Monday, July 04, 2005

Saat Kita Membantu Orang Lain

Masih ingat Supriyono, pemulung yang terpaksa bawa jenazah anaknya dgn KRL karena tidak mampu untuk membiayai pemakamannya? Beberapa waktu lalu Delta FM mewawancarainya di radio, sekaligus memberikan sumbangan dari pendengar sejumlah 40jt rupiah (yeah, empat puluh juta rupiah). Yang menyedihkan, Supriyono tergagap2 ketika ditanya akan diapakannya uang itu. Bahkan, ketika ditanya apakah Murizky – anak sulungnya – akan disekolah di SDN atau MI, jawaban Supriyono masih mengambang. Tidak butuh seorang ahli untuk membaca yang tersirat: Supriyono tidak punya rencana.

Well… gw nggak bisa menyalahkan Supriyono kalau dia bingung. Itu adalah jumlah yang ‘tak terbayangkan’ olehnya, dan dia tidak tahu pasti value-nya. Bagaimana dia bisa merencanakan sesuatu yang out-of-his-wildest-dream?

Yang agak gw sesalkan adalah cara kita menolong dengan memberikan sejumlah uang. Gw kok merasa kita justru sedang berbuat kejam pada Supriyono. Gw merasa seolah2 kita baru saja memberikan sebilah silet kepada anak kecil yang mengalami kesulitan memotong gambar dari sebuah majalah: suatu gesture yang baik hati kalau dilihat dari niat kita membantu, tapi juga sekaligus membahayakan karena si anak kecil itu belum tentu bisa menggunakan silet dengan baik. Salah2, nadinya justru terpotong karena niat baik kita yang digunakan secara kurang tepat.

Bukan sekali dua kali gw mendengar kaum kurang beruntung yang tiba2 mendapat banyak uang: tetangga akan berdatangan “minta sumbangan”, perampok dan penipu akan berdatangan. Dan apa yang bisa dilakukan oleh Supriyono kalau itu terjadi? Nggak ada. Dan itu sama saja seperti kita membiarkan si anak kecil memotong sendiri kertasnya dengan silet yang tidak dikuasainya.

Padahal, kita bisa “go to the extra miles” dengan menjadikannya sebuah fund atas nama Murizky. Atau menjadikannya sebuah kredit usaha kecil dengan pengawasan seorang “financial planner” – paling juga 1 tahun sudah cukup untuk ‘melepas’ Supriyono berusaha sendiri. Dan itu jauh lebih bermakna daripada mencurahkan 40jt rupiah begitu saja toh?

Well… gw harap ini hanyalah sekedar suatu peringatan bahwa kita harus lebih banyak lagi belajar berempati. Bahwa jika kita mau menolong orang, kita harus mencoba berdiri di kakinya untuk memahami apa yang paling dibutuhkannya tanpa kehilangan ketajaman berpikir kita. Bukan sekedar bersimpati, menjadi diri kita sendiri yang merasa kasihan dan memberikan bantuan berdasarkan ukuran kita sendiri. Berikanlah bantuan yang memang diperlukan oleh orang itu, bukan bantuan yang kita pikir diperlukan kalau kita jadi dia.

Semoga, ini bukan suatu bentuk penyimpangan terhadap nilai2 “membantu orang” itu sendiri: bahwa dalam membantu orang kita cukup hanya dengan memberikan sesuatu. Mereduksi arti “membantu orang” dari suatu hal yang mulia (yaitu demi kesejahteraan orang yang kita bantu), menjadi sekedar membuat kita merasa tidak berdosa (dalam arti: yang penting gw udah kasih, jadi orang gak bisa bilang gw gak perduli).