Wednesday, August 26, 2009

Tetangga

Rumah yang gw tinggali sekarang dulunya merupakan rumah almarhum Bapak. Gw sudah tinggal di rumah itu sejak tahun 1976. Kami merupakan salah satu orang pertama yang mendiami kompleks itu. Ketika pertama kali pindah ke sana, daerah itu belum terjamah listrik. Jalan raya yang sekarang dilalulalangi berbagai bis kota pun dulu masih terdiri dari 1 jalur tak beraspal. Boro2 menjadi total 4 lajur seperti sekarang.

Tetangga sekitar rumah kami pun hingga sekarang masih banyak terdiri dari "fosil2" angkatan 70an akhir atau 80an awal. Beberapa di antaranya malah generasi kedua dari penduduk awal; yang membeli rumah di dekat rumah orang tuanya. Yaaah... semacam gw lah, yang tinggal bersebelahan dengan adik dan Ibu gw ;-) Jadi, jangan ditanya mengenai keguyuban antar tetangga ;-) Hubungan kami umumnya sangat harmonis, penuh dengan tepa selira. Karena rata2 dari kami sudah kenal sebanyak 2 - 3 generasi, maka dapat dikatakan kami tumbuh besar dalam sistem nilai yang sama.

Comfort zone ini mulai berubah ketika rumah di seberang rumah kami dibeli oleh "pendatang" baru. Sejak awal ia membangun rumahnya, kami sudah bertanya2 seperti apa orangnya ;-) Rumah yang dibangunnya persis rumah2an Barbie, dengan warna krem mencolok ;-) Dan ketika akhirnya keluarga baru itu muncul, tak ayal kami sering membatin, "Ooooh... pantesan".

Ya, tetangga baru gw itu memang tajir mampus. Seorang pedagang kain di sentra perdagangan kain Jakarta yang omzetnya berkisar pada angka yang cukup fantastis. Secara finansial, jelas kelas sosialnya di atas sebagian besar dari kami - yang umumnya bekerja sebagai PNS atau pegawai swasta.

... tetapi milieu-nya jelas berbeda ;-)

Satu hal yang mencolok dan bikin banyak tetangga geleng2 kepala, misalnya, adalah kebiasaannya membunyikan klakson pukul 23:30 malam! Ya, tetangga gw ini memang sering pulang malam. Pada saat itu, biasanya para pembantu rumah tangga mereka sudah terlelap di lantai 3. Padahal rumahnya yang berwarna pastel mencolok itu - tidak seperti rata2 rumah di lingkungan kami - selalu tergembok di balik pagar tingginya. Dan..... yang gw nggak ngerti sampai sekarang, mereka tidak punya bel!!!

Nah, bayangkan saja berapa banyak beauty sleep gw yang terbuang lantaran gw tiba2 terbangun mendengar klakson bertalu2 menjelang tengah malam ;-) Soalnya kamar gw menghadap ke jalan raya. Jelaaas, kalau klakson berbunyi, gw lebih dulu dengar daripada pembantu rumah tangga mereka... hehehe...

Awal2nya gw suka nyolot kalau mereka mulai konser jelang tengah malam gitu ;-) Gw suka keluar ke balkon dan memandang mereka dengan judes. Sambil sekali2 mengasah ketajaman lidah gw sambil pura2 bertanya, "Mau saya tolong telfonkan biar pembantunya dengar?" ;-)

Tetapi, lama2 gw males juga menjudesi mereka. Pernah gw bener2 nyolot dan ngelabrak mereka, eeeeh... bukannya berubah malah mereka gantian marah2 ;-) Mereka yang nggak bisa ngerti kenapa mereka nggak boleh mengklakson di depan rumah mereka sendiri ;-)

Yaah... akhirnya gw mengamini kata bapaknyaimanara: nggak semua bisa diubah... hehehe... Ini masalah milieu. Kalau dari kecil mereka sudah tidak dididik seperti kami, yaaa... mereka nggak ngerti kenapa harus berlaku seperti kami. Dan sebagai social climber, besar kemungkinan mereka memang tidak mendapatkan didikan yang sama dengan kami ;-) Justru itu sebabnya mereka pindah ke lingkungan kami, toh ;-)? Untuk berusaha "menjadi" kami ;-)

Tapi... tentu saja, sebuah "tiruan" akan selalu akan mengalami lack of philosophical depth. Mereka tidak akan pernah "menjadi" kami karena tidak memiliki dasar2 yang kami miliki. Mereka hanya akan menjadi "tiruan" kami. Alamat mereka memang sama dengan kami, rumah mereka bahkan lebih megah daripada kami, tapi.... in their soul, mereka tetap individu yang tidak seperti kami ;-)

Sekarang, kalau mereka bikin konser jelang tengah malam, paling2 gw membatin, "Dasar! Kam*****n!", sambil membenahi bantal dan guling gw untuk pindah ke kamar lain.

***

Dalam skala yang berbeda, gw rasa negara tercinta Indonesia ini juga mengalami hal yang sama: punya tetangga yang milieu-nya enggak banget. Tetangga yang nggak ngerti bagaimana menjaga silaturahmi serta tepa selira. Tetangga yang "bukan kita", tapi berusaha keras untuk "menjadi kita" dengan meniru identitas2 kita. Semacam tetangga gw yang social climber itu ;-)

Dan mungkin, in a way, tetangganya Indonesia ini memang social climber ;-) Setidaknya kalau menurut logika almarhum Bapak ;-)

Bapak selalu mengatakan bahwa menjadi koloni dari penjajah amatir seperti Belanda membuat kita lebih beruntung dari bekas koloni penjajah profesional seperti Inggris. Penjajah amatir belum ngerti benar bagaimana menghancurkan jatidiri bangsa jajahannya... hehehe... Mottonya saja devide et impera; pecah belah dan kuasai ;-) Artinya, mereka membuat jatidiri masing2 suku menjadi signifikan supaya terjadi perpecahan dan mudah dikuasai. Ditinjau dari sisi baiknya, hal ini membuat budaya masing2 kelompok etnis tetap bertahan.

Beda dengan penjajah profesional seperti Inggris, yang lurking their colony into believing that they are part of "them" ;-) Koloni dirangkul dan dibuat lumayan bahagia, sampai saatnya mereka tidak dibutuhkan lagi dan "dihadiahi" kemerdekaan. By that time, koloni sudah terlalu jauh dari jatidiri mereka sendiri. Mangga yang habis manis sepah dibuang, tidak akan menjadi mangga lagi kan ;-)? Bahkan mungkin sudah lupa kalau dia mangga ;-) Beda dengan pohon mangga yang tumbuh liar meskipun sudah dilarang2 - sampai kapan pun mereka akan tetap jadi mangga ;-) Apalagi mangga yang memang dipupuk biar beda dengan pisang, jambu, dan jeruk ;-)

Dan itulah yang terjadi ketika mangga yang sudah sepah itu berusaha bangkit menjadi perkebunan baru. Lupa bahwa dirinya mangga, mulailah mereka mengadopsi sifat2 buah di kebun sebelah ;-) Padahal kebon sebelah isinya duren dan pepaya... hehehe... tapi di-klaim sebagai "mangga". Jadi deh, ada mangga berkulit duri dan berbiji banyak ;-)

Enak? Yaaaaah... gw sih belum pernah ngerasain. Tapi kalo menurut gw sih mangga asli lebih enak. Biar aja mereka mau klaim diri sebagai "truly tropical fruit", dan mengadopsi sifat2 berbagai buah2an tropis, tapi..... mereka akan jadi fruit punch, bukan mangga, seperti yang mereka idam2kan ;-)

So, itu yang membuat gw nggak terlalu ribut dengan ulah tetangga sebelah yang mengklaim beberapa budaya. Mulai dari batik, lagu Rasa Sayange, Reog Ponorogo, dan sekarang Tari Pendet ;-) Gw sangat percaya bahwa mereka hanya akan mampu mencontek tampilan fisiknya, tidak soul-nya ;-)

Itu sudah terbukti saat kunjungan gw ke rumah tetangga itu ;-) Pemandu wisatanya sempat membawa kami ke sentra batik. Dan.... sebagai orang yang pernah belajar membatik dan cukup akrab dengan filosofi corak2 batik, gw segera melihat bahwa batik tetangga itu lack of philosophical depth. Coraknya memang bagus, tetapi hanya bagus di corak saja. Tidak seperti batik Mataraman (Solo/Yogya) yang setiap coraknya mengandung filosofi tertentu seperti Wahyu Tumurun, Truntum, Sidomukti, dll. Dalam budaya turunan Mataraman Jawa, penggunaan corak kain untuk setiap acara pun tidak dapat sembarangan. Harus cocok filosofinya. Naah, apakah negara tetangga kita memiliki itu? Kelihatannya tidak ;-)

[OOT mode: ON]

Uhmmm... ajang ini juga ingin gw pergunakan untuk mengomentari sebuah komentar di sini, yang menggunakan kalimat " Sekarang tolong deh jawab batik itu yang bener dari Solo, Yogya, atau Pekalongan atau mana? Itu yang internal... " sebagai argumen bahwa Malaysia juga berhak mengklaim batik karena memiliki corak berbeda ;-) Hehehe... menurut gw ini argumen yang lemah, karena sebenarnya Solo, Yogya, dan Pekalongan dulunya memang merupakan bagian dari Kesultanan Mataram.

So, hypothetically, kalau batik berasal dari Kesultanan Mataram, itu menjelaskan mengapa Solo, Yogya, dan Pekalongan memiliki tradisi batik yang kuat. Bahkan menjelaskan mengapa Madura memiliki tradisi batik yang unik, meskipun sudah terpisah pulau, karena Pangeran Prasena - yang kemudian bergelar Tjakraningrat I ketika menjadi raja Madura - adalah putra angkat Sultan Agung dari Mataram.

Ini sekaligus menjelaskan mengapa Jawa Timur, yang sebenarnya lebih dekat dari Jawa Tengah daripada Madura, tidak memiliki tradisi batik yang kuat. Karena mereka bukan bagian dari Mataram ;-)

Dan kalau dicermati, hanya daerah2 yang menjadi bagian dari Kesultanan Mataram yang memiliki tradisi batik kuat. Sumatera tradisinya songket, sementara di Nusa Tenggara Timur corak kainnya beda.

[OOT mode: OFF]

Back to topic... ;-)

So, gw tidak terlalu khawatir pula dengan pengklaiman Tari Pendet sekarang. Mereka mungkin bisa mengklaim Tari Pendet, tapi.... satu kunjungan ke Bali, atau exposure terhadap satu tarian Bali lainnya, akan membuat siapa pun sadar bahwa Tari Pendet itu dari Bali ;-) Sebab benang merah antara Tari Pendet dengan tarian2 Bali lainnya lebih jelas dan lebih kuat daripada benang merah antara tari tersebut dengan budaya Malaysia lainnya ;-)

***

Jadi... inilah usul gw untuk seluruh bangsa Indonesia: biarkan saja Malaysia mengklaim budaya kita ;-) Biarkan mereka menikmati lagu Rasa Sayange, Tari Pendet, batik, bahkan Reog Ponorogo di Malaysia.

Jika turis mancanegara itu sudah tertarik dan mengagumi, baru kita beri selebaran:

Do you enjoy the dance/song/printing? That's just the preview.
Get the complete version in Indonesia

Sama tetangga harus simbiosis mutualisme dong.... ;-) Kita "pinjamkan" budaya kita pada mereka, tapi kemudian kita manfaatkan promo pariwisata mereka for our own advantage ;-)

*Sst... itu juga yang gw lakukan terhadap tetangga gw ;-) Gw biarkan aja dia yang mengaspal seluruh jalanan depan rumah gw... hehehe... Jalanan mulus, itung2 ganti ruginya terhadap beauty sleep gw yang hilang ;-)*

Wednesday, August 19, 2009

Sokoban 3D

Suka main sokoban nggak? Kalau suka, sekarang udah ada sokoban 3D lho! Gratis lagi ;-) Beneran, kemarin bapaknyaimanara baru main ;-)

Ceritanya, di akhir extended weekend kemarin bapaknyaimanara ketiban sampur untuk menemani nyonya belanja bulanan ;-) Dalam arti harafiah nih, yaitu harus ikut dorong2 kereta belanjaan, serta ngangkat2 beras. Nggak kayak biasanya yang cuma judulnya aja nemenin belanja, tapi akhirnya "cuma" momong Nara di tempat bermain atau kabur kelayapan lihat barang2 elektronik :-) Maklum, kemarin si nyonya harus belanja bulanan sendirian. Nona Ima nggak mau ikut, lantaran sedang khataman Twilight entah untuk ke berapa kalinya ;-)

Di luar dugaan, ternyata hipermarketnya penuh sesak. Kami belanja dengan susah payah. Dan waktu mau bayar, antrinya udah lebih panjang dari antrian BLT... hehehe... Emang sih nggak pakai dorong2an, tapiiii.... tetap aja bikin capek ;-)

Dengan demikian, ketika akhirnya kami dilayani oleh kasir, dan ditanya apakah belanjaan kami yang seabreg2 itu mau dimasukkan kardus saja, kami langsung mengangguk setuju. Nggak kebayang bahwa tubuh lelah kami [halah! hiperbola!] harus melalui fase melelahkan selanjutnya: memindahkan satu per satu kantong plastik belanjaan ke bagasi mobil.

*Eh, bohong deh. Kami tidak segera mengangguk setuju dengan kompaknya ;-) Pakai berdebat dulu dikit ;-) Sebenernya sih yang nggak mau melewati fase melelahkan itu bapaknyaimanara. Kalo gw sih maunya pakai plastik aja, biar bisa didaur ulang jadi pelapis tempat sampah ;-)*

Singkat cerita, akhirnya gw sebagai istri yang solehah mengikuti apa perkataan suami. Tentunya setelah gw bikin dia berjanji akan membelikan garbage bag sepulang kantor keesokan harinya ;-). Dan di situlah permainan dimulai ;-)

Secara Mbak Kasir itu menawari gw mengkardusi belanjaan gw seringan menawari pakai plastik, gw kira kardusnya udah siap di situ2 juga. Mungkin udah dilipat jadi 64 atau 128 gitu, sehingga masuk ke laci... hehehe.... Ternyata enggak lho ;-) Begitu gw mengangguk setuju belanjaan menggunakan kardus, si Mbak Kasir PERGI DULU KE GUDANG MENGAMBIL KARDUSNYA... ;-) Ada kali 10 menit si Mbak pergi ngambil kardus ;-)

Begitu si Mbak Kasir kembali ke singgasananya, belanjaan gw juga nggak langsung bisa dikardusi ;-) Sekitar 5 menit berlalu untuk si Mbak bikin origami dulu... hehehe... Iya, origami, alias seni melipat kardus ;-) Soalnya kan kardusnya dalam bentuk lembaran2 gitu, jadi harus dilipat jadi kotak 3D dulu sama si Mbak, dan kemudian dasar kotaknya dilekatkan dengan lakban. Naaah... untuk belanjaan gw, si Mbak menyiapkan 5 kardus yang masing2 berukuran kira2 untuk TV 21 inci.

Sumpah, gw sampai udah mulai merasa nggak enak lho, melihat antrian di belakang gw makin panjang... hehehe... Makanya gw lega banget begitu kardus kelima berhasil direkatkan.

Tetapi ternyata permainan baru dimulai! Tadi itu baru pemanasannya... hehehe... Sokoban level 1 baru dimulai setelah kardus direkatkan ;-)

Si Mbak Kasir yang manis, ramah, dan berhasil meyakinkan gw untuk menggunakan kardus ini ternyata nggak jago main sokoban... hehehe.... Sistem pengemasannya berantakan, banyak barang kecil ditaruh di bawah, sehingga kardus pertama penuh padahal isinya belum seberapa. Dan nggak padat! Masih banyak ruang tersisa!

Terpaksalah, gw dan bapaknyaimanara main sokoban di dalam kardus :-) Menata ulang barang2nya sehingga seluruh ruang dalam kardus dapat dimanfaatkan. Dan ternyata kami memang jago main sokoban... hehehe.... Sehingga kami lolos dari level tersebut dalam waktu yang tidak lama.

Dan masuklah kami ke level 2!

Level 2 ini letaknya di lapangan parkir... hehehe... dimana kami harus menata kardus2 segede gaban itu ke dalam bagasi city car kami nan mungil ;-) Ini yang tadi nggak terpikir: bahwa ternyata jumlah belanjaan yang sama tuh dimensinya menjadi jauuuuuhhh berbeda ketika ditempatkan di dalam kardus2 masif. Kalau pakai plastik kan bisa diselip2kan ya... naaah... kalau kardus, nyelipnya dimana, coba ;-)?

Gw tadinya udah mau ngamuk tuh sama bapakimanara, tertuduh utama yang bikin kami terjebak dengan kardus2 masif itu ;-) Tapi nggak tega juga... hehehe... secara mukanya kelihatan bingung bagaimana menempatkan kardus2 itu di dalam mobil mungil :-) Jadi akhirnya, gw biarkan dia dengan sokoban level 2, sementara gw asyik mendinginkan diri di mobil sambil menyeruput minuman dingin ;-)

*Heeeey... gw bukannya kejam... hehehe... Tapi kan dia yang mau pakai kardus ;-) Biarkan dia yang menyelesaikan masalah dong ;-)*

Perlu sekitar 20 menit buat anak mertua gw itu menyelesaikan sokobannya ;-) Alias kurang lebih 2x lipat dari waktu yang dibutuhkan untuk memindahkan kantong demi kantong belanjaan. Kalau soal energi, gw nggak tahu ya, apa ada perbedaan signifikan. Tapi perkiraan gw sih, ngangkat2 kotak berkali2 itu lebih butuh tenaga daripada ngangkat kantong belanjaan ya ;-)

Ditambah dengan waktu yang terbuang ketika harus menunggu si Mbak ngambil kardus dan main origami, maka lengkaplah ketidakpratisan mengkardusi belanjaan bagi gw ;-)

Tapi... tapi.... dengan tidak menggunakan plastik belanjaan, kan kita sudah berbuat baik kepada bumi ini ;-)? Sudah mendukung go green ;-)? Bikin masalah lingkungan sedikit berkurang, karena kita sudah mengurangi sedikiiiiiittt penggunaan plastik?

Nah... itu masalahnya ;-) Setelah semua ketidakpratisan ini, ternyataaaa...... tetap aja akhirnya harus beli garbage bag. Dan sebagaimana Anda tahu, garbage bag ini dibuat dari plastik juga dan ukurannya JAUH lebih besar daripada plastik belanjaan ;-)

So, sekarang malah jadinya mengatasi masalah dengan masalah baru ;-) Sama sekali bertentangan dengan slogan instansi ini ;-) Kalau tadinya gw cuma membuat bumi sedikit lebih sakit dengan plastik yang gw gunakan, sekarang gw membuat bumi 2x lebih sakit: karena gw pakai kardus (yang notabene dibuat dari pulp) serta pakai garbage bag juga. Udah nambah sampah plastik, masih pakai mengurangi pohon lagi!

Will I use the box in the next shopping? Uhhhmmmm.... kayaknya, enggak deh. Gw mendingan pakai cara lama aja, pakai kantong plastik. Toh, kantong plastiknya juga gw manfaatkan lagi untuk membungkus sampah.Menurut gw infrastruktur layanan ini juga belum memadai tuh :-) Gw nggak mau deh jadi sasaran kemarahan antrian di belakang gw lantaran si Mbak Kasir meninggalkan posnya terlalu lama (dan/atau karena bikin si Mbak main origami ;-))

Lagian, I'm not a big fan of Sokoban... hehehe.... Gw lebih suka main sudoku ;-) Main sokoban itu butuh kemampuan spasial yang tinggi, sesuatu yang jelas tidak gw miliki ;-) Kalau sudoku kan berbasis logika komputasi :-) Dan mengingat banyaknya waktu yang terbuang, jelas metode pengkardusan ini tidak cocok dengan hitung2an gw... ;-)

Tapi monggo lho, bagi siapa yang ingin mengasah kemampuan spasialnya, silakan belanja aja. Terus, minta belanjaannya dikardusin. Habis itu... have fun playing the 3D sokoban ;-)

Thursday, August 06, 2009

Menatap Layar Terpaku untuk [Belanja] Online, Online

Beberapa waktu lalu sempat ngobrol2 dengan Mas Reza, seorang teman lama, tentang kecenderungan orang untuk berkarir dari rumah. Menurut Mas Reza, di jaman krisis global seperti ini, udah nggak happening untuk menggantungkan diri pada sistem. Perusahaan2 gede aja banyak yang kolaps. Obrolan tentang small office home office kemudian bergeser pada online shop.

Akhir2 ini, online shop menjamur dimana2. Ada kecenderungan bahwa mengelola online shop tuh merupakan pilihan karir yang disukai ibu2 muda. Agar bisa kerja sambil ngurusin anak. Hehehe... kayaknya bener juga sih. Setidaknya, ada 2 teman yang alih profesi jadi online shop owner setelah jadi ibu: Bundanya Ahnaf dengan CuteHome, dan Umminya Ankaa dengan Tokonyankaa. Bagaimana bisnis, Jengs? Lancar? Hehehe...

Dari sisi konsumennya sendiri, terlihat sekali perubahan sikap dibandingkan 10 thn lalu. Jaman akhir2 kuliah dulu, teman gw Cipta pernah bikin penelitian yang respondennya adalah mereka yang pernah belanja lewat katalog (alias belanja online tercanggih jaman itu ;-)). Dan seingat gw waktu itu cari respondennya susaaaaaaahhh banget. Demikian pula tahun 1999, pas gw mengerjakan project tentang belanja bulanan lewat telepon; suatu layanan yang diposisikan sebagai one less worry buat ibu2, sehingga mereka bisa memanfaatkan waktu yang harusnya terbuang untuk milih barang dan bayar di kasir dengan lebih baik. Jaman itu, gw sampai garuk2 aspal untuk cari responden.

*Hmmm... gw ingat waktu ngerjain project itu gw lagi hamil Ima. Mungkin itu yang bikin gw lancar melahirkan ya? Udah garuk2 aspal soalnya... hehehe...*

Sekarang sih belanja online udah mulai jadi pilihan ibu2 yang nggak punya waktu untuk mlaku-mlaku ke toko aslinya. Ibu2 bekerja, contohnya. Atau ibu2 hamil yang bekerja seperti Ommenya QQ & Kenzie ini. Walaupun kantornya cuma 10 menit naik Kopaja dari ITC, semasa hamil Kenzie si Omme memilih belanja hampir semua keperluan bayi lewat internet. Daripada berat2 bawa perut ke ITC, mengorbankan jam makan siang yang terbatas, eeeh... belum tentu dapat barang yang diinginkan dalam satu kali kunjungan pula! Lagipula, apa siiiiyyy yang nggak ada di online shop jaman sekarang ini? Dari second-hand branded baby stroller, sampai half-price toilettries, semuanya tinggal klik. Seperti pengalaman si Omme, yang beli seransel toilettries seharga 50rb-an; kado yang dijual oleh si ibu baru lantaran dia udah kebanyakan toilettries.

*Gw nulis paragraf di atas sambil ketar-ketir. Jangan2 habis ini comsys si Omme isinya penawaran dari online shop semua... hihihi... Langsung diprospek gara2 terbukti dia malas beranjak dari kursi ;-)*

Gw sendiri termasuk yang telat berani belanja online barang yang bukan buku. Track record gw baru 1x belanja online yang bukan buku, yaitu pada hari Selasa yang lalu. Telat banget yaks? Padahal gw udah terbiasa belanja buku online sejak thn 2000 lho ;-) Maklum, gw kan tipe safe player, perfeksionis pula. Jadi paling nggak berani tuh belanja-belanji tanpa lihat barangnya. Beda ya, kalau belanja buku. Buku itu kan what you read is what you get. Bagus enggaknya sebuah buku emang baru ketahuan kalau sudah dibeli dan dibaca. Nggak banyak bedanya beli secara online atau beli di toko buku... sama2 cuma bisa baca sinopsisnya doang ;-)

Naaah... kalau akhirnya gw berani belanja online, itu bener2 karena kepepet kayaknya ;-) Setelah beberapa kali kelayapan ke toko perlengkapan bayi dan tidak menemukan apa yang gw mau, terpaksalah gw browsing di toko maya. Terpengaruh juga sih dengan cerita keberhasilannya si Omme ;-) Atau mungkin karena udah biasa belanja tanpa bisa mencoba buat pet gw ini ya ;-)?

Gimana pengalaman pertama gw? Hmmm... mengkonfirmasi bayangan gw tentang sulitnya mendapatkan pemahaman sensoris terhadap barang yang akan gw beli. Tetapi... karena pada dasarnya gw researcher sampai ke tulang sumsum, gw jadi bisa komentar tentang bisnis ini dari sisi konsumen rewel macam gw ;-)

Bermula ketika gw cari Allerhand harga miring, atau second hand yang masih bagus. Memang sejak lihat tas ini di salah satu toko bayi, gw ngiler berat ;-) Kompartemennya yang banyak itu membuat gw gak harus repot bawa 2 tas kalau jalan2 bareng Nara. Sayang, harganya kok nggak bersahabat dengan kantong gw.

Setelah putus asa mengetikkan Allerhand di mesin pencari, akhirnya gw memutuskan window monitor shopping aja. Siapa tahu nemu yang terlewat. Atau nemu yang mirip2. Toko pertama yang gw satroni adalah Nenenshop.

Lho, kenapa Nenenshop, bukan toko teman sendiri seperti CuteHome? Yah, pertama, karena gw tahu CuteHome nggak jualan tas ;-) Setahu gw sih Nenenshop yang memposisikan diri menjual barang2 uniquely functional. Dan itu terbukti melalui salah satu kado Nara dari teman gw Shinta: sepaket alat2 makan bayi produksi Ikea. Nggak banyak kan, yang jual Ikea baby di sini ;-)?

Alasan kedua karena gw cocok dengan pendekatan Nenenshop dalam mendeskripsikan barangnya. Pendekatannya matter-of-fact, mendeskripsikan barang2 sesuai petunjuk kotaknya. Namun pendekatan matter-of-fact ini bukan berarti nggak ada sisi personalnya. Nggak seperti toko2 bayi online yang bener2 semacam katalog berhuruf kecil bergambar banyak, tampilan Nenenshop nyaman di mata. Hurufnya nggak kekecilan, tataletaknya bagus, dan warna2nya kalem nggak bikin sakit mata. Classy.

Dan benar! Di Nenenshop ini gw nemu produk yang mirip2 Allerhand. Dengan harga yang standard untuk ukuran tas bayi; karena tas bayi bergambar kartun pun harganya di kisaran itu. Fun Stripes Messenger Bag nama Allerhand-wanna-be ini. I was so excited, I nearly clicked the shopping cart right away!

Tapi... seperti biasa the researcher-in-me, atau mungkin the safe-player-in-me menyeruak ;-) Datanya masih kurang lengkap untuk memastikan pilihan gw. Gw masih belum tahu apakah inner bottle holder itu ada penahan panasnya atau enggak, serta cukup untuk botol 240ml atau enggak. Gw klik tautan situs asli yang ada di Nenenshop, ternyata penjelasannya nggak ada pula. Waaaks! Gimana dong?

Well... di Nenenshop memang menyediakan lembar kontak via email. Ada juga nomor telepon tokonya. Tapi gw nggak nyaman dengan cara telepon langsung. Gw kan introvert, makanya gw suka browsing biar gak usah berkomunikasi verbal dengan penjualnya ;-) Lha, kalau sekarang harus telepon, salah satu keunggulan toko online hilang dong ;-) Bisa sih email, tapi.... berarti gw nggak dapat jawaban right away.

Jadi, akhirnya gw browsing2 lagi. Memasukkan "Fun Stripes Messenger Bag" ke dalam mesin pencari. Dua situs lain menarik perhatian gw: Plazaanak dan Tasbayiku. Sayang, jabaran produknya sama persis dengan Nenenshop, nggak menambah pengetahuan baru. Demikian juga foto produknya. Pertanyaan gw tetap tak terjawab tanpa harus kontak lanjutan.

Dari segi tampilan, dua situs ini jelas kalah daripada Nenenshop yang takes the business seriously. Jangankan pakai shopping cart seperti toko2 online serius, untuk situsnya saja Tasbayiku masih pakai yang gratisan ;-) Sementara Plazaanak tampil bak katalog pada umumnya ;-) Dua2nya nggak ada pendekatan personalnya, tetapi mereka punya kelebihan: Tasbayiku mencantumkan nomor SMS, sedangkan Plazaanak mencantumkan YM Status. Lebih nyaman buat gw ;-)

So, pertama2 gw SMS Tasbayiku. Nggak dijawab2 ;-) Jadi, akhirnya gw pilih the next best communication way for me: komunikasi interaktif tertulis langsung, alias chat dengan YM.

Hasil chat dengan Plazaanak cukup memuaskan sih. Gw jadi tahu bahwa inner bottle holder pada Fun Stripes Messenger Bag ini nggak ada penahan panasnya. Tapi FSMB ini punya satu kantong berpenahan panas di bagian samping. Sesuatu yang - entah mengapa - tidak dijelaskan oleh SATU PUN toko online. Padahal, bukannya ini penting ya? Yang membedakan tas bayi dengan tas lain kan karena tas bayi bisa membawa botol susu. Sementara, susu bayi mestinya harus tahan panas, supaya nggak mudah rusak serta tetap enak. Ya kan?

Tapi akhirnya gw memutuskan membeli FSMB di Tasbayiku, bukan Plazaanak maupun Nenenshop, karena satu alasan kecil: extra mile service ;-)

Sekitar 20 menit setelah gw kirimi SMS, alias di tengah2 chat gw dengan Plazaanak, gw menerima jawaban dari Tasbayiku. Jawabannya adalah: dia nggak tahu apakah kompartemen berpenahan panas di FSMB cukup untuk botol 240ml, harus nge-cek dulu ke rumah. Ya suds, gw langsung mencoret Tasbayiku dari daftar potential shop. Gw nggak yakin dia akan kembali dengan jawaban.

Di luar dugaan, sekitar 2 jam kemudian Wiwied dari Tasbayiku SMS lagi dengan info yang komplit: satu kompartemen berinsulator pada FSMB cukup untuk 2 botol @ 240ml, asal botolnya yang standard (tinggi langsing) bukan botol jaman sekarang yang gendut lebar. Wuiiih... informasi terkomplit yang gw terima, yang BAHKAN tidak gw dapatkan melalui chat dengan pemilik toko. Usut punya usut, Wiwied dari Tasbayiku ini bela2in telepon distributornya langsung demi menjawab pertanyaan gw. What a service! Apalagi ketika kemudian Tasbayiku mempersilakan gw melihat langsung barangnya di tempat distributor di bilangan Tebet, atau dikirim langsung dengan metode COD. Dia berjanji membawakan beberapa jenis tas sekaligus, biar gw bisa milih.

Gw, yang memang sudah memutuskan untuk mendapatkan tas itu, pun akhirnya memesan pada toko online ini. Gw terkesima dengan extra mile service-nya. Dan sekarang.... akhirnya gw nggak ngiler2 lagi deh... hehehe... sudah dapat tas yang gw inginkan dengan harga yang bersahabat ;-) Apalagi ketika Tasbayiku memberi korting Rp 20,000 jika gw memberi testimoni di blognya ;-)

*Eh, tapi gw nulis di blog bukan untuk mengharapkan dapat kortingan lagi lho... hehehe... Lagian, kesempatan ditulis di blog gw itu harganya lebih dari kortingan 20rb... HAHAHAHA... ;-)*

So, buat teman2ku yang berbisnis online, menurut gw ada 5 hal yang perlu diperhatikan:

  1. Tampilan Situs. Buatlah tampilan senyaman mungkin. Tataletaknya harus enak, hurufnya besar, gambar2nya jelas, terutama jika barangnya punya detil2 yang unik.
  2. Kejelasan Informasi Produk. Lebih peka lah terhadap apa yang dibutuhkan konsumen dari sebuah produk, sehingga dapat memberi penjelasan yang lebih lengkap. Tidak hanya ko-pas dari petunjuk di kardus.
  3. Kontak Non-Verbal yang Mudah. Salah satu alasan orang belanja online adalah karena mereka menghindari chit-chat atau komunikasi langsung. Oleh karena itu mesti dipikirkan cara yang mudah untuk tetap berkomunikasi tidak langsung, namun real time response. Gw pikir Blackberry is a must untuk para pemilik toko online. Dengan demikian bukan hanya SMS dan telpon langsung yang bisa komunikasi real time, melainkan juga email dan instant messaging seperti YM. Nggak pakai Blackberry juga bisa sih... tapi... jatuhnya lebih mahal, bukan, kalau harus online 24/7 ;-)?
  4. Beri Layanan Lebih. Semua toko online bisa saja menawarkan barang yang sama. Oleh karena itu, perlu sesuatu yang bisa membuat toko Anda beda. Dan "berbeda" itu bisa dilakukan dengan layanan yang berbeda. Unique Selling Point, istilahnya ;-) Dalam kasus Tasbayiku, misalnya, jerih payah mencarikan informasi bagi potential client yang belum tentu beli bisa merupakan sebentuk layanan lebih.
  5. Emotional assurance dalam pengiriman. Meskipun belanja online sekarang sudah lazim, tetap ada anxiety bahwa barang tidak sampai dengan selamat. Maklum, masyarakat Indonesia kan paranoid dengan kinerja para penyedia jasa ;-) Bisa jadi toko online-nya profesional, tapi jasa kurirnya kurang prof. Buntut2nya konsumen juga yang rugi nggak terima barang. Oleh karena itu emotional assurance bahwa barang pasti sampai itu penting. Menggunakan kurir yang memiliki unique tracking number seperti yang dijanjikan Nenenshop memang memberikan assurance. Tetapi, ada juga cara2 lain seperti layanan COD yang diberikan Tasbayiku, misalnya. It helps a lot to build the trust of the first time customer ;-)
So, sudah dapat kan komentar dari pelanggan perfeksionis dan rewel macam gw ;-)? Tunggu apa lagi? Segera buka toko online Anda ,dan... selamat berjualan ;-) Pangsa pasarnya besar lho, karena "Siang, malam, ku selalu menatap layar terpaku untuk online, online, online, online"

BTW, gw lagi cari folding potty seat nih ;-) Dimana2 nggak nemu. Nemu satu yang iseng jualan, tapi sistemnya indent kayak beli mobil. Padahal gw butuh segera. Ada toko online yang punya ready stock ;-)?