Sunday, October 11, 2009

The Princess and the Plea

There was once a prince, and he wanted a princess, but then she must be a real Princess.

(dari kisah The Princess and the Pea)

***

Pernah baca cerita itu? Tentang "putri sejati" yang kesejatiannya ditentukan oleh sebutir kacang polong. Judul di seri Pustaka Dunia jaman gw kecil dulu "Putri dan Kacang Polong", bukan "Ibu Kita Kartini" - meskipun yang terakhir itu juga disebut "putri sejati, putri Indonesia, harum namanya" ;-)

Entah apakah dongeng ini sudah kelewat jadul, kayaknya Putri Indonesia kita kayaknya belum sempat baca. Padahal dia kuliahnya di jurusan Sastra .. hehehe... Atau mungkin pernah baca juga sih, tapi tidak dicamkan baik2 di benaknya. Makanya, dia nggak tahu bahwa untuk menjadi "putri sejati" itu tidak identik dengan memenangkan kontes Putri Indonesia ;-)

Oh, nggak, gw nggak akan mulai berkhotbah tentang betapa terkutuknya dia karena membuka "aurat"-nya demi memenangkan kontes ini ;-) Gw mau ngomentarin the aftermath-nya yang dimuat di Kompas, 25 Oktober 2009, halaman 25 ini aja:

"Saya grogi waktu itu, jadi salah menjawab. Maksud saya mau bilang, saya bukan melepas jilbab, tetap memang dari kecil saya tidak pernah pakai jilbab," jelas Qory dalam percakapannya dengan Kompas pekan lalu.

"Yang saya jilbabi adalah perilaku dan kepribadian saya. Saya memiliki hak azasi, termasuk dalam beragama," tambah Qory sama seriusnya.


OK, girl, I agree with you ;-)

Gw juga nggak berjilbab, dan mungkin masih jauuuuuuhhhh perjalanan gw untuk sampai teryakinkan bahwa gw hanya boleh menunjukkan raut wajah serta telapak tangan. Buat gw, berjilbab itu arahnya harus dari dalam ke luar, bukan dari luar ke dalam ;-) Makanya gw memfokuskan dulu pada perilaku dan kepribadian gw, baru kalau sudah beres kita bicarakan lagi gw perlu menutup rambut atau enggak. Kan nggak lucu, kalau sekarang2 gw berjilbab [fisik], tapi masih hobi nyilet2 orang... hehehe... ;-)

Tapi satu hal signifikan yang membedakan gw dan Qory: gw tidak menjadi finalis Putri Indonesia mewakili NAD, daerah istimewa yang disebut Serambi Mekah serta sudah menerapkan syariah Islam. Gw adalah pribadi yang berdiri sendiri, menyuarakan sikap dan pendapat gw sendiri. Dan sebagai individu, gw boleh2 saja bersikap demikian. Gw mau misfit, mau teralienasi dari masyarakat, itu urusan gw sendiri. Asal gw siap dengan konsekuensinya, ya monggo dilanjut.

Sebaliknya, Qory kehilangan [sebagian] identitasnya sebagai individu ketika dia melangkah ke ajang pemilihan putri2an itu. Menyebut diri sebagai Wakil Aceh, membuat dia punya kewajiban menampilkan nilai2 yang umum dianut oleh masyarakat tersebut. Dia tidak bisa lagi memakai batasan nilai2nya sendiri, karena dia adalah wakil Aceh. Bagian dari Aceh.

Keadaan akan beda jika misalnya si Qory ini mewakili DKI Jakarta. Atau mewakili Jawa Barat, propinsi asal ayahnya. Haqqul yaqqin, pasti nggak akan ada yang mempermasalahkan rambutnya yang bak mayang terurai itu. Sebab, dengan mewakili DKI Jakarta atau Jawa Barat, ketidakberjibabannya ini tidak bertentangan dengan nilai2 masyarakat yang diwakilinya. She can be Qory, and she can be the representative of one of those province altogether, since there is no conflicting values between them. Tapi begitu mewakili NAD, ketidakberjibabanya menimbulkan sebuah konflik. Sebuah disonansi kognitif yang harus diselesaikan dengan mengubah sikap terhadap salah satu unsur, atau mengubah perilaku.

Ah ya! Disonansi kognitif ;-) Bahasa "dewa" kita kali ini... hehehe....

Disonansi kognitif adalah sebuah konsep yang diajukan oleh Leon Festinger. Secara umum, definisinya adalah: kondisi tertekan akibat adanya konflik dua pikiran yang bertentangan di dalam kepala kita. Konfliknya bisa berbentuk approach - avoidance (pilihan menyenangkan vs. konsekuensi tidak menyenangkan), approach-approach (dua pilihan yang sama-sama menyenangkan), maupun avoidance-avoidance (dua pilihan yang sama tak menyenangkannya). Dalam bahasa awam, disonansi kognitif ini disebut dilema. Sesuatu yang salah kaprah, karena dilema sebenarnya mengacu pada konfliknya, bukan pada kondisi psikisnya.

Dalam kasus Qory ini, gw membayangkan bahwa dia mengalami suatu disonansi kognitif berkaitan dengan perilaku yang akan dilakukannya: mengikuti pemilihan Putri Indonesia sebagai Wakil Aceh. Di satu sisi udah ngebet banget ingin ikut pemilihan Putri Indonesia, tapi di satu sisi lain kesempatannya kesempatan yang muncul adalah dengan menjadi Wakil NAD, daerah asal ibunya yang menerapkan syariah Islam. Antara ngebet jadi Putri Indonesia (approach) dengan harus menutup rambut indahnya dengan jilbab (avoidance).

Seperti kasus2 disonansi kognitif lainnya, Qory juga memiliki 3 alternatif escape route dari dilemanya ini:

  • Pertama, menyesuaikan perilaku dengan pilihan perilaku lain yang dapat mengurangi konflik tersebut.
  • Kedua, menjustifikasi perilaku yang memang ingin diambil dengan mengubah salah satu paradigma yang menyebabkan konflik tersebut.
  • Ketiga, menambahkan satu elemen kognisi untuk menjustifikasi perilaku yang memang akan kita ambil.

Alternatif pertama jelas tidak diambil oleh Qory, karena sudah jelas kita melihatnya maju sebagai Wakil NAD dengan segala pelanggarannya terhadap nilai yang dianut oleh daerah istimewa tersebut. Kalau dia mengambil alternatif pertama, dia akan meninggalkan kesempatan menjadi Wakil NAD dan mencari peruntungan di provinsi lain. Mencoba jadi wakil DKI Jakarta, atau Ja-Bar, misalnya.

*OOT: Tentang mengapa Qory tidak mengambil alternatif pertama ini, Neng Jen-Ju punya teori menarik: lha wong rebutan peran di Ketika Cinta Bertasbih 2 aja kalah dari Alice Norin, gimana dia mau jadi wakil Jakarta? HAHAHA... ;-) Tapi, Jen, Alice Norin kan juga nggak ikutan pemilihan Putri Indonesia, jadi kesempatan menang masih ada :p*

Alternatif ke-3, menambahkan elemen kognisi baru yang menjustifikasi perilaku, tampaknya merupakan solusi awal yang diambil Qory. Elemen yang ditambahkannya itu adalah "dosa" favorite sang iblis di sini... hehehe... vanity ;-) Dia menambahkan elemen kognisi bahwa rambut adalah keindahan wanita yang harus ditunjukkan, sehingga menutupnya dalam kontes ini adalah dosa besar! Elemen kognisi ini membuat ia mantap meninggalkan budaya daerah istimewa yang diwakilinya ;-)

So, sorry to say, girl, what you claimed as "jawaban yang salah karena grogi" looks perfectly like a simple slip of the tongue ;-)

Sekali menabur angin, maka akan selalu menuai badai. Demikian juga slip of the tongue ;-) Tertempa badai kritik, Neng Qory pun semakin piawai menambahkan elemen kognisi baru. Mungkin karena sudah sempat konsultasi dengan para ahli ;-)? Elemen kognisi baru yang ditambahkannya, seperti terlihat pada wawancara di Kompas, adalah: hak azasi manusia ;-)

Bukan main ;-)!

Dia tidak menyadari bahwa omongannya tentang hak azasi ini sebenarnya terlihat double standard. Dia bicara tentang hak azasinya memilih berjilbab atau tidak berjilbab. Tapi... apakah dia sadar bahwa ia melanggar hak azasi banyak warga/keturunan Aceh yang pro-syariat Islam? Apa dia sadar bahwa ia mempermalukan warga/keturunan Aceh yang bertahun2 memperjuangkan diperbolehkannya menerapkan syariat Islam di daerah istimewa mereka? Thanks to Qory dan hak azasinya, bukan tidak mungkin sekarang banyak orang akan mencemooh NAD ;-) Nilai2 yang diperjuangkan di NAD toh dilecehkan oleh wakilnya sendiri dengan alasan hak azasi ;-)

Dan... bicara tentang hak azasi, memangnya siapa yang meminta Qory jadi Wakil NAD? Apakah NAD nggak punya calon lain selain Qory? Atau NAD merasa harus ikut kontes itu sehingga mau diwakili siapa pun? Sebenarnya yang butuh ikut kontes Putri Indonesia itu Qory atau NAD sih? Hehehe... Kok jadi kayaknya Qory itu berbaik hati sekali mewakili NAD, sehingga NAD harus terima apa pun syaratnya supaya Qory "berkenan" mewakili ;-)

So, bicara tentang "salah menjawab", menurut gw klarifikasinya si Qory ini juga masih merupakan bentuk "jawaban yang salah" ;-) Wong memang nggak ada yang mempermasalahkan dia [sebagai individu] pakai jilbab atau enggak. Yang dipermasalahkan adalah karena dia tidak mengenakan jilbab saat mewakili NAD ;-)

I guess the Aceh's clerics have their point saying "Miss Indonesia Shames Us All". Bukan karena mereka mau memaksakan bahwa semua perempuan [keturunan] Aceh harus pakai jilbab dan menerapkan syariat Islam dimana pun. Toh, si Nova Eliza itu juga dari Aceh kan? Dan gw nggak pernah dengar ulama Aceh meributkan ketiaknya Nova Eliza yang kelihatan dimana2, dan boobs-nya yang selalu tercetak jelas dalam balutan kaus ketat... hehehe... Soalnya Nova Eliza tidak menyebut diri Wakil NAD, apalagi menggunakan keacehannya untuk mencapai tujuan pribadi ;-)

***

Dan hal inilah yang membuat gw teringat pada dongeng HC Andersen di atas. Menurut gw, orang yang menghalalkan segala cara untuk kesenangannya pribadi, adalah orang yang nggak punya integritas ;-) Dan dalam kasus ini, sorry to say, menurut gw Qory adalah orang seperti itu. The princess by title, indeed, but not the princess who cannot sleep when there is a pea under her piles of twenty matresses ;-) Not the real princess ;-)

Dalam lomba yang berbeda, skala yang berbeda, gw pernah melihat pameran integritas yang bertolak belakang dengan apa yang dilakukan Qory. Persis dengan Qory, dalam lomba yang "cuma" rebutan rumah seharga 1M seorang teman dihadapkan pada tantangan yang berat bagi dirinya. Tantangannya adalah mencari koin dalam daging sapi yang sudah disembelih. Tantangan yang biasa2 aja kan? Tapi coba letakkan dalam sistem nilai umat Hindu dan wakil provinsi Bali yang rata2 masyarakatnya menganut agama Hindu ;-)

Well, sampai sekarang gw juga nggak yakin bahwa si teman ini beragama Hindu... hehehe... Tapi yang jelas dia mewakili Bali. Dan dengan mantapnya saat itu dia mundur dari tantangan itu, karena, "... tidak mau menyakiti masyarakat Bali yang saya wakili". Padahal, tanpa memenangkan tantangan tersebut, kelanjutannya dalam lomba ini berada di ujung tanduk!

Now, that's what I call an integrity ;-) Tetap berada di jalan yang "benar", tidak membenar2kan apa yang nggak benar... hehehe.... Ini yang dibutuhkan dari seorang "putri Indonesia sejati", menurut gw ;-)

***

Well, in her defense, menurut gw Qory bukan satu2nya yang bersalah dalam kasus ini. After all, she's just 18. Orang dewasa di sekitarnya ikut andil bersalah.

Pembesar yang memberi ijin baginya untuk mewakili NAD tanpa pakaian tertutup jelas salah. Pembesar tersebut berarti tidak cukup peka terhadap nilai2 masyarakat yang dipimpinnya sendiri.

Tapi Yayasan Putri Indonesia juga salah. Malah salahnya jauh lebih besar. Mestinya, kalau mereka lebih peka terhadap hal2 seperti ini, udah nggak perlu lagi lah bikin kuota bahwa finalis harus mewakili provinsi2 tertentu. Tetapkan aja jumlah finalisnya berapa, lantas semua orang boleh memperebutkan jumlah kursi tersebut.

Ide bahwa seorang finalis bisa mewakili provinsi tertentu berdasarkan garis darah semenda, tempat lahir, atau tempat dibesarkan, sudah cukup bagus. Tapi harus dites lagi apakah benar2 menghayati nilai yang dianut provinsi yang akan diwakilinya tersebut. Apakah benar2 mengerti, paham, dan "dekat" secara emosional dengan provinsi tersebut. Pendeknya, harus dipastikan apakah ia akan mewakili suatu provinsi karena kecintaannya pada provinsi tersebut, atau sekedar mau menunggangi provinsi tersebut agar tercapai cita2nya jadi cewek ngetop... hehehe...

Dan... dengan tidak membuat kuota, gw rasa akan memicu putri2 daerah untuk lebih tampil bersaing. Nggak seperti sekarang, rata2 yang bersaing ya anak2 Jakarta juga - cuma ditempeli selempang provinsi yang berbeda2 :)

Sistemnya harus lebih mirip Miss Universe: negara apa pun bisa tampil, asal mau mengikuti peraturan (yang salah satunya adalah mengikuti kontes baju renang). Nggak pakai kuota bahwa harus ada wakil dari seluruh negara di dunia. Siapa yang merasa nggak cocok dengan aturannya, nggak harus ikut. Toh, Miss Universe nggak sok main kuota2an dengan mengharuskan ada Miss Afghanistan atau Miss Iran di kontesnya kan ;-)?

So... that's my first plea for the next Pemilihan Putri Indonesia ;-) Jangan ada lagi kuota2an yang kesannya keadilan sama rata sama rasa, tapi malah membuat keadilan semu itu. Biarkan saja semua putri berlomba, ambil 33 yang terbaik, regardless provinsinya. Jangan membuka kesempatan orang2 untuk mewakili provinsi yang tidak ia junjung nilai2nya.

And the 2nd plea regarding the princess.... nasi memang sudah jadi bubur. Tapi bubur biar enak bisa ditambah cakwe dan suwiran ayam kan ;-)? Nah, supaya bubur ini lebih enak, dengarkan keberatan NAD ini, dan tunjukkan empati dengan tidak mengikutsertakan Qory di ajang Miss Universe. Tamparan terhadap budaya Aceh akan lebih besar lagi jika si Nona tampil setengah telanjang di ajang itu... hehehe... Runner up-nya bisa menggantikan Qory, kalau boleh oleh panitia MU. Tapi kalau enggak.... well, nggak ikutan satu pemilihan toh nggak apa2 ;-) Masih ada tahun2 depan, toh?