Thursday, January 28, 2010

Hotel California Roll

Kemarin, pemerintahan SBY ber-Boedi tepat 100 hari. Dan banyak demo menggoyang pemerintahan ini dimana2, gaungnya malah sampai ke Austria. Iya, Austria, bukan Australia yang di sepelemparan batu itu... Austria dan Australia jaraknya memang terpisah samudra, seperti sudah digambarkan oleh tambahan hurufnya: AustrALia. AL itu angkatan laut kan ;)?

Gw nggak ahli Feng Shui maupun primbon, tapi... gw mulai bertanya2, adakah hubungan antara hobi Pak Presiden menyanyi serta mencipta lagu dengan pemerintahannya, sehingga selalu digoyang dombret ;-)? Makanya toh, Pak, noblesse oblige. Kalau jadi presiden ya ditunda dulu keinginan menjadi pesindennya. Kalau dipaksakan bisa menjadi preseden buruk ;-)

Atau... mungkin juga demo 100 hari ini adalah pembuktian law of attraction ;-). Selamatan 100 hari itu biasanya dilakukan untuk mengenang almarhum seseorang. Dan karena menurut hukum ketertarikan ini pikiran mempengaruhi kejadian, maka nggak heran kalau pemerintahan ini jadi sulit berkembang. Diperlakukan seperti orang meninggal sih! Coba kalau evaluasinya dirancang untuk 7 bulan pemerintahan, seperti upacara mitoni atau 7 bulanan pada orang2 hamil. Mungkin bisa memberi energi positif... karena diperlakukan sebagai suatu cikal bakal kehidupan dan harapan ;-)

Anyway... gw nggak mau membahas tentang demo 100 hari. Juga nggak mau ngebahas Duo BC yang ramai diusung orang untuk jadi tema demo. Gw cuma mau menggunakan salah satu BC itu sebagai batu loncatan untuk menyelesaikan suatu draft tulisan yang udah agak basi ;-)

*Hehehe... harap maklum, sekarang2 ini banyak banget tulisan gw yang basi. Soalnya nggak kompak nih antara keinginan dan kesempatan untuk menuliskannya ;-)*

Draft basi gw ini sebenarnya bermula dari terkuaknya sel mewah Tante Ayin. Kasus itu kan sempat ramai ya, beberapa waktu lalu. Dan rata2 orang mempertanyakan efek jera si Tante, jika sel-nya mewah seperti itu. Semua orang ramai2 berpendapat bahwa si Tante (secara khusus) dan para pelaku tindak korupsi lainnya (secara umum) baru bisa jera kalau sudah ditaruh di sel sempit seperti penjahat2 lainnya.

Gw sendiri punya pikiran yang agak beda. Menurut gw, efek jera itu bukan merupakan hasil dari perlakukan yang sama, melainkan karena perlakuan berjenjang yang setara. Jadi, efek dari sebuah perlakuan terhadap orang yang berbeda belum tentu sama, karena tergantung dari karakteristik orang per orang tersebut. Contohnya, buat gw yang suka menyendiri ini, dihukum nggak boleh keluar adalah heaven on earth buat gw... hehehe... Jadi, kalau gw dikurung di kamar, bisa jadi gw nggak akan jera. Tapi... coba deh terapkan hal yang sama pada anak2 gaul kronis. It would be a 7th degree inferno for them ;-)

Oleh karena itu, gw sendiri cukup yakin bahwa Tante Ayin akan cukup jera meskipun dikurung dalam kamar yang ukurannya kayak papan catur raksasa itu, 8x8m ;-) Kalau buat yang rumahnya tipe 4L, loe lagi loe lagi, alias cuma 3x7m atau 6x6m, papan caturnya Tante Ayin tuh emang lega banget. Bikin betah berlama2. Tapi... buat si Tante yang biasa melanglang kemana2, sarapan nasi lemak di KL, makan siangnya bakmi di Hong Kong, dan makan malamnya sashimi di Jepang, yang namanya papan catur raksasa ini sama efeknya dengan sel 2x3 buat kita :)

Mungkin beberapa orang akan bilang, "Aaah! Itu kan teori! Mewah adalah mewah, nggak akan bikin efek jera!" Mmm.... enggak juga kok. Sekitar tahun 1995 gw pernah praktek pelatihan di bagian Psikologi Pendidikan buat remaja2 cowok yang tertangkap tawuran. Waktu mau berangkat, gw udah membayangkan bakal ketemu cowok2 begajulan yang setengah mabok semua. Ternyata.... bayangan gw nggak sepenuhnya benar. Ada beberapa cowok yang [meskipun kelihatan dekil dan kurang terawat] tapi sangat santun. Pokoknya, nggak kebayang deh mereka berpartisipasi dalam sebuah tawuran... apalagi yang bertindak penuh kekerasan.

Setelah ngobrol2 panjang, penemuan kami sungguh mencengangkan: beberapa cowok tanggung tersebut memang tidak ikut tawuran, tetapi mereka sengaja membiarkan diri ikut ditangkap. Alasannya, "Kalau ikut pendidikan di sini, makan dan tidur terjamin. Pulangnya masih dikasih uang saku Rp 10.000, lumayan uangnya buat adik2 saya"

Kebayang nggak sih? Kalau buat gw yang anak manja gini, nggak bakalan gw mau membuang 3 minggu hidup gw dikarantina secara militer; bangun sebelum subuh, disuruh lari2 dan apel pagi. Itu penyiksaan namanya. Apalagi cuma dapat Rp 10.000! Gw pasti jera kalau ikut program ini. Tetapi... buat sebagian orang, boro2 ini adalah penyiksaan. Menurut mereka malah sesuatu yang worth it. Sesuatu yang bikin gw jera, ternyata buat orang lain maknanya berbeda.

So, that's it. Menurut gw, kita sih nggak perlu terlalu khawatir atas efek jeranya. Yang perlu kita khawatirkan adalah sikap para petinggi hukum terhadap hal2 ini. Menurut gw jawaban bahwa agar "hak perdata" Tante Ayin tidak terhambat adalah [maaf] suatu jawaban yang bodoh :-) Yang namanya narapidana itu ya sudah jelas kehilangan seluruh haknya! Kecuali hak azasinya ya ;-) Jadi... nggak ada dasarnya pertimbangan khusus ini. Ini hanya langkah ngeles saja, sebuah justifikasi yang konyol ;-)

Dan, menurut gw, pembelaan diri petinggi hukum inilah yang menurut gw lebih mengenaskan daripada bisa berfitness rianya si Tante di sel tahanan ;-) Komentar seperti ini hanya bisa muncul jika seseorang tidak tahu apa esensi dari hukuman penjara itu, dan bagaimana mekanisme timbulnya efek jera. Kalau hidupnya masih berjalan dengan lancar, cuma "pindah kantor" doang ke penjara, ya sebenarnya treatment yang diberikan kepada si Tante tidak signifikan. Ini yang akan bikin beliau tidak jera... bukan karena kamar mewahnya (yang sebenarnya tidak mewah untuk ukuran beliau) ;-)

Jika petinggi hukumnya sudah berpandangan begini... well, gw jadi ingat sebuah status FB teman gw baru2 ini, "Berdoa dan ikhtiar sudah. Sekarang tinggal tabah dan tawakal"... hehehe... Sudah susah untuk mengubah para petinggi hukum itu. Kita tinggal tabah dan tawakal menerima kenyataan mengenaskan ini, sambil sedapat mungkin mengubahnya menjadi sesuatu yang menguntungkan rakyat banyak. Dari situlah muncul konsep Hotel California Roll yang gw pikirkan ini :-)

Dari dulu kan penjara itu sudah disebut Hotel Prodeo ;-)? Dengan pemikiran yang senada, sebuah penjara di Vietnam disebut sebagai Hanoi Hilton. Ini adalah sebutan sarkastik: sebuah "hotel" yang tidak menawarkan kenyamanan, melainkan kesengsaraan. Naaah... di jaman para petinggi negara sudah menganggap bahwa narapidana hak perdatanya harus dijaga (*sigh! Padahal, yang namanya narapidana tuh hak pilih aja harusnya hilang lho!), konsep kesengsaraan ini tentunya tidak relevan lagi. Tapi.... yang namanya narapidana, kan tetap harus dibikin nggak nyaman supaya dapat efek jera? Kesenjangan inilah yang akan dijawab oleh Hotel California Roll ;-)

Di Hotel California Roll, semua narapidana yang berduit dan tidak tahan hidup menderita secara fisik, boleh bayar untuk mendapatkan kenyamanan fisik. Seperti di hotel, kita kasih saja daftar harga RESMI. Ada kelas2 di selnya, kalau perlu kita charge per meter persegi. Mau bawa alat fitness? Boleh... asal bayar. Mau perawatan kulit di sel? Boleh... asal bayar juga ;-)

Lho, kalau gitu, apa bedanya dengan yang sekarang?

Bedanya... di konsep ini, biayanya RESMI dan jadi pemasukan negara :-) Tidak masuk kantor orang per orang, atau kelompok per kelompok. Naaah.... uangnya kemudian dipakai untuk menyejahterakan rakyat banyak. Biar full circle: uang yang diambil dari rakyat, kembali ke rakyat ;-)

Treatment-nya nggak signifikan dong? Ntar nggak jera dong?

Naah... di sinilah kenapa nama yang dipilih adalah Hotel California Roll. Nama ini bisa dibaca dengan dua penekanan. Penekanan pertama, Hotel California Roll memang menunjukkan sisi fusion-nya: inovasi terhadap sesuatu yang tradisional, tanpa kehilangan ketradisionalannya. Dalam kasus ini, fusion-nya adalah mempertahankan sisi kesengsaraan, tapi tidak lagi melulu kesengsaraan fisik. Mempertahankan praktik bayar-kalau-mau-nikmat, tapi tidak masuk ke kantong pribadi ;-)

Cara pembacaan kedua adalah Hotel California Roll. Seperti kata lagu kesayangan gw yang pernah gw singgung2 di sini, penjara tetaplah tempat dimana narapidana tidak sepenuhnya bebas. You can check out anytime you like, but, you can never leave ;-)

Selalu ada pembatasan pada Hotel California. Dan.. dalam Hotel California Roll ini, pembatasannya JUSTRU pada hak perdata yang diagung2kan petinggi penjara tadi: ini penjara ya, Tante, Oom, bukan wall street. Jadi plis deh, forget your business. Boleh hidup nyaman sedikit di penjara ini kalau Tante dan Oom nggak tahan dengan penderitaan fisik, asal bayar ;-) Tapi... di luar penderitaan fisik, perlakuannya tetap sama dengan narapidana lainnya: no business life whatsoever.

*Enak aja mau bisnis dalam penjara! Kalau koruptor bisa bisnis dalam penjara, bandar narkoba juga boleh dong menjalankan bisnisnya di situ? Kan sama2 bisnis ;-)*

Jadi... setelah berpanjang lebar, apa hubungannya Tante Ayin dengan Demo 100 Hari? Ya nggak ada... hehehe... Cuma, gw inget bahwa Paman Anggodo, yang terkait dengan salah satu BC yang jadi tema demo kemarin, baru2 ini kan resmi jadi tersangka. Naaah... kalau nantinya beliau benar akan dijatuhi hukuman, beliau bisa jadi tamu pertama di Hotel California Roll ;-) Makanya, draft ini kudu dipublikasikan buru2... hehehe... Siapa tahu segera diolah menjadi konsep yang matang oleh para wakil rakyat ;-) Biar mereka ada kerjaannya! Daripada komputer canggihnya buat fesbukan doang... hehehe... Lagian, kan gaji mereka mau naik 20%? Meskipun setelah didemo ada yang buru2 menolak ;-)

Ayooo... para wakil rakyat... segera dikonsepkan yang matang! Kalau enggak, nanti bisa2 Anda2 lho, yang menginap di Hotel California Roll ;-)


Welcome to the
Hotel California Roll
Such a lovely place
Such a lovely face

Plenty of room at the
Hotel California Roll
Anytime of year
You can find it here


Boleh booking kapan saja ;-) Di Hotel California, dijamin selalu ada tempat. Nggak pernah penuh ;-)

Saturday, January 23, 2010

Teliti Membeli Blackberry

Beberapa pekan lalu, teman gw woro2 di FB mengenai PIN BB-nya yang mendadak aktif kembali. Padahal, BB itu telah tercopet beberapa waktu sebelumnya dan secara teoritis mestinya nggak bisa aktif kalau nomor yang dipakai bukan nomor yang terpasangkan dengan device tersebut. Pengusutan lebih lanjut menghasilkan temuan yang lebih mencengangkan: si pemilik PIN BB tersebut mengatakan membeli BB secara resmi di sebuah mall pada kawasan Kuningan yang kondyang sebagai sentra ponsel. Lengkap dengan kotak resmi Blackberry bersegel serta kartu garansi!!

Benar2 luar biasa sindikat pasar gelap ini ;-) Memang berlaku teori ekonomi: kalau demand besar, supplier juga bakal bisa bikin apa aja deh ;-) Dan relevan dengan yang diberitakan CNN ini, pangsa pasar Blackberry di Indonesia memang menggiurkan untuk industri pasar gelap ;-) Saingannya mungkin cuma pasar gelap organ tubuh deh... hehehehe.....

Dengan demikian, kalau mau beli Blackberry, memang harus ekstra hati2. Supaya nggak tertipu beli barang curian atau - ini yang sering juga terjadi - barang dengan PIN kloningan.

Tetapi.... ternyata.... hati2 terhadap penipuan saja nggak cukup. Dari pengalaman gw, kita juga mesti hati2 dan super teliti terhadap layanan purna jual toko tempat kita membeli Blackberry. Kalau tidak, nasibnya akan sebelas dua belas ;-)

Februari 2009 lalu gw membeli sebuah Blackberry Bold 9000 di sebuah toko besar yang ada dalam daftar rekanan Telkomsel untuk pengadaan Blackberry. Garansinya 1 tahun, dan gw nggak ambil pusing untuk menyelidiki layanan purna jualnya. Gw pikir, garansi 1 tahun itu toh standard dan... dari pengalaman selama ini, garansi 1 tahun HP itu nggak ada yang pernah gw manfaatkan. Semua HP gw berfungsi dengan baik sampai saatnya uzur atau saatnya gw bosen ;-) Seringnya sih sampai gw merasa teknologi sudah tertinggal dan ingin beli baru... hehehe... Salah satu HP gw, Siemen S57, malah sampai sekarang masih bisa berfungsi, meskipun garansinya sudah lama berlalu ;-)

Garansi 1 tahun itu baru gw lirik ketika awal Desember lalu BB gw bermasalah. Tiba2 nge-restart melulu. Gw pikir si BB jet lag, karena baru diajak jalan2 ke Perth beberapa hari sebelumnya ;-) Tetapi... karena jet lag-nya berlanjut, terpaksa gw bawa ke tokonya pada tanggal 8 Desember 2009. Toh masih garansi.

Oleh si toko dicoba untuk diperbaiki. Disuruh tinggal beberapa hari, up to one week. Tapi... 3 hari kemudian si toko telepon: tampaknya ada kerusakan hardware, mesinnya harus diganti, sehingga harus dikirim ke service center pusat. Kira2 akan makan waktu 1 - 2 minggu.

OK, I thought I could live without a Blackberry for 2 weeks. Toh gw juga ada HP lain, yang juga bisa push email. Dan gw memang survive dari 2 minggu mengerikan itu... meskipun dengan beberapa kerugian: boss gw dan beberapa klien terbiasa berkomunikasi dengan BB Messenger. Karena BB gw off, gw nggak terima beberapa pesan mereka, dan menimbulkan kekacauan pada beberapa pekerjaan.

Oleh karena itu, I said hallelujah ketika 23 Desember lalu dikabari bahwa BB sudah bisa diambil. Dan di malam Natal penuh kemuliaan, 24 Desember, gw giring suami dan anak2 menjemput BB tercinta. Langsung connect dan terima 324 surat elektronik dari 2 minggu sebelumnya ;-)

Karena BB kembali dalam keadaan "kosong", tanpa aplikasi sama sekali, maka malam itu pula gw langsung install aplikasi2 yang gw butuhkan. Tapi.... lhoooo....kok? Blackberry-nya malah nge-hang total! Nge-blank aja layarnya, putih total!

Terpaksalah, di hari Natal yang [harusnya] ceria karena long weekend, gw terpaksa mengembalikan si BB ke tokonya. It turns out ternyata mesinnya nggak diganti seperti yang dijanjikan. Deuh, janji surga! Buat apa gw sabar menunggu 2 minggu kalau toh nggak diganti?

Dan yang bikin gw lebih murka adalah: si toko bilang BB harus ditinggal 2 minggu lagi untuk ganti mesin. WTF????? Why didn't you replace it in the first place? Dan kenapa untuk keputusan mereka yang salah, gw harus rugi 2 minggu lagi?

Gw, as you might've predicted, tentu saja ngamuk. Gw minta BB pengganti! Either mereka kasih gw BB Bold baru, tukar tambah dengan BB Onyx, atau.... gw dipinjami BB pengganti selama diperbaiki. The frontman said they couldn't.

Melalui negosiasi yang alot, akhirnya gw bisa "memaksa" bicara dengan Area Sales Manager. Gw bilang pada beliau bahwa gw nggak peduli mereka mau telepon ke atasanya, atasannya, atasannya lagi... all the way back to RIM in Canada, yang penting gw pulang bawa Blackberry! Kalau enggak, gw nggak mau keluar dari toko itu! And I meant it! Setelah gw bicara pada si Area Sales Manager, gw duduk ngejegrek dengan konfrontatif; memasang iPod di kuping dan baca novel ;-)

Setengah jam kemudian, gw diberi kabar baik: gw boleh pinjam sebuah BB Gemini selama Bold gw diperbaiki :-)

Well... I'm gonna miss my Bold. Tetapi... I could live with Gemini for a while. Dan untuk menunjukkan that I'm a bitch with some heart (halah!), that I'm able to compromise, gw terima tawaran itu.

Sejak 25 Desember 2009, gw hidup bersama si Gemini. Tiada hari dimana gw nggak kangen sama BB Bold gw... hehehe... tetapi gw sabar menanti. Gw nggak nagging nanya2 setiap hari kabarnya. Baru pada tanggal 12 Januari 2010 gw telepon untuk menanyakan kemajuan perbaikan. Katanya, mesin sudah diputuskan diganti dan sudah dipesan ke Canada tanggal 30 Desember 2009. Total butuh 2 - 3 minggu untuk menyelesaikan.

OK, that's fine. Gw nggak telfon2 lagi hingga seminggu kemudian, 19 Januari 2010. Kabar yang gw terima semakin baik: mesin sudah datang dan sudah dipasang, sekarang sedang di-QC. Hari Kamis, 21 Januari 2010, siap diambil.

Dan begitulah.... tanggal 21 Januari 2010, gw benar2 menerima telepon dari service center-nya bahwa BB gw sudah baik kembali. Body boleh lama, tapi board-nya baru. Gw pun merasa lega, serta merasa nggak harus buru2 ngambil. Nunggu hari Sabtu, 23 Januari 2010, pas bapaknya anak2 libur.

*Hey, they could've QC-ed the product, but I'm entitled to bring my own expert dong ;-)*

Sabtu, 23 Januari 2010, gw bangun dengan ceria - meskipun sehari sebelumnya sempat migren parah sampai nggak bisa bangun dari tempat tidur. Soalnya mau ngambil Blackberry tercinta ;-) Bapaknya anak2 gw cerewetin supaya cepat mandi dan mengantar nyonya ngambil harta berharganya... hehehe... Tetapi dasar bapaknya anak2 nggak bisa diperintah, akhirnya jam 4 sore kita baru sampai di toko.

Awal2nya, Blackberry berjalan mulus. Kendalanya cuma satu: low batt. Masuk akal sih, karena batereinya kan sejak 25 Desember 2009 nggak di-charge. Jadi, gw coba download dan install aplikasi2 yang gw butuhkan sambil nge-charge di toko itu. Gw nggak mau ambil resiko udah bawa pulang si BB dan nge-hang lagi begitu di-install di rumah deh! Nggak peduli bapaknya anak2 mengatakan it will take a too long time. Lagian, pertimbangan gw, kalau gw udah bawa pulang si BB, maka Gemini 'sitaan' gw kan harus dikembalikan. Lha, ntar kalau besok rusak lagi, mosok gw mesti otot2an sama Area Sales Manager lagi untuk ngemis minjem Gemini?

And it turns out to be a wise choice ;-) Karena, selama proses donlot dan install, bapaknya anak2 menemukan satu masalah: batereinya nggak ngisi!! Walaupun charger-nya diganti, lantas dicoba ganti pakai baterei lain, tetap aja tuh BB bergeming. Aliran listrik nggak masuk sama sekali. Lha??? Gimana toh???

Gw nggak tahu deh, bagaimana cara si service center itu menangani masalah. Dan gw nggak ngerti deh, apa gunanya sesi QC kalau hasilnya tetap begini. What quality did they control? Dan gw benar2 murka saat disuruh meninggalkan BB gw kembali. Whatttt???? Another 2 weeks??? Even the Gemini is not a good enough solution this time! Mereka benar2 belum pernah diterkam macan betina ngamuk, rupanya ;-)

Sekali lagi gw minta bicara langsung dengan Area Sales Manager-nya. Gw udah mau nerkam dia, eeeeh... ternyata.... per Januari 2010 Area Sales Manager-nya ganti!! Dan... si orang baru ini nggak ngerti duduk perkaranya! Nggak tahu deh gimana proses serah terima jabatannya.

Si Area Sales Manager yang baru ini memakai jurus lama yang sama dengan Area Sales Manager sebelumnya: nanti hari Senin saya urus dan berikan solusi terbaik. Hihihi... ya gw jawab saja dengan sinis: saya tidak tertarik mendengarkan lagunya Quincy Jones dan James Ingram yang gw bahas di sini ;-) You might say that you did your best, but your best clearly wasn't good enough for me ;-)

This time I demand for a replacement! Dan tetap gw nggak peduli apakah dia harus telepon atasannya, atasannya, atasannya lagi... all the way back to Canada. Kalau dia mau nyanyi lagu di atas, coba jangan fokus ke bait awal, tapi ke refrain:

Just once...
Can't you figure out what you keep doin' wrong
Why it never lasts for very long
What are you doin' wrong

Just once...
Can't you find a way to finally make it right
To make Blackberry lasts for more than just one night


*eh, gw beneran ngomong gini sambil ngamuk lho! Bukan buat bercandaan ;-)*

Dan... akhirnya, setelah negosiasi yang sama alotnya dengan yang pertama, yang berlangsung sejak jam 18:30 hingga 19:50, gw berhasil mendapatkan selembar surat pernyataan: bahwa hari Senin, 25 Januari 2010, Blackberry Bold gw akan diganti dengan satu unit Blackberry Bold baru.

Surat pernyataannya ditulis pakai tulisan tangan sih... dan nggak pakai materai, apalagi kop surat. Tapi... gw nggak takut kok. Gw kan udah belajar grafologi ;-) Kalau perlu, ntar gw minta jasa grafolog profesional untuk bersaksi bahwa tulisan itu benar2 tulisan si manager ;-)

*In fact, tulisan tangan si manajer udah gw analisa secara amatiran barusan ;-)*

So, salah satu janji gw pada service center-nya adalah bahwa gw akan memberi mereka one more chance. Oleh karena itu, gw akan sabar sampai hari Senin untuk mendapatkan brand new Blackberry Bold unit. Kalau sekali lagi gw dikecewakan... well, I'll start with publishing the shop's name on this blog ;-) We'll go public, and believe me... I can write better than Prita Mulyasari ;-)

Jadi... gw putarkan sebuah lagu manis buat service center tersebut:, untuk memotivasi mereka memberikan layanan purnajual terbaiknya, beyond any service they've ever made:



You say it`s over
I say we`ve just begun
`Coz it ain`t forever
Until our lives are done


Jangan berani2 bertanya:


What must I do to make you want to stay
And take the hurt away
And leave it all to yesterday?


You perfectly know what you should do ;-) I'll give you "one more chance for one last time." Kalau masih belum ada ke-pasti-an juga... ke laut aja deh loe ;-)

Suntingan 27 Januari 2010:

Buat pembaca yang terang2an maupun yang diam2 menunggu akhir kisah ini... maaf, akhirnya anti klimaks... HAHAHAHA... Pada Senin, 25 Januari 2010, pukul 15:16 toko yang bersangkutan sudah mengabarkan bahwa unit Blackberry Bold 9000 pengganti siap diambil. Unit tersebut sudah diambil dengan selamat pada Selasa, 26 Januari 2010, pukul 19:00.

Dengan demikian, nama toko tidak jadi dipublikasikan di tulisan ini... hehehe.... Dan semoga nggak perlu sampai dipublikasikan di waktu mendatang, karena hal itu hanya akan terjadi kalau unit pengganti ini rusak lagi ;)

Sunday, January 17, 2010

Happiness Inside: A Book to Live By

"Kok saya belum lihat review tentang Happiness Inside?"

Pertanyaan si penulis itu sempat membuat gw gelagapan Selasa lalu. Jadi nggak enak, karena ketahuan belum mereview buku yang sudah gw terima (langsung dari tangan penulisnya) pada pertiga awal Desember 2009 - alias sebulan lalu. Tapi... on my defense, gw nggak merasa ditungguin review-nya ;-) After all, dengan 11 endorser dan 2 pemberi kata pengantar - yang semuanya "punya nama" sebagai motivator atau penulis buku2 populer - gw kira buku ini harus diterima sebagai given thing ;-) Nggak perlu di-review lagi... ;-)

*Oops... paragraf di atas bohong ;-) Itu namanya jurus berkelit sambil ngeles ;-)*

Tak urung, pertanyaan itu menggugah kembali pertanyaan yang gw ajukan kepada diri sendiri: why is it so hard to review the book? Gw tahu alasannya sangat klasik: I didn't feel the emotional push during or after reading it. Tapi... yang menjadi misteri buat diri gw sendiri adalah: kenapa emotional push itu tidak muncul? Apakah bukunya nggak bagus? Enggak juga. Gw pernah meriviu buku2 yang [menurut gw] jauh lebih jelek. Yang paling nyata kan riviu tentang buku ini ;-) Sedangkan Happiness Inside, secara isi, jauh lebih bagus. Tidak ada bolong yang membuat kening gw mengernyit, meskipun bukunya sudah gw baca dari berbagai sudut. Yang belum gw lakukan "cuma" membacanya secara terbalik aja... HAHAHAHA...

Separuh dari isi buku ini bahkan bukan sesuatu yang baru buat gw. Gw pernah mendengar Gobind Vashdev, si penulis, mengucapkannya secara langsung. Gw pernah juga dikirimi beberapa artikelnya di majalah Psikologi Plus; yang kemudian masuk juga di buku ini. Pendeknya, if I had issue with this guy's way of thinking (errr... should I say "way of feeling"?), I should've known for long. Boro2 gw bakal cari bukunya ;-) Jadi, ketidaksamaan cara pandang pasti bukanlah sesuatu yang membuat gw kesulitan meriviunya.

Mungkinkah karena bukunya bukan suatu kisah naratif, seperti buku2 yang biasa gw riviu? Tidak memiliki tokoh yang bisa gw gugat penggambarannya? Mestinya sih enggak juga. Kalau berkali2 episode sebuah film seri bisa menimbulkan emotional push buat gw, mestinya nggak ada alasan gw nggak bisa meriviu buku yang berupa kumpulan kisah. Lha wong lagu dan puisi aja bisa gw bahas kok ;-)

Pulang dari pertemuan Selasa lalu, gw kontan membuka lagi buku tersebut. Gw baca lagi, lagi, dan lagi.... (meskipun tetap tidak dicoba untuk membacanya secara terbalik ;-)), dan akhirnya gw menemukan alasannya: this book is not meant to be reviewed. This book is meant to live by ;-)

To live by. Ini penjelasan yang paling tepat untuk menjelaskan kesulitan gw meriviu. Buku2, lagu2, episode2, dan puisi2 yang pernah gw riviu adalah sesuatu yang sudah selesai. Gw adalah pengamat dari luar yang menilai produk2 jadi tersebut. Buku ini - sebaliknya - adalah sesuatu yang belum jadi. Kita si pembaca (termasuk gw tentunya) adalah karakter2 yang ada di dalamnya. Tokoh2 yang akan tertentukan hidupnya setelah ini. Bak seri Pilih Sendiri Petualanganmu, buku ini adalah pilihan di akhir sebuah segmen kisah. Pilihan yang harus diambil untuk menentukan akhir kisahnya. How can I review, if I haven't finished "reading" it?

Gw ambil contoh sebuah bagian yang menarik bagi gw. Pada halaman 47, Gobind menulis yang berikut ini:

Pada pria, sebuah persoalan harus diselesaikan, tetapi bagi wanita persoalan harus di-sharing, tanpa selalu harus ada penyelesaiannya. Fenomena yang terjadi di sekitar kita: bila seorang pria mendengar keluhan dari wanita, pria secara insting akan menyela dan memberikan solusi. Padahal ini tidak diperlukan oleh pasangannya, yang diperlukan adalah telinga untuk mendengar dan sebuah pelukan yang hangat untuk menentramkan.


Sebulan yang lalu, ketika gw membaca kalimat ini, yang gw lakukan hanyalah menjadikannya status di FB. Ditingkahi dengan tambahan komentar: Maya khawatir dirinya adalah laki-laki setelah membaca kutipan ini ;-)

Hehehe... buat gw, hal ini menarik. Tetapi tidak baru. Gw tahu tentang anima-animus dalam diri tiap manusia, dan sudah selalu curiga bahwa animus - sisi maskulin - adalah si pemenang dalam diri gw. So, karena gw membaca buku ini dalam tataran kognitif, gw "cuma" mendapatkan suatu angle baru dari pengetahuan yang sudah gw tahu. Suatu angle yang bisa diubah menjadi witty status FB, tetapi berhenti di sana.

Pengetahuan kognitif ini baru berubah menjadi sesuatu yang afektif ketika tadi pagi gw jengkel berat dengan my dearest mom ;-) Seperti biasa, animus yang bertahta di diri gw menginginkan suatu jawaban singkat dan jelas atas sebuah pilihan yang gw ajukan :-) Dan seperti biasa, anima yang berkuasa di diri my mom mengarahkan beliau untuk memperumit dan membuat tidak jelas jawaban ;-)

Tapi kemudian kata2 di atas gw terngiang lagi. Dan kejengkelan gw sedikit mereda. I now remember why she does what she does ;-) Serta teringat kesimpulan di akhir kisah itu:


Apabila kita mau dan belajar memahami perbedaan-perbedaan ini lebih luas, maka kita akan sangat mungkin menguraikan banyak kekecewaan dalam bergaul. Kesalahpahaman dalam lenyap dengan cepat atau dapat dicegah.

(hal 48)


And indeed, ketika gw mencoba menerapkannya dalam sebuah tingkah laku nyata, ketika gw berhenti ngomel and start trying to understand, kejengkelan gw menghilang. I found happiness, without changing the outside world.

Sesuatu yang sederhana, bukan sesuatu yang baru, tetapi... sesuatu yang harus kita segarkan lagi, lagi, dan lagi dalam kehidupan sehari-hari. Dan di situlah fungsi buku ini: to remind us what we've already known again and again, until we live by it.

Ada puluhan kisah dalam buku ini. Semuanya sederhana dan disampaikan dengan cara yang sangat sederhana. Jika yang dicari adalah sebuah pengetahuan baru dalam buku ini, mungkin kekecewaanlah yang akan didapat. Jika yang dicari adalah kecanggihan writing skill, apalagi kata2 canggih berbunga2, juga kekecewaan yang akan didapat.

Karena letak keistimewaan buku ini adalah ketidakistimewaannya.

Itu yang membuat gw kesulitan meriviunya. Gw terbiasa pada sesuatu yang "istimewa", sesuatu yang ekstrim - entah yang thought provoking, atau sesuatu yang sangat emotion provoking. Gw tidak terbiasa dengan nuansa2 hati yang tidak memprovokasi; sesuatu yang merasuk perlahan2 tanpa kita sadari.

Perhaps this is a long shot, tetapi.... buku ini membuat gw teringat pada sebuah puisi Pak Sapardi [Djoko Damono] yang gw sukai: Metamorfosis

ada yang sedang menanggalkan
kata-kata yang satu demi satu
mendudukkanmu di depan cermin
dan membuatmu bertanya

tubuh siapakah gerangan
yang kukenakan ini
ada yang sedang diam-diam
menulis riwayat hidupmu
menimbang-nimbang hari lahirmu
mereka-reka sebab-sebab kematianmu

ada yang sedang diam-diam
berubah menjadi dirimu


Puisi Pak Sapardi ini dulu selalu membuat gw bertanya2: siapa yang berubah menjadi diri gw? Who cares enough (or is busybody enough) to do that? Membaca buku ini membuat gw sadar: it's the other side of myself, if I care enough to find the happiness inside.