Thursday, December 31, 2009

Confusius' Block

Beberapa belas tahun silam (atau lebih dari 20 thn ya?), Budhe gw di Singapore pernah memberi oleh2 untuk Bapak dan Ibu berupa sebuah buku berjudul "What Men Know about Women". Bukunya tebal sekali, paling enggak satu rim. Isinya?.... Hehehe.... jangan kaget, isinya cuma lembaran kosong ;) Ya, buku itu memang [kata Budhe] buku lucu2annya bule ;-) Untuk mengatakan bahwa laki2 tidak tahu apa2 tentang perempuan... tanpa kata2, tapi dengan kasus nyata ;-)

Ketika Agustus 2009 lalu Okke Sepatumerah mengirimkan draft novel terbarunya, gw sempat teringat buku ini. Judul draft-nya [seharusnya, atau gw asumsikan sebagai]: Blank. Tapi dia menamai file tersebut: BLAK (tanpa N). Ceritanya tentang seorang penulis yang nge-blank, alias lagi kena writer's block.

Do you understand what I mean ;-)? Ngerti kan kenapa gw teringat buku lucu itu? Hehehe... gw mikir: apakah ini cerita tentang nge-blank dengan mencontohkan apa jadinya sebuah tulisan kalau si penulis lagi nge-blank ;-)?

On top of that, setengah draft pertama Okke kayak nggak tahu mau cerita apa. Muter2 nggak karuan di situ2 juga. Sumpah! Bikin gw il-feel bacanya... HAHAHAHAHA... Untung bagian itu sudah dikomentari oleh Double D (baca: Dearest Dodol), sehingga gw punya excuse buat speed reading ;-)

Still, it took 2 months for me to force myself reading it ;-) Soalnya ternyata gw tetap aja nggak bisa speed reading. Jadi deh... gw bolak-balik mencoba baca, berhenti, baca lagi, berhenti, lupa udah sampai mana, baca dari ulang lagi, dst. Dan - karena gw ratu tega nan telengas - gw bilang tanpa tedeng aling2 ke dia: novel loe yang ini separuh bagian pertama membosankan ;-)

***

Tetapi kemarin gw menerima sebuah kiriman dari Jeng Okke. Sebuah buku berjudul "Heart Block: Biarkan Cinta Menemukanmu". Dengan catatan di halaman pertamanya seperti foto di samping. Ini adalah reinkarnasi Blank alias Blak itu ;-)

Gw sebut reinkarnasi, karena beda banget dengan cikal-bakalnya. Buku ini sangat mengalir, dan gagal bikin gw bosen ;-) Dan... memperhatikan novelnya Okke sejak dia masih novelist-wanna-be, menurut gw ini adalah yang alurnya paling 'ngalir' dibandingkan dua novel terdahulu.

Novel ini berkisah tentang Senja Hadiningrat, selebriti instan di dunia tulis-menulis, yang novel pertamanya meledak bak supernova (the star, I mean, not the novel ;-)). Seperti layaknya supernova yang extremely luminous before it begins to fade, Senja pun segera menemukan kenyataan pahit: menulis novel kedua yang bagus adalah sangat sulit, ketika novel pertamamu bersinar sangat terang.

Untuk menambah komplikasi, si selebriti instan ini punya manajer yang kayaknya bakal cocok di-hijack oleh marketing manager perusahaan FMCG ;-). Baterainya Duracell, tangannya delapan, ... Uuuhmmm... bukaaaan... manajernya bukan laba-laba atau gurita, tetapi memang sangat progresif sekali, sehingga menerima semua tawaran kontrak buat Senja.

... dan... Senja pun kabur ke Ubud, Bali. Untuk menenangkan diri, sekaligus mencoba mengusir writer's block-nya.

Selanjutnya kisahnya bergulir bak kisah remaja pada umumnya. Senja bertemu pria ganteng mampus bernama Genta. Seorang pelukis romantis yang "tahu banget gimana memuaskan perempuan" ;-)

*oh, enggak, tidak ada konotasi seksual di sini. The novel is full of kissing, but alas, there is no more than that ;-) Kurang kinky loe, Kke ;-)*

Bersama Genta, Senja menemukan kembali kepercayaan dirinya, dan the muse yang dikejarnya hingga ke Bali.

Selesai?

Hmm... akhir ceritanya nggak segampang itu, sih ;-) Tapi demi pundi2nya Okke, gw nggak ceritakan deh akhirnya. Biar kentaaaang dan pada beli bukunya ;-)

Ada beberapa hal yang membuat gw tekun membacanya. Yang pertama tentunya adalah karena dikirimi buku gratis lengkap dengan tanda tangan dan kata mutiara, yay! adalah pembangunan karakter yang kuat. Gw sangat bisa membayangkan bagaimana tokoh Tasya si manajer Duracell di alam nyata, dan... ketika baca bukunya, tingkah polah si Tasya itu tidak kontradiktif dengan apa yang gw amati pada tokoh2 senada sehari2. Demikian pula tokoh Genta, si seniman romantis yang bisa casually in love dengan setiap wanita ;-)

*uuuh... I like this term: casually in love ;-)*

Gayanya Genta yang mendekat-tapi-nggak-committed itu benar2 copy paste dari beberapa seniman asli yang gw kenal. Juga surprise2 kecil impulsifnya terhadap Senja... pendeknya, tingkah polah si tokoh nggak bikin jidat gw berkerut karena kontradiktif menurut apa yang gw pelajari di psikologi ;-)

Yang kedua, gw merasa Okke menggambarkan dengan baik kesalahan Confusius melalui beberapa paragrafnya ;-) Paragraf yang gw maksud adalah:

"Aku pikir yang namanya seniman itu nggak bisa kerja dengan sistem kontrak, lalu ber-deadline. Kupikir yang namanya seniman itu nggak mau diatur-atur"

"Ya enggak bisa gitu jugalah," ia mendengus, "yang namanya pekerjaan, pasti ada lingkaran setan bernama sistem. Kamu nggak ngikutin sistem, kamu mati."

(hal. 216)

"Serius nih? Kamu bener-bener nggak pernah mati ide atau nggak mood?"

"Oh, siapa bilang? Sekarang aja aku lagi mati ide dan nggak mood," ia terkekeh. "Tapi aku harus ngelakuin apa pun untuk melawan itu. Apa pun. Ada beberapa temanku yang ngakalinnya dengan bikin konsep yang sama, ganti objek, ganti teknik, malah ada yang cuma geser-geser objek, "Genta tertawa pahit, "dan lukisan mereka laku... semua audience bilang brilliant, padahal yang dibuat itu sampah buat menuhin deadline"

(hal. 217)


Hubungannya dengan Konfusius? Well... pernah dengar kan, Konfusius berkata seperti ini, "Find a job you love, and you'll never work a day in your life"

Hehehe... Konfusius pasti lagi nge-blank waktu mengeluarkan kata2 itu ;-) A job is a job. Meskipun loe suka kerjaan itu, kalau udah jadi kerjaan, ada lingkaran setan bernama sistem ;-)

Sebagai pekerja, gw mengamini hal itu banget! Boleh dibilang, pekerjaan gw adalah sesuatu yang gw suka. Sehari2 kerjaan gw mengamati, menganalisa, dan menuangkannya dalam tulisan. Tapi... kalau udah banyak deadline, tetap saja gw merasa tertekan ;-)

Anyway... buku ini memang buku ringan. Jadi jangan berharap menemukan yang berat2 di sini... hehehe... Meskipun, ada juga insight ringan yang bisa diambil berkaitan dengan judulnya. Tentang how to find your passion. Karena hanya jika seorang penulis bisa menemukan passion lah maka tulisannya bisa bagus. Writer's block pasti berlalu, meskipun mungkin makan waktu bertahun-tahun:

Contohnya Henry Roth, penulis novel 'Call it Sleep' (diterbitkan tahun 1943) baru menerbitkan novel selanjutnya, "Nature's First Green" di tahun 1979, gara-gara writer's block akut. Tiga puluh enam tahun, an akhirnya berlalu juga. Eh, tapi 36 tahun lama juga ya?

(hal. 309)


Yaah... proses menemukan passion itu memang waktunya nggak pasti. Tapi... pasti akan tetap datang kok ;-) Yang penting keep fighting aja, seperti nasihat Genta. Kita toh nggak bisa melepaskan diri dari sistem ;-)

Oh, tentu saja, novel ini juga nggak sempurna. Gw masih mencatat kontradiksi2 minor yang mengganggu. Cerita tentang telepon yang masuk di halaman 188, misalnya, tidak mungkin terjadi kalau diawali dengan kisah di halaman 170 ;-) Dan deskripsi ruangan di halaman 206 kontradiktif dengan halaman 158 ;-) Belum lagi typo parah di 287 ;-)

Tapi... yaaah... itu biasa kok. Penulis sekelas Dan Brown juga melakukannya di The Lost Symbol... hehehe... ;-) Yup, kalau draft-nya mengingatkan gw pada buku oleh2 Budhe, maka reinkarnasinya mengingatkan gw pada buku teranyar penulis fenomenal itu ;-) Gw menduga Dan Brown saat menulis buku terbarunya juga sedang berada pada titik nadir seperti Senja.

Udah baca bukunya? Kalau menurut gw, The Lost Symbol itu memaksakan diri untuk jadi bernuansa Da Vinci Code, buku Dan Brown yang paling laku. Padahal, kalau lihat dari plotnya, gw merasa si penulis lagi mood ke arah either Digital Fortress atau Deception Point. Akibatnya, menurut gw "jiwa"nya nggak ada tuh buku ;-) Nggak pas ;-) Kentang, bow, misterinya maksa dan jadi gampang banget ditebak.

Nggak heran kalau Dan Brown juga bikin kontradiksi yang sama dengan Okke ;-) Nggak percaya? Coba cek lagi halaman 22 - 23 (untuk yang bukunya terbitan Doubleday, NY). Atau gampangnya: akhir Chapter 5. Coba deh... gw ngerasa bagian itu nggak nyambung dengan kisah berikutnya, karena selanjutnya nggak dielaborasi (bahkan tidak disebut2 lagi) bahwa Nona Solomon dan Mal'akh saling berkomunikasi ;-)

Sorry, jadi ngomongin Dan Brown ;-)

Anyway... sebenarnya siiiiih, menurut gw harusnya editornya Okke menyadari kontradiksi2 ini. Walaupun minor, tapi jelas kok ;-) Mosok editornya harus gw kudeta sih ;-)?

Tapi, sebelum gw melengserkan si editor, gw kembali ingat pada Confusius' Block di atas: bahwa nggak ada kerjaan yang bisa bikin loe nggak ngerasa kerja sehari pun ;-) Even jika loe suka sama kerjaan itu ;-) Dan mungkin itulah mengapa si editor nggak nyadar ada kontradiksi ini, sementara gw sadar ;-) Gw membaca buku ini dengan passion seorang editor, karena gw bukan editor ;-) Sementara si Mbak Editor, walaupun mungkin senang dengan pekerjaannya, tentu sulit untuk membaca dengan detil ketika dia sudah terperangkap dalam sistem ;-)

Ah, Konfusius memang sedang nge-blank saat mengucapkan kalimat bijak itu ;-)

Friday, December 25, 2009

Xenophilius

Pertama2, sebelum dituduh Aramichi membesar2kan masalah, gw mau bilang dulu: gw nggak peduli sama Luna Maya! Swear! Tapi gw concern pada jurnalistik, dan pada logika, sehingga maaf2 aja kalau gw mendapat emotional push yang besar dari kasus ini ;-) Dan satu emotional push (sekaligus cerita yang lebih lengkap tentang kronologi kejadian) gw dapatkan dari perbincangan maya dengan Mas ini, seorang editor-in-chief.

*Ya, ya, gw emang suka mancing... mancing keributan ;-) Hobby banget ngomentarin komentar orang dan jadi berbalas komentar :-)*

Anyway, atas perkenan yang bersangkutan, gw boleh menuliskan perbincangan kami di blog ;-) Selama gw mencantumkan jawaban beliau secara verbatim ;-) Berikut persetujuannya (secara verbatim):

=====================================================
SILAHKAN MASUKKAN TANGGAPAN ANDA TERHADAP TULISAN SAYA PADA BLOG ANDA, TAPI ANDA PUN HARU SMEMASUKKAN JAWABAN TERBARU SAYA ATAS TANGGAPAN ANDA.JIKA TIDAK, SAYA KEBERATAN JIKA ANDA MEMASUKKANNNYA KE DALAM BLOGS ANDA, TANPA MEMASUKKAN KETIGA JAWABAN TERBARU SAYA.CLEAR?
===========================================

Bermula dari membaca tanggapan beliau di tulisan menariknya Mas Ludi Hasibuan. Komentar persisnya monggo dibaca aja di sana, tapi dari komentar panjang yang [setidaknya menurut gw] pro-infotainment anti-Luna ada 3 hal yang gw komentari: bahwa saat itu LM sebenarnya "membutuhkan" infotainment, bahwa kepala si anak terkena kamera adalah karena "kesalahan" Luna sendiri yang mengayun2kan si anak, dan anak terpentok kamera itu masalah sepele yang nggak perlu sampai tega mengeluarkan kalimat "sampah". Toh si anak tidak bangun dan menangis. Nggak fatal :)

Untuk hal yang pertama, jelas gw pertanyakan dasar berpikirnya :-) Apa buktinya Luna "butuh" infotainment saat itu ;-)? Untuk yang kedua dan ketiga, gw berikan contoh nyata berupa pengalaman gw sendiri.

Sebagai tanggapan untuk poin kedua, gw sengaja bikin percobaan kecil mengayun2kan Nara (20bulan, 11kg, 84cm). Ternyata, jarak aman bagi Nara adalah 30cm di kiri-kanan gw. Itu berarti, kalau anak yang digendong Luna terantuk kamera karena digoyang2, kamera itu sudah terlalu dekat. Less than 30cm, sehingga tidak dapat dikatakan bahwa itu salah si Luna sendiri. Coba kalau kameranya nggak terlalu dekat, Luna nari ballet sambil koprol juga nggak bakalan kepentok ;-)

Sedangkan untuk yang ketiga, gw kasih contoh bagaimana gw pernah ngamuk ke sekolahnya Ima yang lupa menutup pagar sekolah. Emang sih, Ima nggak sampai ketabrak mobil walaupun udah keluar pagar, tapi... kan nggak perlu nunggu anak gw kecelakaan FATAL baru gw boleh marah, ya ;-)? Same thing could happen to Luna, sehingga nggak bisa dibilang bahwa ini masalah sepele.

Naah... tanggapan beliau terhadap tanggapan gw adalah sebagai berikut. Gw tulis VERBATIM tanpa mengurangi satu kata pun ;-) Untuk membedakannya dari akar pertanyaan gw dan tanggapan gw selanjutnya, tanggapan beliau yang sudah gw mintakan ijin tayang itu gw tulis dalam format kutipan.

Jadi, format untuk ketiga tanya-jawab berikut adalah: kutipan komentar yang gw pertanyakan, disambung dengan penjelasan/jawaban beliau (dalam format kutipan), diakhiri dengan tanggapan mutakhir gw. Masing2 panjang lebar, jadi jangan memaksa diri membaca semua sekaligus ;)

***
"Menurut reporter yang bersangkutan, sepertinya LM tahu kalau ada camera yang menyorotnya dan momen memeluk anak menjadi "penting" baginya. Asumsi reporter itu bisa dipahami, karena sebelumnya santer kabar bahwa sebelum menikahi Ariel, LM perlu waktu untuk mendekati anak Ariel. Dan sejumlah infotainment pernah memberitakannya. Artinya, saat itu LM sebetulnya "membutuhkan" kehadiran infotainment (?)"

Mungkin anda tidak pernah menjadi wartawan di lapangan dan tidak memahami bahasa tubuh pesohor. Luna Maya jadi target pemberitaan sejak ia dekat dengan Ariel disaat Peterpan booming pertama kali. Teman-teman wartawan merasakan betul bagaimana sikapnya terhadap watawan disaat ia belum populer, kemudian disaat ia menjadi target pemberitaan, sampai akhirnya ia pada poisisi popularitas seperti saat terjadi insiden.

(Pada acara Debat di TVONE, Selasa, 23 Desember pkl 20:00 - 21:00 WIB) hal berikut ini sudah saya sampaikan. Jadi anda pun silahkan mengutipnya untuk blog anda)

Pada insiden tersebut, sesaat sebelum menggendong sang anak, Luna sedang berdiri santai sendiri. Disampingnya ibu Ariel yg sedang menggendong anak Ariel. Tiba-tiba Luna melirik ke rombongan wartawan yang menuju ke arahnya, dalam pandangan wartawan, Luna menyadari kehadiran wartawan. Kemudian ia buru-buru menggendong anak Ariel.

Logika rasional kita juga mafhum, dan tak perlu kecerdasan untuk memahami, bahwa sebetulnya dan Luna sadar imej.
Lewat bahasa gambar, ia ingin membuktikan pada camera wartawan, bawah gossip yang mengatakan bahwa ia tidak dekat dengan anak Ariel itu salah. Ia membuktikan dengan betapa anak Ariel tertidur pulas dalam gendongannya.

Jadi komentar anda sesungguhnya tidak dilandasi oleh proses panjang pemberitaan soal Luna Maya.

Luna "butuh" infotainment dalam pengertian; Luna ingin memanfaatkan camera infotainment dengan bahasa gambar; bahwa ia begitu akrab dengan anak Ariel.

Anda pasti tidak tahu, setelah kejadian kepala anak Ariel kepentok camera, sang wartawan langsung minta maaf pada Luna dengan berkata "sorry Lun, nggak sengaja,". Dan Luna menanggapi biasa saja.

Buktinya wawancara pada saat itu pun berlangsung. Jadi logika kita yang rasonal mengatakan tak ada masalah dong dengan peristiwa kepentok itu. Kalau bermasalah kenapa Luna menerima tawan wawancara? kenapa dia tidak sumpah serapah aja saat itu?

Jelas dia tidak melakukan itu karena dia berpikir infotainment akan mewawancarainya seputar hubungannya dengan anak Ariel.

Ternyata dia keliru; infotainment justru meminta komentar dia soal akting Ariel dalam film Sang Pemimpin
. Dan dia menjawabnya dengan lahap.

Anaknya nggak terbangun, apalagi menangis?
Dan dia pun melayani menjawab komentar seputar Ariel.
Dan yang lebih penting wartawan sudah minta maaf.

Lalu alasan rasional apa yang dia gunakan untuk menyampaikan kalimat sampah pada wartawan setelah semua berjalan biasa saja?

Dan satu hal yang anda harus catat, mungkin anda nggak mengikutinya, bahwa sepanjang tahun 2009, infotainment tak pernah memberitakan "miring" soal LUna Maya, kecuali berita soal bisnis barunya di Bandung, soal kontrak iklannya, soal film terbau, soal ia nyambi sebagia penyanyi.

Gossip panas dan miring soal Luna Maya itu terjadi tahun saat Peterpan masih populer dan terakhir di tahun 2008 saat Ariel dalam posisi sedang bercerai.

Lalu apa yang memicu dia marah pada wartawan infotainment?

Kalau kemarahan itu akibat pemberitaan infotainment yaa kita memakluminya...Ini hanya karena kepentok kepala sang anak, yg tidak berakibat fatal kok...Bahwa itu mengganggu yaaa... dan wartawan sudah introspeksi dengan meminta maaf... tapi dianggap sepi oleh Luna, terbukti ia ngomong di twitter dengan kalimat sampah.


Hehehe.... is it just me, atau ada yang aneh dengan kata2 yang gw bold sih? OK, berdasarkan kesaksian ini, Luna ujug2 menggendong si anak setelah lihat ada infotainment. Dengan menganggap kesaksian ini akurat, maka tindakan Luna ini dapat kita katakan sebagai FAKTA. Tetapi.... kalimat selanjutnya bahwa "Luna ingin memanfaatkan bahasa gambar untuk menunjukkan pada publik kedekatannya dengan anak Ariel" adalah ASUMSI :-) Bisa benar, bisa tidak.

Demikian juga dengan kata2 berikutnya bahwa Luna tidak segera marah2 saat itu juga setelah si anak kepentok, karena dia berharap diwawancarai seputar hubungannya dengan si anak. Bahwa dia baru marah2 setelah sepanjang wawancara ternyata nggak ditanya soal itu. Itu lagi2 adalah sebuah ASUMSI ;-) Bukan sebuah fakta ;-)

Gw sendiri melihat banyak kemungkinan kenapa Luna tiba2 menggendong si anak. Mungkin dia sendiri ingin menghindar dari wawancara, sehingga berharap akan lebih leluasa kabur kalau bawa anak kecil. Atau justru dia ingin melindungi si anak; sebagai pesohor yang sudah lebih mafhum gerak-gerik infotainment, dia bisa saja berpikir dapat lebih sigap menyelamatkan si anak if anything goes wrong daripada ibunda Ariel yang bukan pesohor itu ;-)

Kalaupun Luna memang benar ingin memanfaatkan bahasa gambar untuk menunjukkan kedekatannya dengan anak Ariel (siapa sih anak itu namanya? Gw gagap gosip nih... hehehe...), bukan lantas berarti dia marah2 belakangan karena nggak ditanya hubungannya dengan si anak. Buat apa? Kepentok atau enggak, bahasa gambar udah dapat, kan? Nggak ada alasan untuk marah2 juga. Jadi... logika rasional mana yang membuktikan bahwa marah2nya Luna adalah second thought, setelah sadar ternyata dia nggak ditanya2 soal anaknya Ariel ;-)?

Soal marah belakangan ini gw juga punya banyak kemungkinan. Satu kemungkinan: Luna sebenarnya sudah mau marah saat itu, tapi mengontrol dirinya sendiri. Baru, setelah dia sendirian, punya waktu untuk memikirkan hal itu, kemarahannya memuncak dan kemudian impulsif nulis di Twitter.

Dalam psikologi dasar, ada teori S-O-R. Suatu stimulus (=anak terpentok) tidak langsung menimbulkan reaksi (=marah2), tetapi harus diproses oleh organismenya (= manusia) dulu. Nah, seringkali proses ini terjadi belakangan, setelah stimulusnya lewat jauuuh ;-) Karena organismenya baru sempat menelaah. Bisa jadi Luna baru sadar betapa membahayakannya hal itu setelah lama berlalu :-)

So, talking about logika rasional, that's the one I can contribute ;-)

***

"5. Kata reporter itu, "ayunan" yang dibuat Luna Maya lah yang menyebabkan kepala sang anak ke pentok camera. Cerita tni bisa dibenarkan, karena setahu saya jarang sekali cameraman mengayunkan cameranya, apalagi saat mengambil gambar manusia yang tengah "statis".

Dalam suasana ramai, mungkin anda belum pernah merasakan jadi pesohor dan belum merasakan jadi wartawan, bagaimana disaat kerumunan dan keramaian sesuatu bisa saja terjadi tanpa kontrol.

Saya setuju bahwa wartawan harus introspeksi dengan mengkontrol cameranya. Setuju banget. Dan dalam sejarah peliputan tak ada camera yang bergerak dinamis dengan cepat. Soal jarak, kita tidak bisa memprediksi.

"Lepas kontrol" camera wartawan tak hanya terjadi pada peliputan infotainment terhadap pesohor.

Saat microphone wartawan membentur bibir Antasari Azhar, apakah anda melihatnya?

Apakah Antasari yang saat itu tengah dalam kondisi stress tertekan akibat posisinya sebagai tersangka pembunuh, kemudian marah dan mengumpat kasar pada cameraman wartawan politik sebuah tv swasta itu?

Sama sekali tidak.
Kenapa?
Karena Antasari pasti menyadari bahwa suasana ramai seperti saat itu semua orang bisa "lepas kontrol".
Dan saat yang bersamaan wartawan pun minta maaf. Clear.

Jadi kepentok dalam keramaian itu hal yang "lumrah", dalam pengertian bisa dimaklumi. Karena tak seorang pun dari wartawan mau melakukan itu pada anak Ariel dengan sengaja karena misalnya benci pada Luna. alangkah naifnya kalo logika itu yg digunakan.

Sekarang pertanyaannya, sebagai public figure yg jadi target berita, kenapa Luna Maya tidak berupaya "mengkontrol diri"nya pula?

Sudah tahu ada wartawan, ngapain buru2 gendong anak Ariel?
Okelah karena sudah terlanjur menggendong, kenapa tidak turunakan dulu sang anak saat wartawan datang mengerubuni? Bukankah dia artis lama yang udah mafhum pada kondisi dilapangan saat ada wartawan datang dengan camera?

Jelas infotainment bukan tembok dan saya yakin Luna pun bukan.Tapi alangkah bijaknya, jika dia bersikap arif seperti Antasari Azhar yg saat itu memang sedang dalam tekanan yang tinggi.

Tapi Luna? dia sedang santai dan sedang tidak bermasalah dengan infotainment?


Ada dua yang mau gw tanggapi di sini: tentang "kepentok = wajar" dan "kontrol diri"

Soal kepentok, gw agak setuju bahwa mungkin ada baiknya Luna justru tidak membawa2 anak dalam wawancara. Apa pun alasannya, itu membahayakan keselamatan si anak. Gw setuju bahasan beliau di poin selanjutnya tentang seleb yang tidak membawa2 anak dan menolak wawancara sebelum si anak dalam jarak aman

Tetapi... gw tetap tidak merasa bahwa kepentok adalah sesuatu yang lumrah dalam peliputan seperti ini. Gw masih nggak ngerti kenapa peliput tidak bisa menjaga jarak minimal setengah meter saja dari orang yang diwawancara. Gw yakin PH punya kamera dan mikrofon yang powerful, sehingga tidak perlu disodorkan sedekat mungkin. Dan... sebagai praktisi riset konsumen yang sering juga melakukan perekaman observasi, gw sudah membuktikan kok bahwa dari jarak 3m pun rekaman bagus. Padahal kamera gw pastinya nggak secanggih kamera PH, wong cuma handycam biasa :-)

Jadi, gw mempertanyakan frasa bahwa "kepentok adalah sesuatu yang lumrah". Apalagi saat merekam wawancara seseorang yang berdiri "statis". Bahwa seorang kameramen tidak dapat memegang kamera dengan steady sepanjang wawancara, bahwa ada kemungkinan dia terdorong2 sehingga kamera menabrak kiri kanan, itu sangat gw mengerti. Tetapi, jika suatu kamera sampai terkena seseorang - entah bibir Pak Antasari, entah anak yang digendong Luna - menurut gw pasti karena jaraknya tidak aman. Kalau jaraknya aman, kameramennya ngerekam sambil nari ballet juga nggak bakal kena orang... hehehe...

*tapi gw jadi iseng mikir: kalau kepentok adalah hal yang wajar, berarti bintangnya MTV pada biru2 semua ya ;-)? Kameranya goyang2 gitu... hehehe....*

Soal kontrol diri, hmmmm.... this one is trickier ;-) Setahu gw, yang namanya kontrol diri itu dibentuk oleh banyak hal. Ada hal2 herediter seperti personality type/trait/temperament (seorang ENFP seperti suami gw, misalnya, ambang toleransinya lebih besar daripada INTJ seperti gw), kematangan emosi, sistem nilai, serta locus of control. Selain itu faktor eksternal juga berperan. Termasuk tingkat pendidikan, pola asuh keluarga, dll.

Bahwa Pak Antasari bisa lebih mengontrol diri, itu tidak perlu dipertanyakan. Beliau terlihat memiliki kematangan dan kedewasaan yang lebih. Jika beliau tidak memiliki hal2 seperti ini, mosok beliau bisa mencapai karir setinggi itu? Mungkin memang kemampuan kontrol diri Luna belum setinggi beliau. Tapi kita nggak bisa mengatakan bahwa Luna nggak mencoba mengkontrol dirinya sendiri; hanya karena Pak Antasari tidak marah2 ketika bibirnya terkena kamera ;-)

Lagipula, walaupun kasusnya sama2 terpentok kamera, ada hal yang membedakannya: saat terjadi, Pak Antasari punya masalah yang lebih besar. Kalau seseorang terancam hukuman seberat itu, he has enough things in his mind to prevent him from making a fuss about the camera incident. Luna Maya, seperti dikatakan di atas, sedang santai. Bukan tidak mungkin masalah kepentok menjadi suatu "disaster of the day" buat dia ;-)

Sekali lagi, kalau ditinjau dari sisi psikologi, logika rasional menyatakan bahwa kita tidak dapat menyamaratakan semua kasus. Setiap perilaku, selalu dimunculkan oleh integrasi faktor2 yang berbeda. Oleh karena itu walaupun kasusnya sama, reaksi orang bisa beda. Sebaliknya, perilaku sama belum berarti disebabkan faktor yang sama.

***
"Mendengar cerita ini, jika kisahnya memang benar, coba bayangkan masa sih gara-gara persitiwa itu Luna Maya tega mengumpat media infotainment dengan kalimat sampah?"

Anda tak perlu mengajari ikan berenang. Dalam konteks ini tak perlu mengajari bagaimana orang tua harus menjaga dan melindungi anaknya pada saya. Sebaiknya itu anda ajarkan pada Luna Maya, bagaimana seharusnya menjadi selebriti dengan anak-anak disekitarnya.

Banyak contoh pesohor yg punya anak, menitipkan anaknya pada suster atau pada asisten sesaat sebelum wartawan mewawancarainya. Bahkan seorang nara sumber berhak menolak wawancara sampai anaknya aman dari kerumunan.

Anda mungkin tidak tahu dan mungkin tak pernah mengalami bagaimana repotnya menjadi pesohor. Saya cukup mengalami dan merasakannya saat menjadi PR Desy Ratnasari dan kini saat saya bekerja sebagai Pemimpin Redaksi KORAN SLANK. Desy dan Slank adalah super star didunianya. Tahukah anda, bahwa mereka tidak pernah melibatkan anak-anaknya di luar rumah saat bertemu dengan media massa.

Kecuali kalau konteks pertanyaannya seputar anak atau saat wartawan meminta melibatkan sang anak dalam wawancara.

Dalam kasus Luna, dia tak melakukan hak nya. Bahkan dari sudut pandang wartawan dia sengaja mengendong sang anak untuk membatah tudingan bahwa dia tidak dekat dengan anak Ariel. Terbukti dia menggendongnya. Itu kan logika yang ingin dibangunnya?

Siapa yang subyektif?
Saya apa anda??

Saya sampai hari ini masih wartawan dan masih memburu pesohor, tapi saya tidak pernah "melukai" mereka, dan saya memahami betul prespektif wartawan terhadap pesohor.

Anda mungkin belum bisa membedakan secara sikap dan attitude, bagaiman wartawan harian, tabloid, tv, infotainment dan radio dalam kesehariannya. Mereka memiliki karakternya masing2, baik sebagai pribadi maupun sebagai wartawan dari media yang berbeda secara teknis itu.

Jadi soal wartawan justru anda yang subyektif.

Saya sampai hari ini masih bekerja untuk Koran Slank. Setiap saat saya bertemu dengan band paling besar di Indonesia itu. Hari ini saya masih teman baik dengan Desy Ratnasari, dengan Maia Estianty, dengan Tere, Dhea Ananda, Helmalia Putri, Yuni Shara, Titi Kamal, Agnes Monica, Dian Sastro dan Bunga Citra Lestari.

Nama-nama tersebut pernha protes terhadap media massa, dan mereka pun pernah marah besar atas pemberitaan, tapi mereka tidak meluapkan amarahnya ke orang yang mereka tidak kenal, seperti apa yang dilakukan Luna Maya.

Mereka hanya bercerit apda teman dekat, wartawan yang dekat pada mereka, sebagai bahan diskusi untuk sharing...Dan tidak ada masalah sampai sejauh ini...

Desy Ratnasari pernah sangat marah pada wartawan, tapi selama itu pula tak seklaipun ia mengeluarkan kata-kata sampah saat menilai kinerja wartawan infotainment.

Kalau mereka [Catatan MN: ini memang kalimatnya tidak selesai]

Saya mafhum betul bagaimana prespektif mereka sebagai public figure terhadap media massa. Dan kerap saya mendiskusikan dengan mereka soal karir mereka dan peran media massa. Akhirnya selalu ada titik temu kok...Dan sampai detik ini, mereka masih populer dengan prestasi, bukan dengan gossip, seperti Luna Maya.

Dari sisi mana anda mengatakan saya subyektif?

Hehehheh anda yang sangat subyektif, karena tak hanya menilai tulisan saya, tapi juga ingin mengoreksi saya senagai orang tua dari anak-anak saya.

Jadi keliru besar jika anda ingin membela Luna Maya, sementara anta tidak dalam prespektif yang obyektif untuk memahami kedua profesi itu; pesohor dan wartawan.


Hehehe... siapa yang subyektif? Gw no comment lah ;-) Gw serahkan saja pada pembaca untuk menilai ;-) Yang jelas, tanggapan gw yang memicu tanggapan ini berbunyi (verbatim ya, tidak mengurangi satu kata pun):

Sebagai seorang ibu, saya pernah protes ketika sekolah anak saya alpa menutup pintu gerbangnya sehingga anak saya (saat itu TK kecil) BISA keluar ke warung pinggir jalan. Apakah saya harus menunggu hingga anak saya tertabrak mobil baru protes ;)? Anda sendiri punya anak. Apakah jika Anda jadi saya, apakah Anda akan menganggap hal ini sepele karena "toh anakku nggak ketabrak mobil" ;)? Kalau saya sih, dasar protes saya adalah KEALPAAN, regardless hasilnya :) Dari sudut pandang ini saya bisa mengerti kenapa LM mengumpat: karena infotainment ALPA menjaga jarak personal hingga membuka peluang "kecelakaan" yang (untungnya) tidak parah. Kenapa harus tidak tega, ketika infotainment sudah tega menimbulkan peluang kecelakaan ;)?

Hehehe... Anda mungkin memang bukan wartawan infotainment, dan bukan PR LM. Tapi Anda tampaknya agak subyektif menerima segala penjelasan si wartawan infotainment tanpa saringan :) Buktinya, dari data yang Anda berikan sendiri, saya bisa melihat kealpaan si wartawan yang luput Anda lihat :)


Seperti yang bisa dibaca sendiri oleh teman2, gw hanya menceritakan apa yang pernah gw lakukan, dan menanyakan sebuah pengandaian: jika Anda menjadi saya ;-) Gw sih nggak merasa bahwa pengandaian itu suatu bentuk koreksi ya ;-) Gimana menurut yang lain?

Dan bagian mana ya, yang menunjukkan gw subyektif terhadap wartawan ;-)? Bukankah gw secara jelas menyebutkan "wartawan infotainment" ;-)? Dalam kalimat selanjutnya sih memang gw sebut wartawan saja, tetapi itu sebuah penyingkatan yang wajar karena dalam satu paragraf dan sudah ada konteksnya: wartawan infotainment ;-) Rasanya sudah cukup jelas deh, bahwa gw tidak sekalipun ngomongin wartawan non-infotainment ;-) Tetapi kalau mau lebih jelas lagi, boleh deh lihat posting kemarin ;-) Gw bahkan jelas2 mengatakan bahwa wartawan adalah himpunan yang berbeda dari infotainment ;-)

Apakah tulisan gw segitu nggak jelasnya ya ;-)?

Tapi paling seru memang kata penutupnya:

Jadi keliru besar jika anda ingin membela Luna Maya, sementara anta tidak dalam prespektif yang obyektif untuk memahami kedua profesi itu; pesohor dan wartawan


First of all, I don't care about Luna ;-) Gw nggak tertarik membela dia ;-) Gw lebih tertarik menyelamatkan citra wartawan [secara keseluruhan] dari kesalahan2 yang dilakukan oleh BAGIAN dari himpunan wartawan itu sendiri ;-) Itu alasannya kenapa gw meluangkan waktu menulis tanggapan untuk seorang wartawan ;-)

Kedua, hmmm... masalah dalam perspektif obyektif untuk memahami kedua profesi itu.... hmmm... it's for you to judge ;-) Yang jelas gw sangat tertarik dengan jurnalisme, pernah ngambil ekstra-kurikuler jurnalisme di SMA, jadi wartawan amatir untuk majalah sekolah dan majalah kampus walaupun cuma sebentar ;-) Kalau jadi pesohor sih gw emang belum pernah. Tapi kan gw bergaul sama seleb blog dan asistennya pesohor ;-) Dan masih bergaul dengan dua anak ini... mereka masuknya pesohor bukan ya? Hahahaha...

***
Menutup tulisan kali ini, gw ingin menggarisbawahi bagian dari tanggapan beliau:


Anda mungkin belum bisa membedakan secara sikap dan attitude, bagaiman wartawan harian, tabloid, tv, infotainment dan radio dalam kesehariannya. Mereka memiliki karakternya masing2, baik sebagai pribadi maupun sebagai wartawan dari media yang berbeda secara teknis itu


Roger, Mas ;-) Mereka memang berbeda2. Oleh karena itu, saya sungguh berharap bahwa hal ini juga tercamkan dalam benak setiap wartawan. Dengan demikian, ketika ada kasus ribut2 seperti ini, wartawan yang lain (apalagi PWI) juga mau menilik kembali bagaimana sikap dan attitude si wartawan yang terlibat; dan seberapa besar kontribusi sikap/attitude wartawan yang terlibat tersebut dalam menimbulkan masalah ini.

Saya sungguh berharap bahwa setiap wartawan (dan persatuannya) tidak serta merta membenarkan dan mendukung wartawan yang terlibat. Baik secara langsung, ataupun dengan mengabaikan segala kemungkinan lain dinamika emosional yang dialami si pesohor. Apalagi jika pengabaian itu didasari hanya pada asumsi si wartawan yang terlibat saja ;-)

Thanks for the nice discussion, dan.... seperti sudah disepakati, Anda tidak akan memperkarakan tulisan ini secara hukum kan ;-)? Saya sudah mengikuti persyaratan yang Anda buat lho, dan bahkan sudah dry run mengenai tanggapan saya yang terakhir ;-) I keep your promise lho ;-)

NB: buat yang penasaran kenapa judul postingnya Xenophilius... well...ini diambil dari nama Xenophilius Lovegood, bapaknya Luna Lovejokegood yang editor-in-chief The Quibbler itu lho ;-) Biar ketahuan aja bahwa ini sequel-nya posting yang kemarin ;-)

Thursday, December 17, 2009

Luna Lovejoke

Para penggemar Harry Potter tentu masih ingat cerita di buku ke-5. Saat2 muram ketika Harry Potter dibikin sengsara hidupnya oleh Rita Skeeter dari Daily Prophet; reporter yang tulisannya - menurut kata Dumbledore - "enchantingly nasty" ;-)? Di buku ini juga Harry pertama kali bertemu dengan Luna Lovegood.

Nggak disangka, nggak dinyana, di realitas paralel (huh? Realitas?) ada plesetannya. Tapi bukan Harry yang bentrok sama Rita, melainkan Luna ;-).

Habis bentrok. Luna ngomel lewat tweet. Kira2 ngomelnya begini deh:


"Infotemnt derajatnya lebih HINA dr pd PELACUR, PEMBUNUH!!!may ur soul burn in hell,"


Naaah.... tentu saja yang didamprat marah. Cuma nggak tahu sebabnya apakah yang didamprat itu marah karena - seperti Rita Skeeter - merasa pekerjaannya "terhormat" (meskipun - sekali lagi kata Dumbledore lho, yaaa... - tulisannya enchantingly nasty ;-)), atau ... karena nggak bisa mencerna isi pesan dengan baik ;-) Kalau ditilik isi argumen2 berikutnya, kayaknya kemungkinan alasan kedua lebih besar. Bayangin, masak argumennya seperti ini:


"...Kalau lihat pernyataan Luna akan banyak orang yang tersakiti. Maaf, pelacur-pelacur bisa demo, lho,” katanya.


Uhhmmm.... call me stupid. Tapi gw nggak ngerti dasar logika pada argumen ini ;-) Kenapa ya, dia pikir pelacur bisa demo mendengar kata2 Luna? Bukannya si Luna, menurut rekonstruksi dari sejumlah berita online bunyinya seperti terkutip di atas?

So, kenapa pelacur bakal demo? Karena bersaing posisi "terhina" dengan infotainment, gitu? Hehehe.... Bukannya pelacur malah bakal senang, karena ada yang dianggap "lebih hina"? Berarti profesi mereka naik kelas kan ;-)?

Gw sih tahu bahwa ada yang namanya Ig Nobel, yaitu penghargaan [yang awalnya adalah] plesetan dari Nobel; dan diberikan pada penelitian2 yang paling improbable, aneh, ridiculous, atau apalah yang anti-tesis dari Nobel ;-) Tapi gw nggak tahu bahwa dalam masalah dikotomi hormat-hina juga ada persaingan sehingga para pelacur harus merasa tersaingi karena ada yang dikatai lebih hina darinya... hehehe...

Atau... pelacur2 akan demo karena dikatakan hina? Deuh... setahu gw, sejak jaman Nabi Musa menerima Ten Commandment, profesi ini sudah dianggap hina, bukan? Berprofesi menjual sesuatu yang jelas2 melanggar larangan Tuhan, apa bukan sesuatu yang hina?

Swear deh, gw rasanya jadi ingin memberi pencerahan berupa kursus logika... HAHAHAHA...

Tapi... rupanya realitas paralel dari Order of Phoenix ini emang sepanjang buku aslinya. Nggak puas mempermalukan diri dengan argumen "lucu" itu, besoknya, muncul headline yang lebih lucu lagi seperti ini

Luna Maya Lecehkan Profesi Wartawan


Asli, sekarang gw benar2 ingin bertanya: waktu kuliah [jurnalistik?] ada pelajaran logika, nggak sih? Pernah nggak belajar bahwa logika berikut ini adalah contoh logika yang salah:


Premis 1: Semua monyet makan pisang
Premis 2: Luna makan pisang
Kesimpulan: Luna adalah monyet


Kan jelas2 subyek pada tweet Luna adalah "infotainment"? Kenapa bisa jump to conclusion bahwa Luna melecehkan wartawan? Emangnya "infotainment" adalah bagian dari himpunan wartawan? Setahu gw sih infotainment itu adalah himpunan yang BERIRISAN dengan wartawan, bukan bagian ;-) Kenapa? Karena dalam infotainment itu ada wartawannya, tapi bukan hanya terdiri dari wartawan. Ada juga produser, kameramen, penulis skrip, dll.

Dengan kata lain... paling jauh, Luna Maya dapat dikatakan melecehkan PELAKU BISNIS INFOTAINMENT. Bukan wartawan ;-) Enak aja mengatasnamakan wartawan. Itu namanya libel. Fitnah ;-)

Himpunan wartawan sendiri adalah himpunan yang besar. Mencakup wartawan model2 wartawan infotainment yang ngejar2 gosip dan punya kecenderungan [thanks buat Radityadika yang mengingatkan kembali istilah yang pertama kali gw dengar di Cold Case ini] Schadenfreude, hingga wartawan2 senior berdedikasi tinggi seperti Bapak Rosihan Anwar, serta penerima2 Pulitzer Prize for Reporting. Menurut gw sih lebay ya, menggeneralisasikan makian terhadap [wartawan] infotainment sebagai pelecehan terhadap profesi wartawan ;-)?

Tadi, pas gw baca headline ini di perempatan, gw kira ini cuma judul heboh buat naikin oplah doang. Isinya nggak akan mengandung logical fallacy betulan ;-) Tetapi ternyata dugaan gw salah, karena isinya, seperti tersimak di sini mengatakan:

Gara-gara kesal kepada wartawan infotainment, artis Luna Maya memaki-maki wartawan dengan menyebut derajat wartawan lebih rendah dari pelacur, pembunuh.


Oh, well. Rupanya bukan cuma pelaku bisnis infotainment aja yang diragukan kemampuan logikanya... HAHAHAHA... Apa enaknya gw bikin kursus buat mereka aja ya ;-)?

***

Ngomong2 soal bikin kursus, selain pingin ngursusin orang2 di atas, gw sebenernya pingin kasih kursus buat Luna Maya juga sih ;-) Tapi kalau kursus buat Luna Maya sih bukan tentang logika, melainkan tentang, "How to say a harsh word... and get away with it" ;-)

Ya, menurut gw Luna Maya melakukan kesalahan fatal ;-) Bukan fatal dengan pemilihan kata2nya... hehehe... Kata2 Luna Maya itu sangat tidak nice, tetapi... sebagai sesama temprawati, gw sangat mengerti kenapa kata2 tidak nice itu keluar. Bahkan sesungguhnya para pelaku infotainment itu harus bersyukur bahwa yang keluar dari Luna "cuma" segitu doang... hehehe... Gw jamin, kalau gw jadi seleb, pasti kata2 yang keluar dari mulut gw akan "lebih colorful" ;-) Mejikuhibiniu ;-)

Yang salah fatal, menurut gw, adalah menghapus bukti kata2nya di Twitter ;-) Dengan ditutupnya rekening Jeng Luna, maka itu sekarang menjadi their words against her words. Dan dengan kecenderungan kekuranglogisan argumen yang berbanding lurus dengan esprit de corps membabi buta (seperti terlihat dari argumen2 yang gw kutip di atas PLUS re-tweet dari Ndoro Kakung bahwa tidak ada laporan jurnalistik yang mengupas tuntas penyebabnya), the future for her is not so nice.

Mungkin akan berbeda keadaannya jika Jeng Luna tidak menghapus buktinya. Ia akan bisa membuktikan bahwa dia mengatakan "infotainment", bukan "wartawan", dan bahwa kesimpulan telah terjadi "pelecehan terhadap wartawan" adalah kesimpulan yang lebay. Nggak usah ngebahas sebabnya juga nggak apa2 deh... udah kelihatan kok lebay-nya ;-)

Next time, Luna, don't compromise the evidence. Let them start a joke, which starts the whole world laughing. Only then, we'll see that the joke is on them ;-)

***
NB: ohya, buat yang terganggu dengan kata2 "enchantingly nasty", sekali lagi, itu kata Albus Dumbledore lho ya... bukan kata gw... HAHAHAHA... Kalau mau menuntut hukuman 6 thn penjara, monggo langsung ke Hogwarts aja :p



Suntingan 22 Desember:
Ternyata Twitter yang dikasih oleh Omme QQ itu cuma kloningan. Thanks Pops, JJ :) Sebagai gantinya, gw kasih tautan seru aja ya, dari JJ tentang seruan PWI Pusat bahwa kalo gak tersinggung sebaiknya berhenti jadi wartawan. Untuk seruan ini, ada background sound yang cocok untuk didengarkan:




Plis deh, jangan lebaaaaay.... Sibuk ngurusin rasa tersinggungnya, sampai2 artikelnya berantakan :) Satu paragraf bilang kalau wartawan nggak tersinggung, berhenti aja jadi wartawan. Eeeh... paragraf berikutnya bilang diragukan kepekaannya kalau tersinggung :) Jadi maksudnya gimana sih? Saking tersinggungnya, jadi bingung mau nulis apa, gitu? Itulah kalau jadi wartawan tapi "pendek sumbu" :) Jadi nggak bisa nulis dengan pikiran jernih toh ;-)?

*tapi untung mereka "cuma" jadi wartawan. Jadi "cuma" salah nulis doang. Coba kalau jadi tentara dengan sumbu sependek ini. Kan berabe kalau salah nembak orang ;-)*

Tuesday, November 24, 2009

Taman-taman Air [Mata]

Beberapa minggu lalu, pada sebuah kios buku kecil tak berpapan nama di sudut Pasar Festival, gw menemukan sebuah novel yang seakan melambai minta dibeli. Novelnya cukup tebal, seharga hampir Rp 80.000

Mulanya gw merasa sayang mengeluarkan uang sebesar itu untuk membeli buku terjemahan. Seperti biasa, gw khawatir terjemahannya nggak enak dibaca dan akhirnya buku itu menjadi mubazir. Maka gw pun pulang tanpa membawa serta buku itu; berencana untuk mencarinya saja di toko buku online.

Tetapi ternyata tidak satu pun toko buku online yang menjual buku itu. Baik toko buku online kecil maupun yang bernama besar seperti Gramedia Online. Bahkan, gw cari di Lentera Hati yang menerbitkannya pun tidak ketemu. Akhirnya gw pun nekad kembali ke Pasar Festival untuk membelinya. Suatu tindakan yang sama sekali tidak gw sesali, karena Gardens of Water memang sangat layak untuk dibeli.

Awal cerita, gw sebenarnya khawatir bahwa buku ini akan menjadi another Middle Eastern story of oppressed women. Bagaimana enggak, ceritanya dibuka dengan kisah sungsang sumbel (=susah payah) seorang ayah yang miskin untuk membuatkan pesta khitanan meriah bagi putranya. Seorang ayah miskin dan cacat yang membelikan baju pasha (mungkin kalau di sini baju koko ya?) seharga seminggu gajinya, dan membawa si "pengantin sunat" keliling Istanbul karena itu adalah keinginan si anak. Meskipun si ayah hanya bisa membawanya berjalan kaki saja, dan membelikannya baclava sebagai jajanannya. Dua buah baclava, bukan hanya satu, untuk menandai bahwa hari itu istimewa.

Belum lagi, begitu setting beralih ke rumah, cerita bergulir pada keirian kakak si "pengantin sunat". Irem, kakak perempuan Ismail yang berusia 15 tahun, sungguh merasa diperlakukan tidak adil: pada hari Ismail memasuki akil balik, ia menjadi raja sehari. Sebaliknya, pada hari Irem menjadi wanita dewasa, ia menjelma menjadi sesuatu yang [dianggap] membahayakan dan harus senantiasa diawasi:

Untuk Irem tidak pernah diadakan pesta meriah, tidak ada uang atau pakaian mewah. Dia bangun di suatu pagi, dua tahun lalu dengan darah di kakinya dan noda di seprai. Ketika ia memberitahu ibunya tentang hal itu, tanpa suara ibunya melucuti seprai itu...

Irem tidur sebagai anak-anak dan bangun menjadi seorang wanita, dan dia harus tahan berdiri di kamar mandi yang terkunci - cahaya putih menyilaukan menyinarinya, ada bantalan tak nyaman di antara kakinya - dan mendengarkan celoteh ibunya tentang aturan-aturan baru dalam suara bisik-bisik yang membuatnya malu.

(hal. 49)


Gw juga sempat menduga bahwa kisah ini akan menjadi kisah menye2 antar sepasang kekasih, ketika Irem yang kecewa itu mulai main api dengan Dylan Taylor - tetangga Amerikanya. Sempat mendengus kesal membaca adegan Dylan dan Irem berbagi rokok secara sembunyi2 di balkon. WTF? Apa2an sih? Cerita tentang "cinta dalam sebatang rokok"? HAHAHAHA..

Tapi kekhawatiran gw tidak berlanjut lama. Semua itu cuma latar belakang cerita aja ;-) Cerita sesungguhnya baru dimulai ketika gempa melanda Golcuk usai khitanan Ismail. Gempa yang meluluhlantakkan segalanya, membuat segalanya berubah. Gempa yang membuat masing2 tokoh melihat ke dalam dirinya dan mengkaji ulang apa yang paling penting bagi mereka.

Akibat gempa tersebut, hidup mereka tak sama lagi. Sinan harus menerima kenyataan bahwa ia "berhutang budi" pada "musuh besarnya"; orang2 Amerika. Figur yang selama ini diasosiasikan sebagai pembunuh ayahnya, sang pendukung gerilyawan Kurdi, sekarang adalah figur penyelamat keturunannya. Ya, Ismail sang putra tersayang mungkin sudah tewas di bawah reruntuhan jika Sarah hanim, ibu Dylan, tidak pasang badan melindunginya. Ibu Dylan seolah menjadi "tumbal" bagi keselamatan Ismail.

Sinan juga harus menghadapi the demon inside him; ketika kebanggaannya sebagai laki2 dalam kelompok patriarki jatuh hingga titik nadir terbawah. Gempa menghancurkan mata pencahariannya, sehingga ia - sebagai kepala keluarga - tak lagi dapat menafkahi anak istrinya. Dan dalam keadaan seperti itu, ia harus menerima kenyataan yang lebih parah lagi: pemerintah tak sanggup memberi makan keluarganya. Wakil2 rakyat yang dipilihnya, yang membuat begitu banyak janji saat kampanye, tidak satu pun menunjukkan batang hidungnya. Mereka hanya datang untuk mendapatkan publisitas ketika menguburkan korban2 gempa:

Walikota menghadiri acara penguburan, berdiri di pinggir sebuah lubang galian yang besar, berusaha menghibur keluarga korban yang berdoa di depan kantong-kantong mayat kain goni dan dengan lantang mengkritik pemerintah.

"Maaf, " kata sang walikota, menekan saputangan menutupi hidungnya." Maaf, tapi kita harus mengubur mereka sekarang." Dia meneteskan kolonye aroma lemon ke saputangan yang sudah basah dan menekannya kembali ke hidungnya"

(hal. 129 - 130)


Sounds familiar ya ;-)? Dan bagaimana mereka membiarkan survival of the fittest, terdengar akrab di telinga juga:

Saat kawanan itu melewati tenda Sinan, dia mencium bau menyengat wol yang lapuk, dan perutnya mengerang kelaparan. Sinang memandang mata kawanan hewan itu - mata yang besar, hitam, dan bodoh - tetapi hanya bisa memikirkan daging yang melekat pada tulang-tulang mereka.

"Mereka tidak gemuk," si penggembala berkata kepada para lelaki. "Tapi kalian boleh mengambilnya."

"Terima kasih, Saudaraku," kata Sinan.

Dia merasa malu memanfaatkan tawaran lelaki itu, tapi dia terdesak. Sinan mencoba mencari hewan terlemah - tawaran dermawan harus dibalas dengan kedermawanan pula. Dekat dengan pinggir rumah penanaman tomat di mana rumput-rumput meninggi, Sinan menemukan seekor domba betina tua, dengan gerakan lamban dan lemah, seolah-olah tulang-tulang sendinya kaku karena radang tulang.

Sinan mengelurkan pisaunya dan menarik dagu domba itu.

(hal. 110 - 112)


Kejatuhan Sinan pada titik nadir muncul ketika sukarelawan Amerika datang membawa banyak makanan, tenda, serta cukup obat. The last straw untuk cobaan yang sudah dihadapinya; antara dia harus menerima uluran tangan "musuh" demi keluarganya, atau membiarkan keluarga yang dicintainya mati demi kehormatan?

Ketika akhirnya Sinan menyerah, dan masuk ke tenda2 para sukarelawan Amerika itu, gw kira hal itu adalah anti-klimaksnya. Gw kira selanjutnya kisah akan berpusat menjadi betapa hebatnya Amerika dan betapa terbelakangnya orang2 ini. Atau akan berubah Romeo-Juliet picisan. Tetapi ternyata sekali lagi gw salah ;-)

Kisah cinta antara Irem dan Dylan memang mungkin seolah2 mendominasi cerita ini. Bagaimana kedua anak yang merasa kehilangan keluarga ini - Irem karena memang selalu menjadi nomor dua setelah Ismail, sementara Dylan kehilangan perhatian ayahnya yang terobsesi dengan kerja sukarelanya - menemukan perhatian dalam diri masing2. Sama2 merasa menemukan tempat curhat, sama2 merasa dimengerti.

Hubungan mereka sebenarnya cukup santun, jika kita pakai standar kota besar. Bahkan agak konservatif, jika kita pakai ukuran Dylan. Tapi toh, kampung itu terlalu kecil untuk "dosa" sebesar itu. Dan... tak lama kemudian, Irem pun ditimpuki batu hingga pingsan oleh ibu2 tetangga. Keluarganya menjadi omongan di sana-sini.

Bagian cerita ini menjadi menarik. Adalah hal yang menarik ketika Nilufer - ibu Irem - menjadi bersikap sangat keras pada putri yang dianggap mempermalukan keluarga ini. Betulkah Nilufer menjadi keras karena nama baiknya dipertaruhkan, atau.... karena jauh di dasar hatinya ia iri akan keberanian Irem untuk melepaskan diri dari tuntutan tradisi konservatif? Suatu bentuk displacement, atas suatu resiko yang ia dambakan namun tidak berani ambil? Seperti tergambar dalam bagian berikut:

"Mereka tidak peduli. Kau mengolok-olok semua wanita ini. Kau mengolok-olokku!"

"Bukan begitu," kata Irem, "Aku hanya ingin bahagia"

"Bahagia, bahagia!" Nilufer mencengkeram lengan Irem. "Kau pikir kau tidak bisa bahagia sepertiku? Kau pikir karena aku memakai kerudung dan mengurus rumah aku tidak bahagia."

(hal 364)


Dan begitulah. Seperti kenyataan di dunia ini, suatu tindakan represi seperti ini justru membuat si korban melakukan hal yang sebaliknya. Seperti Irem dan Dylan yang kemudian memutuskan untuk lari. Pergi ke Istanbul melakukan apa yang mereka inginkan.

Dan seperti segala kenyataan di dunia ini, mendapatkan apa yang diinginkan adalah kebahagiaan sesaat. Yang segera akan disesali begitu euforia berakhir. Seperti Dylan dan Irem. Dylan dan Irem, yang akhirnya menemukan bahwa sometimes there is no love emerges from a love-making. Sometimes the fruit of love-making is hatred.

Kemeja Dylan terbuka dan dadanya tampak pucat, nyaris seperti kulit transparan salamander bersanding dengan parut-parut jelek tatonya. Rambut Dylan tersangkut di mulutnya, celana yang membungkus pinggul kurusnya terbalik, dan Irem tidak dapat menemukan keindahan apa pun dalam diri Dylan kini.

(hal. 518)


Setelah malam itu, Irem tidak sanggup lagi bertemu Dylan. Dan ketika orang tuanya tak dapat menerima kenyataan itu, ia pun melemparkan diri ke Selat Bosphorus.

Kisah selesai? Belum ;-)

Dan kisah ini ditutup dengan suatu akhir yang tidak dipaksakan menjadi happy. It's just a realistic ending, not a happy one :-)

Jika di atas langit masih ada langit, maka dalam kisah ini di bawah titik nadir masih ada titik2 lagi. Sinan sudah hancur dengan kehilangan segala di tangan musuh, bahkan hingga anak perempuannya pun harus direlakannya. Tapi hidup masih menyiksakan sebuah cobaan untuknya: dia mungkin akan kehilangan anak lelakinya. Bukan kehilangan dalam kehidupan fana, melainkan harus merelakan anaknya kehilangan kehidupan setelah mati.

"Mereka mencoba mengkristenkan orang-orang?"

"Sinan," kata Marcus, suaranya bertambah jelas dan letih secara bersamaan, "Dengar, tanpa orang-orang ini, kau masih akan duduk di atas padang rumput di dekat jalan tol menunggu pemerintah memikirkan cara yang terbaik," Marcus menunjuk ke arah jalan raya dengan telunjuknya, "Anak-anakmu akan kelaparan. Kalau beberapa di antara mereka ingin bicara tentang Yesus, bukankah itu wajar-wajar saja?"

"Kalau begitu, kau tidak benar-benar ingin membantu," kata Sinan. "kau di sini mengambil keuntungan dari kelemahan kami."

"Aku menemukan orang-orang yang bisa membantu, hanya itu yang kulakukan. Beberapa dari mereka adalah pembaptis dan beberapa dari mereka tidak memiliki kepercayaan yang sama denganku. Mereka sudah siap dengan suplai makanan dan sukarelawan," Marcus menengadah memandang puncak tenda. "Tuhan! Ayolah Sinan, selamatkan dulu tubuhmu, baru khawatirkan jiwamu belakangan."

(hal. 434 - 435)


*Hehehe... sampai di sini gw menemukan sesuatu yang ironis: gw baru bisa memahami mengapa orang2 menolak Miyabi mengunjungi korban gempa Padang. Ya, ya, memang belum pasti bahwa ada udang di balik batu. Tapi... buat beberapa orang, mati lebih baik daripada "menjual jiwa", bukan?*

Bagian akhir cerita ini benar2 penuh dengan metafora yang mengaduk hati. Dimulai ketika Ismail mulai senang menggambar anak2 bersayap, kemudian menggambar manusia yang disebutnya Nabi Isa. Suatu proses sinkretisme sedang terjadi, dan digambarkan melalui metafora sederhana yang menyentuh.

Sama menyentuhnya dengan adegan2 terakhir, dimana Sinan membawa Ismail shalat di mesjid. Menyuruhnya mengikuti bacaan shalat yang dikatakannya sendiri sebagai "terlalu keras"... seolah sebuah cara untuk menenangkan hati. Hingga akhirnya pun Sinan mengambil satu2nya keputusan tersisa bagi mereka yang terjepit: lari. Pulang ke kampung halaman mereka yang miskin, demi apa yang masih tersisa.

Sinan membangunkan Ismail dan mendudukkannya di pangkuannya. Mereka berdua menempelkan hidung mereka pada kaca jendela kereta.

"Lihat itu, Ismail," kata Sinan, "kau tidak ingat tanah ini, tapi ini adalah milik kita. Inilah surga dunia"

Yang Sinan miliki kini hanya anak dan istrinya, dan jika ada orang yang berusaha merampas mereka dari tangannya - siapa pun itu - Sinan akan membunuhnya. Dia merasakan kekuatan tumbuh dalam dirinya, seperti sebuah tinju yang mencekik sisa-sisa kelemahannya. Dia tak akan membiarkan apa pun mengancam kekuatannya lagi.

(hal. 630 - 631)


Ketika pertama kali membaca sinopsisnya, gw ragu bahwa kisah ini akan benar2 menjadi "... sebuah cerita yang mengaduk-aduk emosi". Kayaknya lebay deh ya... hehehe... Tapi di akhir cerita, gw menyadari kata2 itu benar.

Gardens of Water adalah kisah tentang berbagai sifat manusia. Tentang berbagai reaksi manusia. Ada homo homini lupus di sana, namun juga ada sebuah janji bahwa tak ada cobaan yang tidak dapat ditanggung manusia. Selama manusia itu percaya dan berusaha.

Mungkin itu sebabnya mengapa cerita ini dijuduli Gardens of Water, bukan Gardens of Tears. Meskipun ceritanya mengaduk2 emosi, namun menyimpan kekuatan. Seperti air, bukan air mata.

***
Credit Title: Gambar dipinjam dari sini, karena malas motret dan mengunggah sendiri ;-)

Saturday, November 21, 2009

I Vote for Nasruddin Hoja

Ibu Minah tidak jadi dipenjara. Kasusnya dihentikan, hakimnya menangis. Alhamdulillah :-) Really appreciated it, Pak Hakim ;-)

Untuk saat ini gw merasa cukup lega bahwa kasus berakhir dengan baik. Tapi.... mungkin karena gw terlalu banyak nonton CSI, dan baca buku2nya Michael Connelly, kegeraman gw tetap bertahan. Geram pada sistem yang menurut gw melakukan suatu kekonyolan, kalau tidak dapat dikatakan kebodohan atau kesengajaan. It's one thing to let those with money become above the law... but.... it's another thing to help those with money to crush the poor!

Gw menuangkan uneg2 itu di status Facebook. Alasannya sederhana: FB is more accessible. Statusnya bisa dimutakhirkan langsung dari HP akyu... ;-) Lagian, FB kayaknya masih jauh dari pemblokiran, tidak seperti blogspot yang diblokir ini.

Dan.... sesuai fungsinya sebagai jejaring sosial, status gw itu segera mendapatkan beragam komentar. Ada 2 orang yang memberikan tanggapan menarik. Eye opener comments, thanks to both of you ;-) Komentarnya kurang lebih begini:

Menurut saya gak ada yang salah di Kepolisian, hakim, atau jaksa. Sudah tugas mereka untuk memproses semua pelanggaran hukum, sekecil apapun itu. Yang kurang ajar adalah perusahaan itu yang tega melanjutkan kerugian 3 biji kakao ke proses hukum. Benar2 tidak mempunyai hati nurani, dia buta dan gak sadar bahwa bisnisnya hanya bisa hidup dan eksis di tengah2 orang2 seperti bu Minah dan tidak bisa membedakan mana yang layak dilanjutkan ke proses hukum dan mana yang tidak. Polisi di daerah yang menerima laporan dari perusahaan besar mana berani menolak untuk tidak memprosesnya. Kalau mau kasus ini diperpanjang perusahaan itu perlu diselidiki jangan2 penyelenggaraan hukum disana sudah mereka beli..

(dari Kak Aladin)

Abu2 sih ini, kalau waktu bu minah diterima kerja sudah diberitahu tidak boleh memetik buahnya, jelas itu pelanggaran. mungkin bu minah terlalu lugu? kalau ini kasusnya, memang si pengadu yg kurang bijak.Kalau jaksanya, jgn2 dia sudah cukup bijak dengan menuntut seringan2nya?

(dari Hans)



Hmmm... setuju sih sama mereka berdua bahwa - ditinjau dari segi kemanusiaan - sebenarnya yang paling layak dirajam hidup2 adalah mereka yang memperkarakan Bu Minah. To some extent, polisi dan jaksa "hanya melakukan tugasnya". Cumaaaa.... mungkin karena gw selalu mengerahkan daya upaya gw dalam bekerja, gw sulit sekali menerima alasan "hanya melakukan tugasnya" :-) Mereka toh bukan robot2 bodoh yang nggak punya pilihan, yang bisanya cuma memproses syntax dari si operator saja.

Atau... jangan2 mereka memang robot ;-)?

Dari segi bisnis, gw malah nggak terlalu menyalahkan perusahaan yang memperkarakan Ibu Minah. What can you expect? They are looking for profit, even when they have to crush poor people for that. Sah2 aja bagi pebisnis kalau isi kepalanya cuma untung rugi toh? Tapi.... jaksa dan polisi itu kan bukan businessman. Mereka aparat negara, yang tugasnya melindungi SELURUH RAKYAT Indonesia. Mereka bukan satpam gajian perusahaan, yang mesti menuruti apa maunya perusahaan.

For that reason, I cannot understand why they even made a case out of this. OK, memang benar komentar lanjutan Kak Aladin:

Maya, logika kita memang mengatakan itu bukan pencurian, karena belum diambil, tapi KUHP kita gak seperti itu, jangankan memetik, memasuki tanah pribadi orang lain tanpa ijin saja sudah masuk kategori pidana.

(dari Kak Aladin)


Tapi... KUHP yang sama, Pasal 362 yang digunakan menjerat Bu Minah, juga mengatakan dengan jelas bahwa:

Barang siapa mengambil barang sesuatu, yang seluruhnya atau sebagian adalah milik orang lain, dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum, diancam dengan pencurian, dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana denda paling banyak sembilan ratus rupiah


Yaaah.... mungkin gw emang kebanyakan nonton CSI dan baca novelnya Michael Connelly ya... hehehe.... Karena dengan kata2 seperti ini, menurut gw sih banyak pilihan bagi polisi dan jaksa untuk tidak memperkarakan ini ke pengadilan.

For once, mereka bisa mempertanyakan apakah Bu Minah memang berniat melanggar hukum. Dilihat dari berita ini, ada kutipan yang menarik:

Minah pun mengatakan jika buah kakao yang dipetiknya akan dijadikan bibit. Setelah mendengar penjelasan Minah, Tarno mengatakan, kakao di kebun PT RSA 4 dilarang dipetik oleh masyarakat. Dia juga menunjukkan papan peringatan yang terpasang pada jalan masuk perkebunan. Dalam papan tersebut tertulis petikan Pasal 21 dan Pasal 47 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2004 Tentang Perkebunan, yang menyatakan bahwa setiap orang tidak boleh merusak kebun maupun menggunakan lahan kebun hingga mengganggu produksi usaha perkebunan. Minah yang buta huruf itupun segera meminta maaf kepada Tarno sembari menyerahkan tiga butir buah kakao tersebut untuk dibawa mandor itu.



Heeey.... kita sedang membicarakan Minah yang buta huruf, bukan? Minah yang memetik kakao untuk dijadikan bibit dengan terang2an tanpa sembunyi2? Minah yang baru diberi tahu bahwa perbuatan itu dilarang setelah terlanjur melakukannya? Lantas... apakah Pasal 362 itu berlaku surut, sehingga kalau orang ditegur setelah melakukan suatu kesalahan (yang tidak dia ketahui sebagai kesalahan) bisa dianggap melakukan dengan sengaja?

Setahu gw, suatu perbuatan tidak sengaja yang dapat dikenai pasal hukum adalah sesuatu yang membahayakan nyawa orang lain. Gw sih belum pernah dengar bahwa mencuri dapat dihukum karena ketidaktahuan... hehehe... Kecuali kalau bisa dibuktikan bahwa Bu Minah sudah tahu dan sengaja melakukannya.

Lagian, yang ditunjukkan si mandor itu kan mengatakan "Pasal 21 dan Pasal 47 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2004 Tentang Perkebunan, yang menyatakan bahwa setiap orang tidak boleh merusak kebun maupun menggunakan lahan kebun hingga mengganggu produksi usaha perkebunan". Coba deh, bagaimana memetik 3 buah kakao dapat dikategorikan merusak kebun hingga mengganggu produksi ;-)?

Adalah hak si pemilik perkebunan untuk memperkarakan hal ini, meskipun menurut gw tindakan ini adalah kekonyolan (kalau tidak dapat dikatakan sebagai kebodohan). Tapi.... polisi dan jaksa menurut gw punya pilihan untuk tidak memperkarakan. Mereka kan memang HARUS menyidik Bu Minah terlebih dahulu untuk mendapatkan fakta dan pengakuan. Naaah... dalam proses ini, bukankah terungkap bahwa Bu Minah ini orang sederhana yang bahkan tidak bisa baca tulis? Orang sederhana yang bahkan tidak tahu perbuatannya salah? Should we punish her for being uneducated?

Polisi dan jaksa punya pilihan untuk talk the company's language untuk melindungi Bu Minah.
Mereka bisa mulai dengan mengatakan bahwa kalaupun diperkarakan paling2 si perusahaan cuma dapat ganti rugi Rp 900. Bayangkan sebuah perusahaan harus menghadapi kasus hukum "cuma" untuk dapat Rp 900, gw yakin tidak ada satu pun pebisnis yang menganggap itu worth it.

Mereka bisa menyitir cerita tentang Nasruddin Hoja dan Harga Asap. Cerita tentang bagaimana seorang pemilik warung menuntut bayaran dari seorang miskin yang mencium aroma masakannya. Nasruddin Hoja menyelesaikannya dengan bijak; dengan menggerincingkan dirham di telinga si pemilik warung. That's the price for aroma. Ini kutipan yang gw suka banget dari cerita itu:

"Ini keputusan yang adil. Kamu kan hanya menjual asap sate. Maka bayarannya adalah gema suara dirham," jawab Nasruddin.


Itu baru kalau bicara dengan metafora sederhana. Belum bicara bahasa hukum ;-)

Hans mengajukan komentar penutup yang cukup menarik:


Aparat hukum memang idealnya tidak bijak mbak... Ingat patung buta megang timbangan?


Hehehe... unfortunately I don't agree with you, Hans ;-) Justru menurut gw patung Dewi Keadilan yang Menutup Mata itu menunjukkan kebijaksanaan ;-) Bahwa dia harus memperhitungkan semua fakta sebelum mengayunkan pedangnya. Memperhitungkan segala kemungkinan, memperhitungkan segala faktor. Dalam penutup matanya, dia tidak dapat menerima alasan bahwa seseorang "hanya melakukan tugasnya", karena di setiap tugas ada hati nurani yang harus berperan.

Well... dalam kasus ini, gw juga tidak mengatakan bahwa Bu Minah tidak boleh dihukum ;-) Apalagi mengait2kannya dengan kasus lain bahwa pencurian yang lebih banyak pun bisa lolos ;-) She has made a mistake, and she must face the consequences. Gw hanya melihat memperkarakan dia ke pengadilan (meskipun akhirnya tidak jadi dihukum) adalah not proportional ;-)

Sedikit menyitir tulisan gw sendiri tentang Dewi Keadilan:

Makanya, kalau gw sendiri sih nggak mau meributkan masalah keadilan. Karena keadilan itu selalu punya dua sisi. Adil menurut si A belum tentu adil menurut si B. Keadilan yang sebenarnya, gw nggak tahu. Gw rasa keadilan yang sebenarnya baru bisa didapat jika kita menutup mata seperti sang dewi, kemudian membiarkan timbangan dan pedang itu bergerak sendiri. Berharap bahwa hati kita cukup peka untuk menimbang sedekat2nya dengan keadilan yang hakiki, sehingga keputusan mengayunkan pedang adalah keputusan yang sebaik2nya.


Mungkin gw salah... tapi... menurut gw proses menutup mata seperti sang dewi ada di setiap tahapan. Bukan hanya di meja hijau, melainkan juga pada saat si polisi diminta menyidik kasus ini, atau si jaksa diminta memperkarakan kasus ini. And for that reason, it's really hard for me to accept that the police and the prosecutor couldn't be blamed.

Ah, sayang ya.... polisi dan jaksa itu bukan Nasruddin Hoja ;-) Coba kalau polisi atau jaksanya si Nasruddin... hehehe.... dari awal mungkin penyelesaiannya beda. Semua bisa jadi Nasruddin Hoja kok ;-)

Dan ngomong2 soal Nasruddin Hoja, gw dapat undangan bergabung dukung seorang tokoh hukum untuk "reformasi [hukum] total" di FB. Well... undangan itu gw ignore, maaf ya... hehehe... Saat ini gw cuma tertarik untuk mendukung Nasruddin Hoja ... HAHAHAHA...

Saturday, November 14, 2009

Jumat Kliwon the 13th, [not yet] 2012

Apa yang terlintas di benak Anda bila mendengar kata "Friday the Thirteenth"? Kalau mendengar kata "Jumat Kliwon"? Horor? Ya, benar sekali ;-) Apalagi jika kebetulan Friday the Thirteenth jatuh pada pasaran Kliwon. Horor pangkat dua ;-) Tambahkan sekalian after office hour di Jakarta, seputaran Sudirman - Thamrin, dan selepas hujan badai yang mengguyur Jakarta sejak sekitar pukul 15:30. Dijamin, ini adalah kombinasi yang "enggak banget" untuk pergi kemana2 :-)

Tapi.... seperti di film2 horor lainnya, entah mengapa justru kami - Notodisurjo 3G - justru ndilalah memilih hari tersebut untuk nonton bareng. Nontonnya juga nggak tanggung2: 2012, jam 19:15, di Plaza Senayan. Jadilah... series of unfortunate events melanda kami2 semua ;-)

Dari kantor gw yang cuma di Kuningan itu, gw butuh 2 jam untuk mencapai Plaza Senayan. Padahal gw lewat Sudirman, karena memenuhi kuota 3-in-1 bareng nyokap gw dan Ima. Macetnya aje gileee.... dan the credit goes partly to penjahat pejabat yang menyebabkan gw tertahan di jalur lambat depan Kampus Atmajaya selama 35 menit tanpa bergerak sama sekali. Gw berangkat dari kantor jam 16:45, dengan harapan bisa makan malam dulu sebelum nonton. Ternyata.... boro2 makan. Jam 18:50 gw baru masuk PS!

Tapi ternyata penderitaan gw bukan yang terparah... hehehe... Ipar gw, hingga pintu teater telah dibuka, masih tertahan di Pejompongan. Istrinya sepupu gw, jam 19:00 masih belum dapat taksi di Citos. Daaan... yang paling kebat-kebit, sepupu gw yang membawa ke-14 tiket kami semua, ternyata baru datang 19:20... hehehe.... Untung trailernya banyak. Dan mungkin karena kami sudah beli 14 tiket, XXI agak berbaik hati mengundurkan pemutaran filmnya :-) Jadi deh gw nonton dari awal sampai akhir.

Penderitaan gw berlanjut selama film yang lumayan panjang ini. Pampered by Blitz Megaplex selama beberapa bulan terakhir, gw udah lupa bagaimana nggak nyamannya nonton di jaringan 21 - biarpun yang XXI sekalipun. Gw udah lupa bagaimana sakitnya pinggang kalau kebetulan kita duduk di depan penonton yang nggak tahu diri; terus menerus menendang bangku di depannya ;-) Dan... karena filmnya ini menegangkan, jangan heran kalau pinggang gw langsung biru2 *halah, lebay!*

Untung filmnya sendiri memuaskan untuk ditonton ;-) Seru, menegangkan, dan.... gw senang dengan pendekatannya yang lebih menekankan pada reaksi orang per orang dalam menghadapi yang tak terhindarkan. Meskipun akhirnya masih terlalu happy ending seperti lazimnya film Hollywood, tapi... setidaknya jauuuuuuhhh lebih asyik daripada film yang gw tonton karena salah perkiraan: 2012 Doomsday.

*untung yang terakhir itu nontonnya di DVD bajakan, jadi nggak terlalu berasa rugi... hehehe..*

[Spoiler Alert!] -- silakan berhenti membaca bagi yang belum nonton 2012

Film ini menggunakan pendekatan mirip Crash, sehingga di awal2 film penonton mungkin bingung dan membosankan, karena banyak banget tokoh yang dimunculkan. Seperti Crash juga, seiring berjalannya film, barulah terlihat keterkaitan dan jalinan kisah hidup antar tokoh2 tersebut. Jadi... buat mereka yang nonton film ini untuk cari seru2an dan males mikir panjang2, mendingan datang di pertengahan film aja... hehehe... Waktu bumi sudah mulai terbelah dan kerak bumi saling berpindah ;-)

Sekitar setengah jam film berjalan, barulah kita bakal "ngeh" bahwa plot utama filmnya berkisar pada dua tokoh: si penasihat kepresidenan, Adrian Helmsley, yang terus berkutat dengan perasaan bersalahnya karena temuannya tentang "kiamat" ini akhirnya justru disalahgunakan, serta Jackson Curtis, si "bukan siapa2" yang hanya ingin menyelamatkan anak2 dan [mantan] istrinya. Ya, temuan Adrian Helmsley membuat para pemimpin negara sempat membangun beberapa bahtera seperti kapal Nabi Nuh AS, untuk menyelamatkan spesies2 di bumi dari kepunahan. Sementara Jackson Curtis adalah satu dari milyaran orang "biasa" di dunia yang berjuang untuk bisa masuk ke dalam bahtera itu.

Tokoh2 lainnya, plot2 lainnya, yang terkesan rumit, pada akhirnya adalah bagian dari kisah yang menyatukan dua plot utama ini. Carl Anhauser dan Yuri Karpov sang oportunis, masing2 adalah penyebab rasa bersalah Helmsley dan penghambat upaya Curtis; the first daughter Laura Wilson yang menjadi conscience bagi Helmsley; serta Gordon Silberman yang mendorong Curtis untuk tampil optimal dalam upayanya - melalui persaingan menjadi pria utama bagi [mantan] istri Curtis.

Tapi yang menarik bagi gw dalam film ini adalah bagaimana reaksi tiap2 individu menghadapi hari akhirnya. Ada yang pasrah sumarah seperti ayah Helmsley. Ada pemimpin negara yang mengabaikan privilege untuk diselamatkan dalam bahtera yang sudah dipersiapkan bertahun2; yang satu karena merasa "tempatnya adalah di samping rakyat hingga titik darah penghabisan", sementara yang satunya memilih untuk "berdoa bersama para kardinal" di Vatikan hingga Vatikan rata dengan tanah.

Film ini menjadi menarik pula dengan tampilnya "sifat2 asli" manusia jika menghadapi hidup-mati: egois. Di akhir2 cerita terlihat bagaimana Anhauser dan kroni2nya "tega" menjual kursi di bahtera tersebut seharga 1 Milyar Euro per orang... dengan mengabaikan hak Satnam, ilmuwan India rekan kerja Helmsley dalam menemukan bukti2 ilmiah akan terjadinya "kiamat". Helikopter yang dijanjikan untuk menjemput Satnam tak pernah mampir di India, hingga India terhapus dari muka bumi oleh tsunami. Seperti kisah2 jaman kolonial, Satnam adalah pribumi tak berharga; dapat dieksploitasi, tapi tidak untuk diselamatkan.

Sepanjang menonton film ini, gw menjadi sadar dan berpikir: apa yang akan gw lakukan jika akhir dunia di depan mata? Akankah gw jadi seperti Jackson Curtis dan Yuri Karpov, yang melakukan segala upaya agar anak2 gw bisa selamat? Ataukah gw akan seperti Satnam, yang merengkuh anak dan istrinya dalam pelukan, and face the death with dignity. Atau... bisakah gw seperti Perdana Menteri Italia yang memilih untuk berdoa hingga ajal menjemput? Seperti Rinpoche pada biara di puncak gunung, yang menyambut akhir dunia ini dengan membunyikan lonceng besar? Lonceng itu bukan sangkakala sih... tapi... beneran deh, pas sang Rinpoche membunyikannya, gw merinding. Berasa seakan2 mendengar Izrafil membunyikan sangkakala di akhir dunia. It must be a helluva job, nggak ngerjain apa2 di sepanjang jaman, just to be ready for the end ;-)

Betul, film ini menjadi menarik buat gw karena bisa membuat gw benar2 berpikir tentang akhir dunia. Tapi ada satu aspek lagi yang membuat gw senang pada film ini: film ini tidak gegabah untuk membawa orang semakin percaya bahwa 2012 adalah kiamat. Di akhir cerita, tiga bahtera yang selamat bergerak menuju darata Afrika, yang kini menjadi "atap dunia" yang baru. Tujuannya? Cape of Good Hope. Tanjung Harapan. Satu2nya tempat yang selamat seutuhnya.

In a way... akhir cerita ini - meskipun terlalu happy ending -menjadi menarik. Karena secara tidak langsung menyatakan bahwa kita memang tidak pernah tahu kapan terjadinya kiamat. Bahkan, setelah semua bukti ilmiah tak terbantahkan menunjukkan kiamat terjadi pada 2012, ternyata itu bukan kiamat yang sesungguhnya. Itu adalah akhir jaman ini, tapi bukan kiamat yang disebut2 dan dipercayai dalam kitab suci. It's just another disaster, another recycling step, of this good old earth ;-)

Menjadi menarik karena ending film ini tetap menimbulkan harapan bahwa kita nggak perlu terbebani dengan ramalan2 tentang 21 Desember 2012. We never know when the end of the world is. Science still cannot beat religion.... scientists still cannot beat God ;-) Menurut gw itu suatu pesan tersembunyi yang bagus.

Ending film ini juga membuat gw berpikir tentang Hot, Flat, and Crowded (Thomas L. Friedman). OK, he has his point, bahwa bila kita nggak segera bertindak, maka bumi kita akan semakin teracuni. Tapi... gw jadi malah berpikir: kalau bumi sudah sedemikian "sakit", apa nggak memang sebaiknya kita serahkan untuk didaur-ulang oleh-Nya aja ya? Bahwa daur-ulang itu tak terhindarkan, dan... ini adalah bagian agar kita sadar untuk bersiap2? Ya, ya, kita tentu masih harus berusaha menyelamatkan dunia sampai titik darah penghabisan, tapi... mungkinkah fokus kita seharusnya tidak lagi pada mencoba menyelamatkan, melainkan bahwa mempersiapkan diri?

Hehehe... nggak tahu juga deh... ;-)

[SPOILER ENDS]

Tapi satu hal yang menarik buat gw. Kenapa ya... hari terakhir pada penanggalan suku Maya adalah 21 Desember 2012? 21/12/2012? Jangan2 suku Maya ini nenek moyangnya tukang jual Kartu Perdana, yang hobby menjual nomor cantik ;-) Akhir dunia jadi 21/12/2012 karena kalau mau yang angka cantik 20/12/2012 harganya lebih mahal... HAHAHAHA...

Angka cantik ini juga memperjelas kenapa data Google Analytics gw menunjukkan posting berjudul 2 Oktober 2014 terus menerus menjadi salah satu top landing pages. Tadinya gw kira karena makin banyak yang cinta batik... hehehe... Tapi sekarang ada kemungkinan lain: orang mengira gw nabi baru yang memprediksi kiamat bukan jatuh di 2012, tapi dua tahun kemudian... HAHAHAHA...

*oops, delusion of grandeur ;-)*

***

Dan jika ada di antara Anda2 yang berpikir bahwa simakan gw terhadap film ini yang begitu khusyuk akan menghindarkan dari further series of unfortunate events, maka tebakan Anda salah ;-) Jumat Kliwon tetap horor, dan Friday the 13th tetap mengerikan ;-)

Bubar dari nonton film, kami2 ber-15 berfoto ria di depan kafetarianya XXI PS. Depan kafetaria, bukan studio! Dan latar belakangnya adalah dinding, bukan poster2 atau karya2 kreatif yang gak boleh difoto karena bisa dikenai pasal2 "hak cipta". And you know what? Seorang petugas keamanan bersafari hitam dengan manisnya berusaha menutup lensa kamera dengan tangan :( Katanya nggak boleh foto2 di situ, karena melanggar hak cipta :( Hak cipta yang mana, dia tidak [bisa] menjelaskan... ;-)

So... demi membuat jengkel Pak Petugas Keamanan Bersafari Hitam... gw sengaja tampilkan foto itu... biarpun gagal... di sini... hehehe.... Lengkap dengan tangannya si bapak petugas ;-) Mungkin foto jari2nya bakal gw perbesar, dan dikirim ke Grisson dkk untuk dilihat sidik jarinya ;-)


Nggak usah dicoba2 memperbesar fotonya. Emang sengaja gw bikin kecil banget biar tampang sepupu2 gw yang cantik serta ganteng tidak terlihat... ;-) Ini kan preview, selebihnya... bayar! HAHAHAHA...

Sekalian biar Pak Petugas Keamanan lebih jengkel, gw sertakan foto lobby pesaingnya, Blitz Megaplex MOI.


Di Blitz boleh lho, Pak, foto2... hehehe....

Friday, November 06, 2009

Titi Kamal Anti Cinta

Setelah 2x mengalami kejadian yang sama, yang gw saksikan dengan mata kepala sendiri, rasanya cukup sudah data untuk menyimpulkan tentang hal ini ;-)

Kejadian pertama adalah beberapa bulan yang lalu. Tepatnya sekitar minggu kedua Ramadhan. Seperti biasa, gw baru meluncur pulang sekitar jam 7 malam dari kantor. Menunggu warung2 sepanjang Lapangan Ros kosong dulu dari para peserta bu-bar yang membuat jalanan macet.

Setengah jam kemudian, tentunya gw sudah sampai Jl Basuki Rahmat dengan selamat. Bersiap membelok ke arah Cipinang Jaya.

Tiba2, seorang pengendara motor dengan hebohnya mengetuk jendela mobil gw sambil berseru heboh, "Bannya kempes, Mbak, kempes!" Sambil menunjuk ke ban kanan belakang. Gw, yang sudah capai dan lapar, cuma mengangguk2 doang seperti burung pelatuk. Hehehe.... males aja gw ngedongkrak mobil untuk ganti ban, secara gw belum makan malam ;-) Buka di kantor kan menunya cuma teh manis sama lontong isi sayuran ;-)

Jadilah gw bertekad memaksa mobil gw berjalan. Toh rumah gw udah sepelemparan batu. Lagian, bukannya mobil gw bannya tube-less ya? Kata yang jual ban, ban yang begini nggak gampang kempes. Kalaupun melindas paku, baru akan kempes seutuhnya kalau paku dicabut.

Selang beberapa menit kemudian, dua orang lelaki bergoncengan motor menyalip gw sambil heboh menunjuk ban belakang. "Kempes, bannya kempes," begitu kata mereka. Gw - lagi2 - cuma mengangguk2 sambil berseru trilili, lili, lili, lili ;-) Tapi gw merasa ada yang aneh: apa gw segitu nggak sensitifnya, sampai nggak merasakan ada yang aneh dengan mobil gw? Mosok ban gw kempes, tapi gw nggak berasa sih?

Gw menjadi semakin waspada dengan pengendara2 motor di samping gw. Adakah pengendara motor altruistik yang memperingatkan gw kembali? Hehehe... Terus terang, gw sendiri merasa agak heran mengapa ada pengendara motor yang altruis memberitahu gw mengenai ban kempes. Biasanya pengendara motor nggak peduli sama kepentingan pengguna jalan lainnya... ooops ;-) Lha, ini kok malah sampai bela2in ngebut, nyalip, cuma untuk memperingatkan gw?

Mulailah gw menghitung berapa % pengendara motor yang baik hati malam itu. Ternyata, setelah beberapa motor berlalu, hanya ada satu motor lagi yang berbaik hati. Menyalip gw, dan kemudian "mempertaruhkan keselamatannya" dengan tidak memperhatikan jalanan di depannya. Tapi sayang, peringatannya sudah terlalu dekat dengan belokan menuju rumah gw, sehingga gw dengan sopan hanya tersenyum dan mengangguk. If my flat tire has survived the journey this far, it will survive a few meters more ;-) Lagian, gw belum berasa apa2 kok ;-)

Sampai rumah, pertama yang gw periksa - tentunya - adalah ban yang dikatakan kempes itu. My tire was perfect. Sama sekali nggak kempes. Kurang angin pun tidak. Jadi, apa pasal segala kehebohan itu??

Ngobrol2 dengan bapaknya anak2, gw baru sadar bahwa itu adalah upaya penipuan berjamaah. Modus operandinya adalah dengan membuat pengendara mobil turun karena mengira mobilnya kempes. Tim penipu biasanya terdiri dari 3 kloter: kloter pertama memberi peringatan, kloter kedua memberikan peringatan kedua yang diharapkan meyakinkan si pengendara, dan kloter ketiga adalah sweeper. Tugasnya menggasak isi mobil saat si pengendara mobil dalam posisi lemah karena sudah keluar mobil.

Alhamdulillah... gw selamat dari kejadian itu. Thanks to my paranoia ;-)

Dan karena konon kabarnya lightning never strikes twice in the same place, gw percaya kejadian ini tidak akan terjadi lagi. Tapi... ternyata.... peribahasa tinggal peribahasa, dan jelas pelaku tindak kriminal bukan petir... hehehe... jadilah, kejadian yang sama terulang lagi.

Terjadinya pekan lalu, pada jam yang kurang lebih sama. Lokasinya pun hanya beberapa meter dari lokasi kejadian pertama. Yang membedakan: tim kriminal yang kedua ini tampaknya lebih amatir daripada yang pertama... hehehe.... Makanya mereka nggak kompak menunjuk ban mana yang kempes ;-)

Dua kloter pertama menunjuk ban KANAN BELAKANG sebagai ban yang kempes.. ;-) Kloter ketiga, dengan nggak cerdasnya menunjuk KIRI BELAKANG sebagai ban yang kempes... hehehe...

Dan alhamdulillah, gw selamat juga dari serangan yang ini ;-)

So... teman2 pengendara mobil yang saya cintai ;-) Hati2lah jika ada pengendara motor yang berlaku "tidak wajar" dengan tiba2 menjadi super baik hati memperingatkan kita. Bukan mustahil itu adalah awal dari tindak kejahatan. Terutama kalau sedang berkendara di daerah yang gw gambarkan itu.

Ingatlah selalu: Titi Kamal Anti Cinta. Hati-hati Kalau Malam Antara Jatinegara dan Cipinang, Jakarta ;-)

*hehehe... nggak tahu juga kenapa daerah itu antara Jatinegara - Cipinang itu yang jadi lokasi kejahatan. Mungkin karena daerah itu dekat dengan Jl Christian Kolonel Sugiono ya ;-)?*

***
Catatan:
Gambar dipinjam dari - tentunya - Google Maps. Tanda jejak kaki yang lucu itu menggambarkan titik2 rawan kejahatan ;-)

Sunday, October 11, 2009

The Princess and the Plea

There was once a prince, and he wanted a princess, but then she must be a real Princess.

(dari kisah The Princess and the Pea)

***

Pernah baca cerita itu? Tentang "putri sejati" yang kesejatiannya ditentukan oleh sebutir kacang polong. Judul di seri Pustaka Dunia jaman gw kecil dulu "Putri dan Kacang Polong", bukan "Ibu Kita Kartini" - meskipun yang terakhir itu juga disebut "putri sejati, putri Indonesia, harum namanya" ;-)

Entah apakah dongeng ini sudah kelewat jadul, kayaknya Putri Indonesia kita kayaknya belum sempat baca. Padahal dia kuliahnya di jurusan Sastra .. hehehe... Atau mungkin pernah baca juga sih, tapi tidak dicamkan baik2 di benaknya. Makanya, dia nggak tahu bahwa untuk menjadi "putri sejati" itu tidak identik dengan memenangkan kontes Putri Indonesia ;-)

Oh, nggak, gw nggak akan mulai berkhotbah tentang betapa terkutuknya dia karena membuka "aurat"-nya demi memenangkan kontes ini ;-) Gw mau ngomentarin the aftermath-nya yang dimuat di Kompas, 25 Oktober 2009, halaman 25 ini aja:

"Saya grogi waktu itu, jadi salah menjawab. Maksud saya mau bilang, saya bukan melepas jilbab, tetap memang dari kecil saya tidak pernah pakai jilbab," jelas Qory dalam percakapannya dengan Kompas pekan lalu.

"Yang saya jilbabi adalah perilaku dan kepribadian saya. Saya memiliki hak azasi, termasuk dalam beragama," tambah Qory sama seriusnya.


OK, girl, I agree with you ;-)

Gw juga nggak berjilbab, dan mungkin masih jauuuuuuhhhh perjalanan gw untuk sampai teryakinkan bahwa gw hanya boleh menunjukkan raut wajah serta telapak tangan. Buat gw, berjilbab itu arahnya harus dari dalam ke luar, bukan dari luar ke dalam ;-) Makanya gw memfokuskan dulu pada perilaku dan kepribadian gw, baru kalau sudah beres kita bicarakan lagi gw perlu menutup rambut atau enggak. Kan nggak lucu, kalau sekarang2 gw berjilbab [fisik], tapi masih hobi nyilet2 orang... hehehe... ;-)

Tapi satu hal signifikan yang membedakan gw dan Qory: gw tidak menjadi finalis Putri Indonesia mewakili NAD, daerah istimewa yang disebut Serambi Mekah serta sudah menerapkan syariah Islam. Gw adalah pribadi yang berdiri sendiri, menyuarakan sikap dan pendapat gw sendiri. Dan sebagai individu, gw boleh2 saja bersikap demikian. Gw mau misfit, mau teralienasi dari masyarakat, itu urusan gw sendiri. Asal gw siap dengan konsekuensinya, ya monggo dilanjut.

Sebaliknya, Qory kehilangan [sebagian] identitasnya sebagai individu ketika dia melangkah ke ajang pemilihan putri2an itu. Menyebut diri sebagai Wakil Aceh, membuat dia punya kewajiban menampilkan nilai2 yang umum dianut oleh masyarakat tersebut. Dia tidak bisa lagi memakai batasan nilai2nya sendiri, karena dia adalah wakil Aceh. Bagian dari Aceh.

Keadaan akan beda jika misalnya si Qory ini mewakili DKI Jakarta. Atau mewakili Jawa Barat, propinsi asal ayahnya. Haqqul yaqqin, pasti nggak akan ada yang mempermasalahkan rambutnya yang bak mayang terurai itu. Sebab, dengan mewakili DKI Jakarta atau Jawa Barat, ketidakberjibabannya ini tidak bertentangan dengan nilai2 masyarakat yang diwakilinya. She can be Qory, and she can be the representative of one of those province altogether, since there is no conflicting values between them. Tapi begitu mewakili NAD, ketidakberjibabanya menimbulkan sebuah konflik. Sebuah disonansi kognitif yang harus diselesaikan dengan mengubah sikap terhadap salah satu unsur, atau mengubah perilaku.

Ah ya! Disonansi kognitif ;-) Bahasa "dewa" kita kali ini... hehehe....

Disonansi kognitif adalah sebuah konsep yang diajukan oleh Leon Festinger. Secara umum, definisinya adalah: kondisi tertekan akibat adanya konflik dua pikiran yang bertentangan di dalam kepala kita. Konfliknya bisa berbentuk approach - avoidance (pilihan menyenangkan vs. konsekuensi tidak menyenangkan), approach-approach (dua pilihan yang sama-sama menyenangkan), maupun avoidance-avoidance (dua pilihan yang sama tak menyenangkannya). Dalam bahasa awam, disonansi kognitif ini disebut dilema. Sesuatu yang salah kaprah, karena dilema sebenarnya mengacu pada konfliknya, bukan pada kondisi psikisnya.

Dalam kasus Qory ini, gw membayangkan bahwa dia mengalami suatu disonansi kognitif berkaitan dengan perilaku yang akan dilakukannya: mengikuti pemilihan Putri Indonesia sebagai Wakil Aceh. Di satu sisi udah ngebet banget ingin ikut pemilihan Putri Indonesia, tapi di satu sisi lain kesempatannya kesempatan yang muncul adalah dengan menjadi Wakil NAD, daerah asal ibunya yang menerapkan syariah Islam. Antara ngebet jadi Putri Indonesia (approach) dengan harus menutup rambut indahnya dengan jilbab (avoidance).

Seperti kasus2 disonansi kognitif lainnya, Qory juga memiliki 3 alternatif escape route dari dilemanya ini:

  • Pertama, menyesuaikan perilaku dengan pilihan perilaku lain yang dapat mengurangi konflik tersebut.
  • Kedua, menjustifikasi perilaku yang memang ingin diambil dengan mengubah salah satu paradigma yang menyebabkan konflik tersebut.
  • Ketiga, menambahkan satu elemen kognisi untuk menjustifikasi perilaku yang memang akan kita ambil.

Alternatif pertama jelas tidak diambil oleh Qory, karena sudah jelas kita melihatnya maju sebagai Wakil NAD dengan segala pelanggarannya terhadap nilai yang dianut oleh daerah istimewa tersebut. Kalau dia mengambil alternatif pertama, dia akan meninggalkan kesempatan menjadi Wakil NAD dan mencari peruntungan di provinsi lain. Mencoba jadi wakil DKI Jakarta, atau Ja-Bar, misalnya.

*OOT: Tentang mengapa Qory tidak mengambil alternatif pertama ini, Neng Jen-Ju punya teori menarik: lha wong rebutan peran di Ketika Cinta Bertasbih 2 aja kalah dari Alice Norin, gimana dia mau jadi wakil Jakarta? HAHAHA... ;-) Tapi, Jen, Alice Norin kan juga nggak ikutan pemilihan Putri Indonesia, jadi kesempatan menang masih ada :p*

Alternatif ke-3, menambahkan elemen kognisi baru yang menjustifikasi perilaku, tampaknya merupakan solusi awal yang diambil Qory. Elemen yang ditambahkannya itu adalah "dosa" favorite sang iblis di sini... hehehe... vanity ;-) Dia menambahkan elemen kognisi bahwa rambut adalah keindahan wanita yang harus ditunjukkan, sehingga menutupnya dalam kontes ini adalah dosa besar! Elemen kognisi ini membuat ia mantap meninggalkan budaya daerah istimewa yang diwakilinya ;-)

So, sorry to say, girl, what you claimed as "jawaban yang salah karena grogi" looks perfectly like a simple slip of the tongue ;-)

Sekali menabur angin, maka akan selalu menuai badai. Demikian juga slip of the tongue ;-) Tertempa badai kritik, Neng Qory pun semakin piawai menambahkan elemen kognisi baru. Mungkin karena sudah sempat konsultasi dengan para ahli ;-)? Elemen kognisi baru yang ditambahkannya, seperti terlihat pada wawancara di Kompas, adalah: hak azasi manusia ;-)

Bukan main ;-)!

Dia tidak menyadari bahwa omongannya tentang hak azasi ini sebenarnya terlihat double standard. Dia bicara tentang hak azasinya memilih berjilbab atau tidak berjilbab. Tapi... apakah dia sadar bahwa ia melanggar hak azasi banyak warga/keturunan Aceh yang pro-syariat Islam? Apa dia sadar bahwa ia mempermalukan warga/keturunan Aceh yang bertahun2 memperjuangkan diperbolehkannya menerapkan syariat Islam di daerah istimewa mereka? Thanks to Qory dan hak azasinya, bukan tidak mungkin sekarang banyak orang akan mencemooh NAD ;-) Nilai2 yang diperjuangkan di NAD toh dilecehkan oleh wakilnya sendiri dengan alasan hak azasi ;-)

Dan... bicara tentang hak azasi, memangnya siapa yang meminta Qory jadi Wakil NAD? Apakah NAD nggak punya calon lain selain Qory? Atau NAD merasa harus ikut kontes itu sehingga mau diwakili siapa pun? Sebenarnya yang butuh ikut kontes Putri Indonesia itu Qory atau NAD sih? Hehehe... Kok jadi kayaknya Qory itu berbaik hati sekali mewakili NAD, sehingga NAD harus terima apa pun syaratnya supaya Qory "berkenan" mewakili ;-)

So, bicara tentang "salah menjawab", menurut gw klarifikasinya si Qory ini juga masih merupakan bentuk "jawaban yang salah" ;-) Wong memang nggak ada yang mempermasalahkan dia [sebagai individu] pakai jilbab atau enggak. Yang dipermasalahkan adalah karena dia tidak mengenakan jilbab saat mewakili NAD ;-)

I guess the Aceh's clerics have their point saying "Miss Indonesia Shames Us All". Bukan karena mereka mau memaksakan bahwa semua perempuan [keturunan] Aceh harus pakai jilbab dan menerapkan syariat Islam dimana pun. Toh, si Nova Eliza itu juga dari Aceh kan? Dan gw nggak pernah dengar ulama Aceh meributkan ketiaknya Nova Eliza yang kelihatan dimana2, dan boobs-nya yang selalu tercetak jelas dalam balutan kaus ketat... hehehe... Soalnya Nova Eliza tidak menyebut diri Wakil NAD, apalagi menggunakan keacehannya untuk mencapai tujuan pribadi ;-)

***

Dan hal inilah yang membuat gw teringat pada dongeng HC Andersen di atas. Menurut gw, orang yang menghalalkan segala cara untuk kesenangannya pribadi, adalah orang yang nggak punya integritas ;-) Dan dalam kasus ini, sorry to say, menurut gw Qory adalah orang seperti itu. The princess by title, indeed, but not the princess who cannot sleep when there is a pea under her piles of twenty matresses ;-) Not the real princess ;-)

Dalam lomba yang berbeda, skala yang berbeda, gw pernah melihat pameran integritas yang bertolak belakang dengan apa yang dilakukan Qory. Persis dengan Qory, dalam lomba yang "cuma" rebutan rumah seharga 1M seorang teman dihadapkan pada tantangan yang berat bagi dirinya. Tantangannya adalah mencari koin dalam daging sapi yang sudah disembelih. Tantangan yang biasa2 aja kan? Tapi coba letakkan dalam sistem nilai umat Hindu dan wakil provinsi Bali yang rata2 masyarakatnya menganut agama Hindu ;-)

Well, sampai sekarang gw juga nggak yakin bahwa si teman ini beragama Hindu... hehehe... Tapi yang jelas dia mewakili Bali. Dan dengan mantapnya saat itu dia mundur dari tantangan itu, karena, "... tidak mau menyakiti masyarakat Bali yang saya wakili". Padahal, tanpa memenangkan tantangan tersebut, kelanjutannya dalam lomba ini berada di ujung tanduk!

Now, that's what I call an integrity ;-) Tetap berada di jalan yang "benar", tidak membenar2kan apa yang nggak benar... hehehe.... Ini yang dibutuhkan dari seorang "putri Indonesia sejati", menurut gw ;-)

***

Well, in her defense, menurut gw Qory bukan satu2nya yang bersalah dalam kasus ini. After all, she's just 18. Orang dewasa di sekitarnya ikut andil bersalah.

Pembesar yang memberi ijin baginya untuk mewakili NAD tanpa pakaian tertutup jelas salah. Pembesar tersebut berarti tidak cukup peka terhadap nilai2 masyarakat yang dipimpinnya sendiri.

Tapi Yayasan Putri Indonesia juga salah. Malah salahnya jauh lebih besar. Mestinya, kalau mereka lebih peka terhadap hal2 seperti ini, udah nggak perlu lagi lah bikin kuota bahwa finalis harus mewakili provinsi2 tertentu. Tetapkan aja jumlah finalisnya berapa, lantas semua orang boleh memperebutkan jumlah kursi tersebut.

Ide bahwa seorang finalis bisa mewakili provinsi tertentu berdasarkan garis darah semenda, tempat lahir, atau tempat dibesarkan, sudah cukup bagus. Tapi harus dites lagi apakah benar2 menghayati nilai yang dianut provinsi yang akan diwakilinya tersebut. Apakah benar2 mengerti, paham, dan "dekat" secara emosional dengan provinsi tersebut. Pendeknya, harus dipastikan apakah ia akan mewakili suatu provinsi karena kecintaannya pada provinsi tersebut, atau sekedar mau menunggangi provinsi tersebut agar tercapai cita2nya jadi cewek ngetop... hehehe...

Dan... dengan tidak membuat kuota, gw rasa akan memicu putri2 daerah untuk lebih tampil bersaing. Nggak seperti sekarang, rata2 yang bersaing ya anak2 Jakarta juga - cuma ditempeli selempang provinsi yang berbeda2 :)

Sistemnya harus lebih mirip Miss Universe: negara apa pun bisa tampil, asal mau mengikuti peraturan (yang salah satunya adalah mengikuti kontes baju renang). Nggak pakai kuota bahwa harus ada wakil dari seluruh negara di dunia. Siapa yang merasa nggak cocok dengan aturannya, nggak harus ikut. Toh, Miss Universe nggak sok main kuota2an dengan mengharuskan ada Miss Afghanistan atau Miss Iran di kontesnya kan ;-)?

So... that's my first plea for the next Pemilihan Putri Indonesia ;-) Jangan ada lagi kuota2an yang kesannya keadilan sama rata sama rasa, tapi malah membuat keadilan semu itu. Biarkan saja semua putri berlomba, ambil 33 yang terbaik, regardless provinsinya. Jangan membuka kesempatan orang2 untuk mewakili provinsi yang tidak ia junjung nilai2nya.

And the 2nd plea regarding the princess.... nasi memang sudah jadi bubur. Tapi bubur biar enak bisa ditambah cakwe dan suwiran ayam kan ;-)? Nah, supaya bubur ini lebih enak, dengarkan keberatan NAD ini, dan tunjukkan empati dengan tidak mengikutsertakan Qory di ajang Miss Universe. Tamparan terhadap budaya Aceh akan lebih besar lagi jika si Nona tampil setengah telanjang di ajang itu... hehehe... Runner up-nya bisa menggantikan Qory, kalau boleh oleh panitia MU. Tapi kalau enggak.... well, nggak ikutan satu pemilihan toh nggak apa2 ;-) Masih ada tahun2 depan, toh?