Thursday, March 08, 2007

Mengerti Diri Sendiri

Percakapan dua teman yang mampir di mailbox gw, antara Tuhantu Hantuhan dengan seorang teman yang belum jawab apakah namanya boleh ditampilkan di sini. Di-edit dengan semena2 tanpa mengurangi arti ;-):

"Kita tidak akan pernah mengenal diri kita sendiri dengan baik. Nah.. kalau kita ngotot selalu melihat ke dalam, dan baru mau melihat ke luar (orang lain) setelah kita mengerti diri sendiri, berarti sampai mati kita tidak akan pernah memikirkan orang lain"

"Kita tidak akan pernah mengenal diri kita sendiri?... Tidak mau mengenal diri sendiri atau .. Ehm, justru karena takut untuk mengenal diri sendiri? ... Hehehe... Disini saya belum meminta pembahasan Anda, tentang bagaimana bisa Anda membuat dikotomi antara "diri sendiri" dan "orang lain" tanpa melibatkan dan adanya keterlibatan dari "ego" itu sendiri?"

"Ya maksudnya diri sendiri itu: Ego"

Sebentar.. sebelum memberikan komentar, gw mau klarifikasi dulu bahwa kata2 "ego" yang gw pakai dalam posting kali ini adalah mengacu pada kata ego dalam kosakata awam, yaitu singkatan dari egosentris atau malah egois. Bukan yang biasanya gw pakai: sebagai konsep psikologi, dimana "ego" didudukkan dalam tempat terhormat sebagai penyeimbang. Hal ini untuk membuat bahasan lebih nyambung dengan percakapan kedua teman di atas.

Hmm.. gw sepakat dengan teman pertama, Tuhantu Hantuhan, bahwa kita tidak akan pernah mengenal diri sendiri. Alasannya bisa seperti yang disebut oleh teman kedua: tidak mau, atau takut.

Takut.. berhubungan dengan (ke)ego(isan). Hal ini yang akan menghalangi ketika proses mengenal diri itu sampai pada titik yang mengkhawatirkan, yang bisa membuat kita keluar dari comfort zone tentang siapa diri kita sesungguhnya. Kalau selama ini kita menganggap diri sendiri murah hati karena selalu menyumbang pada setiap pengemis yang kita temui, misalnya, maka kita cenderung menolak ketika kita menemukan kemungkinan baru bahwa motivasi kita untuk menyumbang lebih disebabkan karena tidak ingin dianggap pelit. Pergeseran konsep diri dari "murah hati" menjadi "penakut" inilah yang kita hindari sehingga kita akan menghentikan mencari tahu motivasi utama kita.

Tidak mau.. berhubungan dengan ego(sentris). Jika pun kita cukup besar hati untuk mencari tahu lebih dalam tentang diri kita yang sebenarnya, maka itu akan mengguncang "alam semesta kecil" kita. Dalam alam semesta kecil kita (baca: hidup kita), kita adalah pusatnya. Lha, kalau diri kita berubah citranya, seluruh hidup kita akan berubah. Yang pasti berubah adalah masa depan kita, karena apa yang kita pikirkan hari ini menentukan. Tapi.. pemaknaan kita terhadap pengalaman2 masa lalu pun juga akan berubah. Contohnya saja seseorang yang baru saja mendapatkan "pencerahan" bahwa selama ini hidupnya bergelimang dosa, dan bertobat. Ke depannya dia akan mengubah cara hidup.. tapi.. dia juga mungkin akan membenci dirinya sendiri karena pengalaman masa lalunya – yang sebelumnya dibangga2kan.

Nah.. masalahnya, siapkah kita mengubah our whole universe? Mungkin kita tidak siap. Bukan melulu karena takut, tapi tidak siap dengan konsekuensi2nya. Ketidaksiapan kita itu membuat kita menghentikan pengenalan diri.

Pengalaman seperti ini pernah dialami seorang teman gw yang [ingin] pindah agama. Pada dasarnya dia merasa tertarik pada agama "baru" itu, dan merasa agama itu "lebih sesuai" dengan dirinya. Tapi.. untuk pindah agama pun dia ragu2. Dia sudah menikah, punya satu istri dan beberapa anak. Kalau dia sebagai kepala keluarga pindah agama, bagaimana konsekuensinya terhadap hubungan dengan keluarga? Tentu dia tidak bisa memaksa istri dan anak2nya ikut pindah, kalau mereka tidak percaya. Tapi.. dia juga tidak siap kehilangan keluarganya. His whole universe will collapse if he goes further, and he feels that he cannot afford that.

Masih ada kemungkinan ketiga, sebenarnya, yang tampaknya belum dilirik oleh kedua teman di atas: bahwa memang sulit memahami diri kita sendiri karena kita juga senantiasa berkembang dan berubah. Dengan demikian, apa pun yang kita lakukan, we will most likely one step behind in understanding ourselves.

Cerita paling gampang adalah tentang diri gw sendiri. Ada masa2 dimana gw ngerasa being nothing at all. Tapi toh seiring dengan berkembangnya gw, gw menemukan kekuatan2 gw sendiri. Gw menemukan bidang2 yang gw tahu lebih banyak daripada orang lain. Kalau pakai parameter sekarang, gw bisa bilang: I'm not extraordinary, but I'm confident that I have something. Beberapa tahun yang akan datang, bisa jadi gw juga akan berubah. Menjadi lebih baik atau lebih buruk, gw tidak bisa jawab sekarang, tapi satu hal yang pasti: setiap hari gw akan menemukan hal2 baru tentang diri gw sendiri, dan proses ini akan berlangsung hingga gw mati.

So, kalau mengacu pada alasan kemungkinan ke-3 ini, maka "tidak mampu mengenal diri sepenuhnya" itu bukan takut, bukan tidak mau, tapi memang keterbatasan manusia. Stick and carrot versi Tuhan supaya kita selalu belajar, belajar, dan berkembang ;-)

-- akhir bagian pertama: mengapa gw percaya mengerti diri adalah PR seumur hidup --

Well.. kalau masih ada yang telaten baca sampai kalimat ini, maka mungkin sudah ada yang bertanya2: what the f*ck are you trying to say?

Hehehe.. tulisan ngalor-ngidul-ngetan-bali-ngulon (=utara, selatan, timur, kembali ke barat) ini sebenernya bertolak dari premis teman nomor satu dalam percakapan di atas. Premis itu, kalau nggak salah, adalah sebuah sanggahan terhadap pendapat bahwa kita baru bisa berempati pada orang lain, baru bisa mengerti keadaan orang lain, kalau kita sudah mengerti diri kita sendiri. Jadi jangan coba2 menempatkan diri pada orang lain sebelum kamu mengenal dirimu sendiri sepenuhnya.

Premis yang gw kebiri dengan paksa itu berbunyi:

memikirkan orang lain mendekatkan diri kita kepada nurani, sungguh aneh, kita menemukan nurani melalui memikirkan ORANG LAIN. Memang inilah anehnya. Kalau kita semakin memikirkan diri sendiri, maka semakin jauh kepada Nurani.

Well.. lepas dari jargon2nya, gw sih ngerasa poin ini sepenuhnya benar. Diri kita itu nggak ada habisnya kalau dipikirin. Setiap hari ada hal baru yang muncul. Jadi.. menurut gw omong kosong bahwa empati (terhadap orang lain) adalah proses yang baru bisa berjalan setelah kita selesai memikirkan [ragam atribut perasaan/keinginan/kebutuhan] diri sendiri. Justru, ini adalah proses yang harus berjalan bersamaan dengan memikirkan [ragam atribut perasaan/keinginan/kebutuhan] orang lain.

Memikirkan orang lain itu adalah refleksi diri, dan refleksi diri penting untuk mengerti diri. Memikirkan diri sendiri itu adalah introspeksi. Kita tidak bisa mengerti diri sendiri dengan melulu introspeksi. Kita butuh refleksi untuk melengkapi apakah introspeksi kita sudah benar, dan kita butuh introspeksi apakah kita sudah merefleksikan keinginan/kebutuhan/perasaan orang lain dengan benar.

-- akhir bagian ke-2: mengapa kita butuh orang lain untuk mengerti diri kita sendiri dengan baik --

Maaf ya, kalau tulisannya mbulet2 nggak karuan.. HAHAHAHA.. Soalnya kecampur panik karena report belum selesai sementara gw harus terdampar jauh dari kantor hingga Selasa ;-)