Saturday, November 21, 2009

I Vote for Nasruddin Hoja

Ibu Minah tidak jadi dipenjara. Kasusnya dihentikan, hakimnya menangis. Alhamdulillah :-) Really appreciated it, Pak Hakim ;-)

Untuk saat ini gw merasa cukup lega bahwa kasus berakhir dengan baik. Tapi.... mungkin karena gw terlalu banyak nonton CSI, dan baca buku2nya Michael Connelly, kegeraman gw tetap bertahan. Geram pada sistem yang menurut gw melakukan suatu kekonyolan, kalau tidak dapat dikatakan kebodohan atau kesengajaan. It's one thing to let those with money become above the law... but.... it's another thing to help those with money to crush the poor!

Gw menuangkan uneg2 itu di status Facebook. Alasannya sederhana: FB is more accessible. Statusnya bisa dimutakhirkan langsung dari HP akyu... ;-) Lagian, FB kayaknya masih jauh dari pemblokiran, tidak seperti blogspot yang diblokir ini.

Dan.... sesuai fungsinya sebagai jejaring sosial, status gw itu segera mendapatkan beragam komentar. Ada 2 orang yang memberikan tanggapan menarik. Eye opener comments, thanks to both of you ;-) Komentarnya kurang lebih begini:

Menurut saya gak ada yang salah di Kepolisian, hakim, atau jaksa. Sudah tugas mereka untuk memproses semua pelanggaran hukum, sekecil apapun itu. Yang kurang ajar adalah perusahaan itu yang tega melanjutkan kerugian 3 biji kakao ke proses hukum. Benar2 tidak mempunyai hati nurani, dia buta dan gak sadar bahwa bisnisnya hanya bisa hidup dan eksis di tengah2 orang2 seperti bu Minah dan tidak bisa membedakan mana yang layak dilanjutkan ke proses hukum dan mana yang tidak. Polisi di daerah yang menerima laporan dari perusahaan besar mana berani menolak untuk tidak memprosesnya. Kalau mau kasus ini diperpanjang perusahaan itu perlu diselidiki jangan2 penyelenggaraan hukum disana sudah mereka beli..

(dari Kak Aladin)

Abu2 sih ini, kalau waktu bu minah diterima kerja sudah diberitahu tidak boleh memetik buahnya, jelas itu pelanggaran. mungkin bu minah terlalu lugu? kalau ini kasusnya, memang si pengadu yg kurang bijak.Kalau jaksanya, jgn2 dia sudah cukup bijak dengan menuntut seringan2nya?

(dari Hans)



Hmmm... setuju sih sama mereka berdua bahwa - ditinjau dari segi kemanusiaan - sebenarnya yang paling layak dirajam hidup2 adalah mereka yang memperkarakan Bu Minah. To some extent, polisi dan jaksa "hanya melakukan tugasnya". Cumaaaa.... mungkin karena gw selalu mengerahkan daya upaya gw dalam bekerja, gw sulit sekali menerima alasan "hanya melakukan tugasnya" :-) Mereka toh bukan robot2 bodoh yang nggak punya pilihan, yang bisanya cuma memproses syntax dari si operator saja.

Atau... jangan2 mereka memang robot ;-)?

Dari segi bisnis, gw malah nggak terlalu menyalahkan perusahaan yang memperkarakan Ibu Minah. What can you expect? They are looking for profit, even when they have to crush poor people for that. Sah2 aja bagi pebisnis kalau isi kepalanya cuma untung rugi toh? Tapi.... jaksa dan polisi itu kan bukan businessman. Mereka aparat negara, yang tugasnya melindungi SELURUH RAKYAT Indonesia. Mereka bukan satpam gajian perusahaan, yang mesti menuruti apa maunya perusahaan.

For that reason, I cannot understand why they even made a case out of this. OK, memang benar komentar lanjutan Kak Aladin:

Maya, logika kita memang mengatakan itu bukan pencurian, karena belum diambil, tapi KUHP kita gak seperti itu, jangankan memetik, memasuki tanah pribadi orang lain tanpa ijin saja sudah masuk kategori pidana.

(dari Kak Aladin)


Tapi... KUHP yang sama, Pasal 362 yang digunakan menjerat Bu Minah, juga mengatakan dengan jelas bahwa:

Barang siapa mengambil barang sesuatu, yang seluruhnya atau sebagian adalah milik orang lain, dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum, diancam dengan pencurian, dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana denda paling banyak sembilan ratus rupiah


Yaaah.... mungkin gw emang kebanyakan nonton CSI dan baca novelnya Michael Connelly ya... hehehe.... Karena dengan kata2 seperti ini, menurut gw sih banyak pilihan bagi polisi dan jaksa untuk tidak memperkarakan ini ke pengadilan.

For once, mereka bisa mempertanyakan apakah Bu Minah memang berniat melanggar hukum. Dilihat dari berita ini, ada kutipan yang menarik:

Minah pun mengatakan jika buah kakao yang dipetiknya akan dijadikan bibit. Setelah mendengar penjelasan Minah, Tarno mengatakan, kakao di kebun PT RSA 4 dilarang dipetik oleh masyarakat. Dia juga menunjukkan papan peringatan yang terpasang pada jalan masuk perkebunan. Dalam papan tersebut tertulis petikan Pasal 21 dan Pasal 47 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2004 Tentang Perkebunan, yang menyatakan bahwa setiap orang tidak boleh merusak kebun maupun menggunakan lahan kebun hingga mengganggu produksi usaha perkebunan. Minah yang buta huruf itupun segera meminta maaf kepada Tarno sembari menyerahkan tiga butir buah kakao tersebut untuk dibawa mandor itu.



Heeey.... kita sedang membicarakan Minah yang buta huruf, bukan? Minah yang memetik kakao untuk dijadikan bibit dengan terang2an tanpa sembunyi2? Minah yang baru diberi tahu bahwa perbuatan itu dilarang setelah terlanjur melakukannya? Lantas... apakah Pasal 362 itu berlaku surut, sehingga kalau orang ditegur setelah melakukan suatu kesalahan (yang tidak dia ketahui sebagai kesalahan) bisa dianggap melakukan dengan sengaja?

Setahu gw, suatu perbuatan tidak sengaja yang dapat dikenai pasal hukum adalah sesuatu yang membahayakan nyawa orang lain. Gw sih belum pernah dengar bahwa mencuri dapat dihukum karena ketidaktahuan... hehehe... Kecuali kalau bisa dibuktikan bahwa Bu Minah sudah tahu dan sengaja melakukannya.

Lagian, yang ditunjukkan si mandor itu kan mengatakan "Pasal 21 dan Pasal 47 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2004 Tentang Perkebunan, yang menyatakan bahwa setiap orang tidak boleh merusak kebun maupun menggunakan lahan kebun hingga mengganggu produksi usaha perkebunan". Coba deh, bagaimana memetik 3 buah kakao dapat dikategorikan merusak kebun hingga mengganggu produksi ;-)?

Adalah hak si pemilik perkebunan untuk memperkarakan hal ini, meskipun menurut gw tindakan ini adalah kekonyolan (kalau tidak dapat dikatakan sebagai kebodohan). Tapi.... polisi dan jaksa menurut gw punya pilihan untuk tidak memperkarakan. Mereka kan memang HARUS menyidik Bu Minah terlebih dahulu untuk mendapatkan fakta dan pengakuan. Naaah... dalam proses ini, bukankah terungkap bahwa Bu Minah ini orang sederhana yang bahkan tidak bisa baca tulis? Orang sederhana yang bahkan tidak tahu perbuatannya salah? Should we punish her for being uneducated?

Polisi dan jaksa punya pilihan untuk talk the company's language untuk melindungi Bu Minah.
Mereka bisa mulai dengan mengatakan bahwa kalaupun diperkarakan paling2 si perusahaan cuma dapat ganti rugi Rp 900. Bayangkan sebuah perusahaan harus menghadapi kasus hukum "cuma" untuk dapat Rp 900, gw yakin tidak ada satu pun pebisnis yang menganggap itu worth it.

Mereka bisa menyitir cerita tentang Nasruddin Hoja dan Harga Asap. Cerita tentang bagaimana seorang pemilik warung menuntut bayaran dari seorang miskin yang mencium aroma masakannya. Nasruddin Hoja menyelesaikannya dengan bijak; dengan menggerincingkan dirham di telinga si pemilik warung. That's the price for aroma. Ini kutipan yang gw suka banget dari cerita itu:

"Ini keputusan yang adil. Kamu kan hanya menjual asap sate. Maka bayarannya adalah gema suara dirham," jawab Nasruddin.


Itu baru kalau bicara dengan metafora sederhana. Belum bicara bahasa hukum ;-)

Hans mengajukan komentar penutup yang cukup menarik:


Aparat hukum memang idealnya tidak bijak mbak... Ingat patung buta megang timbangan?


Hehehe... unfortunately I don't agree with you, Hans ;-) Justru menurut gw patung Dewi Keadilan yang Menutup Mata itu menunjukkan kebijaksanaan ;-) Bahwa dia harus memperhitungkan semua fakta sebelum mengayunkan pedangnya. Memperhitungkan segala kemungkinan, memperhitungkan segala faktor. Dalam penutup matanya, dia tidak dapat menerima alasan bahwa seseorang "hanya melakukan tugasnya", karena di setiap tugas ada hati nurani yang harus berperan.

Well... dalam kasus ini, gw juga tidak mengatakan bahwa Bu Minah tidak boleh dihukum ;-) Apalagi mengait2kannya dengan kasus lain bahwa pencurian yang lebih banyak pun bisa lolos ;-) She has made a mistake, and she must face the consequences. Gw hanya melihat memperkarakan dia ke pengadilan (meskipun akhirnya tidak jadi dihukum) adalah not proportional ;-)

Sedikit menyitir tulisan gw sendiri tentang Dewi Keadilan:

Makanya, kalau gw sendiri sih nggak mau meributkan masalah keadilan. Karena keadilan itu selalu punya dua sisi. Adil menurut si A belum tentu adil menurut si B. Keadilan yang sebenarnya, gw nggak tahu. Gw rasa keadilan yang sebenarnya baru bisa didapat jika kita menutup mata seperti sang dewi, kemudian membiarkan timbangan dan pedang itu bergerak sendiri. Berharap bahwa hati kita cukup peka untuk menimbang sedekat2nya dengan keadilan yang hakiki, sehingga keputusan mengayunkan pedang adalah keputusan yang sebaik2nya.


Mungkin gw salah... tapi... menurut gw proses menutup mata seperti sang dewi ada di setiap tahapan. Bukan hanya di meja hijau, melainkan juga pada saat si polisi diminta menyidik kasus ini, atau si jaksa diminta memperkarakan kasus ini. And for that reason, it's really hard for me to accept that the police and the prosecutor couldn't be blamed.

Ah, sayang ya.... polisi dan jaksa itu bukan Nasruddin Hoja ;-) Coba kalau polisi atau jaksanya si Nasruddin... hehehe.... dari awal mungkin penyelesaiannya beda. Semua bisa jadi Nasruddin Hoja kok ;-)

Dan ngomong2 soal Nasruddin Hoja, gw dapat undangan bergabung dukung seorang tokoh hukum untuk "reformasi [hukum] total" di FB. Well... undangan itu gw ignore, maaf ya... hehehe... Saat ini gw cuma tertarik untuk mendukung Nasruddin Hoja ... HAHAHAHA...