“Love is drawn in the form of a circle. No one knows where it begins. And it never really ends. You and I, we are just forever”
Beberapa hari yang lalu tetiba ingin sekali mengunggah tulisan baru di blog ini. Padahal sudah hiatus sejak sebelum pandemi. Yep, memang semakin lama semakin enggan menulis di blog. Sadar diri soalnya … tentang tulisan-tulisan yang rentan disalahartikan. Makanya lebih enak menulis di Facebook yang pemirsanya bisa dikontrol untuk “Friends Only”. Malah sering kali settingnya adalah “Friends, Except Acquiantance”. Dan kalau ada teman yang menyebalkan, bisa langsung di-unfriend. Dijadikan varian baru menu Kopi Kenangan. Mantan teman maksudnya 😉
Tetapi beberapa hari lalu, setelah nggak bisa tidur dan iseng nonton “Needle in a Timestack” di HBO Go, rasa kangen untuk menulis tidak dapat dibendung *tsah!*
Awalnya nonton film ini adalah karena melihat Leslie Odom Jr sebagai pemeran utamanya. Sejak nonton “Hamilton” di Disney Channel, jadi ngefans sama bapak ini. Mantul banget soalnya memerankan Aaron Burr yang oportunis itu. Selalu ingat tampangnya pas melantunkan syair di opening song:
“And me, I'm the damn fool that shot him”
Damn fool banget emang loe, bro! LOL.
Anyway … cerita film ini sederhana dan sebenarnya agak banyak bolongnya. Tetapi ini model cerita yang memang membuat gw amused dan ngelamun tentang banyak ‘what if”. Tipe film yang di masa gw senang menulis bisa menelurkan tulisan berseri.
Kisahnya tentang sepasang soulmates – Nick & Janine Mikkelsen – yang terpisah oleh lompatan-lompatan waktu pengubah linimasa. Semacam memindahkan mereka ke dunia paralel begitu. Alternate universe, kalau bahasa di Star Trek. Naah … dalam lompatan-lompatan itu, Nick dan Janine berusaha untuk tetap menemukan satu sama lain. At all cost. Termasuk mengupayakan lompatan waktu itu sendiri, meskipun kenyataan paralel yang terjadi tidak dapat diprediksi. Keyakinan mereka cuma satu: cinta itu bentuknya melingkar, tidak ketahuan awalnya, tapi tidak pernah berakhir. Eventually they will find each other.
And at the end, they do! Adegan terakhirnya berpotensi bikin mewek, ketika akhirnya Nick dan Janine bertemu. Meski sudah sama-sama tidak ingat dengan kenyataan [yang dianggap] asli di awal film, tetapi something connects them.
Somehow … kisah mereka membuat gw teringat pada lagu kesukaan jaman remaja dulu: “It Might be You” yang musiknya digarap Dave Grusin dan dinyanyikan Stephen Bishop. Yang jadi theme songnya Tootsie. Lagunya pernah bercokol di Top 40 juga.
Secara khusus film ini membuat gw mengingat potongan syair ini:
“If I found the place
Would I recognize the face?
Something's telling me it might be you
Yeah, it's telling me it might be you
So many quiet walks to take
So many dreams to wake
And with so much love to make
I think we're gonna meet some time
Maybe all we need is time”
Iya .. sepanjang film itu seolah Nick dan Janine mengejawantahkan bait ini. Wondering will they recognize the love of their life if they ever find the ‘place’ (a.k.a the right alternate reality).
Tapi … akhirnya toh semua itu seperti yang dihipotesakan di kalimat terakhir: “Maybe all we need is time”. Kalau waktunya tepat, ya they’re gonna meet. Kalau bahasanya orang HR: the right person at the right place. LOL.
Waktu … memang sesuatu yang amazing. Misteri yang menjelaskan. Atau sebuah kejelasan yang menjadi misteri? Nggak tahu … biar waktu yang menjawab.