Monday, February 27, 2006

Beauty is in the Eye of the Beholder

Gw pikir, setelah hampir 9 thn di bidang riset, gak bakal ada lagi riset yg bikin gw takjub. Ternyata, there is still something in store for me. Dan gak nyangka banget bahwa ketakjuban ini muncul dari produk yang gw anggap under control: kosmetik. Well, I don’t want to underestimate this product, tapi.. kalau gw udah pernah melakukan penelitian tentang antibiotik yang konon digunakan bapak2 hidung belang untuk mencegah penyakit kelamin, penelitian tentang minuman yang dipercaya bisa membersihkan paru2, dan beberapa penelitian dengan tingkat kesulitan seperti itu, it is natural kalau kosmetik kelihatan under control.

Sebenernya bukan sekali ini aja gw dapat riset tentang kosmetik. Tapi untuk merek luxury seperti ini, dengan target market yang skin care freak, memang ini pengalaman pertama gw. Oleh karena itu gw merasa harus mempersenjatai diri gw sendiri sebelum nyemplung menangani projectnya. Yah.. kalau nggak, gimana gw bisa empati sama sekelompok ibu2 paruh baya yang hurriedly make appointment with their doctor on the first cue of pimples? Lha wong meja rias gw aja sudah beralih fungsi jadi meja charger sejak.. well, to tell you the truth, meja rias gw itu hanya sekali waktu berfungsi sebagai meja rias: saat gw jadi pengantin. Sesudah itu tuh meja selalu alih fungsi: pertama jadi tempat naruh DVD, kemudian jadi tempat naruh perlengkapan bayi saat Ima baru lahir, dan terakhir tempat sekelompok charger bertahta ;-)

So, tadinya gw sempat berniat ikut make up class untuk menambah pengetahuan. Tapi kemudian my colleague mengusulkan cara yang lebih praktis dan “gw banget”, yaitu baca buku The Make Over: Rahasia Rias Wajah Sempurna tulisan Andiyanto dan Aju Isni Karim. Malah kantor dengan baik hati membeli buku tersebut dan meminjamkannya buat gw, supaya gw bisa belajar di rumah.

Bukunya setebal 156 halaman. Baru juga sampai halaman 18, gw udah takjub. Selama ini gw pikir bentuk kuas yang berbeda2 itu sekedar variasi aja, yang bisa dipilih sesuai selera. Ternyata enggak, lho! Beda2: kuas kipas untuk membersihkan wajah dari serpihan2 kosmetik yang rontok, kuas yang ujungnya menyerong untuk mengaplikasikan shading di bagian wajah yang bersudut, kuas powder ternyata gak bisa dipakai untuk blush-on. Terus.. gw baru tahu ada spons yang bentuknya wajik, gunanya untuk meratakan concealer atau foundation pada sudut menyempit seperti bawah mata (BTW, bawah mata itu ternyata kategorinya menyempit lho ;-)). Spons wajik ini ternyata beda fungsi sama spons bundar.

Masuk ke bab Bentuk Wajah di halaman 39, gw makin takjub. Selama ini gw pikir yang namanya foundation itu tinggal pilih satu yang sesuai warna kulit kita. Ternyata enggak! Menurut buku ini, setidaknya kita mesti punya 2 foundation dengan warna yang beda: satu warna yang sesuai kulit kita untuk diaplikasikan pada bagian wajah yang bentuknya ingin dipertahankan, dan minimal satu warna yang 1-2 tingkat lebih gelap untuk koreksi wajah membentuk efek shading. Kalau mau sempurna, kita mesti punya satu warna lagi yang 1-2 tingkat lebih terang dari warna kulit untuk memberi efek highlight.

Jadi.. sejauh ini, menurut petunjuk kalau kita mau pakai foundation aja tahapnya ada tiga:

1.       Pakai foundation warna kulit di seluruh wajah dan leher

2.      Pakai foundation yang warnanya lebih gelap untuk efek shading. Kata buku, untuk muka bulat seperti gw, efek shading ini diaplikasikan di pinggiran kening dan pinggiran pipi ke arah rahang, biar kelihatan agak tirus.

3.      Pakai foundation yang warnanya lebih terang daripada warna kulit untuk meng-highlight bagian2 wajah yang ingin kita tonjolkan.

OK, sampai di sini aja gw udah mulai mikir: berapa lama gw mesti dandan? Sebelum melakukan tahap 2, kan foundation pertama harus kering dulu? Terus, harus nunggu foundation ke-2 kering sebelum pakai yang ke-3. Lha, untuk foundation aja berapa menit???

Dan itu ternyata baru koreksi wajah!! Untuk koreksi hidung, bibir, mata aja ada tahap2 lain. Dan baru setelah koreksi2 itu selesai, kita pakai kosmetik pewarnanya (that is: blush-on, eye shadow, lipstick, etc, etc). Oh my God! Belum lagi koreksi alis setelah dandanan warna-warni selesai!

Gw agak lega setelah akhirnya segala macam petuah tentang koreksi wajah dan pelukisan wajah itu selesai. Halaman 98 mulai masuk contoh2 Wajah & Koreksinya. Hasilnya memang bagus2, before and after-nya beda2 (well, it has to be good! Don’t forget the wasted time and all the extra effort ;-)!).  Tampang yang aslinya biasa banget, setelah didandanin menjadi cantik dan glamor. Gw mulai bisa menikmati topik ini dan berempati pada calon responden gw.. ;-) So, all the time and effort is really worth!

Gw pikir, gambar2 ini adalah bagian terakhir dari buku ini. Toh, teorinya udah. Contoh2nya juga udah kelihatan cantik dan glamor. Jadi, nggak ada lagi yang perlu dipelajari toh? Namun.. gw kaget waktu sampai halaman 124: Rias Wajah Glamor. What???? Ternyata apa yg gw anggap cantik dan glamor itu masih merupakan bagian dandanan sehari2… ;-).  Untuk “acara2 khusus” yang “membutuhkan wajah agak berbeda” masih “dibutuhkan keberanian untuk berubah”.. ;-)! Dan keberanian untuk berubah itu diterjemahkan sebagai beberapa tambahan langkah khusus.

Well, pada paruh pertama buku itu, gw sempat berpikir bahwa kayaknya lucu juga untuk belajar dandan. At least, kalau ada pesta penampilan gw tidak akan terlalu plain. Gak usah pakai highlight segala deh, cukup punya foundation dengan 2 warna berbeda aja untuk shading, plus 1 set kosmetik lukisan wajah itu. Paling enggak, biar make up bag gw isinya bukan cuma moisturizer, loose powder, dan sebatang lipstik.. ;-).

Tapi pikiran itu gw batalkan deh! To be beautiful seems to be a long, exhausting, painful journey for me.. ;-). Cukup deh gw belajar teorinya untuk menghadapi the upcoming project. Setelah itu.. Au Revoir! Auf Wiedersehn! Farewell! Biarpun hidung gw pesek, dahi gw selebar lapangan bola, muka gw bak bulan purnama.. I love me just the way I look (buseeeet… gw narsis ya? HAHAHA… ). Lagian, bukankah beauty is in the eye of the beholder ;-)?

Friday, February 24, 2006

Tentang Raju

Waktu gw kecil, ada satu hal yang menakutkan gw: Tempat Penitipan Anak Nakal. Tiap kali nama itu disebutkan, yg terbayang di benak gw adalah sebuah bangunan besar, warnanya hijau, dengan banyak anak2 nakal yang suka mengganggu anak lain di dalamnya. Sebagai balita, gw belum tahu bahwa bangunan yg pernah gw lihat itu adalah Lembaga Pemasyarakatan Anak Tangerang, tempat pelaku kejahatan di bawah umur dimasyarakatkan oleh negara. Saat itu tokoh otoritas yang gw kenal dan gw tahu bisa menghukum seorang anak hanyalah orang tua. Oleh karenanya, gw membayangkan bahwa semua anak2 nakal itu dititipkan oleh orang tuanya karena dianggap terlalu nakal. Hal itu sudah cukup untuk membuat gw takut, sehingga gw khawatir sekali dianggap nakal oleh orang tua gw. Kalau ibu/bapak bilang apa yg gw lakukan itu termasuk kenakalan, gw langsung minta maaf dan minta untuk tidak dititipkan ke sana.

Sampai Ima umur 4 thn, kata yang menakutkan buat dia adalah: Tukang Barang Bekas. Dia tahu bahwa tukang loak itu membeli barang2 yang sudah tidak kita pakai. Lantaran dia sering melihat tukang loak yg membawa anaknya di gerobak, timbul persepsi dalam logika sederhananya bahwa anak pun bisa diloakkan, kalau orang tuanya sudah tidak suka pada dia. Beberapa kali di hari Minggu Ima yg tadinya menolak disuruh mandi/makan oleh pengasuhnya, langsung lari ke kamar mandi begitu terdengar suara tukang loak. Waktu gw tanya, Ima bilang dia takut jadi anak bau. Menurut dia, anak bau tidak disayang dan bisa2 diloakkan seperti anak yang dia lihat ada di gerobak tukang loak.

Well, baik di kasus gw atau di kasus Ima, para orang tua tidak lantas menggunakan kata tersebut sebagai bahan untuk menakut2i. Bo-nyok gw hanya tidak memperjelas mekanisme penahanan anak nakal itu, sementara gw & si Mas simply membiarkan Ima punya persepsi yg salah untuk beberapa saat. Namun toh, logika sederhana gw (dan Ima) membuat kami lebih well-behaved karena takut pada konsekuensi yg dibayangkan. Harmless mechanism for behavioral shaping, karena kita sekedar memanfaatkan persepsi. Selama kita tidak memperkuatnya, persepsi itu akan berubah seiring bertambahnya informasi dan meningkatkan kemampuan nalar. Pada saat nalar dan pengetahuan mengubah persepsi itu, pada saat konsep itu sudah tidak lagi menakutkan baginya, hopefully si anak juga sudah membentuk sistem nilai yg tidak membutuhkan konsep itu sebagai kontrol perilaku.

Rabu lalu, 22 Februari, gw membaca di Kompas berita tentang Raju, seorang anak usia kurang dari 8 thn yang diadili karena berkelahi. Kutipan beritanya:

Rabu siang, 31 Agustus 2005, yang menjadi awal semua peristiwa ini, mungkin tak diingat Raju. Ia hanya tahu, hari itu sepulang sekolah dia diejek Armansyah, kakak kelasnya yang berumur 14 tahun. Perkara saling ejek anak SD yang lumrah terjadi ini berbuntut perkelahian. Raju tak terima dengan ejekan Armansyah. Mereka berkelahi. Keduanya sama-sama terluka.

Seharusnya perkara ini selesai saat kedua orangtua anak-anak ini bertemu. Sugianto, ayah Raju, sepakat membiayai pengobatan Armansyah. Namun, entah mengapa, orangtua Armansyah mengadukan Raju kepada polisi. Anak bungsu pasangan Sugianto dan Saedah itu disangka melakukan penganiayaan.

Maka, mulailah mimpi buruk dalam kehidupan Raju. Pada September 2005, tiga kali Sugianto harus membawa Raju ke Kantor Polisi Sektor Gebang, Kabupaten Langkat, untuk disidik. Dalam pemeriksaan, Raju sama sekali tidak didampingi penasihat hukum ataupun petugas dari Balai Pemasyarakatan Anak (Bapas).

Hakim tunggal yang mengadili perkara Raju, Tiurmaida H Pardede, dirasakan telah menyidangkan perkara ini demikian "tegas". Raju merasa diperlakukan sebagai pesakitan yang pantas duduk di kursi terdakwa. Suara tegas ibu hakim menjadi seperti bentakan yang menakutkannya.

Raju akhirnya menangis di persidangan. "Raju takut karena bu hakimnya bentak-bentak Raju," ujar bocah yang lahir pada 9 Desember 1997 itu. Yang membuat orangtuanya prihatin, perkataan sang hakim pada sidang pertama seperti sudah menyudutkan Raju. Menurut Saedah, pada sidang pertama hakim langsung memvonis anaknya. "Hakim bilang, dari raut mukanya saja dia tahu bahwa anak saya memang anak nakal," ujar Saedah.

Oleh sang hakim, bocah yang hobi bermain sepak bola sepulang sekolah ini diharuskan menjalani penahanan di Rumah Tahanan (Rutan) Pangkalan Brandan, terhitung sejak hari itu hingga 2 Februari. Raju dianggap memberikan keterangan berbelit sehingga perlu ditahan. "Raju takut kerangkeng (penjara). Banyak orang jahat di sana," ujar anak itu dengan mata berkaca-kaca.

Kasus Raju mungkin tak akan pernah diketahui andai tak ada staf divisi hukum Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) Medan, Jonathan Panggabean dan Suryani Guntari. Suryani merasa tak seharusnya anak di bawah usia delapan tahun menjalani persidangan. Namun, Tiurmaida bersikukuh perkara Raju harus terus disidangkan karena pada saat berkas masuk ke pengadilan usia Raju telah mencapai delapan tahun satu bulan.

Persidangan demi persidangan semakin merusak mental Raju. Apalagi hakim seperti tak melihat sosok lugu Raju.

Cerita ini membuat gw marah banget. Saking marahnya, gw jadi gak bisa nulis on the D-day. Gw marah banget sama si Hakim. Gw marah banget sama si penggugat. Gw marah sama orang2 yg diam saja di sekitar Raju (bahkan tidak memberikan ijin Raju disuapi karena hanya hakim yang boleh memerintahkan tahanan keluar). Gw bahkan marah sama pembuat UU yang mengesahkan bahwa anak usia 8 thn sudah boleh digugat. ARE THEY MENTALLY RETARDED OR WHAT???

Gw gak habis pikir apa yg ada di kepala orang tua Armansyah. Bagaimana bisa sekedar perkelahian bocah diadukan sebagai penganiayaan? Dan… even kalau ini penganiayaan, gimana bisa seorang anak usia 14 thn seperti Armansyah dianiaya anak yg 6 thn lebih muda? Cowok, usia 14 thn, sudah masuk usia akil balik. Dari segi fisik aja sudah sangat meragukan dia dianiaya oleh anak umur 8 thn. Kalaulah si ortu too mentally retarded to see the flaw in this logic, mestinya polisi dan hakim yang terhormat punya pikiran yg lebih terang. Ini kok malah hakim dan polisinya lebih ajaib!!

Yaaah.. Bu Hakim, saya juga tahu bahwa di Kriminologi teori Cesare Lombrosso dipakai. Tapi apa Bu Hakim gak punya bacaan lain selain Lombrosso? Rasanya, sudah banyak teori lain yg berkembang tentang kriminalitas sejak Pak Lombrosso ini mengemukakan teorinya. Emang Bu Hakim ini edisi tahun berapa sih, kok kelihatannya ketinggalan kereta amat?? Dan plis deh! Keterangan berbelit? What do you expect from an 8-year-old boy? Kalau mewawancara anak umur 8 thn untuk project marketing research aja gw sering harus memformulasi ulang pertanyaan gw karena jawaban mereka suka kemana2. Padahal situasinya santai dan nyaman, tidak menegangkan seperti pengadilan, dan tidak gw bentak2 untuk menjawab.

Well, perkembangan terbaru sih menunjukkan bahwa Komnas Perlindungan Anak sudah memprotes keras perlakuan itu. Tapi ada baiknya jika bukan hanya si hakim dan polisi yang diprotes, melainkan seluruh UU-nya. Menurut gw pribadi, memungkinkan seorang anak usia 8 thn untuk dituntut secara hukum pun sudah sangat tidak masuk akal. Kalau bicara tentang perkembangan kognitif dari Piaget, misalnya, sudah jelas bahwa usia 8 thn itu masih dalam tahap Concrete Operational. Bahkan sebenarnya baru masuk tahap Concrete Operational. Apa yang mau dicapai dengan menuntut secara hukum anak seusia ini? Pairing secara konkrit bahwa memukul orang sekali dibayar dengan persidangan berkali2? Atau memukul orang sekali konsekuensinya adalah dikurung berbulan2? Dan terpikirkah akibatnya? Jika concrete pairing itu mendekam dalam benak si anak, bisa jadi dia seumur hidup tidak berani melawan kalau disakiti. Dia tidak lagi melihat konteks self-defense, melainkan hanya selalu mengingat concrete pairing bahwa memukul = mendapatkan perlakuan yg lebih parah.

Gw kembali mengingat pengalaman gw & Ima. Saat ini gw tahu bahwa untuk bisa masuk ke Lembaga Pemasyarakatan Anak Tangerang, tidak cukup hanya dengan memecahkan piring kesayangan ibu. Ima juga sudah tahu bahwa tukang loak tidak membeli anak bekas, apalagi cuma gara2 anak itu tidak mau mandi. But I keep thinking, apa yg terjadi kalau dulu orang tua gw iseng menitipkan gw ke LPA Tangerang atau gw bekerja sama dgn si tukang loak untuk pura2 meloakkan Ima. Akankah kami sampai pada pemahaman seperti ini? Ataukah justru gw (dan Ima) menjadi begitu terokupasi pada pengalaman itu sehingga tidak bisa mencerna informasi yg datang kemudian, walaupun secara nalar kami mampu melakukannya?

Dan pertanyaan yang sama gw ajukan untuk kasus ini: apakah yang akan dicapai dengan menyidangkan dan menghukum Raju? Tidakkah cukup dengan membiarkan Raju mengembangkan mekanisme kontrolnya sendiri, dan orang tua serta orang dewasa di sekitarnya hanya bertugas untuk tut wuri handayani?

Gw yakin Raju, dan anak2 lainnya, punya kemampuan seperti gw & Ima. And he deserves to get the opportunity. Dia tidak harus diperlakukan seperti ini.

*And BTW, menurut gw harusnya ortu si Armansyah itu dituntut balik dengan tuduhan pencemaran nama baik dan perbuatan tidak menyenangkan. Dengan mengatakan anaknya dianiaya oleh anak kecil, bisa gak ya dikategorikan pencemaran nama baik? Bisa kali ya, kan kategorinya fitnah.. ;-)*

Tuesday, February 21, 2006

Desperate Housewives

Suka nonton Desperate Housewives? Itu serial drama komedi yang pernah diputar di Indosiar, tentang 5 sahabat yang tinggal di Wisteria Lane. Lima2nya housewives, lima2nya desperate for different reason; Lynette si wanita karir yang trapped sebagai full-time mom dengan 4 anak (dua di antaranya kembar pengidap ADHD), Susan si janda muda naif dengan mantan suami yang manipulatif dan mysterious hunky boyfriend, Gabrielle si mantan top model papan atas yang bosan dengan suami posesif, Mary Alice si pendamai yang ternyata menyimpan rahasia tak tertanggungkan, serta Bree yang sangat sempurna di mata semua orang.. kecuali di mata keluarganya sendiri.

Gw sekarang pingin bikin parodinya: Desperate Housewives on Hysteria Lane. Tokohnya? Gw sendiri, dan ibu2 di Indonesia. Lokasinya? Well, Hysteria Lane mungkin terletak di lorong2 supermarket dan hipermarket tiap belanja.

Hehehe.. lorong2 itu, tepatnya label2 kecil bertuliskan harga barang di lorong itu, memang bisa bikin histeris. Kemarin gw belanja dua mingguan. Seperti biasa gw langsung ke lorong beras, dan.. what???? Beras yang biasa gw beli, yang belanja lalu harganya masih Rp 124,000 per 20 kg, sekarang udah jadi Rp 160,ooo! Saking takjubnya melihat harga itu, gw langsung pindah ke lorong lain sambil mikir2 strategi menghindarkan keluarga dari kelaparan tanpa harus besar pasak daripada tiang ;-). Tapi ternyata lorong2 lain juga menimbulkan hysteria yang sama: beberapa harga yang gw ingat kaldu blok naik sekitar Rp 2,000, pembersih lantai naik Rp 1,000, susu kemasan kotak 250ml naik sekitar Rp 4,000 per karton, teh favorit naik Rp 1,500, gula putih naik Rp 2,000/kg, dst, dst. Well, emang sih kenaikan Rp 1,000 – Rp 2,000 mungkin gak seberapa. Tapi kalau semua item naik, bayangkan betapa bengkaknya dana belanja!

*hehehe... ini alasan kenapa gw gak mau mendelegasikan tugas belanja ke si Mas kecuali kalo terpaksaaaaa sekali. Seperti laki2 pada umumnya, dia selalu menganggap kenaikan harga sekian itu gak perlu dipikirin. Apalah arti Rp 1,000 – Rp 2,000? Toh gak bikin kita jadi miskin… ;-) Iya sih, gak bikin miskin. Tapi bisa bikin significant problem dalam neraca keuangan, if we want to keep it in balance ;-)*

So.. kemarin gw langsung sibuk merancang strategi. Apa yang bisa dikorbankan dalam belanja kali ini? Gimana mengorbankannya?

Beras yg naik Rp 40,000 itu jelas out-of-question deh! Mesti cari beras pengganti, yang gak kalah enak, tapi harga lebih bersahabat. Jadi untuk kali ini beli beras yang kelasnya di bawah itu, tapi masih tergolong in the same league. Harganya Rp 140,000. Lumayan, hemat Rp 20,000.

Berikutnya, susu kotak Ima. Biasanya gw beli yg 250ml. Tapi kali ini beli yang 200ml. Penyunatan 50ml dari jatah susunya gak akan terlalu signifikan buat Ima. Tapi buat gw, lumayan bisa memotong Rp 2,000 dari daftar belanja.

Kopi si Mas dan teh sementara ini gak bisa dikorbankan. Ini udah the best value for money hasil kompromi beberapa waktu lalu ketika harga2 merambat naik. Tapi jus jeruk dan jus tomat terpaksa dicoret dari daftar belanja. We can live without this luxury for a little while. Dan ada lagi yang bisa dikompromi: beli pencuci piring, pembersih lantai, dan pelicin pakaian yang lagi promosi. Beli 3 gratis 1! Itung2annya: well-known floor cleaner yang termurah adalah Rp 8,550 (1,800ml). Produk promosi: Rp 2,460 (450ml). Dengan promosi ini, gw hanya bayar kurang dari Rp 7,500 untuk volume 1,800ml. Hemat Rp 1,000 kan? Itu baru dari 1 produk.

Memang produk2 itu unbranded sih, alias bikinan si hipermarket itu sendiri. Tapi.. siapa takut? Pembantu di rumah selalu nambahin jeruk nipis tanaman sendiri untuk cuci piring, sehingga apa pun merek pencucinya gak terlalu ngaruh. Pembersih lantai.. hmm.. I can live without that nice fragrance of floor cleaner. Dan pelicin pakaian.. toh hanya dipakai untuk baju2 rumah yang bahannya gak terlalu bagus. Untuk baju kantor masih ada softener yg the best value for money (well, at least that’s what one of my research said ;-p) atau baju2 tertentu di-laundry. So.. gak masalah lah untuk ngambil produk promosi. Lumayan, mengurangi total sekitar Rp 5,000 dari daftar belanja.

Demikianlah.. maneuver demi maneuver gw lakukan untuk mensiasati kenaikan2 harga. Dan.. ketika tiba saatnya membayar.. yes!! Jumlah nominal yang harus dikeluarkan tidak keluar dari jatah!! Kalau gak pakai maneuver ini sih jumlah yg harus dibayarkan sekitar Rp 150,000 lebih tinggi. Lumayan kan, menghemat Rp 150,000? Uang segitu cukup untuk bayar les renangnya Ima bulan depan. Atau untuk memperpanjang langganan Bee Magazine-nya Ima 2 bulan lagi (buat yg punya anak SD, majalah ini highly recommended). Kata siapa kenaikan Rp 1,000 – Rp 2,000 itu gak signifikan ;-)?

Gw cukup puas dengan hasil kerja gw kemarin. Tapi gw juga cemas; sampai kapan gw bisa melakukan evasive maneuver seperti ini? Akan tiba hari dimana ruang gerak sudah sedemikian sempitnya, sehingga tidak mungkin bermanuver, kalau keadaan ekonomi negeri ini tidak membaik. Apa artinya kenaikan pendapatan, kalau harga2 membumbung tinggi? (dan lagian, siapa yang mau kasih kenaikan pendapatan hari geneee? ;-p)

Gw sendiri sejauh ini masih beruntung. Gw cukup terampil mencongak, cukup terbiasa berpikir strategic mencari quick solution, sehingga masih bisa menyiasati harga2 yang tidak bersahabat ini. Apes2nya, gw masih punya resources yang bisa di-stretch a little more kalau terpaksa. Insya Allah masih cukup lama gw bisa bertahan sebelum akhirnya terdesak oleh kenaikan2 harga.

Tapi bagaimana nasib ibu2 yang tidak seberuntung gw? Tidakkah mereka sudah menjadi desperate housewives saat ini? Dan apa yg akan terjadi pada mereka pada saat gw benar2 join the club dan menjadi another desperate housewife?

----

Note:

Wisteria: sejenis tanaman merambat; Hysteria: emotional outburst due to the disturbance of the nervous system

ADHD: Attention Deficit Hyperactivity Disorder, gangguan yang menyebabkan anak sulit berkonsentrasi dan selalu beraktivitas berlebihan, yang pastinya membuat orang tua harus selalu waspada memperhatikan mereka.

 

Saturday, February 18, 2006

Maklum

Sejak sekitar setahun lalu, motor2 (baik ojek maupun pribadi) di lingkungan UI Salemba memang mulai tidak tertib. Dengan santainya mereka masuk dari pintu keluar, yaitu pintu terkanan yg terletak antara Mesjid ARH dan Pasar Kenari. Mungkin karena jalan keluar itu paling dekat dengan lembaga2 UI, dimana karyawannya paling banyak. So, it is logical kalau mereka menggunakannya sebagai shortcut. Jalan keluar itu memang cukup lebar, lebih dari cukup untuk 1 mobil lebar sekalipun, dengan demikian motor2 yg masuk tidak terlalu mengganggu mobil2 yg keluar. Mungkin karena alasan itu, pihak UI sendiri belum pernah mengambil tindakan atas pelanggaran aturan ini. Apa salahnya sedikit maklum? Toh tidak terlalu mengganggu, dan bukankah yang masuk lewat itu juga anggota civitas academica juga?

Kemakluman ini backfire ketika beberapa minggu ini Mesjid ARH direnovasi. Pintu keluar itu ditutup untuk akses kendaraan pengangkut material, dan jalan keluar kendaraan dialihkan ke pintu tengah depan FKG. Jalan alternatif itu ribet dan sempit, karena memang tidak dirancang untuk digunakan sebagai jalur keluar. Tak pelak lagi, kalau sebuah mobil bertemu dengan sebuah motor, salah satu harus mengalah mundur. Ini bukan waktunya lagi untuk memaklumi pelanggaran pintu masuk. Dan kalau bicara ideal, harusnya semua motor (ojek maupun pribadi) sadar untuk tidak pakai shortcut lagi. Masalahnya, apakah semua pihak menyadarinya? Pengalaman gw menunjukkan: tidak.

Kemarin mobil gw bertemu dengan sebuah ojek yang (lagi2) menggunakan jalan keluar yg sempit itu sebagai shortcut. Berhubung gw gak pernah mau ngalah kalau untuk masalah prinsip, apalagi yang menyangkut right or wrong, gw gak mau mundur walaupun sebenernya gw bisa. Instead, gw masukkan gigi ke netral, menarik rem tangan, dan dengan senyum manis duduk santai sambil terus mendengarkan celotehan Rico Ceper dan Bedu di 88.0FM.

“Mundur dikit, Bu. Biar kita lewat dulu,” kata si tukang ojek.

“Nggak mau, Bang. Abang aja yang mundur. Ini kan jalan keluar, bukan jalan masuk. Kalau Abang mau masuk, pintunya yg sebelah sana,” jawab gw ngeyel sambil menunjuk ke arah pintu masuk.

“Mundur dikit kenapa sih? Pelit amat! Dasar orang kaya! Mentang2 punya mobil, nggak mau ngalah sama orang miskin!” maki si tukang ojek dengan nyolotnya.

Asli! Gw speechless se-speechless2-nya! Lha, siapa yang salah, coba? Jelas2 itu jalan keluar dan dia melanggar aturan! Kok malah nyolotan dia daripada gw?

Swear, kalau nurutin naluri Klingon gw, gw udah mau teriak “Pahtk!” aja sama si tukang ojek itu. Tapi untung si penumpang sadar diri, segera turun dari ojek, bayar, dan nyuruh ojek itu keluar aja. Plus ada satpam yang datang dan lihat stiker parkir bertuliskan DOSEN di mobil gw ;-)  *Hey, I don’t abuse any power here, the sticker is a given LEGAL accessories in my car ;-)*  sehingga gw bisa keluar kampus tercinta tanpa insiden berdarah.

Sepanjang jalan ke kantor, gw baru bisa mikir: iya ya, belum tentu juga si tukang ojek itu ngerti bahwa dia melanggar aturan. Dari kacamatanya dia, selama ini boleh kok lewat pintu keluar. Dengan demikian dia merasa sama berhak dengan gw untuk memakai jalan alternatif itu sebagai jalan masuk. Memang benar bahwa di pintu jalan alternatif itu dituliskan DILARANG MASUK. Tapi.. bukankah selama ini di pintu keluar utama juga ada tulisan yang sama dan mereka boleh masuk seenaknya? Tidak heran juga sih kalau kemudian dia menganggap gw sekedar belagu; suatu bentuk arogansi “kaum borjuis” terhadap “kaum proletar”.

Atau mungkin juga sebenarnya dia tahu bahwa dia melanggar peraturan, dan bahwa selama ini orang2 lain sekedar memaklumi. Tapi instead of merasa berterima kasih terhadap pemakluman itu, dia merasa bahwa memang kewajiban orang lain (dalam hal ini pihak UI dan pengguna jalan keluar) untuk memaklumi dirinya. Self pity, perasaan kasihan terhadap kemalangan hidupnya membuat dia merasa orang2 lain (yang lebih “beruntung”) harus mau ngalah terhadap dirinya. Toh mereka sudah lebih beruntung, jadi kewajiban mereka untuk memaklumi yang kurang beruntung.

Entahlah, gw sendiri belum bikin penelitian tentang itu, hehehe.. Tapi kalau hipotesa gw sih cenderung yang kedua: self-pity. Ini rasanya lebih nyambung dengan konsep umum di “masyarakat kolektif” seperti Indonesia. Masyarakat individualis mengkondisikan penghuninya untuk compete to survive, or die. Sementara budaya kolektif sebenernya mengajarkan kita untuk untuk lebih tepa selira, mangan ora mangan kumpul, kekeluargaan, gotong royong, musyawarah mufakat.. (apa lagi ya yg dulu disebut di PMP dan PSPB, jauh sebelum ada pelajaran PPKN ;-)?) Kepada kita sejak kecil diajarkan bahwa yang terpenting adalah menjaga harmoni. Menjaga keselarasan. Orang2 yg berada dalam titik ekstrim ketidakberuntungan, yang berada pada titik yg bisa merusak harmoni, adalah victim yang harus ditolong oleh orang2 yg berada di dikotomi sebaliknya. Got it? Prinsip keselarasan mengajarkan bahwa yg lebih beruntung punya kewajiban menolong yang kurang beruntung, dan yang kurang beruntung punya hak untuk ditolong yang lebih beruntung.

Prinsip yang bagus! Very ethical. Dan kalau dijalankan dengan baik, gw yakin akan menjaga keselarasan dgn baik. Masalahnya, apa yg terjadi sekarang seolah2 sebuah paradox. Kalau benar musyawarah-mufakat dan gotong royong itu ada, bukankah kondisi yang bisa membuat seseorang merasa menjadi victim itu bisa terhindarkan? Toh, at the slightest possibility of creating that condition, there would be someone (or something) comes to the rescue. Entah dengan menjadi fasilitator untuk musyawarah-mufakat atau untuk bergotong royong menanggulangi terbentuknya kondisi itu. Jadi, kalau sekarang terjadi self pity, tentu ada sesuatu yang salah kan?

Ah, nggak tahu juga ya dimana salahnya. Jangan2 yang namanya gotong royong dan tepa selira itu sekarang sudah direduksi artinya menjadi “memaklumi pelanggaran peraturan atas nama belas kasihan atau menjaga keselarasan”. Sayang sekali, karena dengan demikian yang terjadi adalah represi terhadap masalah yang justru akan menimbulkan masalah laten yang lebih besar.

Thursday, February 16, 2006

Persepsi

Bermula dari masalah kartun Nabi Muhammad SAW yang gw lihat di blog ini, gw terlibat pembicaraan cukup serius dengan beberapa orang. Tapi yang mau gw soroti bukan kartunnya, melainkan soal persepsi. Kartun Denmark itu hanya menjadi ilustrasi di sini.

Sebagian teman gw bersikap seperti masyarakat di Suriah sana, atau seperti FPI Tangerang Kota yang berdemo: gambar itu menghina Islam. Well, pendapat yang wajar. Gambar itu memang provokatif, kasar, dan keterlaluan ngaconya. Gw sendiri kaget lihatnya, dan tentu saja sakit hati.  Tapi gw bertanya2, seberapa jauh persepsi bermain dalam pembentukan sikap kita ini? Apakah ini murni karena gambarnya? Atau lebih karena personal value yang terkait dengan obyeknya?

Dan sebaliknya pertanyaan gw: sejauh mana persepsi bermain dalam pembentukan sikap para kartunis dan pendukungnya ini? Benarkah mereka berniat menghina/memprovokasi? Atau benar2 ketidaktahuan, benar2 murni bertumpu pada kebebasan berekspresi, yang kemudian menjadi resistence ketika merasa diserang? Resistence yang muncul karena persepsi mereka tentang Islam?

Gw tertarik mengupas beberapa kutipan di sini. Ini salah satunya:

Statement:  Si Orang Denmark tahu apa soal Nabi Muhammad kenapa dia sembarang menggambar seorang Nabi yg seorang muslim pun nggak berani menggambarkan Nabinya dan dia membuat gambar itu dengan cara tidak senonoh sekaligus membuat suatu fitnah tentang Nabi Muhammad apa nggak keblinger tuh katanya dia nggak tahu tentang sejarah Islam trus nggak tahu tentang Nabi Muhammad tapi kok dia bikin gambar yg memfitnah seperti itu

Yang gw pingin highlight di sini adalah: justru orang yang gak tahu yang bisa bikin gambar seperti ini. Kalau orang sudah tahu bahwa Nabi Muhammad SAW gak boleh digambar, boro2 nggambar yg ginian. Menggambar aja gak bakal berani. Dan kenapa gambarnya gak senonoh gini? Lha, dia kan nggak tahu Nabi Muhammad SAW itu seperti apa. Dengan demikian gambarnya adalah gambar fantasi dia. Fantasi itu dibentuknya dari mana? Dari persepsi dia terhadap informasi sensoris: apa yg dia dengar, raba, lihat. Kalau yang dia lihat, dengar, raba, adalah informasi tentang Islam fundamentalis, ya gak bisa disalahin kalau kemudian fantasinya terhadap Nabi Muhammad SAW juga ikut terpengaruh.

Apakah itu lantas artinya dia memfitnah? Kalau dia tidak tahu, ya gak bisa dibilang memfitnah. Wong kita aja kalo gak sengaja makan babi aja tidak dianggap berdosa kok! Namanya juga orang gak tahu ;-)

Statement:  Gue tahu Da Vinci Code sapa yg nggak tahu gue sendiri nggak pernah baca tapi gue tahu apa buku itu Itu bukannya udah di protes ama orang Katholik. Malah waktu itu Paus juga udah protes kok, cuma kan kebanyakan Orang Khatolik udah nggak perduli lagi ama Agamanya jadi ya gitu deh. Sementara kalu Muslim itu banyak yg perduli ama Nabi kita mo masuk Islam aja baca 2 kalimat syahadat yg menyebut kalau Kita harus percaya ama Nabi Muhammad utusan Allah, jadi yah kalu nabi kita dilukiskan seperti itu rasanyakan Sakit banget tahu. dan harus diingat yah kita membela Nabi sama dengan Jihad nah masih banyak orang Islam yg berani Mati utk Nabinya.

Wow, wow, wow! Another perception, rite?

Ini pernyataan yang muncul ketika Da Vinci Code dipakai sebagai contoh; bahwa ajaran Katholik juga pernah dijungkirbalikkan, bahkan Tuhan mereka dikatakan menikah dengan mantan pelacur. Sebuah kasus yang menurut gw setara banget: ada sebuah kebebasan berekspresi yang menjungkirbalikkan isi kitab suci, tapi ditanggapi secara berbeda. Rasa sakitnya tentu sama; Nabi Muhammad SAW junjungan kita, sementara Yesus adalah Tuhan mereka. Generalisasi stimulus, tapi tidak menimbulkan generalisasi respons. Dan jawabannya seperti di atas.

Hehehe.. kalimat “kebanyakan (baca: mayoritas) dari mereka tidak perduli lagi pada agamanya, sementara kalo kita banyak yang perduli ama Nabi” adalah persepsi, bukan? Si pengucap juga tidak tahu apa2 tentang Katholik, tapi dengan sembarangan dia bisa mengatakan bahwa sebagian besar tidak perduli. Bukannya ini adalah kesalahan yg sama dengan apa yg dilakukan kartunis Denmark: memberikan label tertentu pada Nabi Muhammad SAW padahal dia tidak tahu apa2 tentang Beliau? Ini bentuk fitnah juga, bukan? Nah, kalau kita bisa memfitnah orang lain, lantas kenapa mereka tidak boleh sembarangan memfitnah tokoh2 yang kita anggap penting?

Dan yang menarik lainnya adalah kata2 berikutnya “membela Nabi sama dengan Jihad, nah masih banyak orang Islam yg berani mati untuk Nabinya”.

Setuju! Kalau masalah prinsip memang kita harus perjuangkan. Jihad. Tapi yang gw gak setuju: kenapa jihad harus dikaitkan dengan berani mati? Kenapa free association-nya jihad adalah berani mati, bukan membela prinsip sampai titik darah penghabisan? Bukankah dalam jihad itu yang penting adalah membela prinsipnya, dan berani mati itu hanya pilihan terakhir jika jalan damai tidak bisa ditemukan? Kenapa justru yang di-highlight adalah berani matinya?

Apa sih yang akan kita raih kalau mengorbankan nyawa demi menuntut gambar itu dicabut atau demi dihukum matinya si kartunis? Apakah itu akan membuat nama Islam lebih bersih? Atau justru itu akan menjadi hal yang memperkuat persepsi Barat tentang Islam: bahwa Muslim itu violent, suka berperang, agresif, dan entah apa lagi persepsi yang beredar?

Gw setuju banget dengan tulisan teman gw yang satu ini, seorang Muslim yang sekarang bermukim di Eropa (dikutip atas izin si empunya):

From: 91ers On Behalf Of Kusumastuti
Sent: Friday, February 10, 2006 12:35 PM
To: mayanoto
Subject: [91ers] sedih baca stern

Hallo semua,

kemaren sore ( seperti juga setiap kamis sore yang lalu lalu ) tukang pos mengantar majalah Stern terbaru ke rumah. Ketika saya membuka halaman 34- 35, mata saya terhenti dan... begitu saya melihat photonya.. terus terang saya sampai merinding.. Di dua halaman itu, terpampang sebuah photo yang besar dan jelas tentang demonstrasi di indonesia baru2 ini yang menyangkut soal karikatur Nabi Muhammad. Bukan urusan demonya yang membuat saya merinding. Tapi posternya ! di 2 halaman itu terpampang 1 poster besar bergambarkan dubes denmark yang dibunuh oleh 2 orang dari FPI Tangerang Kota. Orang yang satu menjambak rambut yang dubes dan menyembelih lehernya, sehingga darah muncrat kemana-mana, orang yang satu lagi menusukan pisau ke dalam mulut si dubes sehingga ( lagi2 ) darah muncrat ke mana2, dan kedua tangan beliau di pakukan ke tiang sehinga ( lagi2 ) darah muncrat ke mana2. Kata2 di poster itu juga tidak kalah sadis, seperti bantai habis dubes denmark sampai mampus, dsb. ( tapi kalaupun anda tidak mengerti bahasa indonesia, gambarnya sudah cukup untuk membuat orang2 yang sensitive memalingkan muka atau orang yang cukup kuat untuk melihat begitu banyak darah muncrat dari posisi sadis seperti itu terhenyak )

ahhh...  persis seperti poster2 komunis waktu saya belajar PSPB di sekolah.

saya tidak tahu mana yang lebih menghina islam.. orang denmark yang karena kebodohannya mencoba menggambarkan nabi Muhammad, atau orang "islam" yang seenaknya (mau) membunuh orang lain yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan masalah. (ya apa salahnya si dubes denmark ? bukan dia yang bikin karikatur, bukan dia yang menerbitkan koran itu - yang sebenarnya terbit september tahun lalu tapi baru diributkan sekarang, dan sebenarnya yang beredar itu hanya satu gambar yang asalnya dari koran tadi, sisanya sudah tambah2an orang lain )

lepas dari urusan siapa yang salah, yang saya tahu pasti dengan gambar2 seperti itu citra orang jakarta, indonesia, disamakan sadisnya dengan citra orang2 dari negara jazirah arab, atau bahkan lebih sadis.

Yup! I agree with you! Kita hanya akan menghina diri sendiri kalau masih bersikap seperti ini. Kalau pangkal masalahnya adalah persepsi, yang muncul karena ketidaktahuan, maka usahakanlah untuk memberitahu. Setidaknya, kalau pemberitahuan kita tidak mengubah persepsi mereka (atau kalau sebenarnya mereka memang benar2 ingin memprovokasi), kita tidak memberikan senjata pada mereka untuk makin mendesak atau menyalahkan kita.

Kalau kita ngeyel bertindak seperti ini, yg terjadi ya seperti di blog yang gw kutip tadi! Di blog ini bisa dilihat bagaimana terjadi persepsi Barat yang dikuatkan oleh senjata yang kita berikan ini menimbulkan kesalahpahaman yang lebih parah. Baca posting Please Leave, persepsinya malah melebar kemana2, instead of menemukan pencerahan atas masalah dasarnya. Atau mungkin memang dasarnya di penulis ini gak suka pada Muslim, dan dengan kejadian sekarang dia menemukan senjata baru untuk mengusir Muslim dari negaranya. Lihat kan, akhirnya kita yang dipojokkan? Semua karena persepsi dan penanganan yang tidak hati2 terhadap persepsi.

Well.. perception is a dangerous thing. Oleh karena itu dia harus diperlakukan sebagai fragile, breakable china. Karena kalau sampai terguncang sedikit saja, yang rugi kita sendiri. Tak perduli siapa yg mulai mengguncang dan siapa yang benar2 memecahkannya, yang jelas porselen itu sudah hancur.

Dan untuk bisa handle with care, maka yang harus kita lakukan pertama kali adalah: jangan tertipu oleh persepsi kita sendiri. Jangan menganggap persepsi kita adalah pengetahuan umum. Kalau kita sudah tertipu menganggap persepsi kita itu harusnya diketahui oleh orang2 lain, maka kita gak bisa lagi lihat inti masalahnya. Kita hanya akan melihat bahwa orang lain sengaja melakukan apa yg dia lakukan, karena harusnya dia sudah tahu isi persepsi kita.

Kesalahan yang mendasar dalam kasus kartun Denmark ini: hingga sekarang kita belum bisa benar2 membuktikan apakah si kartunis sengaja atau tidak sengaja, karena masing2 pihak sudah sibuk dengan persepsi masing2. Yang satu sibuk membela bahwa ini bagian dari kebebasan berekspresi yang harusnya diterima semua orang, sementara pihak yang lain sibuk mendemo karena merasa ini adalah bagian pengetahuan umum yang harusnya tidak dilanggar dengan sengaja.

Friday, February 10, 2006

Sebatas Secarik Kertas

Beberapa hari lalu sempat makan malam dengan teman lama. Sehingga akhirnya terucap juga pertanyaan yang udah lama belum sempat tersampaikan:

“Gimana kabar kampus? Dari kuliah S2 loe nambah banyak ilmu?”

“Sebenernya sih enggak ya! Pernah tuh gara2 peak season di kantor, gw ketinggalan 4x pertemuan. Tapi gak berasa tuh! Baca sendiri juga bisa”

“??? Lha kalo gitu ngapain loe kuliah lagi?”

Beli gelar! Tapi dengan cara legal. Bukan cuma beli ijazahnya doang”

“Beli gelar??? Sejak kapan loe perduli sama gelar akademis?”

“Sejak kerja. Soalnya itu ngaruh banget sama bidding. Loe tahu ndiri, gw banyak urusan sama instansi2. Dan mereka lebih perduli dengan ijazah apa aja yg loe punya, bukan kompetensi loe. Kadang jadi susah meyakinkan kompetensi trainer atau konsultan kita lainnya, karena pertanyaan pertama selalu tentang jenjang pendidikan formalnya. Kalau terus2an hanya dihargai sebagai S1 plus pendidikan profesi, harga bidding-nya tetap dianggap S1. Ijazah S1 plus itu harganya tidak dianggap sama dengan ijazah S2”

Ternyata itu toh alasannya teman gw kuliah lagi. Gw sempat bertanya2, karena dia dulu memang teman curhat gw tentang betapa menyedihkannya teman2 lain yang sekedar mengejar nilai A. Kalau gak salah dulu kami mengambil tema yang sama juga saat menyusun Rancangan Penelitian Psikologi Eksperimen: tentang Mastery Oriented Learning versus Academic Oriented Learning. Makanya takjub juga ketika dengar bahwa dia ikutan program yang materinya sudah dia dapatkan di kepaniteraan siswa yg kami jalani untuk menjadi psikolog dulu. Apalagi dia sendiri berprofesi sebagai psikolog praktek; sudah pasti materinya tidak menambah pengetahuan apa2 buat dia.

Dipikir2, sedih juga ya, bahwa orang dipaksa mereduksi tujuan mulia mengejar ilmu cuma demi mendapatkan gelar. Sebatas secarik kertas untuk bahan kompromi dengan tuntutan bisnis. Gw jadi inget sebuah polemik Reader’s Digest (Asian Edition) di kuartal terakhir tahun lalu. Dimulai dengan sebuah artikel yang ditulis seorang kontributor asal Inggris, yang mengatakan bahwa dia tidak ingin memasukkan anaknya ke universitas. Dia melihatnya sebagai pembuangan uang yang sia2; untuk apa memaksakan diri ke universitas jika anak itu not a university material (karena nilai akademisnya sangat rendah), untuk apa memaksakan memaksakan anaknya ke universitas antah berantah hanya demi mendapatkan gelar? Mendingan uang itu dia pakai untuk membekali anaknya dengan vocational training. Memang tidak akan membuat anaknya dapat posisi yang baik di perusahaan besar, misalnya, tapi membuat anaknya lebih tepat guna.

Tulisannya yang sangat logis itu, gw ingat, mendapat tentangan bertubi2 melalui surat pembaca. Sebagian besar surat pembaca itu datang dari negara2 Asia. Rata2 mereka mengatakan the Englishman itu tidak mau berkorban buat anaknya, melupakan kewajiban sebagai orang tua. Ada yang mencontohkan bahwa orang tuanya, seorang blue collar worker di Filipina, mengurangi jatah makan supaya bisa menyekolahkan anaknya ke universitas. Dan satu orang pembaca menulis: menyekolahkan anak setinggi2nya adalah sebuah kebanggaan bagi orang tua, dan sebuah pemupuk harapan bahwa si anak kelak akan meningkatkan taraf hidup keluarganya.

Entahlah. Mungkin memang perbedaannya adalah pada bagaimana masing2 bagian belahan dunia itu mendefinisikan pendidikan: kompetensi, atau kebanggaan? Aktualisasi individu, atau kewajiban? Proses pengembangan diri, atau hasil yang akan dilihat orang sekitar? Mastery, or simply academical?

Sedih sekali mendengar cerita teman gw itu. Kapan bangsa ini mau maju kalau pendidikan masih dipandang hanya sebatas kertas? Bahwa harga manusia hanya dinilai dari kertas ijazahnya dari jenjang apa? Bahkan, dari cerita teman gw, mereka tidak merasa perlu mempertanyakan siapa yang mengeluarkan ijazah S2 itu, dan bagaimana ijazah itu didapat. As long as you can present it, you are welcome. Gak perduli S2-nya dari universitas antah berantah atau the ivy league. Gak perduli thesisnya rumit atau sekedar kasus ecek2.

Well.. gw akui gw bisa ngomong gini karena termasuk golongan yang beruntung. Sejak lulus, gw gak pernah ditanyain soal ijazah. Bidang kerja gw lebih berkaitan dengan kompetensi dan reputasi, bukan sekedar carikan kertas ijazah. Gw kerja dengan orang2 yang menghargai kemampuan dan profesionalitas, tanpa pernah ribut mempertanyakan pendidikan gw. So, gw bisa tetap idealis dengan menyimpan harapan sekolah lagi untuk menambah ilmu. Gw bisa jual mahal, menjadi si pemilih yang mendingan nunggu kesempatan emas sekolah lagi, daripada sekolah demi mendapatkan gelar saja. Toh itu tidak mempengaruhi hidup gw.

Tapi gw khawatir dengan dunia di sekitar gw. Kapan kita mau maju kalo cara berpikirnya masih seperti ini, kalau budayanya masih seperti ini?

*Dan lagi.. bete gak sih, tinggal di tengah orang2 yang hidupnya hanya ditentukan oleh secarik kertas? Bisa2 gw kebawa ikut mengalami degradasi intelektual juga!*

Wednesday, February 08, 2006

Esprit de Corps

Hari Jumat, 3 Februari 2006, akhirnya ikut nonton Pagelaran 150 tahun Ursulin Berkarya di Indonesia. Pagelaran ini atas kerjasama lima sekolah di Jakarta dan sekitarnya yang berada di bawah naungan Ordo Santa Ursula (OSU, atau dikenal juga sebagai kelompok biarawati Ursulin): Santa Ursula, Santa Maria, Santa Theresia, Santo Vincentius, dan Santa Ursula BSD. Keputusan nontonnya bener2 impulsif! Pas jam 13:00 ditelpon Jeng Indri bahkan belum bisa kasih keputusan. Maklum, kalau selesai meeting jam 15:00 di Daan Mogot, gak jelas kapan sampai ke peradaban lagi. Padahal pagelaran mulainya jam 18:00. Tapi ternyata alam sedang bersahabat saat itu, sehingga bisa juga nonton walaupun agak telat.

Gw berangkat nonton dengan perkiraan menemukan reminiscence of the good old days. Pingin cari rasa Sanur setelah sekian tahun meninggalkannya. Tapi ternyata gw kurang connected dengan pagelarannya itu sendiri. Entahlah, mungkin karena jaman udah berubah; pagelaran ini jadi gak banyak beda dengan pensi2 di sekolah lain, isinya didominasi kuis dan nge-band. Gak ada rasa Sanur yang gw kenal; all female performance yang bener2 girl power. Atau mungkin karena terlalu banyak tangan di pagelaran ini; biarpun sama2 asuhan Ordo Ursulin, masing2 sekolah punya culture sendiri2 yang beda satu sama lain. Kemungkinan lain adalah gw termasuk lost generation di pagelaran ini; sebagian besar penonton datang untuk nonton anaknya, sebagian lagi untuk nonton teman2nya, sebagian lagi karena ini memang acara sekolahnya, dan beberapa anak CC muncul gw yakin banget nonton gara2 mau ngecengin cewek2 Sanur atau emang punya cewek di Sanur ;-). Sementara gw datang sebagai alumni yang gak jelas mau nonton siapa ;-)

Akhirnya, sejam acara berlangsung, gw malah sibuk baca buku panduan dan sempat ngobrol sama Pak Hari. Pak Hari ini guru yang konon bergelar kecengan sepanjang masa (gilaa.. pas jadi kecengannya angkatan gw, beliau masih bujangan pertengahan 20-an. Eeeh.. sampai udah jadi bapak2 beranak dua above 40, ternyata masih dikecengin juga sama junior2 gw ;-)!). Takjub juga Pak Hari masih mengenali gw, biarpun gw pakai embel2 beberapa (belas) kilogram lebih berat dibandingkan SMA dulu.

Tapi di sela2 acara yg terasa asing itu, ada dua moment yang bikin gw merinding. Pertama, ketika video pidato Sr. Francesco Marianti OSU, mantan Suster Kepala SMA Santa Ursula, diputar. Mendengar suaranya, mendengar omongannya, membuat gw terlempar ke belasan tahun lalu. Suara yang bikin kita semua ngeri kalau sudah mulai berteriak, tapi sekaligus kagum dan hormat karena tahu bahwa di balik disiplin spartannya Suster benar2 sayang sama kami. Semua yang dia lakukan, dia ucapkan, sebenarnya hanya cerminan keinginannya yang terbesar buat kami: membuat kami mampu berpikir, karena FIKIR (begitu Suster selalu menyebutnya, dengan F, bukan dengan P) itu pelita hati. Hmm.. bener juga kata Bu Lurah Panekuksanur: No matter what, no matter how she becomes, we still love her very much.

Hal kedua yang bikin gw merinding adalah ketika konfigurasi di belakang panggung membentuk gambar SERVIAM besar. Dulu-dulu rasanya gak ada yg istimewa dengan Serviam ini. We accepted it as our logo, sebagai logo yang membedakan kami dari sekolah2 lainnya, sebagai emblem yang harus dipasang di kerah baju seragam sebelah kiri. Kami tahu artinya: saya mengabdi. Kami hafal simbol2 yang tertera di logonya: gugusan bintang Ursa Minor yang diambil sebagai simbol karena namanya sesuai dengan semangat ordo (Ursa = menyayangi), warna hijau yang melambangkan cita2 luhur, serta salib yang melambangkan pengorbanan-kemenangan-berkat (sesuai ajaran Katholik yang menjadi dasar sekolah ini). Tapi ya itu, lebih ke arah hafal, tanpa sepenuhnya memahami semangatnya. Pendeknya, lencana Serviam dulu adalah sekedar discriminator bagi kami dibandingkan murid2 sekolah lain. Kebanggaan kami adalah karena menjadi anak Sanur, bukan karena pakai lencana Serviam.

Melihat logo SERVIAM setelah gak jadi anak Sanur lagi ternyata rasanya beda. Lebih dari sekedar reminiscent of the good old days, lebih dari sekedar mengingatkan gw pada seragam kotak2 hijau yang gw pakai bertahun2, pada gedung tua peninggalan jaman Belanda dengan koridor panjang dan French windows-nya, pada kebadungan2 masa remaja. Lebih dari semua itu, gw ngerasa belong to something. Something big that has a purpose; segala hal yang tersimbolkan dalam lencana. Perasaan bermakna yang melebur semua kebosanan gw selama menonton acara yang asing itu. Untuk beberapa saat, gw merasa paham perasaannya ET ketika menunjukkan jari ke angkasa dan berkata: Home. Mungkin ini juga rasanya kalau astronot2 itu melihat bumi dari luar angkasa, ya?

Sentimentil? Mungkin ;-). Tapi mungkin juga bahwa at the end SERVIAM bukan sekedar logo lagi, tapi sudah menimbulkan esprit the corps buat gw dan fellow Sanurians lainnya. Semoga!

Kami adalah kusuma bangsa
Segar bugar pun muda belia
Bersatu padu serentak maju
Ke arah luhur kami menuju
Kami sadari panggilan Tuhan
Hidup suci menjadi teladan


..
..

Majulah!
Peganglah semboyan:
Serviam! Serviam!
Tetap teguh Serviam!

(Mars SERVIAM)

-------------

Esprit the Corps: spirit of loyalty and devotion which unites the members of a group or society
(Oxford Advanced Dictionary of Current English)

Thursday, February 02, 2006

Braving the Unknown

Akhirnya, when all the dust settled, gw bisa duduk lagi di meja gw dengan manis. Kangen juga sama kompie tercinta ini. Biarpun kalau lagi leletubies (baca: lelet abis!) suka gw omelin, kalo lama gak ketemu rasanya ada yg ilang juga. Seminggu lalu memang jaringan kantor gw kena infeksi virus mbencekno W32/Blackmal yang menyebabkan semua kompie harus dibersihin satu persatu. Berhubung gw cuti, jadinya baru ketemu lagi deh kemarin. Ternyata ada setting yg mesti diperbaiki. Jadi gagal maning mesra2an sama kompie tercinta ;-p

Anyway, minggu lalu, pas nunggu giliran kompie diservis, gw akhirnya bisa melengkapi koleksi Star Trek Voyager gw. Sambil bete kelayapan di PasFes karena gak bisa kerja, ternyata tukang DVD langganan bilang berhasil menemukan Season 6 yg gw tunggu2. Pas balik kantor, di bazaar kecil Ariobimo Central, gw nemu Season 1 yg bukan box set. Komplit lah koleksi gw! Cihuy!

Di antara semua serial Star Trek, memang Voyager yg paling gw suka. Teknologinya memang paling tinggi, karena dari timeline-nya memang ini Star Trek terakhir (Star Trek Enterprise yang dibuat setelah Voyager pada dasarnya adalah prequel dari Star Trek jaman Mr. Spock dulu). Penyelesaian konflik di tiap ceritanya juga paling nyambung sama gw.. hehehe.. maklum, key person-nya banyak perempuan. Dari Captain Kathryn Janeway, Chief Engineer B’Elanna Torres, dan ex-Borg drone Seven of Nine. Ini bener2 kapalnya perempuan! Bandingkan dengan The Next Generation yg ceweknya hanya Deanna Troy (itu pun lebih ngetop karena keseksian tubuh dan hubungan cintanya dgn the first officer) dan Beverly Crusher (dokter yg gak berurusan langsung dgn day-to-day management).

Tapi mungkin alasan utama gw suka serial ini adalah karena tema ceritanya: Braving the Unknown.

Tidak seperti serial lain yg mengambil galaksi sekitar bumi sebagai setting, di serial ini kapalnya terlempar ke bagian lain dari alam semesta: the delta quadrant. Letaknya 70,000 tahun cahaya dari bumi, alias butuh 75 thn untuk kembali. Makanya mereka ketemu musuh2 yg beda, teman2 yg beda, dan bener2 sendirian tanpa bisa mengharapkan petunjuk dalam menyelesaikan masalah. Mereka memang punya Prime Directive, alias kode etik. Tapi yang namanya Prime Directive itu kan tidak detil, apalagi di dunia yg berbeda dengan kasus2 yang berbeda gini, sehingga yang namanya interpretasi itu mutlak harus dilakukan.

Menginterpretasikan sendiri sejauh apa bisa bertindak tanpa melanggar Prime Directive tentunya nggak mudah. Dalam salah satu episode Captain Janeway sendiri pernah disindir bahwa hal pertama yang harus dia hadapi jika kembali ke bumi adalah didakwa atas puluhan, bahkan mungkin ratusan, pelanggaran atas Prime Directive.

Tapi itu memang resiko yang harus diambil ya? Seperti speech-nya sang Captain di episode pertama dulu, waktu mereka baru saja memilih menghancurkan satu2nya jalan untuk kembali tanpa menempuh perjalanan puluhan tahun:

We're alone, in an uncharted part of the galaxy. We've already made some friends here and some enemies. We have no idea of the dangers we're going to face, but one thing is clear, both crews are going to have to work together if we're to survive. And as the only Starfleet vessel assigned to the Delta Quadrant we'll continue to follow our directive: to seek out new worlds and to explore space

Memasuki suatu perubahan, suatu kondisi baru, memang tidak mudah. Resikonya gede banget. Tapi sekaligus juga menarik. Beberapa orang tertarik karena dancing with danger, tarik ulur antara tetap dalam koridor dan kebablasan. Sebagian orang lain merasa bahwa the risk is worth to satisfy the curiousity.

Gw sendiri? Hmm.. gw tuh orang yang sangat curious terhadap berbagai hal di sekitar gw. Biarpun gak bisa janji bakal sabar dan tenang kalau menghadapi sesuatu yg berubah, tapi gw selalu curious untuk mencoba sesuatu yg baru. Yaaaah.. walaupun in the process biasanya berurai air mata juga ;-) Kayak sekarang nih, gw lagi nangis2 bombay karena merasa ada yg salah dengan salah satu gadget baru gw (untuuuung.. ada yang selalu sabar jadi sansak gw kalo lagi bete ;-p). Tapi toh tetap jalan terus, karena penasaran.. ;-p.

Nanti, kalau masa2 nangis bombay udah selesai, pasti selalu ada yg menarik. Setidaknya, gw akan puas karena gw gak harus hidup dengan what if dan why berkepanjangan. It is worth the risk and all the difficult time, rite?