Saturday, February 21, 2009

Fix

Ada satu rasa yang berbeda ketika menonton episode Desperate Housewives ini. I got hooked, dan mata gw dengan mudah berkaca2. Rasanya cerita itu begitu "kena" di hati gw.

Ceritanya memang cukup menyentuh. Tentang seorang handyman, Eli Scruggs, yang meninggal mendadak di Wisteria Lane. Walaupun Eli Scruggs memang seorang tukang handal - there is nothing Eli could not fix, begitu kata pembuka episode tersebut - ternyata bukan hanya kepiawaiannya yang akan membuat mereka kehilangan. Since Eli has affected their lives more than just fixing a broken vase.

Melalui flashback, digambarkan bagaimana Eli - sebagai seorang tukang - kerapkali menjadi saksi kegundahan si nyonya rumah. Gaby, si mantan top model, yang kesepian di pinggiran kota. Bree, si nyonya rumah berpotensi yang dijadikan "burung penghias sangkar" oleh suaminya. Lynette, si wanita karir yang torn between two choices; antara jadi ibu rumah tangga dan kembali berkarir. Dan tentu saja tak lupa si pengejar cinta Susan yang bolak-balik putus cinta.

Eli digambarkan sebagai tokoh yang mempengaruhi hidup mereka dengan cara yang sederhana. Dia menyimpankan draft resep Bree yang dibuang karena sang suami tak ingin Bree sibuk mengejar mimpi menulis buku. Dia menyelamatkan bayi Lynette dari dehidrasi setelah tertinggal di mobil lantaran ibunya sibuk bertelepon dengan seorang boss perusahaan yang merekrutnya. Dia yang memperkenalkan Gaby pada "ibu2 sederhana di kampung itu" dan mengingatkannya ketika Gaby made the wrong first impression.

Untuk segala apa yang diperbuatnya itu, kematian Eli menjadi sangat berarti bagi para desperate housewives. Semua ingin menyumbang sesuatu, semampunya, untuk Eli. Dan... karenanya... meskipun Eli sebatang kara, pemakamannya sangat indah dan dihadiri banyak sekali orang.

Seperti kata Bree di penghujung episode ketika merapikan karangan bunga di peti mati Eli sebelum diturunkan, "I want to fix something for Eli. For a change."

Dan tentu saja, "fix something" di sini memiliki makna yang dalam.

And then I realized why I got hooked with this episode. Once, there was another "Eli" in my life.

***


Namanya Moeljatmo. Dulu gw memanggilnya Oom Moel, namun kemudian berganti menjadi Yang Mo setelah Ima lahir. Sejak gw kecil, Yang Mo ini sering tiba2 muncul di rumah. Menginap beberapa hari, lantas menghilang lagi. Baru muncul berbulan2 kemudian, atau malah pernah beberapa tahun kemudian saat beliau melanglang bekerja di Kalimantan dan Bali.

Gw hanya tahu bahwa Yang Mo ini sahabat almarhum Bapak ketika SMA dulu. Seorang ahli keuangan dan procurement hotel, yang pernah menangani beberapa hotel besar. Penggila bola, penikmat rokok Gudang Garam Surya, dan tidak pernah minum cairan selain kopi Kapal Api Spesial yang diseduh dengan air mendidih. Dapat dikatakan sebatang kara setelah kehilangan istri dan anak perempuannya. Selebihnya gelap. Partly karena gw memang nggak ngorek2, but mainly karena beliau memang nggak mau cerita panjang.

Proyek hotelnya yang terakhir di Bali hancur karena imbas krisis ekonomi 1997. A blessing in disguise, karena kejadian itu memungkinkannya kembali ke Jakarta untuk menghadiri pernikahan gw, anak sahabatnya. Having nothing to do and nowhere to live, Bapak kemudian menyediakan kamar untuknya. Plus kemudian menjadi teman diskusi soal keuangan perusahaan, dan membantu menjalankan kantor Bapak. Saat itu memang Bapak sudah mulai sakit, dan Bapak butuh teman lain untuk berdiskusi setelah gw sibuk menata hidup baru :-)

The blessing in disguise continued ketika sakit Bapak semakin parah. Kehadiran Yang Mo sangat membantu kami. He took charge, mengatakan bahwa kami - gw & bapaknyaimanara - fokus saja bekerja, sementara adik gw fokus saja menyelesaikan skripsi. Tak perlu bingung membagi tugas siapa yang harus menjaga Bapak di RS. It really helped, karena sebagai pegawai junior yang belum genap 2 thn bekerja - apalagi gw punya bayi yang harus diurus - I have already had more than enough things to juggle.

Ketika Bapak meninggal, kami kira ia akan pergi juga dari rumah. Toh, sahabatnya berbagi cerita sudah tidak ada. Apalagi sudah mulai ada beberapa tawaran dari sahabat2nya yang lain untuk tinggal di rumah mereka. Tapi ternyata tidak. Beliau tetap tinggal di rumah kami. Di kemudian hari, setelah beliau meninggal, gw baru tahu dari teman2nya bahwa beliau selalu kangen Ima kalau pergi lama.

Lambat laun, kami pun menganggapnya sebagai keluarga sendiri. Bukan hanya sebagai temannya almarhum Bapak yang tinggal bareng kami. Memang tak susah menganggapnya demikian, karena beliau juga berusaha became the part of our family. Beliau yang mengangkat dirinya sendiri sebagai juru bayar PLN, juru bayar PBB, juru cuci mobil, dan bertukang kecil2an - ngecat dinding, memperbaiki pipa bocor, dll.

Tiap pekerjaan itu pun dilakukannya dengan serius. Untuk bayar PLN, misalnya, tiap tanggal 2 beliau sudah menyodori gw perkiraan biaya listrik bulan itu berdasarkan catatan dari meteran. Perhitungannya pun akurat; plafon atas yang paling banyak berselisih Rp 10,000. Kalau ada barang yang perlu diperbaiki pun beliau selalu survei dulu bagaimana dan biaya perbaikannya, untuk kemudian menyodori gw perhitungan akuratnya. Imbalannya? Tidak ada. Cukup dengan "boleh" menjadi "Eyangnya Ima" saja.

Ya. "Eyangnya Ima". Demikian gw menjawab pertanyaan orang2 tentang siapa beliau. Dan memang beliau begitu sayang pada Ima, meskipun tidak ada pertalian darah antara mereka. Tak segan2 beliau memarahi gw ataupun bapaknyaima, kalau ada cara pengasuhan yang tidak berkenan di hatinya :)

Dan semakin lama, ia makin menjadi bagian dari keluarga kami. Tak terhitung berapa kali ia menjadi penengah kalau gw dan bapaknyaimanara sedang tak sependapat. Atau menjadi penengah kalau antara gw dan ibu gw ribut2an soal pola pengasuhan. Tanpa diminta, dan kadang2 komentarnya bikin gw pingin nyolot. Bahkan, tak jarang kami akhirnya adu mulut... hehehe... Tapi... kalau sudah dipikir dengan tenang, seringkali komentarnya ada benarnya juga :)

Kamis petang, 30 Oktober 2008, beliau berpulang secara tiba2. Beliau, yang tak pernah sakit, yang dalam usia 70 thn lebih masih kuat mengangkat spring bed ke lantai dua sendirian, yang baru 1 jam sebelumnya menjemput Ima dari les Inggris tanpa keluhan apa2, tiba2 merasa sesak nafas. Begitu tipis batas antara hidup dan mati, hingga jarak 500m antara rumah kami dan UGD pun tak sanggup dilaluinya. Beliau meninggal tepat ketika kendaraan memasuki pintu gerbang RS.

Pemakaman beliau sederhana saja. Tidak penuh dengan karangan bunga, atau kemeriahan lainnya. Pemakaman Yang Mo hanya sebuah lahan sederhana di TPU dekat rumah, dengan sejumlah kecil pelayat - tetangga dekat, teman2 SMAnya yang berhasil kami hubungi, dan [miraculously] beberapa kerabat yang akhirnya kami temukan. Namun pemakaman itu penuh cinta, karena kami benar2 merasa kehilangan keluarga. Gw bukan hanya kehilangan seorang juru bayar, seorang kepercayaan untuk menjemput Ima les, seorang teman nonton sepakbola, tapi... gw juga kehilangan "orang tua". Orang yang memberi nasihat saat gw butuh - tak peduli gw tertarik atau tidak. Orang yang berani mengingatkan kalau gw salah - meskipun beresiko adu mulut dengan gw.

Ya, he has become a part of our family, as he has fixed so many things for us. And we - in return - wants to fix something for him. For a change.