Monday, February 27, 2006

Beauty is in the Eye of the Beholder

Gw pikir, setelah hampir 9 thn di bidang riset, gak bakal ada lagi riset yg bikin gw takjub. Ternyata, there is still something in store for me. Dan gak nyangka banget bahwa ketakjuban ini muncul dari produk yang gw anggap under control: kosmetik. Well, I don’t want to underestimate this product, tapi.. kalau gw udah pernah melakukan penelitian tentang antibiotik yang konon digunakan bapak2 hidung belang untuk mencegah penyakit kelamin, penelitian tentang minuman yang dipercaya bisa membersihkan paru2, dan beberapa penelitian dengan tingkat kesulitan seperti itu, it is natural kalau kosmetik kelihatan under control.

Sebenernya bukan sekali ini aja gw dapat riset tentang kosmetik. Tapi untuk merek luxury seperti ini, dengan target market yang skin care freak, memang ini pengalaman pertama gw. Oleh karena itu gw merasa harus mempersenjatai diri gw sendiri sebelum nyemplung menangani projectnya. Yah.. kalau nggak, gimana gw bisa empati sama sekelompok ibu2 paruh baya yang hurriedly make appointment with their doctor on the first cue of pimples? Lha wong meja rias gw aja sudah beralih fungsi jadi meja charger sejak.. well, to tell you the truth, meja rias gw itu hanya sekali waktu berfungsi sebagai meja rias: saat gw jadi pengantin. Sesudah itu tuh meja selalu alih fungsi: pertama jadi tempat naruh DVD, kemudian jadi tempat naruh perlengkapan bayi saat Ima baru lahir, dan terakhir tempat sekelompok charger bertahta ;-)

So, tadinya gw sempat berniat ikut make up class untuk menambah pengetahuan. Tapi kemudian my colleague mengusulkan cara yang lebih praktis dan “gw banget”, yaitu baca buku The Make Over: Rahasia Rias Wajah Sempurna tulisan Andiyanto dan Aju Isni Karim. Malah kantor dengan baik hati membeli buku tersebut dan meminjamkannya buat gw, supaya gw bisa belajar di rumah.

Bukunya setebal 156 halaman. Baru juga sampai halaman 18, gw udah takjub. Selama ini gw pikir bentuk kuas yang berbeda2 itu sekedar variasi aja, yang bisa dipilih sesuai selera. Ternyata enggak, lho! Beda2: kuas kipas untuk membersihkan wajah dari serpihan2 kosmetik yang rontok, kuas yang ujungnya menyerong untuk mengaplikasikan shading di bagian wajah yang bersudut, kuas powder ternyata gak bisa dipakai untuk blush-on. Terus.. gw baru tahu ada spons yang bentuknya wajik, gunanya untuk meratakan concealer atau foundation pada sudut menyempit seperti bawah mata (BTW, bawah mata itu ternyata kategorinya menyempit lho ;-)). Spons wajik ini ternyata beda fungsi sama spons bundar.

Masuk ke bab Bentuk Wajah di halaman 39, gw makin takjub. Selama ini gw pikir yang namanya foundation itu tinggal pilih satu yang sesuai warna kulit kita. Ternyata enggak! Menurut buku ini, setidaknya kita mesti punya 2 foundation dengan warna yang beda: satu warna yang sesuai kulit kita untuk diaplikasikan pada bagian wajah yang bentuknya ingin dipertahankan, dan minimal satu warna yang 1-2 tingkat lebih gelap untuk koreksi wajah membentuk efek shading. Kalau mau sempurna, kita mesti punya satu warna lagi yang 1-2 tingkat lebih terang dari warna kulit untuk memberi efek highlight.

Jadi.. sejauh ini, menurut petunjuk kalau kita mau pakai foundation aja tahapnya ada tiga:

1.       Pakai foundation warna kulit di seluruh wajah dan leher

2.      Pakai foundation yang warnanya lebih gelap untuk efek shading. Kata buku, untuk muka bulat seperti gw, efek shading ini diaplikasikan di pinggiran kening dan pinggiran pipi ke arah rahang, biar kelihatan agak tirus.

3.      Pakai foundation yang warnanya lebih terang daripada warna kulit untuk meng-highlight bagian2 wajah yang ingin kita tonjolkan.

OK, sampai di sini aja gw udah mulai mikir: berapa lama gw mesti dandan? Sebelum melakukan tahap 2, kan foundation pertama harus kering dulu? Terus, harus nunggu foundation ke-2 kering sebelum pakai yang ke-3. Lha, untuk foundation aja berapa menit???

Dan itu ternyata baru koreksi wajah!! Untuk koreksi hidung, bibir, mata aja ada tahap2 lain. Dan baru setelah koreksi2 itu selesai, kita pakai kosmetik pewarnanya (that is: blush-on, eye shadow, lipstick, etc, etc). Oh my God! Belum lagi koreksi alis setelah dandanan warna-warni selesai!

Gw agak lega setelah akhirnya segala macam petuah tentang koreksi wajah dan pelukisan wajah itu selesai. Halaman 98 mulai masuk contoh2 Wajah & Koreksinya. Hasilnya memang bagus2, before and after-nya beda2 (well, it has to be good! Don’t forget the wasted time and all the extra effort ;-)!).  Tampang yang aslinya biasa banget, setelah didandanin menjadi cantik dan glamor. Gw mulai bisa menikmati topik ini dan berempati pada calon responden gw.. ;-) So, all the time and effort is really worth!

Gw pikir, gambar2 ini adalah bagian terakhir dari buku ini. Toh, teorinya udah. Contoh2nya juga udah kelihatan cantik dan glamor. Jadi, nggak ada lagi yang perlu dipelajari toh? Namun.. gw kaget waktu sampai halaman 124: Rias Wajah Glamor. What???? Ternyata apa yg gw anggap cantik dan glamor itu masih merupakan bagian dandanan sehari2… ;-).  Untuk “acara2 khusus” yang “membutuhkan wajah agak berbeda” masih “dibutuhkan keberanian untuk berubah”.. ;-)! Dan keberanian untuk berubah itu diterjemahkan sebagai beberapa tambahan langkah khusus.

Well, pada paruh pertama buku itu, gw sempat berpikir bahwa kayaknya lucu juga untuk belajar dandan. At least, kalau ada pesta penampilan gw tidak akan terlalu plain. Gak usah pakai highlight segala deh, cukup punya foundation dengan 2 warna berbeda aja untuk shading, plus 1 set kosmetik lukisan wajah itu. Paling enggak, biar make up bag gw isinya bukan cuma moisturizer, loose powder, dan sebatang lipstik.. ;-).

Tapi pikiran itu gw batalkan deh! To be beautiful seems to be a long, exhausting, painful journey for me.. ;-). Cukup deh gw belajar teorinya untuk menghadapi the upcoming project. Setelah itu.. Au Revoir! Auf Wiedersehn! Farewell! Biarpun hidung gw pesek, dahi gw selebar lapangan bola, muka gw bak bulan purnama.. I love me just the way I look (buseeeet… gw narsis ya? HAHAHA… ). Lagian, bukankah beauty is in the eye of the beholder ;-)?