Friday, October 20, 2006

Book Eulogy

Hari-hari terakhir menjelang libur Lebaran, gw mulai sibuk pesan stok bacaan di Limma Library. Dua minggu di rumah dengan dua komputer yang sama2 impoten (PC di rumah motherboard-nya tamat, sementara notebook kantor.. ah, sudahlah, capek ngomonginnya ;-)), gw bisa mati bosan kalau nggak ada hiburan. Kalau televisi sih gak gw itung hiburan ya, secara acaranya dari channel ke channel sama2 aja, dan sama nggak menariknya.

Well.. emang sih, gw masih punya stok CSI: Miami season 2 dan 3 yang belum sepenuhnya terjamah. Tapi apa gak bosen melototin crime scene melulu? Lagipula, serial yang ini menurut gw kurang seru! Horatio Caine & the gank gak se-scientific Gil Grissom et al! Latar belakang mereka memang beda sih ya. Tim-nya Grissom tuh isinya scientist semua, jadinya penuh dengan inovasi2 dan pengetahuan2 individual yang mengejutkan. Sementara tim-nya Horatio tuh detektif semua. Hobinya bekerja secara tim, tidak ada individu yang menonjol, dan hasil kerjanya lebih prosedural daripada inovatif.

Sorry, ngelantur.. hehehe.. Balik ke topik deh!

Setelah nge-klik sana-sini, gw memesan beberapa buku. Konfirmasi pemesanan otomatis via email baru saja gw terima ketika telfon berdering:

Ibu Maya, tadi barusan pesan buku ya? Waduh, sebelumnya kami mohon maaf sekali, Bu. Keputusan baru dari pihak manajemen bahwa mulai November 2006 divisi rental di Limma ditutup. Kebetulan sudah mau libur lebaran, jadi sejak Senin lalu kami sudah tidak terima pemesanan buku lagi.
Usut punya usut, ternyata Limma memutuskan kembali ke khitah: hanya menjadi toko buku, tidak lagi melayani penyewaan. Memang, divisi penyewaan baru dibentuk tahun 1998, ketika krismon menyebabkan orang2 bergaji rupiah ogah beli buku import lagi.

Tentang kenapa Limma kembali ke sistem lama, petugasnya juga tutup mulut. Gw cuma bisa menduga2 aja. Mungkin penyewaan buku dianggap kurang menguntungkan; perlu tempat luas untuk menyimpan koleksi, koleksinya harus lengkap, sementara tidak semua buku akan sering dipinjam. Mungkin memang lebih menguntungkan jualan buku, apalagi kalau sistemnya seperti JuraganBuku yang jadi mirror-place-of-selling Amazon.

Yang jelas sih.. penutupan Limma Library ini menambah panjang daftar kesulitan gw mencari bahan bacaan dalam bahasa non-Indonesia; setelah Times tutup sehingga gw gak bisa beli Der Spiegel, Newsstand Pasar Festival berhenti menjual Readers Digest (yang bahasa Inggris untuk wilayah Asia), lalu QB Bookshop yang tutup satu per satu. Sekarang.. kalau mau baca buku import, gw mesti merogoh kantong lebih dalam lagi.. hehehe.. Harga jual novel2 import 4-5x harga sewa di Limma, euy!

Masih mikir2 juga untuk ke depannya, worth gak ya, beli novel? Atau mesti menyerah dan berkompromi baca buku terjemahan? Itu masalah besar buat gw! Dari dulu gw gak doyan baca terjemahan! Seperti Umberto Eco pernah berkata: setiap kata yang dipilih oleh si penulis menggambarkan nuansa emosi tersendiri, yang seringkali tidak terpindahkan dengan baik dalam suatu terjemahan, walaupun kata yang digunakan untuk menterjemahkan itu akurat. Yup! Menterjemahkan sesuatu itu bukan melulu masalah akurasi pemilihan kata, melainkan mentransfer perasaan dan subtleties lainnya.

Sayang ya.. satu per satu toko buku tutup? Padahal Albert Camus pernah berkata: the true university of these days is a collection of books. Menutup satu toko buku, sama dengan menghancurkan sebuah tempat belajar. Sekarang toko buku import hanya ada di kisaran Jakarta Selatan: Senayan, Kemang, Cilandak. Jadi mikir.. apakah hanya orang2 di sana yang boleh dapat first hand information dalam bentuk buku yang belum diterjemahkan ;-)?

Hhh.. People say that life is the thing, but I prefer reading, kata Logan Pearsall Smith. Rasanya memang begitu. Agak susah buat gw untuk hidup tanpa bacaan ;-) Tapi ya sudahlah.. memang nasib gw hidup di tengah masyarakat [tidak] gemar membaca ;-) Atau di tengah masyarakat gemar membaca yang tidak punya dana ya? Hehehe..

Sebagai pelipur lara, Limma Library memperbolehkan gw mengambil 6 buah buku dari koleksi penyewaannya. Gw ambil 6 novel, karena kalau buku referensi non-fiksi sih gw masih lumayan rela untuk beli (dan didahului nabung pastinya.. hehehe..). Walaupun gak tahu juga apakah gw tega baca ke-6 novel itu, lantaran setiap kali lihat novel2 itu, gw akan selalu teringat: ini adalah novel2 terakhir yang bisa gw dapat dari Limma ;-)

Well, karena hari ini adalah hari terakhir masuk kantor (baca: punya akses internet tanpa harus ke warnet), gw mau mengucapkan:




SELAMAT IDUL FITRI
Mohon maaf segala kesalahan yang pastinya tidak disengaja

*kalau gw cukup tega untuk membuat kesalahan dengan sengaja, mosok sih sekarang gw have a sudden change of heart dan minta maaf ;-)?*