Thursday, December 31, 2009

Confusius' Block

Beberapa belas tahun silam (atau lebih dari 20 thn ya?), Budhe gw di Singapore pernah memberi oleh2 untuk Bapak dan Ibu berupa sebuah buku berjudul "What Men Know about Women". Bukunya tebal sekali, paling enggak satu rim. Isinya?.... Hehehe.... jangan kaget, isinya cuma lembaran kosong ;) Ya, buku itu memang [kata Budhe] buku lucu2annya bule ;-) Untuk mengatakan bahwa laki2 tidak tahu apa2 tentang perempuan... tanpa kata2, tapi dengan kasus nyata ;-)

Ketika Agustus 2009 lalu Okke Sepatumerah mengirimkan draft novel terbarunya, gw sempat teringat buku ini. Judul draft-nya [seharusnya, atau gw asumsikan sebagai]: Blank. Tapi dia menamai file tersebut: BLAK (tanpa N). Ceritanya tentang seorang penulis yang nge-blank, alias lagi kena writer's block.

Do you understand what I mean ;-)? Ngerti kan kenapa gw teringat buku lucu itu? Hehehe... gw mikir: apakah ini cerita tentang nge-blank dengan mencontohkan apa jadinya sebuah tulisan kalau si penulis lagi nge-blank ;-)?

On top of that, setengah draft pertama Okke kayak nggak tahu mau cerita apa. Muter2 nggak karuan di situ2 juga. Sumpah! Bikin gw il-feel bacanya... HAHAHAHAHA... Untung bagian itu sudah dikomentari oleh Double D (baca: Dearest Dodol), sehingga gw punya excuse buat speed reading ;-)

Still, it took 2 months for me to force myself reading it ;-) Soalnya ternyata gw tetap aja nggak bisa speed reading. Jadi deh... gw bolak-balik mencoba baca, berhenti, baca lagi, berhenti, lupa udah sampai mana, baca dari ulang lagi, dst. Dan - karena gw ratu tega nan telengas - gw bilang tanpa tedeng aling2 ke dia: novel loe yang ini separuh bagian pertama membosankan ;-)

***

Tetapi kemarin gw menerima sebuah kiriman dari Jeng Okke. Sebuah buku berjudul "Heart Block: Biarkan Cinta Menemukanmu". Dengan catatan di halaman pertamanya seperti foto di samping. Ini adalah reinkarnasi Blank alias Blak itu ;-)

Gw sebut reinkarnasi, karena beda banget dengan cikal-bakalnya. Buku ini sangat mengalir, dan gagal bikin gw bosen ;-) Dan... memperhatikan novelnya Okke sejak dia masih novelist-wanna-be, menurut gw ini adalah yang alurnya paling 'ngalir' dibandingkan dua novel terdahulu.

Novel ini berkisah tentang Senja Hadiningrat, selebriti instan di dunia tulis-menulis, yang novel pertamanya meledak bak supernova (the star, I mean, not the novel ;-)). Seperti layaknya supernova yang extremely luminous before it begins to fade, Senja pun segera menemukan kenyataan pahit: menulis novel kedua yang bagus adalah sangat sulit, ketika novel pertamamu bersinar sangat terang.

Untuk menambah komplikasi, si selebriti instan ini punya manajer yang kayaknya bakal cocok di-hijack oleh marketing manager perusahaan FMCG ;-). Baterainya Duracell, tangannya delapan, ... Uuuhmmm... bukaaaan... manajernya bukan laba-laba atau gurita, tetapi memang sangat progresif sekali, sehingga menerima semua tawaran kontrak buat Senja.

... dan... Senja pun kabur ke Ubud, Bali. Untuk menenangkan diri, sekaligus mencoba mengusir writer's block-nya.

Selanjutnya kisahnya bergulir bak kisah remaja pada umumnya. Senja bertemu pria ganteng mampus bernama Genta. Seorang pelukis romantis yang "tahu banget gimana memuaskan perempuan" ;-)

*oh, enggak, tidak ada konotasi seksual di sini. The novel is full of kissing, but alas, there is no more than that ;-) Kurang kinky loe, Kke ;-)*

Bersama Genta, Senja menemukan kembali kepercayaan dirinya, dan the muse yang dikejarnya hingga ke Bali.

Selesai?

Hmm... akhir ceritanya nggak segampang itu, sih ;-) Tapi demi pundi2nya Okke, gw nggak ceritakan deh akhirnya. Biar kentaaaang dan pada beli bukunya ;-)

Ada beberapa hal yang membuat gw tekun membacanya. Yang pertama tentunya adalah karena dikirimi buku gratis lengkap dengan tanda tangan dan kata mutiara, yay! adalah pembangunan karakter yang kuat. Gw sangat bisa membayangkan bagaimana tokoh Tasya si manajer Duracell di alam nyata, dan... ketika baca bukunya, tingkah polah si Tasya itu tidak kontradiktif dengan apa yang gw amati pada tokoh2 senada sehari2. Demikian pula tokoh Genta, si seniman romantis yang bisa casually in love dengan setiap wanita ;-)

*uuuh... I like this term: casually in love ;-)*

Gayanya Genta yang mendekat-tapi-nggak-committed itu benar2 copy paste dari beberapa seniman asli yang gw kenal. Juga surprise2 kecil impulsifnya terhadap Senja... pendeknya, tingkah polah si tokoh nggak bikin jidat gw berkerut karena kontradiktif menurut apa yang gw pelajari di psikologi ;-)

Yang kedua, gw merasa Okke menggambarkan dengan baik kesalahan Confusius melalui beberapa paragrafnya ;-) Paragraf yang gw maksud adalah:

"Aku pikir yang namanya seniman itu nggak bisa kerja dengan sistem kontrak, lalu ber-deadline. Kupikir yang namanya seniman itu nggak mau diatur-atur"

"Ya enggak bisa gitu jugalah," ia mendengus, "yang namanya pekerjaan, pasti ada lingkaran setan bernama sistem. Kamu nggak ngikutin sistem, kamu mati."

(hal. 216)

"Serius nih? Kamu bener-bener nggak pernah mati ide atau nggak mood?"

"Oh, siapa bilang? Sekarang aja aku lagi mati ide dan nggak mood," ia terkekeh. "Tapi aku harus ngelakuin apa pun untuk melawan itu. Apa pun. Ada beberapa temanku yang ngakalinnya dengan bikin konsep yang sama, ganti objek, ganti teknik, malah ada yang cuma geser-geser objek, "Genta tertawa pahit, "dan lukisan mereka laku... semua audience bilang brilliant, padahal yang dibuat itu sampah buat menuhin deadline"

(hal. 217)


Hubungannya dengan Konfusius? Well... pernah dengar kan, Konfusius berkata seperti ini, "Find a job you love, and you'll never work a day in your life"

Hehehe... Konfusius pasti lagi nge-blank waktu mengeluarkan kata2 itu ;-) A job is a job. Meskipun loe suka kerjaan itu, kalau udah jadi kerjaan, ada lingkaran setan bernama sistem ;-)

Sebagai pekerja, gw mengamini hal itu banget! Boleh dibilang, pekerjaan gw adalah sesuatu yang gw suka. Sehari2 kerjaan gw mengamati, menganalisa, dan menuangkannya dalam tulisan. Tapi... kalau udah banyak deadline, tetap saja gw merasa tertekan ;-)

Anyway... buku ini memang buku ringan. Jadi jangan berharap menemukan yang berat2 di sini... hehehe... Meskipun, ada juga insight ringan yang bisa diambil berkaitan dengan judulnya. Tentang how to find your passion. Karena hanya jika seorang penulis bisa menemukan passion lah maka tulisannya bisa bagus. Writer's block pasti berlalu, meskipun mungkin makan waktu bertahun-tahun:

Contohnya Henry Roth, penulis novel 'Call it Sleep' (diterbitkan tahun 1943) baru menerbitkan novel selanjutnya, "Nature's First Green" di tahun 1979, gara-gara writer's block akut. Tiga puluh enam tahun, an akhirnya berlalu juga. Eh, tapi 36 tahun lama juga ya?

(hal. 309)


Yaah... proses menemukan passion itu memang waktunya nggak pasti. Tapi... pasti akan tetap datang kok ;-) Yang penting keep fighting aja, seperti nasihat Genta. Kita toh nggak bisa melepaskan diri dari sistem ;-)

Oh, tentu saja, novel ini juga nggak sempurna. Gw masih mencatat kontradiksi2 minor yang mengganggu. Cerita tentang telepon yang masuk di halaman 188, misalnya, tidak mungkin terjadi kalau diawali dengan kisah di halaman 170 ;-) Dan deskripsi ruangan di halaman 206 kontradiktif dengan halaman 158 ;-) Belum lagi typo parah di 287 ;-)

Tapi... yaaah... itu biasa kok. Penulis sekelas Dan Brown juga melakukannya di The Lost Symbol... hehehe... ;-) Yup, kalau draft-nya mengingatkan gw pada buku oleh2 Budhe, maka reinkarnasinya mengingatkan gw pada buku teranyar penulis fenomenal itu ;-) Gw menduga Dan Brown saat menulis buku terbarunya juga sedang berada pada titik nadir seperti Senja.

Udah baca bukunya? Kalau menurut gw, The Lost Symbol itu memaksakan diri untuk jadi bernuansa Da Vinci Code, buku Dan Brown yang paling laku. Padahal, kalau lihat dari plotnya, gw merasa si penulis lagi mood ke arah either Digital Fortress atau Deception Point. Akibatnya, menurut gw "jiwa"nya nggak ada tuh buku ;-) Nggak pas ;-) Kentang, bow, misterinya maksa dan jadi gampang banget ditebak.

Nggak heran kalau Dan Brown juga bikin kontradiksi yang sama dengan Okke ;-) Nggak percaya? Coba cek lagi halaman 22 - 23 (untuk yang bukunya terbitan Doubleday, NY). Atau gampangnya: akhir Chapter 5. Coba deh... gw ngerasa bagian itu nggak nyambung dengan kisah berikutnya, karena selanjutnya nggak dielaborasi (bahkan tidak disebut2 lagi) bahwa Nona Solomon dan Mal'akh saling berkomunikasi ;-)

Sorry, jadi ngomongin Dan Brown ;-)

Anyway... sebenarnya siiiiih, menurut gw harusnya editornya Okke menyadari kontradiksi2 ini. Walaupun minor, tapi jelas kok ;-) Mosok editornya harus gw kudeta sih ;-)?

Tapi, sebelum gw melengserkan si editor, gw kembali ingat pada Confusius' Block di atas: bahwa nggak ada kerjaan yang bisa bikin loe nggak ngerasa kerja sehari pun ;-) Even jika loe suka sama kerjaan itu ;-) Dan mungkin itulah mengapa si editor nggak nyadar ada kontradiksi ini, sementara gw sadar ;-) Gw membaca buku ini dengan passion seorang editor, karena gw bukan editor ;-) Sementara si Mbak Editor, walaupun mungkin senang dengan pekerjaannya, tentu sulit untuk membaca dengan detil ketika dia sudah terperangkap dalam sistem ;-)

Ah, Konfusius memang sedang nge-blank saat mengucapkan kalimat bijak itu ;-)

Friday, December 25, 2009

Xenophilius

Pertama2, sebelum dituduh Aramichi membesar2kan masalah, gw mau bilang dulu: gw nggak peduli sama Luna Maya! Swear! Tapi gw concern pada jurnalistik, dan pada logika, sehingga maaf2 aja kalau gw mendapat emotional push yang besar dari kasus ini ;-) Dan satu emotional push (sekaligus cerita yang lebih lengkap tentang kronologi kejadian) gw dapatkan dari perbincangan maya dengan Mas ini, seorang editor-in-chief.

*Ya, ya, gw emang suka mancing... mancing keributan ;-) Hobby banget ngomentarin komentar orang dan jadi berbalas komentar :-)*

Anyway, atas perkenan yang bersangkutan, gw boleh menuliskan perbincangan kami di blog ;-) Selama gw mencantumkan jawaban beliau secara verbatim ;-) Berikut persetujuannya (secara verbatim):

=====================================================
SILAHKAN MASUKKAN TANGGAPAN ANDA TERHADAP TULISAN SAYA PADA BLOG ANDA, TAPI ANDA PUN HARU SMEMASUKKAN JAWABAN TERBARU SAYA ATAS TANGGAPAN ANDA.JIKA TIDAK, SAYA KEBERATAN JIKA ANDA MEMASUKKANNNYA KE DALAM BLOGS ANDA, TANPA MEMASUKKAN KETIGA JAWABAN TERBARU SAYA.CLEAR?
===========================================

Bermula dari membaca tanggapan beliau di tulisan menariknya Mas Ludi Hasibuan. Komentar persisnya monggo dibaca aja di sana, tapi dari komentar panjang yang [setidaknya menurut gw] pro-infotainment anti-Luna ada 3 hal yang gw komentari: bahwa saat itu LM sebenarnya "membutuhkan" infotainment, bahwa kepala si anak terkena kamera adalah karena "kesalahan" Luna sendiri yang mengayun2kan si anak, dan anak terpentok kamera itu masalah sepele yang nggak perlu sampai tega mengeluarkan kalimat "sampah". Toh si anak tidak bangun dan menangis. Nggak fatal :)

Untuk hal yang pertama, jelas gw pertanyakan dasar berpikirnya :-) Apa buktinya Luna "butuh" infotainment saat itu ;-)? Untuk yang kedua dan ketiga, gw berikan contoh nyata berupa pengalaman gw sendiri.

Sebagai tanggapan untuk poin kedua, gw sengaja bikin percobaan kecil mengayun2kan Nara (20bulan, 11kg, 84cm). Ternyata, jarak aman bagi Nara adalah 30cm di kiri-kanan gw. Itu berarti, kalau anak yang digendong Luna terantuk kamera karena digoyang2, kamera itu sudah terlalu dekat. Less than 30cm, sehingga tidak dapat dikatakan bahwa itu salah si Luna sendiri. Coba kalau kameranya nggak terlalu dekat, Luna nari ballet sambil koprol juga nggak bakalan kepentok ;-)

Sedangkan untuk yang ketiga, gw kasih contoh bagaimana gw pernah ngamuk ke sekolahnya Ima yang lupa menutup pagar sekolah. Emang sih, Ima nggak sampai ketabrak mobil walaupun udah keluar pagar, tapi... kan nggak perlu nunggu anak gw kecelakaan FATAL baru gw boleh marah, ya ;-)? Same thing could happen to Luna, sehingga nggak bisa dibilang bahwa ini masalah sepele.

Naah... tanggapan beliau terhadap tanggapan gw adalah sebagai berikut. Gw tulis VERBATIM tanpa mengurangi satu kata pun ;-) Untuk membedakannya dari akar pertanyaan gw dan tanggapan gw selanjutnya, tanggapan beliau yang sudah gw mintakan ijin tayang itu gw tulis dalam format kutipan.

Jadi, format untuk ketiga tanya-jawab berikut adalah: kutipan komentar yang gw pertanyakan, disambung dengan penjelasan/jawaban beliau (dalam format kutipan), diakhiri dengan tanggapan mutakhir gw. Masing2 panjang lebar, jadi jangan memaksa diri membaca semua sekaligus ;)

***
"Menurut reporter yang bersangkutan, sepertinya LM tahu kalau ada camera yang menyorotnya dan momen memeluk anak menjadi "penting" baginya. Asumsi reporter itu bisa dipahami, karena sebelumnya santer kabar bahwa sebelum menikahi Ariel, LM perlu waktu untuk mendekati anak Ariel. Dan sejumlah infotainment pernah memberitakannya. Artinya, saat itu LM sebetulnya "membutuhkan" kehadiran infotainment (?)"

Mungkin anda tidak pernah menjadi wartawan di lapangan dan tidak memahami bahasa tubuh pesohor. Luna Maya jadi target pemberitaan sejak ia dekat dengan Ariel disaat Peterpan booming pertama kali. Teman-teman wartawan merasakan betul bagaimana sikapnya terhadap watawan disaat ia belum populer, kemudian disaat ia menjadi target pemberitaan, sampai akhirnya ia pada poisisi popularitas seperti saat terjadi insiden.

(Pada acara Debat di TVONE, Selasa, 23 Desember pkl 20:00 - 21:00 WIB) hal berikut ini sudah saya sampaikan. Jadi anda pun silahkan mengutipnya untuk blog anda)

Pada insiden tersebut, sesaat sebelum menggendong sang anak, Luna sedang berdiri santai sendiri. Disampingnya ibu Ariel yg sedang menggendong anak Ariel. Tiba-tiba Luna melirik ke rombongan wartawan yang menuju ke arahnya, dalam pandangan wartawan, Luna menyadari kehadiran wartawan. Kemudian ia buru-buru menggendong anak Ariel.

Logika rasional kita juga mafhum, dan tak perlu kecerdasan untuk memahami, bahwa sebetulnya dan Luna sadar imej.
Lewat bahasa gambar, ia ingin membuktikan pada camera wartawan, bawah gossip yang mengatakan bahwa ia tidak dekat dengan anak Ariel itu salah. Ia membuktikan dengan betapa anak Ariel tertidur pulas dalam gendongannya.

Jadi komentar anda sesungguhnya tidak dilandasi oleh proses panjang pemberitaan soal Luna Maya.

Luna "butuh" infotainment dalam pengertian; Luna ingin memanfaatkan camera infotainment dengan bahasa gambar; bahwa ia begitu akrab dengan anak Ariel.

Anda pasti tidak tahu, setelah kejadian kepala anak Ariel kepentok camera, sang wartawan langsung minta maaf pada Luna dengan berkata "sorry Lun, nggak sengaja,". Dan Luna menanggapi biasa saja.

Buktinya wawancara pada saat itu pun berlangsung. Jadi logika kita yang rasonal mengatakan tak ada masalah dong dengan peristiwa kepentok itu. Kalau bermasalah kenapa Luna menerima tawan wawancara? kenapa dia tidak sumpah serapah aja saat itu?

Jelas dia tidak melakukan itu karena dia berpikir infotainment akan mewawancarainya seputar hubungannya dengan anak Ariel.

Ternyata dia keliru; infotainment justru meminta komentar dia soal akting Ariel dalam film Sang Pemimpin
. Dan dia menjawabnya dengan lahap.

Anaknya nggak terbangun, apalagi menangis?
Dan dia pun melayani menjawab komentar seputar Ariel.
Dan yang lebih penting wartawan sudah minta maaf.

Lalu alasan rasional apa yang dia gunakan untuk menyampaikan kalimat sampah pada wartawan setelah semua berjalan biasa saja?

Dan satu hal yang anda harus catat, mungkin anda nggak mengikutinya, bahwa sepanjang tahun 2009, infotainment tak pernah memberitakan "miring" soal LUna Maya, kecuali berita soal bisnis barunya di Bandung, soal kontrak iklannya, soal film terbau, soal ia nyambi sebagia penyanyi.

Gossip panas dan miring soal Luna Maya itu terjadi tahun saat Peterpan masih populer dan terakhir di tahun 2008 saat Ariel dalam posisi sedang bercerai.

Lalu apa yang memicu dia marah pada wartawan infotainment?

Kalau kemarahan itu akibat pemberitaan infotainment yaa kita memakluminya...Ini hanya karena kepentok kepala sang anak, yg tidak berakibat fatal kok...Bahwa itu mengganggu yaaa... dan wartawan sudah introspeksi dengan meminta maaf... tapi dianggap sepi oleh Luna, terbukti ia ngomong di twitter dengan kalimat sampah.


Hehehe.... is it just me, atau ada yang aneh dengan kata2 yang gw bold sih? OK, berdasarkan kesaksian ini, Luna ujug2 menggendong si anak setelah lihat ada infotainment. Dengan menganggap kesaksian ini akurat, maka tindakan Luna ini dapat kita katakan sebagai FAKTA. Tetapi.... kalimat selanjutnya bahwa "Luna ingin memanfaatkan bahasa gambar untuk menunjukkan pada publik kedekatannya dengan anak Ariel" adalah ASUMSI :-) Bisa benar, bisa tidak.

Demikian juga dengan kata2 berikutnya bahwa Luna tidak segera marah2 saat itu juga setelah si anak kepentok, karena dia berharap diwawancarai seputar hubungannya dengan si anak. Bahwa dia baru marah2 setelah sepanjang wawancara ternyata nggak ditanya soal itu. Itu lagi2 adalah sebuah ASUMSI ;-) Bukan sebuah fakta ;-)

Gw sendiri melihat banyak kemungkinan kenapa Luna tiba2 menggendong si anak. Mungkin dia sendiri ingin menghindar dari wawancara, sehingga berharap akan lebih leluasa kabur kalau bawa anak kecil. Atau justru dia ingin melindungi si anak; sebagai pesohor yang sudah lebih mafhum gerak-gerik infotainment, dia bisa saja berpikir dapat lebih sigap menyelamatkan si anak if anything goes wrong daripada ibunda Ariel yang bukan pesohor itu ;-)

Kalaupun Luna memang benar ingin memanfaatkan bahasa gambar untuk menunjukkan kedekatannya dengan anak Ariel (siapa sih anak itu namanya? Gw gagap gosip nih... hehehe...), bukan lantas berarti dia marah2 belakangan karena nggak ditanya hubungannya dengan si anak. Buat apa? Kepentok atau enggak, bahasa gambar udah dapat, kan? Nggak ada alasan untuk marah2 juga. Jadi... logika rasional mana yang membuktikan bahwa marah2nya Luna adalah second thought, setelah sadar ternyata dia nggak ditanya2 soal anaknya Ariel ;-)?

Soal marah belakangan ini gw juga punya banyak kemungkinan. Satu kemungkinan: Luna sebenarnya sudah mau marah saat itu, tapi mengontrol dirinya sendiri. Baru, setelah dia sendirian, punya waktu untuk memikirkan hal itu, kemarahannya memuncak dan kemudian impulsif nulis di Twitter.

Dalam psikologi dasar, ada teori S-O-R. Suatu stimulus (=anak terpentok) tidak langsung menimbulkan reaksi (=marah2), tetapi harus diproses oleh organismenya (= manusia) dulu. Nah, seringkali proses ini terjadi belakangan, setelah stimulusnya lewat jauuuh ;-) Karena organismenya baru sempat menelaah. Bisa jadi Luna baru sadar betapa membahayakannya hal itu setelah lama berlalu :-)

So, talking about logika rasional, that's the one I can contribute ;-)

***

"5. Kata reporter itu, "ayunan" yang dibuat Luna Maya lah yang menyebabkan kepala sang anak ke pentok camera. Cerita tni bisa dibenarkan, karena setahu saya jarang sekali cameraman mengayunkan cameranya, apalagi saat mengambil gambar manusia yang tengah "statis".

Dalam suasana ramai, mungkin anda belum pernah merasakan jadi pesohor dan belum merasakan jadi wartawan, bagaimana disaat kerumunan dan keramaian sesuatu bisa saja terjadi tanpa kontrol.

Saya setuju bahwa wartawan harus introspeksi dengan mengkontrol cameranya. Setuju banget. Dan dalam sejarah peliputan tak ada camera yang bergerak dinamis dengan cepat. Soal jarak, kita tidak bisa memprediksi.

"Lepas kontrol" camera wartawan tak hanya terjadi pada peliputan infotainment terhadap pesohor.

Saat microphone wartawan membentur bibir Antasari Azhar, apakah anda melihatnya?

Apakah Antasari yang saat itu tengah dalam kondisi stress tertekan akibat posisinya sebagai tersangka pembunuh, kemudian marah dan mengumpat kasar pada cameraman wartawan politik sebuah tv swasta itu?

Sama sekali tidak.
Kenapa?
Karena Antasari pasti menyadari bahwa suasana ramai seperti saat itu semua orang bisa "lepas kontrol".
Dan saat yang bersamaan wartawan pun minta maaf. Clear.

Jadi kepentok dalam keramaian itu hal yang "lumrah", dalam pengertian bisa dimaklumi. Karena tak seorang pun dari wartawan mau melakukan itu pada anak Ariel dengan sengaja karena misalnya benci pada Luna. alangkah naifnya kalo logika itu yg digunakan.

Sekarang pertanyaannya, sebagai public figure yg jadi target berita, kenapa Luna Maya tidak berupaya "mengkontrol diri"nya pula?

Sudah tahu ada wartawan, ngapain buru2 gendong anak Ariel?
Okelah karena sudah terlanjur menggendong, kenapa tidak turunakan dulu sang anak saat wartawan datang mengerubuni? Bukankah dia artis lama yang udah mafhum pada kondisi dilapangan saat ada wartawan datang dengan camera?

Jelas infotainment bukan tembok dan saya yakin Luna pun bukan.Tapi alangkah bijaknya, jika dia bersikap arif seperti Antasari Azhar yg saat itu memang sedang dalam tekanan yang tinggi.

Tapi Luna? dia sedang santai dan sedang tidak bermasalah dengan infotainment?


Ada dua yang mau gw tanggapi di sini: tentang "kepentok = wajar" dan "kontrol diri"

Soal kepentok, gw agak setuju bahwa mungkin ada baiknya Luna justru tidak membawa2 anak dalam wawancara. Apa pun alasannya, itu membahayakan keselamatan si anak. Gw setuju bahasan beliau di poin selanjutnya tentang seleb yang tidak membawa2 anak dan menolak wawancara sebelum si anak dalam jarak aman

Tetapi... gw tetap tidak merasa bahwa kepentok adalah sesuatu yang lumrah dalam peliputan seperti ini. Gw masih nggak ngerti kenapa peliput tidak bisa menjaga jarak minimal setengah meter saja dari orang yang diwawancara. Gw yakin PH punya kamera dan mikrofon yang powerful, sehingga tidak perlu disodorkan sedekat mungkin. Dan... sebagai praktisi riset konsumen yang sering juga melakukan perekaman observasi, gw sudah membuktikan kok bahwa dari jarak 3m pun rekaman bagus. Padahal kamera gw pastinya nggak secanggih kamera PH, wong cuma handycam biasa :-)

Jadi, gw mempertanyakan frasa bahwa "kepentok adalah sesuatu yang lumrah". Apalagi saat merekam wawancara seseorang yang berdiri "statis". Bahwa seorang kameramen tidak dapat memegang kamera dengan steady sepanjang wawancara, bahwa ada kemungkinan dia terdorong2 sehingga kamera menabrak kiri kanan, itu sangat gw mengerti. Tetapi, jika suatu kamera sampai terkena seseorang - entah bibir Pak Antasari, entah anak yang digendong Luna - menurut gw pasti karena jaraknya tidak aman. Kalau jaraknya aman, kameramennya ngerekam sambil nari ballet juga nggak bakal kena orang... hehehe...

*tapi gw jadi iseng mikir: kalau kepentok adalah hal yang wajar, berarti bintangnya MTV pada biru2 semua ya ;-)? Kameranya goyang2 gitu... hehehe....*

Soal kontrol diri, hmmmm.... this one is trickier ;-) Setahu gw, yang namanya kontrol diri itu dibentuk oleh banyak hal. Ada hal2 herediter seperti personality type/trait/temperament (seorang ENFP seperti suami gw, misalnya, ambang toleransinya lebih besar daripada INTJ seperti gw), kematangan emosi, sistem nilai, serta locus of control. Selain itu faktor eksternal juga berperan. Termasuk tingkat pendidikan, pola asuh keluarga, dll.

Bahwa Pak Antasari bisa lebih mengontrol diri, itu tidak perlu dipertanyakan. Beliau terlihat memiliki kematangan dan kedewasaan yang lebih. Jika beliau tidak memiliki hal2 seperti ini, mosok beliau bisa mencapai karir setinggi itu? Mungkin memang kemampuan kontrol diri Luna belum setinggi beliau. Tapi kita nggak bisa mengatakan bahwa Luna nggak mencoba mengkontrol dirinya sendiri; hanya karena Pak Antasari tidak marah2 ketika bibirnya terkena kamera ;-)

Lagipula, walaupun kasusnya sama2 terpentok kamera, ada hal yang membedakannya: saat terjadi, Pak Antasari punya masalah yang lebih besar. Kalau seseorang terancam hukuman seberat itu, he has enough things in his mind to prevent him from making a fuss about the camera incident. Luna Maya, seperti dikatakan di atas, sedang santai. Bukan tidak mungkin masalah kepentok menjadi suatu "disaster of the day" buat dia ;-)

Sekali lagi, kalau ditinjau dari sisi psikologi, logika rasional menyatakan bahwa kita tidak dapat menyamaratakan semua kasus. Setiap perilaku, selalu dimunculkan oleh integrasi faktor2 yang berbeda. Oleh karena itu walaupun kasusnya sama, reaksi orang bisa beda. Sebaliknya, perilaku sama belum berarti disebabkan faktor yang sama.

***
"Mendengar cerita ini, jika kisahnya memang benar, coba bayangkan masa sih gara-gara persitiwa itu Luna Maya tega mengumpat media infotainment dengan kalimat sampah?"

Anda tak perlu mengajari ikan berenang. Dalam konteks ini tak perlu mengajari bagaimana orang tua harus menjaga dan melindungi anaknya pada saya. Sebaiknya itu anda ajarkan pada Luna Maya, bagaimana seharusnya menjadi selebriti dengan anak-anak disekitarnya.

Banyak contoh pesohor yg punya anak, menitipkan anaknya pada suster atau pada asisten sesaat sebelum wartawan mewawancarainya. Bahkan seorang nara sumber berhak menolak wawancara sampai anaknya aman dari kerumunan.

Anda mungkin tidak tahu dan mungkin tak pernah mengalami bagaimana repotnya menjadi pesohor. Saya cukup mengalami dan merasakannya saat menjadi PR Desy Ratnasari dan kini saat saya bekerja sebagai Pemimpin Redaksi KORAN SLANK. Desy dan Slank adalah super star didunianya. Tahukah anda, bahwa mereka tidak pernah melibatkan anak-anaknya di luar rumah saat bertemu dengan media massa.

Kecuali kalau konteks pertanyaannya seputar anak atau saat wartawan meminta melibatkan sang anak dalam wawancara.

Dalam kasus Luna, dia tak melakukan hak nya. Bahkan dari sudut pandang wartawan dia sengaja mengendong sang anak untuk membatah tudingan bahwa dia tidak dekat dengan anak Ariel. Terbukti dia menggendongnya. Itu kan logika yang ingin dibangunnya?

Siapa yang subyektif?
Saya apa anda??

Saya sampai hari ini masih wartawan dan masih memburu pesohor, tapi saya tidak pernah "melukai" mereka, dan saya memahami betul prespektif wartawan terhadap pesohor.

Anda mungkin belum bisa membedakan secara sikap dan attitude, bagaiman wartawan harian, tabloid, tv, infotainment dan radio dalam kesehariannya. Mereka memiliki karakternya masing2, baik sebagai pribadi maupun sebagai wartawan dari media yang berbeda secara teknis itu.

Jadi soal wartawan justru anda yang subyektif.

Saya sampai hari ini masih bekerja untuk Koran Slank. Setiap saat saya bertemu dengan band paling besar di Indonesia itu. Hari ini saya masih teman baik dengan Desy Ratnasari, dengan Maia Estianty, dengan Tere, Dhea Ananda, Helmalia Putri, Yuni Shara, Titi Kamal, Agnes Monica, Dian Sastro dan Bunga Citra Lestari.

Nama-nama tersebut pernha protes terhadap media massa, dan mereka pun pernah marah besar atas pemberitaan, tapi mereka tidak meluapkan amarahnya ke orang yang mereka tidak kenal, seperti apa yang dilakukan Luna Maya.

Mereka hanya bercerit apda teman dekat, wartawan yang dekat pada mereka, sebagai bahan diskusi untuk sharing...Dan tidak ada masalah sampai sejauh ini...

Desy Ratnasari pernah sangat marah pada wartawan, tapi selama itu pula tak seklaipun ia mengeluarkan kata-kata sampah saat menilai kinerja wartawan infotainment.

Kalau mereka [Catatan MN: ini memang kalimatnya tidak selesai]

Saya mafhum betul bagaimana prespektif mereka sebagai public figure terhadap media massa. Dan kerap saya mendiskusikan dengan mereka soal karir mereka dan peran media massa. Akhirnya selalu ada titik temu kok...Dan sampai detik ini, mereka masih populer dengan prestasi, bukan dengan gossip, seperti Luna Maya.

Dari sisi mana anda mengatakan saya subyektif?

Hehehheh anda yang sangat subyektif, karena tak hanya menilai tulisan saya, tapi juga ingin mengoreksi saya senagai orang tua dari anak-anak saya.

Jadi keliru besar jika anda ingin membela Luna Maya, sementara anta tidak dalam prespektif yang obyektif untuk memahami kedua profesi itu; pesohor dan wartawan.


Hehehe... siapa yang subyektif? Gw no comment lah ;-) Gw serahkan saja pada pembaca untuk menilai ;-) Yang jelas, tanggapan gw yang memicu tanggapan ini berbunyi (verbatim ya, tidak mengurangi satu kata pun):

Sebagai seorang ibu, saya pernah protes ketika sekolah anak saya alpa menutup pintu gerbangnya sehingga anak saya (saat itu TK kecil) BISA keluar ke warung pinggir jalan. Apakah saya harus menunggu hingga anak saya tertabrak mobil baru protes ;)? Anda sendiri punya anak. Apakah jika Anda jadi saya, apakah Anda akan menganggap hal ini sepele karena "toh anakku nggak ketabrak mobil" ;)? Kalau saya sih, dasar protes saya adalah KEALPAAN, regardless hasilnya :) Dari sudut pandang ini saya bisa mengerti kenapa LM mengumpat: karena infotainment ALPA menjaga jarak personal hingga membuka peluang "kecelakaan" yang (untungnya) tidak parah. Kenapa harus tidak tega, ketika infotainment sudah tega menimbulkan peluang kecelakaan ;)?

Hehehe... Anda mungkin memang bukan wartawan infotainment, dan bukan PR LM. Tapi Anda tampaknya agak subyektif menerima segala penjelasan si wartawan infotainment tanpa saringan :) Buktinya, dari data yang Anda berikan sendiri, saya bisa melihat kealpaan si wartawan yang luput Anda lihat :)


Seperti yang bisa dibaca sendiri oleh teman2, gw hanya menceritakan apa yang pernah gw lakukan, dan menanyakan sebuah pengandaian: jika Anda menjadi saya ;-) Gw sih nggak merasa bahwa pengandaian itu suatu bentuk koreksi ya ;-) Gimana menurut yang lain?

Dan bagian mana ya, yang menunjukkan gw subyektif terhadap wartawan ;-)? Bukankah gw secara jelas menyebutkan "wartawan infotainment" ;-)? Dalam kalimat selanjutnya sih memang gw sebut wartawan saja, tetapi itu sebuah penyingkatan yang wajar karena dalam satu paragraf dan sudah ada konteksnya: wartawan infotainment ;-) Rasanya sudah cukup jelas deh, bahwa gw tidak sekalipun ngomongin wartawan non-infotainment ;-) Tetapi kalau mau lebih jelas lagi, boleh deh lihat posting kemarin ;-) Gw bahkan jelas2 mengatakan bahwa wartawan adalah himpunan yang berbeda dari infotainment ;-)

Apakah tulisan gw segitu nggak jelasnya ya ;-)?

Tapi paling seru memang kata penutupnya:

Jadi keliru besar jika anda ingin membela Luna Maya, sementara anta tidak dalam prespektif yang obyektif untuk memahami kedua profesi itu; pesohor dan wartawan


First of all, I don't care about Luna ;-) Gw nggak tertarik membela dia ;-) Gw lebih tertarik menyelamatkan citra wartawan [secara keseluruhan] dari kesalahan2 yang dilakukan oleh BAGIAN dari himpunan wartawan itu sendiri ;-) Itu alasannya kenapa gw meluangkan waktu menulis tanggapan untuk seorang wartawan ;-)

Kedua, hmmm... masalah dalam perspektif obyektif untuk memahami kedua profesi itu.... hmmm... it's for you to judge ;-) Yang jelas gw sangat tertarik dengan jurnalisme, pernah ngambil ekstra-kurikuler jurnalisme di SMA, jadi wartawan amatir untuk majalah sekolah dan majalah kampus walaupun cuma sebentar ;-) Kalau jadi pesohor sih gw emang belum pernah. Tapi kan gw bergaul sama seleb blog dan asistennya pesohor ;-) Dan masih bergaul dengan dua anak ini... mereka masuknya pesohor bukan ya? Hahahaha...

***
Menutup tulisan kali ini, gw ingin menggarisbawahi bagian dari tanggapan beliau:


Anda mungkin belum bisa membedakan secara sikap dan attitude, bagaiman wartawan harian, tabloid, tv, infotainment dan radio dalam kesehariannya. Mereka memiliki karakternya masing2, baik sebagai pribadi maupun sebagai wartawan dari media yang berbeda secara teknis itu


Roger, Mas ;-) Mereka memang berbeda2. Oleh karena itu, saya sungguh berharap bahwa hal ini juga tercamkan dalam benak setiap wartawan. Dengan demikian, ketika ada kasus ribut2 seperti ini, wartawan yang lain (apalagi PWI) juga mau menilik kembali bagaimana sikap dan attitude si wartawan yang terlibat; dan seberapa besar kontribusi sikap/attitude wartawan yang terlibat tersebut dalam menimbulkan masalah ini.

Saya sungguh berharap bahwa setiap wartawan (dan persatuannya) tidak serta merta membenarkan dan mendukung wartawan yang terlibat. Baik secara langsung, ataupun dengan mengabaikan segala kemungkinan lain dinamika emosional yang dialami si pesohor. Apalagi jika pengabaian itu didasari hanya pada asumsi si wartawan yang terlibat saja ;-)

Thanks for the nice discussion, dan.... seperti sudah disepakati, Anda tidak akan memperkarakan tulisan ini secara hukum kan ;-)? Saya sudah mengikuti persyaratan yang Anda buat lho, dan bahkan sudah dry run mengenai tanggapan saya yang terakhir ;-) I keep your promise lho ;-)

NB: buat yang penasaran kenapa judul postingnya Xenophilius... well...ini diambil dari nama Xenophilius Lovegood, bapaknya Luna Lovejokegood yang editor-in-chief The Quibbler itu lho ;-) Biar ketahuan aja bahwa ini sequel-nya posting yang kemarin ;-)

Thursday, December 17, 2009

Luna Lovejoke

Para penggemar Harry Potter tentu masih ingat cerita di buku ke-5. Saat2 muram ketika Harry Potter dibikin sengsara hidupnya oleh Rita Skeeter dari Daily Prophet; reporter yang tulisannya - menurut kata Dumbledore - "enchantingly nasty" ;-)? Di buku ini juga Harry pertama kali bertemu dengan Luna Lovegood.

Nggak disangka, nggak dinyana, di realitas paralel (huh? Realitas?) ada plesetannya. Tapi bukan Harry yang bentrok sama Rita, melainkan Luna ;-).

Habis bentrok. Luna ngomel lewat tweet. Kira2 ngomelnya begini deh:


"Infotemnt derajatnya lebih HINA dr pd PELACUR, PEMBUNUH!!!may ur soul burn in hell,"


Naaah.... tentu saja yang didamprat marah. Cuma nggak tahu sebabnya apakah yang didamprat itu marah karena - seperti Rita Skeeter - merasa pekerjaannya "terhormat" (meskipun - sekali lagi kata Dumbledore lho, yaaa... - tulisannya enchantingly nasty ;-)), atau ... karena nggak bisa mencerna isi pesan dengan baik ;-) Kalau ditilik isi argumen2 berikutnya, kayaknya kemungkinan alasan kedua lebih besar. Bayangin, masak argumennya seperti ini:


"...Kalau lihat pernyataan Luna akan banyak orang yang tersakiti. Maaf, pelacur-pelacur bisa demo, lho,” katanya.


Uhhmmm.... call me stupid. Tapi gw nggak ngerti dasar logika pada argumen ini ;-) Kenapa ya, dia pikir pelacur bisa demo mendengar kata2 Luna? Bukannya si Luna, menurut rekonstruksi dari sejumlah berita online bunyinya seperti terkutip di atas?

So, kenapa pelacur bakal demo? Karena bersaing posisi "terhina" dengan infotainment, gitu? Hehehe.... Bukannya pelacur malah bakal senang, karena ada yang dianggap "lebih hina"? Berarti profesi mereka naik kelas kan ;-)?

Gw sih tahu bahwa ada yang namanya Ig Nobel, yaitu penghargaan [yang awalnya adalah] plesetan dari Nobel; dan diberikan pada penelitian2 yang paling improbable, aneh, ridiculous, atau apalah yang anti-tesis dari Nobel ;-) Tapi gw nggak tahu bahwa dalam masalah dikotomi hormat-hina juga ada persaingan sehingga para pelacur harus merasa tersaingi karena ada yang dikatai lebih hina darinya... hehehe...

Atau... pelacur2 akan demo karena dikatakan hina? Deuh... setahu gw, sejak jaman Nabi Musa menerima Ten Commandment, profesi ini sudah dianggap hina, bukan? Berprofesi menjual sesuatu yang jelas2 melanggar larangan Tuhan, apa bukan sesuatu yang hina?

Swear deh, gw rasanya jadi ingin memberi pencerahan berupa kursus logika... HAHAHAHA...

Tapi... rupanya realitas paralel dari Order of Phoenix ini emang sepanjang buku aslinya. Nggak puas mempermalukan diri dengan argumen "lucu" itu, besoknya, muncul headline yang lebih lucu lagi seperti ini

Luna Maya Lecehkan Profesi Wartawan


Asli, sekarang gw benar2 ingin bertanya: waktu kuliah [jurnalistik?] ada pelajaran logika, nggak sih? Pernah nggak belajar bahwa logika berikut ini adalah contoh logika yang salah:


Premis 1: Semua monyet makan pisang
Premis 2: Luna makan pisang
Kesimpulan: Luna adalah monyet


Kan jelas2 subyek pada tweet Luna adalah "infotainment"? Kenapa bisa jump to conclusion bahwa Luna melecehkan wartawan? Emangnya "infotainment" adalah bagian dari himpunan wartawan? Setahu gw sih infotainment itu adalah himpunan yang BERIRISAN dengan wartawan, bukan bagian ;-) Kenapa? Karena dalam infotainment itu ada wartawannya, tapi bukan hanya terdiri dari wartawan. Ada juga produser, kameramen, penulis skrip, dll.

Dengan kata lain... paling jauh, Luna Maya dapat dikatakan melecehkan PELAKU BISNIS INFOTAINMENT. Bukan wartawan ;-) Enak aja mengatasnamakan wartawan. Itu namanya libel. Fitnah ;-)

Himpunan wartawan sendiri adalah himpunan yang besar. Mencakup wartawan model2 wartawan infotainment yang ngejar2 gosip dan punya kecenderungan [thanks buat Radityadika yang mengingatkan kembali istilah yang pertama kali gw dengar di Cold Case ini] Schadenfreude, hingga wartawan2 senior berdedikasi tinggi seperti Bapak Rosihan Anwar, serta penerima2 Pulitzer Prize for Reporting. Menurut gw sih lebay ya, menggeneralisasikan makian terhadap [wartawan] infotainment sebagai pelecehan terhadap profesi wartawan ;-)?

Tadi, pas gw baca headline ini di perempatan, gw kira ini cuma judul heboh buat naikin oplah doang. Isinya nggak akan mengandung logical fallacy betulan ;-) Tetapi ternyata dugaan gw salah, karena isinya, seperti tersimak di sini mengatakan:

Gara-gara kesal kepada wartawan infotainment, artis Luna Maya memaki-maki wartawan dengan menyebut derajat wartawan lebih rendah dari pelacur, pembunuh.


Oh, well. Rupanya bukan cuma pelaku bisnis infotainment aja yang diragukan kemampuan logikanya... HAHAHAHA... Apa enaknya gw bikin kursus buat mereka aja ya ;-)?

***

Ngomong2 soal bikin kursus, selain pingin ngursusin orang2 di atas, gw sebenernya pingin kasih kursus buat Luna Maya juga sih ;-) Tapi kalau kursus buat Luna Maya sih bukan tentang logika, melainkan tentang, "How to say a harsh word... and get away with it" ;-)

Ya, menurut gw Luna Maya melakukan kesalahan fatal ;-) Bukan fatal dengan pemilihan kata2nya... hehehe... Kata2 Luna Maya itu sangat tidak nice, tetapi... sebagai sesama temprawati, gw sangat mengerti kenapa kata2 tidak nice itu keluar. Bahkan sesungguhnya para pelaku infotainment itu harus bersyukur bahwa yang keluar dari Luna "cuma" segitu doang... hehehe... Gw jamin, kalau gw jadi seleb, pasti kata2 yang keluar dari mulut gw akan "lebih colorful" ;-) Mejikuhibiniu ;-)

Yang salah fatal, menurut gw, adalah menghapus bukti kata2nya di Twitter ;-) Dengan ditutupnya rekening Jeng Luna, maka itu sekarang menjadi their words against her words. Dan dengan kecenderungan kekuranglogisan argumen yang berbanding lurus dengan esprit de corps membabi buta (seperti terlihat dari argumen2 yang gw kutip di atas PLUS re-tweet dari Ndoro Kakung bahwa tidak ada laporan jurnalistik yang mengupas tuntas penyebabnya), the future for her is not so nice.

Mungkin akan berbeda keadaannya jika Jeng Luna tidak menghapus buktinya. Ia akan bisa membuktikan bahwa dia mengatakan "infotainment", bukan "wartawan", dan bahwa kesimpulan telah terjadi "pelecehan terhadap wartawan" adalah kesimpulan yang lebay. Nggak usah ngebahas sebabnya juga nggak apa2 deh... udah kelihatan kok lebay-nya ;-)

Next time, Luna, don't compromise the evidence. Let them start a joke, which starts the whole world laughing. Only then, we'll see that the joke is on them ;-)

***
NB: ohya, buat yang terganggu dengan kata2 "enchantingly nasty", sekali lagi, itu kata Albus Dumbledore lho ya... bukan kata gw... HAHAHAHA... Kalau mau menuntut hukuman 6 thn penjara, monggo langsung ke Hogwarts aja :p



Suntingan 22 Desember:
Ternyata Twitter yang dikasih oleh Omme QQ itu cuma kloningan. Thanks Pops, JJ :) Sebagai gantinya, gw kasih tautan seru aja ya, dari JJ tentang seruan PWI Pusat bahwa kalo gak tersinggung sebaiknya berhenti jadi wartawan. Untuk seruan ini, ada background sound yang cocok untuk didengarkan:




Plis deh, jangan lebaaaaay.... Sibuk ngurusin rasa tersinggungnya, sampai2 artikelnya berantakan :) Satu paragraf bilang kalau wartawan nggak tersinggung, berhenti aja jadi wartawan. Eeeh... paragraf berikutnya bilang diragukan kepekaannya kalau tersinggung :) Jadi maksudnya gimana sih? Saking tersinggungnya, jadi bingung mau nulis apa, gitu? Itulah kalau jadi wartawan tapi "pendek sumbu" :) Jadi nggak bisa nulis dengan pikiran jernih toh ;-)?

*tapi untung mereka "cuma" jadi wartawan. Jadi "cuma" salah nulis doang. Coba kalau jadi tentara dengan sumbu sependek ini. Kan berabe kalau salah nembak orang ;-)*