Tuesday, October 17, 2006

Celebration of Diversity

What is the meaning of differences? It is nothing but celebration of diversity
(Dr Phlox in Star Trek: Enterprise)

***

Tadi pagi, masuk sebuah email ke inbox gw. Dari salah satu sorority sister di Panekuksanur, tentang surat terbuka untuk Paus:

Gue termasuk yang sangat prihatin ketika kemarin ada ketegangan akibat pidato Paus yang menimbulkan reaksi yang agresif di sebagian komunitas muslim. Tapi, gue nggak punya suara untuk menunjukkan pada dunia, dan pada komunitas Katolik khususnya, bahwa "there is another Muslim" yang bisa menerima perbedaan pendapat dan bisa berdiskusi intelektual secara terbuka dan elegan. Hari ini, gue merasa gue terwakili dengan baik oleh surat terbuka yang ditandatangani oleh 38 top muslim clerics dari seluruh dunia.

Penutup pada halaman empat surat itu sungguh menyentuh, i.e. iterasi Konsili Vatikan II, betapa kita memiliki persamaan. We should focus on our shared values rather than bicker about our differences.

Well.. gw setuju 100% dengan esensi email di atas: jangan sampai kita terpecah karena perbedaan, karena pada dasarnya kita memiliki kesamaan. Tapi mungkin gw gak begitu setuju sama kalimat we should focus on our shared values rather than bickering about our differences. Atau.. mungkin.. tepatnya gw gak setuju sama kata sambung rather than di situ.. hehehe.. Menurut gw, kata sambung yang tepat adalah while ;-). We should focus on our shared values while arguing about our differences ;-)

*oh, well, mungkin kata bickering juga sebaiknya diganti jadi arguing. Baru kepikir setelah bikin kalimat di atas ;-)*

.. perbedaan itu harus dibuka, dibicarakan, kalau perlu diperdebatkan, untuk mendapatkan keharmonisan ..

Hehehe.. menurut gw, yang penting bukan menafikan, menyembunyikan perbedaan, demi menjaga keharmonisan. Menurut gw, justru perbedaan itu harus dibuka, dibicarakan, kalau perlu diperdebatkan, untuk mendapatkan keharmonisan. Kalau kita terus menerus menyembunyikan perbedaan, maka yg didapat bukanlah keharmonisan. Hanya keharmonisan semu; karena kita tetap tidak bisa mengerti orang lain. Kita hanya menjaga supaya secara kasat mata kita selaras, namun di bawah sadar tetap menggugat kenapa orang2 itu berbeda dengan kita; kenapa orang2 itu harus begitu, tidak begini seperti kita.

Perbedaan itu seperti magma di dalam gunung berapi. Memang sudah aturan alam bahwa gunung berapi harus meletus dari waktu

..Kita hanya menjaga supaya secara kasat mata kita selaras, namun di bawah sadar tetap menggugat kenapa orang2 itu berbeda dengan kita..

ke waktu, jadi jangan membohongi diri bahwa kalau magmanya nggak kelihatan maka gunung itu tidak akan pernah meledak. Apalagi kalau kawahnya berupa danau kawah ;-) Itu justru yang ledakannya akan paling berbahaya. Jalan terbaik untuk mengurangi bahaya ledakannya justru dengan mengurangi air danau kawah tersebut. Seperti di Gunung Kelud; ada terowongan2 air yang gunanya mengurangi air danau. Dengan demikian, kalau tiba2 gunung meletus, bahayanya dapat dikurangi. Bukan malah menimbuni kawahnya dengan air, make believe bahwa danau itu adalah tempat rekreasi yang aman, yang selaras.. lupa bahwa di dasarnya ada magma menggelegak ;-).

Menurut gw, kebiasaan masyarakat untuk meredam konflik adalah kebiasaan yang tidak sehat. Lazimnya orang memilih diam daripada beradu argumentasi. Berdebat dianggap sebagai kebiasaan buruk yang mengganggu keselarasan. Lha, kapan akan saling mengertinya kalau masing2 menyimpan pikirannya sendiri ;-)? Memangnya kita spesies yang bisa telepati, bisa membaca isi pikiran orang ;-)? Banyak orang berlindung di balik rasionalitas bahwa sudut pandang orang memang beda2 dan tidak disamakan. Lha.. emang siapa bilang kalau berdebat itu tujuannya melulu untuk menyamakan pendapat? Berdebat kan bukan sinonim dari musyawarah/mufakat ;-).

Aturan bermasyarakat (baik yang formal maupun non-formal) seharusnya tidak mengharamkan menunjukkan perbedaan. Aturan bermasyarakat harusnya cuma memberi koridor pada cara menunjukkan perbedaan. Kalau pakai analogi gunung api tadi, aturan bermasyarakat seharusnya tidak menuang air di atas kawah untuk menjadikannya danau, tapi justru membuat katup-katup yang mengurangi volume air di danau kawah.

Kita tidak perlu menutupi perbedaan.. karena perbedaan hanyalah sebuah perayaan atas keberagaman ;-). Yang namanya perayaan nggak perlu ditutup2i toh? Nggak perlu malu diakui toh? Hehehe.. Yang penting adalah tetap menjaga agar perayaan itu tidak keluar jalur, sehingga tidak ada pihak yg merasa disakiti.

Dan bagaimana kita menjaga agar perayaan itu tidak keluar jalur? Yaitu dengan tetap fokus pada kesadaran bahwa kita memiliki kesamaan bahkan ketika kita sedang saling menyampaikan perbedaan kita ;-).

Belibet yaks? Hehehe..

Ngomong2.. soal surat terbuka untuk Paus itu bisa dibaca di sini. Baca deh! Benar2 sebuah cara menunjukkan perbedaan secara elegan! Memberi penjelasan pada yang tidak mengerti, bukan sekedar ngamuk tanpa memastikan apakah orang yg diamuk itu ngerti atau enggak.. hehehe.. Membalas gaya akademisnya Paus dengan argumentasi yang tak kalah akademisnya. Dan yang penting: menjadi akademis dan logis tanpa mengorbankan perasaan orang lain ;-). Salut!

UPDATE 18 Oktober 2006:

Ohya, biar fair, gw kasih link ke Pidato Paus juga ya! Biar yang belum baca juga ngerti konteksnya dan bisa beropini sendiri ;-). Klik di sini deh!

Yang ini OOT: buat tante2 dan oom yang nanyain karangannya Ima.. uhmm.. kemarin Ima baru nulis lagi di sini. Doain ibu-bapak cepat bisa beli motherboard baru, biar Ima bisa ngetik2 cerita lagi ;-)