Friday, February 10, 2006

Sebatas Secarik Kertas

Beberapa hari lalu sempat makan malam dengan teman lama. Sehingga akhirnya terucap juga pertanyaan yang udah lama belum sempat tersampaikan:

“Gimana kabar kampus? Dari kuliah S2 loe nambah banyak ilmu?”

“Sebenernya sih enggak ya! Pernah tuh gara2 peak season di kantor, gw ketinggalan 4x pertemuan. Tapi gak berasa tuh! Baca sendiri juga bisa”

“??? Lha kalo gitu ngapain loe kuliah lagi?”

Beli gelar! Tapi dengan cara legal. Bukan cuma beli ijazahnya doang”

“Beli gelar??? Sejak kapan loe perduli sama gelar akademis?”

“Sejak kerja. Soalnya itu ngaruh banget sama bidding. Loe tahu ndiri, gw banyak urusan sama instansi2. Dan mereka lebih perduli dengan ijazah apa aja yg loe punya, bukan kompetensi loe. Kadang jadi susah meyakinkan kompetensi trainer atau konsultan kita lainnya, karena pertanyaan pertama selalu tentang jenjang pendidikan formalnya. Kalau terus2an hanya dihargai sebagai S1 plus pendidikan profesi, harga bidding-nya tetap dianggap S1. Ijazah S1 plus itu harganya tidak dianggap sama dengan ijazah S2”

Ternyata itu toh alasannya teman gw kuliah lagi. Gw sempat bertanya2, karena dia dulu memang teman curhat gw tentang betapa menyedihkannya teman2 lain yang sekedar mengejar nilai A. Kalau gak salah dulu kami mengambil tema yang sama juga saat menyusun Rancangan Penelitian Psikologi Eksperimen: tentang Mastery Oriented Learning versus Academic Oriented Learning. Makanya takjub juga ketika dengar bahwa dia ikutan program yang materinya sudah dia dapatkan di kepaniteraan siswa yg kami jalani untuk menjadi psikolog dulu. Apalagi dia sendiri berprofesi sebagai psikolog praktek; sudah pasti materinya tidak menambah pengetahuan apa2 buat dia.

Dipikir2, sedih juga ya, bahwa orang dipaksa mereduksi tujuan mulia mengejar ilmu cuma demi mendapatkan gelar. Sebatas secarik kertas untuk bahan kompromi dengan tuntutan bisnis. Gw jadi inget sebuah polemik Reader’s Digest (Asian Edition) di kuartal terakhir tahun lalu. Dimulai dengan sebuah artikel yang ditulis seorang kontributor asal Inggris, yang mengatakan bahwa dia tidak ingin memasukkan anaknya ke universitas. Dia melihatnya sebagai pembuangan uang yang sia2; untuk apa memaksakan diri ke universitas jika anak itu not a university material (karena nilai akademisnya sangat rendah), untuk apa memaksakan memaksakan anaknya ke universitas antah berantah hanya demi mendapatkan gelar? Mendingan uang itu dia pakai untuk membekali anaknya dengan vocational training. Memang tidak akan membuat anaknya dapat posisi yang baik di perusahaan besar, misalnya, tapi membuat anaknya lebih tepat guna.

Tulisannya yang sangat logis itu, gw ingat, mendapat tentangan bertubi2 melalui surat pembaca. Sebagian besar surat pembaca itu datang dari negara2 Asia. Rata2 mereka mengatakan the Englishman itu tidak mau berkorban buat anaknya, melupakan kewajiban sebagai orang tua. Ada yang mencontohkan bahwa orang tuanya, seorang blue collar worker di Filipina, mengurangi jatah makan supaya bisa menyekolahkan anaknya ke universitas. Dan satu orang pembaca menulis: menyekolahkan anak setinggi2nya adalah sebuah kebanggaan bagi orang tua, dan sebuah pemupuk harapan bahwa si anak kelak akan meningkatkan taraf hidup keluarganya.

Entahlah. Mungkin memang perbedaannya adalah pada bagaimana masing2 bagian belahan dunia itu mendefinisikan pendidikan: kompetensi, atau kebanggaan? Aktualisasi individu, atau kewajiban? Proses pengembangan diri, atau hasil yang akan dilihat orang sekitar? Mastery, or simply academical?

Sedih sekali mendengar cerita teman gw itu. Kapan bangsa ini mau maju kalau pendidikan masih dipandang hanya sebatas kertas? Bahwa harga manusia hanya dinilai dari kertas ijazahnya dari jenjang apa? Bahkan, dari cerita teman gw, mereka tidak merasa perlu mempertanyakan siapa yang mengeluarkan ijazah S2 itu, dan bagaimana ijazah itu didapat. As long as you can present it, you are welcome. Gak perduli S2-nya dari universitas antah berantah atau the ivy league. Gak perduli thesisnya rumit atau sekedar kasus ecek2.

Well.. gw akui gw bisa ngomong gini karena termasuk golongan yang beruntung. Sejak lulus, gw gak pernah ditanyain soal ijazah. Bidang kerja gw lebih berkaitan dengan kompetensi dan reputasi, bukan sekedar carikan kertas ijazah. Gw kerja dengan orang2 yang menghargai kemampuan dan profesionalitas, tanpa pernah ribut mempertanyakan pendidikan gw. So, gw bisa tetap idealis dengan menyimpan harapan sekolah lagi untuk menambah ilmu. Gw bisa jual mahal, menjadi si pemilih yang mendingan nunggu kesempatan emas sekolah lagi, daripada sekolah demi mendapatkan gelar saja. Toh itu tidak mempengaruhi hidup gw.

Tapi gw khawatir dengan dunia di sekitar gw. Kapan kita mau maju kalo cara berpikirnya masih seperti ini, kalau budayanya masih seperti ini?

*Dan lagi.. bete gak sih, tinggal di tengah orang2 yang hidupnya hanya ditentukan oleh secarik kertas? Bisa2 gw kebawa ikut mengalami degradasi intelektual juga!*