Tuesday, February 21, 2006

Desperate Housewives

Suka nonton Desperate Housewives? Itu serial drama komedi yang pernah diputar di Indosiar, tentang 5 sahabat yang tinggal di Wisteria Lane. Lima2nya housewives, lima2nya desperate for different reason; Lynette si wanita karir yang trapped sebagai full-time mom dengan 4 anak (dua di antaranya kembar pengidap ADHD), Susan si janda muda naif dengan mantan suami yang manipulatif dan mysterious hunky boyfriend, Gabrielle si mantan top model papan atas yang bosan dengan suami posesif, Mary Alice si pendamai yang ternyata menyimpan rahasia tak tertanggungkan, serta Bree yang sangat sempurna di mata semua orang.. kecuali di mata keluarganya sendiri.

Gw sekarang pingin bikin parodinya: Desperate Housewives on Hysteria Lane. Tokohnya? Gw sendiri, dan ibu2 di Indonesia. Lokasinya? Well, Hysteria Lane mungkin terletak di lorong2 supermarket dan hipermarket tiap belanja.

Hehehe.. lorong2 itu, tepatnya label2 kecil bertuliskan harga barang di lorong itu, memang bisa bikin histeris. Kemarin gw belanja dua mingguan. Seperti biasa gw langsung ke lorong beras, dan.. what???? Beras yang biasa gw beli, yang belanja lalu harganya masih Rp 124,000 per 20 kg, sekarang udah jadi Rp 160,ooo! Saking takjubnya melihat harga itu, gw langsung pindah ke lorong lain sambil mikir2 strategi menghindarkan keluarga dari kelaparan tanpa harus besar pasak daripada tiang ;-). Tapi ternyata lorong2 lain juga menimbulkan hysteria yang sama: beberapa harga yang gw ingat kaldu blok naik sekitar Rp 2,000, pembersih lantai naik Rp 1,000, susu kemasan kotak 250ml naik sekitar Rp 4,000 per karton, teh favorit naik Rp 1,500, gula putih naik Rp 2,000/kg, dst, dst. Well, emang sih kenaikan Rp 1,000 – Rp 2,000 mungkin gak seberapa. Tapi kalau semua item naik, bayangkan betapa bengkaknya dana belanja!

*hehehe... ini alasan kenapa gw gak mau mendelegasikan tugas belanja ke si Mas kecuali kalo terpaksaaaaa sekali. Seperti laki2 pada umumnya, dia selalu menganggap kenaikan harga sekian itu gak perlu dipikirin. Apalah arti Rp 1,000 – Rp 2,000? Toh gak bikin kita jadi miskin… ;-) Iya sih, gak bikin miskin. Tapi bisa bikin significant problem dalam neraca keuangan, if we want to keep it in balance ;-)*

So.. kemarin gw langsung sibuk merancang strategi. Apa yang bisa dikorbankan dalam belanja kali ini? Gimana mengorbankannya?

Beras yg naik Rp 40,000 itu jelas out-of-question deh! Mesti cari beras pengganti, yang gak kalah enak, tapi harga lebih bersahabat. Jadi untuk kali ini beli beras yang kelasnya di bawah itu, tapi masih tergolong in the same league. Harganya Rp 140,000. Lumayan, hemat Rp 20,000.

Berikutnya, susu kotak Ima. Biasanya gw beli yg 250ml. Tapi kali ini beli yang 200ml. Penyunatan 50ml dari jatah susunya gak akan terlalu signifikan buat Ima. Tapi buat gw, lumayan bisa memotong Rp 2,000 dari daftar belanja.

Kopi si Mas dan teh sementara ini gak bisa dikorbankan. Ini udah the best value for money hasil kompromi beberapa waktu lalu ketika harga2 merambat naik. Tapi jus jeruk dan jus tomat terpaksa dicoret dari daftar belanja. We can live without this luxury for a little while. Dan ada lagi yang bisa dikompromi: beli pencuci piring, pembersih lantai, dan pelicin pakaian yang lagi promosi. Beli 3 gratis 1! Itung2annya: well-known floor cleaner yang termurah adalah Rp 8,550 (1,800ml). Produk promosi: Rp 2,460 (450ml). Dengan promosi ini, gw hanya bayar kurang dari Rp 7,500 untuk volume 1,800ml. Hemat Rp 1,000 kan? Itu baru dari 1 produk.

Memang produk2 itu unbranded sih, alias bikinan si hipermarket itu sendiri. Tapi.. siapa takut? Pembantu di rumah selalu nambahin jeruk nipis tanaman sendiri untuk cuci piring, sehingga apa pun merek pencucinya gak terlalu ngaruh. Pembersih lantai.. hmm.. I can live without that nice fragrance of floor cleaner. Dan pelicin pakaian.. toh hanya dipakai untuk baju2 rumah yang bahannya gak terlalu bagus. Untuk baju kantor masih ada softener yg the best value for money (well, at least that’s what one of my research said ;-p) atau baju2 tertentu di-laundry. So.. gak masalah lah untuk ngambil produk promosi. Lumayan, mengurangi total sekitar Rp 5,000 dari daftar belanja.

Demikianlah.. maneuver demi maneuver gw lakukan untuk mensiasati kenaikan2 harga. Dan.. ketika tiba saatnya membayar.. yes!! Jumlah nominal yang harus dikeluarkan tidak keluar dari jatah!! Kalau gak pakai maneuver ini sih jumlah yg harus dibayarkan sekitar Rp 150,000 lebih tinggi. Lumayan kan, menghemat Rp 150,000? Uang segitu cukup untuk bayar les renangnya Ima bulan depan. Atau untuk memperpanjang langganan Bee Magazine-nya Ima 2 bulan lagi (buat yg punya anak SD, majalah ini highly recommended). Kata siapa kenaikan Rp 1,000 – Rp 2,000 itu gak signifikan ;-)?

Gw cukup puas dengan hasil kerja gw kemarin. Tapi gw juga cemas; sampai kapan gw bisa melakukan evasive maneuver seperti ini? Akan tiba hari dimana ruang gerak sudah sedemikian sempitnya, sehingga tidak mungkin bermanuver, kalau keadaan ekonomi negeri ini tidak membaik. Apa artinya kenaikan pendapatan, kalau harga2 membumbung tinggi? (dan lagian, siapa yang mau kasih kenaikan pendapatan hari geneee? ;-p)

Gw sendiri sejauh ini masih beruntung. Gw cukup terampil mencongak, cukup terbiasa berpikir strategic mencari quick solution, sehingga masih bisa menyiasati harga2 yang tidak bersahabat ini. Apes2nya, gw masih punya resources yang bisa di-stretch a little more kalau terpaksa. Insya Allah masih cukup lama gw bisa bertahan sebelum akhirnya terdesak oleh kenaikan2 harga.

Tapi bagaimana nasib ibu2 yang tidak seberuntung gw? Tidakkah mereka sudah menjadi desperate housewives saat ini? Dan apa yg akan terjadi pada mereka pada saat gw benar2 join the club dan menjadi another desperate housewife?

----

Note:

Wisteria: sejenis tanaman merambat; Hysteria: emotional outburst due to the disturbance of the nervous system

ADHD: Attention Deficit Hyperactivity Disorder, gangguan yang menyebabkan anak sulit berkonsentrasi dan selalu beraktivitas berlebihan, yang pastinya membuat orang tua harus selalu waspada memperhatikan mereka.