Saturday, December 31, 2005

Random Thought

I love Star Trek! Every episode gives me new perspective towards human problem!
 
Kemarin gw mengalami fierce argument dengan salah seorang (oops, maksud gw: dgn DUA orang teman sekaligus!) tentang Inul. Dua teman gw itu bilang Inul merusak bangsa. Gw, konsisten dgn pandangan gw selama ini, menganggap bahwa kalaupun orang jadi memperkosa setelah lihat Inul bergoyang berarti orang itu gak bisa menahan dirinya sendiri. Yang salah orang itu. Yaaah, persis lah dengan perdebatan sengit gw dengan seorang teman lain tentang foto semi bugilnya Anjasmara, tentang aksinya FPI, dll: menurut gw yang salah adalah yg gak bisa tahan diri. Anjasmara, Inul, dan penjual minuman keras yg dihancurkan FPI itu memang bukan stimulus yg baik, tapi.. kalau ada yg tergoda, itu mutlak adalah kesalahan si individu sendiri. Bukan salah stimulusnya.
 
Nah.. hari ini gw nonton Star Trek Voyager, episode Random Thought. And I'm amazed! Isi ceritanya menggambarkan banget ketakutan gw tentang apa yang terjadi bila kita ngeyel menghilangkan stimulus yang kurang baik, instead of mengajari orang untuk mengontrol dirinya sendiri.
 
Cerita dimulai dgn mendaratnya Voyager di masyarakat Mari. Penduduk Mari adalah para telepath, dan angka kriminal di Mari adalah nol. Mengapa bisa nol? Karena di Mari ada peraturan yang menetapkan bahwa violent thought is forbidden. Siapa pun yg ketahuan memiliki pikiran yg menjurus kekerasan akan ditangkap dan dihapus ingatannya itu. Dengan demikian, hanya pikiran2 baik saja yang beredar secara telepatik di masyarakat itu.
 
Masalah muncul ketika B'Elanna yang berbelanja kebutuhan pesawat gak sengaja ketabrak seorang penduduk Mari. B'Elanna yang ras Klingon (ras barbar yang selalu marah dulu baru mikir) itu otomatis, for splitting second, punya violent thought terhadap si penabraknya. Violent thought itu tertangkap secara telepatik oleh si penabrak. Dan karena ini adalah pikiran baru, dan dia tidak terbiasa mengontrolnya, yang terjadi adalah disaster: si penabrak itu mengadopsi violent thought itu mentah2, dan ketika dia mengalami hal yang mirip dengan B'Elanna (kesenggol orang lain), maka violent thought itu muncul dalam bentuk perilaku nyata yang tidak terkendali. Dia memukuli orang lain hingga babak belur. Parahnya lagi, pikiran ini lantas tertangkap oleh orang lain lagi, yang kemudian membunuh orang ketika barang belanjaannya jatuh.
 
Cerita selanjutnya adalah tentang bagaimana B'Elanna akan ditangkap dan di-brainwash, sementara rekan2 kerjanya keberatan dan berusaha mencari argumen serta bukti baru untuk membebaskannya. Gak usah gw ceritain deh, baca aja sinopsisnya... hehehe... Gw mau nulis tentang moral of the story-nya aja ;-p.
 
Bagian yang paling menarik dari episode ini adalah ketika Tuvok (Chief Security Voyager) mengatakan pada Nimira (Chief Security Mari):
"It seems that outlawing violent thought does not make the needs towards it automatically disappears.
And it seems that you have a more serious problem than having random thoughts of the aliens"
Yang suka nonton Star Trek tentu tahu bahwa Tuvok ini ras Vulcan, sebuah ras yang berhasil mencapai tahap kontrol diri yang masih dianggap tertinggi. Sebagai makhluk biasa, Tuvok juga punya rasa marah, rasa jengkel, violent thought.. tapi karena dia punya kontrol diri yang baik, dia bisa menyimpan pikiran2 dan perasaan2 itu dengan tepat. Dan karena dia belajar untuk menguasai pikiran2 dan perasaan2 itu, maka dia juga gak norak, gak bingung bersikap ketika secara telepatik dia menangkap pikiran/perasaan negatif orang lain (ohya, ras Vulcan itu juga telepatik). Pada saat dia menangkap violent thought B'Elanna (stimulus yang sama persis seperti yg diterima si penabrak yg kemudian menjadi hostile itu), Tuvok bisa menguasainya. So, sebenernya yang bikin bencana bukan pikirannya B'Elanna, tapi ketidakmampuan si penerima pikiran. Dan kenapa si penerima pikiran tidak mampu? Karena tidak diajar untuk mampu! Bottom line: bencana ini lebih disebabkan over-protectiveness pemerintah Mari daripada random thought yang terambil dari alien seperti B'Elanna!
 
Dan gw setuju banget sama omongan Tuvok di atas! Menghilangkan stimulus2 yang kurang baik bukan berarti kebutuhan, curiousity, insting manusia terhadap hal itu hilang. Kalau kita percaya teori Freud, yang namanya instink kebinatangan itu akan akan "selama jantungku masih berdebar". Dan siapa sih, yang bisa membuat hidup kita itu benar2 bersih dari stimulus yang kurang baik? Kita kan gak hidup di laboratorium! Nah.. dengan meniadakan stimulus yang buruk, kita sebenarnya malah membuat diri kita gamang. Akibatnya, begitu ada sedikit saja kontaminasi yang masuk, reaksi kita bisa jadi lebih norak dan lebih inappropriate karena kita tidak pernah diajar untuk menghadapi (dan mengendalikan) reaksi kita.
 
So.. gw tetap bertahan pada prinsip gw sejak jaman purba (dengan kata2 baru berdasarkan film yang baru gw tonton tadi): JADILAH VULCAN, JANGAN MENJADI MARI.
Yup! Dengan demikian resolusi gw untuk tahun 2006 adalah: Belajarlah mengendalikan reaksi terhadap semua stimulus yg kita hadapi, jangan menjadi orang cengeng yang minta agar stimulus2 yang kita terima dibatasi pada yang baik2 saja.
 
*dan kalau kita tergoda oleh stimulus yg kurang baik, maka salahkanlah diri kita sendiri ;-p*
 
SELAMAT TAHUN BARU 2006!