Tuesday, January 20, 2009

Perempuan Berkalung Selimut Perca

Buat gw, menulis entry di blog itu laksana merajut. We start with a design, and figure out how to bring it into realization. Mana benang yang harus dirajut dulu, kapan harus ganti benang, dll. Kadang2 perhitungannya meleset, dan harus dibongkar sedikit supaya desain tetap terwujud. Atau kadang2, kalau salah perhitungannya nggak fatal, ya biarin aja menjadi aksentuasi dari rajutan itu.

Gw tidak pernah menulis entry di blog dengan metode membuat selimut perca ;-) Mengumpulkan perca dan kemudian menjadi bagian per bagian yang kelihatannya cocok - tanpa punya bayangan hasil akhirnya seperti apa. I do not appreciate - let alone aspire - surprising result.. hehehe... Lagipula, menurut gw, metode ini berbahaya untuk suatu karya tulis. Nanti bisa2 apa yang disampaikan melenceng jauh dari rencana.

Makanya, gw sangat gemas kalau melihat sebuah buku yang kelihatan seperti selimut perca ;-) Langsung gw bergairah untuk mengomentari. Seperti buku Perempuan Berkalung Sorban ini ;-) Fragment demi fragment kehidupan Annisa (sang tokoh utama) terajut, tapi jadinya aneh dan saling bertolak belakang - ditinjau dari segi penokohan. Menimbulkan kesan bahwa sang penulis, Abidah el Khalieqy, memaksakan cerita dari orang2 yang berbeda untuk disatukan di satu tokoh. Abidah tidak mulai dengan membuat penokohan untuk Annisa, tapi hanya menggunakan Annisa sebagai kapstok - tempat segala hal bisa disangkutkan.

Kegemasan gw muncul sejak awal cerita. Tepatnya di bagian cerita ketika si kecil Annisa yang duduk di kelas 5, mengajukan pertanyaan sebagai berikut:

Perempuan yang sedang menstruasi juga dilarang masuk masjid. Padahal Wak Tompel, yang setiap malam minum tuak dan berjudi di kedai Yu Sri, tidak dilarang untuk tidur menggelosor di dalam mesjid dan tak seorangpun mengatakan itu haram. Demikian pula Wak Burik, blantik sapi yang membuka praktek rentenir itu, sering juga datang dan ngorok dengan mulut berbusa di mesjid. Tak satu orang pun berani mengatakan bahwa tubuh-tubuh mereka jauh lebih kotor dari perempuan yang tengah menstruasi. (hal 73 - 74)


Inilah hal yang pertama membuat gw merasa Abidah cuma menempel2kan cerita ke tokoh Annisa, tanpa mempedulikan penokohan ;-) Psychologically speaking, gw ragu ada anak kelas 5 SD, yang bahkan di bagian2 sebelumnya dari buku itu diceritakan sebagai tidak tahu apa2 tentang the facts of life, akan mengajukan suatu komparasi abstrak seperti ini: membandingkan "kotornya" tubuh perempuan yang tengah menstruasi dengan laki2 yang melanggar aturan agama.

Anak kelas 5 SD, gw tengarai masih dalam level berpikir concrete operational. Akan berbeda jika tokoh Annisa mempertanyakan kotornya perempuan yang sedang menstruasi dengan busa liur Wak Blantik. Tapi... membandingkan kekotoran fisik tubuh perempuan yang mengeluarkan najis berupa darah dengan kekotoran abstrak laki2 rentenir? Hmmm.... ini lebih mirip cara berpikir perempuan dewasa yang dijejalkan ke tokoh kelas 5 SD tanpa memperhatikan penokohan ;-)

Untuk soal darah ini, gw sendiri punya pengalaman yang mirip waktu kelas 3 SD. Gw jatuh dan lutut gw berdarah saat berangkat mengaji. Oleh Mbak Ita, teman mengaji yang anaknya Pak Haji Toha, gw disuruh pulang. Nggak boleh ikut mengaji. Alasannya, "Kan kakinya luka, berdarah. Nanti darahnya menetes di mesjid, jadinya najis". Di kepala kecil gw, omongan ini masuk akal. Mesjid tempat sholat, yang bahkan sudah bersih badan pun harus wudhu dulu. Lha... kalau sajadahnya ketetesan darah, orang nggak bisa sholat di situ dong?

Dan... dalam bayangan gw saat ini, seorang anak kelas 5 SD lebih mungkin mengaitkan larangan masuk mesjid bagi perempuan yang sedang haid dengan kekotoran fisik - daripada berpikir kritis dan membuat komparasi abstrak tentang kekotoran abstrak seorang rentenir. Anak kelas 5 SD dimana pun kecil kemungkinannya berpikir abstrak seperti ini, apalagi tokoh yang diceritakan masih agak naif seperti Annisa ini ;-)

*Even di usia gw yang udah 30 lebih ini pun, gw masih heran ada yang mempertanyakan larangan masuk mesjid - apalagi sholat dan melakukan ibadah lain - bagi perempuan yang sedang menstruasi. It's all about something physical, kan? Segala sesuatu yang keluar dari dubur maupun alat kelamin itu hitungannya najis kan? Lha... emang darah haid keluarnya dari mana? Dari ujung jempol? HAHAHAHA...*

Fragment itu, walaupun sepele, menyisakan pertanyaan di kepala gw. Mengapa Abidah harus menjejalkan fragment ini di usia Annisa yang masih sangat muda, dan membuat ceritanya aneh? Kenapa pertanyaan ini tidak disimpan hingga Annisa lebih dewasa?

Dan... seiring dengan lebih banyaknya gw membaca halaman buku itu, pertanyaan gw terjawab dengan sendirinya. Abidah terpaksa menjejalkan fragment ini di usia muda, karena.... Annisa dewasa akan difokuskan pada cerita tentang [meminjam istilahnya Tante Okke di sini] "aktivitas penyerbukan"... HAHAHAHA...

Iya, bener deh! Sejak Annisa dinikahkan hingga akhir novel, isinya didominasi oleh aktivitas penyerbukan ;-) Baik berupa perkosaan dalam rumah tangga yang dialami Annisa, asyik masyuk bersama Khudori si suami kedua, sampai obrolan dengan madunya dan/atau istri pamannya. Sampai2 gw ingin mengkategorikan novel ini sebagai X-rated dan memanfaatkan Pasal 22 UUP ;-). Gaya bahasanya memang metafora, tapi.... dari foreplay sampai orgasme mah dijabarkan dengan detil. Jadi sami mawon dengan buku2 stensilan ala Nick Carter ;-) Simak bagian yang berikut ini:

Kurasakan ada sesuatu yang merembes, meleleh dari dalam kehangatan yang tersembunyi. Tanpa bisa kutahan, aku mendesah. Merasai semua dan ingin terus berada dalam situasi itu untuk mencapai sesuatu yang entah apa, aku tak tahu. Dengan refleks yang spontan, kuarahkan tangan Mas Khudori untuk menyentuhkan jarinya pada pipi mawar yang sedang mekar di bagian tubuhku. Dan ia pun tahu, apa yang kumaksudkan. Mengusapnya dengan pelan. Kurasakan jemarinya basah oleh cairan hangat yang keluar dari kedalaman rasa. (hal 223)


Nenek2 disko juga tahu deh, bahwa ini adalah penggambaran acara belah duren ;-) Dan tahu apa yang dimetaforakan dengan istilah pipi mawar yang sedang mekar itu ;-)

Oh, well, I'm not a hypocrite. Gw sih nggak keberatan baca adegan aktivitas penyerbukan. Nggak perlu dimetaforakan dengan "pipi mawar" pun nggak apa2 ;-) Tapi... fakta bahwa buku ini banyak bicara tentang adab dalam agama, gw jadi mempertanyakan perlunya menjabarkan aktivitas penyerbukan sevulgar ini.

OK-lah, kalau dikatakan penggambaran aktivitas penyerbukan itu perlu sejelas2nya untuk memberikan gambaran kepada muslimah2 muda tentang what to expect dalam kehidupan seksual rumah tangga. Tapi... dengan penjabaran laksana "Step-by-Step Sexual Intercourse for Dummies" begini, siapa yang jamin nggak akan ada yang menggunakannya untuk membayang2kan "pipi mawar", baik "pipi mawar" orang lain ataupun "pipi mawar" dirinya sendiri ;-)?

*Swear, "pipi mawar" adalah the funniest idiom of the year... no, perhaps that is the funniest idiom of the decade ;-)*

Belum lagi penjabaran vulgar lainnya seperti berikut ini:

"Nisa, mimpikan aku nggak semalam?
"Nggak tuh! Pasti Lek Khudori yang mimpikan aku"
"Kau benar. Semalam aku mimpi basah bersamamu"
(hal 166 - 167)


Hmmm... gw bukan ahli agama sih. Tapi... coba deh gw dicerahkan: hadis atau ayat Al Quran yang mana yang dapat dijadikan dalil untuk membenarkan seorang laki2 dengan bebas menceritakan pada perempuan yang bukan muhrimnya bahwa semalam ia mimpi basah tentang perempuan itu ;-)?

Even tanpa dihubungkan dengan nilai2 agama, menurut gw improper banget lho, ada laki2 cerita ke seorang perempuan yang bukan apa2nya dengan begitu gamblang bahwa semalam ia memimpikan si perempuan dalam konotasi seksual. Kalau gw jadi Annisa sih si Khudori gw gampar... hehehe... Soalnya "menjadi obyek kenikmatan seksual" kan bukan suatu kebanggaan buat gw. Gw akan merasa dimanfaatkan! Mending kalau gw dapat royalty ;-)

Dan bukan sekali itu saja ada adegan [yang setahu gw dalam Islam dianggap] anonoh antara Nisa dan "cinta sejatinya", Khudori. Ada bagian lain yang membuat gw mengucek2 mata, yaitu pertemuan kembali Nisa dan Khudori - saat Khudori pulang dari belajar agama di Berlin dan Nisa masih menjadi istri Samsudin

... aku pamit mengundurkan diri menuju kamar tidur, sesaat kulihat Lek Khudori agaknya juga sudah tak tahan dengan sambutan yang mengharu-biru dirinya. Seakan ada kesepakatan atau hati kami yang sama-sama digempur kerinduan. Dan ketika hanya berdua di ruang makan, kami berpelukan untuk yang kedua kali. Ia membanjiri ciuman di pipi dan mengecup keningku dengan tekanan khusus. Darahku mendesir-desir dan detak jantungku mejadi labil
(hal 147 - 148)


Coba deh, gw dicerahkan ;-) Hadis dan ayat Al Quran mana yang dapat membenarkan bahwa seorang laki2 boleh menciumi pipi dan kening istri orang atas nama cinta sejati? Tak peduli sebrengsek apa pun laki2 yang menjadi suami Annisa, statusnya kan istri orang? Apa hak Khudori menciumi seperti itu? Dengan nafsu pula! Bohong aja kalau ciumannya nggak pakai nafsu... wong sampai "membanjiri pipi dan kening dengan tekanan khusus" ;-)

Kalau Khudori emang benar2 pria baik2, dari dulu dia sudah melamar Annisa dari orang tuanya. Sebelum Annisa dinikahkan dengan orang lain ;-) Bukan jadi slonong boy seperti ini ;-)

***

So tell me, apa yang ada di kepala si penulis saat mengelaborasikan aktivitas penyerbukan berkali2. Masihkah dia mengingat desain utama bahwa buku ini adalah tentang bagaimana Islam memandang hak reproduksi perempuan seperti yang banyak disebut di setiap halamannya? Atau jangan2 memang ia sedang menjahit selimut perca, dan melihat perca berupa aktivitas penyerbukan adalah sebuah perca yang indah, sehingga harus digunakan sebanyak2nya?

Atau jangan2 memang tidak pernah ada desain utama berupa syiar tentang bagaimana Islam memandang hak reproduksi perempuan. Itu hanya perca lain yang ditempelkan dalam selimutnya. Buktinya, dengan gamblang, ia pun menafikan hak bayi untuk mendapatkan ASI seperti di bawah ini:

"Jika ibunya berkenan menyusui, apakah seorang ibu punya pilihan lain untuk tidak menyusui anak kandungnya sendiri?"

"Tentu saja, Sayang, adalah hak seorang ibu untuk mau menyusui atau tidak terhadap bayinya. Ibulah yang berwenang untuk menentukan apakah ia mau memberikan ASI-nya ataukah ia lebih senang jika orang lain menyusuinya, atau diganti dengan susu kaleng, misalnya. Bukankah Rasulullah juga disusukan pada Halimah Sa'diah dan bukan ibunya sendiri yang menyusui?"
(hal 252)


Hihihi... bagian ini, gw yakin, bakal menuai protes dari AIMI ;-) Disusui kan hak bayi juga, bukan wewenang mutlak ibu ;-) Tapi biar AIMI aja deh yang protes, gw fokus pada masalah utama: gw jadi pingin tahu Khudori ini anak pesantren mana... hehehe... Gw nggak pernah masuk pesantren sih. Tapi.... gw kok ragu ya bahwa alasan Rasulullah disusukan pada orang lain adalah karena ibunya memilih untuk tidak menyusui ;-) Emang ibunya Rasulullah kenapa nggak mau menyusui anaknya, menurut si Khudori itu? Karena nggak dapat maternity leave dari kantornyakah ;-)?

Dengan makin banyaknya kejanggalan2 tentang perilaku "tidak Islami" ini, salah nggak sih kalau gw kemudian mempertanyakan misi penulisan buku ini. Sebenarnya apa yang ingin disampaikan melalui buku ini? Apa fungsi penggunaan latar belakang Islam dalam buku ini?

Dan gw khawatir bahwa - sadar atau tidak - bahwa latar belakang Islam hanyalah perca yang kebetulan dipunyai oleh si penulis dan dianggap bagus untuk menyelesaikan selimut percanya ;-)

Suntingan: 21 Feb 2009:

Entry ini hanya membahas bukunya. Untuk bahasan filmnya ada di sini, sementara yang di sini adalah bahasan alur ideal buat novel ini