Monday, September 04, 2006

Blotch of Impatience

OK, entry ini adalah oleh2 dari Yogya. Hari terakhir perjalanan, gw dan teman2 makan malam di garden-restaurant Sogan Village di utara kota (ancer-ancernya dari Hyatt Yogya lurus aja ke utara, sampai wilayah Rejodani. Kalau jalan mentok, belok kiri. Hati2 jalannya kecil!). Resto ini masih hangat2nya; masih soft opening, baru buka bulan Juli 2006. Resto ini sebenarnya pengembangan dari Sogan Batik; sebuah workshop batik sekaligus butik. Memanfaatkan bangunan joglo tak terawat di depan workshop, serta 4,000 meter persegi tanah di belakangnya, Sogan Village kini menjadi salah satu cagar budaya swasta.

Well.. kalau soal makanannya, karena kemarin kami beli yang buffet, rasanya STD saja (entah ya, kalau coba a la carte-nya, kata beberapa teman sih enak). Tapi tetap saja gw puas banget menghabiskan waktu di situ, karena gw bisa bernostalgia mengenang masa kecil. Gimana enggak, bangunan joglonya persiiiiis banget nDalem Sastrokaranan di Serengan, Solo, tempat gw menghabiskan masa balita gw. Lantainya dari semen, tiang-tiangnya dari jati, ornamen yg tepat di tengah atap joglo masih asli, dan.. pintu joglonya masih dari jati yang berat. Persis seperti ndalem-nya eyang, sebelum pakde gw memberinya lantai keramik dan mengganti pintu jati dengan kaca bening. Satu aja kalahnya dari rumah eyang: bangunan di Sogan Village ini sudah tidak punya Petanen (=ruang kecil berukuran sekitar 2x1m yang dipersembahkan untuk Dewi Sri, dewi kemakmuran), yang sebenarnya merupakan pusat dari rumah berarsitektur Jawa.

Sambil santap malam, kami disuguhi Tari Gambyong dan Tari Bondan. Ini adalah nostalgia lain buat gw, karena Tari Bondan adalah tarian kesukaan gw waktu kecil. Dulu gw gak sabar menyelesaikan pelajaran Tari Serimpi, karena pingin segera belajar Tari Bondan. Gw selalu takjub dengan tarian yang dilakukan di atas kendi ini.

Namun, nostalgia gw yang paling utama adalah.. MEMBATIK!

Yup! Melewati lapangan luas di belakang joglo, tepat di beranda bangunan workshop yang berbentuk limasan, tamu2 boleh ikut belajar membatik. Waktu kami berkunjung, ada 3 pembatik yang masih bekerja, sekaligus siap membantu kami belajar. Begitu gw duduk di depan mereka, gw diberi selembar kain kecil seukuran saputangan yang sudah digambari pola. Dan membatiklah gw bersama mereka.

Membatik bukan hal baru buat gw. Jaman SMA dulu, gw pernah belajar membatik di sekolah (hehehe.. ini the privilege for anak IPS dan Bahasa di sekolah gw ;-)). Pelajaran ini dulu sangat gw sukai karena dua hal: satu, karena gw memang suka belajar budaya terutama budaya Jawa, dan dua, karena kegiatan ini sangat menenangkan.

Iya, membatik itu adalah kegiatan yang nikmat dan menenangkan. Kita nggak akan bisa membatik kalau kita nggak tenang dan sabar. Canting (=alat membatik) itu sangat sederhana tanpa katup pengatur keluarnya cairan malam (= wax/lilin yang dipakai untuk menutup pola yang belum ingin diwarnai). Jadi si pembatik harus benar2 tenang, tidak boleh terburu2 mengangkat canting dari wajan berisi cairan malam, dan harus membawa canting itu pada sudut kemiringan yang tepat sebelum menggoreskannya di atas kain. Kalau nggak sabar, kalau buru2, maka bisa dipastikan cairan malam itu akan menetes dan membentuk noktah2 tak indah di atas kain.


Photobucket - Video and Image Hosting


Hehehe.. hasil membatik gw kemarin awal2nya sama sekali nggak cantik. Mbleber kemana2. Ada yg mbleber saat gw diteriakin teman2 disuruh makan, sementara gw ngeyel mau menyelesaikan satu bagian itu dulu, jadinya buru2. Ada yg mbleber karena nggak sabar nungguin malam cair itu agak mengeras sebelum diangkat dari wajan. Ada yg mbleber karena gak sabar ngangkat canting pada sudut kemiringan tertentu; begitu tangan bergerak, netes deh tuh malam ke kain. Tapi overall, cukup rapi deh, untuk ukuran orang yg udah lama nggak ngebatik. Dan extra rapi deh, untuk ukuran orang yg nggak sabaran kayak gw.. ;-).

Kalau untuk motif batik modern, kecelakaan seperti ini bisa disamarkan dengan menjadikannya bunga atau bentuk lain. Tapi.. kalau motif batik klasik kan gambarnya kecil2 dan rapat2. Dan sudah jelas pakemnya. Mana bisa disamarkan? Memang sih, noktah2 itu bisa dibersihkan. Tinggal dicongkel pakai pisau panas, lantas digambari lagi. Cuma.. ya kalau di batik klasik, ngilangin satu noktah itu berarti juga harus ngulang bagian yang cukup besar. Kayak kalo nge-cat mobil aja, yang lecet bagian pintu bawah, nge-catnya harus satu pintu biar rapi.

Repot kan? Padahal, menggambari kain dengan lilin ini baru bagian pertama dari membatik! Setelah pola digambari dengan lilin, masih harus diwarnai berkali2. Nah.. kalau nggambarnya aja udah nggak beres, kapan selesainya tuh kain? Nggak salah deh kalau ada desain t-shirt di Yogya yang bertuliskan: MBATIK-these women make money out of their patience.

Membatik, memang masalah kesabaran. Hanya dengan kesabaran bisa menghasilkan batik yang rapi. Kalau nggak sabar, ya yang muncul adalah noktah2 yang tidak indah. Noktah2 ketidaksabaran.

Hmm.. bisa nggak ya gw balik menjadi: dengan membatik, kita melatih kesabaran? Harusnya bisa ya.. bukankah Aristoteles bilang bahwa sifat adalah kebiasaan yang diulang2 ;-)? Siapa tahu kalau menghidupkan kembali hobby membatik, gw bisa jadi lebih sabar.. hehehe..

So.. jangan kaget ya, kalau kemarin di Yogya gw sempet2in beli kompor kecil untuk membatik. Harganya cuma Rp 7,500, tapi gw muter kota mencarinya. Kalau canting dan malamnya sih gw udah punya sejak lama, tinggal sogan (=pewarna batik alami) yang gw belum nemu. Kalau ada yg tahu dimana belinya, gw nitip ya ;-).

---

PS: tadinya entry ini mau dikasih judul Noktah Ketidaksabaran, tapi kok kesannya sinetron banget ya ;-). Jadi diterjemahkan ke bahasa Inggris biar gak se-sinetron itu. Lebih puitis kan kedengerannya ;-)?