Tuesday, July 26, 2005

Dumbledore & Snape: Kemungkinan Lain

Spoiler Warning!

Posting ini tidak disarankan untuk dibaca oleh mereka yang belum selesai membaca Harry Potter and the Half-blood Prince. Kekecewaan yang terjadi karena nekad membaca posting ini merupakan tanggung jawab pembaca sendiri

Bagian paling fenomenal dari Harry Potter 6 tentulah kematian Albus Dumbledore di tangan Severus Snape. Tragedi ini dimulai ketika Harry Potter dan Albus Dumbledore kembali dari perjalanan mencari Horcruxes (sejenis jimat dimana tersimpan bagian dari nyawa Lord Voldemort) ke Hogwarts. Dumbledore dalam keadaan lemah dan sakit parah karena telah meminum sejenis ramuan yang (tampaknya) beracun:

In the dim green glow from the Mark, Harry saw Dumbledore clutching at his chest with his blackened hand.

Go and wake Severus,” said Dumbledore faintly but clearly. “Tell him what has happened and bring him to me

(p.583)

Adegan selanjutnya menggambarkan bagaimana Death Eater mengepung Dumbledore dan berniat membunuhnya:

But somebody else had spoken Snape’s name, quite softly.

“Severus…”

The sound frightened Harry beyond anything he had experience all evening. For the first time Dumbledore was pleading. Snape gazed for a moment at Dumbledore, and there was revulsion and hatred etched in the harsh lines of his face.

“Severus… please…”

Snape raised his wand and pointed it directly at Dumbledore

Avada Kedavra

(p. 595 – 596)

Nah, gw sudah sempat ngobrol sama beberapa orang, dan semuanya setuju bahwa ini menunjukkan bahwa Snape terbukti berada di sisi Dark Lord. Selama ini kan Snape selalu punya dua sisi, dan kejadian ini membuktikan sisinya yang sebenarnya. Dia memang jahat, karena membunuh Dumbledore dengan Unforgivable Curse, walaupun Dumbledore sudah memohon untuk pertama dan terakhir kalinya. Apalagi di chapter sebelumnya ada Unbreakable Vow antara Snape dan ibunya Draco, bahwa Snape akan membantu Draco menyelesaikan tugasnya. Dan, memang ada penjelasan bahwa Draco ditugaskan membunuh Dumbledore.

Tapi gw punya perkiraan lain: Snape membunuh Dumbledore karena permintaan Dumbledore sendiri, Snape berada di sisi Dark Lord karena permintaan Dumbledore.

Dasar pertimbangan gw ada dua, yang pertama adalah bagian percakapan Hagrid dan Harry di beberapa chapter sebelumnya:

“Well – I jus’ heard Snape sayin’ Dumbledore took too much fer granted an’ maybe he – Snape – didn’ wan’ ter do it anymore –“

“Do what?”

“I dunno, Harry, it sounded like Snape was feelin’ a bit overworked, that’s all – anyway Dumbledore told him flat out he’d agreed ter do it an’ that was all there was to it”

(p. 405 – 406)

Yang kedua adalah salah satu kalimat di buku Harry Potter 5: The Order of Phoenix (yang sengaja gw cari untuk mendukung teori gw):

… he flung himself out from behind the mountain and bellowed, “Crucio!”

Bellatrix screamed; the spell had knocked her off her feet, but she did not writhe and shriek…

“Never used an Unforgivable Curse before, have you, boy?” she yelled… “You need to mean them, Potter! You need to really want to cause pain”

(p. 715)

Well, did you see what I saw? Nope? Well, here it is:

Gw berangkat dari beberapa hal yang mengganggu gw: seorang wizard setingkat Dumbledore tidak mungkin tidak sadar bahwa ada yang ditugaskan untuk membunuh dia. Yang kedua, tidak mungkin wizard yang seberani Dumbledore, tidak pernah memohon, tidak pernah takut mati, tiba-tiba memohon agar Snape tidak membunuhnya. Dan yang ketiga: tidak mungkin wizard sekelas Dumbledore, dengan kemampuan legilimency yang tinggi, benar2 mempercayai Snape jika Snape tidak baik. Ingat, bahkan ketika semua guru mempercayai Tom Riddle, Dumbledore tidak pernah benar2 mempercayainya.

Jadi, gw perkirakan bahwa Dumbledore memohon hal lain saat dia mengucapkan, “Severus, please”. Dan dalam situasi hidup mati, kalau dia tidak memohon untuk dibiarkan hidup (seperti perkiraan hampir semua orang), kemungkinannya hanya satu: dia memohon untuk dimatikan.

Dan asumsi ini memperjelas beberapa hal:

1. Pertengkaran Snape dan Dumbledore adalah karena Dumbledore minta Snape, jika waktunya tiba, menjadi algojo buat dia. Kenapa dia minta Snape? Karena seperti yang dikatakan oleh Bellatrix Unforgivable Curse hanya ampuh jika sang pengucap benar2 menginginkannya. Dengan kata lain, itu hanya bisa dilakukan oleh Death Eater. Dan Snape adalah mantan Death Eater, dia punya kemampuan untuk mengampuhkan mantra itu. Pertengkaran ini juga menjelaskan kenapa Snape berani melakukan Unbreakable Vow dengan Narcissa Malfoy: karena dia sudah menjanjikan hal yang sama pada Dumbledore.

2. Snape tidak ingin membunuh Dumbledore. Jika Snape benar2 sudah berada di pihak Dumbledore, tentu menjadi sangat sulit buat dia untuk membunuh seorang teman. Ini menjelaskan kenapa dia mengatakan Dumbledore took him for granted, dan he did not want to do it anymore. Untuk orang yang bertobat, akan sangat susah bila dia diminta melakukan suatu dosa yang sudah ditinggalkannya.

3. Hingga detik terakhir, Dumbledore masih harus meyakinkan Snape untuk membunuh dia. Inilah makna dari pleading-nya Dumbledore. Dan makna dari revulsion and hatred yang muncul di wajah Snape ketika menatap Dumbledore untuk terakhir kalinya. Siapa sih yang nggak merasa benci (pada dirinya sendiri dan keadaan) jika dihadapkan pada situasi bahwa dia harus membunuh sahabat sendiri? Dia tidak ingin, tapi dia harus, dan itu adalah sumber dari rasa benci pada diri sendiri.

Beberapa teman mencoba menghalau teori gw dengan mengatakan:

1. Dumbledore minta dipanggilkan Snape bukan untuk dibunuh, tapi untuk minta diberi penawar racun. Nah, itu yang menjadi pertanyaan gw: ahli racun di Hogwarts bukan hanya Snape, ada juga Slughorn (yang bahkan pernah menjadi guru Lord Voldemort). Kenapa dia harus memilih Snape? Karena dia percaya? Bukankah dia juga sangat percaya pada Slughorn, dan mengatakan kelemahan Slughorn adalah hanya bahwa dia tergila2 pada ketenaran?

2. Tidak ada motif untuk Dumbledore minta dibunuh, apalagi oleh Snape. Nah, untuk yang ini gw terpaksa bilang: wrong! There is a motive! A good one! Jangan lupa, berkali2 Dumbledore bilang ke Harry bahwa nyawanya tidak seberharga Harry. Jangan lupa, sebelah tangan Dumbledore sudah mati. Jangan lupa, Dumbledore dalam keadaan sakit parah setelah meminum (tampaknya) racun. Dalam keadaan ini, wizard sekelas Dumbledore tahu ajalnya sudah dekat. Dan dia mau make the most of it: dengan menyusupkan orang yg dia percayai ke kubu lawan. Jika Snape membunuh dia, tidak akan ada lagi keraguan bahwa dia double agent. Death Eater akan menerimanya, dan Snape akan mendapatkan informasi tangan pertama. Dan dia akan punya banyak cara untuk menyampaikannya ke pihak Ordo Phoenix. Dia kan gak harus pakai nama sendiri untuk menyampaikan informasi ini. Dengan berani mengambil langkah tegas seperti ini, dia akan lebih dipercaya, dan mendapat lebih banyak informasi.

Well, gw gak bilang bahwa teori gw bener. Tapi dengan penjelasan gw di atas, rasanya teori itu cukup bisa dipertimbangkan. Jawabannya sih tunggu saja di Harry Potter 7. Until then, hang on and keep smiling!

UPDATE 4 Agustus 2007 (yup! Dua tahun berselang ;-)):

Akhirnya.. muncul juga jawaban atas keraguan di atas. Simak jawabannya di sini :-)

Friday, July 22, 2005

Apalah arti sebuah nama?

Kalau menurut pengalaman gw di Research Agency sih, nama project itu BANYAK artinya!

Di bidang kerja gw, ad hoc research, semua project dikasih nama sandi. Tujuannya ada dua: pertama untuk menjaga kerahasiaan klien (sehingga kalau ada dokumen yang tercecer, orang awam gak gampang tahu bahwa itu project si merek ini dari perusahaan ini), dan kedua untuk mengantisipasi penyimpangan data gara2 responden sudah bisa menduga apa yg akan ditanyakan.

Dan, kami punya superstition bahwa nama project itu bakal ikut menentukan nasib si project. Emang sih kesannya tahyul banget, tapi ternyata beberapa kasus membuktikan lho!

Gw pernah punya project namanya Gateau. Itu dari bahasa Prancis, artinya kue. Tapi beberapa teman gw memplesetkannya jadi gak tau. Dan, project itu sempat maju mundur karena kliennya bilang: Aduh, saya juga gak tau kapan marketingnya siap dengan produk yg mau diujikan.

Lain lagi, temen gw kasih nama project Steelheart. Dan, project itu terkatung2 karena field supervisornya selalu bilang: aduh mbak, cari respondennya susah banget! Dan akhirnya, kita kembali percaya itu adalah kutukan karena ngasih nama project yg bisa diplesetkan jadi: still hard to find a respondent.

Project lain lagi berjudul Remedios. Dan, project itu juga mulur banget dari waktu yang ditentukan, sampai2 kita memplesetkannya sebagai: belum sembuh juga project loe? (Remedios = remedy = menyembuhkan)

Nama sandi lain adalah Lupercalia, yang selalu diplesetkan jadi: laper kali ye. And you know what? Salah satu FGD-nya panjang banget, sampai2 moderatornya nggak sempat makan siang karena harus segera ngejar FGD selanjutnya.

Masih banyak sih contoh2 lain, seperti Gladiator yang ternyata harus bikin researchernya gontok2an sama aparat keamanan lokal urusan ijin penelitian, Clueless yang hasilnya begitu aneh sehingga bingung menganalisa, atau Gurindam yang benar2 bikin gw bikin puisi sedih gara2 kliennya ajaib banget permintaannya.

Tapi ada juga kasus2 yang berhasil dengan baik dan kebetulan punya nama sandi yang baik. Misalnya Hakuna Matata yang benar2 santai tanpa masalah (artinya no worries, diambil dari film Lion King), Oishii yang sisa produknya banyak banget dan enak banget (Oishii = nikmat, dari bahasa Jepang), T-bone yang bikin gw sempat makan enak di Cirebon (pulangnya masih bawa rajungan sekarung).

Atau kebetulan yang lucu, seperti project yang gw kasih nama Cinnamon. Field supervisornya sempat ngeledek gw gini (maaf, tidak bermaksud SARA): Cinnamon apaan sih, May? Cina Montok? Dan, gw jadi ngakak sendiri waktu ternyata sebagian besar responden FGD-nya memang montok-montok.

Thursday, July 21, 2005

TRIUMPH: Kemegahan vs. Sebuah Merek

Gara-gara baca posting terbaru temen gw Hans tentang Winning is Not the Result, gw jadi inget posting lama gw di PetirMania. Well, so gw posting lagi deh di blog ini - dedicated to Hans
--------------------------------------------------------------------

Date: Mon, 9 May 2005 03:03:05 -0700 (PDT)
To: petir_mania@yahoogroups.com

Kata triumph, menurut sejarahnya, adalah tradisi ceremonial Roma kuno untuk menghormati jendral yang menang perang. Dilakukan di depan publik, dengan segala kemegahannya, untuk merayakan keberanian dan ketangguhan seorang pemenang sejati. Semakin kuat lawan yg berhasil dikalahkannya, semakin megah pula penghargaan yang diterimanya.

Kata triumph, bagi wanita, juga dikenal sebagai merek pakaian dalam. Rasanya masih termasuk salah satu top branded underwear, untuk kelas menengah, walaupun masih di bawah Victorias Secret atau St Michaels. Tersedia dalam berbagai model dan motif; ada yg polka-dot, bunga2, warna hitam eksotis, warna coklat netral, atau warna2 centil ala remaja sekarang yg suka membiarkan talinya menyembul dari balik kaos ketat berleher rendah mereka atau mengintip dari sela2 hipster. Tapi, apa pun motifnya, betapa pun indahnya, ini tetap sebuah pakaian dalam: nggak ditunjukkan di sembarang tempat, kadang malah harus ditutupi dengan t-shirt atau daster yg harganya mungkin hanya separuh harga mereka.

Triumph dalam kosakata bahasa Inggris, dikenal sebagai kata ganti untuk kemenangan. Dan oleh karena itu, sang Penghuni Terakhir, sudah selayaknya dikatakan mendapatkan triumph karena berhasil mengalahkan 14 pesaingnya.

Dan sang pemenang sudah hampir dipastikan sebagai EDHU MARIO PURWADIADJI. Perhitungan di atas kertas sudah membuktikan, bahwa Edhu bahkan nggak perlu ngoyo di game Beranda minggu ini, dan di game Beranda minggu depan. Cukup dapat angka 1 di game GF, dan Edhu akan jadi PP lagi. Dan setelah Edhu jadi PP, nggak perduli siapa pun saingannya, dia akan menjadi Penghuni Terakhir. Hanya keajaiban yg dapat membuat keadaan berbalik dari perhitungan ini:

Game Beranda

SMS

SMS GF

Total

Ade

3

1

1

5

Edhu

2

3

3

8

Wulan

1

2

2

5

So, sekarang gw pingin kasih SELAMAT ke EDHU. Selamat, krn tinggal menunggu diwisuda menjadi penghuni terakhir ya, Dhu! Selamat juga untuk para pendukungnya yg sudah dengan setia mendukung Edhu hingga ke titik ini.

Seperti minggu lalu, gw nggak menyalahkan Edhu dan keputusannya. Itu sepenuhnya hak Edhu untuk memilih. Tapi, dengan segala hormat kepada Edhu dan pendukungnya, gw pribadi rasanya juga sulit memberikan Full Regalia bagi Edhu atas kemenangannya, seperti penghormatan yg dulu gw sampaikan ke Yohan.

Gw selalu menghargai kemenangan yg diraih dengan susah payah, atas lawan yg seimbang. Itu yang membuat gw takjub pada Mahdi & Yohan, yg saling menyelamatkan dan memilih lawan duel terkuat. Waktu Yohan meng-X Indri, gw sudah gembira: Yohan menutup kesempatan Indri untuk mencuri gelar PP terakhir dan meng-X Mahdi. Hal ini membuat gw semakin yakin Yohan memang menginginkan lawan tertangguh. Waktu Yohan meng-X Juli, gw tambah gembira: gw nggak perduli siapa yg menang, karena yang penting itu menjadi final sengit, pertempuran hidup dan mati ala para Jendral Romawi. Pertempuran yg kemenangannya membuahkan sebuah triumph dalam arti sesungguhnya. (Note: Persahabatan mereka hanya menambah keindahan pertempuran itu, membuatnya menjadi dramatis. Tapi inti utamanya tetap duel antara dua orang yang benar2 seimbang dalam segala hal. Jendral Romawi juga tidak bersahabat dengan musuh2nya, tapi mereka bertempur hingga titik darah penghabisan untuk mendapatkan apa yg disebut triumph regalia)

Pertempuran Edhu-Ade-Wulan sudah lebih mudah terduga hasilnya. Dan, kalau pertempuran ini sudah dimenangkan di atas kertas, dan terduga seminggu sebelumnya, gw merasa nggak bisa kasih full regalia yg sama dengan Yohan (dan Mahdi), yg masih bertarung ketat hingga akhir. Dengan tidak mengurangi rasa hormat, gw terpaksa memilih memaknai kemenangan Edhu sebagai triumph si merek terkenal: menyadari mahalnya harga yg harus dibayar Edhu untuk mendapatkan kemenangan tersebut, mengagumi Edhu yang berhasil mendapatkannya, tapi kemudian tidak banyak berkomentar karena merasa lebih bijak untuk menyembunyikannya baik2.

I Hate When I am Right!

Seorang teman pernah ngomentarin tentang gw ke Hans gini: Orang2 seperti gw dan genduk (nickname gw di forum) itu sebenarnya malang. Analisanya tepat, tapi mereka tidak terlalu popular di antara orang2 lain. Gw gak persis tahu sih yang dimaksud dengan malangnya itu karena tidak popular, atau karena analisanya tepat. Tapi memang, gw sering menjadi merasa malang justru karena analisa gw mendekati pembuktian. Gw sering menjadi benci sama diri gw sendiri kalau suatu hal buruk yang gw prediksi menjadi kenyataan (atau setidaknya mendekati kenyataan).

Dan beberapa hari ini gw menemukan dua berita di koran yang membuat perasaan gw campur aduk. Separuh senang karena bisa bilang ke orang: See?, tapi juga sedih karena pembuktian terhadap prediksi gw itu sebenarnya bukan sesuatu yang menyenangkan.

Berita pertama terdapat di Kompas tentang Nasib Mantan Atlet. Berita ini dirilis setelah Elias Pical tertangkap karena transaksi narkoba. Di artikel ini diceritakan bahwa mantan2 atlit pernah dihujani hadiah uang hingga ratusan juta, tapi kemudian lenyap karena mereka tidak mampu mengaturnya dengan pengalaman usaha dan tingkat pendidikan formal yang rendah. Akhirnya, banyak mantan atlet yang hidup dari meminta2 atau terjerat dunia hitam seperti Pical.

Beberapa waktu lalu gw menulis tentang Supriyono yang diberi hadiah 40jt oleh pendengar Delta FM. Gw menggugat karena menganggap itu adalah suatu kekejaman bagi Supriyono, karena dengan tingkat pendidikan dan pengalaman yg minim, mengelola 40jt dengan baik adalah mission impossible. Gw menggugat bahwa sebaiknya kita go the extra miles untuk memberikan pengarahan bisnis dan financial advisory buat Supriyono supaya bantuan itu tidak lenyap begitu saja. Waktu itu gw terima beberapa email dari kenalan (maupun orang yang nggak kenal gw) dan mengatakan bahwa gw gak punya perasaan, gw sombong, gw nggak menghargai bantuan yg susah payah dikumpulkan oleh para pendengar.

Apa yang terjadi pada Elias Pical dan para mantan atlet itu sebenarnya sama dengan apa yg mungkin terjadi pada Supriyono kan? So, now you tell me, should I be happy that I can say: See? Rasanya akan lebih tepat kalau gw bilang betapa malangnya gw karena apa yg gw takutkan terjadi malah mendapatkan justifikasi.

Berita kedua, tepatnya kolom gossip di Tabloid Bintang, memuat berita bahwa Yohan Petir-1 mungkin tidak benar2 di-dis karena sakit, tapi karena berantem dengan Irwan setelah ekstradisi Indri. Dan sebelumnya, gw posting di blog ini bahwa gw curiga ada sesuatu yg nggak beres dengan diskualifikasi Yohan, hanya saja gw gak tahu pasti dimana yang gak pas. Waktu itu beberapa teman (terutama yang muda2) menganggap gw terlalu mengada2.

Well, Yohan adalah orang yang cool, dan gw yakin bahwa dia gak gampang berantem, apalagi sampai mengundurkan diri. Tapi, gw juga tahu Yohan itu sangat menghargai wanita, teman, dan gw juga ingat ada tayangan Irwan-Jupe-Sonny menggosipkan Indri (mengatakan Indri kejam, meng-X teman sendiri) pada hari di mana Indri ter-X. Bayangkan suatu kemungkinan bahwa Yohan mendamprat ketiga orang ini karena tidak suka dengan gaya mereka ngomong di belakang, karena Yohan merasa Indri diperlakukan dengan tidak layak dengan digosipkan di belakang punggungnya? Gw rasa, membela seorang teman adalah alasan yg cukup untuk orang yg paling cool sekalipun untuk bertengkar.

Uhm, walaupun berita ini sekedar gossip, belum tentu benar, tapi tidak dapat disangkal bahwa itu mendekati prediksi gw kan? Ini cukup untuk bilang: See, I have told you there is something wrong with the jurors’ decision! Tapi, bisakah kita bangga akan sesuatu seperti ini? Haruskah kita bangga atas nama kebenaran dan akurasi, sementara kebenaran adalah sesuatu yang (ternyata) tidak begitu indah?

I hate myself when I am (seem to be) right!

Thursday, July 07, 2005

Hanya Jika Hatimu Menginginkannya

Setelah seharian nge-post di salah satu milis, tanpa ditanggapi teman2 lainnya, salah satu teman baik gw meng-SMS dengan nada nyolot:

+62818xxxxxx:   Capek ah. Boring monolog mulu. Mending gue konsen bikin blog aja ah. Bubye my mod.

Balesan SMS gw:   Hehe, lakukan sesuatu hanya jika hatimu menginginkannya, shg kau tak kan pernah bosan dan kecewa. Kalo loe monolog demi diri loe, loe gak bakal pernah bosen. Tapi kalo demi milis, atau tujuan lain other than your own happiness, loe akan selalu nemu alasan u/ bosen.

Balesan gw nggak nyambung ya? Well, mungkin harus diceritain konteksnya.

Teman gw ini protes lantaran gw nggak seaktif dulu di komunitas kecil yang kami pelihara bersama2. Ada harapan tak terucap bahwa dia pingin semua kembali seperti awal berdirinya milis itu: jumlah post bisa puluhan atau ratusan sehari. Sekarang milis itu memang cenderung sepi. Membernya lebih asyik tukeran SMS atau copy darat. Salah satu yang setia nge-post ya teman gw itu. Sebenarnya wajar saja kalau teman gw itu pingin gw juga rajin seperti dia, karena kami termasuk fosil milis: baik dari segi umur maupun dari segi lama bergabung di milis. We are the Elders.

Mungkin dia akan lebih bahagia, karena semua jerih payahnya terbayar kontan dengan terciptanya ide2 di kepalanya menjadi sebuah tulisan nyata.

Tapi gimana ya? Sekali ini gw nggak setuju sama teman gw itu. Gw percaya bahwa apa yg terjadi di milis ini adalah suatu bentuk evolusi dan adaptasi. Dengan demikian yang bisa menentukan bertahan atau punah adalah survival instinct member2nya sendiri, bukan para pemuka atau pemimpinnya. Kalau memang harus bertahan, milis akan menemukan bentuk baru yg lebih cocok. Tapi kalau nggak bisa bertahan, ya memang harus punah. Gw tidak ingin membuat Jurassic Park untuk menghidupkan dinosaurus yg tidak bisa beradaptasi. Gw mau membiarkan milis itu menjalani evolusinya dengan alamiah, seperti monyet yang berubah menjadi Pithecanthropus Erectus dan pada waktunya menjadi manusia.

*dan gw yakin memang milis ini lebih mirip seperti evolusi manusia, karena kesepiannya lebih merupakan hasil dari copy darat yang lebih dominan. Suatu bentuk adaptasi dari proses evolusi. Bukankah untuk survive kita kadang harus berubah bentuk?*

Well, pada akhirnya gw persilakan dia untuk membuat Jurassic Park-nya. Gw selalu berprinsip bahwa life is a matter of choice, semua orang berhak membuat pilihan dan pilihan itu tidak pernah salah selama kita memahami dan siap dengan resikonya. Unfortunately, kalimat terakhir ini yang lupa gw sampaikan sebelum teman gw membangun Jurassic Park-nya. Itu sebabnya muncul SMS tersebut ketika sebuah resiko terjadi. Dan makanya balesan SMS gw bunyinya gak nyambung.

Gw tahu berat banget untuk melakukan sesuatu bukan demi kegiatan itu sendiri. Berat banget rasanya kalau sesuatu itu kita lakukan demi sesuatu yang lain. Sadar gak sadar, kita selalu merasa berkorban sebelum meraih apa yg kita harapkan itu. Kita nggak akan pernah merasa bahagia, dan puas, selama mengerjakannya. Dan bahayanya, apa yg kita harapkan belum tentu muncul. Jadi sering sekali kita berakhir dgn rasa kecewa.

Gw hanya mencoba membayangkan bila teman gw ini melakukan monolog di milis karena dia memang senang menuliskannya. It’s the process of writing that becomes her award. Mungkin dia akan lebih bahagia, karena semua jerih payahnya terbayar kontan dengan terciptanya ide2 di kepalanya menjadi sebuah tulisan nyata. Dia tidak harus menunggu bayarannya dengan sesuatu yg belum pasti: kehidupan milis yang kembali aktif.

Cintailah apa yang loe lakukan itu, demi kegiatan itu sendiri. Bukan demi hasil yang mungkin akan datang darinya. Bukan demi sesuatu yang melatarbelakanginya. Karena itu yang akan membuat loe tetap merasa mendapatkan sesuatu meskipun hadiah utama lepas dari tangan loe. Karena itu yang membuat loe tidak akan kecewa dengan hasil apa pun yang loe lakukan. Karena itu membuat loe tidak berharap pada apa yang belum tentu bisa loe raih.

+62818xxxxxx:   Sori kepotong. Berkenan mengirim ulang? Cieh bhs gue.

Nggak! Gw nggak mau kirim ulang SMS-nya, Jeng! Gw tulis di blog aja jawaban singkatnya: Lakukanlah sesuatu hanya jika hatimu menginginkannya, supaya tidak ada beban di situ dan kebahagiaan menjadi sesuatu yg pasti.

Monday, July 04, 2005

Saat Kita Membantu Orang Lain

Masih ingat Supriyono, pemulung yang terpaksa bawa jenazah anaknya dgn KRL karena tidak mampu untuk membiayai pemakamannya? Beberapa waktu lalu Delta FM mewawancarainya di radio, sekaligus memberikan sumbangan dari pendengar sejumlah 40jt rupiah (yeah, empat puluh juta rupiah). Yang menyedihkan, Supriyono tergagap2 ketika ditanya akan diapakannya uang itu. Bahkan, ketika ditanya apakah Murizky – anak sulungnya – akan disekolah di SDN atau MI, jawaban Supriyono masih mengambang. Tidak butuh seorang ahli untuk membaca yang tersirat: Supriyono tidak punya rencana.

Well… gw nggak bisa menyalahkan Supriyono kalau dia bingung. Itu adalah jumlah yang ‘tak terbayangkan’ olehnya, dan dia tidak tahu pasti value-nya. Bagaimana dia bisa merencanakan sesuatu yang out-of-his-wildest-dream?

Yang agak gw sesalkan adalah cara kita menolong dengan memberikan sejumlah uang. Gw kok merasa kita justru sedang berbuat kejam pada Supriyono. Gw merasa seolah2 kita baru saja memberikan sebilah silet kepada anak kecil yang mengalami kesulitan memotong gambar dari sebuah majalah: suatu gesture yang baik hati kalau dilihat dari niat kita membantu, tapi juga sekaligus membahayakan karena si anak kecil itu belum tentu bisa menggunakan silet dengan baik. Salah2, nadinya justru terpotong karena niat baik kita yang digunakan secara kurang tepat.

Bukan sekali dua kali gw mendengar kaum kurang beruntung yang tiba2 mendapat banyak uang: tetangga akan berdatangan “minta sumbangan”, perampok dan penipu akan berdatangan. Dan apa yang bisa dilakukan oleh Supriyono kalau itu terjadi? Nggak ada. Dan itu sama saja seperti kita membiarkan si anak kecil memotong sendiri kertasnya dengan silet yang tidak dikuasainya.

Padahal, kita bisa “go to the extra miles” dengan menjadikannya sebuah fund atas nama Murizky. Atau menjadikannya sebuah kredit usaha kecil dengan pengawasan seorang “financial planner” – paling juga 1 tahun sudah cukup untuk ‘melepas’ Supriyono berusaha sendiri. Dan itu jauh lebih bermakna daripada mencurahkan 40jt rupiah begitu saja toh?

Well… gw harap ini hanyalah sekedar suatu peringatan bahwa kita harus lebih banyak lagi belajar berempati. Bahwa jika kita mau menolong orang, kita harus mencoba berdiri di kakinya untuk memahami apa yang paling dibutuhkannya tanpa kehilangan ketajaman berpikir kita. Bukan sekedar bersimpati, menjadi diri kita sendiri yang merasa kasihan dan memberikan bantuan berdasarkan ukuran kita sendiri. Berikanlah bantuan yang memang diperlukan oleh orang itu, bukan bantuan yang kita pikir diperlukan kalau kita jadi dia.

Semoga, ini bukan suatu bentuk penyimpangan terhadap nilai2 “membantu orang” itu sendiri: bahwa dalam membantu orang kita cukup hanya dengan memberikan sesuatu. Mereduksi arti “membantu orang” dari suatu hal yang mulia (yaitu demi kesejahteraan orang yang kita bantu), menjadi sekedar membuat kita merasa tidak berdosa (dalam arti: yang penting gw udah kasih, jadi orang gak bisa bilang gw gak perduli).

Sunday, July 03, 2005

The Moment of Truth


Sejak minggu lalu gw pingin banget share gambar2 dari graduationnya Ima. Itu benar2 moment of truth buat dia, dan buat gw juga. Bayangin, Ima lulus TK tanggal 24 Juni 2005, sementara gw lulus jadi Psikolog tanggal 24 Juni 1997. Kompak ya?

Kesamaan lain: Ima lulus sebagai "murid teladan" di sekolahnya. Sebelum lulus dia nggak susah cari SD; walaupun berasal dari TK nggak terkenal di daerah "kampung", Ima berhasil mengalahkan sekian ratus pendaftar di Al Azhar Kelapa Gading dan lulus tes dengan nilai Tes Kemampuan Dasar tertinggi (nilainya 82, batas maksimum adalah 90), dan angka kecerdasan tertinggi (IQ = 125 skala Wechsler, masuk dalam kelas Superior). Gw... ehm, ehm, juga jadi lulusan terbaik Fakultas Psikologi UI untuk batch gw. Dan alhamdulillah, belum lagi 24 jam gw lulus, ada head hunter yang nawarin gw kerjaan, dan gw langsung keterima kerja dalam minggu yang sama

Wah... Ima benar2 "blue print" gw rupanya ya... ! Tanggal lahir kami hanya berbeda 6 hari (Ima 12 Juni, gw 18 Juni, in fact Ima gw bawa pulang dari rumah sakit pas di ultah gw yg ke-27). Ima mukanya mirip banget dengan gw. Dan sekarang... ternyata kemiripan itu nggak berhenti di wajah dan tanggal lahir saja.

Anyway, inilah foto moment of truth-nya Ima: saat Ibu Vera menyelempangkan tanda juara ke bahunya. Mudah2an ini menjadi awal dari langkah besar Ima selanjutnya!