Saturday, December 31, 2005

Random Thought

I love Star Trek! Every episode gives me new perspective towards human problem!
 
Kemarin gw mengalami fierce argument dengan salah seorang (oops, maksud gw: dgn DUA orang teman sekaligus!) tentang Inul. Dua teman gw itu bilang Inul merusak bangsa. Gw, konsisten dgn pandangan gw selama ini, menganggap bahwa kalaupun orang jadi memperkosa setelah lihat Inul bergoyang berarti orang itu gak bisa menahan dirinya sendiri. Yang salah orang itu. Yaaah, persis lah dengan perdebatan sengit gw dengan seorang teman lain tentang foto semi bugilnya Anjasmara, tentang aksinya FPI, dll: menurut gw yang salah adalah yg gak bisa tahan diri. Anjasmara, Inul, dan penjual minuman keras yg dihancurkan FPI itu memang bukan stimulus yg baik, tapi.. kalau ada yg tergoda, itu mutlak adalah kesalahan si individu sendiri. Bukan salah stimulusnya.
 
Nah.. hari ini gw nonton Star Trek Voyager, episode Random Thought. And I'm amazed! Isi ceritanya menggambarkan banget ketakutan gw tentang apa yang terjadi bila kita ngeyel menghilangkan stimulus yang kurang baik, instead of mengajari orang untuk mengontrol dirinya sendiri.
 
Cerita dimulai dgn mendaratnya Voyager di masyarakat Mari. Penduduk Mari adalah para telepath, dan angka kriminal di Mari adalah nol. Mengapa bisa nol? Karena di Mari ada peraturan yang menetapkan bahwa violent thought is forbidden. Siapa pun yg ketahuan memiliki pikiran yg menjurus kekerasan akan ditangkap dan dihapus ingatannya itu. Dengan demikian, hanya pikiran2 baik saja yang beredar secara telepatik di masyarakat itu.
 
Masalah muncul ketika B'Elanna yang berbelanja kebutuhan pesawat gak sengaja ketabrak seorang penduduk Mari. B'Elanna yang ras Klingon (ras barbar yang selalu marah dulu baru mikir) itu otomatis, for splitting second, punya violent thought terhadap si penabraknya. Violent thought itu tertangkap secara telepatik oleh si penabrak. Dan karena ini adalah pikiran baru, dan dia tidak terbiasa mengontrolnya, yang terjadi adalah disaster: si penabrak itu mengadopsi violent thought itu mentah2, dan ketika dia mengalami hal yang mirip dengan B'Elanna (kesenggol orang lain), maka violent thought itu muncul dalam bentuk perilaku nyata yang tidak terkendali. Dia memukuli orang lain hingga babak belur. Parahnya lagi, pikiran ini lantas tertangkap oleh orang lain lagi, yang kemudian membunuh orang ketika barang belanjaannya jatuh.
 
Cerita selanjutnya adalah tentang bagaimana B'Elanna akan ditangkap dan di-brainwash, sementara rekan2 kerjanya keberatan dan berusaha mencari argumen serta bukti baru untuk membebaskannya. Gak usah gw ceritain deh, baca aja sinopsisnya... hehehe... Gw mau nulis tentang moral of the story-nya aja ;-p.
 
Bagian yang paling menarik dari episode ini adalah ketika Tuvok (Chief Security Voyager) mengatakan pada Nimira (Chief Security Mari):
"It seems that outlawing violent thought does not make the needs towards it automatically disappears.
And it seems that you have a more serious problem than having random thoughts of the aliens"
Yang suka nonton Star Trek tentu tahu bahwa Tuvok ini ras Vulcan, sebuah ras yang berhasil mencapai tahap kontrol diri yang masih dianggap tertinggi. Sebagai makhluk biasa, Tuvok juga punya rasa marah, rasa jengkel, violent thought.. tapi karena dia punya kontrol diri yang baik, dia bisa menyimpan pikiran2 dan perasaan2 itu dengan tepat. Dan karena dia belajar untuk menguasai pikiran2 dan perasaan2 itu, maka dia juga gak norak, gak bingung bersikap ketika secara telepatik dia menangkap pikiran/perasaan negatif orang lain (ohya, ras Vulcan itu juga telepatik). Pada saat dia menangkap violent thought B'Elanna (stimulus yang sama persis seperti yg diterima si penabrak yg kemudian menjadi hostile itu), Tuvok bisa menguasainya. So, sebenernya yang bikin bencana bukan pikirannya B'Elanna, tapi ketidakmampuan si penerima pikiran. Dan kenapa si penerima pikiran tidak mampu? Karena tidak diajar untuk mampu! Bottom line: bencana ini lebih disebabkan over-protectiveness pemerintah Mari daripada random thought yang terambil dari alien seperti B'Elanna!
 
Dan gw setuju banget sama omongan Tuvok di atas! Menghilangkan stimulus2 yang kurang baik bukan berarti kebutuhan, curiousity, insting manusia terhadap hal itu hilang. Kalau kita percaya teori Freud, yang namanya instink kebinatangan itu akan akan "selama jantungku masih berdebar". Dan siapa sih, yang bisa membuat hidup kita itu benar2 bersih dari stimulus yang kurang baik? Kita kan gak hidup di laboratorium! Nah.. dengan meniadakan stimulus yang buruk, kita sebenarnya malah membuat diri kita gamang. Akibatnya, begitu ada sedikit saja kontaminasi yang masuk, reaksi kita bisa jadi lebih norak dan lebih inappropriate karena kita tidak pernah diajar untuk menghadapi (dan mengendalikan) reaksi kita.
 
So.. gw tetap bertahan pada prinsip gw sejak jaman purba (dengan kata2 baru berdasarkan film yang baru gw tonton tadi): JADILAH VULCAN, JANGAN MENJADI MARI.
Yup! Dengan demikian resolusi gw untuk tahun 2006 adalah: Belajarlah mengendalikan reaksi terhadap semua stimulus yg kita hadapi, jangan menjadi orang cengeng yang minta agar stimulus2 yang kita terima dibatasi pada yang baik2 saja.
 
*dan kalau kita tergoda oleh stimulus yg kurang baik, maka salahkanlah diri kita sendiri ;-p*
 
SELAMAT TAHUN BARU 2006!

Friday, December 30, 2005

Naif: Tahu yang Kenyal

Masyarakat Sendiri yang Suka Formalin

Jangan salahkan produsen jika mereka menggunakan formalin. Sebab, masyarakat sendiri yang suka mengkonsumsi makanan yang mengandung formalin. Sebagai contoh, ketika membeli tahu pada siang hari konsumen ingin tahu yang tidak bau, tidak mudah hancur, dan sedikit kenyal. Padahal tidak mungkin tahu bisa bertahan lebih dari 12 jam tanpa pengawet.

“Karena itu, kami terpaksa memberi beberapa tetes formalin untuk memuaskan konsumen,” kata seorang pengusaha di Surabaya, Jawa Timur.

(Kompas, 30 Desember 2005, hal. 1)

------------------------------------------

Ealaaaaah… ini untuk kesekian kalinya gw tergiur untuk komentar setelah baca Kompas. Quo vadis, Kompas? Dulu kayaknya ini harian paling aspiratif deh! Kok sekarang jadi harian yg bikin gw tergelitik untuk protes ya?

Mengenai artikel di atas, gw cukup geram karena reporter harian sekelas Kompas tidak bisa membedakan antara needs & expectation dan acceptance. Apa yang dia sebut sebagai “tidak bau, tidak mudah hancur, dan sedikit kenyal” itu adalah needs & expectation konsumen. Itu yg diinginkan oleh konsumen. Tapi seberapa penting atribut tersebut bagi konsumen, dan demi memperoleh atribut itu trade off apa yang bersedia dibayarkan oleh konsumen, itu masih harus dikaji silang dengan consumers acceptance terhadap formalin. Jadi, gak bisa potong kompas jump to conclusion bahwa konsumen sendiri yang suka formalin hanya karena konsumen punya needs & expectation di atas ;-p. Mosok sih reporter Kompas senaif ini… ;-p?

Kesenjangan persepsi antara konsumen dan produsen ini memang masalah klasik. In fact, ini penyebab kenapa muncul bidang marketing research. Sebagai yang punya produk, tentu aja produsen itu yg paling kenal sama produknya; paling tahu boundar produknya, apa yg bisa dan tidak bisa. Tapi, sebagai sekedar pengguna produk, konsumen gak punya pengetahuan ini. Mereka cuma ngerti hasilnya kalo pakai produk itu seperti apa; memuaskan atau tidak. Dan dari pengalaman itu wajar aja kalo konsumen punya harapan dan kebutuhan sendiri.

Nah… kerjaan gw tiap hari mencoba menjembatani maunya konsumen dgn pengetahuan produsen. Mencarikan win-win solution gitu deh! Mencarikan titik temu sejauh apa keinginan konsumen bisa dipenuhi berdasarkan pengetahuan yg dimiliki produsen. Dan kalo titik temu-nya gak ketemu (eh… kalo gak ketemu namanya bukan titik temu ya? Tapi titik tidakketemu… ;-p *gak penting dot com*), maka tugas gw mensiasati bagaiman mengubah needs & expectation konsumen.

Buat gw, dosa besar tuh kalo bikin kesimpulan yg berbunyi seperti artikel Kompas di atas!

Kasus di atas kan sebenernya jelas: konsumen maunya tahu yg gak bau, tidak mudah hancur, dan sedikit kenyal. Mungkin nggorengnya susah kalo tahunya gampang hancur, apalagi kalo mau diolah lebih canggih lagi seperti tofu Jepang (misalnya dimasak sapo). Konsumen mana ngerti bahwa tahu lokal tuh susah dibikin kenyal dan tidak mudah hancur, soalnya buat mereka tahu tuh ya tahu. Di mata mereka, tahu itu bersaing sama tofu produksi Jepang di supermarket. Jadi, nggak salah dong kalo mereka berharap tahu lokal juga gak gampang hancur?

Nah, perkara tahu lokal itu beda karakteristik sama tofu, kan yang tahu produsen. Dan kalau memang gak bisa bikin tahu jadi tofu, ya bukan berarti mereka harus maksain diri supaya bisa. Apalagi dengan mencampurkan formalin! Gw selalu bilang sama klien gw bahwa produsen gak harus memenuhi semua keinginan konsumen. Yang penting adalah agar konsumen ngerti kenapa mereka gak bisa memenuhi suatu keinginan tertentu.

Kalau industri tahu ini adalah klien gw, maka pertama kali yg gw sarankan adalah untuk mengeksplorasi dulu apa kesulitan konsumen dgn tahu yg mudah hancur. Mungkin di situ kita bisa nemu celah bagaimana konsumen tetap bisa enjoy memasak dan mengkonsumsi tahu yang mudah hancur. Sekaligus kita check juga seberapa penting sih kesolidan tahu itu bagi mereka? Kira2, kalau mereka mau tahu yg gak gampang hancur, atribut mana yg siap mereka korbankan: harganya, kesehatannya, atau apa?

Seperti dibilang oleh Kompas, sebenernya ada kok cara lain untuk membuat tahu kenyal dan tidak mudah hancur: dengan bahan kimia bernama minatrid. Kesulitannya, minatrid ini sulit dicari dan harganya pun mahal. Konsekuensinya, tahu yang ber-minatrid ini pasti harganya mahal. Tapi yg jelas lebih sehat daripada kalau pakai formalin. Nah.. kalau konsumen bersedia mengorbankan harga (bukan kesehatan), bukankah mereka tidak keberatan memakai minatrid? Jadi.. gak ada alasan dong untuk bilang bahwa konsumen memang suka tahu berformalin? Apalagi untuk menutup artikel dengan:

Tak ada pilihan lain, produsen pun akhirnya menggunakan formalin

(Kompas, 30 Desember 2005, hal. 15 – lanjutan dari hal. 1)

Siapa bilang gak ada pilihan lain? Paling tidak ada 2 pilihan lain: membuat tahu yg mahal dgn minatrid, atau membuat tahu yg seperti sekarang. Kalimat penutup itu hanya berlaku kalau sudah dipastikan bahwa masyarakat bersedia mengorbankan kesehatan sebagai trade off untuk mendapatkan tahu yang kenyal!

Nah, karena industri tahu bukanlah industri besar yang consumer research-minded, maka gak mungkin jadi klien gw atau jadi kliennya advertising agency. Gak mungkin mereka menganggarkan budget untuk mensosialisasikan (istilah yg biasa kami pakai: consumer education) tentang hal ini. Oleh karenanya, tugas ini sudah seharusnya diemban oleh yayasan2 nirlaba yg peduli konsumen (YLKI, maybe?) dan media massa.

Yup! Ini tugasnya media massa seperti Kompas untuk mendidik konsumen, sehingga mereka sadar bahwa ada harga yang harus dibayar untuk meraih keinginan mereka. Dengan demikian konsumen sadar apa saja pilihan yg mereka punya, dan bisa memilih apa yg paling cocok untuk mereka. Kalau konsumen sudah memilih, dengan sendirinya demand terhadap pilihan tersebut akan meningkat, sehingga produsen mengerti produk apa yg harus mereka siapkan dalam jumlah banyak.

Hal itu yang menurut gw lebih tepat ditulis oleh Kompas dalam artikelnya, bukan malah ujug2 menyalahkan konsumen, seolah2 konsumen yang minta seperti itu. Lha wong produsennya yang jump to conclusion kok! Tugasnya Kompas memperbaiki kesenjangan persepsi ini, bukannya justru memihak pada pembelaan diri yang dilakukan produsen… ;-)

*Buseeeet… gara2 tahu aja tulisan gw segini panjang… ;-) Uhm… tulisan gw sekali ini bitchy banget gak sih? Bodo ah! Emang gw bitchy! Tapi ngomong2, kalo tulisan ini gw forward ke Kompas, gw bakalan dikasih honor gak ya? ;-p*

Tuesday, December 27, 2005

Milik Publik... artinya?

Kemarin gw antri ATM BCA sekitar jam 12:30. Dalam booth yang kebetulan cukup besar itu ada 3 mesin ATM: satu non-tunai, satu sedang bermasalah sehingga gak bisa dipakai tarik tunai, dan satu mesin tarik tunai lagi berfungsi sempurna. Gw udah antri sekitar 5 menit, dan yg lagi pakai satu2nya mesin tunai itu masih dgn cueknya gonta-ganti kartu narik duit (kalo gw gak salah hitung, dia punya 7 Paspor BCA, ada yg warna kuning, silver, dan kecoklatan). Antrian di belakang gw makin panjang, dan hitungan terakhir gw mencakup 12 menit zonder 8 pengantri (secara ini jam makan siang, gitu bro!), tapi orang yg lagi pakai satu2nya mesin tunai yg berfungsi itu cuek aja.

Nah, tahu aja kan, gw itu suka lupa kalo gw bukan Powerpuff Girl yang tugasnya membereskan kekacauan di mana2? Makanya, dengan proaktifnya gw masuk ke booth, dan negur si bapak2 itu:

“Pak, kalau masih banyak, tolong dong gantian. Bapak antri lagi. Yang nunggu sudah banyak, bapak udah lebih dari 10 menit di ATM”

Pikir gw  tampang dandy begitu (plus Nokia Communicator 9500 mengintip di gesper, kaos Tommy Hilfiger yang gw yakin bukan produksi abal2, dan aroma Truth-nya Calvin Klein) si bapak ini cukup terpelajar untuk menerima kritik dan himbauan orang lain. Eh.. ternyata gw salah.

“Nggak sabar amat sih? Ya terserah saya dong mau berapa lama! Ini kan uang saya, terserah saya mau ngambil berapa banyak!”

Masih dengan “bijak mode ON”, gw mencoba menjelaskan sekali lagi:

“Bukan masalah uangnya, Pak. Masalah antriannya. Bapak sudah lebih dari 10 menit di sini, dari tadi saya lihat bapak bolak-balik ganti kartu. Kasihan orang lain yang nunggu, orang lain kan juga perlu pakai ATM ini”

“Terserah saya dong! Saya punya banyak kartu, mau saya pakai semua, terserah saya! Urusan saya belum selesai kok! Ibu tunggu dong sampai urusan saya selesai. Ini kan ATM umum, semua orang punya hak pakai ATM ini semaunya

Nah! Sampai sini si bapak itu harusnya bersyukur bahwa gw bukan Powerpuff Girl. Soalnya, kalau gw Blossom atau Buttercup (sorry, Bubble kayaknya enggak gw banget deh.. ;-p), gw jamin si bapak itu udah gw bawa terbang dan gw jatuhkan di Samudera Hindia. Berhubung gw hanya manusia biasa, gw masih mencoba menjelaskan sekali lagi:

“Justru karena milik umum, Pak. Makanya pemakaian juga seharusnya memperhatikan kepentingan orang2 lain juga. Jangan dimonopoli sendiri, karena orang lain juga  berhak pakai”

Tapi si bapak itu makin mencak2, sampai akhirnya ditarik Satpam untuk keluar (dadah bapak! Jangan marah2 di luar ya.. ! Ntar kalo marah2 mobilnya nabrak lho!)

Hehehe…  pas kejadian itu gw memang mangkel luar biasa. Kok ada ya, orang yang segitu nggak peduli sama orang lain. Kok bisa ya, membiarkan orang lain menunggu sementara dia menikmati sendirian sesuatu yang hak-nya juga dipegang oleh orang2 lain yg sedang menunggu itu. Padahal, kalau kita menghargai hak orang lain, kan ada win-win solution-nya.  Dalam kasus si bapak itu (ngambil duit banyak dari beberapa rekening), ada beberapa solusi yang bisa dia ambil tanpa harus menginjak2 hak orang lain:

1.       Ke ATM pada saat jam2 sepi, sehingga gak bikin orang lain nunggu lama. Jaman gw belum punya Key BCA, gw kalo bayar2 via ATM tuh selalu jam 6:00 pagi atau jam 21:00. Gw bisa nongkrongin ATM sepuasnya tanpa harus bikin orang lain nunggu lama2.

2.      Mengambil uang via teller. Toh, ngambil uang gak harus lewat ATM. Kalo ngambil dari banyak rekening dan sempatnya hanya jam makan siang, ya sekalian aja pakai formulir tarik tunai di teller. Nggak susah, antrinya juga reasonable, dan yg pasti: nggak ngerepotin orang lain.

Tapi balik lagi, mungkin kesalahan utamanya memang di persepsi, kali ya? Kesalahkaprahan memandang bahwa “milik publik berarti tidak ada yang lebih berhak atas benda itu, sehingga masing2 boleh pakai sesuka2nya”. Padahal, kalau menurut gw, yang namanya milik publik itu harus diartikan sebagai “tidak ada yang lebih berhak atas benda itu, sehingga tidak pada tempatnya kita menggunakannya hingga merugikan orang lain (yg juga berhak)”.  

See? Publik (menurut gw) harusnya diartikan sebagai social control yang membatasi hak2 kita. Tapi bagi sekelompok orang lain (contohnya ya si bapak itu) , publik diartikan sebagai source of anomie, suatu justifikasi untuk menafikan aturan2 yg tidak tertulis.

Asli, gw tadinya udah pingin nyolot sama si bapak itu. Lha wong ditegur baik2, diingetin salahnya, kok malah marah2 dan nyalahin orang lain. Tapi something’s telling me not to, karena sebenernya peristiwa ini merupakan insight buat gw. Si bapak ini tidak sendirian. Orang serupa bapak ini bisa kita temui dimana2: orang yg dgn cueknya merokok di mikrolet penuh penumpang, orang2 yg nyebrang jalan padahal ada zebra cross atau jembatan penyeberangan di dekatnya, pengendara motor yg dgn seenaknya melaju ke arah berlawanan dari arah jalan, metromini yg seenaknya ngetem di jalan sempit, dll. Semua merasa karena mereka berhak menggunakan sesuatu, maka orang lain harus maklum dan tidak boleh protes.

Ya, kita memang masih tinggal di masyarakat yang masih harus diatur. Masyarakat yang belum bisa mengatur dirinya sendiri. Dengan kata lain: masyarakat yang gamang terhadap kebebasan mutlak, ketidakadaan tokoh otoriter, atau hilangnya aturan. Terus.. apa jadinya kalau kita berikan mereka kebebasan sekarang? Chaos. Mungkin beberapa orang akan survive dan membuat dunia lebih baik, tapi success rate-nya berapa? So, jangan menuntut kebebasan mutlak dulu deh! Kebebasan bertahap aja dulu, sambil pelan2 menunjukkan bahwa kita bisa bertanggung jawab atas sedikit-demi-sedikit kebebasan yg kita dapatkan itu.

Aih.. what a precious learning that guy gave me! Makanya, sekarang gw lumayan nyesel juga bahwa di akhir kejadian kemarin, gw sempet “sarkastik mode ON”. Sambil si satpam membawa bapak itu keluar booth, gw tersenyum manis (atau sinis? Hehehe… feel free to interpret ;-p) seraya berucap:

“Langsung mengajukan permohonan pemasangan ATM di rumah bapak sekalian ya, Pak! Jadi bapak bisa ngambil duit sepuasnya tanpa bikin orang lain nunggu lama2”

*ya maap deh.. Maya juga manusia, punya rasa punya hati, jangan samakan dengan pisau belati.. ;-p*

Friday, December 23, 2005

Friendship

Udah lama pingin nulis tentang friendship, tapi biasa deh, kalo lama gak ditulis2 ide akan menguap begitu saja. Baru muncul sekarang setelah mood-nya cocok.

Awalnya pingin nulis tentang friendship karena perseteruan dua orang teman beberapa waktu lalu. Dua2nya sama2 muda. Dan darah muda emang gampang bergejolak. Alkisah, salah satu dari mereka merasa gak dihargai oleh yang satunya. Ada lah beberapa kejadian, seperti yg satu ngomongnya agak sepa ke yang lainnya, gak balas SMS, gak balas telfon, dll. Sampai terakhir kalinya adalah yg satu itu menolak waktu diajak ngomong empat mata. Nah, di situlah salah satu teman gw langsung sensi abis dan memutuskan hubungan. Alasannya:

He is not my best friend anymore. He has changed. A true friend should never let his friend down. A true friend will treat his friend with respect

Waktu itu pertanyaan gw satu aja ke teman gw itu:
Look at yourself. Do you act as a true friend? A true friend never expect anything from his friend. A true friend will only give. And when he does not receive anything in return, a true friend will never use it as a reason to end the friendship

Menurut gw sangat lucu bahwa seseorang bisa mengatakan temannya bukan teman yang baik karena bertindak tidak sesuai dgn harapannya. Karena memiliki harapan saja merupakan sesuatu yang salah dalam sebuah persahabatan.

Kali kedua gw niat menulis topik ini di blog adalah ketika nonton sebuah reality show lokal. Seorang pemain mengambil keputusan yang dianggap salah oleh banyak orang: karena menyebabkan gugurnya salah seorang temannya. Dia dianggap berkhianat, bahkan si teman yg gugur itu berkata: Lihat sendiri, dia seorang pengkhianat. Demi harta, dia rela mengkhianati teman2nya sendiri. Orang yang benar2 sayang sama dia.

Waktu itu dahi gw langsung mengernyit. Ada yg nggak masuk di akal gw. Kalau seseorang benar2 sayang sama seseorang lainnya, dia hanya akan memberi. Dia tidak akan berharap anything in return. A true friend will accept and endure any pain for his/her friend. Jadi menurut gw lucu sekali kalau ada seseorang berkoar2 bahwa dia benar2 sayang pada seseorang, tapi dalam tarikan nafas yang sama berkata bahwa orang itu mengkhianati dia. Even kalau orang tersebut benar2 mengkhianati, seorang teman sejati tidak akan berkoar2 di depan umum. She/he'll just accept and endure the pain in silence.

Friendship menurut gw adalah sesuatu yang sangat istimewa. Setingkat di bawah pacaran dan/atau menikah. Dalam friendship, rasa sayang dan perhatian yg kita berikan setara dengan pacaran atau menikah, hanya saja hubungan tidak diikat oleh lembaga/norma yang meresmikannya. Dan karena itu gw selalu bilang sama kenalan2 gw: hidup gw penuh lingkaran. Sebagian besar orang berada di lingkaran terluar. Dan walaupun gw mencoba baik dan sayang pada semua kenalan gw, berusaha membagi certain amount of love and caring to each of them, hanya sedikit yg berhasil menembus lingkaran utama gw. Tapi sekali seseorang bisa menembus lingkaran dalam, masuk ke dalam my inner circle, gw emotionally involved with each of them. Gw sangat berhati2 menawarkan friendship, karena sekali kami terikat dalam friendship, I will dedicate certain amount of love, I will accept and endure the pain for them. Dan karena janji yang gw buat ini, gw gak bisa menjadikannya mass product. It should be a niche product. Bukannya mau pilih2 teman, tapi diri sendiri kan juga punya keterbatasan. Jangan sampai malah gak bisa kasih apa2 ke teman krn memaksakan diri.

Salah satu teman gw pernah berhasil menembus lingkaran yg cukup dalam. Tapi kemudian dia melakukan satu2nya hal yang pernah gw mohon dia untuk tidak melakukannya: bicara tentang suatu hal di tempat terbuka. I spent months trying to beg him not to do that. Dengan jalur personal tentunya. Dan ketika jalur personal itu tidak berhasil, dengan sindiran di tempat terbuka itu. Dan ketika tidak berhasil juga, terpaksa kasih shock therapy dengan memberikannya treatment yang setara: menyebutkan sesuatu yg dimintanya tidak disebutkan di tempat terbuka. Tapi untuk sampai keputusan ini, gw melalui berbagai pertimbangan dulu, dan benar2 gw pilih hal yg will not do too much harm.

Tapi gw tidak pernah membenci dia. Gw tidak pernah memutuskan tali persahabatan dengan dia. Karena sekali gw tawarkan friendship padanya, maka kami berdua tidak lagi dua entity yang sepenuhnya berbeda. Hurting her/him means hurting part of me too.

Oleh karena itu, hadiah terbaik yang pernah gw berikan pada orang2 yg gw sayangi adalah sama seperti yg diucapkan Don Corleone dalam The Godfather (Mario Puzo): "I'll give him an offer he cannot refuse: I'll offer him friendship"

Monday, December 19, 2005

Sepatu buat si Mas

Tanggal 18 Desember kemarin suami gw ultah. Dan seperti tahun2 lalu, beberapa minggu sebelumnya urusan heboh mencari kado udah dimulai. Tahun lalu kadonya computer backpack. Maklum, sebenernya gw itu kan hanya “istri kedua”, “istri pertama” suami gw ya notebook-nya tercinta. Kemana dia pergi, selalu bawa gadget-nya (hehehe… gw suka bilang ke dia: PDA, handphone, iPod, dan segala macam gadget di tasnya adalah “anak” dari istri pertama… ;)). Jadi tahun lalu gw beliin wahana baru untuk keluarga elektroniknya.  Dua tahun yg lalu kadonya parfum. Well, suami gw bukan cowok dandy yang suka dandan, makanya gak punya parfum sama sekali. Tapi kan sesekali perlu juga tampil wangi, jadi gw beliin satu deh! Tahun ini, pilihan jatuh pada sepatu, karena kebetulan sepatu yg biasa dia pakai untuk memberikan training jebol (lagian sih, udah tahu itu sepatu kulit buat ngantor, malah dipakai ikut outbound training!)

Seumur2 gw gak pernah beliin dia baju, sepatu, atau outfit2 untuk kerja lain tanpa bawa orangnya. Susah! Meskipun gw tahu ukurannya, tapi ini risky business banget! Maklum, suami gw itu dibuat berdasarkan prototype Monas atau Eiffel: kurus tinggi. Ukuran2 yang standard gak bakal kena sama dia. Baju, kalau mau aman harus beliin merek tertentu yg menyediakan ukuran 15.5/34. Bukannya brand-minded, tapi memang hanya itu yg jatuhnya pas di badan dia.  Jangan coba2 beliin yg ukurannya masal (XL, L, M, S) kalau nggak mau mansetnya berada di pertengahan lengan bawah. Celana juga hanya 2 merek yg gw confident pasti jatuhnya bagus di dia. Dan kalau beli jeans, harus yg belum dijahit bawahnya. Dengan tinggi lebih dari 185 cm (dan sebagian besar ketinggian itu letaknya di kaki), emang susah cari celana yg gak nggantung di atas sepatu.

*hehehe.. jadi inget pas menikah dulu. Batik yang akan dipakai si Mas untuk akad nikah kependekan sehingga harus disambung dengan kain tambahan. Beberapa menit sebelum akad nikah ternyata jahitan sambungannya jebol, sehingga harus dijelujur ulang. Pokoknya sempet bikin semua orang deg2an, karena jam akad nikah itu sudah dihitung dgn cermat berdasarkan primbon, dan kalo meleset 10 menit udah masuk ke jam yang buruk.. ;-)*

Back to topic, membeli sepatu buat kado suami gw. Suami gw tuh nomor sepatunya 44 – 45. Gw pikir berbekal nomor sepatu itu, plus plan B dan plan C  (baca: seutas tali raffia yg gw ukur sepanjang sepatu kerjanya dan selembar kertas bergambar pola sepatunya – kan gw gak mungkin nyolong sepatu dia buat dibawa), udah gampang lah gw beli sepatu! Ternyata kenyataan tak seindah impian.. ;-)

Pertama masuk sebuah toko sepatu, gw udah seneng lihat ada sale akhir tahun. Setelah pilih sana sini, akhirnya nemu juga sepatu yang sesuai sama gayanya suami gw. Harganya masuk dalam budget pula. Yang di-display nomor 42, jadi gw minta yang nomor 45. Di situ masalah pertama.

“Wah.. ini nomor paling gedenya 43”

“Jadi mana yang ada nomor 45-nya?”

“Nggak ada”

OK deh.. baru satu toko! Jadi gw masuk ke toko lain.  Beberapa toko gw tinggal karena jelas harganya gak masuk  budget. Beberapa toko lagi gw tinggal karena  gak ada kesesuaian model dan/atau ukuran. Sampai akhirnya di toko kesekian (yang paling gede) kayaknya nggak mungkin kalo gw  gak dapat yg gw mau. Pilah-pilih dari segala model, akhirnya nemu satu model yg bagus. Klasik dan konservatif, favorit suami gw untuk kerja. So gw nanya ke si Mbak penjaga yang nomor 45. Sayang jawabannya masih seperti yang dulu: nggak ada nomor 45. Adanya nomor 43 paling gede. Ya udah, gw minta aja yg nomor 43, siapa tahu jodoh, karena si Mbak penjaga bilang nomor sepatu standardnya suka beda2.

Begitu nomor 43 datang, ternyata kalau diukur pakai tali panjangnya sama. Tapi diukur pakai pola sepatu di kertas kok rada beda, karena bentuknya gak identik. Nah lho! Padahal udah jatuh cinta sama modelnya nih! Si Mbak penjaga, plus Store Manager-nya yg ikutan muncul, gak bisa memastikan suami gw bakal cukup atau enggak pakai sepatu itu. Tapi mereka memperbolehkan sepatu itu ditukar tanggal 18 Desember (lewat dari seminggu kemudian) kalo suami gw ternyata gak cukup. Masalahnya satu aja:

“Nukernya harus dengan merek dan model yang sama, Bu. Nggak boleh ganti model, apalagi merek”

“Lha, tapi ini udah nomor paling gede ya? Lha kalo suami saya kekecilan, terus nukernya gimana dong, kalo gak boleh sama model yang lain?”

“Ya, gimana ya, Bu?”

Lha, ditanya kok malah nanya! Hehehe.. Jadi safe is safe, terpaksa gw ganti haluan aja: yang tersedia sampai nomor di atas 45 model yang mana aja sih? Si Mbak menunjukkan satu rak sepatu. Hanya di rak itu tersedia nomor komplit dari 41 – 48. Modelnya gak banyak, dan gak sebagus yg mau gw beli itu. Tapi ya gimana? Pilihannya hanya ini. Daripada gw beliin model bagus tapi habis itu suami gw meringis kesakitan kalo pakai?

Akhirnya gw pilih model yg terbagus dari alternatif yg ada. Nomor 45. Dicocokkan dgn tali dan gambar pola juga gak beda jauh. Plus masih ada garansi boleh tuker tanggal 18 Desember siang kalo gak muat, dan masih ada nomor di atasnya. Sepatu langsung gw bawa ke rumah adik gw, yg nomor sepatunya 43 – 44. Gw suruh coba, dan dikira2 cukup gak kalo suami gw yg pakai. Adik gw bilang cukup. Bikin lumayan tenang deh!

Tapi.. ternyata seminggu lebih itu gw bener2 deg2an. Tiap pagi lihat kotak sepatu itu di rak sepatu (tempat paling gampang nyembunyiin sepatu kan di antara sepatu2 lainnya kan ;-)?), gw spontan deg2an: cukup gak ya? Tiap kali buka dompet dan lihat bon yg ada garansi penukarannya, gw deg2an lagi: duuuh, gimana kalo gak cukup? Emang sih bisa dituker, tapi.. kan kepuasan tersendiri kalau sekali coba langsung OK!

Minggu dini hari, setelah lewat tengah malam memasuki 18 Desember, gw mengendap2 ke rak sepatu buat bungkus kado. Last temptation nih! Hampir aja gw tergoda untuk membangunkan suami gw untuk mencoba pakai (tapi udah janji sama Ima mau kasih kado barengan, dan gw tidak mau merusak kepercayaannya Ima). Sempat terpikir untuk mencobakan ke kaki the sleeping birthday guy. Tapi sayang ya.. tinggal beberapa jam lagi. Akhirnya gw bungkus tuh kado sambil tetep deg2 plas: cukup gak ya?

Pagi jam 7:30, gw & Ima akhirnya kasih kado itu ke si Mas. Si Mas seneng banget terima kado dari kami berdua. Dan begitu dicoba.. ternyata.. CUKUP! Alhamdulillah! Gak perlu nukerin kado, gak perlu lihat orang susah payah nyoba pakai kado itu dan tersenyum padahal kadonya harus ditukar. Deg2an 10 hari terbayar sudah.

*Dan yang bikin gw senang: sekali ini gw gak tergoda untuk mencari tahu jawabannya sebelum waktunya benar2 tiba… ;-)*

Happy 39th  Birthday, Sweetheart!

Saturday, December 17, 2005

Behind the Romantic Movies

Asli, ini posting yang sama sekali (gak) penting! Gara2 temen gw nyebut Serendipity, gw jadi nginget2 film2 romantis apa yg gw suka. Well, itu bukan genre favorit gw, tapi ada juga yg berkesan dari beberapa film.

Serendipity, Love Affairs, dan L'Appartment bisa dibilang masuk kategori yang bikin gw terpana. Serendipity dan Love Affairs (sebenernya ini adjusted re-make dari film jadul An Affair to Remember) bercerita tentang sepasang manusia yg jatuh cinta karena adanya suatu kebetulan, tapi mereka tidak percaya pada perasaan itu, dan memutuskan untuk menantang takdir. Serendipity mengakhiri kisahnya dgn rangkaian kebetulan yg indah. Ini kisah yang lebih menunjukkan the beauty of playing with your fate; dengan membuat orang gemas akan kebetulan2 kecil yg terlewatkan. Sementara Love Affairs, seperti juga L'Appartment menunjukkan betapa bahayanya menantang takdir, karena sebuah kecelakaan kecil bisa saja terjadi dan harga yang dibayar untuk salah membaca kecelakaan itu sangatlah mahal. Kealpaan  mempertimbangkan pentingnya menyampaikan sendiri sebuah pesan penting di L'Appartment membuat Max & Lisa kehilangan cintanya. Keterburu2an memaknai mengapa sang kekasih tidak muncul di Empire State Building pada waktu yang ditentukan pun berakibat sama.

Atau mungkin, bukan menantang nasibnya yang berbahaya. Tapi tidak percaya pada kata hati-lah yang membuat munculnya bahaya. Bukankan jika mereka percaya pada orang tersebut, maka bagaimana mereka memaknai ketidakhadirannya juga menjadi berbeda? Kalau mereka berangkat dari berkata: aku percaya dia mencintai saya, apa halangan yg membuat dia tidak hadir?, tentu mereka akan mencari si pasangan karena khawatir ada yg buruk terjadi padanya. Bukan meninggalkan tempat itu dgn persepsi bahwa dia kehilangan cinta.

*jadi inget satu kalimatnya Viktor Frankl dalam Man's Search for Meaning: Their question was, "Will we survive the camp? For, if not all this suffering has no meaning". The question which beset me was, "Has all this suffering, this dying around us, a meaning? For, if not, then ultimately there is no meaning to survival"  Kadang kita kehilangan kesempatan membaca tanda2 yg ada, karena salah menentukan titik berat masalahnya*

OK.. back to topic. All-time-favorite gw masih Pretty Woman. Gw sampai bela2in beli DVD-nya dan nonton berulang2 (padahal pas diputer di bioskop, gw udah nonton 4x). Dan teteup, selalu gw ikut nangis di bagian Julia Roberts meninggalkan Richard Gere diiringi lagu It Must've Been Love.  Actingnya Julia Roberts di situ bener2 bagus: kelihatan banget approach - avoidance conflict nya. Meninggalkan Edward (Richard Gere) adalah the least she wanna do, tapi menjadi cewek simpanan-nya Edward juga sesuatu yg sangat berat bagi dia karena dia bener2 sudah jatuh cinta pada Edward. Entah apakah ini bisa dibilang menantang takdir juga, tapi kalo gw sih memang tertarik dgn bagaimana keputusan yg berat itu diambil. Ketika kita mengambil pilihan, kita tak pernah tahu kemana pilihan itu akan membawa kita. Tapi toh tetap kita harus memilih, menjalani, dan tidak menyesali keputusan tersebut. Kalau kita beruntung, the prince will come, seperti di film ini. Tapi jangan berharap semuanya akan berakhir seindah ini.

Apa lagi ya? Oh ya! Shall We Dance?   Film ini gw suka karena memberi arti lain bagi jatuh cinta setelah menikah. Selama ini norma2 masyarakat mengajarkan bahwa kalau kita sudah menikah, maka kita harus tutup mata terhadap orang2 lain. Gak boleh jatuh cinta sama orang lain (hehe.. gw pernah berdebat panjang sama seseorang tentang hal ini.. ;)). Tapi film ini menunjukkan sisi lain, bahwa kadang 'main mata' itu perlu untuk menyelamatkan perkawinan. Seperti Richard Gere yang justru menyadari betapa dalam cintanya pada Susan Sarandon, setelah berlatih menari dengan cewek semenarik Jennifer Lopez. Coba kalau dia tidak belajar menari, seumur2 dia trapped di rasa keharusan mencintai istrinya. Bermain2 dgn J-Lo, asal tetap dalam koridor, justru menimbulkan percik baru bagi suami istri ini.

* Gw jadi inget seorang teman yg bilang gini ke gw, "Perkawinan itu ibaratnya paket McDonald: dua ayam, satu nasi, segelas Cocacola. Jangan ngeyel minta Pepsi, krn mereka gak jual itu. Kita gak harus suka Cocacola, dan gak harus minum Cocacola-nya sampai habis. Sah2 aja kalo ntar keluar dari McDonald beli Pepsi di pinggir jalan. Yang penting jangan membawa makanan atau minuman dari luar ke dalam McD. Atau kalau emang gak suka Cocacola sama sekali, paketnya take away aja, atau pindah makan di KFC aja" *

Hehe.. kebiasaan gw mulai lagi ya? Ngebahas serius hal sepele. Padahal mungkin juga sutradaranya nggak mikir se-njelimet ini tentang filmnya. Secara ini harusnya jadi film ringan, gitu lowh! Tapi.. what can I say? Selalu ada yang bisa dipelajari dari hal sesederhana apa pun. Dan kalaupun tulisan ini pakai konteks romantic movie, bukan berarti apa yg gw pelajari dari film2 ini hanya bisa diterapkan di kisah cinta. Pilihan untuk percaya pada seseorang, pilihan untuk cut the vicious circle, pilihan untuk melakukan sesuatu yg secara kasat mata buruk padahal penting buat mendapatkan hal yg lebih baik.. semua itu adalah hal2 universal yang kita temui dalam hidup ini.

Monday, December 12, 2005

Dibuang Sayang: (masih) Revolusi

Sebenernya gw mau nulis topik lain, tapi ternyata ada komentar yang sayang kalo gak dibagi ke orang2 lain. Jadi gw tulis dulu yg ini, baru ntar gw susul dgn topik lain.

Intan:

Hai Mbak Maya. Sebenernya, kalau aku pikir, persoalan revolusi vs. evolusi adalah sesuatu yg ruwet. Ada satu hal yg worth noting, though: evolusi tidak dilakukan, tapi terjadi dengan sendiri. Orang pun lantas berpikir, mana yg lebih baik terjadi dulu: apakah evolusi akan terjadi dengan sendirinya setelah sebuah tatanan dirombak dalam revolusi? Kalau dilihat dari hukumnya sih, evolution is inevitable. Revolusi cuma bagian dari sejarah, reaksi atas suatu ketimpangan yang diharapkan bisa membawa suatu masyarakat ke jenjang yg lebih tinggi. Aku sih nggak bisa bilang pro revolusi atau evolusi. Pertama, evolusi kan nggak bisa dihindari. Mau nggak mau pasti terjadi. Cuma ya lama lama sekali -- ribuan tahun baru terlihat hasilnya. Dan evolusi kan soal human beings in general, susah kalau dilihat dalam konteks sebuah bangsa. Kedua, revolusi tidak selalu harus militan. Aku rasa Indonesia butuh revolusi budaya. (Mau revolusi militan susah, wong nggak ada aktivis yg profesional; bikin organisasi terus pecah, bikin baru terus bubar, begitu terus... Ngakunya sih radikal, tapi kompromi terus karena mau punya kedudukan.) Apa yg harus dilakukan dalam revolusi budaya? Berani mengkritik diri sendiri, berani mendenkonstruksi dan membuka diri terhadap ide2 lain, belajar dari orang lain.. Hasilnya? Mungkin berantakan. Beberapa orang nggak siap, but the process will go on. Tapi akan ada dialektika yg menghasilkan sintesis2 baru. Revolusi seperti ini nggak berarti dilakukan sehari semalam atau sebulan. Tapi puluhan tahun. Nggak perlu senjata, nggak perlu coup de etat, cuma berbekal keberanian melawan diri sendiri. Hehe.. sorry panjang ya Mbak

 

 

Hahaha, I must admit that this is the BEST comment I’ve ever had in this blog so far!

Yup! Rasanya gw mesti mengakui bahwa penggunaan kata evolusi sebagai lawan kata revolusi di tulisan gw yg lalu itu salah. Harusnya term yang tepat adalah Revolusi Militan vs. Revolusi Budaya seperti komentar Intan di atas.

Posting Gw & Revolusi sebenernya suatu curhat hasil obrolan gw dgn seorang teman yg ternyata sangat pro-revolusi militan. Sementara gw sendiri gak percaya bahwa kita siap dengan revolusi militan. Ya seperti dibilang Intan di atas: gak ada (atau paling tidak: sedikit sekali) aktivis yg professional! Kalau kita paksakan revolusi militan, maka yg terjadi adalah kekacauan yg lebih besar. Hanya pergantian rezim, karena yg tadinya ngaku radikal, begitu di atas ya kompromi juga. Itu yg gak gw setujui dari temen gw: emangnya kalo kita ganti pemerintah sekarang, putuskan bantuan dari negara lain, lantas akan beres? Lha, siapa yg jamin pemerintah baru itu cukup professional, gak kompromi begitu sudah sampai di atas?

Uhm.. kalau Intan mendefinisikan revolusi budaya sebagai: mengkritik diri sendiri, berani mendekonstruksi dan membuka diri terhadap ide2 lain, dan belajar dari orang lain, maka I can’t be more agree with her. Ini yg sebenernya gw maksud dgn lebih setuju pada evolusi. Gw lebih senang membiarkan alam menjalankan jadwal evolusinya sendiri, namun kita membantu memastikan keberhasilannya dgn meningkatkan kualitas diri masing2 dari kita. Dan apa sih kualitas diri yg baik itu? Gw sih menganggap bahwa seseorang itu memiliki kualitas diri yg baik jika berani bertanggung jawab atas segala tindakan dan perbuatannya. Locus of control-nya internal, bukan eksternal. Dan itu baru bisa didapat jika orang sudah berani mengkritik diri sendiri. Dan bisa mengkritik diri sendiri baru terjadi kalo kita mau senantiasa belajar dan membuka diri terhadap ide2 lain.

Mungkin, beda antara gw & Intan hanya satu (CMIIW[1], ya Ntan!) : Intan percaya ada cara untuk merealisasikan hal ini secara menyeluruh dalam waktu yg relatif cepat. Sementara gw sejauh ini masih belum benar2 yakin bahwa ada cara seperti itu. Gw masih meyakini bahwa ini adalah personal project: sesuatu yg harus ditularkan dari orang ke orang lain secara personal sepanjang evolusi yg panjang ini.. ;)

Sejauh ini gw belum nemu cara membuat sejumlah besar orang mau menerima bahwa dirinya sendirilah yg harus dikritik. Boro2 sejumlah besar orang, lha wong project pribadi gw aja gak semuanya berhasil.. hehehe.. Beberapa teman diskusi yg tadinya gw pikir bakal sampai pada tahap seperti ini, akhirnya terpaksa diaborsi dari daftar calon ;)

But of course, it would be interesting to listen and learn more from Intan about the method in her mind. Bisa jadi keyakinan gw yg salah, bahwa ternyata cara seperti itu memang ada (dan kita tidak harus bergerak bersama evolusi). After all, kalau gw gagal terus, mungkin memang karena gw yg kurang convincing atau kurang persuasif.. ;)

Anyway, thanks for the precious comment, Ntan!





[1] CMIIW: Correct Me If I’m Wrong – thx to Nirwana for explaining the abbreviation ;)

Friday, December 09, 2005

Every Little Thing is Magic

Beberapa hari lalu gw makan siang sama dua orang teman, sebut saja namanya Mas Boy dan Kelly. Asal muasalnya, si Kelly bermaksud konsultasi sama Mas Boy yg kebetulan memang termasuk orang yang peka terhadap alam sekitar (baca: dianggap punya sixth sense, kalo bahasa awamnya). Obrolan berlangsung ngalor ngidul kesana kemari sampai 3 jam, tapi gw gak jelas sebenernya apa yang mau dikonsultasikan oleh si Kelly. Esok harinya Kelly baru ngaku ke gw tentang agenda konsultasinya dia yang sebenernya: let’s say Kelly sudah melakukan more than enough effort to ensure something dan sekarang pingin si Mas Boy (dengan kepekaannya) membantu melihat apakah it’s worth.

Frankly, I’m amazed to hear that!

I’m amazed karena obrolan kita yang panjang lebar ngalor ngidul gak jelas itu sebenernya sudah menjawab pertanyaan Kelly yang tidak sempat terucapkan! Isn’t it magic? Jawaban itu sudah tersedia di depan mata, hanya saja Kelly (mungkin) gak menyadarinya karena itu bukan jawaban yg ingin didengarnya. Kelly ingin jawaban pasti: yes or no. Sementara Mas Boy memberikan jawaban beyond that, karena intinya semua hal itu bisa dijawab yes, it’s worth that effort.

 

Bacalah ayat-ayatku
Dalam hati yang tenang dan lapang
Tidakkah kau lihat kehidupanmu
yang kutautkan pada diriku
Tidakkah kau sadar setiap mimpi
tercipta karena ku kirim itu padamu
Setiap huruf membawa satu kabar
kuncinya ada padamu
Bukalah
simpan maknanya
Sampai saat kau bertemu lagi
denganku

(Bagus Takwin, Januari 1992)

 

Sepanjang makan siang itu gw & Mas Boy berkali2 bilang dan ngobrol bahwa semua yang terjadi di sekitar kita adalah ujian buat kita. Tidak ada kejadian yang buruk. Yang ada mungkin hanyalah jalan berliku untuk mendapatkan yang lebih baik.  Berkali2 kita bicara tentang: yang penting usaha, tapi kalau udah diusahain seperti apa pun gak berhasil, berarti itu memang sudah diatur begitu. Jadi gak usah mikirin usaha kita worth atau tidak. Yang penting usaha aja, dan bersiap diri kalau tidak berhasil, karena ketidakberhasilan itu sebenernya adalah keberhasilan dalam bentuk lain.

Yang bikin gw amazed lagi, Mas Boy sempat kasih joke tentang orang yg protes ke Tuhan karena (merasa) doanya tidak pernah dijawab oleh Tuhan. Tuhan menjawab complaint itu dengan, “Sebenarnya semua doamu selalu Aku jawab. Tapi kebanyakan jawaban atas doamu adalah ‘TIDAK’”. Hehe.., jadi sebenernya orang itu aja yang gak sadar bahwa doanya sudah dijawab oleh Tuhan karena jawaban Tuhan tidak sama apa yang dia tunggu2.

Hmm.. magic! Every little thing around us is magic! Semua di sekitar kita itu sebenernya terlalu penting untuk diabaikan. Semuanya adalah jawaban. Semuanya adalah tanda yg bisa dibaca. Yang jadi masalah adalah bagaimana kita membacanya? Sering kali kita gak bisa membaca dgn tepat karena kita malas latihan membaca, atau justru karena kita kelewat sibuk mencari kata2 tertentu sebagai jawaban.  Padahal, the answer is always there, it’s a matter how to read and interpret.

Puisi yang gw kutip ini ditulis oleh seorang teman long long time ago. Gw suka banget sejak baca puisi ini di majalah kampus, walaupun gak sepenuhnya ngerti artinya apa. Tapi moga2 si penulis gak keberatan bahwa hari ini gw menggunakan puisinya sebagai rangkuman tulisan hari ini: bahwa semua hal di dunia ini saling terkait, semua hal di sekitar kita membawa sebuah tanda, sebuah huruf, yang kuncinya ada pada kita. Sekarang terserah kita bagaimana mengumpulkan huruf demi huruf itu, dan membacanya sebagai suatu kalimat yg utuh.

*dan untuk seorang teman di luar sana, aku sedang mengumpulkan tanda2 (yang kau kirim). Gak nulis apa2 bukan berarti gak mau beraksi, or something personal to you. Hanya mencoba belajar mengumpulkan lebih banyak huruf lagi supaya gak salah baca :-p Afterall, kesabaran itu indah, kan?*

Thursday, December 08, 2005

Orang Inggris di New York

Englishman in New York adalah salah satu lagu kesukaan gw. Gw suka liriknya. Gw selalu ngebayangin betapa lonely-nya si Englishman ini. Sekilas harusnya dia gak punya masalah. Dia berada di kota yang berbahasa sama dengan dia. Kalau dilihat kasat mata harusnya gak ada kendala komunikasi. Dan kalau nggak ada kendala komunikasi, everything should be all right, or at least we can make it all right.

 

I don't drink coffee I take tea my dear
I like my toast done on the side
And you can hear it in my accent when I talk
I'm an Englishman in New York

See me walking down Fifth Avenue
A walking cane here at my side
I take it everywhere I walk
I'm an Englishman in New York

I'm an alien
I'm a legal alien
I'm an Englishman in New York
I'm an alien
I'm a legal alien
I'm an Englishman in New York

If "manners maketh man" as someone said
Then he's the hero of the day
It takes a man to suffer ignorance and smile
Be yourself no matter what they say

I'm an alien
I'm a legal alien
I'm an Englishman in New York
I'm an alien
I'm a legal alien
I'm an Englishman in New York

Modesty, propriety can lead to notoriety
You could end up as the only one
Gentleness, sobriety are rare in this society
At night a candle's brighter than the sun

Takes more than combat gear to make a man
Takes more than license for a gun
Confront your enemies, avoid them when you can
A gentleman will walk but never run

If "manners maketh man" as someone said
Then he's the hero of the day
It takes a man to suffer ignorance and smile
Be yourself no matter what they say

(Englishman in New York – Sting)

 

Tapi dalam habitat yang harusnya tidak begitu asing buat dia, dia sebenernya benar2 sendirian. Sendirian dalam pikiran, sendirian dalam rasa, sendirian dalam jiwa. I don’t drink coffee, I take tea, I like my toast done on the side. Sekilas hanya perbedaan selera, seremeh perbedaan aksen. Tapi itu hanyalah puncak gunung es dari perbedaan yang mendasar, karena preference terhadap teh (daripada kopi) dan bagaimana toast harus disajikan terbentuk dari proses panjang pembiasaan dan budaya? Sebuah proses panjang yang mendarahdaging membentuk kepribadiannya.

Ketika kau memilih teh, mungkin karena jantungmu tidak kuat menahan kafein kopi. Tapi mungkin juga karena teh mengingatkanmu pada kebersamaan di keluarga besarmu (seperti yang diiklankan oleh sebuah produk teh.. ;-)). Sehingga, ketika kau duduk di kedai kopi untuk menikmati secangkir teh, sebenarnya yang kau cari adalah suasana menyenangkan di masa lalu, bukan sekedar minuman fungsional yang membuatmu terjaga, yang diminum tergesa2. So, bayangkan ketika si Englishman dan temannya yg New Yorker masuk ke kedai kopi bersama2: si Englishman yang ingin duduk santai berlama2 sambil minum teh merasa jengkel karena si New Yorker maunya buru2 aja, dan sebaliknya si New Yorker tidak bisa mengerti kenapa untuk minum aja si Englishman lelet banget.

Itu baru soal kopi dan teh. Belum lagi ketika menyangkut hal2 yang lebih mendasar. Modesty, propriety can lead to notoriety. Karena ukuran yang mereka pakai berbeda, apa yang dianggap baik dan benar oleh si Englishman bisa jadi bertolak belakang dengan norma2 di sekitarnya. Apakah berarti si Englishman salah? Menurut gw sih enggak. Mereka hanya berbeda. Tapi lepas dari salah/tidak salahnya si Englishman, dia end up as the only one. Sendirian. Lonely.

Mungkin gw senang banget sama lagu ini karena gw merasa senasib dengan si Englishman. Gw kadang merasa sendirian dalam pikiran, perasaan, dan rasa.  Cara gw melihat sesuatu seringkali dianggap aneh oleh orang di sekitar gw. Dari julukan yang paling halus “suka banget ngebahas serius hal sepele” sampai yang menuduh gw selalu mencari pembenaran atau bahkan yang paling ekstrim menganggap gw tidak jujur pernah gw dapatkan.

Padahal gw sendiri tidak berusaha mencari pembenaran. Gw hanya merasa melihat sesuatu itu dengan berbeda. Seperti Englishman yang melihat segala sesuatunya dari proses panjang pembelajarannya di Inggris, yang sangat berbeda dengan proses panjang pembelajaran New Yorkers di kotanya. It’s a matter of perception. Kita gak bisa bilang hanya salah satu yang benar, atau yang satu lebih benar dari yang lainnya, kecuali kalau bisa kita buktikan bahwa sudut pandang yg itu sama sekali tidak mungkin terjadi.

Bagaimana jika si New Yorker itu pernah tinggal di Inggris? Bisakah dia yg menentukan batas antara propriety dan notoriety? Uhm.. kalau menurut gw sih tetap belum tentu bisa. After all, kalau dia masih menilai Englishman dari ukuran New Yorkers, berarti mungkin dia tidak cukup lama tinggal di Inggris atau tidak cukup menyatu dgn kehidupan para Englishmen untuk memahami persepsi mereka.

Yang namanya persepsi itu memang greatest source of problem of all. Makanya selalu timbul pertanyaan klasik: What is reality? Is it in your head or in your eyes?

Tapi soal persepsi ini kita bahas aja lagi kapan2. Sekarang gw pingin ngomentarin aja: apa yg mesti dilakukan oleh si Englishman di tengah New Yorkers? Haruskah dia berubah menjadi New Yorkers supaya bebas dari kesepiannya?

Well, kalau si Englishman yakin tidak bersalah, menurut gw sih lagu ini sudah menyediakan jalan yang terbaik: It takes a man to suffer ignorance and smile, be yourself no matter what they say.

Yup! You could end up as the only one. (But don’t forget) A gentleman will walk but never run. Confront your enemies; (however) avoid them when you can.

Thursday, December 01, 2005

Mimpi

Kalau menurut primbon2 kuno, yang namanya mimpi itu memang suatu pertanda. Kalau menurut para psikoanalist, mimpi itu memang refleksi dari sesuatu yang tidak disadari. Either way, ada kesepakatan antara yang ilmiah dan tidak ilmiah bahwa mimpi memang bukan sekedar kembangnya tidur yang tidak bermakna (well, tentu tidak semua mimpi punya makna ya :-p)

Gw sendiri kadang terpukau dengan mimpi2 gw. Banyak yg bilang gw percaya tahyul, tapi gw tetap ngerasa gak bisa gitu aja mengesampingkan mimpi.

Mimpi pertama yang gw ingat punya makna terjadi sekitar tahun 1979 - 1980. Waktu itu tante gw sedang hamil anak kedua. Semua orang yakin anak keduanya perempuan, USG pun katanya menunjukkan perempuan. Tapi suatu malam gw mimpi lihat pembantunya tante gw itu menggendong bayi sambil menggandeng anak pertama tante gw. Dua2nya punya tampang yang sama, memakai baju yang sama. Dari situ gw ngeyel bilang bahwa bayi yang akan lahir itu laki2. Dan benar, anak kedua tante gw laki-laki lagi. *ini emang gak penting, tapi gw ceritain krn merupakan ingatan paling dini tentang mimpi gw*

Tahun 1986, pas gw kelas II SMP, gw minta ijin untuk tidur di ruang sakit karena sakit kepala. Dalam tidur gw, gw mimpi melihat peti mati di aula sekolah, dengan setumpuk anggrek ungu di atas tutupnya, dan isinya adalah jenazah eyang kakung. Gelagapan gw bangun dan langsung hilang sakit kepala gw saking takutnya. Besoknya, gw gak masuk sekolah karena malam itu juga gw berangkat ke Solo untuk pemakaman eyang kakung gw. *dalam kenyataannya, akhirnya memang eyang kakung gw dibawa ke pemakaman dgn peti, bukan keranda. Entah waktu itu pertimbangannya apa.*

Mimpi gw yang punya makna paling dalam terjadi tahun 1992. Waktu itu sepupu gw baru aja meninggal karena kanker pankreas. Tahun 1992 tuh gw lagi marah2nya sama Tuhan. Gw lagi sampai ke persimpangan jalan antara percaya dan tidak percaya sama Tuhan. Boro2 baca Al Quran, shalat aja udah lama gw tinggal. Tapi lantas, sekitar 1 – 2 minggu sebelum 40 harian sepupu gw, gw mimpi bertemu dengan dia. Setting-nya adalah rumah sakit tempat dia dirawat, rambutnya masih botak akibat chemotherapy, dan badannya kurus kering dengan perut membuncit. Adegannya hanya satu: dia memberi gw sebuah buku tebal bersampul merah sambil berucap, “Tolong ya, dik, ini dibaca sampai selesai”

Mimpi itu berulang beberapa kali, sampai ada seseorang yang bilang sama gw (gw lupa siapa) bahwa mungkin itu Al Quran. So, mulailah gw membaca Al Quran seperti pinta sepupu gw itu. And you know what? Sehari setelah gw mengkhatamkan Al Quran itu, gw mimpi ketemu sepupu gw lagi! Sekali ini setting-nya di rumah dia. Dia pakai baju kotak2 flanel yang sering banget dipakai kuliah. Badannya udah sehat, rambutnya tebal, dan dia berucap, “Terima kasih ya, dik. Sekarang aku mau pamit pergi jauh”

Sepupu gw gak pernah muncul lagi di mimpi gw. Tapi membaca Al Quran buat dia telah membawa gw kembali menikmati hubungan dengan Tuhan. So, sampai sekarang gw masih merasa bahwa mimpi itu adalah benar2 suatu pertanda dari Yang di Atas.

Mimpi gw yang berkesan lagi terjadi sekitar thn 1995. Waktu itu salah satu senior gw meninggal dunia secara tiba2. Senior gw ini pernah sangat dekat dengan suami gw di tahun2 awal perkuliahan mereka. Tapi karena suatu kesalahpahaman yang berakhir dengan perbedaan pandangan, hubungan mereka menjadi kurang enak. Tepat di malam ke-39 kematiannya, tiba2 gw mimpi senior gw itu datang bertamu ke rumah gw. Senior gw itu berkata, “May, tolong sampaikan ke Japs, gw minta maaf ya. Semuanya salah gw. Gw minta maaf banget. Gw titip Japs ke eloe ya”. Pas gw cerita ke suami gw, dia langsung istighfar berkali2, dan baru kali itulah suami gw cerita tentang duduk permasalahan yang sebenarnya antara mereka berdua. Suatu cerita yang bikin gw berpikir, “Nggak heran Almarhum ngerasa perlu minta maaf walaupun sudah tinggal di alam lain”.

Lama gw gak pernah mimpi yang bermakna. Mungkin hidup gw tambah penuh dosa kali ya, sehingga pertanda pun malas datang menghampiri gw. Atau mungkin gw menjadi terlalu sibuk, sehingga kurang peka terhadap mimpi2 gw.

Gw baru punya mimpi2 yang bermakna lagi setelah bapak meninggal. Pertama, ketika gw lama sekali gak kirim doa buat bapak, tiba2 bapak muncul dalam mimpi gw dengan wajah yang sedih dan tubuh yang kurus. Setelah beberapa hari gw kirim doa, gantian ibu yang mimpi diajak bapak jalan2 ke sebuah tempat yang bersih dan lapang sekali. Waktu itu bapak tersenyum dan sudah kelihatan sangat sehat.

Mimpi terakhir yang gw anggap bermakna adalah beberapa hari sebelum adik gw melamar (calon) istrinya. Waktu itu gw sedang dirawat di rumah sakit karena demam berdarah. Antara sadar gak sadar, gw melihat bapak muncul dan berkata, “Terimakasih ya, Mbak, adikmu sekarang udah jadi orang”.

Well, mungkin semua mimpi gw itu juga hanya merupakan manifestasi dari alam bawah sadar gw. Kerinduan gw akan Tuhan yang gw ingkari mungkin membuat gw bermimpi tentang permintaan sepupu gw. Rasa bersalah gw karena lupa kirim doa ke bapak membuat gw memimpikan bapak yang sedih. Rasa lega gw berhasil menjalankan amanat bapak membuat gw bermimpi didatangi bapak di RS. Tapi mungkin juga memang ada Kuasa Besar yang mengirimkan tanda2 ke gw, agar gw kembali ingat akan apa yang gw lupakan. Mungkin juga itu adalah kebocoran2 gelombang dari parallel reality; yang membuat gw bisa mengintip sejenak ajal eyang gw di beberapa jam kemudian, atau memungkinkan gw untuk berkomunikasi sejenak dengan mereka yang sudah mendahului gw.

Apa pun maknanya, menurut gw dream is worth to listen to. What do you think?

Ohya.. sedikit tentang bagaimana Jung dan Freud menginterpretasikan mimpi dapat diintip di sini:  http://www2.arnes.si/~uljfdv15/library/art06.html