Thursday, March 29, 2007

Gemar Membaca

Hari ini pingin cerita tentang Ima aja ah! Tentang Ima dan buku2nya :-) Gara2 baca postingnya si Bunda dan si Daddy tentang kemajuan Naila dan Nico dalam hal membaca nih ;-)

Dulu, sebelum punya anak, gw sudah berjanji ama diri gw sendiri bahwa gw nggak akan kebanyakan ngatur anak gw. Terserah dia mau jadi apa, selama arahnya baik, akan gw dukung. Cuma satu hal yang ingin gw pastikan terjadi pada Ima: gemar membaca. Bukan apa2, gw termasuk yang percaya bahwa buku itu jendela dunia. Bacalah! That’s the key to everything in this world ;-)

Jadi, sebelum Ima lahir pun gw udah sibuk ngumpul2in buku bacaan. Dari mulai Buncil, sisipan di majalah Ayahbunda, sampai buku cerita rakyat anak2 dan buku2nya Hans Christian Andersen, semua sudah gw kumpulkan rapi sebelum Ima lahir. Eh, malah ada kejadian yang lebih parah lagi, ding! Gw masih menyimpan seluruh koleksi Lima Sekawan karena mau gw wariskan kepada anak gw.. hehehe.. Padahal, asli, pas gw memutuskan menyimpan seluruh koleksi itu, pacaran aja gw belum pernah ;-) Hehehe.. ide ini muncul lantaran gw juga dapat warisan Karl May dan Seri Petualangan dari almarhum Bapak, bukan lantaran gw berpikir sepanjang itu ;-)

Sejak Ima berumur 2 minggu, gw udah rajin membacakan cerita buat buat dia. Pokoknya, kalau dia rewel, gw bacain buku cerita aja. Bikin almarhum Bapak geleng2 kepala.. opo wis ngerti to, Nduk, bayi isih abang ngono. Tapi gw cuek aja. Gw yakin kalau kita mau membentuk sesuatu, harus dikondisikan sedini mungkin. Kalau minat sudah terbentuk secara alamiah ke arah lain, akan susah membelokkannya. Tapi mengkondisikan sejak dini ini juga tricky. Harus se-enjoyable mungkin, supaya anak nggak merasa terpaksa dan malah nggak tertarik sama sekali.

Jadi.. sejak bayi merah, Ima sudah gw kondisikan untuk menempatkan buku sebagai sesuatu yang precious. Kalau Ima bertanya sesuatu, gw carikan jawabannya lewat buku. Gw tunjukkan di buku mana ada jawaban atas pertanyaannya itu. Setiap kali Ima punya ketertarikan baru, gw carikan buku yang membahas tentang itu. Waktu Ima umur 2 tahunan, gw mulai berlangganan majalah anak2. Mbak Pengasuhnya gw indoktrinasi untuk membacakan cerita. Gw tatar dulu supaya membacakannya bagus, dengan intonasi menarik. Jangan sampai udah susah2 gw bentuk minat bacanya, kemudian rusak gara2 pengalaman buruk.. hehehe...

Jerih payah gw rupanya terbayar. Waktu umurnya 3.5 tahun, Ima sudah mengenal huruf dengan baik. Ketika sedang asyik bermain2 dengan huruf plastik, tiba2 Ima menunjukkan bahwa dia mulai mengenal konsep membaca. Bermula dari huruf K-A-M-I yang gw susun. Gw bilang bahwa K-A-M-I itu dibaca ”Kami”. Ima manggut2 dan memungut huruf S, meletakkan huruf itu di belakang susunan yang gw buat:

”Kalau sekarang bacanya KAMIS ya, Bu?”

Gw takjub luar biasa! Kok bisa tahu? Siapa yang ngajarin?

Lebih takjub lagi mendengar jawabannya:

”Kami... kamiiiiisssss.. Ssssss... berarti belakangnya ditambah huruf S lagi”

Ternyata, kebiasaaan gw melafalkan kata dengan jelas masuk juga ke dalam ”prosesor” di kepalanya.. hehehe.. Dia jadi tahu membedakan huruf akhir kata.

Selanjutnya yang terjadi adalah melancarkan membaca kata. Kata IMA bisa dikombinasikan dengan N menjadi IMAN, dengan L menjadi LIMA, dan sebagainya.

Ketika Ima sudah mulai lancar membaca kata, gw kelayapan lagi ke toko buku mencari buku untuk belajar membaca. Buku2 cerita anak rata2 terlampau rumit, terlalu panjang. Untung akhirnya gw menemukan boardbook Seri Aldo. Seri Aldo ini benar2 sesuai dengan kriteria gw untuk very early reading: lembarannya tebal, satu buku hanya terdiri dari 8 halaman, penuh bergambar, tokohnya hewan yang dipersonifikasikan, dan... yang paling penting.. satu halaman hanya terdiri dari 1-2 baris kalimat saja. Sangat ideal untuk belajar membaca.

Kenapa gw anggap ideal? Secara kuantitas memang yang dibaca hanya 8 – 16 baris kalimat. Tapi.. buat seorang anak yang sedang belajar membaca, ”menyelesaikan 1 buku” lebih membanggakan dan boost their confidence daripada sekedar ”membaca 16 baris kalimat”. Gambar, warna, dan tokoh hewan yang dipersonifikasikan, membantu menjaga semangat anak untuk menyelesaikan buku itu, walaupun terjadi kesulitan2 mengeja di tengah perjalanannya. Lembaran yang tebal membantu anak supaya lebih mudah membolak-balik.

Ada 8 buku dalam Seri Aldo yang langsung gw borong. Dan hasilnya.. dalam 1 minggu Ima lancar membaca.

Setelah khatam dengan Seri Aldo, Ima tak terbendung lagi. Setiap kali ada waktu luang, dia selalu minta beli buku baru. Mulai dari Seri Mio, Cerita Kancil, Disney Princess, Hans Christian Andersen, Cerita Rakyat, semua berjejal di rak buku Ima. Tanpa terasa, gw punya pesaing baru dalam memenuhi rumah dengan buku, dan dalam mengucurkan uang ke toko buku.. hehehe..

Waktu Ima umur 5 tahun, sudah mau masuk SD, gw mulai menunjukkan koleksi Lima Sekawan yang gw simpan untuk dia. Buku pertama yang dibacanya Karang Setan, dan Ima langsung jatuh cinta pada serial ini. Saat ini, dua tahun kemudian, seluruh seri dalam Lima Sekawan sudah dibacanya. Sebagian besar sudah dibaca berulang2, dan sudah beli cetakan terbarunya yang ”kertasnya nggak kuning2 kayak buku Lima Sekawannya ibu” ;-). Sayang, buku2 Enid Blyton lainnya tidak dicetak ulang, jadi Ima nggak bisa mengenal Sapta Siaga dan Pasukan Mau Tahu.

Beberapa minggu lalu gw mulai bingung mencarikan bacaan apa lagi untuk Ima. Eeeh.. lha kok, tiba2 gw menemukan ada bukunya Agatha Christie, Membunuh Itu Gampang, ada di meja belajar Ima. Kata Mbak Pengasuhnya, Ima menemukan buku itu di rak buku gw.

Naaah.. kalau sekarang gw baru benar2 ngeri.. hehehe.. Jangan2 gw kebablasan nih membentuk minat baca Ima ;-). Gw tuh baru baca buku2nya Agatha Christie di kelas 4 SD, berarti Ima lebih cepat 2 tahun untuk sampai ke tahap Agatha Christie.

Yang bikin gw ngeri... kalau baca Agatha Christie-nya lebih cepat 2 tahun, jangan2 keinginan untuk baca ”Nick Carter” (refer to buku2 penulis yang mendompleng nama besar Nick Carter ya, gw belum pernah baca tulisan Nick Carter yang asli ;-)) juga lebih cepat. Halah! Gw sekarang pusing deh mengingat2 kapan gw baca ”Nick Carter” ;-) Seingat gw, waktu kelas III SMP buku ini mulai "digilir" di kelas gw yang isinya betina semua itu ;-). Berarti.. kalau dipercepat 2 tahun... gw harus siap2 lihat Ima baca buku yang sama di kelas I SMP dong ;-)?

Friday, March 23, 2007

Mencari Sebutir Intan

You are the bows from which your children
as living arrows are sent forth.
The archer sees the mark upon the path of the infinite

(Kahlil Gibran,  On Children)

-----------

Masa2 gw tergila2 pada Kahlil Gibran sudah lewat bersama dengan berubahnya positioning Gibran dari seorang filsuf menjadi pop icon (mirip dengan nasib Che Guevara, ya nggak Jeng Okke ;-)?). Udah bertahun2 gw males banget kalo baca petikan tulisan Gibran disana-sini. Apalagi petikan dari The Prophet (Sang Nabi) seperti On Children ini. Tapi toh, tadi malam, tiba2 petikan ini terlintas dalam ingatan gw dan membuat mata gw berkaca2.

Bukan, bukan terjadi sesuatu pada my beloved nearly-8-year-old daughter. Ima baik2 saja dan masih menjadi putri kecil gw yang manis. Tapi.. untuk ke sekian kalinya, gw harus merentangkan busur dan melepaskan satu lagi ”anak [panah] gw” terbang mencari jalannya. 

Sudah hampir 6 tahun gw bekerja di kantor yang sekarang. Selama itu, sudah 6 anak [panah] yang gw lepaskan. Anak panah yang pertama hanya bekerja di kantor kami selama 7 bulan, sebelum mendapatkan beasiswa S2 di Muenchen, Jerman. Anak panah yang kedua memang gw sarankan untuk mencari karir lain pada evaluasi akhir masa percobaannya. She has the potency to become a good researcher, however, she is much more potential to work in HR division.  Empat bulan kemudian dia memang pindah ke sebuah kantor pemasaran kecil, menangani selection & recruitment, dan tahun ini sudah menjadi HRD Manager di kantor yang sama; suatu perkembangan karir yang mungkin tidak akan secepat ini dicapainya jika tetap membaktikan diri di bidang riset.

Anak panah ketiga, keempat, dan kelima yang gw lepaskan juga membuat gw ikut bangga. Satu dari mereka direkrut oleh klien kami, sebuah multi-national company. Baru setahun menangani merek klien, dia kini ditempatkan di kantor pusat klien tersebut, di sebuah negara Eropa. Yang keempat dan kelima direkrut oleh  pesaing kantor kami, dua buah international research agency yang berbeda. Satu dari mereka kini makin mantap menapaki karirnya, sementara yang satu lagi sedang siap2 resign dari kantornya karena sudah mendapatkan beasiswa juga.

Anak panah keenam yang lepas adalah yang paling lama bekerja bersama gw. Sempat 3 tahun bekerja, ketika akhirnya diboyong sang suami ke Washington, USA. Kini memang dia sudah kembali ke Indonesia, tapi dia memilih menjadi freelancer sambil mengasuh putri mungilnya yang diproduksi di Amerika ;-)

Well.. memang perkembangan diri mereka adalah hasil dari usaha keras mereka sendiri. Bukan karena faktor pernah kerja bareng sama gw ;-) Tapi.. tak dapat dipungkiri, somehow it makes me proud.

Gimana nggak? Mereka terdampar ke tangan gw sebagai fresh graduates yang masih belum ngerti apa2 tentang dunia kerja, apalagi tentang dunia riset. Gw mengasuh mereka (eh, mungkin mengasuh bukan kata yang tepat. Lebih tepat meng-abuse, mencambuki, menyiksa.. ;-)) sampai bisa dilepas melakukan riset sendiri dengan pengawasan minimal. Bener2 gw mulai ngajarin dari awal: dari research skill yang paling dasar seperti menentukan kriteria responden, kemampuan memoderatori diskusi kelompok, bermain2 dengan berbagai projective technique, sampai bikin report. Bahkan gw selalu harus mulai mengajari dari hal yang paling, paling, mendasar: seperti memperbaiki grammatical and vocabulary error di setiap dokumen yang akan dikirim ke klien, memanfaatkan master slide pada Microsoft PowerPoint, sampai mengatur body text dan insert picture yang rapi pada Microsoft Word. Dan jangan lupa: membuat video clip dari rekaman observasi untuk menggambarkan insight2 yang menarik.

Kadang cara gw mungkin bikin mereka sakit hati, bikin mereka jengkel, paling tidak bikin mereka panik atau sedih. Gw ini memang bukan si lembut hati; gw ini si perfeksionis yang bitchy. Tapi.. lihat hasilnya! The fact that they are recruited by other company shows that they are highly qualified, doesn’t it? All their suffering and pains, it all pays.

Kini.. anak panah ke-7 harus gw lepaskan. Setelah 10 bulan gw ajari semua hal yang bisa gw ajarkan, another international research agency recruits her. Tepatnya, my ex colleague in the previous company, who now becomes the Research Manager of that international research agency, takes my newest debutante as his new Research Executive ;-)

Bangga? Sudah tentu. Sebangga responden gw bertahun2 lalu, seorang guru sekolah dasar yang sudah mengabdi lebih dari 30 tahun, ketika tiba2 bertemu dengan mantan muridnya yang sudah menjadi pilot. Sebangga mothergoose yang melihat ugly duckling-nya berubah menjadi angsa cantik. Sebangga seorang pemanah yang melepaskan anak panahnya menuju sasaran. Mereka memang bukan milik gw, dan harus selalu siap gw lepaskan. Dan gw sangat bangga bisa melepaskan mereka ke arah yang lebih baik.

Tapi itu sisi emosionalnya.. hehehe.. From business perspective, I suffer a lot. Gw kembali lagi ke titik nol; harus mencari intan yang belum tergosok di antara setumpuk batu. Dan kalaupun nanti intan itu gw temukan, gw harus menggosoknya hingga punya nilai jual. Dan harus selalu siap bahwa ketika intan itu tergosok indah, gw tidak akan pernah memakainya karena seseorang akan mengambilnya. Membelinya atau mencurinya dengan paksa ;-)

Ya suds-lah.. the life must go on. Gw harus mulai menggali2 reruntuhan batu lagi.. hehehehe..  Ada yang berminat jadi qualitative researcher? Saudara, teman, Aa, Teteh, ..? Kalau berminat, ini tawaran serius lho! Persyaratannya sebagai berikut:

1.       IPK tidak penting, yang penting punya strong analytical ability terhadap data2 kualitatif (narasi hasil wawancara, hasil observasi). Kalau Anda suka membaca, apalagi suka menulis cerita, itu salah satu ciri bahwa Anda punya strong analytical ability.

2.      Good communication skill; mampu menjalin percakapan dengan orang yang baru ditemui, terutama dengan ibu2 dan anak2. Bahasa awamnya: rame dan suka ngobrol tapi tidak ngalor ngidul ;-)

3.      Fluency in English, both oral and written. Ini wajib, karena semua dokumen dan komunikasi dengan klien dilakukan dalam bahasa Inggris. Bahkan di banyak project, presentasinya pun dalam bahasa Inggris.

4.      Lulus S1 ilmu sosial, diutamakan Psikologi. Bukannya mau eksklusif bikin gang psikologi, tapi..  memang metode pengambilan data dan analisanya banyak pakai aliran2 psikologi.

Syarat tidak resminya juga ada: berani menerima tantangan punya atasan langsung yang perfeksionis dan bitchy seperti gw. Contoh keperfeksionisan dan ke-bitchy-an gw bisa dibaca2 dari tulisan di blog ini kok! Aslinya gak banyak beda.. HAHAHAHA..

OK, kalau berminat, just drop a note at my email: mayanoto@gmail.com ya! Nanti gw kasih alamat HR Department yang menangani rekrutmen. Atau nge-drop CV sekalian juga boleh, jadi tinggal gw fwd aja ;-)

-------------

Peringatan: Tidak dijamin bahwa kalau pernah gw siksa lantas bisa direkrut oleh perusahaan multi-nasional atau dapat beasiswa ke luar negeri, apalagi dapat suami yang bakal memboyong tinggal di USA ;-) Cerita di atas adalah cerita nyata, tapi.. sumpah! Bukan gw faktor yang membawa keberuntungan itu.. hehehe..

-------------

Buat my newest debutante who will leave me soon.. I’m gonna miss U a lot, darling! But I’m happy for your big opportunity, and encourage you to reach the stars. Buat my ex colleague.. hmm.. may I kill you? HAHAHAHA..  

Thursday, March 22, 2007

The Soap, The Whole Soap, and Nothing but the Soap

Okeeh.. setelah beberapa kali posting gw bikin mumet sebagian orang, sekali ini posting yang ringan dan lucu aja :-). Hidup perlu keseimbangan kan.. HAHAHAHA..

Cerita lucu gw terjadi dua atau tiga Sabtu lalu. Waktu itu, seperti biasa, gw memulai hari dengan mandi. Dan kalau gw mandi, seperti biasa, gw juga cuci rambut. Kenapa begitu? Ya nggak ada alasannya.. hehehe.. gw cuma merasa mandi pagi belum segar kalau kepala belum kena sampo juga.

Naaaah.. pada pagi berkesan itu, gw juga langsung menuang sampo ke telapak tangan. Agak curiga karena sampo yang biasanya kental terasa lebih cair. Tapi nggak mikir jauh2.. paling juga botolnya kurang rapat ditutup dan kemasukan air.

Cuma.. setelah dirasakan ke kepala, kok rasanya juga beda? Pas gw tuang lagi sebagian ke tangan.. kok warnanya merah muda? Kayak warna SABUN Lifebuoy merah yang sudah gw pakai bertahun2? Tapi botolnya kok botol sampo, bukan botol sabun?

Selesai mandi, gw cek stok isi ulang sabun mandi di lemari. Memang sudah raib. Hmm.. cuma ada satu kemungkinan. Mbak asisten rumah tangga berbaik hati dan berinisiatif mengisiulangkan sabun.

Dan ternyata.. :
"Iya, Bu, sudah saya isi. Tapi botolnya kekecilan, masih ada sisa. Untuuung botol sabun yang biasa Ibu bawa ke luar kota ada di kamar mandi juga, jadi sisanya saya masukkan ke situ"
Oalaaaah.. ini toh kejadiannya ;-) Spontan gw ngakak, sambil menyuruh si mbak membuang saja botol sampo itu. Bingung juga mau gw apain, mau dipakai ke kepala, kok separuh isinya sabun. Mau dipakai mandi, kok gak tega juga bersabunkan setengah sampo.

Malangnya si mbak, kerja sama tukang nge-riset. Langsung deh si mbak gw wawancara buat tahu dinamika perkaranya ;-)

Ternyata, buat si mbak di rumah, yang namanya Lifebuoy ya Lifebuoy: the soap, the whole soap, and nothing but the soap. Kalau ada dua botol Lifebuoy di kamar mandi, berarti cuma beda varian doang, tapi dua2nya tetap sabun. Nggak mungkin sabun dan sampo. Apalagi perbedaan kemasannya juga nggak terlalu membantu: sabunnya bertuliskan Deep Clean tanpa kata sabun sama sekal, sementara tulisan samponya kecil serta berbahasa Inggris. Yang mencolok buat dia cuma logo Lifebuoy yang sama plus foto keluarga yang bahkan dia tidak perhatikan ada perbedaan jumlah orangnya ;-)

Hehehe.. gw jadi iseng ngebayangin tampang2 brand team Lifebuoy kalau mereka mendengar kisah ini. Bayangkan, berapa duit yang sudah dikeluarkan Lifebuoy untuk memasukkan sampo dalam line extension? Mulai dari bikin konsepnya, bikin formula, bikin iklan, bikin brand activation.. eeeh, lha, kok si mbak di rumah masih tetap kekeuh surekeuh menyangka Lifebuoy cuma sabun ;-)

Gw yakin banyak produk2 yang juga mengalami nasib seperti Lifebuoy di tangan si mbak ini. Produsennya maunya apaaa, eeeh.. konsumennya tetap punya pandangan sendiri yang kadang beda banget sama maunya produsen. In the long run, tentunya ini membawa kerugian tersendiri bagi merek tersebut.

Dalam kasus workshop Esomar minggu lalu, tentang bagaimana sebuah produk dipersepsikan oleh konsumen sebagai tidak efektif karena salah memilih satu kata untuk nama varian. Produk itu, sebuah insektisida untuk membasmi sejenis serangga di Eropa sana, menggunakan nama Bait (=umpan) dalam variannya. Dengan nama Bait, konsumen menganggap si serangga akan mati di dekat produk itu, seperti ikan yang memakan umpan di ujung kail. Padahal.. ide dari produk itu adalah: si serangga makan umpannya, kembali ke sarang, mati di sarang, dan menginfeksi teman2 serangganya juga, sehingga bukan hanya satu serangga yang mati.

Konon, untuk mengubah persepsi ini, produsen mengubah nama menjadi Nest Killer (= pembasmi sarang). Denger2 sih mispersepsi tentang umpan tadi berhasil ditanggulangi.

Well.. ini tulisan kecil tentang pentingnya mengenal brand equity dan brand identity. Tentang betapa bedanya konsep yang ada di kepala produsen dengan persepsi para penggunanya. Konsumen nggak pernah salah, kaleee.. hehehe.. atau setidaknya: tidak sepenuhnya salah. Kalau sampai ada perbedaan persepsi yang jauh banget, berarti ada salah satu elemen dari brand yang harus disesuaikan dengan positioningnya.

Hal yang sama bukan hanya berlaku pada produk dan merek saja lho.. tapi juga bisa berlaku pada masing2 diri kita sebagai manusia. Maksud kita apa, tapi ditangkap orang lain sebagai berbeda. After all, semua brand punya personifikasi, kan? Jangan2 malah kenyataannya terbalik: setiap individu adalah brand bagi dirinya sendiri ;-)

Saturday, March 17, 2007

Dua yang Berbeda

Brief encounter gw dengan milis yang gw ceritakan di sini ternyata cukup berkesan bagi beberapa orang. Dengan demikian, walaupun gw sudah cukup lama tidak ngintip2 milis itu, apalagi posting, ada seorang teman yang bertanya mengapa gw tidak pernah lagi posting di sana. Yaah.. jawaban gw sih sama dengan alasan yang gw kemukakan dalam posting terakhir: gw merasa lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya jika posting di sana.

Kenapa lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya? Well.. di antara orang2 yang merespons posting gw, ternyata ada yang penggunaan kata2nya cukup nasty. Mungkin maksudnya tidak nasty, mungkin dalam persepsinya kata2 itu tidak harus bikin tersinggung, hanya fenomena biasa dalam suatu perdebatan. Namun, menurut gw, kata2 itu sudah cukup nasty. Dan menurut gw, kalau gw sudah bikin orang mengucapkan kata2 nasty begitu, gw juga sudah melakukan sesuatu yang bermudharat. Sementara manfaatnya belum jelas ;-) Irisan himpunan belum tentu ditemukan, belum tentu banyak orang yang belajar sesuatu dari perdebatan itu, sementara nyatanya kata2 nasty itu sudah keluar. Selain pasti bikin gw gak happy, kata2 nasty yang bertebaran mungkin bikin orang2 lain nggak happy juga. Dan gw percaya apa yang dikatakan dalam agama bahwa hendaklah semua yang kita lakukan bermanfaat, dan hendaklah menghindari sesuatu yang bermudharat.

Teman gw menganggap alasan gw itu tidak logis. Singkatnya, gw dianggap menggunakan Tuhan sebagai tameng dari ketidakberanian gw posting. Kurang lebih dikatakan bahwa gw tidak logis, karena gw menganggap bahwa “Tuhan berkehendak” gw menghentikan posting2 gw.

Nah.. gw jadi bingung deh.. hehehe.. Karena memang gw tidak melacurkan nama Tuhan di sini ;-) Gw tidak menganggap gw berhenti posting demi menuruti “kehendak Tuhan”. Gw pikir Tuhan terlalu agung untuk ngurusin hal2 seremeh temeh ini. Tuhan punya banyak urusan lain yang lebih penting daripada menghendaki gw berhenti melakukan perilaku2 kecil tertentu ;-).

Well.. gw ngerti alur berpikirnya teman gw tersebut. Sebagai orang yang sangat mengutamakan logika, dan sama sekali a big no-no kalau menyangkut kepercayaan, tidak heran jika dia menganggap logika dan kepercayaan adalah dua hal yang bertentangan. Kalau gw bicara tentang mudharat dan manfaat, itu artinya gw tidak logis dan punya kepercayaan fanatik. Bahwa kalau tidak bersandar pada apa yang dimiliki oleh manusia (baca: logika), maka dia menggantungkan semua pada suatu kekuatan [yang menurut dia] fiktif. Tentu, sulit buat dia melihat bahwa gw sedang memadukan kedua unsur ini: bahwa keputusan itu mutlak tanggung jawab gw, diambil secara logis berdasarkan perhitungan gw. Konsep agama (dalam hal ini mudharat-manfaat) hanyalah sebuah dasar yang gw gunakan untuk memutuskan sesuatu. Jadi, keputusan gw bukan lantaran kehendak Tuhan, melainkan merupakan interpretasi gw terhadap petunjuk yang diberikan Tuhan.

Contoh gampangnya bisa menggunakan analogi berikut ini: gw dan bapaknyaima mengajarkan Ima untuk mau berbagi serta menolong orang lain. Waktu ada bencana tsunami Aceh, Yogya, dll, gw ajak Ima menyumbangkan uang ala kadarnya untuk korban bencana. “Kehendak” (atau lebih tepatnya harapan) gw dan bapaknyaima adalah: Ima bisa punya rasa tepa selira pada orang lain, mau membantu orang lain. Kalau beberapa bulan kemudian Ima memilih tidak jajan seharian karena memasukkan seluruh uang sakunya dalam kotak amal di sekolah, tentu itu “bukan kehendak” gw.. ;-) Itu mutlak interpretasi Ima terhadap apa yang kami ajarkan. Kalau maunya gw, nggak perlu sampai mengorbankan diri untuk menolong orang lain. Uang saku yang gw berikan cukup untuk dibagi dua: sebagian untuk makan siang, sebagian untuk amal. Uang saku itu juga gw berikan dalam bentuk pecahan yang mudah dibagi dua. Tapi.. nggak salah juga jika Ima kemudian punya interpretasi sendiri tentang apa yang diajarkan orang tuanya. Dan nggak salah jika kemudian dia mengatakan bahwa perilaku itu didasari pada “ajaran” orang tuanya untuk membantu orang lain.

Demikian juga dengan keputusan gw ;-) Tuhan memberi pedoman tentang apa yang harus dilakukan oleh manusia dalam bentuk ajaran2 agama. Tapi Tuhan tidak memberikan juklak dan standard operation procedure kaku yang tidak boleh kita ubah. Penerapan, pada akhirnya, selalu kembali pada interpretasi masing2 manusia. Pada logika dan intuisi manusia. Mendasarkan pertimbangan pada kata2 Tuhan tidak berarti lantas free of logic sama sekali. Dan sebaliknya, kali yeee, menjadi logis tidak berarti sama sekali stay away dari suatu kepercayaan pada Kekuatan Besar Tak Terbatas ;-).

Teman gw itu masih memberikan argumen lain: tapi, darimana kamu menilai bahwa pemahamanmu tentang manfaat-mudharat dari apa yang kamu lakukan itu bisa digeneralisasikan pada semua member? Ini kan penilaian pribadimu saja bahwa apa yang kamu lakukan lebih banyak mudharat daripada manfaatnya? Bukan perhitungan akurat.

Well.. untuk yang ini, gw juga bingung mesti jawab apa.. hehehe.. Karena, menurut gw, memang tidak mungkin pendapat gw itu sama dengan seluruh anggota. Dan tidak penting buat gw untuk mencari tahu berapa akurasinya ;-) Ini memang masalah pribadi gw kok! Yang bertanggung jawab penuh terhadap apa yang gw lakukan tuh gw sendiri kok! Bukan orang lain, bukan Tuhan ;-) Jadi, kalau menurut gw sudah ada potensi merugikan, sah2 aja buat gw mengambil keputusan sepihak untuk berhenti. Ukurannya memang sulit dijabarkan dengan logika, murni perasaan dan intuisi (yang mungkin bahkan bercampur dengan persepsi pribadi). Tapi selama ini gw percaya bahwa hati gw belum kena collateral damage parah ;-) Hati gw masih bisa gw andalkan untuk membantu otak membuat keputusan ;-).

Hehehe.. mungkin ada beberapa orang yang bakal menggerutu baca tulisan kali ini. Mungkin gw akan dianggap tidak konsisten: kemarin2 bilang nilai dan persepsi manusia itu beda2 dan harus dipahami, dan sibuk menganjurkan untuk tidak menilai perilaku manusia dari batasan2 kita sendiri.. eeeeh, hari ini malah bikin pengakuan terbuka bahwa gw dengan semena2 membuat keputusan berdasarkan penilaian gw sendiri ;-). Well, nggak papa juga kalau ada anggapan demikian. Tapi.. kalau boleh menjelaskan, mungkin prinsip gw bisa dikemukakan dalam dua poin saja:

  1. Dalam kerangka mengambil keputusan untuk diri sendiri, maka kita harus selalu kembali pada penilaian diri kita sendiri. It’s okay jika perhitungan kita tidak akurat, selama kita memiliki niat baik dan mempertimbangkannya masak2. Ketidakakuratan itu bisa diperbaiki, namun niat adalah awal dari segalanya.
  2. Dalam kerangka memberi penilaian pada orang lain, maka sebaiknya jauhilah menggunakan penilaian2 pribadi kita. Setiap orang punya kisah sendiri2, dan apa yang terjadi/dilakukannya sekarang tidaklah terlepas dari jalinan kisah hidupnya. Cobalah pahami dia sebagai dia, bukan sebagai kita, dengan demikian kita bisa menghindari keburukan2 yang mungkin terjadi akibat pemaksaan nilai pada konteks yang tidak tepat.

Hmm.. sebentar! Kok gw deja vu sendiri baca tulisan gw kali ini.. HAHAHAHA.. Dalam bahasa yang berbeda, dan titik tolak yang berbeda, mungkin tulisan yang mirip pernah dikemukakan oleh seorang teman lama. Kurang lebih kutipannya begini (gw ambil dari epilognya aja ya.. males go through the whole book lagi, karena penuh dgn teori ;-)):

Pada tataran praktis dan operasional, rasionalitas manusia mewujud sebagai keragaman cara berpikir manusia yang tertuang dalam konsep-konsep rasionalitas... Mengingat masing-masing konsep memiliki alasan yang kuat dan masuk akal, maka dapat dipahami bahwa rasionalitas manusia sebagai usaha untuk memahami realitas lebih luas dari batasan yang sudah dikemukakan masing-masing konsep itu. Dengan rasionalitasnya, manusia dapat memahami realitas, termasuk memahami beragam pendapat yang berbeda dengan pendapatnya sendiri.

Manusia memiliki kehendak bebas, dan dengan kehendak bebasnya ia menentukan dirinya sendiri, termasuk di dalamnya menentukan tingkah lakunya dan cara-cara memahami dunia. Kehendak bebas manusia sebagai dasar bagi kreativitas dan perkembangan peradaban manusia memungkinkan manusia menemukan banyak alternatif dalam hidupnya dan memilih alternatif yang ia inginkan sesuai dengan kehendak bebasnya.

Kesadaran adalah sebuah fakultas mental pada diri manusia yang memberikannya kemampuan untuk memahami realitas dan berkehendak bebas yang memungkinkan adanya penafsiran terhadap realitas.

Unsur utama kesadaran adalah (a) rasionalitas dan (b) kehendak bebas. Keduanya bekerja secara sinergis dan simultan, saling memengaruhi menghasilkan suatu fungsi operasional metakognitif untuk mengatur proses pemahaman terhadap realitas.

(B. Takwin, 2005, Kesadaran Plural: Sebuah Sintesis Rasionalitas dan Kehendak Bebas, hal 238. Baca review di sini)

Iya.. gw tahu, kutipannya tidak sama persis dengan ide yang gw jabarkan. Dia bicara tentang rasionalitas dan kehendak bebas, gw bicara tentang logika dan kepercayaan. But somehow gw ngerasa kedua hal ini paralel. Oleh karena itu, gw merasa logika dan kepercayaan itu juga bekerja secara sinergis dan simultan, saling mempengaruhi menghasilkan suatu fungsi operasional metakognitif untuk memahami (yang gw samakan dengan menilai) realitas di sekitar kita.

So, it’s all up to us.. bagaimana kita memadukan dua hal yang berbeda, yang seolah2 terpisah, namun sebenarnya ada dalam diri kita dan saling melengkapi. Itu tugas kita untuk memadukan keduanya dan memberikan manfaat yang sebanyak2nya dan meminimalkan mudharatnya bagi diri sendiri dan orang di sekitar kita.

--------------------

PS: Special thanks to ipra yang mengingatkan gw mengenai buku itu ;-)

Thursday, March 15, 2007

Kompromi

Ketika mendapat titah menghadiri pertemuan tahunan Esomar bersama seorang kawan, gw seneng banget! Gw bukan orang yang takut pergi sendiri, apalagi cuma ke KL yang sepelemparan batu dan masih serumpun. Apes2, kalau gw nyasar, salah satu bahasa yang gw kuasai masih memungkinkan gw untuk nanya orang di pinggir jalan ;-). Tapi.. gw seneng, karena the idea of having someone to talk before bed time in a foreign country terdengar asyik. Setidaknya, gw akan punya teman bertimbang.

Dan benar! Memang enak punya teman berbagi kebingungan ketika low cost carrier yang kami tumpangi ternyata tidak mendarat di Kuala Lumpur International Airport (KLIA) yang nyaman. Ternyata, bandaranya berbeda, sementara "petunjuk dari atas" adalah harus naik kereta ekspres ke KL Central yang cuma ada di KLIA.

Senang juga ada teman bertimbang harus jual US$ berapa untuk "menyambung hidup" di KL tanpa resiko "dicemberutin orang finance". Menyenangkan sekali punya teman "kabur" ke Batu Caves, Selangor, lantaran gak ada lagi yang bisa dilihat di KL sementara "hari masih sore" ;-)

Dan yang paling menyenangkan: gw punya kalkulator hidup yang selalu siap mengoreksi kurs acak-adul gw ;-) Hehehe.. maklum, sebagai qualitative research specialist, gw nggak gitu seneng ngitung2. Gw cenderung pakai plafon atas, kalau RM 1.80 gw itung RM 2, dan pakai Rp 3,000 untuk kurs yang cuma Rp 2,650. Bayangkan betapa melesetnya perhitungan kurs gw kalau nggak ada my beloved friend yang quantitative researcher ini ;-)

Tapi.. ternyata, pergi berdua juga membuat gw harus belajar kompromi. Belajar ngambil titik tengah dari dua orang yang orientasi dan persepsinya berbeda.

Kompromi pertama adalah tentang bagaimana menghabiskan waktu senggang. Teman gw lebih senang menghabiskan waktu di mal yang bertebaran di sekitar tempat menginap kami. Keluar masuk toko, cari toko sepatu Vincci yang asli Malaysia untuk oleh2, dsb.

Gw? Well.. ide gw menghabiskan waktu luang di tempat asing adalah: menyelami kehidupan penduduk lokal. Ini hal yang diajarkan Bapak sejak dulu: perjalanan ke luar negeri adalah kesempatan untuk mempelajari perbedaan budaya, jadi habiskanlah waktu di tempat penduduk lokal, bukan di tempat turis. Public transportation dan supermarket/pasar selalu menjadi pilihan utama Bapak untuk mempelajari tempat baru.

Hal ini masih gw lakukan sampai sekarang. Entah di Manchester, UK yang dingin berkabut, Wellington, NZ yang friendly penuh biri2, sampai Ende, Flores yang kecil mungil, kelakuan gw sama: naik kendaraan umum putar2 kota dan mengunjungi supermarket/pasar.

Nah.. berangkat dari Indonesia gw sudah ngebayangin mau naik monorail sampai capek. Dari monorail mau pindah kereta Putrajaya, dan kereta2 lain yang ternyata banyak banget di KL (sistem transportasi KL tampaknya dibangun swasta, masing2 punya daerah sendiri, jalur sendiri sehingga agak belibet. Mirip jalur Trans Jakarta ;-)) Tapi.. apa boleh buat, kata temen gw ide gw terlalu aneh dan melelahkan. Buat dia monorail itu fungsional, sekedar untuk bawa kita dari satu tempat ke tempat lain. Jadi.. gw terpaksa kompromi deh ;-) Hanya naik monorail sejauh tempat mal yang menarik berada ;-). Gw nggak sepenuhnya putar2 kota, tapi teman gw juga nggak kehilangan kesempatan nge-mall ;-)

Kompromi kedua adalah masalah makan. Gw tidak terlalu pingin menghabiskan sangu (=uang saku) gw buat jajan. Untuk makan gw cenderung cari food court terdekat, hawker terdekat, atau junk food retail terdekat ;-) Sementara teman gw lain lagi! Buat dia, jalan2 tuh harus dinikmati dengan makan yang enak. Cari restoran top yang masakannya enak.

Nah, buat yang ini komprominya agak susah sih. Untuk memilih restoran aja kita butuh waktu lamaaaaa banget! Untuk tiap pilihan gw, dia gak cocok rasanya. Untuk tiap pilihan dia, gw gak cocok harganya.. HAHAHAHA.. Sampai akhirnya kita cap-cip-cup aja milih restoran. Yang ada bikin dua2nya bete: udah harganya mahal, rasanya nggak enak ;-) Untungnya, sarapan pagi di hotel kami uenak tenan, jadi kami sarapan banyak2 biar gak terlalu lapar siangnya ;-) Trik turis banget yaks?

Kompromi ketiga adalah soal beli oleh-oleh. Secara kami perginya berdua, kami mau beli oleh2 patungan untuk seluruh kantor. Nah.. ternyata ini nggak sesederhana yang kami pikir, karena kami punya persepsi berbeda tentang oleh2.

Buat gw, yang penting oleh2 tuh ada keunikan dari tempat yang gw datangi. Nggak perlu mahal, nggak perlu hebat, asal benar2 mencerminkan tempat yang kita datangi. Makanya, pilihan gw adalah gantungan kunci. Harganya nggak seberapa (apalagi belinya di Petaling Street yang pusatnya pedagang kaki lima) tapi menurut gw sudah memadai.

Sementara, teman gw gak enak membelikan anak2 kantor suvenir masal gitu. Dia ngerasa nggak pantes memberikan itu. Ngerasa pelit banget, nggak menghargai teman, karena harganya murah. Jadi.. kami agak lama berdebat soal pro-kontranya beli gantungan kunci.

Well, akhirnya dapat kompromi juga sih! Kami patungan beli gantungan kunci untuk seluruh kantor KECUALI untuk bos dan rekan se-tim masing2. Sama2 enak deh ;-) Walaupun dia tetap critical pada pilihan oleh2 gw untuk researcher se-tim: tempat surat kecil berbentuk Twin Towers yang [masih] terlalu masal untuk dia. Tapi gw cuek aja.. hehehe.. lha wong bapaknyaima dan Ima aja cuma gw belikan beberapa kaos kok ;-) Produksi Petaling, lho ya.. hehehe.. bukan kaos Hard Rock Cafe KL seperti yang dibelikan teman gw untuk pacarnya ;-)

*Gw ngelesnya gini: iya, soalnya loe masih pacaran, jadi masih ngebeliin kaos Hard Rock. Kalo udah nikah 9 tahun kayak gw ntar pasti loe belinya kaos turis gini juga ;-).. tentu aja dibales dengan pelototan geram.. HAHAHAHA.. *

Anyway.. selain belajar berkompromi dengan orang lain, ternyata perjalanan ini juga membuat gw berkompromi dengan ketidakidealan keadaan Jakarta.

Selama ini, gw sibuk dengan persepsi bahwa Jakarta adalah kota paling amburadul. Macet dimana2, rambu jalan yang tidak berfungsi, kendaraan umum bobrok, jalanan banjir, dan seterusnya. Gw berpikir tidak ada kota separah Jakarta; even di Asia Tenggara pun benchmark gw adalah Singapura yang rapi jali dan tertib. Terakhir kali gw menginjakkan kaki di KL memang tahun 90-an awal, jadi udah nggak update lah pengetahuan gw tentang KL! Gw cuma berasumsi bahwa KL sudah jadi mirip Singapura, lantaran banyak TKI dan TKW kerja di sana.

Ternyata.. KL lebih mirip Jakarta daripada Singapura. Motor2 berhenti di depan lampu lalu lintas, lampu penyebrangan yang tidak berfungsi (hehehe.. gw & teman gw sempat sekitar 10 menit nunggu dengan tertib lampu penyebrangan hijau menyala, sebelum kami sadar lampunya rusak ;-)). Memang KL lebih bersih daripada Jakarta, tapi tidak lebih rapi dan jelas tidak lebih tertib daripada Jakarta. Lebih menarik lagi: pulang dari pertemuan di Shangri-La, kami nggak bisa nyebrang karena.. jalanannya banjir! Memang sih banjirnya nggak seberapa, cuma semata kaki, tapi cukup bikin besar hati karena ternyata kita [Jakarta] tidak sendiri ;-).

Waktu gw cerita tentang 'temuan' terbaru gw pada bapaknyaima, komentarnya cuma: "Baguslah! Berarti kamu mesti sering2 ke tempat yang tidak perfect biar lebih sabar sama keadaan di Jakarta"

Hmm.. gw jadi ingat analisa iseng2 kami beberapa bulan lalu ketika menemukan data kuantitatif bahwa konsumen kelas menengah ke bawah rata2 menggemari acara Crime News (baca: Buser, Patroli, dll). Kami berasumsi bahwa tontonan ini membuat mereka bersyukur, karena ternyata ada yang lebih susah daripada mereka. Ternyata.. bener juga! Melihat kota yang mirip2 Jakarta aja bikin gw langsung merasa lebih enak, apalagi kalau lihat kota yang lebih parah daripada Jakarta ya?

Yaah.. kita sering lupa bersyukur atas apa yang sudah kita punya. Maunya ngeluuuh terus. Nggak puaaas terus. Sampai kita ketemu bahwa ternyata masih ada yang lebih parah daripada kita.

OK! Kalau gitu gw bikin daftar kota2 yang harus dikunjungi untuk bikin gw bilang thank God, I live in Jakarta ;-) Kota apa ya? Bangkok? Ho Chi Minh City? Phnom Penh? Hehehe.. Kalau udah nemu kotanya, cari penyandang dana aaah.. ;-)
-----
PS: Ohya, mau bilang special thanks to Mbak Wiet yang udah repot2 cariin informasi hotel dan transportasi di KL. Makasih lho, Mbak, infonya berharga banget ;-)

Friday, March 09, 2007

Kurva

Posting katarsis kemarin (iya, katarsis. Kenapa? Aneh? Gw memang punya cara2 ajaib untuk katarsis ;-)) beserta komentar2 terhadapnya membuat gw teringat sebuah cerita audio dari Sanggar Cerita. Gw lupa judul ceritanya, tapi alurnya kurang lebih begini:

Di sebuah negara Skandinavia, sepasang suami istri sedang sedih dan putus asa. Belum lama ini sang istri menderita penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Beruntung, mereka bertemu seorang tabib yang menjual botol berisi obat yang bisa menyembuhkan penyakit apa saja. Hanya ada satu syarat penggunaan obat tersebut: segera setelah si sakit sembuh, obat itu harus dijual kepada orang lain yang membutuhkan dengan harga yang lebih rendah daripada harga belinya. Tidak boleh diberikan cuma2, tidak boleh dijual dengan harga sama atau lebih mahal. Jika syarat ini dilanggar, maka penyakit itu akan datang lagi.

Suami istri ini menjadi kalut karena mereka membeli obat itu seharga 1 sen, mata uang terkecil yang mereka kenal. Itu artinya mereka tidak bisa menjual dengan harga yang lebih murah.

Di saat keputusasaan mereka memuncak, seorang asing memberi saran yang sangat bagus, "Pergilah ke Rusia. Di sana, 1 sen Anda setara dengan 100 kopek. Anda bisa menjual obat itu dengan harga 99 kopek, lebih murah daripada harga beli"
Cerita itu, pada dasarnya, adalah cerita tentang kurva. Kurva yang berbeda2 memiliki median yang berbeda. Bisa jadi, median kurva A ternyata merupakan titik ekstrim kurva B. Seperti 1 sen yang merupakan nilai terkecil pada mata uang Amerika, ternyata setara dengan Rp 900an rupiah, yang jelas2 bukan nilai terkecil dalam mata uang Indonesia.

Nah.. segala sesuatu tentang manusia, pada dasarnya, juga merupakan titik2 dalam kurva. Kurva yang terbentuk dari nilai negatif dan positif yang dipercayai individu atau sekelompok individu. Jadi tidak heran jika pada individu atau kelompok individu tertentu suatu perilaku sudah masuk dalam kategori negatif, ternyata dalam kurva nilai individu lain masih dianggap sebagai sesuatu yang netral2 saja atau bahkan masuk dalam kategori perbuatan terpuji. After all, kurva nilai yang dimiliki mungkin berbeda.

Kurva inilah yang membedakan manusia dengan mesin. Pada mesin mobil, misalnya, istilah netral atau gigi nol merupakan kondisi statis. Di sini posisi netral tidak menunjukkan area di tengah kurva, melainkan merupakan titik mula. Iya dong, pada mesin mobil kan nggak ada gigi minus 1 ;-). Yang ada gigi nol (netral), gigi 1, gigi 2, dst. Mau mobilnya bermesin 2 tak (eh, ada gak sih mobil yg mesinnya 2 tak ;-)?) sampai yang 4,000cc, satuannya ya sama: gigi nol berarti statis, gigi satu mesin mulai berputar dan bisa jalan, gigi tertinggi adalah putaran mesin yang tercepat. Memang ada beda putaran mesin antara 2 tak dan 4,000cc pada gigi yang sama, tapi gigi nol tetap merupakan titik absolut.

Titik absolut manusia adalah saat dia dilahirkan. Itu saja. Selanjutnya, yang ada dalam kehidupannya adalah kurva nilai. Seluruh hidupnya, sejak lahir hingga nanti ajal menjemput, dihabiskan dalam kurva nilai. Kurva nilai ini membuatnya bisa memberi label positif atau negatif pada sesuatu, dan bisa mengganti label negatif menjadi positif (atau sebaliknya) jika kurvanya berubah. Kata bapak ini life itself is an art. He's right ;-) Hidup ini memang seni menyeimbangkan kurva2 yang ada.

Kurva nilai yang berbeda memang menimbulkan begitu banyak masalah dan pertentangan antar manusia. Tapi justru di situlah seninya hidup: bagaimana kita mencari titik temu dari kurva2 yang berbeda. Mencari irisannya, sehingga meminimalkan ketidaknyamanan semua orang ;-)

Yang kita butuhkan adalah mencari irisan kurva, bukan mengabsolutkan nilai2 manusia. Kenapa? Karena jika kita mencoba mengabsolutkan nilai2 manusia, kita akan kehilangan kemanusiaan itu sendiri. Kita hanya menjadi sekumpulan mesin ;-)

Have a nice weekend, everybody!

Thursday, March 08, 2007

Mengerti Diri Sendiri

Percakapan dua teman yang mampir di mailbox gw, antara Tuhantu Hantuhan dengan seorang teman yang belum jawab apakah namanya boleh ditampilkan di sini. Di-edit dengan semena2 tanpa mengurangi arti ;-):

"Kita tidak akan pernah mengenal diri kita sendiri dengan baik. Nah.. kalau kita ngotot selalu melihat ke dalam, dan baru mau melihat ke luar (orang lain) setelah kita mengerti diri sendiri, berarti sampai mati kita tidak akan pernah memikirkan orang lain"

"Kita tidak akan pernah mengenal diri kita sendiri?... Tidak mau mengenal diri sendiri atau .. Ehm, justru karena takut untuk mengenal diri sendiri? ... Hehehe... Disini saya belum meminta pembahasan Anda, tentang bagaimana bisa Anda membuat dikotomi antara "diri sendiri" dan "orang lain" tanpa melibatkan dan adanya keterlibatan dari "ego" itu sendiri?"

"Ya maksudnya diri sendiri itu: Ego"

Sebentar.. sebelum memberikan komentar, gw mau klarifikasi dulu bahwa kata2 "ego" yang gw pakai dalam posting kali ini adalah mengacu pada kata ego dalam kosakata awam, yaitu singkatan dari egosentris atau malah egois. Bukan yang biasanya gw pakai: sebagai konsep psikologi, dimana "ego" didudukkan dalam tempat terhormat sebagai penyeimbang. Hal ini untuk membuat bahasan lebih nyambung dengan percakapan kedua teman di atas.

Hmm.. gw sepakat dengan teman pertama, Tuhantu Hantuhan, bahwa kita tidak akan pernah mengenal diri sendiri. Alasannya bisa seperti yang disebut oleh teman kedua: tidak mau, atau takut.

Takut.. berhubungan dengan (ke)ego(isan). Hal ini yang akan menghalangi ketika proses mengenal diri itu sampai pada titik yang mengkhawatirkan, yang bisa membuat kita keluar dari comfort zone tentang siapa diri kita sesungguhnya. Kalau selama ini kita menganggap diri sendiri murah hati karena selalu menyumbang pada setiap pengemis yang kita temui, misalnya, maka kita cenderung menolak ketika kita menemukan kemungkinan baru bahwa motivasi kita untuk menyumbang lebih disebabkan karena tidak ingin dianggap pelit. Pergeseran konsep diri dari "murah hati" menjadi "penakut" inilah yang kita hindari sehingga kita akan menghentikan mencari tahu motivasi utama kita.

Tidak mau.. berhubungan dengan ego(sentris). Jika pun kita cukup besar hati untuk mencari tahu lebih dalam tentang diri kita yang sebenarnya, maka itu akan mengguncang "alam semesta kecil" kita. Dalam alam semesta kecil kita (baca: hidup kita), kita adalah pusatnya. Lha, kalau diri kita berubah citranya, seluruh hidup kita akan berubah. Yang pasti berubah adalah masa depan kita, karena apa yang kita pikirkan hari ini menentukan. Tapi.. pemaknaan kita terhadap pengalaman2 masa lalu pun juga akan berubah. Contohnya saja seseorang yang baru saja mendapatkan "pencerahan" bahwa selama ini hidupnya bergelimang dosa, dan bertobat. Ke depannya dia akan mengubah cara hidup.. tapi.. dia juga mungkin akan membenci dirinya sendiri karena pengalaman masa lalunya – yang sebelumnya dibangga2kan.

Nah.. masalahnya, siapkah kita mengubah our whole universe? Mungkin kita tidak siap. Bukan melulu karena takut, tapi tidak siap dengan konsekuensi2nya. Ketidaksiapan kita itu membuat kita menghentikan pengenalan diri.

Pengalaman seperti ini pernah dialami seorang teman gw yang [ingin] pindah agama. Pada dasarnya dia merasa tertarik pada agama "baru" itu, dan merasa agama itu "lebih sesuai" dengan dirinya. Tapi.. untuk pindah agama pun dia ragu2. Dia sudah menikah, punya satu istri dan beberapa anak. Kalau dia sebagai kepala keluarga pindah agama, bagaimana konsekuensinya terhadap hubungan dengan keluarga? Tentu dia tidak bisa memaksa istri dan anak2nya ikut pindah, kalau mereka tidak percaya. Tapi.. dia juga tidak siap kehilangan keluarganya. His whole universe will collapse if he goes further, and he feels that he cannot afford that.

Masih ada kemungkinan ketiga, sebenarnya, yang tampaknya belum dilirik oleh kedua teman di atas: bahwa memang sulit memahami diri kita sendiri karena kita juga senantiasa berkembang dan berubah. Dengan demikian, apa pun yang kita lakukan, we will most likely one step behind in understanding ourselves.

Cerita paling gampang adalah tentang diri gw sendiri. Ada masa2 dimana gw ngerasa being nothing at all. Tapi toh seiring dengan berkembangnya gw, gw menemukan kekuatan2 gw sendiri. Gw menemukan bidang2 yang gw tahu lebih banyak daripada orang lain. Kalau pakai parameter sekarang, gw bisa bilang: I'm not extraordinary, but I'm confident that I have something. Beberapa tahun yang akan datang, bisa jadi gw juga akan berubah. Menjadi lebih baik atau lebih buruk, gw tidak bisa jawab sekarang, tapi satu hal yang pasti: setiap hari gw akan menemukan hal2 baru tentang diri gw sendiri, dan proses ini akan berlangsung hingga gw mati.

So, kalau mengacu pada alasan kemungkinan ke-3 ini, maka "tidak mampu mengenal diri sepenuhnya" itu bukan takut, bukan tidak mau, tapi memang keterbatasan manusia. Stick and carrot versi Tuhan supaya kita selalu belajar, belajar, dan berkembang ;-)

-- akhir bagian pertama: mengapa gw percaya mengerti diri adalah PR seumur hidup --

Well.. kalau masih ada yang telaten baca sampai kalimat ini, maka mungkin sudah ada yang bertanya2: what the f*ck are you trying to say?

Hehehe.. tulisan ngalor-ngidul-ngetan-bali-ngulon (=utara, selatan, timur, kembali ke barat) ini sebenernya bertolak dari premis teman nomor satu dalam percakapan di atas. Premis itu, kalau nggak salah, adalah sebuah sanggahan terhadap pendapat bahwa kita baru bisa berempati pada orang lain, baru bisa mengerti keadaan orang lain, kalau kita sudah mengerti diri kita sendiri. Jadi jangan coba2 menempatkan diri pada orang lain sebelum kamu mengenal dirimu sendiri sepenuhnya.

Premis yang gw kebiri dengan paksa itu berbunyi:

memikirkan orang lain mendekatkan diri kita kepada nurani, sungguh aneh, kita menemukan nurani melalui memikirkan ORANG LAIN. Memang inilah anehnya. Kalau kita semakin memikirkan diri sendiri, maka semakin jauh kepada Nurani.

Well.. lepas dari jargon2nya, gw sih ngerasa poin ini sepenuhnya benar. Diri kita itu nggak ada habisnya kalau dipikirin. Setiap hari ada hal baru yang muncul. Jadi.. menurut gw omong kosong bahwa empati (terhadap orang lain) adalah proses yang baru bisa berjalan setelah kita selesai memikirkan [ragam atribut perasaan/keinginan/kebutuhan] diri sendiri. Justru, ini adalah proses yang harus berjalan bersamaan dengan memikirkan [ragam atribut perasaan/keinginan/kebutuhan] orang lain.

Memikirkan orang lain itu adalah refleksi diri, dan refleksi diri penting untuk mengerti diri. Memikirkan diri sendiri itu adalah introspeksi. Kita tidak bisa mengerti diri sendiri dengan melulu introspeksi. Kita butuh refleksi untuk melengkapi apakah introspeksi kita sudah benar, dan kita butuh introspeksi apakah kita sudah merefleksikan keinginan/kebutuhan/perasaan orang lain dengan benar.

-- akhir bagian ke-2: mengapa kita butuh orang lain untuk mengerti diri kita sendiri dengan baik --

Maaf ya, kalau tulisannya mbulet2 nggak karuan.. HAHAHAHA.. Soalnya kecampur panik karena report belum selesai sementara gw harus terdampar jauh dari kantor hingga Selasa ;-)

Monday, March 05, 2007

Life and Art

Kemarin hiburan gw (selain nonton sinetron Jomblo, maksudnya ;-)) adalah nonton CSI: Miami season 4. Ada episode menarik di keping DVD bajakan ke-3, judulnya Urban Hellraiser. Ceritanya tentang perampokan bank yang dilakukan sekelompok mahasiswa penggemar computer game. Mereka dengan sengaja menghidupkan permainan komputer itu dalam kehidupan nyata; sengaja memilih bank dimana jelas2 ada polisi di dalamnya, sengaja mencoba memperkosa pelanggan, bahkan sengaja mencoba membunuh polisi karena (kalau di game) perilaku2 ini ada bonus angkanya lebih besar. Scary, eh?

Tapi hari ini gak mau ngebahas CSI Miami kok ;-). Episode itu cuma kebetulan aja cocok dengan obrolan gw minggu lalu dengan seorang teman.

Teman tersebut sedang bingung tentang sebaiknya melarang atau mengijinkan balitanya membaca majalah Donal Bebek. Katanya, dia mendapat informasi dari suatu tempat bahwa Donal Bebek itu sebenarnya tidak disarankan untuk anak2. Banyak perilaku2 buruk di sana yang dikhawatirkan akan membuat anak meniru: seperti Paman Gober yang pelit, Kwik Kwek Kwak yang suka melanggar aturan pamannya, sampai Desi Bebek yang menduakan Donal dan Untung. Teman ini khawatir kejadiannya akan seperti tayangan Smackdown dulu, yang menyebabkan anak meniru.

Hmm.. waktu itu gw emang bingung mau jawab apaan.. hehehe.. Memang setahu gw Donald Duck lebih tepat dimasukkan ke dalam kategori adult cartoon. Ini adalah film2 kartun yang sebenarnya ditujukan untuk orang dewasa. Termasuk di kategori ini adalah Spongebob Squarepants, Bart Simpsons, and my favorite South Park. Tapi.. di antara keempat kartun ini (kebetulan yg 3 film), Donald Duck dan Spongebob Squarepants termasuk yang lebih mild dan [menurut gw] masih bisa dikonsumsi anak2. Yaah.. kalau gw disuruh nge-rating, gw masukkan Donald Duck dan Spongebob Squarepants ke PG-13 lah!

Tapi.. yang bikin gw gatel adalah alasan si teman: takut anaknya meniru perbuatan2 di majalah Donal Bebek, jadi harus dilarang dan dijauhkan dari anak2. Nah.. alasan ini yang bikin gw gatel.. hehehe..

Kalau setiap kali kita harus menghilangkan sesuatu dari dunia hanya karena ada unsur ketidakbaikan di situ, maka nggak akan ada yang tersisa dalam hidup ini. Atau jangan2 malah nggak ada yang tersisa dalam hidup ini ya? Kan setiap hal di dunia ini ada unsur baik dan buruknya.

Misalnya, kalau si teman harus melarang anaknya membaca Donal Bebek karena takut si anak meniru perilaku2 buruk yang ada di buku tersebut.. bukankah kemudian dia juga harus melarang anaknya membaca Superman, Spiderman, Detektif Conan, Lima Sekawan, Sapta Siaga, .. practically semua buku petualangan dan superhero? Kan semua buku itu ada perilaku buruknya juga ;-) Siapa yang jamin anak2nya nggak akan niru tokoh jahat seperti mereka meniru si Donal dan si Paman Gober ;-)?

Teman gw mencoba argue: tapi kan, di buku2 itu yang jahat kalah, yang baik selalu menang? Jadi beda kasus dong dengan tokoh utama yang bebek sial pemarah?

Iya.. memang benar buku2 yang lain itu ”moral of the story”-nya lebih jelas: kebaikan selalu menang. Tapi kan nggak ada jaminan bahwa yang akan ditiru adalah yang baik dan menang. Mau bukti? Di CSI tuh yang menang selalu CSI (baca: polisi), bukan penjahatnya. Sepintar apa pun si penjahat, CSI selalu berhasil membongkarnya. Tapi.. perhatikan deh pernyataan dalam life imitating art ini:

It has been reported that the prevalence of CSI and other crime investigation TV shows have changed criminal behavior. For example, the use of bleach to destroy DNA evidence has increased, as a result

See? Nggak ada jaminan bahwa sesuatu yang moral of the story-nya bagus lantas akan ditiru kebaikannya. Dan sebaliknya, gw juga yakin nggak semua yang tampak buruk akan ditiru keburukannya. Wong semua itu adalah stimulus netral dan kita yang memilih memberinya nilai positif atau negatif. Kita yang memilih mencontoh yg negatif dari tokoh antagonis, atau justru sebaliknya: mengambil hikmah dari sesuatu yg tampak buruk.

Art imitating life, then life imitating art, dan seterusnya hingga hidup manusia menjadi lebih baik dan seni berkembang

Bukankah justru dari situ perkembangan terjadi? Dari tesis muncul antitesis yang kemudian menjadi tesis baru sehingga muncul antitesis baru lagi.. dan seterusnya. Sesuatu yang baik menimbulkan sesuatu yang buruk, sehingga harus ditemukan yang lebih baik lagi untuk mengembalikan keseimbangan.. dan begitu seterusnya. Art imitating life, then life imitating art, dan seterusnya hingga hidup manusia menjadi lebih baik dan seni berkembang.

Nah.. kalau sekarang kita mencoba menghentikan proses itu, dengan menghilangkan semua yang memiliki aspek buruk, kapan kita menjadi lebih baik? Mana yang lebih penting: menghentikan semua yang punya aspek buruk, atau menggunakannya sebagai bahan untuk belajar lebih baik?

Well.. gw ngerti sih kekhawatirannya teman gw itu. Gw juga pernah kok overprotective seperti itu. Waktu Ima masih kecil (umur 2.5 tahun), dan pingin banget nonton penyembelihan hewan kurban Idul Adha, gw juga rada2 ngeri. Lha wong gw sampai sekarang pun selalu ”tutup kuping rapat2” dan ”sembunyi di balik selimut” setiap kali Idul Adha, kok mau membiarkan anak gw nonton penyembelihan. Apa nggak trauma dia lihat darah berceceran? Untung bapaknyaima psikolog juga.. hehehe.. dan berhasil meyakinkan bahwa yang paling berpengaruh bukan pengalaman menyaksikannya, melainkan pemberian makna kepada pengalaman itu.

So.. akhirnya Ima nonton penyembelihan bareng bapaknya, dan bapaknya memberikan penjelasan tentang bagaimana penyembelihan itu tidak menyiksa korban, bahwa gerak kejang hewan kurban itu bukan karena kesakitan melainkan sisa2 refleks saja. Jangan tanya gw gimana cara bapaknya menjelaskan, ya, kan gw gak ada di sana.. HAHAHAHA.. tapi yang jelas: Ima nggak jadi kejam walaupun sudah pernah nonton penyembelihan kurban. Ima juga nggak trauma. Satu2nya efek buruk dari pengalaman ini adalah: Ima jadi suka meledek ibunya dengan kejam.. hehehe.. dengan menceritakan secara mendetil proses penyembelihan sampai ibunya tutup kuping ;-).

Jadi.. kalau ada anak yang jadi nakal setelah baca Donal Bebek, kalau ada gamers yang merampok bank betulan setelah bosen main game di komputer, kalau ada anak yang jadi kejam setelah melihat penyembelihan hewan kurban.. maka.. jangan salahkan apa yang mereka baca/mainkan/tonton. Tapi tanyalah bagaimana orang tuanya (atau orang dewasa di sekitarnya) membantunya mengartikan pengalaman itu. Titik lemahnya justru di situ, bukan di bacaan/game/kegiatannya ;-).

UPDATE 6 Maret:

Setelah baca komentarnya Tino *thanks, Tin!*, gw jadi ingat kenapa kata "imitating" berputar2 di kepala gw.. hehehe.. Imitating adalah kata yang gw asosiasikan dengan teori Observational Learning dari Bandura. Hubungannya dengan posting ini: anak2 [balita] memang selalu meniru apa saja yang menarik perhatian mereka, karena meniru adalah cara mereka belajar. Kita bisa menghilangkan semua hal [yang kita anggap buruk] supaya anak tidak dapat meniru, atau kita bisa mendampingi anak2 untuk memberi pengertian mengapa sesuatu yang dilihatnya itu boleh atau tidak boleh ditiru :-). The choice is yours ;-)

Thursday, March 01, 2007

The Unforgettable Nightmare

Peringatan!

Posting ini berisi keluh kesah dan gerutuan gw. Tidak disarankan dibaca oleh mereka yang tidak ingin membaca caci maki, atau mereka yang mencari pencerahan dari apa yang dibaca ;-). Bagi mereka yang tidak berniat memberikan dukungan, dimohon untuk tidak meninggalkan komentar; kecuali siap didamprat oleh macan betina buas yang sedang ngamuk ;-)

Pada 22 Januari 2007, gw melakukan KESALAHAN TERBESAR dalam hidup gw.

Apa kesalahan gw? Nggak sengaja menabrak orang sampai mati? Membakar pasar? Menghancurkan rumah orang? Enggak kok, kesalahan gw cuma: menyerahkan kartu kredit untuk digesek di sebuah hotel di Kupang.

Eh! Bukan cuma itu! Ada kesalahan kedua: menyerahkan kartu kredit LAIN untuk digesek di sebuah hotel di Kupang ketika slip transaksi kartu kredit pertama tidak keluar.

Dan seperti kesalahan2 besar lainnya, kesalahan gw itu menyebabkan the unforgettable nightmare. Hingga kini, 38 hari setelah kesalahan itu dilakukan, gw masih terus dan terus dan terus lagi dihantui masalah yang sama: harus menelepon ke bank, menjelaskan kepada CSO-nya bahwa transaksi itu tidak pernah terjadi, karena transaksi yang sama masih saja ditagihkan ke rekening gw.

Nightmare pertama gw terjadi tanggal 30 Januari 2007. Hari itu gw menerima tagihan dari Citibank (nama bank sengaja dibesarkan sesuai dengan besarnya kejengkelan gw). Gw kaget karena tercatat ada 2x transaksi di Hotel Sasando International Kupang. Gw segera ingat bahwa Citibank adalah kartu kredit pertama yang gw gesek di sana, dan slip tidak keluar. Masih dengan tenang, percaya akan nama besar Citibank dan statusnya sebagai bank internasional, gw menghubungi CSO-nya. Beres! Kata CSO-nya, tagihan itu dihilangkan sementara dari tagihan, gw tinggal mengirimkan bukti dan berkas2 pendukung, dan 14 hari kerja kemudian sudah diberi surat keputusan.

Besoknya, gw langsung kirim bukti2 tersebut, dan mengkonfirmasi penerimaannya.

Gw pikir masalah selesai dong? Ketika 20 hari kemudian, tanggal 20 Februari 2007, gw menerima surat dari Citibank, gw udah yakin surat itu berisi pernyataan bahwa transaksi dihapuskan. Bukti gw kuat kok, selain bukti pembayaran tunai gw juga dibekali dengan surat pernyataan dari hotel terkait mengenai kegagalan transaksi. Ternyata.. SALAH, saudara2! Surat itu berisi pernyataan bahwa hingga tanggal dikirimkannya surat itu (15 Februari 2007), Citibank belum menerima dokumen yang gw kirimkan dan karenanya jumlah itu akan ditagihkan kembali.

Duh.. ini sih namanya ngebangunin macan tidur. Gw telfon lagi CSO-nya, dan mendapat kabar bahwa contact person yang pertama gw hubungi belum menyerahkan dokumen ke bagian investigasi. Yang bisa mereka lakukan adalah minta gw mengirimkan ulang dokumennya, dengan janji akan segera diurus.

Hari itu gw kirim ulang dokumennya rangkap tiga: 2x by fax, 1x by courier. Gw confirm ulang, katanya sudah diterima. Besoknya, gw konfirmasi lagi, sudah ada catatan bahwa dokumen sudah diteruskan ke bagian investigasi.

Selesai? Ya enggak dong ;-) Namanya juga unforgettable nightmare ;-). Hari ini, 1 Maret 2007, gw terima tagihan baru yang teteup kekeuh surekeuh menagihkan kedua transaksi. Kemana aja tuh dokumen rangkap 4 yang gw kirim? Nggak dibaca apa yaks?

Waktu gw cek ke CSO-nya, yang bisa dilakukan cuma: nanti kami cek dulu, dan nanti kami hubungi kembali. Hello? This is the same rhetoric answer I’ve got. And for the record, I’ve been calling them for eleven times! Komplit bakal jadi selusin kali gw nelfon, karena besok gw harus nelfon lagi untuk memastikan apakah sudah diurus.

Belum selesai nightmare Citibank, muncul lagi nightmare BCA (nama bank sengaja juga dibesarkan untuk menunjukkan kejengkelan).

Tanggal 21 Februari 2007, gw terima tagihan kartu kredit dari BCA. Ada 3x transaksi di hotel yang sama. Waktu lihat tagihan itu gw baru ingat: ketika gesekan Citibank tidak berhasil, gw sodorkan kartu BCA gw. Gw pikir mesinnya nggak kompatibel dgn Citibank, karena merupakan mesin BCA. Entah gimana ceritanya kok bisa tergesek 3x.

Seperti di kasus Citibank, gw telfon juga CSO-nya BCA. Well.. ternyata nightmare Citibank belum ada apa2nya lho, dibandingkan dengan nightmare BCA ;-) One thing for sure, CSO di BCA lebih tidak ramah dibandingkan Citibank. Secondly, kebijakan BCA lebih tidak mengutamakan konsumen dibandingkan Citibank.

Kalau Citibank masih dengan ramah mendengarkan keluhan gw, mau bekerjasama me-written off tagihan itu untuk sementara, BCA sama sekali tidak mau tahu. Keluhan gw memang dicatat, tapi tagihan tidak dibekukan. Gw tetap harus membayarnya, dan jika kemudian terbukti gw tidak melakukan, baru dana yang sudah gw bayarkan akan dikembalikan. FYI, total jumlah tagihan itu nyaris mencapai 1.5jt; bukan jumlah yang kecil untuk gw “titipkan” ke BCA hingga terbukti tidak bersalah.

Eh.. masih ada lagi yang menjengkelkan! Tidak seperti Citibank yang mengizinkan gw tetap memakai kartunya, BCA serta merta memblokir kartu kredit gw. Diblokir hingga gw terbukti tidak bersalah. Dan setelah nanti gw dinyatakan “bersih”, maka kepada gw akan dikenai biaya penyelidikan sebesar Rp 30,000 PLUS biaya ganti kartu yang diblokir sebesar Rp 50,000. Dan kalau gw terbukti bersalah, maka gw harus membayar 3x transaksi itu PLUS bunga yang terjadi selama penyelidikan. Bandingkan dengan Citibank yang tidak akan membebankan bunga pada transaksi yang dipertanyakan.

Hingga tulisan ini diturunkan, gw masih belum tahu kapan mimpi buruk ini berakhir. Mungkin tidak akan berakhir, judging from the past month experience :-(

Hhh.. begitulah nasib konsumen di Indonesia. Konsumen bukan raja, melainkan pengemis. Ataupun kalau ada intensi menjadikan konsumen raja, maka sering kali terbentur oleh kemampuan petugas dan koordinasi yang tidak beres.

Padahal.. boleh di-cek, gw tuh nggak pernah terlambat bayar tagihan. Setiap kali terima tagihan, selalu gw catat di PDA dan di Microsoft Outlook. Alarm akan berbunyi mulai 3 hari sebelum jatuh tempo. Kalaupun gw gak dengar PDA bunyi, Outlook akan kasih tahu. Sebaliknya, kalau weekend dan gw gak buka Outlook kantor maka PDA gw akan bunyi.

Dan boleh di-cek juga, gw tuh hampir tidak pernah bayar nggak full. Kecuali kalau tagihannya luar biasa besar dan membahayakan kesehatan keuangan rumah tangga (biasanya pas beli alat elektronik gitu) gw selalu bayar full. Tapi apa yang gw dapatkan? Untuk masalah kecil seperti ini saja gw harus bolak-balik telfon CSO, dilempar kesana kemari.. masih pakai disuruh bayar sampai terbukti tidak bersalah lagi!

So.. itulah keluhan gw hari ini. Moral of the story-nya? Kayaknya lebih baik kita kembali ke cara lama aja deh.. hehehe.. simpan duit di dalam bambu atau di bawah ubin.. hehehe.. Bayar segala macam pakai uang tunai. Nggak usah pakai kartu kredit segala.

Dan.. ohya, saran gw: rajin2lah telat bayar tagihan kartu kredit.. hehehe.. soalnya nggak ada untungnya juga loe jadi pelanggan yang baik. Tetap aja loe diperlakukan bak pesakitan ketika transaksi bermasalah. Jadi, mendingan sekalian aja ngemplang (= nggak bayar utang) ;-)