilkan sebutir apel baginya. Kalau nggak salah, cerita inilah yang ditengarai sebagai akar istilah Adam’s Apple, alias jakun. Menurut sahibut hikayat, ketika Adam sedang makan apel bagiannya, Tuhan mulai menegur. Itu sebabnya Adam tersedak dan potongan apel itu tertinggal di lehernya.

Istimewa, kan, buah ini?

Kalau ditilik2 dari cerita di atas, apel punya hubungan yang amat sangat erat dengan cinta. Well.. lepas dari segala intrik2 yang menyertainya, bukankah apel selalu berkait dengan cinta?

Cinta Hera kepada Zeus-lah, yang membuatnya cemburu pada Alkmene, hingga memberikan tugas2 sulit pada Hercules.

Cinta sang pangeranlah, yang kemudian menyelamatkannya Putih Salju dari kematian yang dikehendaki ibu tirinya.

Cinta Hippomenes pada Atalanta lah, yang membuatnya ngeyel memenangkan pertandingan itu. Cerdik, atau sedikit licik? Pada akhir kisah tak banyak bedanya, karena toh memang Hippomeneslah yang pantas bersanding dengan Atalanta ;-)

Yang agak tricky mungkin dalam kisah Paris of Troy. Masuk akal sih, karena apel emas dalam cerita ini sejatinya adalah Apple of Discord, alias eufemisme dari cikal bakal kekacauan besar. Tapi.. tetap ada kecantikan dan cinta di situ. Karena cintalah yang membawa Menelaus menyerang Troya untuk mendapatkan kembali Helen ;-)

***


Semua tentang cintalah yang terlintas di kepala saat melihat parfum ini: Nina, by Nina Ricci. Baunya memang sedikit terlalu manis (I prefer the soft floral fragrance more, jasmine is still the best ;-)), tapi botolnya cantik sekali. Seakan2 ada sebentuk cinta dalam buah apel tersebut.

Dan untuk Ibu tercinta, tak ada persembahan yang lebih pantas daripada cinta dalam sepotong apel.

Happy 58th Birthday, Mom!

September 21, 2007.

Monday, September 17, 2007

He Ain't Heavy, He's My Son

Gw baru menyadari suatu hal yang lucu tentang fairy tales: sedemikian banyak fairy tales klasik, namun.. ternyata hanya ada satu yang mengangkat tema parents’ unconditional love towards their child. Dan yang lebih lucu lagi.. satu2nya fairy tale yang mengangkat tema ini bukanlah bercerita tentang ibu dan anak, melainkan.. bapak dan anak.

Lho.. apa yang terjadi dengan semua pepatah ”Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepenggalan” dan ”Surga di bawah telapak kaki ibu” ;-)?

Ya, cerita yang mengangkat tema unconditional love ini, amazingly, adalah cerita tentang seorang ayah yang begitu mencintai anaknya. Tak perduli bahwa anaknya berkali2 mengecewakan dia. Ada yang bisa menebak?

Yup! I’m talking about Pinocchio ;-)

Pasti semua udah pernah dengar doooong, cerita tentang Pinokio? Tapi nggak ada salahnya kalau gw ceritakan lagi ya! Mungkin biar singkat, pinjam aja opening song Operet Pinokio dari Sanggar Shangrila pimpinan Ny Tanzil; sanggar yang nge-top abis akhir dekade 70-an sampai awal 80-an (yang penasaran ama lagunya, monggo di-download aja sendiri di sini. Awas, barang bajakan ;-))

Suatu hari sunyi sepi dan sendiri
Gepeto tua buat boneka lucu
Bukan dari besi, plastik, atau blacu
Tetapi hanya dari sepotong kayu

Dia dapat kaki, tangan, hidung, mata
Tampangnya nakal, lucu, amat jenaka
Sayanglah sayang, dia hanya boneka
Tidak dapat diajak bercanda-canda

Peri Biru datang dengan tiba-tiba
Mengabulkan doa Pak Gepeto tua
Boneka jadi hidup dan berbicara
Semua jadi senang dan bahagia

Reff: Pinokio, Pinokio
Boneka kayu yang lucu
Pinokio, Pinokio
‘Ku sayang, cinta padamu

Ini awal cerita bagaimana Gepeto menciptakan Pinokio dari sepotong kayu. Untuk menemaninya, karena dia hidup sebatang kara. Gw bayangkan Gepeto menuangkan segenap cinta pada boneka yang dibuatnya; kaki, tangan, hidung, mata.. semua carefully measured and designed to portray the perfect image.

Maka, menjadi anugerah luar biasa ketika Peri Biru menghidupkan boneka itu. Pinokio bukan lagi menjadi sekedar boneka lucu, tapi menjadi seorang anak. Biarpun penampilannya tak sempurna, bukan dari daging dan darah, namun ia adalah anak yang hidup. And Gepeto loves his son so much, despite all his unideal condition.

Namun Pinokio nakal sering tergoda
Bolos sekolah tak mau dengar kata
Berpetualang mencari kesenangan
Akhirnya hanya mendapat kemalangan

Rasanya Ny Tanzil memang nggak adil nih, memberikan hanya 1 bait untuk menceritakan the bulk of the story ;-)

Ya, inti ceritanya di sini, kan? Semua orang tentu ingat bagaimana Pinokio bolos sekolah dan menggunakan uang pemberian ayahnya untuk menonton pertunjukkan Boneka Stromboli. Hingga akhirnya ditangkap dan dikurung oleh Pak Stromboli, dan nggak akan bisa lepas jika saja Peri Biru tidak muncul.

Semua orang tentu ingat bagaimana Pinokio mencoba berbohong pada Peri Biru, tidak mau mengakui kesalahannya. Dan semua orang tentu ingat akibat kebohongan itu: hidung Pinokio memanjang. Terus memanjang hingga Pinokio minta ampun dan mengatakan yang sebenarnya.

Semua pasti ingat itu kan?

Tapi sebenarnya ada sisi lain dari cerita itu yang tak kalah menariknya: bagaimana Gepeto tua menyisihkan uang yang nggak seberapa untuk membiayai Pinokio ke sekolah. Bagaimana cemasnya Gepeto tua ketika Pinokio nggak kunjung pulang sekolah. Dan bagaimana leganya Gepeto tua ketika Pinokio akhirnya muncul di rumah kembali setelah semalaman terkurung di belakang panggung Stromboli.

Uang yang hilang tak dipikirkan oleh Gepeto, yang penting anaknya kembali dengan selamat. So deep is his love :-)

*Catatan: oh, kalau yang begini nggak kepikiran, jangan kecil hati. Dulu2 gw juga nggak kepikiran kok.. hehehe.. baru kepikiran setelah jadi ibu dan punya anak sendiri; baru sadar bagaimana sedih dan galaunya Gepeto waktu Pinokio nggak pulang2. Kalau jaman kecil dulu sih gw juga lebih tertarik sama cerita tentang hidung memanjang itu. Malah punya ide untuk rajin berbohong, biar... MANCUNG ;-). Ide ini, tentu saja, disambut Ibu dengan pelototan mata ;-)*

Akhirnya ia insyaf dan jadi jera
Menjadi anak baik dan terpercaya
Peri Biru pun berkenan di hatinya
Pinokio menjadi anak manusia

Akhir kisahnya, tentu semua orang juga ingat. Pinokio memang insyaf dan jera. Menjadi anak yang berbakti pada ayahnya; dengan bersedia mengorbankan jiwa untuk menolong Gepeto yang ditelan ikan paus.

Tapi jera ini muncul setelah sebuah titik balik yang luar biasa: Pinokio, lagi2, tergoda untuk meninggalkan sekolah dan pergi ke Negeri Kesenangan. Tempat dimana ia bisa puas bermain. Dan lagi2, Peri Biru harus turun tangan menolong setelah Pinokio berubah menjadi separuh keledai atas kebodohannya sendiri.

Ohya, gw tahu bahwa moral of the story yang disetujui adalah perkembangan diri Pinokio: dari seorang anak selfish yang kemudian cukup punya integritas untuk mengorbankan diri demi menyelamatkan ayahnya. Suatu perjalanan menuju kedewasaan yang luar biasa.

Cumaaa... gw jadi lebih tertarik pada apa yang dilakukan Gepeto, yang menjadi jalan pendewasaan Pinokio itu.

Gepeto, setelah dikecewakan sedemikian rupa oleh Pinokio, tetap menunjukkan cintanya pada si anak. Saat Pinokio tak pulang2, ia berangkat mencari putranya. Menyeberangi lautan luas hanya dengan rakit sederhana, demi menyusul sang putra yang ”lupa diri”. Gw nggak tahu pasti apakah Gepeto ini adalah inspirator The Hollies, tapi apa yang dilakukannya mengingatkan gw pada syair lagunya yang terkenal: ”He ain’t heavy, he’s my brother son.

Seburuk2 apa yang dilakukan Pinokio, yang tersisa bagi Gepeto hanya rasa cinta dan sayang. His welfare is my concern. No burden is he to bear. We’ll get there, for I know he would not encumber me..

***

Satu pertanyaan tersisa: dan jika kemudian Pinokio menjadi anak manusia.. masihkah kita melihatnya sebagai reward buat pencapaian kedewasaan Pinokio? Atau.. mungkinkah itu merupakan reward bagi unconditional love yang ditunjukkan Gepeto?

Thursday, September 13, 2007

The Last Ramadhan

Ramadhan sudah datang.

Dan seperti tahun2 sebelumnya, inbox pesan singkat di hape maupun email mulai dipadati dengan ucapan “Selamat Menjalankan Ibadah Puasa, Mohon Maaf Lahir dan Batin” sejak beberapa hari lalu. Ditulis dengan berbagai gaya dan bahasa; dari yang to the point sampai yang puitis.

Satu email yang benar2 mencuri perhatian, dikirimkan oleh Daru, seorang teman kuliah via milis angkatan:

Assalaamu 'alaikum Wr. Wb.

Andai kau tahu ini Ramadhan terakhir
tentu siangnya engkau sibuk berzikir
tentu engkau tak akan jemu melagukan syair rindu
mendayu..merayu...kepada-NYA Tuhan yang satu

Andai kau tahu ini Ramadhan terakhir
tentu sholatmu kau kerjakan di awal waktu
sholat yang dikerjakan...sungguh khusyuk lagi tawadhu'
tubuh dan qalbu...bersatu memperhamba diri
menghadap Rabbul Jalil... menangisi kecurangan janji
"innasolati wanusuki wamahyaya wamamati lillahirabbil 'alamin"

(sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku...
kuserahkan hanya kepada Allah Tuhan seru sekalian alam)

Namun teman...
tak akan ada manusia yang bakal mengetahui
apakah Ramadhan ini merupakan yang terakhir kali bagi dirinya
yang mampu bagi seorang hamba itu hanyalah
berusaha...bersedia...meminta belas-NYA

Gw terkesan atas dua bait pertama, tapi bait penutup yang bikin gw tersentak dan berpikir tentang the last ramadhan.

***

Awal 1998

Di suatu persiapan sahur menjelang Idul Fitri, setelah semua asisten rumah tangga pulang kampung, gw ingat Bapak pernah berkata begini

“Waaah.. Mbak, ini puasa terakhir kita sahur bareng ya? Tahun depan, kalau puasa lagi, kamu udah sahur sama suamimu. Mungkin malah udah nggak tinggal di sini lagi.”

Memang, itu akan jadi puasa terakhir kami, setelah sejak 1986 (dua belas tahun!) biasa bahu membahu berdua menyiapkan sahur. Hari pernikahan gw sudah ditetapkan untuk April 1998, hanya beberapa bulan berselang dari Idul Fitri.

Waktu itu gw hanya cengar-cengir dan berjanji bahwa biarpun nanti punya suami dan tinggal jauh dari Bapak, kalau bulan puasa sesekali akan pulang juga untuk menemani Bapak sahur. Tak pernah terpikirkan bahwa itu benar2 Ramadhan terakhir untuk kami berdua; karena walaupun Bapak masih sempat bertemu dua Ramadhan lagi, beliau sudah terlalu sakit untuk berpuasa.

Ramadhan tahun 2004

Sejak menikah tahun 1998, selalu kami sempatkan menginap barang sehari di rumah ortu bapaknyaima pada bulan Ramadhan. Biar bisa tarawih, sahur, dan buka bareng. Tapi entah kenapa, tahun 2004 itu susaaaah sekali mengatur jadwal. Gw beberapa kali harus tugas ke luar kota walaupun puasa, dan demikian pula dengan bapaknyaima. Alhasil.. Ramadhan tahun 2004 menjadi kali pertama kami tidak singgah di rumah Eyang Abah dan Eyang Ti-nya Ima.

Sempat berjanji pada Eyang Ti-nya Ima akan meluangkan waktu untuk Ramadhan tahun depan. Sebuah janji yang nggak mungkin terpenuhi, karena pada 5 Februari 2005 Eyang Ti dipanggil Tuhan dalam sebuah kecelakaan lalu lintas.

Ya.. Ramadhan itu menjadi the last Ramadhan bagi keluarga besar kami secara utuh.

Oktober 2006

Bulan puasa lalu, ayah tiri gw mulai sakit2an. Puasanya bolong2. Sebuah pemeriksaan di bulan puasa menghasilkan diagnosa: nasopharyngeal cancer. Masih tahap dini, kemungkinan remisi masih sangat besar.

Menjenguk beliau di rumah sakit, gw seperti melihat kesempatan kedua. The chance to redeem everything I did wrong during my father’s illness. Gw percaya bahwa apa yang tidak sempat gw lakukan untuk menyenangkan almarhum Bapak, akan bisa gw lakukan sekarang. Termasuk hal2 kecil seperti sahur dan buka bareng lagi.

I was wrong. Ramadhan lalu menjadi Ramadhan terakhirnya. Tepat 3 minggu sebelum Ramadhan kali ini, 23 Agustus 2007, ayah tiri gw berpulang. Hanya beberapa jam setelah gw mempublikasikan posting ini.

I should’ve seen the signs. Tiga ketidakbetulan berturut2.. sekrup kacamata yang tiba2 copot, kacamata cadangan yang (tidak seperti biasanya) tak terbawa, dan point-of-no return untuk tetap berangkat dengan mobil. Sebuah perfect replica dari ketidakbetulan yang terjadi on the fateful day of my mother-in-law’s accident, dan pada saat Bapak berpulang.

*Oh, we’ll talk about that three not-so-right things later.. in another entry, if I ever get the right emotional push ;-)*

***

Jadi.. ijinkan gw mengutip sekali lagi bait terakhir dari pesan Ramadhan yang indah itu:

Namun teman...
tak akan ada manusia yang bakal mengetahui
apakah Ramadhan ini merupakan yang terakhir kali bagi dirinya

Dan karenanya, semoga kita mendapat kekuatan untuk menjalani Ramadhan kali ini sebaik2nya, seperti yang akan kita lakukan jika ini adalah Ramadhan terakhir kita.

Anyway.. judul entry kali ini memang dipinjam dari sebuah film: The Last Samurai. Selain cocok dengan temanya, ada satu kutipan yang sesuai untuk topik ini:

“The perfect blossom is a rare thing. You could spend your life looking for one, and it would not be a wasted life.”

Let’s consider that we have found our rare perfect blossom ;-) In this Ramadhan ;-)

Selamat menjalankan ibadah puasa.

Mohon maaf atas segala kata yang terucapkan, tindakan yang terlakukan, dan pikiran yang terlintas selama ini.

Tuesday, September 11, 2007

Smell Talk

Kalau mata adalah indera gw yang paling parah, maka.. penciuman adalah indera gw yang paling sensitif ;-)

Seperti Jean-Baptiste Grenouille dalam Perfume: The Story of a Murderer, penciuman gw berfungsi exceed expectation. Bisa dibilang bahwa gw gampang turn on atau turn off gara2 bebauan. Makanya, dari sekian banyak jenis kosmetik, gw hanya tergila2 pada parfum (eh, parfum itu jenis kosmetik atau bukan?). Seperti gw bilang di sini, tas kosmetik gw isinya minim: hanya bedak, satu lipstik, dan pelembab muka.. hehehe.. Kalau bedak/lipstiknya belum habis, belum beli lagi. Tapi.. kalau yang namanya parfum, koleksi gw berjibun. Singkatnya, gw bisa tampil kusut masai tanpa bedak/lipstik, tapi gw nggak akan tidak tampil wangi ;-)

Selain suka parfum, gw juga suka wewangian lainnya. Di kantor gw seneng pasang wewangian aromatherapy. Apalagi kalau lagi banyak kerjaan.. tungku di meja gw nggak berhenti nyala. Di kamar mandi juga pasti ada wewangian. Dulu di kamar tidur juga ada, tapi terpaksa dihilangkan karena... bapaknyaima alergi terhadap wewangian! Itu yang gw lupa tanya sebelum nikah dulu: suka wangi2an atau enggak.. hehehehe.. Jadi terpaksa deh, wewangian hengkang dari kamar tidur.

Kalau bau yang enak bisa bikin gw senang riang sepanjang hari, maka bau yang nggak enak bisa bikin gw turned off. Seringkali gw nggak jadi makan sesuatu, atau nggak jadi pakai sebuah baju, karena baunya kurang menggairahkan. Makanya, fabric softener tuh menjadi salah satu produk yang nggak bisa gw hilangkan dari daftar belanja. Dan nggak bisa asal ganti merek, karena bau memainkan peranan penting dalam hidup gw ;-)

Kesensitivan gw terhadap bau juga sedikit banyak membuat gw nggak suka olahraga yang bikin keringetan. Well.. catat ya! Gw tidak bau badan! Tapi.. even the slightest smell of sweat aja bikin gw nggak nyaman. Apalagi kalau that smell dipadukan dengan rasa pliket (= lengket) di badan gw sendiri. Itu sebabnya satu2nya olahraga yang gw sukai adalah: berenang! Segar, dan nggak bikin keringetan ;-)

Soal bebauan ini juga pernah bikin gw ”pisah ranjang” selama 4-5 bulan, lhooo.. dengan bapaknyaima ;-)

Tahu sendiri kan, bahwa kalau lagi hamil sensitivitas penciuman bertambah? Jadi.. bayangkan dong, ketika gw hamil dulu, betapa sensitifnya penciuman gw yang sudah sensitif ini. Gw nggak bisa mencium bau santan, bau bawang goreng, bau telur rebus, bau nasi dingin, dan bebauan dengan intensitas tinggi lainnya.

Lha.. terus.. apa hubungannya sama suami?

Yaaah.. kebetulan, salah satu bau yang I couldn’t stand adalah… BAU SUAMI ;-)

Enggaaaak.. bapaknyaima juga nggak bau badan, catat ya! Tapi.. entah kenapa, gw emang alergi sama baunya dia waktu hamil. Kalau bapaknyaima pulang kantor belum mandi, gw mual2 karena bau keringat. Kalau bapaknyaima bangun pagi, gw mual2 karena bau orang belum mandi. Susahnya.. kalau bapaknyaima mandi, gw mual2 karena bau sabun. Atau karena bau rambut yang belum dicuci. Dan.. kalau bapaknyaima mandi pakai keramas segala, gw mual2 karena integrasi antara bau sabun dan sampo ;-)

Pokoknya, jaman hamil dulu, bapaknyaima nggak boleh mendekat lebih dari 2 meter, kalau sayang istri dan nggak pingin istrinya muntah ;-) Jadi.. kebayang dong, nggak bisa dia tidur di samping gw.. hehehe..

Sempat dicoba bahwa gw tidur duluan, baru bapaknyaima ikut tidur, jadi gw nggak usah mencium baunya dia. Eeeeh.. ternyata, dalam tidurpun sensor hidung gw berjalan dengan baik. Akibatnya, baru juga bapaknyaima ikut tidur 5 menit, gw pasti udah bangun dan mual2 ;-)

Terpaksa deh.. selama 4-5 bulan bapaknyaima ngungsi tidur di kamar lain.. hehehe... ”Pisah ranjang” dalam arti sebenarnya, sampai masa daily sickness gw hilang ;-)

*Catatan: Makanya, dia setuju2 aja cuma punya anak satu. Mungkin karena takut disuruh tidur di luar lagi ya ;-)?*

Anyway.. setelah hampir 9 tahun nggak hamil, gw sudah cukup nyaman dengan hidung gw. Baru dua hari terakhir ini sadar bahwa bukan hanya kehamilan yang bikin sensitivitas penciuman gw meningkat! Ada yang nggak kalah dahsyatnya, yaitu: rebusan mie instan dalam jumlah besar ;-)

Hehehe.. di kantor gw sedang ada Central Location Test (CLT) mengenai mie instan. Satu responden harus mencoba 4 jenis mie instan. Dan.. mie instan itu harus disajikan dalam keadaan ideal, artinya baru selesai direbus dan disajikan. Jadi... di common room yang tepat terletak di samping ruangan gw, sedang ada kegiatan masak-memasak. Jumlah mie instant yang dimasak adalah... 200 bungkus! Iya lah, kan respondennya 50 orang per hari, masing2 4 rasa, jadi total 200 kan?

Dan gw baru sadar bahwa kalau dimasak dalam jumlah banyak, dan sepanjang hari, maka bau bahan kimia yang terdapat pada mie instan itu menjadi keras sekali. Asli! Gw nggak bisa kerja sejak kemarin karena mencium bau mie instan dalam intensitas tinggi setiap kali keluar ruangan. Bahkan, terakhir2 aromatherapy yang gw pasang pun kurang berfungsi menghilangkan baunya ;-)

Yaaah.. tapi.. dasar gw tuh orang Jawa, gw masih bilang: untunggg... jumlah respondennya nggak banyak. Cuma 100 orang. Jadi penelitian selesai dalam 2 hari. Coba kalau respondennya 300, bisa mblenger gw, selama seminggu penuh harus mencium bau mie instan ;-)

Satu insight yang gw dapat dari pengalaman ini: kayaknya gw nggak bisa kerja di Dapur Umum deh! Bisa pingsan gw kalau harus masak mie instan dalam jumlah banyak ;-)

Saturday, September 08, 2007

The Only Reality of War

Gw sudah lupa berapa lama gw menunggu untuk bisa membaca tulisan Duong Thu Huong. Yang gw ingat, gw pertama kali mendengar namanya dalam sebuah acara di perpustakaan The British Council, bertahun2 lalu. Ada bukunya (dalam bahasa Inggris) di perpustakaan itu, tapi gw nggak berhasil mendapatkan karena termasuk high on demand ;-) Baru bulan lalu akhirnya gw bisa baca terjemahannya, Novel Tanpa Nama, yang diterbitkan oleh Indonesia Tera. Agak terlambat untuk dibahas sebenarnya, karena novel ini sudah dicetak untuk pertama kali tahun 2004 lalu. Tapi gw yakin gak basbang ;-)

Novel ini berkisah tentang Perang Vietnam dari sudut pandang seorang prajurit Vietnam Utara, Quan. Sebuah sudut pandang yang berbeda dari berbagai cerita Perang Vietnam yang muncul dari sisi prajurit Amerika (biarpun menurut gw Born on the 4th of July juga sebuah penceritaan bagus, despite ketidakgantengan Tom Cruise di situ, but.. surprisingly, justru gw paling suka sama Tom Cruise di film ini ;-)), atau sudut rakyat Vietnam Selatan (ingat film Heaven & Earth nggak?).

Tapi bukan sudut pandangnya yang berbeda saja yang membuat buku ini bagus. Cara penceritaannya dan penangkapan emosi2nya bagus sekali.

Ceritanya sebetulnya sama sekali tidak runtun dan mengalir, lebih berupa fragmen2 pengalaman Quan. Terpisah2 sekuens-nya, dan setiap fragmen nggak panjang. Tapi Duong berhasil menangkap fluktuasi emosional pada setiap fragmen itu, dan.. merangkaikan menjadi sebuah cerita panjang dengan mulus. So.. dari awal sampai akhir membaca buku ini, gw merasa seperti diajak menaiki emotional roller coaster, dimana emptiness menunggu pada akhir perjalanan.

Salah satu fragmen menarik terjadi ketika mereka, kompi dimana Quan adalah salah satu prajuritnya, untuk pertama kali menyantap sup orang utan. Sesuatu yang digambarkan Duong sebagai hidangan yang mengerikan.

Selama beberapa bulan berturut-turut kami lupa rasa daging itu seperti apa. Di kaki Gunung Carambola, kami membunuh dua kambing liar. Kemudian kami tidak menemukan apa-apa dalam waktu yang lama. Selama delapan minggu yang kami makan hanya nasi dengan sedikit garam, cabe, dan sup akar. Dan karenanya sejak itu orang mulai berburu monyet.

Pada hari pertama perburuan mereka membunuh seekor orang utan. Saat itu, hanya lima pemburu dan seorang juru masak yang berani mencoba sup orang utan. Tetapi pada waktu berikutnya, jumlah berlipat ganda, dan setelah itu setengah kompi ikut berpesta. Segera saja semua ikut ambil bagian. Seluruh pasukan pergi berburu orang utan. Kecuali aku.

Tidak lama kemudian mereka tidak puas hanya dimasak sup. Mereka membuat makanan lain, seperti salad monyet dan masakan daging monyet cincang..

(hal. 9)

Sederhana ya? Tapi menurut gw kuat sekali penggambaran fluktuasi emosinya: betapa kelaparan delapan minggu membuat mereka berani mencoba makan binatang yang [seperti dikatakan Duong pada paragraf sebelumnya] "memiliki kemiripan luar biasa dengan manusia.. Di atas itu semua, tangan mereka halus dan putih seperti tangan anak usia dua tahun

Mengerikan, betapa dari yang hanya lima orang yang ‘tega’ mencoba, lantas seluruh kompi seakan berlomba. Bahkan menunjukkan kreativitas untuk mengolahnya menjadi makanan lain. Gw membayangkan.. betapa tipisnya batas antara memakan binatang yang bertangan halus dan putih seperti anak berusia dua tahun, dengan memakan anak berusia dua tahun yang bertangan halus dan putih. If only they found such a two-year old..

Ada juga fragmen lain yang juga sangat berkesan buat gw. Tentang Quan yang kehilangan Hoa.

“Apakah dia sudah menikah?”

“Oh, tidak, itu terlalu menggembirakan.. Kasihan perempuan itu. Di akhir tahun ia hamil. Tak seorang pun yang mau mengakui anak itu. Ia menolak mengadukan siapa ayah bayinya. Karena merasa malu, orang tuanya mengusirnya dari rumah mereka. Ia berlindung di sebuah gubuk tua di sebelah sana..”

Aku tidak tahu Hoa adalah milikku. Tetapi ia adalah satu-satunya yang aku cintai selama masa mudaku.

..

.. Aku menunggu sampai ia menumpahkan semua tangisnya, menuangkan semua rasa sakitnya selama seputuh tahun terakhir ini. Waktu berlalu diiringi rintihan serangga yang berbunyi nyaring, suara sungai yang gaduh. Kuusap air matanya

.. Aku berusaha menenangkannya, “Tolong janganlah menangis lagi. Kita bukan anak-anak lagi. Aku pergi ketika aku berumur delapan belas tahun. Sekarang aku dua puluh sembilan tahun. Rambutku bahkan sudah mulai beruban

..

“Ini bukan salah kita.. Bukan salahmu. Atau aku..”

..

Apa yang akan kulakukan hari berikutnya? Akankah aku kembali ke sini lagi, secara sembunyi-sembunyi, di saat senja kala! Aku bisa saja menghindari orang-orang di desa, tetapi aku tidak bisa melepaskan suara hatiku. Esok pagi aku tidak mencintainya seperti sekarang ini. Perut buncit ini mengingatkanku pada laki-laki lain. Impian indah yang dulu membuat kami saling terikat satu sama lain telah mati.

(hal. 157 – 168)

Pada akhirnya, perang itu hanya membuat semua impian mati. Even when you win, you lose. Seperti Quan yang kehilangan cintanya, bukan karena salah siapa2, tapi karena tak sanggup lagi mencintai Hoa. Dan salahkah Hoa jika kehilangan seluruhnya? Hell, we don’t even know apakah sepuluh tahun yang panjang itu membuat dia tergelincir ke pelukan pria lain, atau dia sekedar casualty of war yang (mungkin seperti banyak gadis2 di masa perang) diperkosa oleh orang yang bahkan tak dikenalnya?

The winner takes it all, itu kata ABBA. Tapi itu tampaknya tidak terjadi dalam perang. Dalam perang, the winner [does not always] take it all. Akhir sebuah perang, mungkin lebih cocok digambarkan oleh lagu yang dinyanyikan Martika, Toy Soldiers:

Only emptiness remains
It replaces all, all the pain

That, I guess, is the only reality of war.

Itu tampaknya yang ingin disampaikan oleh Duong Thu Huong dalam bukunya yang benar2 menguras emosi. Atau seperti yang dituliskannya pada buku yang lain (yang tak sabar ingin gw baca), yang dijadikan teaser di cover belakang "Novel Tanpa Nama": Di negeri kami, 25 tahun setelah perang, tak kunjung terdengar alunan piano menelusup lewat jendela,..

BTW, sepanjang membaca cerita itu, gw sempat berpikir bahwa Duong Thu Huong itu laki2. Ternyata.. dia itu perempuan. Satu nilai lebih lagi buat Duong! Menurut gw, luar biasa sekali seorang perempuan bisa membuat penokohan [fiktif] laki2 yang begitu kuat; seperti yang dilakukan Duong terhadap tokohnya, Quan. She must be a wonderful woman. Walaupun tak sama sejarahnya, Duong mengingatkan gw akan another wonderful woman: Aung San Suu Kyi.

Seperti Suu Kyi, Duong juga dijebloskan ke penjara oleh pemerintah Vietnam. Tuduhannya adalah mengirimkan dokumen berisi “pesan rahasia”, hanya karena telah mengirimkan manuskrip novel ini. Dia dijebloskan ke penjara setelah [seperti dituliskan dalam kata pengantar] “menghabiskan tujuh tahun masa mudanya di garis depan perang Vietnam, melawan keletihan, wabah, bencana dan putus asa, tinggal di relung-relung gua, pekat belantara dan bunker-bunker pengap bawah tanah, memimpin sebuah pasukan Brigade Pemuda Komunis demi sebuah kekuasaan, yang kini setelah perang dimenangkan, justru menyekapnya.. “

Yup! We can never win the war, can we?

----

Catatan: ohya, biasanya gw gak demen baca terjemahan. Tapi sekali ini terjemahannya enak banget buat dibaca. Nggak heran, sebab yang menterjemahkan ternyata adalah Sapardi Djoko Damono. Hehehe... tulisan2nya SDD selalu bisa bikin gw “leleh”.. ternyata terjemahannya pun tak kalah dari karya2 SDD sendiri ;-)

Wednesday, September 05, 2007

Dua Analogi dan Sebuah Renovasi

Kemarin browsing ke blognya Dinda Aramichi, dan menemukan tulisan terbarunya: Dia Selalu Invisible, Tapi Dia Selalu Online.

Tadinya gw kira Dinda Ara mau ngomongin kecengan terbaru (tsah!), tapi ternyata tulisannya sangat menyentuh hati: Tuhan itu selalu online, biarpun selalu invisible. Yahoo! Messenger-nya selalu aktif 24/7; kapan aja kita mau kirim Instant Message kepada-Nya, dia akan selalu menjawab dan bersedia chat. Gak bakalan dikasih status BRB, Not at My Desk, Stepped Out.. Nggak bakalan juga diputus tiba2 dengan CU, TTYL, GTG.. Dia selalu akan menjawab, walaupun.. yaaah.. walaupun kadang2 jawaban-Nya adalah: Tidak.

Such an inspiring contemplation, Dinda, and how true!

Agak lompat sedikit.. ;-)

Cerita tadi mengingatkan gw pada percakapan maya beberapa bulan lalu dengan seorang teman lain, Papanya Naya. Entah dari mana awal percakapannya, tiba2 dia mengatakan sesuatu yang kurang lebih berbunyi begini:

“Buat aku, kata hati itu GPS, dan logika itu petanya. GPS itu menentukan koordinat yang pasti, tapi.. dalam mencapai koordinat itu kita butuh peta untuk menentukan jalan yang paling tepat”

Very true indeed!

Biarpun tahu koordinatnya, tapi nggak tahu petunjuk jalan ke sana, akan butuh waktu lama sekali untuk mencapainya. Sebaliknya, punya peta, tapi nggak tahu koordinat mana yang dituju, juga lebih susah lagi untuk mencapainya. Contoh kasus aja, adik gw barusan kirim SMS mengenai koordinat penting S 07.548000 E 110.833700.

Gw kasih waktu 6 jam deh, untuk mencapainya.. hayooo.. ada yang bisa nggak? Hehehe.. Susah ya, kalau nggak ada petanya. Padahal, kalau ada peta, waktu 6 jam itu cukup banget untuk mencapainya ;-)

Naah.. ada hubungan apa antara kedua analogi maya tersebut? Dua cerita yang berbeda itu terhubung begitu saja ketika beberapa jam lalu berkunjung ke blog nYam, membaca entry terbaru tentang Lupa Kali Ya?

Si Bumil ini sedang nyolot karena berita hari ini, mengenai Renovasi Gedung DPR. Biayanya cuma 40 milyar, kok, udah sekaligus dapat ruang paripurna yang melingkar, ruang staff khusus, dan kamar mandi di dalam. Kata si Bumil, wakil2 rakyat ini pada lupa. Lupa pada banyak masalah di negeri ini. Atau.. kalau nggak lupa, ya simply belagu aja ;-)

Yaaah.. kalau gw sih punya pendapat sendiri, Bu ;-)

Mungkin saja mereka punya daya ingat yang rendah. Mungkin saja mereka memang belagu. Tapi.. kalau menurut gw, yang jelas mereka sih gaptek ;-) Mereka kayaknya belum terbiasa YM-an, dan mungkin bahkan belum familiar dengan GPS. Coba deh, sekali2 tanya sama mereka.. tahu nggak artinya GPS? Jangan2 ntar mereka jawab bahwa itu grup kesenian asuhan Guruh Soekarno Putra. Itu lhooo.. yang nge-top banget tahun 80-an dan suka jadi wakil budaya Indonesia ke mancanegara ;-)

Karena mereka nggak kenal Yahoo!Messenger, maka mereka nggak pernah juga chat dengan Tuhan seperti yang dilakukan Dinda Ara. Dan karena nggak familiar dengan GPS, jangan2 GPS ini belum ter-install dalam jiwa mereka. Makanya.. keputusan2 mereka suka ajaib dan bertentangan dengan ampera ;-)

Jadi.. kalau mereka minta ruang staff khusus, dengan kamar mandi di dalam.. yaaah.. dikasih aja lah!

Siapa tahu kalau kamar mandinya di dalam, jadi makin rajin ambil air wudhu (buat yang Muslim), makin khusyu shalatnya, sehingga bisa chat 24/7 dengan Allah SWT. Buat semuanya juga.. dengan ruang staff khusus yang [harusnya] lebih terjaga privacy-nya, tentu lebih mudah untuk mendengarkan kata hati. Siapa tahu masih ada amanat penderitaan rakyat yang tersisa di hati mereka dan menggeliat minta didengar ;-)

Terus... kalau soal gedung melingkar.. well, mungkin emang dibutuhkan ya? Supaya keputusan2 dalam rapat mereka makin mak nyosss ;-) Kan katanya gerakan melingkar itu bisa menimbulkan centrifugal force maupun centripetal force. Jadi, kalau ruang rapatnya melingkar, gaya yang dihasilkan tentu makin besar. Alhasil, keputusan2nya makin okey dokey ;-)

Jadi.. mari kita dukung sajalah keinginan para wakil rakyat ini untuk merenovasi gedungnya ;-)

Kalau perlu habis ini kita anggarkan sekalian untuk membelikan para wakil rakyat Nokia 6110 Navigator, atau Nokia N95, atau Nokia E90 Communicator.. Itu lho... ponsel2 dengan ”teknologi yang mengerti Anda” yang udah dilengkapi dengan built-in GPS ;-). Kita pasangkan stand-alone Garmin di ruang paripurna serta ruang staff khususnya. Biar makin bisa mendengarkan kata hati dan tak akan pernah tersesat lagi ;-)

Tulisan sarkastik hari ini gw akhiri dengan sebuah catatan sinis: kata ”ampera” dalam tulisan ini terpaksa hanya dikaitkan dengan Nawaksara, pidato apologia Bung Karno. Itu satu2nya situs yang cukup dekat nyerempetnya dengan jiwa (tsah!) Ampera. Soalnya.. Wikipedia Indonesia tidak memiliki artikel tentang Amanat Penderitaan Rakyat; hanya punya tentang Jembatan Ampera serta Kabinet Ampera. Mungkin rakyat sudah dianggap tidak menderita lagi.. sehingga nggak mengamanatkan penderitaannya pada wakil rakyat lagi ;-) Ampera hanya tinggal sejarah yang termonumenkan dengan sebuah jembatan di Palembang sana.

Catatan sinis akhir itu fits the topic banget gak sih ;-)?