Friday, March 09, 2007

Kurva

Posting katarsis kemarin (iya, katarsis. Kenapa? Aneh? Gw memang punya cara2 ajaib untuk katarsis ;-)) beserta komentar2 terhadapnya membuat gw teringat sebuah cerita audio dari Sanggar Cerita. Gw lupa judul ceritanya, tapi alurnya kurang lebih begini:

Di sebuah negara Skandinavia, sepasang suami istri sedang sedih dan putus asa. Belum lama ini sang istri menderita penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Beruntung, mereka bertemu seorang tabib yang menjual botol berisi obat yang bisa menyembuhkan penyakit apa saja. Hanya ada satu syarat penggunaan obat tersebut: segera setelah si sakit sembuh, obat itu harus dijual kepada orang lain yang membutuhkan dengan harga yang lebih rendah daripada harga belinya. Tidak boleh diberikan cuma2, tidak boleh dijual dengan harga sama atau lebih mahal. Jika syarat ini dilanggar, maka penyakit itu akan datang lagi.

Suami istri ini menjadi kalut karena mereka membeli obat itu seharga 1 sen, mata uang terkecil yang mereka kenal. Itu artinya mereka tidak bisa menjual dengan harga yang lebih murah.

Di saat keputusasaan mereka memuncak, seorang asing memberi saran yang sangat bagus, "Pergilah ke Rusia. Di sana, 1 sen Anda setara dengan 100 kopek. Anda bisa menjual obat itu dengan harga 99 kopek, lebih murah daripada harga beli"
Cerita itu, pada dasarnya, adalah cerita tentang kurva. Kurva yang berbeda2 memiliki median yang berbeda. Bisa jadi, median kurva A ternyata merupakan titik ekstrim kurva B. Seperti 1 sen yang merupakan nilai terkecil pada mata uang Amerika, ternyata setara dengan Rp 900an rupiah, yang jelas2 bukan nilai terkecil dalam mata uang Indonesia.

Nah.. segala sesuatu tentang manusia, pada dasarnya, juga merupakan titik2 dalam kurva. Kurva yang terbentuk dari nilai negatif dan positif yang dipercayai individu atau sekelompok individu. Jadi tidak heran jika pada individu atau kelompok individu tertentu suatu perilaku sudah masuk dalam kategori negatif, ternyata dalam kurva nilai individu lain masih dianggap sebagai sesuatu yang netral2 saja atau bahkan masuk dalam kategori perbuatan terpuji. After all, kurva nilai yang dimiliki mungkin berbeda.

Kurva inilah yang membedakan manusia dengan mesin. Pada mesin mobil, misalnya, istilah netral atau gigi nol merupakan kondisi statis. Di sini posisi netral tidak menunjukkan area di tengah kurva, melainkan merupakan titik mula. Iya dong, pada mesin mobil kan nggak ada gigi minus 1 ;-). Yang ada gigi nol (netral), gigi 1, gigi 2, dst. Mau mobilnya bermesin 2 tak (eh, ada gak sih mobil yg mesinnya 2 tak ;-)?) sampai yang 4,000cc, satuannya ya sama: gigi nol berarti statis, gigi satu mesin mulai berputar dan bisa jalan, gigi tertinggi adalah putaran mesin yang tercepat. Memang ada beda putaran mesin antara 2 tak dan 4,000cc pada gigi yang sama, tapi gigi nol tetap merupakan titik absolut.

Titik absolut manusia adalah saat dia dilahirkan. Itu saja. Selanjutnya, yang ada dalam kehidupannya adalah kurva nilai. Seluruh hidupnya, sejak lahir hingga nanti ajal menjemput, dihabiskan dalam kurva nilai. Kurva nilai ini membuatnya bisa memberi label positif atau negatif pada sesuatu, dan bisa mengganti label negatif menjadi positif (atau sebaliknya) jika kurvanya berubah. Kata bapak ini life itself is an art. He's right ;-) Hidup ini memang seni menyeimbangkan kurva2 yang ada.

Kurva nilai yang berbeda memang menimbulkan begitu banyak masalah dan pertentangan antar manusia. Tapi justru di situlah seninya hidup: bagaimana kita mencari titik temu dari kurva2 yang berbeda. Mencari irisannya, sehingga meminimalkan ketidaknyamanan semua orang ;-)

Yang kita butuhkan adalah mencari irisan kurva, bukan mengabsolutkan nilai2 manusia. Kenapa? Karena jika kita mencoba mengabsolutkan nilai2 manusia, kita akan kehilangan kemanusiaan itu sendiri. Kita hanya menjadi sekumpulan mesin ;-)

Have a nice weekend, everybody!