Wednesday, January 10, 2007

As Nature Made Him

Baru selesai baca sebuah buku bagus As Nature Made Him: The Boy Who Was Raised as a Girl. Sebenarnya ini buku lama, terbitan tahun 2001. Samar2 gw ingat cerita ini pernah diulas di salah satu majalah juga. Baru gw baca sekarang karena baru nemu di penjualan buku bekas beberapa hari lalu.

Buku ini merupakan biografi David Reimer yang lahir sebagai Bruce, dibesarkan sebagai Brenda, sebelum akhirnya kembali kepada kodratnya sebagai pria. Saat berusia 8 bulan Bruce [dan kembar identiknya Brian] mengalami kesulitan buang air kecil yang berujung ada keputusan untuk mengkhitan mereka. Celakanya, dokter anak yang biasa melakukan operasi kecil ini tidak datang, dan di saat2 terakhir tugasnya digantikan oleh seorang dokter umum. Lebih celaka lagi, dokter umum ini terlalu kreatif; bukannya menggunakan pisau bedah seperti prosedur khitan standard, malah pakai sejenis cutter listrik. Akibatnya bukan hanya kulup yang terpotong seperti rencana, tapi the rest of the penis ikut terbakar gosong dan ”mrotholi” (=hancur berkeping2 perlahan2) beberapa hari kemudian.

Orang tua Bruce sempat mempertimbangkan menerima saran dokter: memberikan penis buatan. Sayangnya, di tahun 1960-an, penis buatan ini hanya dapat berfungsi sebagai alat buang air kecil saja. Di saat orang tua Bruce mempertimbangkan kehidupan seksual (dan sosial) putranya di masa depan, mereka mendapatkan alternatif lain: operasi transseksual. Saat itu telah berhasil beberapa operasi terhadap bayi2 yang lahir dengan kelamin ganda. Bayi2 ini tumbuh sesuai dengan jenis kelamin yang ”dipilihkan” untuknya, dan menjadi dasar untuk mempertegas bahwa gender role itu lebih dipengaruhi nurture (=pengasuhan anak) daripada nature (=jenis kelamin yg terberi secara biologis). Mendengar kesaksian2 beberapa pasien transseksual, yang kini dapat menjalani kehidupan wanita dan benar2 merasa menjadi wanita normal walaupun lahir sebagai lelaki, orang tua Bruce memutuskan untuk mengambil langkah ini. Bruce pun dioperasi menjadi Brenda pada usia 22 bulan.

UPDATE 11 Januari 2007:

Selain menjalani operasi alat kelamin, Brenda juga mendapatkan perawatan lanjutan untuk menjadikannya seorang wanita. Di antaranya berupa suntikan hormon estrogen yang merupakan hormon kewanitaan. Hasil dari terapi hormon ini membuat perkembangan fisik Brenda berbeda dengan Brian. Misalnya, pada usia akil balik, Brenda tidak setinggi Brian, bahkan payudaranya pun mulai tumbuh.

Sayangnya, walaupun ”dikondisikan” untuk menjadi perempuan, tidak sekalipun Brenda merasa demikian. Awalnya hal ini dianggap sebagai hal yg wajar; seorang anak perempuan yang dikelilingi saudara laki2 sering kali menjadi tomboy. Tapi ketika Brenda semakin tidak bisa menyesuaikan diri secara sosial, dan bahkan akhirnya ketika remaja pun dia mulai naksir anak perempuan, semua terpaksa setuju bahwa it doesn’t work. Brenda pun diberi tahu kisah hidupnya, dan akhirnya dia memutuskan kembali ke kodratnya sebagai laki2. Syukurlah, dengan teknologi yang sudah lebih berkembang, David berhasil merekonstruksi alat kelaminnya. Tidak hanya mengembalikan fungsi buang air kecilnya, rekonstruksi ini juga memungkinkannya untuk menjalani kehidupan seksual yang relatif normal.

***

Kesimpulan yang diberikan buku ini sangat menarik. Seperti dikatakan oleh Dr. Milton Diamond, yang berperan besar mengembalikan David kepada kodratnya, sex reassignment of a developmentally normal infant was impossible (p. 174). Bisa saja operasi transseksual itu berhasil baik pada bayi2 berkelamin ganda; namun itu harus dibaca sebagai keberhasilan mengatasi ketidaknormalan, dan bukan digeneralisasikan pada kondisi normal. So, don’t mess up with nature.. :-) Apa yang sudah secara alamiah demikian, jangan diubah2 atau diintervensi, karena nggak akan berhasil. Jangan jadikan pikiran2 kita sendiri sebagai justifikasi untuk mengubah yang sudah terberi secara alamiah. Kecuali kalo memang terjadi penyimpangan alamiah, baru kita berusaha untuk memperbaikinya.

Tapi.. walaupun gw setuju dengan kesimpulan di atas, tak bisa tidak, gw masih kebayang kesimpulan itu masih punya antitesis. Well, mungkin istilahnya bukan antitesis ya, tapi pertanyaan lanjutan tentang sebenarnya aspek herediter apa yg membuat Bruce tidak pernah percaya dirinya perempuan. Bahwa mungkin bisa saja operasi transseksual terhadap anak yg terlahir normal itu berhasil, kalau saja bukan Bruce yang mengalaminya.

Dalam biografi itu diceritakan bahwa sejak lahir Bruce terlihat punya temperamen yang lebih eksploratif dan dominan, sementara Brian lebih tenang dan pengalah. Setelah besar pun, Brian cenderung mengalah kalau diserang anak2 lain, sementara Brenda (aka Bruce) selalu memilih berjuang dengan berkelahi. Kira2, jika yang mengalami perlakuan ini adalah Brian the calmer twin, apakah dia akan lebih menerima peran perempuan yang dikondisikan padanya? Maksud gw.. apakah penolakan Brenda (aka Bruce) ini murni disebabkan ”sekedar” karena dia lahir sebagai laki2 normal? Atau lebih disebabkan karena temperamennya yang cenderung lebih opinionated, tidak mudah percaya, dan lebih ke arah ”kutahu yang kumau”? (halah.. Sprite kali ;-)). Bukan secara umum tidak bisa diterapkan pada mereka yang lahir normal, tapi tidak berhasil karena faktor Bruce sebagai individu.

Pertanyaan lain adalah: seberapa jauh fakta bahwa Bruce & Brian adalah kembar identik berperan dalam membentuk instink Brenda (aka Bruce) bahwa dia bukan perempuan? Kembar identik berasal dari satu telur dan memiliki ikatan batin yang lebih kuat dari kembar dua telur atau sekedar saudara kandung. Jika Brenda (aka Bruce) tidak memiliki saudara kembar identik laki2, apakah lebih mudah baginya untuk menerima peran sebagai perempuan?

Jadi.. pertanyaan besarnya: sejauh apa sih kita bisa mengintervensi apa yang ditentukan alam?

Sayang, walaupun Brenda (aka Bruce) akhirnya kembali ke kodratnya, bahkan sempat menikah (Ya, through the use of advanced microsurgery, [the artificial penis] could be supplied with sensation – p. 190), dan sempat hidup berbahagia beberapa tahun, akhirnya David Reimer mengikuti jejak kembar identiknya: bunuh diri. Dengan demikian pertanyaan2 di atas masih belum bisa terjawab saat ini.

Atau.. mungkin ada yang bersedia menjalani kastrasi untuk menjawab pertanyaan2 di atas ;-)? Hehehe.. Kan itung2 namanya bisa terkenal sepanjang jaman ;-)

UPDATE 15 Januari 2007:

Ngomong2, setelah penasaran dan gw baca2 ulang buku di atas, gw nemu satu penjelasan yang mirip hasil Jeng Okke mengaduk2 laci ingatan dan professional judgment-nya Mbak Evy:

"All the tissues underlying sexual behavior - whether peripheral structures, brain tissues, blood, or muscles - are organized into a whole; and that the organization is imposed by exposure to hormones before birth"

(p. 43)

Temuan dari Will Young ini disebut organizing principle, dan menjelaskan bahwa yang menyebabkan perilaku maskulin pada guinea pig berkelamin ganda yang disuntik testosteron bukan disebabkan oleh penyuntikan hormonnya, tapi karena memang sejak terkonsepsi pun hewan ini sudah memiliki kecenderungan maskulin ;-)

Ngomong2, kalau kayak Dorce dan para Fantastic Doll gitu, apakah murni nurture, atau karena organizing principle-nya ada yg gak beres waktu perkembangan janin ya? Hehehe.. Masih kekeuh mikirin ;-)