Tuesday, July 26, 2005

Dumbledore & Snape: Kemungkinan Lain

Spoiler Warning!

Posting ini tidak disarankan untuk dibaca oleh mereka yang belum selesai membaca Harry Potter and the Half-blood Prince. Kekecewaan yang terjadi karena nekad membaca posting ini merupakan tanggung jawab pembaca sendiri

Bagian paling fenomenal dari Harry Potter 6 tentulah kematian Albus Dumbledore di tangan Severus Snape. Tragedi ini dimulai ketika Harry Potter dan Albus Dumbledore kembali dari perjalanan mencari Horcruxes (sejenis jimat dimana tersimpan bagian dari nyawa Lord Voldemort) ke Hogwarts. Dumbledore dalam keadaan lemah dan sakit parah karena telah meminum sejenis ramuan yang (tampaknya) beracun:

In the dim green glow from the Mark, Harry saw Dumbledore clutching at his chest with his blackened hand.

Go and wake Severus,” said Dumbledore faintly but clearly. “Tell him what has happened and bring him to me

(p.583)

Adegan selanjutnya menggambarkan bagaimana Death Eater mengepung Dumbledore dan berniat membunuhnya:

But somebody else had spoken Snape’s name, quite softly.

“Severus…”

The sound frightened Harry beyond anything he had experience all evening. For the first time Dumbledore was pleading. Snape gazed for a moment at Dumbledore, and there was revulsion and hatred etched in the harsh lines of his face.

“Severus… please…”

Snape raised his wand and pointed it directly at Dumbledore

Avada Kedavra

(p. 595 – 596)

Nah, gw sudah sempat ngobrol sama beberapa orang, dan semuanya setuju bahwa ini menunjukkan bahwa Snape terbukti berada di sisi Dark Lord. Selama ini kan Snape selalu punya dua sisi, dan kejadian ini membuktikan sisinya yang sebenarnya. Dia memang jahat, karena membunuh Dumbledore dengan Unforgivable Curse, walaupun Dumbledore sudah memohon untuk pertama dan terakhir kalinya. Apalagi di chapter sebelumnya ada Unbreakable Vow antara Snape dan ibunya Draco, bahwa Snape akan membantu Draco menyelesaikan tugasnya. Dan, memang ada penjelasan bahwa Draco ditugaskan membunuh Dumbledore.

Tapi gw punya perkiraan lain: Snape membunuh Dumbledore karena permintaan Dumbledore sendiri, Snape berada di sisi Dark Lord karena permintaan Dumbledore.

Dasar pertimbangan gw ada dua, yang pertama adalah bagian percakapan Hagrid dan Harry di beberapa chapter sebelumnya:

“Well – I jus’ heard Snape sayin’ Dumbledore took too much fer granted an’ maybe he – Snape – didn’ wan’ ter do it anymore –“

“Do what?”

“I dunno, Harry, it sounded like Snape was feelin’ a bit overworked, that’s all – anyway Dumbledore told him flat out he’d agreed ter do it an’ that was all there was to it”

(p. 405 – 406)

Yang kedua adalah salah satu kalimat di buku Harry Potter 5: The Order of Phoenix (yang sengaja gw cari untuk mendukung teori gw):

… he flung himself out from behind the mountain and bellowed, “Crucio!”

Bellatrix screamed; the spell had knocked her off her feet, but she did not writhe and shriek…

“Never used an Unforgivable Curse before, have you, boy?” she yelled… “You need to mean them, Potter! You need to really want to cause pain”

(p. 715)

Well, did you see what I saw? Nope? Well, here it is:

Gw berangkat dari beberapa hal yang mengganggu gw: seorang wizard setingkat Dumbledore tidak mungkin tidak sadar bahwa ada yang ditugaskan untuk membunuh dia. Yang kedua, tidak mungkin wizard yang seberani Dumbledore, tidak pernah memohon, tidak pernah takut mati, tiba-tiba memohon agar Snape tidak membunuhnya. Dan yang ketiga: tidak mungkin wizard sekelas Dumbledore, dengan kemampuan legilimency yang tinggi, benar2 mempercayai Snape jika Snape tidak baik. Ingat, bahkan ketika semua guru mempercayai Tom Riddle, Dumbledore tidak pernah benar2 mempercayainya.

Jadi, gw perkirakan bahwa Dumbledore memohon hal lain saat dia mengucapkan, “Severus, please”. Dan dalam situasi hidup mati, kalau dia tidak memohon untuk dibiarkan hidup (seperti perkiraan hampir semua orang), kemungkinannya hanya satu: dia memohon untuk dimatikan.

Dan asumsi ini memperjelas beberapa hal:

1. Pertengkaran Snape dan Dumbledore adalah karena Dumbledore minta Snape, jika waktunya tiba, menjadi algojo buat dia. Kenapa dia minta Snape? Karena seperti yang dikatakan oleh Bellatrix Unforgivable Curse hanya ampuh jika sang pengucap benar2 menginginkannya. Dengan kata lain, itu hanya bisa dilakukan oleh Death Eater. Dan Snape adalah mantan Death Eater, dia punya kemampuan untuk mengampuhkan mantra itu. Pertengkaran ini juga menjelaskan kenapa Snape berani melakukan Unbreakable Vow dengan Narcissa Malfoy: karena dia sudah menjanjikan hal yang sama pada Dumbledore.

2. Snape tidak ingin membunuh Dumbledore. Jika Snape benar2 sudah berada di pihak Dumbledore, tentu menjadi sangat sulit buat dia untuk membunuh seorang teman. Ini menjelaskan kenapa dia mengatakan Dumbledore took him for granted, dan he did not want to do it anymore. Untuk orang yang bertobat, akan sangat susah bila dia diminta melakukan suatu dosa yang sudah ditinggalkannya.

3. Hingga detik terakhir, Dumbledore masih harus meyakinkan Snape untuk membunuh dia. Inilah makna dari pleading-nya Dumbledore. Dan makna dari revulsion and hatred yang muncul di wajah Snape ketika menatap Dumbledore untuk terakhir kalinya. Siapa sih yang nggak merasa benci (pada dirinya sendiri dan keadaan) jika dihadapkan pada situasi bahwa dia harus membunuh sahabat sendiri? Dia tidak ingin, tapi dia harus, dan itu adalah sumber dari rasa benci pada diri sendiri.

Beberapa teman mencoba menghalau teori gw dengan mengatakan:

1. Dumbledore minta dipanggilkan Snape bukan untuk dibunuh, tapi untuk minta diberi penawar racun. Nah, itu yang menjadi pertanyaan gw: ahli racun di Hogwarts bukan hanya Snape, ada juga Slughorn (yang bahkan pernah menjadi guru Lord Voldemort). Kenapa dia harus memilih Snape? Karena dia percaya? Bukankah dia juga sangat percaya pada Slughorn, dan mengatakan kelemahan Slughorn adalah hanya bahwa dia tergila2 pada ketenaran?

2. Tidak ada motif untuk Dumbledore minta dibunuh, apalagi oleh Snape. Nah, untuk yang ini gw terpaksa bilang: wrong! There is a motive! A good one! Jangan lupa, berkali2 Dumbledore bilang ke Harry bahwa nyawanya tidak seberharga Harry. Jangan lupa, sebelah tangan Dumbledore sudah mati. Jangan lupa, Dumbledore dalam keadaan sakit parah setelah meminum (tampaknya) racun. Dalam keadaan ini, wizard sekelas Dumbledore tahu ajalnya sudah dekat. Dan dia mau make the most of it: dengan menyusupkan orang yg dia percayai ke kubu lawan. Jika Snape membunuh dia, tidak akan ada lagi keraguan bahwa dia double agent. Death Eater akan menerimanya, dan Snape akan mendapatkan informasi tangan pertama. Dan dia akan punya banyak cara untuk menyampaikannya ke pihak Ordo Phoenix. Dia kan gak harus pakai nama sendiri untuk menyampaikan informasi ini. Dengan berani mengambil langkah tegas seperti ini, dia akan lebih dipercaya, dan mendapat lebih banyak informasi.

Well, gw gak bilang bahwa teori gw bener. Tapi dengan penjelasan gw di atas, rasanya teori itu cukup bisa dipertimbangkan. Jawabannya sih tunggu saja di Harry Potter 7. Until then, hang on and keep smiling!

UPDATE 4 Agustus 2007 (yup! Dua tahun berselang ;-)):

Akhirnya.. muncul juga jawaban atas keraguan di atas. Simak jawabannya di sini :-)