Tuesday, January 30, 2007

Pledoi Sang Iblis

Dalam paradoksnya yang terkenal, Epicurus mempertanyakan hubungan antara Tuhan dan kejahatan. Kata si filsuf yg [kalau dilihat dari foto patungnya] nggak kurus2 amat ini:

God either wants to eliminate bad things and cannot, or can but does not want to, or neither wishes to nor can, or both wants to and can. If he wants to and cannot, he is weak -- and this does not apply to God. If he can but does not want to, then he is spiteful -- which is equally foreign to God's nature. If he neither wants to nor can, he is both weak and spiteful and so not a god. If he wants to and can, which is the only thing fitting for a god, where then do bad things come from? Or why does he not eliminate them?

Bagi banyak orang yg nggak percaya Tuhan, paradoks ini sering sekali dikutip untuk membuktikan bahwa Tuhan itu nggak ada. Ataupun kalau ada, Tuhan itu nggak bisa apa2. Lebih parah lagi: Tuhan ada, tapi Dia jahat. Contohnya aja orang yg menjadi inspirasi buat si Mbak menulis entry ini ;-)

Naaaah.. waktu lihat buku Iblis Menggugat Tuhan: The Madness of God di TGA Sabtu lalu, gw pikir gw juga akan menemukan bahasan Epicurian seperti di atas. Apalagi teaser di sampul belakangnya udah seiya sekata begitu:

”Kau bilang Adam berdosa gara-gara hasutanku? Kalau begitu, atas hasutan siapa aku melakukan dosa?”

Ternyata, buku ini jauh dari hasutan2 yang mempertanyakan, apalagi memojokkan, Tuhan ;-).

Memang, isinya pleidoi (=pembelaan) terhadap iblis. Namun secara keseluruhan isinya mirip2 dengan The Lost Gospel; sekadar menunjukkan sisi lain, bukan menyalahkan yang selama ini dianggap baik dan benar. Dengan gaya bertutur yang menarik, Daud ibn Ibrahim al-Shawni menjabarkan kemungkinan alternatif tentang keterpurukan iblis: iblis menentang Tuhan sebagai bentuk kecintaan dan pengabdiannya terhadap Tuhan.

*OOT: pas lihat nama penulisnya, Shawni, gw gak tahan untuk nyanyi ala Bunga C Lestari, ”Shawni, Shawni, apa kabarmu? Kabarku baik-baik saja”.. oops.. ;-)*

Seperti Yudas yang berkhianat di Taman Getsemani supaya Yesus bisa menggenapi takdirnya ditangkap, disalibkan, dan menebus dosa manusia, iblis pun menentang Tuhan dan menggoda manusia bak recruitment & selection officer untuk menyaring siapa yang layak masuk surga kelak. Yang gak tahan godaan, gak lulus seleksi. Yang tahan godaan, bisa maju ke tahap selanjutnya. Demikian seterusnya, sehingga tersaringlah orang2 yang memang layak dapat bintang ;-)

”Kusesatkan mereka yang diperintah Allah; dengan cara ini aku mengabdi sepenuhnya”

(p. 82)

Kalimat yang mbeling, ya? Memang, tapi toh menarik untuk disimak dan direnungkan.

Buat gw, kalimat ini menarik karena bisa menjadi jawaban yang pas banget untuk dilontarkan kepada para pengutip paradoks Epicurus ;-) Inilah jawabannya kenapa Tuhan tidak mengeliminasi bad, evil things.

Iya, gw termasuk yang rada mbeling berpikir bahwa Tuhan sengaja nggak menghilangkan kejahatan dari muka bumi. Malah, mungkin kejahatan iblis sudah ada dalam skenario yang dibuat Tuhan. Bukaaan.. bukan karena Tuhan nggak sayang sama manusia. Bukan juga karena Tuhan iseng dan ingin mengadu domba. Dan tentu saja bukan karena Tuhan gila hormat; menciptakan kejahatan supaya orang berdoa pada-Nya. Tuhan menciptakan iblis (dan dengan itu menciptakan kejahatan) semata2 untuk keseimbangan. Kejahatan diciptakan sebagai pasangan kebaikan. Segala hal di dunia ini berpasangan kan? Supaya seimbang ;-)

Jika tidak ada kejahatan, apakah kebaikan akan terlihat baik? Jangan2 kebaikan malah menjadi sesuatu yang biasa2 saja jika dunia sudah menjadi utopia ;-).

Jika tidak ada kejahatan, apakah kita punya harapan? Bukankah harapan selalu datang dari kebaikan, atau setidaknya persepsi kita tentang kebaikan?

Dan jika dunia sudah penuh dengan kebaikan, sudah menjadi utopia, status quo, masih perlukah kita hidup? Apalagi yang perlu dilakukan manusia, jika sudah tidak ada apa2 yang harus diperjuangkan?

So.. memang ada yang harus jadi tokoh antagonis dalam dunia ini supaya hidup lebih hidup. Dan masuk akal juga buat gw kalau iblis, sang tokoh antagonis, meng-claim dirinya melakukan kejahatan dalam rangka mencintai dan mengabdi pada Tuhan. Ada banyak cara mencintai dan mengabdi, toh? Menunjukkan cinta dengan cara menjadi pasangan yang dedicated to, atau bahkan devoted to, mungkin mudah2 saja. Tapi.. it sounds so sexy menunjukkan cinta dengan cara menjadikan dirinya tumbal demi kemuliaan Yang Dicintainya ;-).

Aneh? Mungkin. Tapi, seperti kata the devil himself:

”Logikamu tak mampu mengukur, apalagi menjelaskannya. Tahanlah diri, karena tak sanggup kau cerna”

(p.12)

Still, gw ingat kata pengantar dari Majalah Gatra untuk buku ini: novel ”nakal” yang apabila tak dibaca hati-hati bisa menggelincirkan. Oleh karena itu, gw sudahi saja tulisan ini sampai di sini. Sebelum makin banyak orang yg percaya bahwa iblis itu sebenarnya mencintai Tuhan, hanya saja caranya tidak biasa ;-).

Gw sarankan aja untuk pada baca buku ini, deh. Highly recommended! Isinya penuh dengan ungkapan cinta pada Tuhan, jadi cocok2 aja dibaca oleh mereka yang gak percaya bahwa Tuhan menciptakan [kejahatan] iblis on good purpose ;-). Sementara buat mereka yang sok tahu dan sok kritis [iya, iya, termasuk gw ;-)], it will be amazing to read the words of love towards God coming from the mouth of the devil himself ;-).

UPDATE 1 Februari 2007:

Pas nge-Wiki Shawni tadi, gw baru tahu bahwa buku ini sebenarnya merupakan bagian trilogi yang sebaiknya tidak dibaca terpisah. Sempat diterbitkan di Indonesia tanpa sepengetahuan Shawni, dan bikin dia mencak2 karena yg dua lagi tidak diterbitkan sehingga konteks ceritanya gak jelas. Ck, ck, ck.. kok bisa sih, menerbitkan secara resmi dan dipasarkan resmi di toko buku, tapi gak pakai ijin si penulis? Negara yang aneh! *geleng2 kepala*

UPDATE 6 Februari 2007:

Some of you might've noticed this comment yesterday. Yup! It is really from Da'ud Shawni himself, the author of the book *hihihi.. malu gak sih gw, udah nyanyi2 ternyata yg punya nama baca ;-)* He is a blogger too. Click that link to read his blog, or directly click this and this to access his comment about the other reviews of the book. And.. the word "trilogy" might not suit his work. It's better to call it triptych (= a work of art divided into 3 sections), like the author calls it in his blog.

Friday, January 26, 2007

Das Ende des Lebens

"Mampus gw! Jatuh deh nih pesawat!"

Itu perasaan gw ketika pesawat jenis ATR 42 (baling2, bo!) yang gw tumpangi terbang rendah di antara dua gunung. Riak2 air laut terlihat jelas sekali dari jendela pesawat. Tadinya gw pikir itu halusinasi, tapi tiba2 pesawat melintas rendah sekali di atas sebuah pulau bulat kecil yang [ibaratnya] bisa gw hitung jumlah semut yang berbaris di atasnya.. hehehe.. Bikin gw berpikir: duh.. gw bakal tenggelam di laut, nabrak gunung, atau seberuntung2nya bisa mendarat di pulau bulat kecil itu. Mulut gw langsung komat-kamit baca doa memohon ampun Yang di Atas. Hehehe.. dasar manusia, kalau udah ngerasa ajal dekat baru deh inget Tuhan ;-)

Memang, naas Adam Air di hari pertama 2007, ditambah berita tsunami di perairan Manado saat menikmati transit 1 hari di Kupang, bikin gw rada2 parno. Belum lagi nama kota tujuan gw, Ende, yang persis sama ejaan maupun lafalnya dengan sebuah kata dalam Bahasa Jerman: das Ende, yang berarti "akhir". Doooh.. tambah parno kalau perjalanan ke Ende ini menandai meines Lebens Ende, alias akhir hidup gw.. hehehe.. Tapi alhamdulillah, sejurus kemudian pesawat mendarat dengan selamat di bandara H Hasan Aroeboesman.

Turun dari pesawat, mata gw langsung dimanjakan oleh pemandangan indah luar biasa! Bagian utara dan selatan dipenuhi gunung, sementara bagian timur langsung terlihat pantai. Belakangan, dalam perjalanan, gw melihat bahwa laut juga ada di bagian barat kota. Cantik sekali!

Di hari2 berikutnya, setiap kali mengelilingi kota, pikiran yang sama terlintas di kepala gw: Bagaiman
a, ya, perasaan Bung Karno ketika diasingkan di Ende? Bisakah pemandangan seindah ini membuatnya kerasan walaupun jauh dari tanah Jawa dan hidup dikelilingi malaria? Atau jangan2 sang seniman besar ini malah rela menghadapi Das Ende des Lebens, akhir kehidupan, lantaran keindahannya? Buktinya, justru di bawah naungan sebatang pohon sukun beliau mendapatkan inspirasi bagi masterpiece-nya: Pancasila.

*Eh, gw ngomong gini kedengarannya patriotik banget, nggak? HAHAHAHA.. Padahal, jaman tahun 30-an, pas Bung Karno dibuang ke sana, kan Pulau Jawa juga masih indah, kaleee.. Belum ketutup gedung2 sebanyak ini ;-)*

Anyway, soal akhir kehidupan ini, sedikit banyak nyambung juga dengan legenda Ende. Konon, kota Ende terbentuk di ujung sebuah tanjung kecil di Pulau Flores, lantaran kisah cinta yang berakhir tragis. Seorang gadis cantik bernama Ia dijodohkan dengan pemuka adat bernama Wongge. Namun, Ia memilih lari dengan kekasihnya. Wongge yang merasa dipermalukan mengejar sepasang kekasih ini hingga terdesak. Dipenggalnya kepala kekasih Ia dengan parang. Potongan kepala itu berakhir menjadi Pulau Koa, pulau bulat kecil di timur pantai Ende yang gw lihat dari jendela pesawat. Parang pemenggal kepala itu menjadi Pulau Ende, pulau panjang di barat pantai kota Ende. Pemuda kekasih Ia menjadi Gunung Meja di selatan kota (nyaris di ujung tanjung), sementara Ia menjadi gunung berapi yang tersembunyi di belakang Gunung Meja. Wongge sendiri sendiri menjadi pegunungan kukuh di utara kota yang seolah menghalangi Ende dari the rest of Flores.

Akhir cerita yang tragis romantis ;-). Buat yang suka romantis2an dan pengagung jargon love is stronger than anything in this world, mungkin kisah ini bisa dijadikan maskot tentang betapa cinta akan menghasilkan sesuatu yang indah. Setragis apa pun cinta itu, hasilnya akan indah. Seperti kota Ende yang terbentuk dari cinta segitiga tragis ;-)

Well.. memang itu hanya cerita rakyat. Tapi gw takjub dengan akurasi topografinya. Seolah2 Meja memang melindungi kekasihnya Ia dari kemarahan Wongge, menyembunyikannya dari tatapan Wongge di belakang punggungnya. Dan kalau Wongge yang di utara itu membuang parangnya ke barat, berarti dia memegangnya dengan tangan kanan, alias nggak kidal.. hehehe..

*Oops, sorry, mikirin serius legenda rakyat ;-) IMO, setidaknya, legenda ini lebih masuk akal daripada Sangkuriang yang selalu bikin gw bingung: kenapa perahu yang dia bikin lebih besar daripada danaunya.. hehehe.. Iya, kan? Gunung Tangkuban Perahu lebih besar daripada danaunya? Pasti kemampuan spasialnya Sangkuriang jelek, mungkin pas sekolah Sangkuriang nilai geometrinya pas2an ;-)*

Anyway, beberapa sudut kota Ende gw abadikan dalam foto berikut. Sayang, mentari terbenam di Woloweku serta di Pelabuhan Ipi justru tidak bisa ditampilkan lantaran hasil pemotretannya terlalu gelap. Padahal, dua tempat ini menyajikan pemandangan yang [menurut gw] terbaik. Dan sayang juga, gw tidak sempat menyaksikan Danau Kelimutu lantaran terbatasnya waktu. Tapi, seperti kata Mas Arnold Suasana-seger di The Terminator, "I'll be back!". Suatu hari gw pingin kembali ke Ende untuk melihat2 apa yang belum sempat gw lihat ;-)






Kalau gambarnya gak muncul2, sabar ya.. loadingnya agak lama ;-)

***
Barangkali, lantaran hidup di kota yang seindah dan senyaman ini, masyarakatnya juga terbentuk menjadi masyarakat yang ramah, polos, dan tidak penuh kecurigaan. Saat pertama kali teken kontrak untuk proyek ke Ende ini, gw sempat browsing internet mencari informasi tentang kota yang [buat anak kota besar manja macam gw ini] masuk kategori in the middle of nowhere. Seluncuran maya gw mendarat di blog Bang Ooyi, alias Mohamad Choiry Rodja, putra asli Ende yang sangat bangga akan kotanya. Dalam perkenalan pertama, Bang Ooyi dengan baik hati langsung putar2 kota mencarikan informasi penginapan yang layak. Bahkan sampai kehujanan! Pun, dia langsung memberikan nomor hape miliknya dan milik sahabatnya untuk dihubungi sewaktu2. Sebuah bentuk keramahan yang tidak biasa gw alami di Jakarta. Terus terang, membuat gw sedikit jengah dan bingung bersikap. Kehidupan Jakarta yang keras membuat gw sangat hati2 memberikan informasi pribadi kepada orang lain, apalagi yang belum pernah bertemu muka.

Waktu itu, gw pikir, ini hanya keramahan seorang individu. Mungkin disebabkan karena antusiasmenya menyambut pertanyaan tentang kota kebanggaannya. Namun, ternyata, sikap yang sama gw temukan dalam berbagai bentuk selama gw berada di Ende. Mulai dari salah satu responden yang dengan entengnya menyerahkan KTP pada field supervisor gw untuk difotokopi (dan baru dikembalikan seminggu kemudian, pas pelaksanaan FGD!), pemilik kedai makan yang dengan entengnya menyuruh gw bayar besok saja lantaran dia belum punya kembalian untuk uang Rp 50,000 yg gw sodorkan, sampai pemilik penginapan yang bahkan didn't bother to register my name upon my arrival (Hehehe.. asli! Kalau gw kabur gak bayar, Ibu Ida ini juga nggak bakalan tahu, kali! Lha wong gw gak tercatat ;-)).


Yang paling menakjubkan adalah reaksi responden terhadap konsep yang gw ujikan dalam Focus Group Discussion. Salah satu bagian dari konsep itu kurang lebih berbunyi: "Hal ini telah menyebabkan rata2 setiap harinya sejumlah X orang meninggal". Di tiga kota sebelumnya (dua di Jawa dan satu di Sumatra, ketiganya tentu lebih besar daripada Ende), kalimat ini selalu menimbulkan reaksi keras. Mereka begitu skeptis terhadap pernyataan ini, menganggapnya mengada2, karena menurut mereka jika benar2 terjadi maka daratan Indonesia sudah penuh dengan mayat bergelimpangan. Surprisingly, masyarakat Ende justru tidak punya keraguan apa2 terhadap pernyataan ini. Mereka dengan tepat merasakan nuansa bahaya pernyataan tersebut, tidak sibuk memikirkan kelogisan pernyataannya.

Tampaknya benar kata Bang Pius, salah satu anggota tim kami yang juga asli Ende, "Kalau di Jakarta orang Flores terkenalnya tukang pukul, ya Bu? Padahal sebenarnya orang Flores ramah2 sekali. Tidak suka mikir rumit2, yang penting senang aja"

Hehehe.. memang, mungkin masyarakat ini benar2 ramah, polos, dan tidak suka memikirkan macam2. Spontan2 saja, seperti air mengalir. Saking spontannya, jadwal pesawat pun tidak tetap.. hehehe.. Tidak jarang rute dan jadwal terbang berubah hanya dalam hitungan jam sebelum keberangkatan. Seperti pesawat yang gw tumpangi dari Ende ke Kupang untuk pulang. Saat pertama pesan, konon jadwalnya adalah pukul 13:00. Empat hari sebelum berangkat, berubah menjadi pukul 08:00. Eeeh.. 12 jam sebelum berangkat, ganti jadwal lagi menjadi pukul 10:00. Alasannya? Penumpang Ende-Kupang terlampau sedikit hari itu, jadi pesawatnya mau terbang ke Ruteng saja dulu. Halah! Bikin sport jantung gak sih.. hehehe.. Nggak heran ketika beli tiket two way, orang2 malah heran dan bertanya: kenapa gak one way saja? Ternyata di tempat ini one way ticket adalah pilihan yang lebih tepat.. hehehe..

Makanya, walaupun gw sangat menikmati keindahan Ende, lega juga rasanya ketika menginjakkan kaki lagi di Jakarta. Back to the land where credit card rules, any information is just one click away, and everyone must hurry to meet the tightly arranged schedule ;-). Pusing juga ketika di Ende harus bawa uang tunai lantaran gak ada BCA dan gak ada yang terima kartu kredit, nggak ada GPRS apalagi 3G, dan kalau mau ke warnet harus naik ojek dulu ;-)

UPDATE 27 Januari 2007:

Yang punya Bandung complain Sangkuriang dibilang gak jago geometri.. hehehe.. Langsung mengeluarkan panduan geowisata:
"Kota Bandung bentuknya cekung. Dulunya Bandung adalah danau purba, 720mdpl. Jalan Dago (sekarang Juanda) adalah pelabuhan purba tempat nge-dago (menunggu) perahu. Layar perahu Sangkuriang jatuh di Burangrang (dari kata boeh rangrang = layar nyangkut)."
Hehehe.. thanks Mbak'e, atas informasinya. Jadi lebih OK nih legenda Sangkuriang ;-) Ternyata danaunya udah kering ya?

Tapi.. jadi timbul pikiran iseng lainnya.. hehehe.. Sangkuriang teh asli orang Sunda atau orang Minang ya? Kan kalau bahasa Sunda tuh Kuring. Yang suka nyisip2in huruf A bahasa Minang, seperti Kampung yang jadi Kampuang. Jangan2 nama aslinya Sang Kuring, bukan Sangkuriang.. hehehe... Atau Sangkuriang lama berlayar ke ranah Minang ya?

Thursday, January 18, 2007

Tatami dan Bento

Beberapa menit lalu di feeder list muncul update-nya Cahyo tentang Susahnya Mencari Nama Anak. Pas banget, karena beberapa hari lalu gw sempat juga pingin nulis tentang nama anak. Sayang, karena tertunda2, mood-nya hilang ;-). Baru muncul lagi sekarang ;-)

***

Mencari nama untuk anak adalah urusan serius di keluarga gw. Nama harus punya arti yang bagus karena dianggap doa/harapan orangtua bagi si anak. Nama juga sebaiknya tidak terdengar harafiah, lebih bagus kalau sedikit bermain2 dengan metafora. Nama panjang gw, misalnya, diambil Bapak dari dua kitab Jawa Kuno yang berbeda. Satu kata diambil dari episode Kidhang Kanaka (=kijang kencana) dalam cerita Ramayana, yang memiliki arti ”kumpulan berbagai batu permata”. Satu kata lagi, yang berarti ”kebijaksanaan”, diambil dari kitab yang gw lupa judulnya. Arti harafiahnya adalah ”Kebijaksanaan [yang terbuat dari] berbagai batu permata”, tapi kata Bapak harus dilihat sebagai metafora: dianugrahi "kebijaksanaan yang tak ternilai harganya". Bagus ya? Sayang, kayaknya nama ini keberatan buat gw.. hehehe.. Bukannya jadi bijak, gw malah jadi tukang cela ;-).

Sejak masih gadis, gw berniat meneruskan tradisi ini. Lantaran Ima diperkirakan lahir tepat di hari Pemilu pertama era reformasi, plus waktu hamil gw pernah terjebak nginep di kantor karena Tragedi Semanggi, maunya bikin nama yang berbau2 harapan terhadap orde yang lebih baru daripada orde baru ini ;-). Berhubung Ima itu ”indo”, satu kata mau diambil dari Bahasa Jawa Kuno atau Sansekerta seperti tradisi The Notodisurjos van Solo, sementara satu kata lagi dari Bahasa Arab atau Parsi sesuai kebiasaan The Moertadhos van Singosari.

*Uhm.. sebenernya sih gw maunya ngasih nama pakai Bahasa Jawa Kuno/Sansekerta seluruhnya. Biar lebih simetris aja, namanya gak campur2. Toh, Ima juga udah kebagian nama keluarga Moertadho, kalo ditambah Bahasa Arab/Parsi lagi, komposisinya nggak imbang dong 2:1. Tapi kata bapaknya, nggak aci kalau nama keluarga dihitung.. hehehe.. Gw tawar ngasih nama Jawa Kuno khas Singosari dan sekitarnya, seperti Ken, Rakyan, Mahesa.., tetap aja dia nggak mau. Katanya kalau Mahesa ntar dikira kader PDI-P, secara artinya ”banteng”.. ;-)*

Berhubung kami nggak mau minta dilihatkan jenis kelamin si bayi, tetap maunya sih menyiapkan satu nama laki2 dan satu nama perempuan. Untuk mencari nama anak perempuan perdebatannya nggak lama. Kami berdua sama2 ingin nama yang mengesankan ketentraman, makanya langsung suka dengan Swastinika Naima.

*Pemutakhiran 26 Desember 2008: Arti namanya terpaksa gw hapus dari sini, karena banyak yang nggak sopan main contek nama yang gw cari susah payah. Kreatif dong cari nama anak, mosok nyontek!*

Mencari nama anak laki2 ternyata jauh lebih susah, karena gw dan bapaknyaima beda parameter. Gw pinginnya nama anak laki2 tuh yang gagah. Sayangnya apa yang gw anggap gagah ternyata masuk kategori bombastis buat bapaknyaima. Jadilah nama2 bikinan gw diveto oleh bapaknyaima, seperti Adhimatratama Safna (=manusia unggul yang membawa kemakmuran) atau Gibran Maharashtra (=mengembalikan bangsa yang besar pada keseimbangan). Untung, akhirnya nemu juga kesepakatan sebuah nama yang kurang lebih berarti ”petunjuk [bagi] pikiran yang tak terbelokkan”. Masih sesuai dengan tema reformasi kan? Hehehe.. Semoga menjadi petunjuk bagi para pemimpin baru negeri ;-)

*Maaf, nama yang disepakati ini gak diekspose ya! Soalnya masih mau dipakai kalau nanti2 punya bayi laki2 ;-)*

Waktu ditetapkan nama panggilannya Ima, gw sempat teringat pelajaran Bahasa Jepang jaman SMA. Dalam Bahasa Jepang Ima berarti ”sekarang”. Bukan arti yang manis buat sebuah nama ya.. hehehe.. tapi gw pikir netral aja. Nggak papa kan punya nama panggilan yang berarti ”sekarang”?

Sayang, waktu itu gw lupa bahwa dalam Bahasa Jepang sebuah kata yang bunyinya sama, jika dituliskan dengan Kanji berbeda, maka artinya berbeda. Dan.. atas kecerobohan gw, gw nggak lihat lagi kamus Kanji. Akibatnya, baru pekan lalu gw tahu bahwa.. kata ”Ima” jika dituliskan dengan Kanji yang berbeda, maka artinya berubah menjadi.. RUANG TAMU ;-)

Hehehe.. Ima ngomel campur ngakak waktu lihat bahwa nama panggilannya punya arti ”ruang tamu”. Gw juga ikut ngakak, tapi dengan alasan yang berbeda ;-)

Dulu sekali, almarhum Bapak pernah cerita bahwa teman2nya di Jepang selalu tertawa terbahak2 atau mengernyitkan dahi jika beliau memperkenalkan diri. Nama Bapak sebenarnya punya arti yang bagus. Sayangnya, yang eyang2 gw nggak tahu [ataupun kalau tahu, tidak berpikir suatu hari Bapak akan terdampar di Jepang] adalah: nama Bapak sama dengan kata dalam Bahasa Jepang yang berarti.. KAMAR MANDI ;-)

Well.. cocok kan? Eyangnya kamar mandi, cucunya ruang tamu? Hehehe.. Berasa kayak anggota freemasonry ;-)

Mungkin kalau gw punya anak perempuan lagi, gw harus memberinya nama Tatami. Atau kalau punya anak laki2 dinamai Bento. Biar komplit bikin satu rumah.. hehehe.. kamar mandi, ruang tamu, tikar yang bisa buat tidur, dan rantang yang bisa buat makan ;-).

Wednesday, January 17, 2007

Merpati [Kok] Tak Pernah Ingkar Janji!

Tahun 80-an Mira W pernah menerbitkan novel berjudul Merpati Tak Pernah Ingkar Janji. Novel itu kemudian diangkat ke layar lebar dengan pemeran utama Paramita Rusady. Jeng Mita ini juga kemudian menyanyikan lagu berjudul sama.

Mungkin, tahun 80-an, merpati memang tidak pernah ingkar janji. Tahun 2007 mah beda 180 derajat. Merpati kerjaannya ingkar janji melulu ;-)

27 Desember 2006

Gw tanya tiket penerbangan Jakarta – Ende untuk Rabu, 10 Januari 2007 dan Rabu, 17 Januari 2007. Katanya ada, penerbangannya transit di Denpasar dan langsung terbang ke Ende sejam kemudian. Gw langsung pesan; tanggal 10 untuk field supervisor, tanggal 17 untuk researcher. Katanya tanggal 3 harus di-issued.

*Tolong dicatat: biasanya gw paling ogah naik pesawat yang bukan Garuda. Tapi berhubung Garuda gak punya pesawat ke rute2 perintis, terpaksa gw naik Merpati ;-)*

Berdasarkan harga yang diberikan, gw bikin quotation untuk klien. Gw mark up Rp 600,000. Bukan untuk kantong gw.. hehehe.. tapi untuk Plan B: kalau2 pesawat nggak bisa mendarat di Ende, konon sering dialihkan ke Maumere dan menempuh jalan darat. Sewa Kijang Maumere – Ende sekitar Rp 300,000.

2 Januari 2007

Lantaran project mundur, gw juga mengalihkan tiket tanggal 3 ke tanggal 17, sementara yang tanggal 10 tetap. Di situ pegawai Merpati baru bilang, ”Pesawat ke dan dari Ende hanya ada 2x seminggu, Bu. Hari Senin dan Kamis. Rabu tanggal 10 dan tanggal 17 tidak ada penerbangan”.

Huh? WTF? Kalau nggak ada penerbangan, kok pesanan gw yang lalu di-approved?

Nggak mau ribut, gw konsultasi dulu dengan klien atas perkembangan terbaru ini. Klien OK memundurkan Focus Group Discussion ke tanggal 23 – 24 Januari 2007. Dengan demikian gw bisa pesan tiket tanggal 15 Januari untuk field supervisor dan tanggal 22 Januari untuk researcher. Sekalian pesan tiket pulang tanggal 25 Januari 2007.

10 Januari 2007

Mau meng-issued tiket tanggal 15 seperti yang dijanjikan. Ternyata..

“Maaf, Bu. Tanggal 15 Januari tidak ada Merpati yang terbang. Tanggal 15 – 17 Januari semua Merpati masuk hanggar. Mohon maaf, Bu, karena Adam Air baru saja kecelakaan, semua pesawat harus diperiksa. Bagaimana kalau dialihkan ke tanggal 18 saja?”

Rasanya udah mulai tempra nih gw.. hehehe.. Kalau tanggal 18 field supervisor baru berangkat, nggak bisa FGD tanggal 23 - 24 dong, dodol! Akhirnya gw cancel Merpati, dan field supervisor berangkat naik Lion Air ke Surabaya, nyambung ke Kupang, baru naik Trigana Air ke Ende.

15 Januari 2007

Mau meng-issued tiket tanggal 22 Januari, sekalian yang untuk pulangnya tanggal 25 Januari. Petugas Merpati langsung nanya gw mau nginep dimana di Bali. Huh? Nginep di Bali? Nggak ada rencana tuh! Gw mau langsung pulang. Kan katanya jam 16:30 mendarat di Denpasar, jam 19:00 berangkat, jam 21:00 mendarat di Cengkareng?

”Maaf, Bu. Tanggal 25 Januari itu kami tidak ada penerbangan malam ke Jakarta. Penerbangan ke Jakarta tanggal 26 Januari jam 14:30. Kalau Ibu mau langsung pulang, silakan ganti pesawat Garuda dari Denpasar. Kalau tidak, kami bisa bantu pesankan penginapan di hotel transit Puri Nusantara”

Sebenernya sih gw udah mau murka. Tapi.. look at the bright side. One night in Bali, on company’s expenses.. gw tinggal bayar ongkos jalan2 ke Kuta. Ya udah deh, gw maafkan ingkar janji yang ini ;-).

Hari ini, 17 Januari 2007

Seperti setiap Rabu pagi, gw ada internal meeting. Selesai meeting, Research Administrator yang ditugasi ngurusin tiket sudah menunggu gw dengan wajah mau nangis.

“Mbak, sebel deh aku! Orang Merpati baru nelfon. Katanya mulai minggu depan Merpati nggak punya jadwal ke Ende. Orangnya nanya, Mbak mau turun di Kupang atau Maumere? Merpati cuma terbang sampai sana”

Ajegileee.. Ini maskapai penerbangan apa Metromini sih?? Kok seenak2nya aja menurunkan penumpang sebelum terminal tujuan.. hehehe.. Mending kalau dia tanggung jawab beliin tiket Kupang – Ende atau bayarin sewa mobil Maumere – Ende. Ini yang ada gw musti rogoh kantong lebih dalam.. hehehe.. Dihitung2 biaya tiketnya jadi 1 jt lebih mahal :-(

*Well, emang gak bikin gw rugi bandar. Tapi.. namanya juga emak2 ;-) Selisih Rp 100 aja gw mendingan pindah toko, apalagi beda Rp 1,000,000.. hehehe.. *

Eh, ada lagi yang ngeselin:

”Mbak, kalau mau turun di Kupang, Mbak mesti berangkat tanggal 21. Soalnya sampai Kupang udah sore, pesawat ke Ende cuma ada pagi. Terus, pulangnya juga mesti nginep di Kupang lagi. Soalnya pesawat dari Kupang ke Jakarta berangkat pagi2, nggak kekejar kalau harus naik pesawat dari Ende dulu”

Jadi? Gw mesti nambah nginep 2 malam? Di Kupang? Kalau nambah nginep 2 malam di Bali mah gw happy2 aja. Nambah seminggu juga OK.. hehehe.. Lha, di Kupang ada apaan sih yg bisa dilihat? Lagian, bukannya itu udah di Timor Barat ya? Kalau gw diculik Fretilin gimana? Hehehe.. Eh, ngomong2, Fretilin mah di Timor Timur ya? Lagian, udah gak ada ya? Kan udah merdeka ;-)

Epilog

Cukup sudah batas waktu
Untuk kau nyatakan
Mampukah dirimu
Membawaku.. uuu.. ke NTT

(diplesetkan dari lagu Glenn Fredly ini)

Gw langsung menyatakan putus hubungan dengan Merpati deh! Gak asik ah, ingkar janjinya udah konsisten gini ;-) Apalagi temen2 gw udah memperingatkan, ”Jangan sampai pas loe di Ende tiba2 Merpati bikin kebijakan baru bahwa mulai hari itu tidak ada penerbangan dari Ende ke Jakarta selama tahun 2007”.. hehehe.. ;-)

Gw mau naik Sriwijaya aja ke Kupang.. hehehe.. Minggu lalu baru saja naik Sriwijaya ke Malang dan pesawatnya lumayan enak.

*Note: Ke Malang naik non-Garuda ini juga darurat, soalnya rute Jakarta – Malang cuma dilayani Sriwijaya dan Mandala ;-). Dulu2 sih kalau ke Malang lebih senang naik Garuda ke Surabaya dilanjutkan jalan darat. Tapi sejak lumpur Lapindo kep*r*t itu membanjiri jalan tol, jalan darat Surabaya – Malang yang biasanya cuma 1-1.5 jam membengkak jadi 5-6 jam :-(*

Pengalaman dgn Sriwijaya kemarin, tampaknya mereka juga gak buru2 pesawat mendarat langsung terbang lagi. Ada jeda 45 menitan. Konon, pemeriksaan pesawat yang layak kan 30-45 menit ya? Cuma ya itu, Sriwijaya berangkat dari terminal lama yang tempatnya nggak nyaman, dan satu2nya lounge yang ada memberlakukan kebijakan bahwa credit card from any major bank does not rule ;-) Gilaaa.. di terminal ini biar loe punya kartu kredit platinum dari Citibank pun gak bakal bisa masuk lounge kalau nggak punya BNI Gold atau kartu dari bank apa gitu (yang gw udah lupa namanya saking nggak nge-top ;-)).. hehehe..

*Catatan: Itu tadi cuma perumpamaan aja lho. Gw juga tidak punya kartu kredit platinum. Yang ada gw suka makan di kedai Platinum ;-)*

Anyway.. doain gw terbang dan kembali dengan selamat ya.. ;-) Terusss.. ada yang punya ide nggak, selama di Kupang gw enaknya kemana, lihat apa?

Monday, January 15, 2007

Making a Lifetime Decision

Rupanya gw memang sudah benar2 tergolong kaum urban yang individualistis (atau autistik?). Terbukti melalui tidak kenalnya gw dengan tetangga yang jaraknya cuma 300m dari rumah gw. Ini dihitung tidak tegak lurus lho ya, tapi mengikuti jalan yang berkelok, karena rumahnya berjarak 1 blok dari rumah gw. Kalau dihitung garis tegak lurusnya prestasi gw lebih bombastis lagi: karena jaraknya kurang lebih cuma 15m ke arah belakang rumah gw ;-)

Gw baru pertama kali lihat wajah tetangga gw, Jeng April ini, dari.. INFOTAINMENT! Hehehe.. iya, gara2 nonton infotainment acara Midodareni Koes Hendratmo dan ngerasa melihat familiar neighborhood, baru gw ngeh bahwa April yang rumahnya di belakang rumah gw adalah April yang itu.

Tapi hari ini gak mau ngebahas tentang keindividualisan (atau keautistikan?) gw. Gw lebih tertarik ngebahas sisi gosipnya.. hehehe..

Dari infotainment juga, gw baru tahu bahwa pernikahan kedua ini digelar hanya 3 bulan setelah bercerai. Ada gosip bahwa Jeng April adalah sosok di balik perceraian itu, makanya Oom Koes gak butuh waktu lama untuk nikah lagi. Tapi yang bersangkutan menolak tegas, dan mengatakan bahwa baru mau sama si Oom setelah proses perceraian beres.

Uhm.. lepas dari berapa lama hubungan mereka, ditinjau dari sudut mana pun gw menyayangkan jarak pernikahan kedua ini dari perceraian. Memang sih, dari aturan agama maupun hukum tidak ada yang salah. Tapi.. dalam hidup ini, selain ada aturan benar-salah yang disebut hukum, ada juga konsensus tentang baik-buruk yang lazimnya disebut etika.

Etika itu batasannya tidak sekaku hukum. Malah biasanya personal, regional, atau kultural. Makanya, apa yang baik bagi individu/lokasi/budaya tertentu belum tentu bisa diterapkan di setting yang berbeda. Tapi.. justru karena batasannya yang fleksibel ini, rasanya kita mesti lebih hati2 kalau mau melakukan sesuatu. Harus pintar2 mencari irisan himpunan antara apa yang kita anggap baik dengan apa yang dianggap baik oleh orang lain. Ya nggak sih?

Dalam kasus ini, gw kok ngerasa kedua mempelai kurang memperhatikan perasaan anak2nya si Oom. OK lah, kalau nggak mau mikirin perasaan mantan istrinya.. hehehe.. konon, lantaran suami dan istri tuh ketemunya udah sama2 gede, udah pernah jadi ”orang asing”, lebih mudah juga menjadi asing lagi (baca: tidak memperhatikan perasaan mantan pasangannya) jika sudah berpisah. Tapi.. kalau yang namanya anak kan nggak pernah jadi mantan anak ya? Apa nggak bisa empati sedikit dengan perasaan anak2nya?

Kalau gw jadi anaknya, gw juga bakal il-feel bokap gw menikahi perempuan lain hanya 3 bulan setelah menceraikan nyokap gw. Bukannya nggak rela bokap menikah lagi. Bukan juga menggantang asap ingin bo-nyok bersatu lagi. Cuma.. rasanya gimanaaaa gitu. Seolah2 nyokap cuma pelepah tebu yang habis manis sepah dibuang. Seolah2 pernikahan bertahun2 nggak ada artinya, nggak perlu disesali perpisahannya.. Seolah2 istri tuh cuma barang fungsional, nggak ada nilai historis dan emosionalnya, sehingga hanya dalam 3 bulan aja bisa ganti model.. hehehe.. Sebagai anak, gw juga bakal mikir: kalau nyokap gw hanya barang fungsional, lantas gw [sebagai by product pernikahan mereka] dianggap apaan?

Makanya.. gw ngerti banget kalau anak2nya si Oom tidak ada yang mau menghadiri acara ayahnya. Dan gw setuju banget kata2 mantan istri si Oom, ”Bukan menikahnya yang membuat anak2 marah. Tapi caranya.”

***

Selain masalah etika, ada juga landasan teori bahwa sebaiknya pernikahan berikutnya nggak terburu2. Perceraian adalah major life change dalam hidup manusia, dan termasuk yang paling menimbulkan stres berat. Tahapan emosionalnya ada empat, dan bukan saja dialami oleh pasangan yang bercerai, melainkan juga oleh kerabat dekatnya (termasuk anak):

1. Shock and Disbelief

2. Initial Adjustment

3. Active Reorganization

4. Life Reformation

Tahap 1 sih biasanya cepat. Ini hanya initial reaction terhadap perubahan besar. Mungkin berlangsung beberapa hari sampai beberapa bulan saja. Tahap 2 itu yang biasanya paling lama dan paling berat. Di sini benar2 terjadi yang disebut sebagai emotional roller coaster, dan bisa berlangsung hingga bertahun2. Karena emosi yang tidak stabil inilah maka tahap 2 menjadi saat yang paling buruk untuk mengambil keputusan seumur hidup. Setelah tahap 2 ini berlalu, maka baru dapat disarankan untuk menata ulang hidupnya, sebelum benar2 menjalani hidup baru di tahap 4.

Kurun 3 bulan setelah perceraian sih biasanya orang masih di tahap 2, tahap yang untuk berkencan pun kurang ideal, apalagi untuk menikah.

Dan jangan lupa, anak2 pasangan ini juga masih berada di tahap 2. Luka lamanya aja belum sembuh, udah ditambah luka baru.. :-( Gimana rasanya? Bagaimana akibatnya?

***

Kemarin infotainment membahas kasus ini dari sudut kebutuhan seksual laki2. Tapi menurut analisis bapaknyaima sih bukan masalah itu. Lebih ke arah masalah kasmaran. Kata bapaknyaima, dari cara bicara dan pemilihan kalimatnya, terlihat sekali si Oom sedang kasmaran. Yaah, kalau orang sedang kasmaran, memang harus dimaklumi kalau ulahnya agak gila2an. What do you expect? Konon t**i kambing pun terasa coklat kan? Hehehe.. Apalagi perempuan muda ;-)

Tapi kalau menurut gw sih justru kasmaran ini adalah another reason for not making a lifetime decision. Jangan sampai begitu mendarat ke bumi baru sadar bahwa ini bukan coklat yang disukainya.

*Eh, coklat pun ada jenis2nya kan? Ada coklat jenis enak, coklat jenis lebih enak, dan coklat jenis enak banget.. HAHAHA..*

Kalau yang laki2 tidak cukup mampu untuk menahan diri dari membuat keputusan (maklum, kata Robin Williams kanGod gave man a penis and a brain, but only enough blood to run one at a time”.. oops, no offense to the men ;-)), maka tugas ini jatuh ke tangan si perempuan. Toh ini keputusan seumur hidup buat dia juga kan?

Gw mencoba menempatkan diri sebagai si Jeng April ini. Kalau gw akan menikah dengan duda yang anaknya sudah besar2, maka gw justru akan lebih hati2 dan lebih taktis. Memenangkan hati anak2 tiri yang masih kecil cenderung lebih mudah karena mereka masih polos. Masih lebih mudah menyamakan sistem nilai dengan mereka. Tapi.. kalau anak tirinya sudah dewasa, kan menyamakan persepsinya jauh lebih susah. And making them my enemy is the last thing I want to do. Kalau gw harus masuk ke sebuah keluarga, jadi orang baru di lingkungan yang sudah relatif settled, nggak nyaman juga kalau gw harus teralienasi, apalagi dimusuhi ;-)

Tapi entahlah.. mungkin gw kelewat perasa untuk kasus yang satu ini.. hehehe.. kemana, coba, logika yang gw bangga2kan itu? HAHAHAHA.. Kan kalau secara logika nggak ada yang salah dengan keputusan mereka. Perasaan anak2nya? Meneketehe.. emangnya [harus] gw pikirin ;-)?

UPDATE 16 Januari 2007:

BTW busway, sebelum comment box gw jadi kolom gosip, gw mau menegaskan aja bahwa gw gak perduli kenapa bapak ini bercerai dan kenapa bapak ini nikah lagi. Gw cuma pingin mempermasalahkan kenapa nikah lagi secepat ini ;-). Sekali ini gw mempermasalah when, bukan why ;-) Jodoh memang di tangan Tuhan, tapi teknis pelaksanaannya kan di tangan manusia ;-).

Wednesday, January 10, 2007

As Nature Made Him

Baru selesai baca sebuah buku bagus As Nature Made Him: The Boy Who Was Raised as a Girl. Sebenarnya ini buku lama, terbitan tahun 2001. Samar2 gw ingat cerita ini pernah diulas di salah satu majalah juga. Baru gw baca sekarang karena baru nemu di penjualan buku bekas beberapa hari lalu.

Buku ini merupakan biografi David Reimer yang lahir sebagai Bruce, dibesarkan sebagai Brenda, sebelum akhirnya kembali kepada kodratnya sebagai pria. Saat berusia 8 bulan Bruce [dan kembar identiknya Brian] mengalami kesulitan buang air kecil yang berujung ada keputusan untuk mengkhitan mereka. Celakanya, dokter anak yang biasa melakukan operasi kecil ini tidak datang, dan di saat2 terakhir tugasnya digantikan oleh seorang dokter umum. Lebih celaka lagi, dokter umum ini terlalu kreatif; bukannya menggunakan pisau bedah seperti prosedur khitan standard, malah pakai sejenis cutter listrik. Akibatnya bukan hanya kulup yang terpotong seperti rencana, tapi the rest of the penis ikut terbakar gosong dan ”mrotholi” (=hancur berkeping2 perlahan2) beberapa hari kemudian.

Orang tua Bruce sempat mempertimbangkan menerima saran dokter: memberikan penis buatan. Sayangnya, di tahun 1960-an, penis buatan ini hanya dapat berfungsi sebagai alat buang air kecil saja. Di saat orang tua Bruce mempertimbangkan kehidupan seksual (dan sosial) putranya di masa depan, mereka mendapatkan alternatif lain: operasi transseksual. Saat itu telah berhasil beberapa operasi terhadap bayi2 yang lahir dengan kelamin ganda. Bayi2 ini tumbuh sesuai dengan jenis kelamin yang ”dipilihkan” untuknya, dan menjadi dasar untuk mempertegas bahwa gender role itu lebih dipengaruhi nurture (=pengasuhan anak) daripada nature (=jenis kelamin yg terberi secara biologis). Mendengar kesaksian2 beberapa pasien transseksual, yang kini dapat menjalani kehidupan wanita dan benar2 merasa menjadi wanita normal walaupun lahir sebagai lelaki, orang tua Bruce memutuskan untuk mengambil langkah ini. Bruce pun dioperasi menjadi Brenda pada usia 22 bulan.

UPDATE 11 Januari 2007:

Selain menjalani operasi alat kelamin, Brenda juga mendapatkan perawatan lanjutan untuk menjadikannya seorang wanita. Di antaranya berupa suntikan hormon estrogen yang merupakan hormon kewanitaan. Hasil dari terapi hormon ini membuat perkembangan fisik Brenda berbeda dengan Brian. Misalnya, pada usia akil balik, Brenda tidak setinggi Brian, bahkan payudaranya pun mulai tumbuh.

Sayangnya, walaupun ”dikondisikan” untuk menjadi perempuan, tidak sekalipun Brenda merasa demikian. Awalnya hal ini dianggap sebagai hal yg wajar; seorang anak perempuan yang dikelilingi saudara laki2 sering kali menjadi tomboy. Tapi ketika Brenda semakin tidak bisa menyesuaikan diri secara sosial, dan bahkan akhirnya ketika remaja pun dia mulai naksir anak perempuan, semua terpaksa setuju bahwa it doesn’t work. Brenda pun diberi tahu kisah hidupnya, dan akhirnya dia memutuskan kembali ke kodratnya sebagai laki2. Syukurlah, dengan teknologi yang sudah lebih berkembang, David berhasil merekonstruksi alat kelaminnya. Tidak hanya mengembalikan fungsi buang air kecilnya, rekonstruksi ini juga memungkinkannya untuk menjalani kehidupan seksual yang relatif normal.

***

Kesimpulan yang diberikan buku ini sangat menarik. Seperti dikatakan oleh Dr. Milton Diamond, yang berperan besar mengembalikan David kepada kodratnya, sex reassignment of a developmentally normal infant was impossible (p. 174). Bisa saja operasi transseksual itu berhasil baik pada bayi2 berkelamin ganda; namun itu harus dibaca sebagai keberhasilan mengatasi ketidaknormalan, dan bukan digeneralisasikan pada kondisi normal. So, don’t mess up with nature.. :-) Apa yang sudah secara alamiah demikian, jangan diubah2 atau diintervensi, karena nggak akan berhasil. Jangan jadikan pikiran2 kita sendiri sebagai justifikasi untuk mengubah yang sudah terberi secara alamiah. Kecuali kalo memang terjadi penyimpangan alamiah, baru kita berusaha untuk memperbaikinya.

Tapi.. walaupun gw setuju dengan kesimpulan di atas, tak bisa tidak, gw masih kebayang kesimpulan itu masih punya antitesis. Well, mungkin istilahnya bukan antitesis ya, tapi pertanyaan lanjutan tentang sebenarnya aspek herediter apa yg membuat Bruce tidak pernah percaya dirinya perempuan. Bahwa mungkin bisa saja operasi transseksual terhadap anak yg terlahir normal itu berhasil, kalau saja bukan Bruce yang mengalaminya.

Dalam biografi itu diceritakan bahwa sejak lahir Bruce terlihat punya temperamen yang lebih eksploratif dan dominan, sementara Brian lebih tenang dan pengalah. Setelah besar pun, Brian cenderung mengalah kalau diserang anak2 lain, sementara Brenda (aka Bruce) selalu memilih berjuang dengan berkelahi. Kira2, jika yang mengalami perlakuan ini adalah Brian the calmer twin, apakah dia akan lebih menerima peran perempuan yang dikondisikan padanya? Maksud gw.. apakah penolakan Brenda (aka Bruce) ini murni disebabkan ”sekedar” karena dia lahir sebagai laki2 normal? Atau lebih disebabkan karena temperamennya yang cenderung lebih opinionated, tidak mudah percaya, dan lebih ke arah ”kutahu yang kumau”? (halah.. Sprite kali ;-)). Bukan secara umum tidak bisa diterapkan pada mereka yang lahir normal, tapi tidak berhasil karena faktor Bruce sebagai individu.

Pertanyaan lain adalah: seberapa jauh fakta bahwa Bruce & Brian adalah kembar identik berperan dalam membentuk instink Brenda (aka Bruce) bahwa dia bukan perempuan? Kembar identik berasal dari satu telur dan memiliki ikatan batin yang lebih kuat dari kembar dua telur atau sekedar saudara kandung. Jika Brenda (aka Bruce) tidak memiliki saudara kembar identik laki2, apakah lebih mudah baginya untuk menerima peran sebagai perempuan?

Jadi.. pertanyaan besarnya: sejauh apa sih kita bisa mengintervensi apa yang ditentukan alam?

Sayang, walaupun Brenda (aka Bruce) akhirnya kembali ke kodratnya, bahkan sempat menikah (Ya, through the use of advanced microsurgery, [the artificial penis] could be supplied with sensation – p. 190), dan sempat hidup berbahagia beberapa tahun, akhirnya David Reimer mengikuti jejak kembar identiknya: bunuh diri. Dengan demikian pertanyaan2 di atas masih belum bisa terjawab saat ini.

Atau.. mungkin ada yang bersedia menjalani kastrasi untuk menjawab pertanyaan2 di atas ;-)? Hehehe.. Kan itung2 namanya bisa terkenal sepanjang jaman ;-)

UPDATE 15 Januari 2007:

Ngomong2, setelah penasaran dan gw baca2 ulang buku di atas, gw nemu satu penjelasan yang mirip hasil Jeng Okke mengaduk2 laci ingatan dan professional judgment-nya Mbak Evy:

"All the tissues underlying sexual behavior - whether peripheral structures, brain tissues, blood, or muscles - are organized into a whole; and that the organization is imposed by exposure to hormones before birth"

(p. 43)

Temuan dari Will Young ini disebut organizing principle, dan menjelaskan bahwa yang menyebabkan perilaku maskulin pada guinea pig berkelamin ganda yang disuntik testosteron bukan disebabkan oleh penyuntikan hormonnya, tapi karena memang sejak terkonsepsi pun hewan ini sudah memiliki kecenderungan maskulin ;-)

Ngomong2, kalau kayak Dorce dan para Fantastic Doll gitu, apakah murni nurture, atau karena organizing principle-nya ada yg gak beres waktu perkembangan janin ya? Hehehe.. Masih kekeuh mikirin ;-)

Saturday, January 06, 2007

Dibutuhkan: Rumah Produksi

Pengumuman! Gw lagi cari rumah produksi nih, untuk memproduksi sinetron gw. Ada dua judul sinetron yg gw tawarkan: HILANG dan CSI: Jakarta. Ohya, jangan lupa, sinetron gw ini hanya kisah fiksi lho! Kesamaan nama karakter/cerita/setting hanya kebetulan belaka. Bener deh ;-)!

Untuk sinetron yang judulnya HILANG, kisahnya adalah tentang sebuah pesawat komersial yang lenyap secara misterius. Pesawat itu dinyatakan hilang setelah tak tertangkap radar Surabaya, dan Makassar, tapi hingga saat yg ditentukan tidak juga masuk ke radar Manado. Ternyata pesawat itu mengalami kesulitan dan jatuh di sebuah pulau kecil tak berpenghuni. Hehehe.. mirip LOST ya? Enggak, enggak nyontek kok! Ada perbedaan2 mendasar sebagai berikut:

  1. Dalam LOST, pesawat mengalami gangguan sistem navigasi dan komunikasi sebelum jatuh. Pemerintah tidak bisa menemukan karena mereka mencari pesawat di jalur yang seharusnya dilewati, tanpa tahu bahwa arah terbang sudah menyimpang. Dalam HILANG pesawatnya sih terbang sesuai arah, dan jatuh somewhere di arah yg tepat itu. Tapi pemerintah tidak bisa menemukannya karena: radar Badan SAR sudah beberapa lama ini rusak, sehingga selama ini sih pemerintah ”nebeng” radarnya Singapura
  2. Dalam LOST pesawat rusak mendadak ya karena salah arah itu! Tak sengaja mereka melintas di atas pulau yang memang dijadikan laboratorium medan energi, yang otomatis mengacaukan sistem navigasi dan komunikasi pesawat. Pesawatnya sendiri sih baik2 saja, kalau gak melintas di atas pulau itu. Dalam HILANG, well.. apakah pesawat itu layak terbang pun sudah dipertanyakan. Seperti kata Marsekal Chappy Hakim di RCTI dua malam lalu, ada budaya2 perusahaan penerbangan yang tidak sehat. Misalnya aja: pesawat yg baru mendarat langsung boleh terbang lagi tanpa diperiksa secara mendetil.
Cuma.. yang bikin gw masih bingung, yg mau gw angkat dalam HILANG ini cerita tentang bagaimana penumpang pesawat itu bertahan hidup walaupun gak segera ditemukan, atau sebab-musabab pesawat itu jatuh serta tak segera ditemukan ya? Kalau menyoroti penumpangnya, ntar kelewat mirip sama LOST.. hehehe..
Menyoroti sebab-musababnya memang lebih orisinil, tapi bisa2 gw dapat berbagai memo tentang gak boleh menceritakan ini-itu.. ;-) Hehehe.. dan jangan sampai tiap tayangan membuat ada lembaga/perseorangan yg harus segera melakukan klarifikasi. Kayak Badan SAR yang jadi repot setelah media massa menuliskan tentang radar yang [kata Badan SAR] tidak rusak ;-)

Dan lagi.. kalau gw nulis tentang sebab-musababnya, bisa2 selesai dalam 1 episode dong? Nggak jadi film seri? Nah.. kalau cuma satu episode mah mendingan dimasukkan dalam CSI: Jakarta aja kali ya?

Soal CSI: Jakarta ini gw udah punya beberapa ide cerita. Maunya gw sih dijadiin spin-off CSI: Crime Scene Investigation aja, kayak CSI: Miami dan CSI: NY, biar boleh ikutan pakai formula mereka ;-).

Beberapa episode yang sempat terpikir oleh gw adalah:

  1. Kematian Tak Biasa Sang Biduan: tentang seorang biduanita yang ditemukan tewas di sebuah kamar hotel [recap]
  2. Senopati Nusa Antara: tentang sebuah kapal yang karam di antara dua nusa [recap]
  3. Ngumpul ora Ngumpul yo Ora Mangan: tentang kegagalan penyediaan makanan jemaah haji [recap]
Tiga2nya high profile case tuh! Terutama episode ke-3: Ngumpul ora Ngumpul yo Ora Mangan. Waaah.. itu bisa jadi kasus cross-jurisdiction tuh, antara Indonesia & Arab Saudi.

Episode ini akan menyelidiki mengapa katering bisa terlambat 30 jam: benarkah karena katering Anna disabotase? Atau katering Anna memang buruk servisnya, dan pihak penyelenggara haji Indonesia aja yang kurang teliti mempelajari track record sebelum teken kontrak? Seperti gw dengar di berita kemarin, memang pemerintah tidak punya undang2 yang kuat untuk mengantisipasi, apalagi mencegah, kejadian seperti ini. Jadi ada kemungkinan memang waktu teken kontrak track record bukan sesuatu yg penting, lha wong merasa bukan kewajibannya untuk mengantisipasi. Either way, mau "pembunuhan berencana" maupun "kelalaian yang menyebabkan hilangnya nyawa seseorang", kan tetap dikenai hukuman, kan?

Well, gw pinginnya sih sinetron ini scientific kayak CSI; diulas mendetil tentang apa-kenapa sampai terjadi kejadian2 seperti itu, dengan segala teknologi canggih dan ketekunan kerja, plus cara berpikir yang sangat ilmiah a la Grissom & team. Tapi kalau dibikin penuh action seperti CSI: Miami [yang jagoannya ”Miami Dade Police first, scientist next” alias gampang banget narik pistol] demi memenuhi selera pasar juga gak papa ;-) Lagian mungkin kelihatan kurang natural ya, kalau Indonesia terlalu scientific? Lha wong radar aja mati *oops, kok ke sana lagi.. HAHAHA..*

Nah.. gimana? Ada rumah produksi yang berminat? Ayolah.. daripada copy-paste drama Korea dan Jepang, sekali2 copy-paste film2 sci-fi aja ;-) Biar agak kelihatan cerdas dikit nih kita.. HAHAHAHA..

Kalau rumah produksi nggak berminat, mungkin pemerintah berminat? Berminat mengaplikasikan CSI: Jakarta dalam kehidupan nyata. Kalau masalah HILANG kayaknya sudah teraplikasikan dalam kehidupan nyata deh, jadi gak perlu usaha aplikasi apa2 lagi ;-). Tinggal diambil hikmahnya aja biar nggak terulang di masa
depan.

*dan selain ambil hikmahnya, gw dukung banget Bapak M Iksan Tatang untuk mencabut ijin perusahaan, apabila terbukti ada kelalaian prosedur keselamatan dalam peristiwa Adam Air. Ada spekulasi pesawat itu tenggelam di laut karena ditemukannya baju bayi. Walah, kalau memang tenggelam, gw tambah bertanya2 lagi: kemana pelampungnya penumpang? Kok semua bisa ikut tenggelam?*

UPDATE 10 Januari 2007:

Gara2 komentar Hans ini, gw jadi ingat sebuah cerita pendeknya Stephen King. Judulnya The Langoliers, tentang penumpang pesawat yang tiba2 terbangun menemukan pesawat setengah kosong. Ternyata mereka adalah penumpang2 yang selamat ketika pesawat memasuki time warp yang mengantar mereka pada dunia lain. Mereka selamat karena mereka tertidur (=tidak sadar, tidak ada dalam dunia yg benar2 nyata). Dalam dunia nyata, pesawat ini telah dinyatakan hilang. Namun para penumpang ini akhirnya bisa menemukan celah time warp itu kembali, dan kembali ke dunia nyata. Hanya saja.. mereka kembali ke masa 10 menit lebih cepat daripada kenyataan.

Dengan demikian mereka bisa melihat orang2 lain (karena semua orang adalah "masa 10 menit lalu" bagi mereka = nyata), namun orang2 tidak bisa melihat mereka, karena mereka adalah "masa depan" bagi the rest of the world. Mungkinkah ini terjadi juga pada Adam Air yang hilang? BTW, ini pernah difilmkan juga lho!

Thursday, January 04, 2007

UtakAtiKata

Ternyata bukan hanya kata “secara” yang mengalami penyimpangan penggunaan. Dan bukan cuma ”anak2 gaul” yang menyimpangkan arti kata.. hehehe.. para pengguna bahasa secara keseluruhan ikut menyumbang penyimpangan ini ;-)

Kata ”daripada” misalnya. Kata ini sebenarnya menunjukkan perbandingan. Yang namanya perbandingan tentu saja antara dua hal yang setara, ya kan? Antara yang baik dan yang baik, mana yang lebih baik, itu ditunjukkan dengan kata ”daripada”. Demikian juga untuk membandingkan yang buruk dan yang buruk, digunakan kata ”daripada”.

Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, itu salah satu contoh perbandingan buruk dan buruk. Terlambat itu kan buruk, tidak sama sekali itu juga buruk, tapi mana yang lebih buruk. Lebih baik mencegah daripada mengobati, itu contoh perbandingan baik dan baik. Mengobati itu kan baik, karena tidak membiarkan penyakit berlarut2 atau malah membuat penyakit lebih buruk. Namun dalam konteks penyakit, mencegah adalah hal yang lebih baik.

Tapi dalam perkembangannya ternyata kata ”daripada” ini digunakan untuk membandingkan dua hal yg tidak setara. Bukan membandingkan sesuatu dalam konteks, tapi membandingkan antar konteks yang totally different. Contohnya adalah kalimat yang gw temukan dalam sebuah blog war baru2 ini:

Urusi wae perut kalian ojo urusan orang lain daripada duitnya buat ngenet cuma kasih kritik melulu

*note: gw cuplik tanpa ijin. Gimana mau minta ijin.. wong lagi pada perang.. hehehe.. *

Hmm.. ada dua konteks yg berbeda kan? Yang pertama adalah konteks tentang campur tangan. Yang kedua konteksnya adalah tentang penggunaan duit (baca: nge-net). Kalimat itu bisa dibagi menjadi dua kalimat yang menggunakan kata daripada:

1. Urusi wae perut kalian daripada ngurusin urusan orang lain

2. Daripada duitnya buat ngenet cuma kasih kritik melulu, mendingan nulis blog sendiri aja/browsing situs2 berguna/dll

Tapi kalau kedua konteks itu digabungkan secuplik2 jadi ”urusi wae perut kalian daripada duitnya buat nge-net kasih kritik”.. gw jadi bingung. Maksudnya apa sih? Emang kalau ngasih kritik itu artinya nggak ngurusin perut sendiri? Apa kalau ngurusin perut sendiri itu artinya nggak pernah kasih kritik sama orang lain? Jadi.. ngurusin perut sendiri = gak kasih kritik, gitu? Kalau gitu ngurusin perut sendiri = nggak perduli sama orang lain dong? Bisa disimpulkan bahwa ngurusin perut sendiri = asosial? Terus.. kalau mengacu ke kalimat pertama, berarti bisa disimpulkan bahwa perilaku asosial itu baik dong? Hehehe.. bingung saya.

Ngomong2, penyimpangan penggunaan ”daripada” ini sudah ada sejak orde sebelumnya, bukan ;-)? Seperti pada: saya suka daripada menulisken blog ;-).

***

Kata lain yang juga mengalami penyimpangan adalah ”arogan”. Bedanya, kalau kata ”daripada” tuh naik kelas untuk membandingkan sesuatu yg tidak bisa dibandingkan, kata ”arogan” justru dikebiri menjadi suatu definisi yg sempit dan sangat perseptual.

Selama ini kata arogan diartikan sebagai sombong, merendahkan orang lain, atau merasa dirinya paling hebat. Dalam Oxford Dictionary, kata arrogant juga diartikan sebagai: behaving in a proud, superior manner; showing too much pride in oneself and too little consideration for others.

Jujur aja, sampai sekitar 2 minggu lalu gw juga masih ikut alur mainstream itu; sampai gw ketemu penjelasan etimologi yang menakjubkan pada dialog ini:

“You gonna teach the doctors? Where we come from, that's arrogance.”

“Arrogance! Yes. It is.. arrogance. It comes from the Latin word.. arrogare. You know it? You know the root? What it means? It means to claim for oneself. That's the root. It means to claim for oneself. And I claim the right to fight for my kid's life. And no doctor, no researcher, no bloody foundation, has the right to stop me”

(Nick Nolte dalam film Lorenzo’s Oil)

Gara2 film ini, gw jadi tertarik memperhatikan definisi arrogant tadi. Menarik, betapa selama ini kita tidak memperhatikan keanehan pada definisi itu. Kita bak kerbau yang dicocok hidungnya mengaplikasikan arogan sebagai sinonim kata sombong. Padahal, kalau diperhatikan, definisi ini tidak mengacu pada kesombongan. Perhatikan deh, too much pride in oneself dan too little consideration for others kan sebenarnya tidak ada parameter bakunya! Parameternya selalu dari orang yang mempersepsikan perilaku orang lain. Buat si pengamat mungkin sikap seseorang sudah too much pride atau too little consideration, tapi apa iya orang yang diamati juga merasa begitu? Jangan2 dia sendiri masih merasa kayak lagunya Vety Vera: yang sedang2 saja ;-)

Ohya, gw nggak menyangkal bahwa memang ada batas2 yang relatif baku dalam hubungan antar manusia. Batas2 relatif baku ini yang dinamakan norma sosial. Tapi.. tetap yang namanya norma sosial ini lebih merupakan panduan global dalam konsep bermasyarakat, bukan juklak yang mendetil. Dengan demikian sulit dipakai untuk menentukan seseorang arogan atau tidak, karena arogansi cenderung dilabelkan pada perilaku2 mendetil yang ditunjukkan seseorang.

Contoh paling gampang untuk label arogansi adalah Ahmad Dhani. Baca deh tulisan teman gw tentang [menurut dia] ketengilan kuadrat pentolan Dewa ini. Atau.. boleh buka2 tabloid beberapa minggu silam tentang Dhani yg mengultimatum istrinya ;-). Rata2 saat itu orang mengatakan Dhani arogan. Hmm.. mungkin emang arogan, tapi apa iya sombong, merendahkan orang lain? Gw kok lihatnya lebih sesuai dengan definisi arrogare: he simply claims for himself.. hehehe.. hanya karena orang2 lain punya persepsi sendiri, punya parameter sendiri, lantas orang mengatakan bahwa sikap itu sombong. Sebabnya, jika si pengamat melakukan hal seperti itu, maka itu artinya sombong. Padahal buat Dhani yang emang eksentrik itu belum tentu itu masuk kategori sombong ;).

Gw ingat di salah satu infotainment Dhani bilang: ”Memang saya terlalu ngatur Maia. Mau apa kamu? Lha wong saya suaminya”. Hehehe.. buat sebagian [besar] orang terdengar tengil ya? Tapi secara logis sebenernya sah2 aja dia bilang begitu. Memang benar dia suaminya Maia, dan memang benar dia claim his right to determine the rule for his wife. Perkara aturan yg dia gariskan itu terlalu ngatur atau enggak, itu kan tergantung kesepakatannya dengan Maia.

Kalau menurut gw sih, si Maia kelihatan sama gilanya.. hehehe.. Sempat ada yang mendengarkan pidato Maia di AMI Award beberapa waktu lalu? Dia malah menjadikan lelucon [apa yang dipersepsikan publik] sebagai kesombongan Dhani. Menurut gw sih ini hanya bisa dilakukan oleh istri yang OK-OK aja sama tingkah polah si suami [yang dijadikannya lelucon] itu, bukan perilaku istri yang tertekan dan takut akan superioritas suaminya ;-).

***

Udah kepanjangan belum? Hehehe.. Kalau belum, gw mau nambahin satu kata lagi: ego. Ego ini nasibnya mirip2 arogan.. hehehe.. alias mengalami pengebirian arti. Secara etimologis, ego itu ”hanya” kata ganti orang pertama tunggal. Yup! Artinya: SAYA. Waktu ilmu psikologi berkembang, Bapak Freud dan Bapak Jung juga menggunakan ego dalam konteks yang baik. Untuk Freud, ego adalah sesuatu yang harus ada untuk menyeimbangkan id (=dorongan kebinatangan) dan superego (= norma sosial yang terinternalisasi).

Dari kata ego ini kemudian muncul kata2 turunan seperti egoisme dan egosentris. Egosentris itu artinya menjadikan diri sendiri sebagai pusat dari hal2 di sekelilingnya. Kalau untuk remaja dan dewasa, hal ini memang buruk dan tidak sehat, tapi sangat alamiah bagi anak usia 2-3 tahun. Yang jelek adalah egoisme, karena seperti isme-isme lainnya, hal ini membawa kita pada perasaan bahwa diri sendiri (ego) yang paling benar, paling baik, paling hebat, dan paling2 lainnya ;-).

Nah.. sekarang ini ego-egosentris-egoisme dijadikan satu artinya dan dianggap sebagai sesuatu yang buruk. Akibatnya, sering gw dengar orang menyerukan untuk menekan ego, malah ada yg nulis buku tentang atau bikin sesi pelatihan untuk menekan ego segala. Lah.. gw bingung.. hehehe.. kalau ego ditekan, kan malah fungsinya sebagai penyeimbang berkurang. Akibatnya malah orang jadi tidak sehat mental, bukan? Hehehe.

Well.. kalau yang nulis menekan ego ini hanya untuk kepentingan sendiri sih gw nggak masalah. Mungkin memang tidak familiar dengan terminologinya saja *buat Mbak cantik yg nulis tentang nurani vs ego, swear, tulisannya bagus kok, apalagi ngajak2 Oom Kant & Mas Machiavelli segala.. ;-)*. Tapi.. kalau yang ngajak2 menekan ego tuh institusi bisnis, gw rada tempra juga.. ;-) Kalau udah berani jualan ke publik, mereka kan punya tanggung jawab moral untuk memberikan konsep yg benar.. hehehe.. Jangan ngacak2 konsep dan mengubah2 arti dong ;-)

***

Kepanjangan beneran ya? HAHAHA.. As always, kan ;-)?

Buat penutup aja, jangan heran kalau nanti2 nama blog gw berubah jadi Arrogare Ergo Sum ya.. HAHAHAHA.. alias aku arogan, maka aku ada.. ;) “Secara” blog gw isinya memang “daripada” claiming my right to speak and express my opinion semua ;-) Mudah2an isinya penuh dengan konsep2 ego ya, bukan konsep2 id ataupun konsep2 superego ;-) Karena kalau kita menggunakan ego, artinya kita punya ramuan yg tepat antar keduanya; ya punya conscience, tapi juga tidak menafikan basic instinct kita ;-).

UPDATE malemnya:

Kata Oom Dodol, bentuk yg tepat adalah Arrogo, Ergo Sum. Well.. he's the expert, jadi gw sih percaya aja. Masalahnya, menurut gw bunyinya kurang enak.. hehehe.. lebih sexy arrogare dengan e taling.. ;-). Jadi sementara ini gw mengacak2 tatabahasa Latin bentar deh ya ;-)