Sunday, February 26, 2017

2017 Europe Trip: My Survival Kit

Sebelum berbagi tentang pengalaman gw nge-bolang di Eropa, gw mau berbagi dulu tentang apa2 saja yang membantu kenyamanan perjalanan gw. Semacam survival kit jalan ke tempat baru sendirian di musim yang asing ;-)

Kit #1: EuRail Pass


Jadi ... setelah visa di tangan, tiket pesawat saja saja tidak cukup! Ada satu lagi yang harus disiapkan, yaitu transportasi antar kota antar negara.

Jauh2 hari adek gw yang sudah beberapa kali tugas ke Eropa (dan sukses bikin gw iri level mahadewa) sudah berpesan untuk beli EuRail Pass di Indonesia sebelum berangkat. Harus kudu, karena tiket terusan kereta yang diperuntukkan bagi non-penghuni Eropa ini tidak dijual di Eropa. Kalau di Eropa ya jualnya Interrail, tiket kereta terusan untuk penghuni daratan Eropa. Kalau kita gak punya EuRail Pass, terus gimana? Yaaa... bisa sih beli tiket satuan. Tapi berarti nggak fleksibel, karena tiket itu hanya berlaku untuk tanggal dan waktu tertentu. Tiket satuan juga nggak ekonomis kalau kita berencana YOLO, karena bisa jadi jatuhnya lebih mahal. Plus, jadinya mesti antri lama ganti tiket kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan; misalnya jika kereta yang kita naiki harus berhenti di tengah jalan karena ada yang bunuh diri. Seperti yang gw alami 2x pada hari yang sama 30 Januari 2017 - di Hengelo (Belanda) dan Osnabrück (Jerman)!!

EuRail Pass ini menjadi lebih terasa nikmatnya kalau kita mengunjungi Jerman dan Austria dalam lawatan kita. Delapan dari 13 hari perjalanan gw di Eropa gratis ongkos kereta karena DB (perusahaan kereta Jerman) dan ÖBB (perusahaan kereta Austria) menerima pass ini sebagai tiket. Gw tinggal tulis saja tujuan kita, dan cari tempat duduk di kereta.

Tentu, kita tetap harus keluar duit untuk transportasi non-kereta dalam kota seperti metro. Di Amsterdam gw masih harus beli kartu pass yang berlaku untuk bus dan metro. Pun harus bayar tiket bus dari Linz ke Mauthausen, atau tiket metro untuk putar2 Prague. Tapi kalau di Kõln dan Berlin, pass ini bisa dipakai naik S-Bahn. Jadi praktis gak keluar duit lagi.

Untuk pembelian EuRail Pass di Indonesia bisa dengan menghubungi situs EuroByTrain ini. Saran gw sih bikin jadwal dulu mau kemana saja dan kapan, baru konsultasi dengan mereka mana pass yang paling efektif. Soalnya pass ini bisa dipilih berdasarkan berapa negara yang dikunjungi serta berapa hari traveling. Kalau hanya mengunjungi maksimal 4 negara dan/atau hanya akan melakukan perjalanan di hari tertentu, nggak perlu ambil yang Global Pass. Harganya bisa beda Euro 100 - 200 per pass yang dipilih. Dan ... ohya, kalau mau bulan madu, ada paket menarik. Soalnya kalau 2 orang atau lebih bepergian kemana-mana selalu berdua, pass-nya lebih murah :-)

Kit #2: Rail Planner App


Buat bikin jadwal kereta api, saran gw adalah unduh aplikasi Rail Planner. Ini aplikasi resmi EuRail; gratis, bisa diakses offline, dan komplit jadwalnya. Jadi kita bisa atur sendiri mau ambil kereta mana, jam berapa, berapa kali berhenti ganti kereta, dan jam berapa. Atur sendiri petualanganmu!

Aplikasi ini juga membantu banget karena mencantumkan informasi2 penting buat kita sebagai "orang baru" di negeri tersebut. Mulai dari keuntungan yang didapat di tiap negara (termasuk hotel2 dimana kita bisa dapat diskon, rekanan hotel/bus/ferry dll) sampai info2 layanan perjalanan (seperti dimana bisa titip koper di loker stasiun, bagaimana caranya ke airport terdekat, serta fasilitas2 seputar stasiun)

Karena bisa diakses offline, gw selalu buka aplikasi ini dimana saja. Tapi tetap harus hati2 yaaa ... kalau mengakses aplikasi ini di publik. Pengalaman buruk gw: setelah mengakses aplikasi ini di Burger King Praha Hlavni Nadrazi (stasiun pusat Praha) yang super ramai, iPhone gw dicopet orang... hehehe ....

Kit #3: AO Hostels/Hotels


Bagi orang bergaji rupiah kayak gw, membayar segala macam biaya dengan Euro itu bisa jadi besar pasak daripada tiang. Apalagi biaya hidup di negeri2 ini mahal. Kalau harus bayar hotel .... deuuuh ... nombok dah! Even dari Agoda pun gw sudah cemas lihat harganya. Mehong, bo!

Pada awalnya adek gw (sekali lagi: yang sudah beberapa kali tugas ke Eropa dan bikin gw iri mampus :-)) menyarankan Couchsurfing. Beda tipis lah dengan airbnb. Tapi... dasar gw ini introvert kronis, gw kok merasa agak gimanaaaa gitu ya ... kalau nginep di rumah orang. Takut nggak bisa basa-basi.

Naaah... sebagai pemegang EuRail pass, kita berhak mendapatkan diskon kalau menginap di AO Hostel/Hotel. Ini akomodasi pilihan gw di kota2 yang gw kunjungi. Selain harga kamarnya bersahabat, kita dapat diskon, dan ... hostel/hotel mereka selalu within walking distance dari stasiun kereta. Yang sangat membantu banget juga: selain peta, mereka juga memberikan panduan jalan kaki (lengkap dengan jarak-jaraknya) di situs. Gw selalu screenshot keterangan ini untuk panduan jalan kaki ... maklum kemampuan spasial gw di bawah rata2 ... hehehe ...

Sebagai jaringan hotel, quality control AO Hostel/Hotel sangat terjaga. Ketiga hotel yang gw tinggali - AO Berlin Hbf, AO Prague Metro Strizkov, dan AO Köln Hbf - total hanya berbeda luas kamar saja. Seprai, bantal, toilettries, dan sarapannya sama persis! Padahal tidak semua hotel itu dibangun sendiri oleh AO. AO Köln Hbf, misalnya, adalah sebuah hotel lokal bernama Hotel Madison yang bekerja sama dengan AO. Mungkin karena AO ini dibangun dengan konsistensi a la Jerman ya ... hehehe .... jadinya sangat rapi dan terstruktur.

Di AO Hostels/Hotels ini kita bisa memilih menyewa tempat tidur saja di semacam asrama (dormitory) atau kamar privat seperti hotel. Ada baiknya siapkan uang tunai untuk membayar, karena jika membayar dengan kartu kredit akan ada surcharge hampir 3 euro.

Kit #4: "Stimulating Blood Circulation" Stocking


Ini adalah "keajaiban terindah" yang gw temukan di hari pertama gw di Eropa :-) Gara2nya mata kaki gw bengkak seturun dari pesawat, dan saat diajak jalan putar2 Amsterdam (well... literally jalan! Pakai kaki!) kaki gw sempat kram 2x.  Mungkin paduan antara duduk 16 jam di pesawat (dimana 10 jam di antaranya adalah direct flight yang bikin kaki gw kejang :-)), dinginnya winter yang baru gw alami, serta physical shock si kaki yang disuruh jalan penyebabnya.

Setelah meninggalkan gw di kedai kopi dekat pasar kembang, teman gw yang baik hati - Neng Imeza Saraswaty - membelikan gw stocking ini di HEMA. Katanya dia pun selalu pakai stocking ini kalau harus jalan jauh atau banyak berdiri, karena stocking ini melancarkan peredaran darah di kaki.

Tadinya gw pesimis. Stocking setipis ini ... melancarkan peredaran darah? Bagaimana caranya? Tetapi gw pakai di hari berikutnya dan ... voila! Meskipun gw jalan dan berdiri sepanjang hari, tapi kaki gw gak capek apalagi bengkak! AMAZING!

Manfaat stocking ini paling terasa ketika gw mengunjungi KZ Mauthausen Memorial Site di Austria. Untuk sampai ke bekas kamp konsentrasi itu gw harus mendaki sekitar 2km dari perhentian bus. Takjubnya ... kaki gw sama sekali nggak kram ataupun bengkak! Padahal biasanya kalau lelah seperti itu gw bakal kram parah :-)

Kit #5: Deutsch als Fremdsprache


Menguasai bahasa Inggris tidaklah cukup untuk berpetualang di Eropa :-) Mampu berkomunikasi dengan bahasa Jerman sangatlah penting. Kita harus ingat bahwa Jerman itu segede gaban di uni-Eropa. Kalau putar-putar naik kereta, hampir pasti akan melewati Jerman. Naaah ... jarang orang Jerman yang bisa (atau mau) berbahasa Inggris, bahkan di tempat yang kaitannya dengan layanan publik sekalipun!

Selain itu ada negara2 yang (salah satu) bahasa utamanya adalah Jerman; seperti Austria (meski tidak semua kosakatanya sama persis) atau Belgia dan Swiss yang berbahasa Jerman serta Prancis. Selain itu negeri2 yang dulunya masuk Eropa Timur seperti Republik Czech, Slovakia, dan Hungaria juga cukup fasih berbahasa Jerman. Selain karena berbatasan dengan Jerman (Timur) dan/atau Austria, beberapa mungkin dulunya memang bagian dari Kekaisaran Austria.

Trust me ... speaking French might help, but Deutsch als Fremdsprache ( = German as a foreign language) is more handy! :-)

Pengalaman gw membuktikan :-) Saat kereta gw harus ganti jalur di Osnabrück, Jerman, karena ada yang bunuh diri ... gw harus mengurus tiket gw dalam bahasa Jerman. Demikian pula ketika melaporkan koper gw yang terbawa orang di Berlin dan mengambilnya di Wolfsburg - kota kecil 1 jam perjalan dari Berlin.

Di Berlin gw beruntung karena bertemu Julian Schick, mas-mas Jerman yang ramah dan bahasa Inggrisnya bagus banget! Tanpa bantuannya, gw nggak tahu bagaimana harus melaporkan koper gw yang hilang ke ibu2 Jerman di ReiseZentrum yang menolak - entah gak bisa atau nggak mau - berbicara dalam bahasa Inggris. It's been 20+ years since I got my ZDaF and my German is super rusty I'll make the Germans cry to hear them :-))

Keberuntungan gw bertemu Mas Julian ini makin terasa ketika keesokan harinya gw harus menebus koper gw SENDIRIAN di Wolfsburg. Another ibu2 Jerman di Lost and Found langsung menjerit "Kein Englisch! Deutsch, bitte!" ketika gw buka mulut dalam bahasa Inggris. Terpaksalah gw menjelaskan kesulitan gw dalam bahasa Jerman yang sudah karatan dan sama sekali tidak taat azas ... hehehe ... Hanya keajaiban yang membuat gw bisa mendapatkan koper gw lagi dalam 15 menit.

Saran gw; belilah kamus percakapan standard bahasa Jerman jika berencana ke Eropa. Itu akan membantu :-)

The Missing Kit: Travel Light


Satu2nya survival kit yang luput dalam perjalanan ini adalah: koper kecil! Koper gw terlalu besar untuk perjalanan ini ... dan ... setelah dipikir2 koper besar inilah yang menjadi sumber kesulitan gw.

Hotel2 kecil di Eropa (setidaknya Belanda dan Jerman) kadang berupa bangunan tua tanpa lift. Tangganya sempit dan curam. Seperti ITC Hotel yang gw tinggali di Amsterdam. Karena memesan kamar satu ranjang, gw mendapatkan ruangang di ... attic! Ruangannya sih cakep banget; rapi, dengan kontur atap di atas tempat tidur yang to die for! Tapi ... bayangkan menyeret koper segede gaban melewati tangga sempit dan curam naik/turun 4 lantai! :-)) Waktu naik sih nggak masalah, karena ada Neng Imeza yang bantu ngangkat koper. Tapi turunnya ..... terpaksa gw kosongkan koper itu biar bisa diseret turun, untuk kemudian membawa barang gw satu per satu untuk ditata ulang di lobby :-)

Koper segede gaban ini juga yang menjadi awal tragedi koper yang tertukar dalam perjalanan ke Berlin. Karena ukurannya, gw gak bisa mengangkat koper ini ke tempat koper di atas tempat duduk. Terpaksa koper gw tinggalkan di bagage dekat pintu keluar dan ... you know what happens when you fail to keep an eye to that luggage!

Koper ini juga yang bikin gw kehilangan konsentrasi di badai salju, sehingga iPhone gw raib. Bayangkan dilema mendorong koper 12.5kg untuk jarak 700m di salju setebal 10+ cm! Buah simalakama banget... didorong ibu mati, diangkat bapak mati :-)

Saran gw: cukupkanlah barang dalam koper ukuran maksimum 7kg! Koper yang bisa diangkat masuk ke tempat koper di atas kursi kereta. Kalau barang nggak cukup gimana? Bawa tas jinjing yang bisa diselipkan ke gagang koper. Jadi bisa digeret bareng koper dengan satu tangan, tapi juga cukup fleksibel untuk ditaruh di tempat yang mudah diawasi. Dan ... kalau terpaksa ... bisa dicangklong sambil tangan yang satu mengangkat koper kecil. Trust me ... travel pseudo-light like this is much better than bringing 1 big luggage :-)


Wednesday, February 22, 2017

2017 Europe Trip: Y.O.L.O

Bermula dari informasi November lalu bahwa cuti tahunan gw masih tersisa 18 hari dan harus habis sebelum Maret 2017. Di saat bersamaan, muncul wacana workshop untuk sebuah klien multinasional di London pada kisaran akhir Januari 2017. So ... my darling husband memberikan sebuah ide yang fenomenal: why don't you go to Europe? Pakai uang yang kita kumpulkan untuk antisipasi jika harus mengirim Naima ke universitas swasta, sebelum kita harus mengumpulkan uang lagi untuk biaya sekolah Nara. You deserve it!

Maka berbekal restu itu, mulailah gw mengurus visa Schengen untuk pribadi, karena visa UK nggak akan berlaku di Eropa daratan.

Saat keputusan itu diambil, semua tampaknya mudah dan menyenangkan! Akhirnya one of my lifetime dreams akan terpenuhi, menginjak Eropa daratan, akan terpenuhi! Plus ke London pula! Tapi ... over the month, ternyata kenyataan bukanlah all unicorns and rainbows :-) Perjalanan panjang berliku dimulai bahkan sebelum tiket di tangan ...

Awal Desember 2016 gw mulai menghubungi satu2nya agen tour yang gw kenal dan pernah menguruskan visa team kantor gw ke Australia tahun 2009. Tidak ada jawaban atas email gw. Ketika gw tanyakan via mantan Research Assistant gw, jawabannya, "Nanti dijawab, sekarang sedang sibuk." Naaah... gw kan gak bisa di-PHP-in, jadi dalam 2 hari pindah haluan. Kali ini minta tolong Mbak Suzan Bayik, ratunya perhotelan Indonesia.

Mbak Suzan merekomendasikan teman lamanya yang baik dan ramah serta siap membantu. Tapi setelah paspor dan segala kelengkapan administrasi diserahkan, muncul satu masalah: Mbak teman lama yang ramah ini ternyata metodenya konservatif banget. Triknya kurang jago untuk manuver mengamankan tiket pesawat sekaligus pesanan hotel. Jadi gw diminta memesan hotel sendiri, dan mengurus book dan rebook hingga visa keluar. Lah ... kalau harus ngurus sendiri, ya ngapain gw pakai jasa tour & travel toh?

Terpaksa ganti haluan lagi. Kali ini - masih atas rekomendasi Mbak Suzan - gw mengurus dengan bantuan Kaha Tour. Baru deh di tangan Mas Andrieka Dika dari Kaha, gw mendapatkan servis yang gw mau. Mas Dika sangat profesional dan cekatan dalam mengurus segala keperluan. By December 14, seluruh kelengkapan sudah masuk ke tangan Mas Dika. Konon prosesnya paling lama 21 hari dan gw diminta menunggu jadwal biometrik dari Kedubes Belanda.

Ohya... kenapa Kedubes Belanda? Sebenarnya visa Schengen ini bisa diurus ke negara Eropa mana pun. Tapi berdasarkan bebeberapa informasi, kemudahannya tidak sama. Belanda, sebagai mantan penguasa Indonesia, tergolong yang cukup lenient dalam memberikan visa pada kita. Kalau visanya Belanda, maka pesawatnya harus mendarat pertama kali di Belanda, which is quite OK karena - another blessing in disguise - gw sangat ingin mengunjungi Anne Frank Huis di Amsterdam!

Akhir Desember 2016 gw mendapat kabar bahwa biometrik gw dijadwalkan tanggal 10 Januari 2017. Bukan di Kedubes Belanda, tetapi di VFS Global Office, di Kuningan City. Rupanya sekarang kebanyakan negara satu pintu pengurusan visanya, yaitu di VFS Global.

Naah... di sinilah kenyataan menunjukkan betapa sulit dan terjalnya perjalanan mendapatkan ijin masuk Eropa ini!

Gw beranggapan setelah biometrik prosesnya 2 - 3 hari kelar. Karena pengalaman teman gw mengurus visa Prancis demikian. Pun pengalaman gw terakhir urus visa Australia tahun 2009. Ternyataaaaa .... untuk kedutaan Belanda katanya 7 hari.

OK. Gw panik tapi mencoba sabar. Antisipasi kelar tanggal 17 Januari. Berarti gw baru bisa issued tiket, beli Euro, dan booking hotel setelah itu. Masih 10 hari ... OK-lah. Everything is under control.

Tapiii.... gw jadi benar2 panik ketika sampai tanggal 18 visa belum keluar juga dan belum ada kejelasan kapan keluar! Alamaaaaak.... kan urusan masih panjang: harus confirmed tiket pesawat, confirmed bookingan hotel, beli tiket EuroRail Pass untuk perjalanan kereta antar-kota antar-negara, confirmed ke teman2 yang mau diajak ketemuan, beli Euro ....

Tetapi dengan kegigihan Mas Dika, akhirnya visa itu berhasil keluar di hari berikutnya. And with that visa my story begins ....