Friday, January 26, 2007

Das Ende des Lebens

"Mampus gw! Jatuh deh nih pesawat!"

Itu perasaan gw ketika pesawat jenis ATR 42 (baling2, bo!) yang gw tumpangi terbang rendah di antara dua gunung. Riak2 air laut terlihat jelas sekali dari jendela pesawat. Tadinya gw pikir itu halusinasi, tapi tiba2 pesawat melintas rendah sekali di atas sebuah pulau bulat kecil yang [ibaratnya] bisa gw hitung jumlah semut yang berbaris di atasnya.. hehehe.. Bikin gw berpikir: duh.. gw bakal tenggelam di laut, nabrak gunung, atau seberuntung2nya bisa mendarat di pulau bulat kecil itu. Mulut gw langsung komat-kamit baca doa memohon ampun Yang di Atas. Hehehe.. dasar manusia, kalau udah ngerasa ajal dekat baru deh inget Tuhan ;-)

Memang, naas Adam Air di hari pertama 2007, ditambah berita tsunami di perairan Manado saat menikmati transit 1 hari di Kupang, bikin gw rada2 parno. Belum lagi nama kota tujuan gw, Ende, yang persis sama ejaan maupun lafalnya dengan sebuah kata dalam Bahasa Jerman: das Ende, yang berarti "akhir". Doooh.. tambah parno kalau perjalanan ke Ende ini menandai meines Lebens Ende, alias akhir hidup gw.. hehehe.. Tapi alhamdulillah, sejurus kemudian pesawat mendarat dengan selamat di bandara H Hasan Aroeboesman.

Turun dari pesawat, mata gw langsung dimanjakan oleh pemandangan indah luar biasa! Bagian utara dan selatan dipenuhi gunung, sementara bagian timur langsung terlihat pantai. Belakangan, dalam perjalanan, gw melihat bahwa laut juga ada di bagian barat kota. Cantik sekali!

Di hari2 berikutnya, setiap kali mengelilingi kota, pikiran yang sama terlintas di kepala gw: Bagaiman
a, ya, perasaan Bung Karno ketika diasingkan di Ende? Bisakah pemandangan seindah ini membuatnya kerasan walaupun jauh dari tanah Jawa dan hidup dikelilingi malaria? Atau jangan2 sang seniman besar ini malah rela menghadapi Das Ende des Lebens, akhir kehidupan, lantaran keindahannya? Buktinya, justru di bawah naungan sebatang pohon sukun beliau mendapatkan inspirasi bagi masterpiece-nya: Pancasila.

*Eh, gw ngomong gini kedengarannya patriotik banget, nggak? HAHAHAHA.. Padahal, jaman tahun 30-an, pas Bung Karno dibuang ke sana, kan Pulau Jawa juga masih indah, kaleee.. Belum ketutup gedung2 sebanyak ini ;-)*

Anyway, soal akhir kehidupan ini, sedikit banyak nyambung juga dengan legenda Ende. Konon, kota Ende terbentuk di ujung sebuah tanjung kecil di Pulau Flores, lantaran kisah cinta yang berakhir tragis. Seorang gadis cantik bernama Ia dijodohkan dengan pemuka adat bernama Wongge. Namun, Ia memilih lari dengan kekasihnya. Wongge yang merasa dipermalukan mengejar sepasang kekasih ini hingga terdesak. Dipenggalnya kepala kekasih Ia dengan parang. Potongan kepala itu berakhir menjadi Pulau Koa, pulau bulat kecil di timur pantai Ende yang gw lihat dari jendela pesawat. Parang pemenggal kepala itu menjadi Pulau Ende, pulau panjang di barat pantai kota Ende. Pemuda kekasih Ia menjadi Gunung Meja di selatan kota (nyaris di ujung tanjung), sementara Ia menjadi gunung berapi yang tersembunyi di belakang Gunung Meja. Wongge sendiri sendiri menjadi pegunungan kukuh di utara kota yang seolah menghalangi Ende dari the rest of Flores.

Akhir cerita yang tragis romantis ;-). Buat yang suka romantis2an dan pengagung jargon love is stronger than anything in this world, mungkin kisah ini bisa dijadikan maskot tentang betapa cinta akan menghasilkan sesuatu yang indah. Setragis apa pun cinta itu, hasilnya akan indah. Seperti kota Ende yang terbentuk dari cinta segitiga tragis ;-)

Well.. memang itu hanya cerita rakyat. Tapi gw takjub dengan akurasi topografinya. Seolah2 Meja memang melindungi kekasihnya Ia dari kemarahan Wongge, menyembunyikannya dari tatapan Wongge di belakang punggungnya. Dan kalau Wongge yang di utara itu membuang parangnya ke barat, berarti dia memegangnya dengan tangan kanan, alias nggak kidal.. hehehe..

*Oops, sorry, mikirin serius legenda rakyat ;-) IMO, setidaknya, legenda ini lebih masuk akal daripada Sangkuriang yang selalu bikin gw bingung: kenapa perahu yang dia bikin lebih besar daripada danaunya.. hehehe.. Iya, kan? Gunung Tangkuban Perahu lebih besar daripada danaunya? Pasti kemampuan spasialnya Sangkuriang jelek, mungkin pas sekolah Sangkuriang nilai geometrinya pas2an ;-)*

Anyway, beberapa sudut kota Ende gw abadikan dalam foto berikut. Sayang, mentari terbenam di Woloweku serta di Pelabuhan Ipi justru tidak bisa ditampilkan lantaran hasil pemotretannya terlalu gelap. Padahal, dua tempat ini menyajikan pemandangan yang [menurut gw] terbaik. Dan sayang juga, gw tidak sempat menyaksikan Danau Kelimutu lantaran terbatasnya waktu. Tapi, seperti kata Mas Arnold Suasana-seger di The Terminator, "I'll be back!". Suatu hari gw pingin kembali ke Ende untuk melihat2 apa yang belum sempat gw lihat ;-)






Kalau gambarnya gak muncul2, sabar ya.. loadingnya agak lama ;-)

***
Barangkali, lantaran hidup di kota yang seindah dan senyaman ini, masyarakatnya juga terbentuk menjadi masyarakat yang ramah, polos, dan tidak penuh kecurigaan. Saat pertama kali teken kontrak untuk proyek ke Ende ini, gw sempat browsing internet mencari informasi tentang kota yang [buat anak kota besar manja macam gw ini] masuk kategori in the middle of nowhere. Seluncuran maya gw mendarat di blog Bang Ooyi, alias Mohamad Choiry Rodja, putra asli Ende yang sangat bangga akan kotanya. Dalam perkenalan pertama, Bang Ooyi dengan baik hati langsung putar2 kota mencarikan informasi penginapan yang layak. Bahkan sampai kehujanan! Pun, dia langsung memberikan nomor hape miliknya dan milik sahabatnya untuk dihubungi sewaktu2. Sebuah bentuk keramahan yang tidak biasa gw alami di Jakarta. Terus terang, membuat gw sedikit jengah dan bingung bersikap. Kehidupan Jakarta yang keras membuat gw sangat hati2 memberikan informasi pribadi kepada orang lain, apalagi yang belum pernah bertemu muka.

Waktu itu, gw pikir, ini hanya keramahan seorang individu. Mungkin disebabkan karena antusiasmenya menyambut pertanyaan tentang kota kebanggaannya. Namun, ternyata, sikap yang sama gw temukan dalam berbagai bentuk selama gw berada di Ende. Mulai dari salah satu responden yang dengan entengnya menyerahkan KTP pada field supervisor gw untuk difotokopi (dan baru dikembalikan seminggu kemudian, pas pelaksanaan FGD!), pemilik kedai makan yang dengan entengnya menyuruh gw bayar besok saja lantaran dia belum punya kembalian untuk uang Rp 50,000 yg gw sodorkan, sampai pemilik penginapan yang bahkan didn't bother to register my name upon my arrival (Hehehe.. asli! Kalau gw kabur gak bayar, Ibu Ida ini juga nggak bakalan tahu, kali! Lha wong gw gak tercatat ;-)).


Yang paling menakjubkan adalah reaksi responden terhadap konsep yang gw ujikan dalam Focus Group Discussion. Salah satu bagian dari konsep itu kurang lebih berbunyi: "Hal ini telah menyebabkan rata2 setiap harinya sejumlah X orang meninggal". Di tiga kota sebelumnya (dua di Jawa dan satu di Sumatra, ketiganya tentu lebih besar daripada Ende), kalimat ini selalu menimbulkan reaksi keras. Mereka begitu skeptis terhadap pernyataan ini, menganggapnya mengada2, karena menurut mereka jika benar2 terjadi maka daratan Indonesia sudah penuh dengan mayat bergelimpangan. Surprisingly, masyarakat Ende justru tidak punya keraguan apa2 terhadap pernyataan ini. Mereka dengan tepat merasakan nuansa bahaya pernyataan tersebut, tidak sibuk memikirkan kelogisan pernyataannya.

Tampaknya benar kata Bang Pius, salah satu anggota tim kami yang juga asli Ende, "Kalau di Jakarta orang Flores terkenalnya tukang pukul, ya Bu? Padahal sebenarnya orang Flores ramah2 sekali. Tidak suka mikir rumit2, yang penting senang aja"

Hehehe.. memang, mungkin masyarakat ini benar2 ramah, polos, dan tidak suka memikirkan macam2. Spontan2 saja, seperti air mengalir. Saking spontannya, jadwal pesawat pun tidak tetap.. hehehe.. Tidak jarang rute dan jadwal terbang berubah hanya dalam hitungan jam sebelum keberangkatan. Seperti pesawat yang gw tumpangi dari Ende ke Kupang untuk pulang. Saat pertama pesan, konon jadwalnya adalah pukul 13:00. Empat hari sebelum berangkat, berubah menjadi pukul 08:00. Eeeh.. 12 jam sebelum berangkat, ganti jadwal lagi menjadi pukul 10:00. Alasannya? Penumpang Ende-Kupang terlampau sedikit hari itu, jadi pesawatnya mau terbang ke Ruteng saja dulu. Halah! Bikin sport jantung gak sih.. hehehe.. Nggak heran ketika beli tiket two way, orang2 malah heran dan bertanya: kenapa gak one way saja? Ternyata di tempat ini one way ticket adalah pilihan yang lebih tepat.. hehehe..

Makanya, walaupun gw sangat menikmati keindahan Ende, lega juga rasanya ketika menginjakkan kaki lagi di Jakarta. Back to the land where credit card rules, any information is just one click away, and everyone must hurry to meet the tightly arranged schedule ;-). Pusing juga ketika di Ende harus bawa uang tunai lantaran gak ada BCA dan gak ada yang terima kartu kredit, nggak ada GPRS apalagi 3G, dan kalau mau ke warnet harus naik ojek dulu ;-)

UPDATE 27 Januari 2007:

Yang punya Bandung complain Sangkuriang dibilang gak jago geometri.. hehehe.. Langsung mengeluarkan panduan geowisata:
"Kota Bandung bentuknya cekung. Dulunya Bandung adalah danau purba, 720mdpl. Jalan Dago (sekarang Juanda) adalah pelabuhan purba tempat nge-dago (menunggu) perahu. Layar perahu Sangkuriang jatuh di Burangrang (dari kata boeh rangrang = layar nyangkut)."
Hehehe.. thanks Mbak'e, atas informasinya. Jadi lebih OK nih legenda Sangkuriang ;-) Ternyata danaunya udah kering ya?

Tapi.. jadi timbul pikiran iseng lainnya.. hehehe.. Sangkuriang teh asli orang Sunda atau orang Minang ya? Kan kalau bahasa Sunda tuh Kuring. Yang suka nyisip2in huruf A bahasa Minang, seperti Kampung yang jadi Kampuang. Jangan2 nama aslinya Sang Kuring, bukan Sangkuriang.. hehehe... Atau Sangkuriang lama berlayar ke ranah Minang ya?