Friday, February 24, 2006

Tentang Raju

Waktu gw kecil, ada satu hal yang menakutkan gw: Tempat Penitipan Anak Nakal. Tiap kali nama itu disebutkan, yg terbayang di benak gw adalah sebuah bangunan besar, warnanya hijau, dengan banyak anak2 nakal yang suka mengganggu anak lain di dalamnya. Sebagai balita, gw belum tahu bahwa bangunan yg pernah gw lihat itu adalah Lembaga Pemasyarakatan Anak Tangerang, tempat pelaku kejahatan di bawah umur dimasyarakatkan oleh negara. Saat itu tokoh otoritas yang gw kenal dan gw tahu bisa menghukum seorang anak hanyalah orang tua. Oleh karenanya, gw membayangkan bahwa semua anak2 nakal itu dititipkan oleh orang tuanya karena dianggap terlalu nakal. Hal itu sudah cukup untuk membuat gw takut, sehingga gw khawatir sekali dianggap nakal oleh orang tua gw. Kalau ibu/bapak bilang apa yg gw lakukan itu termasuk kenakalan, gw langsung minta maaf dan minta untuk tidak dititipkan ke sana.

Sampai Ima umur 4 thn, kata yang menakutkan buat dia adalah: Tukang Barang Bekas. Dia tahu bahwa tukang loak itu membeli barang2 yang sudah tidak kita pakai. Lantaran dia sering melihat tukang loak yg membawa anaknya di gerobak, timbul persepsi dalam logika sederhananya bahwa anak pun bisa diloakkan, kalau orang tuanya sudah tidak suka pada dia. Beberapa kali di hari Minggu Ima yg tadinya menolak disuruh mandi/makan oleh pengasuhnya, langsung lari ke kamar mandi begitu terdengar suara tukang loak. Waktu gw tanya, Ima bilang dia takut jadi anak bau. Menurut dia, anak bau tidak disayang dan bisa2 diloakkan seperti anak yang dia lihat ada di gerobak tukang loak.

Well, baik di kasus gw atau di kasus Ima, para orang tua tidak lantas menggunakan kata tersebut sebagai bahan untuk menakut2i. Bo-nyok gw hanya tidak memperjelas mekanisme penahanan anak nakal itu, sementara gw & si Mas simply membiarkan Ima punya persepsi yg salah untuk beberapa saat. Namun toh, logika sederhana gw (dan Ima) membuat kami lebih well-behaved karena takut pada konsekuensi yg dibayangkan. Harmless mechanism for behavioral shaping, karena kita sekedar memanfaatkan persepsi. Selama kita tidak memperkuatnya, persepsi itu akan berubah seiring bertambahnya informasi dan meningkatkan kemampuan nalar. Pada saat nalar dan pengetahuan mengubah persepsi itu, pada saat konsep itu sudah tidak lagi menakutkan baginya, hopefully si anak juga sudah membentuk sistem nilai yg tidak membutuhkan konsep itu sebagai kontrol perilaku.

Rabu lalu, 22 Februari, gw membaca di Kompas berita tentang Raju, seorang anak usia kurang dari 8 thn yang diadili karena berkelahi. Kutipan beritanya:

Rabu siang, 31 Agustus 2005, yang menjadi awal semua peristiwa ini, mungkin tak diingat Raju. Ia hanya tahu, hari itu sepulang sekolah dia diejek Armansyah, kakak kelasnya yang berumur 14 tahun. Perkara saling ejek anak SD yang lumrah terjadi ini berbuntut perkelahian. Raju tak terima dengan ejekan Armansyah. Mereka berkelahi. Keduanya sama-sama terluka.

Seharusnya perkara ini selesai saat kedua orangtua anak-anak ini bertemu. Sugianto, ayah Raju, sepakat membiayai pengobatan Armansyah. Namun, entah mengapa, orangtua Armansyah mengadukan Raju kepada polisi. Anak bungsu pasangan Sugianto dan Saedah itu disangka melakukan penganiayaan.

Maka, mulailah mimpi buruk dalam kehidupan Raju. Pada September 2005, tiga kali Sugianto harus membawa Raju ke Kantor Polisi Sektor Gebang, Kabupaten Langkat, untuk disidik. Dalam pemeriksaan, Raju sama sekali tidak didampingi penasihat hukum ataupun petugas dari Balai Pemasyarakatan Anak (Bapas).

Hakim tunggal yang mengadili perkara Raju, Tiurmaida H Pardede, dirasakan telah menyidangkan perkara ini demikian "tegas". Raju merasa diperlakukan sebagai pesakitan yang pantas duduk di kursi terdakwa. Suara tegas ibu hakim menjadi seperti bentakan yang menakutkannya.

Raju akhirnya menangis di persidangan. "Raju takut karena bu hakimnya bentak-bentak Raju," ujar bocah yang lahir pada 9 Desember 1997 itu. Yang membuat orangtuanya prihatin, perkataan sang hakim pada sidang pertama seperti sudah menyudutkan Raju. Menurut Saedah, pada sidang pertama hakim langsung memvonis anaknya. "Hakim bilang, dari raut mukanya saja dia tahu bahwa anak saya memang anak nakal," ujar Saedah.

Oleh sang hakim, bocah yang hobi bermain sepak bola sepulang sekolah ini diharuskan menjalani penahanan di Rumah Tahanan (Rutan) Pangkalan Brandan, terhitung sejak hari itu hingga 2 Februari. Raju dianggap memberikan keterangan berbelit sehingga perlu ditahan. "Raju takut kerangkeng (penjara). Banyak orang jahat di sana," ujar anak itu dengan mata berkaca-kaca.

Kasus Raju mungkin tak akan pernah diketahui andai tak ada staf divisi hukum Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) Medan, Jonathan Panggabean dan Suryani Guntari. Suryani merasa tak seharusnya anak di bawah usia delapan tahun menjalani persidangan. Namun, Tiurmaida bersikukuh perkara Raju harus terus disidangkan karena pada saat berkas masuk ke pengadilan usia Raju telah mencapai delapan tahun satu bulan.

Persidangan demi persidangan semakin merusak mental Raju. Apalagi hakim seperti tak melihat sosok lugu Raju.

Cerita ini membuat gw marah banget. Saking marahnya, gw jadi gak bisa nulis on the D-day. Gw marah banget sama si Hakim. Gw marah banget sama si penggugat. Gw marah sama orang2 yg diam saja di sekitar Raju (bahkan tidak memberikan ijin Raju disuapi karena hanya hakim yang boleh memerintahkan tahanan keluar). Gw bahkan marah sama pembuat UU yang mengesahkan bahwa anak usia 8 thn sudah boleh digugat. ARE THEY MENTALLY RETARDED OR WHAT???

Gw gak habis pikir apa yg ada di kepala orang tua Armansyah. Bagaimana bisa sekedar perkelahian bocah diadukan sebagai penganiayaan? Dan… even kalau ini penganiayaan, gimana bisa seorang anak usia 14 thn seperti Armansyah dianiaya anak yg 6 thn lebih muda? Cowok, usia 14 thn, sudah masuk usia akil balik. Dari segi fisik aja sudah sangat meragukan dia dianiaya oleh anak umur 8 thn. Kalaulah si ortu too mentally retarded to see the flaw in this logic, mestinya polisi dan hakim yang terhormat punya pikiran yg lebih terang. Ini kok malah hakim dan polisinya lebih ajaib!!

Yaaah.. Bu Hakim, saya juga tahu bahwa di Kriminologi teori Cesare Lombrosso dipakai. Tapi apa Bu Hakim gak punya bacaan lain selain Lombrosso? Rasanya, sudah banyak teori lain yg berkembang tentang kriminalitas sejak Pak Lombrosso ini mengemukakan teorinya. Emang Bu Hakim ini edisi tahun berapa sih, kok kelihatannya ketinggalan kereta amat?? Dan plis deh! Keterangan berbelit? What do you expect from an 8-year-old boy? Kalau mewawancara anak umur 8 thn untuk project marketing research aja gw sering harus memformulasi ulang pertanyaan gw karena jawaban mereka suka kemana2. Padahal situasinya santai dan nyaman, tidak menegangkan seperti pengadilan, dan tidak gw bentak2 untuk menjawab.

Well, perkembangan terbaru sih menunjukkan bahwa Komnas Perlindungan Anak sudah memprotes keras perlakuan itu. Tapi ada baiknya jika bukan hanya si hakim dan polisi yang diprotes, melainkan seluruh UU-nya. Menurut gw pribadi, memungkinkan seorang anak usia 8 thn untuk dituntut secara hukum pun sudah sangat tidak masuk akal. Kalau bicara tentang perkembangan kognitif dari Piaget, misalnya, sudah jelas bahwa usia 8 thn itu masih dalam tahap Concrete Operational. Bahkan sebenarnya baru masuk tahap Concrete Operational. Apa yang mau dicapai dengan menuntut secara hukum anak seusia ini? Pairing secara konkrit bahwa memukul orang sekali dibayar dengan persidangan berkali2? Atau memukul orang sekali konsekuensinya adalah dikurung berbulan2? Dan terpikirkah akibatnya? Jika concrete pairing itu mendekam dalam benak si anak, bisa jadi dia seumur hidup tidak berani melawan kalau disakiti. Dia tidak lagi melihat konteks self-defense, melainkan hanya selalu mengingat concrete pairing bahwa memukul = mendapatkan perlakuan yg lebih parah.

Gw kembali mengingat pengalaman gw & Ima. Saat ini gw tahu bahwa untuk bisa masuk ke Lembaga Pemasyarakatan Anak Tangerang, tidak cukup hanya dengan memecahkan piring kesayangan ibu. Ima juga sudah tahu bahwa tukang loak tidak membeli anak bekas, apalagi cuma gara2 anak itu tidak mau mandi. But I keep thinking, apa yg terjadi kalau dulu orang tua gw iseng menitipkan gw ke LPA Tangerang atau gw bekerja sama dgn si tukang loak untuk pura2 meloakkan Ima. Akankah kami sampai pada pemahaman seperti ini? Ataukah justru gw (dan Ima) menjadi begitu terokupasi pada pengalaman itu sehingga tidak bisa mencerna informasi yg datang kemudian, walaupun secara nalar kami mampu melakukannya?

Dan pertanyaan yang sama gw ajukan untuk kasus ini: apakah yang akan dicapai dengan menyidangkan dan menghukum Raju? Tidakkah cukup dengan membiarkan Raju mengembangkan mekanisme kontrolnya sendiri, dan orang tua serta orang dewasa di sekitarnya hanya bertugas untuk tut wuri handayani?

Gw yakin Raju, dan anak2 lainnya, punya kemampuan seperti gw & Ima. And he deserves to get the opportunity. Dia tidak harus diperlakukan seperti ini.

*And BTW, menurut gw harusnya ortu si Armansyah itu dituntut balik dengan tuduhan pencemaran nama baik dan perbuatan tidak menyenangkan. Dengan mengatakan anaknya dianiaya oleh anak kecil, bisa gak ya dikategorikan pencemaran nama baik? Bisa kali ya, kan kategorinya fitnah.. ;-)*