Tuesday, January 30, 2007

Pledoi Sang Iblis

Dalam paradoksnya yang terkenal, Epicurus mempertanyakan hubungan antara Tuhan dan kejahatan. Kata si filsuf yg [kalau dilihat dari foto patungnya] nggak kurus2 amat ini:

God either wants to eliminate bad things and cannot, or can but does not want to, or neither wishes to nor can, or both wants to and can. If he wants to and cannot, he is weak -- and this does not apply to God. If he can but does not want to, then he is spiteful -- which is equally foreign to God's nature. If he neither wants to nor can, he is both weak and spiteful and so not a god. If he wants to and can, which is the only thing fitting for a god, where then do bad things come from? Or why does he not eliminate them?

Bagi banyak orang yg nggak percaya Tuhan, paradoks ini sering sekali dikutip untuk membuktikan bahwa Tuhan itu nggak ada. Ataupun kalau ada, Tuhan itu nggak bisa apa2. Lebih parah lagi: Tuhan ada, tapi Dia jahat. Contohnya aja orang yg menjadi inspirasi buat si Mbak menulis entry ini ;-)

Naaaah.. waktu lihat buku Iblis Menggugat Tuhan: The Madness of God di TGA Sabtu lalu, gw pikir gw juga akan menemukan bahasan Epicurian seperti di atas. Apalagi teaser di sampul belakangnya udah seiya sekata begitu:

”Kau bilang Adam berdosa gara-gara hasutanku? Kalau begitu, atas hasutan siapa aku melakukan dosa?”

Ternyata, buku ini jauh dari hasutan2 yang mempertanyakan, apalagi memojokkan, Tuhan ;-).

Memang, isinya pleidoi (=pembelaan) terhadap iblis. Namun secara keseluruhan isinya mirip2 dengan The Lost Gospel; sekadar menunjukkan sisi lain, bukan menyalahkan yang selama ini dianggap baik dan benar. Dengan gaya bertutur yang menarik, Daud ibn Ibrahim al-Shawni menjabarkan kemungkinan alternatif tentang keterpurukan iblis: iblis menentang Tuhan sebagai bentuk kecintaan dan pengabdiannya terhadap Tuhan.

*OOT: pas lihat nama penulisnya, Shawni, gw gak tahan untuk nyanyi ala Bunga C Lestari, ”Shawni, Shawni, apa kabarmu? Kabarku baik-baik saja”.. oops.. ;-)*

Seperti Yudas yang berkhianat di Taman Getsemani supaya Yesus bisa menggenapi takdirnya ditangkap, disalibkan, dan menebus dosa manusia, iblis pun menentang Tuhan dan menggoda manusia bak recruitment & selection officer untuk menyaring siapa yang layak masuk surga kelak. Yang gak tahan godaan, gak lulus seleksi. Yang tahan godaan, bisa maju ke tahap selanjutnya. Demikian seterusnya, sehingga tersaringlah orang2 yang memang layak dapat bintang ;-)

”Kusesatkan mereka yang diperintah Allah; dengan cara ini aku mengabdi sepenuhnya”

(p. 82)

Kalimat yang mbeling, ya? Memang, tapi toh menarik untuk disimak dan direnungkan.

Buat gw, kalimat ini menarik karena bisa menjadi jawaban yang pas banget untuk dilontarkan kepada para pengutip paradoks Epicurus ;-) Inilah jawabannya kenapa Tuhan tidak mengeliminasi bad, evil things.

Iya, gw termasuk yang rada mbeling berpikir bahwa Tuhan sengaja nggak menghilangkan kejahatan dari muka bumi. Malah, mungkin kejahatan iblis sudah ada dalam skenario yang dibuat Tuhan. Bukaaan.. bukan karena Tuhan nggak sayang sama manusia. Bukan juga karena Tuhan iseng dan ingin mengadu domba. Dan tentu saja bukan karena Tuhan gila hormat; menciptakan kejahatan supaya orang berdoa pada-Nya. Tuhan menciptakan iblis (dan dengan itu menciptakan kejahatan) semata2 untuk keseimbangan. Kejahatan diciptakan sebagai pasangan kebaikan. Segala hal di dunia ini berpasangan kan? Supaya seimbang ;-)

Jika tidak ada kejahatan, apakah kebaikan akan terlihat baik? Jangan2 kebaikan malah menjadi sesuatu yang biasa2 saja jika dunia sudah menjadi utopia ;-).

Jika tidak ada kejahatan, apakah kita punya harapan? Bukankah harapan selalu datang dari kebaikan, atau setidaknya persepsi kita tentang kebaikan?

Dan jika dunia sudah penuh dengan kebaikan, sudah menjadi utopia, status quo, masih perlukah kita hidup? Apalagi yang perlu dilakukan manusia, jika sudah tidak ada apa2 yang harus diperjuangkan?

So.. memang ada yang harus jadi tokoh antagonis dalam dunia ini supaya hidup lebih hidup. Dan masuk akal juga buat gw kalau iblis, sang tokoh antagonis, meng-claim dirinya melakukan kejahatan dalam rangka mencintai dan mengabdi pada Tuhan. Ada banyak cara mencintai dan mengabdi, toh? Menunjukkan cinta dengan cara menjadi pasangan yang dedicated to, atau bahkan devoted to, mungkin mudah2 saja. Tapi.. it sounds so sexy menunjukkan cinta dengan cara menjadikan dirinya tumbal demi kemuliaan Yang Dicintainya ;-).

Aneh? Mungkin. Tapi, seperti kata the devil himself:

”Logikamu tak mampu mengukur, apalagi menjelaskannya. Tahanlah diri, karena tak sanggup kau cerna”

(p.12)

Still, gw ingat kata pengantar dari Majalah Gatra untuk buku ini: novel ”nakal” yang apabila tak dibaca hati-hati bisa menggelincirkan. Oleh karena itu, gw sudahi saja tulisan ini sampai di sini. Sebelum makin banyak orang yg percaya bahwa iblis itu sebenarnya mencintai Tuhan, hanya saja caranya tidak biasa ;-).

Gw sarankan aja untuk pada baca buku ini, deh. Highly recommended! Isinya penuh dengan ungkapan cinta pada Tuhan, jadi cocok2 aja dibaca oleh mereka yang gak percaya bahwa Tuhan menciptakan [kejahatan] iblis on good purpose ;-). Sementara buat mereka yang sok tahu dan sok kritis [iya, iya, termasuk gw ;-)], it will be amazing to read the words of love towards God coming from the mouth of the devil himself ;-).

UPDATE 1 Februari 2007:

Pas nge-Wiki Shawni tadi, gw baru tahu bahwa buku ini sebenarnya merupakan bagian trilogi yang sebaiknya tidak dibaca terpisah. Sempat diterbitkan di Indonesia tanpa sepengetahuan Shawni, dan bikin dia mencak2 karena yg dua lagi tidak diterbitkan sehingga konteks ceritanya gak jelas. Ck, ck, ck.. kok bisa sih, menerbitkan secara resmi dan dipasarkan resmi di toko buku, tapi gak pakai ijin si penulis? Negara yang aneh! *geleng2 kepala*

UPDATE 6 Februari 2007:

Some of you might've noticed this comment yesterday. Yup! It is really from Da'ud Shawni himself, the author of the book *hihihi.. malu gak sih gw, udah nyanyi2 ternyata yg punya nama baca ;-)* He is a blogger too. Click that link to read his blog, or directly click this and this to access his comment about the other reviews of the book. And.. the word "trilogy" might not suit his work. It's better to call it triptych (= a work of art divided into 3 sections), like the author calls it in his blog.