Tuesday, October 31, 2006

Etos Kerja Tahu Sumedang

Seorang teman jaman kuliah dulu, Ucok aka Sahala Harahap, hobby banget makan Tahu Sumedang dengan perbandingan 1:5. Maksudnya, satu potong tahu dimakan dengan 5 buah cabe rawit. Katanya sih dia cuma mencoba menjalankan falsafah hidup orang Indonesia: kalau makan harus sampai keringetan (baca: kepedesan), walaupun kalau kerja nggak boleh sampai keringetan ;-).

Hehehe.. lama banget gw gak ingat joke itu, sampai kemarin di Solo gw benar2 merasakan betapa servis memburuk lantaran kerjanya separuh2. Mungkin, itu bukti bahwa etos kerja mereka yang ogah keringetan ;-).

Di Solo kemarin kami menginap di hotel. Biar Ibu bisa istirahat dan Ima bisa berenang sepuasnya. Kalau menginap di nDalem Serengan, bisa dipastikan Ibu gak akan istirahat. Entah karena ikutan ngerjain persiapan, atau karena ngobrol dan jalan2 sama kakak2nya. Sengaja pilih Hotel Agas yang terletak di tengah kota, biar Ima bisa main di Lapangan Manahan dan kami bisa berbecak ria kemana2. Memang peringkatnya satu di bawah Novotel atau Quality, langganannya kantor gw di Solo, tapi gw pikir servisnya gak akan beda jauh.

Wrong assumption!

Ternyata, biarpun berada dalam tataran yg gak beda jauh, kondisinya jauh berbeda. Hotel Agas cuma punya 1 lift, dan selama 3 hari gw stay di sana, lift itu mati 4x! Alhasil, kami 4x juga terperangkap di lobby atau di kamar lantai 4. Memang sih Hotel Agas punya tangga juga, tapi kondisi Ibu yang pernah operasi tulang kaki nggak memungkinkan naik turun tangga, apalagi 4 lantai.

Satu-dua kali lift mati gw masih sabar. Tapi.. ketika mati lagi untuk ketiga kalinya, sementara hari sudah jam 9 malam, gw tempra juga. Gw minta bicara sama Chief Engineer-nya, minta penjelasan dan kepastian. And you know what? Chief Engineer-nya sudah pulang, walaupun dia tahu tadi lift bermasalah. Ya sudah.. gw minta bicara dengan Duty Manager-nya. Ternyata.. Duty Manager-nya cuti! GM dan Assistant GM-nya pun cuti juga! Yang tertinggal hanya F&B Manager.. yang waktu gw mintai solusi gak bisa kasih jawaban memuaskan.

*Nggak bisa disalahin juga sih.. F&B Manager kan nggak ngerti urusan lift ;-)*

Dengan susah payah, gw bisa juga menghubungi Assistant GM yang sedang vakansi ke Semarang. Ibu ini orangnya nice sekali, berkali2 minta maaf, dan mengatakan bahwa kejadian seperti ini memang sering terjadi ketika peak season, dan beban lift menjadi berat. Malah tahun lalu, saat lebaran, lift-nya mati total selama seminggu.

Nah! Alasan yang gini bikin gw tempra ;-). Kalau lift-nya selalu bermasalah saat beban berat, berarti ada yang harus diperbaiki atau malah diganti dari lift itu. Lha, kok nggak belajar dari pengalaman? Kok masih juga setahun berikutnya pengalaman berulang?

OK, mungkin hotelnya nggak punya duit untuk beli baru atau memperbaiki. Gw ngerti sih, dalam keadaan ekonomi yang belum bagus gini, mungkin sulit untuk melakukan maintenance. Tapi.. kalau sudah tahu ada potential problem kayak gini, lha, kok, semua key person-nya malah pergi berlibur?

Gw ngerti sih, ini hari Lebaran. Hotel Agas itu local chain, sehingga kemungkinan besar banyak key personnya yang muslim dan ingin berlebaran pula. Tapiii.. ini juga peak season di bisnis mereka. Dengan potential problem yang udah ada, sungguh tidak bijak kalau semua orang pergi. Harus ada yang bisa bertanggung jawab. Harus ada yang mau tinggal untuk memastikan semuanya OK. Harus ada yang mau kerja sampai keringetan.. ;-).

Nggak bisa dong.. mau dapat untung banyak karena peak season, tapi juga mau dapat liburan yang gak terganggu. Di peak season ini kan mereka charge kamar hotel lebih tinggi, mosok dikasih servis yang lebih rendah?

Gw pikir kejadian di Agas itu udah paling parah. Ternyata.. pas mau pulang, ada kejadian yang juga acak-adul. Lagi2 karena etos kerja yang ogah kerja keras itu ;-).

Gw check-in di Bandara Adi Sutjipto Yogyakarta hampir 1.5 jam sebelum waktu boarding, hampir 2 jam sebelum waktu keberangkatan. Plenty of time banget dong, untuk dapat tempat duduk yang enak? Seperti biasa, gw minta tempat duduk di bagian sayap atau ekor. Gw pernah baca bahwa ini adalah bagian2 yang paling aman kalau ada kecelakaan. Tapi apa kata petugasnya?
Maaf, Bu, tempat duduk yang bertiga sudah habis. Ibu Maya dan putrinya bisa duduk bersama di 16e dan 16f, tapi yang satu lagi terpaksa pisah tempat di 5e.
OK, duduk terpisahnya sih gak papa. Gw malah senang bisa baca buku kalau duduk sendiri. Tapi.. seumur2, belum pernah gw kehabisan tempat duduk 2 jam sebelum keberangkatan!

Usut punya usut, ternyata banyak orang yang sudah check in 1 hari sebelumnya. Garuda memberlakukan kebijakan baru bahwa orang boleh check in 24 jam sebelumnya. Bahkan sudah boleh nge-tack tempat pada saat tiket di-issued. Kebijakan ini diberlakukan karena seringkali ada serombongan penumpang yang memesan tiketnya di tempat yang berbeda (misalnya karena travel agent-nya hanya punya sedikit tiket), sehingga ketika check in mereka harus duduk terpisah. Jadi.. untuk menghindari yang seperti ini, Garuda memperbolehkan check in 24 jam sebelumnya, atau pesan tempat sekalian saat pesan tiket.

Well.. gw gak tahu peraturan internasional penerbangan gimana bunyinya. Tapi.. menurut gw, kebijakan barunya Garuda ini konyol abis! Booking, ticket issued/re-confirm, dan check in itu harusnya merupakan tahapan berbeda. Booking itu baru pesan tempat. Tingkat kepastiannya paling rendah. Re-confirm/issued itu memastikan niat berangkat. Tingkat kepastiannya tinggi, tapi masih ada kemungkinan tidak jadi berangkat. Check in itu kalau sudah mutlak pasti berangkat; artinya bisa mencapai bandara tepat pada waktu yang ditentukan dan bisa berangkat sesuai jam. Makanya check in itu ada batas waktunya, dan batas waktunya tidak sebentar sebelum pesawat tinggal landas. So, harusnya, check in memang tidak 24 jam sebelumnya.

Kalau di pesawat terbang diberlakukan juga sistem pesan tempat duduk saat booking/issued/re-confirm, ya sekarang dihapus aja aturan harus check in sekian jam sebelum boarding. Biarin aja penumpang datang 2 menit sebelum pesawat tinggal landas, kayak kalau mau naik kereta api. Toh, sistem pemesanan tiketnya sudah sama kayak kereta api ;-)?

Dan.. sungguh lucu kalau alasan kebijakan ini adalah supaya orang2 yang pesan tiketnya dari tempat yang berbeda tidak harus duduk terpisah. Stupid reason ;-). Kalau orang2 itu pesan tiket dari tempat berbeda, tapi check in 2 jam sebelum pesawat berangkat, tentu mereka masih bisa duduk di tempat yang sama. Kalau mereka masih tetap duduk terpisah, berarti mereka datang terlambat kan? Nah.. kok malah sistemnya diubah supaya orang lebih nyaman datang terlambat, dan mengorbankan orang2 yang datang tepat waktu seperti gw ;-)?

Alasan dari ground crew di Yogya kemarin: biasanya ground crew sudah menentukan tempat duduk sebelum penumpang check in, jadi lebih mudah kalau penumpang sudah pesan tempat duduknya sekalian mau duduk sama siapa. Well, lady, that is your problem, not mine ;-). Kalian punya sistem check in 2 jam sebelum take off, so.. just be professional. Siapa yang datang duluan, bisa duduk bareng rombongannya. Siapa yang datang belakangan, resikonya dapat tempat duduk sisa. Nggak usah diatur lebih awal. Gitu aja kok repot ;-).

Kalau mau mengatur sejak awal, ya silakan saja. Tapi siaplah untuk mengubah komposisi kalau ternyata ada orang2 yang datang berombongan dengan tiket yang dipesan terpisah. Memang begitu kok yang namanya kerja; kalau mau memberikan servis yang terbaik, memang harus siap keringetan ;-) Yang penting konsumen harus puas dengan cara yang seefektif mungkin. Bukan bikin kerjaan kita gampang, gak perduli konsumen susah ;-).

Tapi memang mungkin gw yang hidup di tempat yang salah ya? Harapan gw biar orang pada kerja keras itu ketinggian ya? Mungkin Ucok benar; manusia Indonesia itu gak mau kerja susah-susah.. hehehe.. Buktinya, di tingkat pemerintah pun kejadiannya masih sama. Nggak mau susah2 mikir pangkal masalahnya apa dan solusinya yang tepat gimana. Pokoknya bikin kebijakan aja, tanpa memikirkan bahwa kebijakan itu mungkin menimbulkan masalah baru, dan mungkin nggak menyelesaikan masalah lama. Contohnya: mau memberantas korupsi, bukannya menyelidiki dan mengganyang koruptor, tapi malah melarang pejabat menerima parsel. Halah! Parsel semahal2nya berapa sih? Ada gitu, yang mau nyogok pejabat pakai parsel doang? Bisa2 parsel gak boleh diterima, tapi mobil dan rumah diterima ;-)

Friday, October 27, 2006

Second Chance

There is always a time in our life when we wonder about the paralel reality. About what will have happened if we acted differently. Then we will start wishing for the second chance; the additional hour, minute, or second, to make a small-but-significant turn of action to fix the reality.

Our wish of second chance will never be granted. There is no time tunnel. But one day, when we start accepting the reality we cannot change, history repeats itself. Everything is at par, except one significant detail; the detail we ever wonder to change. Give us the second chance to redeem ourselves, although it will not be able to wipe out the previous mistake we made.

Do not waste your time wishing to change what have already happened. But keep believing that life will always give us that second chance. In a different way.

Contemplated on the 2nd day of Eid
Upon a visit to MMC Hospital

PS: Kindly keep this particular post clean. Any out-of-topic comment, kindly send it directly to mayanoto@gmail.com

Friday, October 20, 2006

Book Eulogy

Hari-hari terakhir menjelang libur Lebaran, gw mulai sibuk pesan stok bacaan di Limma Library. Dua minggu di rumah dengan dua komputer yang sama2 impoten (PC di rumah motherboard-nya tamat, sementara notebook kantor.. ah, sudahlah, capek ngomonginnya ;-)), gw bisa mati bosan kalau nggak ada hiburan. Kalau televisi sih gak gw itung hiburan ya, secara acaranya dari channel ke channel sama2 aja, dan sama nggak menariknya.

Well.. emang sih, gw masih punya stok CSI: Miami season 2 dan 3 yang belum sepenuhnya terjamah. Tapi apa gak bosen melototin crime scene melulu? Lagipula, serial yang ini menurut gw kurang seru! Horatio Caine & the gank gak se-scientific Gil Grissom et al! Latar belakang mereka memang beda sih ya. Tim-nya Grissom tuh isinya scientist semua, jadinya penuh dengan inovasi2 dan pengetahuan2 individual yang mengejutkan. Sementara tim-nya Horatio tuh detektif semua. Hobinya bekerja secara tim, tidak ada individu yang menonjol, dan hasil kerjanya lebih prosedural daripada inovatif.

Sorry, ngelantur.. hehehe.. Balik ke topik deh!

Setelah nge-klik sana-sini, gw memesan beberapa buku. Konfirmasi pemesanan otomatis via email baru saja gw terima ketika telfon berdering:

Ibu Maya, tadi barusan pesan buku ya? Waduh, sebelumnya kami mohon maaf sekali, Bu. Keputusan baru dari pihak manajemen bahwa mulai November 2006 divisi rental di Limma ditutup. Kebetulan sudah mau libur lebaran, jadi sejak Senin lalu kami sudah tidak terima pemesanan buku lagi.
Usut punya usut, ternyata Limma memutuskan kembali ke khitah: hanya menjadi toko buku, tidak lagi melayani penyewaan. Memang, divisi penyewaan baru dibentuk tahun 1998, ketika krismon menyebabkan orang2 bergaji rupiah ogah beli buku import lagi.

Tentang kenapa Limma kembali ke sistem lama, petugasnya juga tutup mulut. Gw cuma bisa menduga2 aja. Mungkin penyewaan buku dianggap kurang menguntungkan; perlu tempat luas untuk menyimpan koleksi, koleksinya harus lengkap, sementara tidak semua buku akan sering dipinjam. Mungkin memang lebih menguntungkan jualan buku, apalagi kalau sistemnya seperti JuraganBuku yang jadi mirror-place-of-selling Amazon.

Yang jelas sih.. penutupan Limma Library ini menambah panjang daftar kesulitan gw mencari bahan bacaan dalam bahasa non-Indonesia; setelah Times tutup sehingga gw gak bisa beli Der Spiegel, Newsstand Pasar Festival berhenti menjual Readers Digest (yang bahasa Inggris untuk wilayah Asia), lalu QB Bookshop yang tutup satu per satu. Sekarang.. kalau mau baca buku import, gw mesti merogoh kantong lebih dalam lagi.. hehehe.. Harga jual novel2 import 4-5x harga sewa di Limma, euy!

Masih mikir2 juga untuk ke depannya, worth gak ya, beli novel? Atau mesti menyerah dan berkompromi baca buku terjemahan? Itu masalah besar buat gw! Dari dulu gw gak doyan baca terjemahan! Seperti Umberto Eco pernah berkata: setiap kata yang dipilih oleh si penulis menggambarkan nuansa emosi tersendiri, yang seringkali tidak terpindahkan dengan baik dalam suatu terjemahan, walaupun kata yang digunakan untuk menterjemahkan itu akurat. Yup! Menterjemahkan sesuatu itu bukan melulu masalah akurasi pemilihan kata, melainkan mentransfer perasaan dan subtleties lainnya.

Sayang ya.. satu per satu toko buku tutup? Padahal Albert Camus pernah berkata: the true university of these days is a collection of books. Menutup satu toko buku, sama dengan menghancurkan sebuah tempat belajar. Sekarang toko buku import hanya ada di kisaran Jakarta Selatan: Senayan, Kemang, Cilandak. Jadi mikir.. apakah hanya orang2 di sana yang boleh dapat first hand information dalam bentuk buku yang belum diterjemahkan ;-)?

Hhh.. People say that life is the thing, but I prefer reading, kata Logan Pearsall Smith. Rasanya memang begitu. Agak susah buat gw untuk hidup tanpa bacaan ;-) Tapi ya sudahlah.. memang nasib gw hidup di tengah masyarakat [tidak] gemar membaca ;-) Atau di tengah masyarakat gemar membaca yang tidak punya dana ya? Hehehe..

Sebagai pelipur lara, Limma Library memperbolehkan gw mengambil 6 buah buku dari koleksi penyewaannya. Gw ambil 6 novel, karena kalau buku referensi non-fiksi sih gw masih lumayan rela untuk beli (dan didahului nabung pastinya.. hehehe..). Walaupun gak tahu juga apakah gw tega baca ke-6 novel itu, lantaran setiap kali lihat novel2 itu, gw akan selalu teringat: ini adalah novel2 terakhir yang bisa gw dapat dari Limma ;-)

Well, karena hari ini adalah hari terakhir masuk kantor (baca: punya akses internet tanpa harus ke warnet), gw mau mengucapkan:




SELAMAT IDUL FITRI
Mohon maaf segala kesalahan yang pastinya tidak disengaja

*kalau gw cukup tega untuk membuat kesalahan dengan sengaja, mosok sih sekarang gw have a sudden change of heart dan minta maaf ;-)?*

Tuesday, October 17, 2006

Celebration of Diversity

What is the meaning of differences? It is nothing but celebration of diversity
(Dr Phlox in Star Trek: Enterprise)

***

Tadi pagi, masuk sebuah email ke inbox gw. Dari salah satu sorority sister di Panekuksanur, tentang surat terbuka untuk Paus:

Gue termasuk yang sangat prihatin ketika kemarin ada ketegangan akibat pidato Paus yang menimbulkan reaksi yang agresif di sebagian komunitas muslim. Tapi, gue nggak punya suara untuk menunjukkan pada dunia, dan pada komunitas Katolik khususnya, bahwa "there is another Muslim" yang bisa menerima perbedaan pendapat dan bisa berdiskusi intelektual secara terbuka dan elegan. Hari ini, gue merasa gue terwakili dengan baik oleh surat terbuka yang ditandatangani oleh 38 top muslim clerics dari seluruh dunia.

Penutup pada halaman empat surat itu sungguh menyentuh, i.e. iterasi Konsili Vatikan II, betapa kita memiliki persamaan. We should focus on our shared values rather than bicker about our differences.

Well.. gw setuju 100% dengan esensi email di atas: jangan sampai kita terpecah karena perbedaan, karena pada dasarnya kita memiliki kesamaan. Tapi mungkin gw gak begitu setuju sama kalimat we should focus on our shared values rather than bickering about our differences. Atau.. mungkin.. tepatnya gw gak setuju sama kata sambung rather than di situ.. hehehe.. Menurut gw, kata sambung yang tepat adalah while ;-). We should focus on our shared values while arguing about our differences ;-)

*oh, well, mungkin kata bickering juga sebaiknya diganti jadi arguing. Baru kepikir setelah bikin kalimat di atas ;-)*

.. perbedaan itu harus dibuka, dibicarakan, kalau perlu diperdebatkan, untuk mendapatkan keharmonisan ..

Hehehe.. menurut gw, yang penting bukan menafikan, menyembunyikan perbedaan, demi menjaga keharmonisan. Menurut gw, justru perbedaan itu harus dibuka, dibicarakan, kalau perlu diperdebatkan, untuk mendapatkan keharmonisan. Kalau kita terus menerus menyembunyikan perbedaan, maka yg didapat bukanlah keharmonisan. Hanya keharmonisan semu; karena kita tetap tidak bisa mengerti orang lain. Kita hanya menjaga supaya secara kasat mata kita selaras, namun di bawah sadar tetap menggugat kenapa orang2 itu berbeda dengan kita; kenapa orang2 itu harus begitu, tidak begini seperti kita.

Perbedaan itu seperti magma di dalam gunung berapi. Memang sudah aturan alam bahwa gunung berapi harus meletus dari waktu

..Kita hanya menjaga supaya secara kasat mata kita selaras, namun di bawah sadar tetap menggugat kenapa orang2 itu berbeda dengan kita..

ke waktu, jadi jangan membohongi diri bahwa kalau magmanya nggak kelihatan maka gunung itu tidak akan pernah meledak. Apalagi kalau kawahnya berupa danau kawah ;-) Itu justru yang ledakannya akan paling berbahaya. Jalan terbaik untuk mengurangi bahaya ledakannya justru dengan mengurangi air danau kawah tersebut. Seperti di Gunung Kelud; ada terowongan2 air yang gunanya mengurangi air danau. Dengan demikian, kalau tiba2 gunung meletus, bahayanya dapat dikurangi. Bukan malah menimbuni kawahnya dengan air, make believe bahwa danau itu adalah tempat rekreasi yang aman, yang selaras.. lupa bahwa di dasarnya ada magma menggelegak ;-).

Menurut gw, kebiasaan masyarakat untuk meredam konflik adalah kebiasaan yang tidak sehat. Lazimnya orang memilih diam daripada beradu argumentasi. Berdebat dianggap sebagai kebiasaan buruk yang mengganggu keselarasan. Lha, kapan akan saling mengertinya kalau masing2 menyimpan pikirannya sendiri ;-)? Memangnya kita spesies yang bisa telepati, bisa membaca isi pikiran orang ;-)? Banyak orang berlindung di balik rasionalitas bahwa sudut pandang orang memang beda2 dan tidak disamakan. Lha.. emang siapa bilang kalau berdebat itu tujuannya melulu untuk menyamakan pendapat? Berdebat kan bukan sinonim dari musyawarah/mufakat ;-).

Aturan bermasyarakat (baik yang formal maupun non-formal) seharusnya tidak mengharamkan menunjukkan perbedaan. Aturan bermasyarakat harusnya cuma memberi koridor pada cara menunjukkan perbedaan. Kalau pakai analogi gunung api tadi, aturan bermasyarakat seharusnya tidak menuang air di atas kawah untuk menjadikannya danau, tapi justru membuat katup-katup yang mengurangi volume air di danau kawah.

Kita tidak perlu menutupi perbedaan.. karena perbedaan hanyalah sebuah perayaan atas keberagaman ;-). Yang namanya perayaan nggak perlu ditutup2i toh? Nggak perlu malu diakui toh? Hehehe.. Yang penting adalah tetap menjaga agar perayaan itu tidak keluar jalur, sehingga tidak ada pihak yg merasa disakiti.

Dan bagaimana kita menjaga agar perayaan itu tidak keluar jalur? Yaitu dengan tetap fokus pada kesadaran bahwa kita memiliki kesamaan bahkan ketika kita sedang saling menyampaikan perbedaan kita ;-).

Belibet yaks? Hehehe..

Ngomong2.. soal surat terbuka untuk Paus itu bisa dibaca di sini. Baca deh! Benar2 sebuah cara menunjukkan perbedaan secara elegan! Memberi penjelasan pada yang tidak mengerti, bukan sekedar ngamuk tanpa memastikan apakah orang yg diamuk itu ngerti atau enggak.. hehehe.. Membalas gaya akademisnya Paus dengan argumentasi yang tak kalah akademisnya. Dan yang penting: menjadi akademis dan logis tanpa mengorbankan perasaan orang lain ;-). Salut!

UPDATE 18 Oktober 2006:

Ohya, biar fair, gw kasih link ke Pidato Paus juga ya! Biar yang belum baca juga ngerti konteksnya dan bisa beropini sendiri ;-). Klik di sini deh!

Yang ini OOT: buat tante2 dan oom yang nanyain karangannya Ima.. uhmm.. kemarin Ima baru nulis lagi di sini. Doain ibu-bapak cepat bisa beli motherboard baru, biar Ima bisa ngetik2 cerita lagi ;-)

Friday, October 13, 2006

Meringankan Beban

Seperti tahun2 lalu, kami berencana pulang ke Solo hari ketiga di bulan Syawal. Kumpul2 dengan keluarga besar, sekalian menjenguk makam Bapak dan Eyang.

*KAMI merupakan kata ganti orang pertama jamak untuk gw, Ima, dan Ibu. Bapaknyaima tidak ikut karena dia penganut chaos theory; dia takut kalau jadwal kerjanya menyimpang dari garis linear dengan pergi berlibur, maka akan timbul kekacauan di seantero jagad raya ;-) Oops.. gw dijitak nih sama bapaknyaima ;-)*

Tiket pesawat sudah dipesan jauh2 hari. Lha.. kok tiba2, kemarin Ibu mendadak telfon:

Mbak, apa tiket pesawatnya yang buat Ibu dibatalin aja ya? Mbak kalau berangkat sendiri sama Ima naik pesawat, bisa kan?

Huh? What the..?

Soalnya Adek juga mau ke Solo. Nyetir sendiri. Apa mending Ibu nemenin mereka aja ya, naik mobil?

Gw mati ucap deh!

Iya sih, gw tahu banget bahwa maksudnya Ibu baik. Nggak tega sama anak kesayangannya harus bersusah payah nyetir sekian jam Jakarta-Solo lewat pantura yang entah kondisinya seperti apa, sementara beliau naik pesawat. Ibu ingin senasib sepenanggungan dengan putra tercinta. Tapi.. ide menemani adik gw naik mobil itu bener2 absurd ;-).

Pertama, kondisi Ibu tuh sudah tidak sebaik dulu. Ibu prone to DVT. Dua tahun lalu, naik Argo Lawu yang cuma 7 jam aja, sampai Solo kaki Ibu bengkak2. Apalagi kalau naik mobil adik gw yang mungil, dimana kaki beliau pasti harus tertekuk sepanjang jalan, melintasi jalan yang [pastinya] macet abis menjelang lebaran, dan entah makan waktu berapa jam perjalanan! Bisa2 malah adik gw panik sepanjang jalan karena Ibu sakit.

Yang kedua, emangnya adik gw pingin ditemani ibunya? Kalaupun adik gw pingin, emangnya istrinya pingin mertuanya ikutan? Hehehe.. Siapa tahu mereka berdua mau manten2an sepanjang perjalanan? Namanya juga pengantin baru *eh.. udah 2 tahun sih, tapi kalau blum punya bayi, itungannya masih pengantin baru kan ;-)?* Nah.. kalau ada Ibu, apa malah adik dan adik ipar gw gak merasa terganggu?

***

Beberapa bulan lalu, istri seorang teman di komunitas virtual kami terdeteksi menderita terminal illness saat sedang check-up di negeri jiran. Oleh karenanya, sang teman musti buru2 berangkat ke sana. Kebanyakan anggota komunitas virtual kami sudah mengirimkan surat elektronik berisi doa dan simpati untuk si teman, tapi tiba2 saja ada salah seorang yang berinisiatif lebih jauh: bikin gathering sebelum si teman ini berangkat menengok istrinya.

Well.. gw juga tahu bahwa sang inisiator pertemuan ini bermaksud baik. A friend is a friend, nggak perduli kenal sejak jaman main tak jongkok atau cuma secara virtual aja tanpa pernah ketemuan. Kalau ada teman yang kesusahan, maka sebaiknya dijenguk. Menunjukkan simpati secara langsung.

Tapi.. yang namanya takziah itu menurut gw sih beda dengan gathering. Takziyah (=menunjukkan simpati dan menyabarkan orang yang tertimpa kemalangan) memang lazimnya dilakukan dengan mengunjungi orang tersebut. Tapi tidak harus mengunjungi. Dan rasanya malah aneh kalau kita niatnya takziyah, tapi dengan mengundang orang yang tertimpa kemalangan itu ke acara gathering. Mosok niatnya takziyah, tapi nyusahin orang yang sudah tertimpa kemalangan itu untuk datang ke suatu tempat/acara yang [tentunya] akan penuh dengan kesenangan juga?

Menurut gw sih intinya takziyah itu agar teman yang sedang dirundung malang bisa punya teman berbagi, bisa mengeluarkan uneg2 dan perasaan sedih, sehingga tekanannya berkurang. Lha.. kalau yang ngajak ketemu adalah orang2 yang belum pernah ketemu sama dia, belum akrab, apa fungsi ini bisa terlaksana? Jangan2 malah menambah tekanan baru, karena harus menjaga perilaku di depan teman2 yang baru dikenal.

***

Satu kisah lagi menyangkut keluarga yang ditinggalkan almh. Inong Haris. Baca blognya, banyaaak banget yang minta suami almarhumah untuk meneruskan kebiasaan Inong menulis. Kangen Zidan Syifa, pingin tahu kabar mereka, demikian seruan para penggemar BundaZidanSyifa. Sampai akhirnya tercipta blog AyahZidanSyifa.

Well.. gw juga yakin bahwa seruan2 itu ditulis oleh orang2 yg peduli pada keluarga almarhumah. Ingin agar keluarga almarhumah cepat bangkit, nggak larut dalam kesedihan. Tapi.. dengan seruan yang bertubi2, bisa jadi malah membebani mereka. Membuat mereka merasa diburu2 melakukan sesuatu yang belum tentu mereka senangi. Membebani mereka untuk menjadi pengganti Inong. Setidaknya merasa berada di bawah mikroskop dengan seluruh mata tertuju pada mereka. Padahal, tidak semua orang senang menjadi pusat perhatian.

Ada salah satu pengunjung blog Inong yang meninggalkan pesan di oggix-nya: menyerukan agar penggemar Inong tidak memburu2 keluarga dengan kabar Zidan & Syifa, karena keluarga itu masih berduka dan butuh waktu untuk menata hidup kembali. Menurut gw seruan ini masuk akal. Sayangnya, beberapa orang malah menganggap seruan itu provokasi yang tidak bagus untuk para teman2 BundaZidanSyifa.

*Eh, BTW, klarifikasi sebelum dituduh: yang nulis pesan itu bukan gw lho! Cek aja IP Address-nya kalo gak percaya, bandingin sama komen gw di tempat yg sama.. HAHAHAHA.. *

***

Dari tiga potongan kisah di atas, sebenernya yang mau gw sampaikan cuma satu: tanpa sengaja, kadang, kita malah bikin beban orang tambah berat, walaupun maksud kita baik. Ibu yang pingin nemenin adik gw, mungkin end up bikin adik & adik ipar gw terganggu privacy-nya. Inisiator gathering yang niatnya mau meringankan kesedihan temannya, bisa2 malah bikin si teman tambah susah; udah istri sakit, pikiran lagi kalut, eeh.. malah harus menyempat2kan diri datang ke suatu tempat pulang kantor dan terlibat pembicaraan ngalor-ngidul dengan orang2 yang baru ditemuinya [secara nyata] untuk pertama kali. Teman2 Inong yang ingin menyemangati, mungkin malah membuat keluarga itu terbebani.

Well.. memang kalau kita mau meringankan beban orang, sebaiknya kita mulai dengan melihat apa yang dibutuhkan oleh orang itu. Dengan ber-empati pada mereka. Jangan mulai dengan simpati, karena kalau sudah simpati, maka yang masuk adalah perasaan pribadi kita. Kita akan melakukan tindakan yang membuat perasaan kita lebih enak, bukan tindakan yang membuat beban mereka berkurang. Tanpa sadar, kita mengurangi beban kita sendiri, tapi malah membuat beban orang [yang ingin kita kurangi bebannya] menjadi lebih berat.

Yaah.. gw bisa ngomong gini, karena pada dasarnya gw juga lebih gampang bersimpati daripada berempati. Kayak Ibu.. hehehe.. What can I say? I am her daughter, kan? I inherit her genes.. HAHAHAHA.. Untungnya gw dikitari orang2 yang bisa ngasih second opinion, bisa ngingetin gw kalau simpati udah keluar. So.. you better find those who can give you second opinion too .. ;)

Tuesday, October 10, 2006

Finding Muse

Gw lama nggak ng-update blog. Ide sih ada, tapi emotional push-nya gak ada ;-)

***

Jumat lalu gw main ke blognya seorang teman lama, baca tulisannya (yang sebenarnya di-ripped dari tulisan teman lama yang lain) berjudul About Depressed Mode. Dia membahas tentang hypergraphia, dorongan tak tertahankan untuk menulis terus dan terus yang dialami oleh Alice Flaherty, seorang neurolog di Harvard Medical School.

Menganalisa pengalamannya sendiri, Jeng Alice membahas penyebab munculnya kondisi ini dalam bukunya yang berjudul The Midnight Disease. Bahasannya menarik, jadi langsung buku ini masuk daftar must-read gw ;-) Walaupun bahasan awalnya adalah untuk menjelaskan tentang perilaku menulis yang kompulsif, penjelasannya bisa juga diterapkan dalam kasus normal.

Menurut Flaherty, sebenarnya dorongan untuk menulis, maupun kemunculan ide untuk menulis, adalah suatu mekanisme wajar dari aktivitas sistem syaraf otak kita. Saat mengalami emosi tertentu, sistem limbik (sekumpulan sel di tengah otak yang berfungsi sebagai pusat emosi) akan mengaktifkan lobus temporalis, yaitu bagian otak samping yang berhubungan dengan pemahaman kata2 dan pemunculan ide2 (baca: bagian otak yang ngurusin masalah kreativitas).

Dengan kata lain, sebenernya ide2 dan segala kreativitas itu sudah ngendon di kepala kita sejak God knows when. Tapi.. ide2 itu baru bisa muncul menjadi sebuah kreativitas, kalau ada emotional push dari sistem limbik.

Buat gw, hal ini menjelaskan beberapa hal yang selama ini gw gak ngeh. Misalnya aja, kenapa kalau workload gw di kantor lagi banyak, gw malah kalap ng-update blog melulu; sementara kalau workload mulai ringan seperti menjelang lebaran ini, malah gw nggak terlalu berapi2 nulis. Dulu, gw kira, menulis itu sekedar coping mechanism, atau malah pola menghindar, terhadap stres pekerjaan. Ternyata.. bukan ;-). Menulis itu adalah hasil dari tekanan pekerjaan, hehehe..

Ini menjelaskan juga kenapa kadang2 report gw baru bisa rapi 3 hari menjelang presentasi, padahal gw memulainya sejak 2 minggu sebelumnya ;-). Gak berniat prokrastinasi, tapi ternyata memang emotional push-nya belum ada.

Penjelasan ini juga bikin makin jelas kenapa karya2nya Glenn Fredly waktu putus cinta bagus2.. hehehe.. atau kenapa ada orang2 yang mendadak bisa jadi pujangga kalau lagi jatuh cinta ;-).

Nah.. itu tadi sisi menyenangkan dari temuan Jeng Alice. Sisi kurang menyenangkannya: lonjakan emosi yang terlalu ekstrim bisa menimbulkan hasil yang ekstrim juga, yaitu dorongan tak tertahankan untuk menulis secara kompulsif. Yup! Kata Jeng Alice, hypergraphia disebabkan oleh epilepsi lobus temporalis, keadaan mania, dan mood disorders lainnya. Dan Jeng Alice punya contoh2 penulis besar yang mengalami hal ini: Fyodor Dostoyevsky menghasilkan karya2nya setelah serangan epilepsi yang membawa ecstatic religious aura, Sylvia Plath menuliskan puisi2 indah justru saat mengalami pre-menstrual syndrome yang parah, atau Vincent Van Gogh yang karya2 indahnya justru tercipta lantaran dia mengalami gangguan jiwa.

Ohya, hypergraphia tidak melulu menghasilkan sebentuk tulisan. Bisa jadi sebuah gambar. Intinya, menghasilkan sebuah bentuk komunikasi tertulis, karena prosesnya adalah seperti berikut ini:
And the likely reason that the temporal lobe can trigger hypergraphia is that the limbic system, which has a big role in our affiliative instincts [our desire to be in contact with family and friends] produces a drive to communicate that in turn drives the speech area of the temporal lobe
Nah lho! Jadi, produktif menulis bisa berarti gejala brain defect dong, walaupun kategorinya the valuable result from a brain defect? Hehehe.. Jadi ngeri kalau keseringan ng-update. Dan jadi bersyukur kalau masih bisa kena blokiran penulis ;-)

Anyway.. pernah dengar ungkapan Wait for the Muse? Ungkapan itu artinya adalah mencari inspirasi. Dalam legenda Yunani, Muse adalah sembilan orang dewi, putri Zeus, yang tugasnya memberi inspirasi bagi manusia dalam menghasilkan karya2 seni. Gara2 baca tentang temuannya Alice Flaherty, gw jadi tahu bahwa Muse itu ternyata telah bersemayam di lobus temporalis kita; yaitu bagian dari otak samping yg kira2 ada di belakang telinga manusia.

Gw jadi mikir.. jangan2 dulu Van Gogh memotong telinganya karena pingin mengeluarkan si Muse dari lobus temporalis-nya; supaya dia tidak kelebihan inspirasi dan tidak kena gangguan jiwa lagi.. HAHAHAHA..

*maafkan ide2 bizarre saya ini, kayaknya saya mulai ketularan Van Gogh ;-)*

UPDATE 11 Oktober:

Waktu baca tulisan ini lagi, kok gw jadi berasa baca diktat kuliah Faal ya? HAHAHAHA.. Biar tambah menjiwai nostalgia, niih gw kasih ilustrasi gambar sekalian ;-) Gambarnya minjem dari Wiki.

Thursday, October 05, 2006

Batas yang Terlampaui

Tadi pagi ceramahnya Pak Quraish di MetroTV adalah tentang qishash. Tentang hak korban untuk membalas, menuntut ganti an eye for an eye. Terutama dalam kasus pembunuhan.

Ada bagian yang menurut gw menarik. Kalimat verbatimnya gw lupa, tapi kebetulan di artikel ini ada bahasan yang kurang lebih sama dan bisa gw kutip:

Al-Qur'an menetapkan adanya qishash bagi pembunuh. Tetapi, saat menetapkannya --seperti terbaca di atas-- Dia tidak mewajibkannya, melainkan diserahkan kepada keluarga si terbunuh untuk menetapkan pilihan mereka terhadap si pembunuh, baik "menuntut dari penguasa untuk membunuhnya" maupun memaafkannya dengan imbalan materi dari keluarga pembunuh.

Dan kalau ia memilih yang terakhir [menuntut qishash], maka lanjutan pesan ayat di atas adalah: Janganlah ia (ahli waris) melampaui batas dalam membunuh

Mendengar ceramah beliau, gw jadi ingat almarhum Tibo, Riwu, dan da Silva. Sayang sekali yang berwenang tidak sempat mendengarkan ceramah Pak Quraish ini sebelum mengeksekusi ketiga terdakwa.

Gw termasuk orang yang nggak anti hukuman mati. Gw setuju dengan bahasan Pak Quraish di artikel tadi; hukuman mati bisa jadi pembelajaran bagi orang lain supaya tidak melakukan pelanggaran yang sama. Tapi.. seperti di artikel itu, gw juga hanya setuju jika hukuman mati tidak dilakukan sewenang2. Dan tidak melampaui batas dalam melaksanakan hukuman mati tersebut.

Hukuman mati tidak boleh sewenang2, dalam arti: semua bukti harus jelas dan tidak terbantah lagi. Jangan sampai kita menghukum mati orang yang tidak bersalah, atau tidak sepenuhnya bersalah. Itulah kewajiban penguasa (dalam hal ini lembaga peradilan): untuk memastikan bahwa keputusannya adil dan tepat.

Hukuman mati juga tidak boleh melampaui batas. Jangan sampai menyiksa si terhukum. Jangan sampai membuatnya meregang nyawa dan merasa kesakitan yang lama. Hukuman mati, walaupun menghilangkan nyawa orang lain yang diyakini pernah melakukan kekejaman pada manusia lainnya juga, tetap harus dilakukan dengan peri kemanusiaan.

Membaca eksekusi Tibo dkk beberapa hari lalu, gw khawatir hukuman mati ini telah melanggar dua hal penting di atas; kematian tanpa kesewenang2an dan tanpa melampaui batas. Eksekusi ini tak hanya dilakukan saat bukti masih simpang siur, tapi tatacara pelaksanaannya pun menimbulkan pertanyaan tersendiri. Lima luka peluru di dada.. bukankah itu sebuah penyiksaan? Semasa masih aktif menjadi pengacara pidana dahulu, Bapak pernah bercerita bahwa seyogyanya tidak satu pun anggota regu tembak yang tahu satu senapan mana yang benar2 berisi peluru. Dengan demikian semua anggota regu tembak akan dengan sungguh2 mengarahkan senapannya pada jantung si terhukum. Tidak satu pun anggota regu yang tahu siapa di antara mereka yang telah menjadi algojo sesungguhnya.

Lima peluru di dada menunjukkan bahwa terhukum tak lebih dari sekedar sasaran latihan tembak. Semua boleh nembak kemana saja, cap cip cup yang beruntung bisa kena jantung. Menyiksa si terhukum dengan kematian yang tak seketika.

Dan melarang jenazah terhukum untuk mengikuti misa terakhir, memakamkan si terhukum tanpa upacara keagamaan yang layak. Hmm.. seandainya pun si terhukum memang terbukti melakukan kesalahan, apakah dia tidak berhak atas pengampunan terakhir? Apakah tidak cukup kita [manusia] menuntut balas dengan mengambil nyawanya saja? Apakah kita [manusia] berhak juga merampok ampunan-Nya, memastikan dia tidak akan bisa merayap naik dari dasar neraka?

Oh well, Maha Pengampun tentu akan mempertimbangkan bahwa mereka tidak bisa mengikuti ritual kematian yang digariskan bukan karena kesalahan mereka, so.. gw masih gak berani bilang juga bahwa Tuhan tidak akan mengampuni mereka. Tapi.. bukankah keluarga yang ditinggalkan akan terus hidup dengan ingatan bahwa anak/suami/ayah/kakek/kerabat yang mereka cintai meninggal dan dimakamkan tanpa ritual yang layak? It will hurt them badly. Dalam pandangan gw, kita [manusia] bukan saja mengeksekusi si terhukum, melainkan juga menghukum kerabatnya.

Anyway.. nasi telah jadi bubur. Mereka bertiga telah dieksekusi. Tinggal sebuah pertanyaan yang tersisa: tidakkah kita telah melakukannya dengan sewenang2 dan melampaui batas?

UPDATE 6 Okt 2006

Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan berjudul Ponsius Pilatus Agustus 2006. Thanks to Dinda Lagi Nunggu yang sudah mengingatkan ;-)

Wednesday, October 04, 2006

Ima dan Upacara Bendera

Baca cerita Jeng Aning tentang akting pingsannya QQ, jadi inget pengalaman serupa-tapi-tak-sama dengan Ima waktu kelas 1 dulu. Yah.. di kasus Ima sih nggak sampai akting pingsan segala, tapi cuma akting pusing ;-) Rupanya emang buat anak kelas 1 tuh upacara bendera merupakan sesuatu yang menyebalkan dan harus dihindari sedemikian rupa ya ;-).

Alkisah, pas ngambil rapor bayangan semester genap Ima di kelas 1, gw takjub dengan nilai pelajaran olahraganya. Ima hanya membukukan nilai 78 untuk pelajaran ini, sementara standard kompetensi yang harus dicapai (note: sekolah Ima sudah sepenuhnya menjalankan kurikulum berbasis kompetensi) adalah 75. Padahal nilai2 lainnya di kisaran yang jauh lebih tinggi. Memang sih, dengan ukuran tubuhnya yang tergolong raksasa itu, kemampuan motorik Ima gak terlalu bagus. Tapi mosok cuma bisa dapat nilai sedikit di atas batas yang harus dicapai? Hmm.. gw yakin Ima gak selamban itu.

Waktu gw tanya, gurunya menjelaskan begini:

Ima sering nggak ikut pelajaran olahraga, Bu. Jadi kami juga agak sulit memberikan penilaian.

Huh? Nggak ikut pelajaran olahraga? Apa pasal??

Kalau mau upacara, Ima sering bilang dia pusing. Nggak bisa ikut upacara. Kadang sampai pelajaran olahraga dimulai masih belum hilang pusingnya, jadi nggak ikut olahraga juga.

Pusing?? Nggak ikut upacara? Sampai nggak ikut pelajaran olahraga yang di jam kedua & ketiga setelah upacara? Perasaan tiap Senin dia berangkat tanpa tanda2 pusing sedikit pun deh!

Knowing our daughter, gw dan bapaknyaima langsung menduga bahwa ini akal2annya Ima aja. Ima tuh anak baik, tapi kadang2 masih sulit membedakan garis tipis antara cerdik dan manipulatif.. hehehe.. Waktu ditanya, Ima sih ngaku2 aja bahwa dia males ikut upacara. Alasannya: Anak kecil kok disuruh berdiri lama di lapangan panas2 begitu, kan capek! Kalau yang udah kelas 4-6 atau SMP sih tahan, tapi kalau masih kelas 1 kayak Mbak Ima kan bisa sakit!

So.. sebelum dia benar2 sakit, dia bikin alasan biar boleh nggak ikut upacara.

Well.. sebenernya sih gw setuju sama alasannya Ima males ikut upacara. Nggak ada perlunya anak kecil disuruh ikut upacara.. hehehe.. Tapi, kan namanya murid kudu ikut peraturan juga (biarpun peraturannya mungkin agak ajaib ;-)). Jadi Ima dinasihati untuk ikut peraturan sekolah; tidak boleh kabur dari upacara DAN pelajaran olahraga lagi.

Berhubung bapak-ibunya suka pakai Ima sebagai bahan penerapan ilmu kuliah dulu, maka dirancanglah sebuah metode positive reinforcement: kalau Ima gak mangkir dari upacara dan/atau pelajaran olahraga, dia akan dapat 1 token. Token tersebut nantinya boleh ditukar dengan hadiah di akhir semester; nilai hadiah sesuai dengan jumlah token yang berhasil dikumpulkan. Kalau dia berhasil mengumpulkan 8 token (sesuai dengan jumlah hari Senin yang tersisa hingga akhir semester), maka hadiah yang didapat juga paling bagus.

Ima sih dibilangin gitu langsung aja manggut2 setuju. Tanpa perlawanan sama sekali. Gw cukup lega; ternyata mengubah perilaku anak gak sesusah yang gw bayangkan. Thanks to all the behavior shaping theory I learned from my university day ;-)

Cuma.. gw mulai curiga ada sesuatu yang salah setelah 3x hari Senin kok pelajaran olahraganya selalu disuruh bawa baju renang, bukan bawa baju olahraga seperti biasanya. Iseng2 gw tanya Ima, memang pelajaran berenangnya berapa kali?

Dengan cueknya Ima bilang:

Kata Bu Yuni, pelajaran olahraganya sih berenang terus sampai nanti kenaikan kelas 2

Halah! Pantes aja gak ada perlawanan sama sekali pas disuruh ikut pelajaran olahraga! Pantesan aja rela berpanas2 ikut upacara! Lha wong reward-nya berenang.. ;-) Kalau berenang sih Ima gak perlu disuruh ;-) Gak bakalan dia mau pura2 sakit kalau akan berenang ;-).

Perjanjian bataaaaal.. hehehe..

Moral of the story: lain kali, sebelum bikin janji sama anak, tanya dulu sama gurunya. Jangan2 tanpa dikasih treatment apa2, perilaku memang sudah akan berubah lantaran ada perubahan dari kebijakan sekolah ;-).

Sunday, October 01, 2006

Obat Jengkel

Gw itu perfectionist! Segala sesuatu harus rapi dan teratur. Kalau ada yang gak pas sedikit aja, udah pasti gw terusik dan jengkel. Nah, kalau bulan puasa begini, kebayang kan susahnya nahan kejengkelan gw ;-)?

Tapi sekarang gw nemu obat jengkel yang lumayan mujarab. Sekarang, kalau ada yang bikin jengkel, mendingan gw ngambil hape dan memotret hal2 yang bikin jengkel itu.. hehehe.. Karena harus fokus, biar gambarnya bagus, nggak sempat deh gw marah2.. ;-)

Beberapa foto ini adalah koleksi obat jengkel gw:

Foto ini gw ambil di pertigaan dekat rumah. Jalanannya jalan kelas dua, alias sempiiit banget. Nah.. gak usah ada angkot ngetem aja untuk belok di pertigaan udah susah. Apalagi kalau ada angkot ngetem di situ. Nyalip di tikungan kan bahaya banget! Kalau ada mobil yg mau belok ke arah kita, kan bisa tabrakan! Biasanya sih tiap kali ada angkot ngetem, gw pasti ngomel panjang lebar dan nglakson2. Tapii.. kemarin gw dengan asyik malah ngambil hape dan motret angkotnya.

Lumayan, biarpun lama juga harus nunggu supir angkot selesai beli rokok, tapi gw gak harus ngomel dan nglakson.

Yang ini adalah foto di sekitar Warung Pedok, Tebet, dalam perjalanan pulang beberapa hari lalu. Udah tahu jalannya kecil, dari arah depan sudah banyak mobil yang mau masuk, dan mobil gw aja udah nyelip di antara 2 mobil yang parkir.. eeeeh.. lha, kok malah mobil di belakang gw itu ikut2 maju. Nggak mungkin banget kalau dia nggak lihat bahwa gak ada tempat di belakang mobil gw, lha wong sebelum gw nyelip aja gw udah lihat banyak mobil parkir di kiri jalan. Sebelum nyelip aja gw ngitungnya cukup lama, apakah lebih bijak nyelip atau nunggu di belakang mobil yg parkir itu.

Coba kalau dia sabar nunggu di belakang mobil yg parkir, kasih jalan sama motor dan mobil2 dari arah berlawanan, segalanya akan lebih cepat. Kalau dari arah yang berlawanan sudah lancar, sudah habis, kan gw (dan mobil2 di belakang gw) bisa jalan dengan lancar toh? Tapi.. kalau yang di belakang gw nyelip gitu, kan malah bikin macet tambah parah.

Biasanya sih yang gini2 bikin gw ngomel panjang lebar. Tapi kemarin malah keasyikan motret, sampai para motor-rider itu heran; ngapain gw buka kaca jendela untuk motret kaca spion.. hehehe..

Nah.. yang terakhir ini baru gw ambil di sebuah gerai Hoka-hoka Bento semalam. Pulang dari bu-bar bareng temen2, Ima minta seporsi chicken katsu di HokBen. Tapi.. karena pada dasarnya dia sudah agak kenyang, katsu-nya pun bersisa.

Awalnya dia gw suruh minta sendiri kotak styrofoam buat bawa pulang sisa makanannya. Tapi udah hampir 5 menit kok gak kembali ke meja. Saat gw susul, kata pelayannya kotaknya sedang diambil di gudang. Halah! Suwe temen! Gw lirik2, di bawah meja ada styrofoam cup yang biasa dipakai untuk sup. Gw tanya, kenapa harus nunggu kotak, kenapa gak pakai cup aja. Toh sama2 styrofoam. Kata pelayannya gak bisa pakai cup itu. Kan cup itu buat sup, bukan buat chicken katsu.

Well.. kalau dalam keadaan biasa, pasti si pelayan gw ajak berdebat tentang customer satisfaction dan alasan logis kenapa gak boleh pakai cup itu. Menurut gw sangat tidak logis bahwa konsumen harus menunggu 10 menit untuk diambilkan kotak ke gudang, sementara ada container berbahan dasar sama yang siap sedia untuk diberikan. Kalau bahannya beda, gw bisa ngerti kenapa gw harus nunggu lama. Kalau pakai bahan yg beda, kan bisa jadi rasanya juga beda. Tapi.. kalau bahan sama, kenapa konsumen harus dibikin tidak puas (dengan menunggu lama) hanya supaya inventaris gerai tentang penggunaan container-nya rapi? Birokrasi yang nggak perlu kan? Hehehe..

Berhubung gw lagi terapi kesabaran, yaaah.. gw gak marah2. Cuma ngambil foto aja ;-)

Well.. sekitar sebulan lalu sempat baca draft tulisannya seorang teman, Gobind Vashdev, yang dimuat di sebuah majalah Psikologi terbitan Semarang *Sorry, lupa nama majalahnya. Nggak terbit di Jakarta sih :-(*. Bahasannya tentang kesabaran; kata Gobind antara sabar dan marah itu cuma masalah program di kepala aja. Waktu itu gw argue bahwa ngerubah program itu gak segampang itu. Nggak semua benak orang siap di-install dengan program kesabaran. Ada benak2 yang harus dikasih patch terlebih dahulu.

Waktu itu sih gw belum bisa ngasih contoh nyata tentang patch seperti apa yang gw maksud. Tapiii.. mungkin sekarang gw bisa ya: kegiatan potret memotret ini bisa menjadi patch supaya lebih program sabar bisa di-install ;-)

Anyway busway.. bapaknyaima sebenernya sempat protes waktu pertama kali gw impulsif bilang mau mendokumentasikan hal2 yg bikin gw jengkel. Dia takut bahwa 8 dari 10 foto yg gw bikin bakal berisi tentang dia.. HAHAHAHA.. Hmm, kayaknya ketakutannya cukup beralasan ;-). Lucu juga kali kalau gw terbitkan seri foto tentang dia.. hehehe.. *piss Mas ;-)*