Saturday, September 19, 2009

Teka-teki Ramadhan

Besok lebaran.

Itu yang gw dengar disepakati oleh dua kekuatan besar Islam di Indonesia: NU dan Muhammadiyah, ketika entry ini gw mulai. Pengumuman resminya baru saja muncul ketika akhirnya gw punya kesempatan menyelesaikan entry ini. Satu acungan jempol buat pemerintah, karena berani "mengaku salah"... hehehe... Nggak memaksakan lebaran tetap sesuai tanggal kalender yang kurang tepat, meskipun itu berarti menjungkirbalikkan semua hitungan [bisnis] di atas kertas. Membuat calon pemudik dan pelaku bisnis kelimpungan mengubah jadwal. Semoga kemampuan mengakui kesalahan ini nggak terhenti pada sesuatu yang bisa dibuktikan saja, melainkan kepada segala jenis kesalahan ;-)

Lebaran beda hari memang bukan sekali ini saja. Dan serba-serbinya kenapa bisa berbeda hari, sudah pernah gw bahas nyaris dua tahun lalu di sini. Nggak akan gw ulang lagi, karena jadinya redundant. Seperti syair lagunya ST 12 yang menurut gw redundant: "melupakanmu butuh waktuku seumur hidup"... ;-) Itu kalimat redundant kan? Mestinya kan cukup dikatakan "melupakanmu butuh seumur hidupku", karena "seumur hidup" itu kata ganti dari "waktu" ;-)

*tapi kapan2 aja kita bahas lagunya ST12... hehehe... Selain ke-redundant-annya, gw pingin komentar tentang tata bahasa juga, sebenernya ;-)*

Kembali ke topik :-)

Bahasan gw dua tahun yang lalu itu gw cari lagi ketika menemukan sebuah komentar di status FBnya Jeng Nita Sellya, salah satu dua dari penjaga gawang Lajang & Menikah ;-) Di status itu, ada salah satu yang berkomentar kurang lebih seperti ini:

"Yang gw bingung, sebenarnya Ramadhan itu 29 atau 30 hari? Mosok udah bertahun2 melakukan itu tetap nggak bisa ngambil keputusan sih?"


Untuk menanggapinya, gw terpaksa menjabarkan tentang bedanya kalender Hijriyah dari kalender Gregorian, dimana kalender Gregorian disusun berdasarkan kesepakatan mengakumulasikan 1/4 hari putaran bumi menjadi 29 Februari setiap 4 thn. Sementara dalam kalender Hijriyah, penampakan bulan secara asli menjadi hal yang penting untuk menentukan waktu, sehingga kita nggak pernah tahu kapan Ramadhan 29 hari, kapan Ramadhan 30 hari.

Bottom line: pengalaman has nothing to do dalam menentukan jumlah hari puasa dari tahun ke tahun.

Eh... baru setelah gw menuliskan kalimat terakhir itu, gw menyadari betapa hebatnya teka-teki Tuhan bernama Ramadhan ini ;-)

Gimana Ramadhan ini bukan teka-teki yang hebat, coba? Kewajiban puasa Ramadhan adalah salah satu Rukun Islam yang harus dilakukan oleh semua Muslim. Tapi.... Tuhan tidak pernah menentukan jumlah hari tepatnya, dan malah menyuruh kita untuk memperhatikan posisi bulan sebagai tanda mulai dan tanda berakhirnya.

Di satu sisi, memang hal ini kayaknya merepotkan dan "nggak organized" banget. Sampai2 berpengalaman 1000 thn puasa pun mungkin belum tentu bisa menguraikan polanya kapan harus 29 hari, kapan harus 30 hari.

Tetapi.... di sisi lain, bukankah ini membuat kita harus selalu "ingat" pada alam?

Setahun sekali, Tuhan mewajibkan kita untuk berhenti menggunakan logika dan perhitungan. Melihat fenomena alam sebagai gantinya. Sebagaimana dulu manusia2 sebelum kita melihat arah matahari untuk menentukan jam - jauh sebelum Tag Heuer, Swatch, Seiko, dan teman2nya mulai bikin jam fancy. Melihat posisi Gubuk Penceng dan gugusan bintang2, sebelum Garmin comes into business.

Setahun sekali, Tuhan membuat kita melupakan semua itu. Dan... karena pelaksanaan kewajiban kita tergantung pada apa yang kita lihat di alam, bukankah secara tidak langsung hal itu membuat kita lebih memperhatikan kesejahteraan alam? Karena kalau alam rusak, bulan tak tampak, maka kewajiban kita terganggu.

Gw terpesona pada bagaimana Tuhan telah mengkondisikan kita untuk tetap menjaga alam ;-) Sayang ya, kita mungkin kurang memahaminya ;-) Jika tidak, tentu green movement dan segala gerakan cinta lingkungan itu tidak perlu, karena kita semua sudah menjaga alam supaya tetap mampu menjadi tanda2 bagi kita.

Anyway, Selamat Idul Fitri, semua! Mohon maaf atas segala kesalahan selama ini. Semoga dengan datangnya hari yang fitri ini, segala kesalahan kita mendapat "pemutihan" ;-)

Buat tahun depan... jangan lupa hilal dilihat2 ya, sebelum bikin jadwal cuti ;-)