Friday, October 02, 2009

2 Oktober 2014

Hari ini, 2 Oktober 2009, UNESCO menetapkan batik sebagai warisan budaya Indonesia. Sebagai orang Indonesia, gw tentu bangga dan lega dengan pencapaian ini. Apalagi gw orang Jawa, berselera vintage pula!

Tetapi gw nggak ikut euforia berbatik-ria hari ini ;-) Bukannya gw nggak punya batik ;-) Gw punya beberapa blus batik yang sering gw pakai saat presentasi atau meeting dengan klien. Koleksi batik tulis gw juga lumayan untuk ukuran anak kota Jakarta. Gw juga masih punya beberapa canting serta kompor kecil untuk memanaskan lilin saat membatik. Memang... canting dan kompor ini sudah lama masuk museum... hehehe... karena nggak ada waktu buat membatik.

Tetapi, toh, gw memilih untuk tidak menggunakan batik. Ya, gw memilih demikian justru karena sudah jenuh dengan segala himbauan untuk menggunakan batik yang gw baca lewat [terutama] Facebook. Seakan2 beberapa hari terakhir ini status di FB dan di Twitter semua mengajak rame2 menggunakan batik hari ini. Bahkan, gw sampai terima surat undangannya segala ;-)

Ya, gw memang dengar sih bahwa tujuan gerakan batik ini "mulia"... hehehe... diharapkan ini menjadi cikal-bakal yang menumbuhkan rasa cinta terhadap batik sebagai warisan budaya nusantara. Tetapi... terus terang, gw skeptis terhadap cita2 mulia ini. Gerakan masal seperti ini, menurut gw, hanya seperti ledakan bom. Heboh, masuk berita di mana2, memberi kesan selama beberapa waktu, namun kemudian hilang tak bermakna. Bahkan akan dilupakan ;-) Kalaupun sukses menjadi gerakan yang rutin, seringkali menjadi ritual tak bermakna. Seperti upacara bendera di sekolah2. Seperti penataran P4 yang sempat marak.

Seorang teman berargumen bahwa gerakan ini telah terbukti membuat penjualan batik meningkat. Bukankah ini baik buat industri batik? Hmmm... sebagai marketing researcher, gw terpaksa mengatakan bahwa ini adalah suatu bentuk high trial. Semua orang yang belum punya batik - dan tidak ingin ketinggalan keriaan - buru2 beli batik. Tetapi... sayangnya, high trial tidak selalu menimbulkan high repeat purchase. Seperti terbukti pada produk2 yang promo gede2an tetapi rasanya nggak enak... hehehe... Orang mungkin sekali beli, tapi nggak beli lagi. Makanya, untuk memastikan orang beli dan beli lagi, para brand team di belakang setiap produk itu jungkir balik mengutak-atik produknya supaya menimbulkan brand loyalty ;-)Dan untuk menimbulkan kesetiaan, perlu ditumbuhkan cinta terhadap hal itu ;-)

Kata Kembar Group dalam lagunya, Frustrasi, cinta itu seperti kupu2 yang terbang tinggi. Hinggap di mana saja yang dia ingini. Buat gw, cinta itu seperti metamorfosa kupu2. Harus melalui proses panjang yang tidak instan. Lebih cocok seperti yang digambarkan dalam bagian lagu ini:

Caterpillar in the tree
How you wonder who you'll be
Can't go far but you can always dream
...
I promise you there will come a day
Butterfly, fly away
Flap your wings and fly away
Take those dreams and make them all come true

So, gw simply skeptis bahwa giving batik a pair of instant wings akan membuatnya terbang tinggi. Akan membuat orang2 lebih mencintai batik setelah ini.

Menurut gw, cinta terhadap batik itu harus dibangun secara berkesinambungan. Bukan cuma dengan memakainya, tetapi benar2 "mengenalnya". Tak kenal, maka tak sayang. Dan untuk mengenal, berarti perlu berinteraksi mendalam dengannya.

Mengagendakan belajar membatik dalam salah satu pelajaran prakarya, misalnya, mungkin bisa membantu memberikan dasar pengenalan pada batik. Seperti gw tulis di sini, banyak yang bisa didapat dari pelajaran membatik. Selain melatih motorik halus, juga melatih kesabaran ;-) Seiring sejalan dengan TIU/TIK pelajaran prakarya kan ;-)?

Menurut gw, hal2 seperti inilah yang membuktikan cinta terhadap batik. Involved dan berkesinambungan. Keabadian cinta ;-) Bukan hanya cinta yang sesaat terus menghilang, seperti yang mungkin akan terjadi pada euforia penggunaan batik sehari ini ;-)

Waktu yang akan membuktikan keberhasilan gerakan hari batik ini ;-) Dengan demikian, gw menunggu setidaknya 5 tahun lagi untuk join the club. Jika gerakan ini bertahan hingga 2 Oktober 2014, dan tidak sekedar menjadi ritual tak bermakna, gw akan menggunakan batik di hari itu ;-) Semoga pada hari itu orang sudah tidak mencampuradukkan batik dengan lurik seperti pada gambar di artikel ini ;-)


Gambar dipinjam dari artikel terkait

Hehehe... mentang2 sama2 nge-top di Jawa, lurik dianggap batik juga, kali ya? Hehehe... Di hari batik malah pakai lurik. Padahal, lurik sama batik itu beda. Batik itu motifnya digambar dan diwarnai pada kain. Lurik itu motifnya ditenun dari benang yang warnanya berbeda sehingga menghasilkan kain bergaris2.

Dan... uhm.... ngomong2 tentang gerakan memakai batik untuk menghormati keputusan UNESCO hari ini, gw jadi bertanya2: apakah hari ini saudara2 sebangsa setanah air kita di Papua sana juga menggunakan koteka bermotif batik? HAHAHAHA....