Friday, October 13, 2006

Meringankan Beban

Seperti tahun2 lalu, kami berencana pulang ke Solo hari ketiga di bulan Syawal. Kumpul2 dengan keluarga besar, sekalian menjenguk makam Bapak dan Eyang.

*KAMI merupakan kata ganti orang pertama jamak untuk gw, Ima, dan Ibu. Bapaknyaima tidak ikut karena dia penganut chaos theory; dia takut kalau jadwal kerjanya menyimpang dari garis linear dengan pergi berlibur, maka akan timbul kekacauan di seantero jagad raya ;-) Oops.. gw dijitak nih sama bapaknyaima ;-)*

Tiket pesawat sudah dipesan jauh2 hari. Lha.. kok tiba2, kemarin Ibu mendadak telfon:

Mbak, apa tiket pesawatnya yang buat Ibu dibatalin aja ya? Mbak kalau berangkat sendiri sama Ima naik pesawat, bisa kan?

Huh? What the..?

Soalnya Adek juga mau ke Solo. Nyetir sendiri. Apa mending Ibu nemenin mereka aja ya, naik mobil?

Gw mati ucap deh!

Iya sih, gw tahu banget bahwa maksudnya Ibu baik. Nggak tega sama anak kesayangannya harus bersusah payah nyetir sekian jam Jakarta-Solo lewat pantura yang entah kondisinya seperti apa, sementara beliau naik pesawat. Ibu ingin senasib sepenanggungan dengan putra tercinta. Tapi.. ide menemani adik gw naik mobil itu bener2 absurd ;-).

Pertama, kondisi Ibu tuh sudah tidak sebaik dulu. Ibu prone to DVT. Dua tahun lalu, naik Argo Lawu yang cuma 7 jam aja, sampai Solo kaki Ibu bengkak2. Apalagi kalau naik mobil adik gw yang mungil, dimana kaki beliau pasti harus tertekuk sepanjang jalan, melintasi jalan yang [pastinya] macet abis menjelang lebaran, dan entah makan waktu berapa jam perjalanan! Bisa2 malah adik gw panik sepanjang jalan karena Ibu sakit.

Yang kedua, emangnya adik gw pingin ditemani ibunya? Kalaupun adik gw pingin, emangnya istrinya pingin mertuanya ikutan? Hehehe.. Siapa tahu mereka berdua mau manten2an sepanjang perjalanan? Namanya juga pengantin baru *eh.. udah 2 tahun sih, tapi kalau blum punya bayi, itungannya masih pengantin baru kan ;-)?* Nah.. kalau ada Ibu, apa malah adik dan adik ipar gw gak merasa terganggu?

***

Beberapa bulan lalu, istri seorang teman di komunitas virtual kami terdeteksi menderita terminal illness saat sedang check-up di negeri jiran. Oleh karenanya, sang teman musti buru2 berangkat ke sana. Kebanyakan anggota komunitas virtual kami sudah mengirimkan surat elektronik berisi doa dan simpati untuk si teman, tapi tiba2 saja ada salah seorang yang berinisiatif lebih jauh: bikin gathering sebelum si teman ini berangkat menengok istrinya.

Well.. gw juga tahu bahwa sang inisiator pertemuan ini bermaksud baik. A friend is a friend, nggak perduli kenal sejak jaman main tak jongkok atau cuma secara virtual aja tanpa pernah ketemuan. Kalau ada teman yang kesusahan, maka sebaiknya dijenguk. Menunjukkan simpati secara langsung.

Tapi.. yang namanya takziah itu menurut gw sih beda dengan gathering. Takziyah (=menunjukkan simpati dan menyabarkan orang yang tertimpa kemalangan) memang lazimnya dilakukan dengan mengunjungi orang tersebut. Tapi tidak harus mengunjungi. Dan rasanya malah aneh kalau kita niatnya takziyah, tapi dengan mengundang orang yang tertimpa kemalangan itu ke acara gathering. Mosok niatnya takziyah, tapi nyusahin orang yang sudah tertimpa kemalangan itu untuk datang ke suatu tempat/acara yang [tentunya] akan penuh dengan kesenangan juga?

Menurut gw sih intinya takziyah itu agar teman yang sedang dirundung malang bisa punya teman berbagi, bisa mengeluarkan uneg2 dan perasaan sedih, sehingga tekanannya berkurang. Lha.. kalau yang ngajak ketemu adalah orang2 yang belum pernah ketemu sama dia, belum akrab, apa fungsi ini bisa terlaksana? Jangan2 malah menambah tekanan baru, karena harus menjaga perilaku di depan teman2 yang baru dikenal.

***

Satu kisah lagi menyangkut keluarga yang ditinggalkan almh. Inong Haris. Baca blognya, banyaaak banget yang minta suami almarhumah untuk meneruskan kebiasaan Inong menulis. Kangen Zidan Syifa, pingin tahu kabar mereka, demikian seruan para penggemar BundaZidanSyifa. Sampai akhirnya tercipta blog AyahZidanSyifa.

Well.. gw juga yakin bahwa seruan2 itu ditulis oleh orang2 yg peduli pada keluarga almarhumah. Ingin agar keluarga almarhumah cepat bangkit, nggak larut dalam kesedihan. Tapi.. dengan seruan yang bertubi2, bisa jadi malah membebani mereka. Membuat mereka merasa diburu2 melakukan sesuatu yang belum tentu mereka senangi. Membebani mereka untuk menjadi pengganti Inong. Setidaknya merasa berada di bawah mikroskop dengan seluruh mata tertuju pada mereka. Padahal, tidak semua orang senang menjadi pusat perhatian.

Ada salah satu pengunjung blog Inong yang meninggalkan pesan di oggix-nya: menyerukan agar penggemar Inong tidak memburu2 keluarga dengan kabar Zidan & Syifa, karena keluarga itu masih berduka dan butuh waktu untuk menata hidup kembali. Menurut gw seruan ini masuk akal. Sayangnya, beberapa orang malah menganggap seruan itu provokasi yang tidak bagus untuk para teman2 BundaZidanSyifa.

*Eh, BTW, klarifikasi sebelum dituduh: yang nulis pesan itu bukan gw lho! Cek aja IP Address-nya kalo gak percaya, bandingin sama komen gw di tempat yg sama.. HAHAHAHA.. *

***

Dari tiga potongan kisah di atas, sebenernya yang mau gw sampaikan cuma satu: tanpa sengaja, kadang, kita malah bikin beban orang tambah berat, walaupun maksud kita baik. Ibu yang pingin nemenin adik gw, mungkin end up bikin adik & adik ipar gw terganggu privacy-nya. Inisiator gathering yang niatnya mau meringankan kesedihan temannya, bisa2 malah bikin si teman tambah susah; udah istri sakit, pikiran lagi kalut, eeh.. malah harus menyempat2kan diri datang ke suatu tempat pulang kantor dan terlibat pembicaraan ngalor-ngidul dengan orang2 yang baru ditemuinya [secara nyata] untuk pertama kali. Teman2 Inong yang ingin menyemangati, mungkin malah membuat keluarga itu terbebani.

Well.. memang kalau kita mau meringankan beban orang, sebaiknya kita mulai dengan melihat apa yang dibutuhkan oleh orang itu. Dengan ber-empati pada mereka. Jangan mulai dengan simpati, karena kalau sudah simpati, maka yang masuk adalah perasaan pribadi kita. Kita akan melakukan tindakan yang membuat perasaan kita lebih enak, bukan tindakan yang membuat beban mereka berkurang. Tanpa sadar, kita mengurangi beban kita sendiri, tapi malah membuat beban orang [yang ingin kita kurangi bebannya] menjadi lebih berat.

Yaah.. gw bisa ngomong gini, karena pada dasarnya gw juga lebih gampang bersimpati daripada berempati. Kayak Ibu.. hehehe.. What can I say? I am her daughter, kan? I inherit her genes.. HAHAHAHA.. Untungnya gw dikitari orang2 yang bisa ngasih second opinion, bisa ngingetin gw kalau simpati udah keluar. So.. you better find those who can give you second opinion too .. ;)