Thursday, February 02, 2006

Braving the Unknown

Akhirnya, when all the dust settled, gw bisa duduk lagi di meja gw dengan manis. Kangen juga sama kompie tercinta ini. Biarpun kalau lagi leletubies (baca: lelet abis!) suka gw omelin, kalo lama gak ketemu rasanya ada yg ilang juga. Seminggu lalu memang jaringan kantor gw kena infeksi virus mbencekno W32/Blackmal yang menyebabkan semua kompie harus dibersihin satu persatu. Berhubung gw cuti, jadinya baru ketemu lagi deh kemarin. Ternyata ada setting yg mesti diperbaiki. Jadi gagal maning mesra2an sama kompie tercinta ;-p

Anyway, minggu lalu, pas nunggu giliran kompie diservis, gw akhirnya bisa melengkapi koleksi Star Trek Voyager gw. Sambil bete kelayapan di PasFes karena gak bisa kerja, ternyata tukang DVD langganan bilang berhasil menemukan Season 6 yg gw tunggu2. Pas balik kantor, di bazaar kecil Ariobimo Central, gw nemu Season 1 yg bukan box set. Komplit lah koleksi gw! Cihuy!

Di antara semua serial Star Trek, memang Voyager yg paling gw suka. Teknologinya memang paling tinggi, karena dari timeline-nya memang ini Star Trek terakhir (Star Trek Enterprise yang dibuat setelah Voyager pada dasarnya adalah prequel dari Star Trek jaman Mr. Spock dulu). Penyelesaian konflik di tiap ceritanya juga paling nyambung sama gw.. hehehe.. maklum, key person-nya banyak perempuan. Dari Captain Kathryn Janeway, Chief Engineer B’Elanna Torres, dan ex-Borg drone Seven of Nine. Ini bener2 kapalnya perempuan! Bandingkan dengan The Next Generation yg ceweknya hanya Deanna Troy (itu pun lebih ngetop karena keseksian tubuh dan hubungan cintanya dgn the first officer) dan Beverly Crusher (dokter yg gak berurusan langsung dgn day-to-day management).

Tapi mungkin alasan utama gw suka serial ini adalah karena tema ceritanya: Braving the Unknown.

Tidak seperti serial lain yg mengambil galaksi sekitar bumi sebagai setting, di serial ini kapalnya terlempar ke bagian lain dari alam semesta: the delta quadrant. Letaknya 70,000 tahun cahaya dari bumi, alias butuh 75 thn untuk kembali. Makanya mereka ketemu musuh2 yg beda, teman2 yg beda, dan bener2 sendirian tanpa bisa mengharapkan petunjuk dalam menyelesaikan masalah. Mereka memang punya Prime Directive, alias kode etik. Tapi yang namanya Prime Directive itu kan tidak detil, apalagi di dunia yg berbeda dengan kasus2 yang berbeda gini, sehingga yang namanya interpretasi itu mutlak harus dilakukan.

Menginterpretasikan sendiri sejauh apa bisa bertindak tanpa melanggar Prime Directive tentunya nggak mudah. Dalam salah satu episode Captain Janeway sendiri pernah disindir bahwa hal pertama yang harus dia hadapi jika kembali ke bumi adalah didakwa atas puluhan, bahkan mungkin ratusan, pelanggaran atas Prime Directive.

Tapi itu memang resiko yang harus diambil ya? Seperti speech-nya sang Captain di episode pertama dulu, waktu mereka baru saja memilih menghancurkan satu2nya jalan untuk kembali tanpa menempuh perjalanan puluhan tahun:

We're alone, in an uncharted part of the galaxy. We've already made some friends here and some enemies. We have no idea of the dangers we're going to face, but one thing is clear, both crews are going to have to work together if we're to survive. And as the only Starfleet vessel assigned to the Delta Quadrant we'll continue to follow our directive: to seek out new worlds and to explore space

Memasuki suatu perubahan, suatu kondisi baru, memang tidak mudah. Resikonya gede banget. Tapi sekaligus juga menarik. Beberapa orang tertarik karena dancing with danger, tarik ulur antara tetap dalam koridor dan kebablasan. Sebagian orang lain merasa bahwa the risk is worth to satisfy the curiousity.

Gw sendiri? Hmm.. gw tuh orang yang sangat curious terhadap berbagai hal di sekitar gw. Biarpun gak bisa janji bakal sabar dan tenang kalau menghadapi sesuatu yg berubah, tapi gw selalu curious untuk mencoba sesuatu yg baru. Yaaaah.. walaupun in the process biasanya berurai air mata juga ;-) Kayak sekarang nih, gw lagi nangis2 bombay karena merasa ada yg salah dengan salah satu gadget baru gw (untuuuung.. ada yang selalu sabar jadi sansak gw kalo lagi bete ;-p). Tapi toh tetap jalan terus, karena penasaran.. ;-p.

Nanti, kalau masa2 nangis bombay udah selesai, pasti selalu ada yg menarik. Setidaknya, gw akan puas karena gw gak harus hidup dengan what if dan why berkepanjangan. It is worth the risk and all the difficult time, rite?