Thursday, February 16, 2006

Persepsi

Bermula dari masalah kartun Nabi Muhammad SAW yang gw lihat di blog ini, gw terlibat pembicaraan cukup serius dengan beberapa orang. Tapi yang mau gw soroti bukan kartunnya, melainkan soal persepsi. Kartun Denmark itu hanya menjadi ilustrasi di sini.

Sebagian teman gw bersikap seperti masyarakat di Suriah sana, atau seperti FPI Tangerang Kota yang berdemo: gambar itu menghina Islam. Well, pendapat yang wajar. Gambar itu memang provokatif, kasar, dan keterlaluan ngaconya. Gw sendiri kaget lihatnya, dan tentu saja sakit hati.  Tapi gw bertanya2, seberapa jauh persepsi bermain dalam pembentukan sikap kita ini? Apakah ini murni karena gambarnya? Atau lebih karena personal value yang terkait dengan obyeknya?

Dan sebaliknya pertanyaan gw: sejauh mana persepsi bermain dalam pembentukan sikap para kartunis dan pendukungnya ini? Benarkah mereka berniat menghina/memprovokasi? Atau benar2 ketidaktahuan, benar2 murni bertumpu pada kebebasan berekspresi, yang kemudian menjadi resistence ketika merasa diserang? Resistence yang muncul karena persepsi mereka tentang Islam?

Gw tertarik mengupas beberapa kutipan di sini. Ini salah satunya:

Statement:  Si Orang Denmark tahu apa soal Nabi Muhammad kenapa dia sembarang menggambar seorang Nabi yg seorang muslim pun nggak berani menggambarkan Nabinya dan dia membuat gambar itu dengan cara tidak senonoh sekaligus membuat suatu fitnah tentang Nabi Muhammad apa nggak keblinger tuh katanya dia nggak tahu tentang sejarah Islam trus nggak tahu tentang Nabi Muhammad tapi kok dia bikin gambar yg memfitnah seperti itu

Yang gw pingin highlight di sini adalah: justru orang yang gak tahu yang bisa bikin gambar seperti ini. Kalau orang sudah tahu bahwa Nabi Muhammad SAW gak boleh digambar, boro2 nggambar yg ginian. Menggambar aja gak bakal berani. Dan kenapa gambarnya gak senonoh gini? Lha, dia kan nggak tahu Nabi Muhammad SAW itu seperti apa. Dengan demikian gambarnya adalah gambar fantasi dia. Fantasi itu dibentuknya dari mana? Dari persepsi dia terhadap informasi sensoris: apa yg dia dengar, raba, lihat. Kalau yang dia lihat, dengar, raba, adalah informasi tentang Islam fundamentalis, ya gak bisa disalahin kalau kemudian fantasinya terhadap Nabi Muhammad SAW juga ikut terpengaruh.

Apakah itu lantas artinya dia memfitnah? Kalau dia tidak tahu, ya gak bisa dibilang memfitnah. Wong kita aja kalo gak sengaja makan babi aja tidak dianggap berdosa kok! Namanya juga orang gak tahu ;-)

Statement:  Gue tahu Da Vinci Code sapa yg nggak tahu gue sendiri nggak pernah baca tapi gue tahu apa buku itu Itu bukannya udah di protes ama orang Katholik. Malah waktu itu Paus juga udah protes kok, cuma kan kebanyakan Orang Khatolik udah nggak perduli lagi ama Agamanya jadi ya gitu deh. Sementara kalu Muslim itu banyak yg perduli ama Nabi kita mo masuk Islam aja baca 2 kalimat syahadat yg menyebut kalau Kita harus percaya ama Nabi Muhammad utusan Allah, jadi yah kalu nabi kita dilukiskan seperti itu rasanyakan Sakit banget tahu. dan harus diingat yah kita membela Nabi sama dengan Jihad nah masih banyak orang Islam yg berani Mati utk Nabinya.

Wow, wow, wow! Another perception, rite?

Ini pernyataan yang muncul ketika Da Vinci Code dipakai sebagai contoh; bahwa ajaran Katholik juga pernah dijungkirbalikkan, bahkan Tuhan mereka dikatakan menikah dengan mantan pelacur. Sebuah kasus yang menurut gw setara banget: ada sebuah kebebasan berekspresi yang menjungkirbalikkan isi kitab suci, tapi ditanggapi secara berbeda. Rasa sakitnya tentu sama; Nabi Muhammad SAW junjungan kita, sementara Yesus adalah Tuhan mereka. Generalisasi stimulus, tapi tidak menimbulkan generalisasi respons. Dan jawabannya seperti di atas.

Hehehe.. kalimat “kebanyakan (baca: mayoritas) dari mereka tidak perduli lagi pada agamanya, sementara kalo kita banyak yang perduli ama Nabi” adalah persepsi, bukan? Si pengucap juga tidak tahu apa2 tentang Katholik, tapi dengan sembarangan dia bisa mengatakan bahwa sebagian besar tidak perduli. Bukannya ini adalah kesalahan yg sama dengan apa yg dilakukan kartunis Denmark: memberikan label tertentu pada Nabi Muhammad SAW padahal dia tidak tahu apa2 tentang Beliau? Ini bentuk fitnah juga, bukan? Nah, kalau kita bisa memfitnah orang lain, lantas kenapa mereka tidak boleh sembarangan memfitnah tokoh2 yang kita anggap penting?

Dan yang menarik lainnya adalah kata2 berikutnya “membela Nabi sama dengan Jihad, nah masih banyak orang Islam yg berani mati untuk Nabinya”.

Setuju! Kalau masalah prinsip memang kita harus perjuangkan. Jihad. Tapi yang gw gak setuju: kenapa jihad harus dikaitkan dengan berani mati? Kenapa free association-nya jihad adalah berani mati, bukan membela prinsip sampai titik darah penghabisan? Bukankah dalam jihad itu yang penting adalah membela prinsipnya, dan berani mati itu hanya pilihan terakhir jika jalan damai tidak bisa ditemukan? Kenapa justru yang di-highlight adalah berani matinya?

Apa sih yang akan kita raih kalau mengorbankan nyawa demi menuntut gambar itu dicabut atau demi dihukum matinya si kartunis? Apakah itu akan membuat nama Islam lebih bersih? Atau justru itu akan menjadi hal yang memperkuat persepsi Barat tentang Islam: bahwa Muslim itu violent, suka berperang, agresif, dan entah apa lagi persepsi yang beredar?

Gw setuju banget dengan tulisan teman gw yang satu ini, seorang Muslim yang sekarang bermukim di Eropa (dikutip atas izin si empunya):

From: 91ers On Behalf Of Kusumastuti
Sent: Friday, February 10, 2006 12:35 PM
To: mayanoto
Subject: [91ers] sedih baca stern

Hallo semua,

kemaren sore ( seperti juga setiap kamis sore yang lalu lalu ) tukang pos mengantar majalah Stern terbaru ke rumah. Ketika saya membuka halaman 34- 35, mata saya terhenti dan... begitu saya melihat photonya.. terus terang saya sampai merinding.. Di dua halaman itu, terpampang sebuah photo yang besar dan jelas tentang demonstrasi di indonesia baru2 ini yang menyangkut soal karikatur Nabi Muhammad. Bukan urusan demonya yang membuat saya merinding. Tapi posternya ! di 2 halaman itu terpampang 1 poster besar bergambarkan dubes denmark yang dibunuh oleh 2 orang dari FPI Tangerang Kota. Orang yang satu menjambak rambut yang dubes dan menyembelih lehernya, sehingga darah muncrat kemana-mana, orang yang satu lagi menusukan pisau ke dalam mulut si dubes sehingga ( lagi2 ) darah muncrat ke mana2, dan kedua tangan beliau di pakukan ke tiang sehinga ( lagi2 ) darah muncrat ke mana2. Kata2 di poster itu juga tidak kalah sadis, seperti bantai habis dubes denmark sampai mampus, dsb. ( tapi kalaupun anda tidak mengerti bahasa indonesia, gambarnya sudah cukup untuk membuat orang2 yang sensitive memalingkan muka atau orang yang cukup kuat untuk melihat begitu banyak darah muncrat dari posisi sadis seperti itu terhenyak )

ahhh...  persis seperti poster2 komunis waktu saya belajar PSPB di sekolah.

saya tidak tahu mana yang lebih menghina islam.. orang denmark yang karena kebodohannya mencoba menggambarkan nabi Muhammad, atau orang "islam" yang seenaknya (mau) membunuh orang lain yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan masalah. (ya apa salahnya si dubes denmark ? bukan dia yang bikin karikatur, bukan dia yang menerbitkan koran itu - yang sebenarnya terbit september tahun lalu tapi baru diributkan sekarang, dan sebenarnya yang beredar itu hanya satu gambar yang asalnya dari koran tadi, sisanya sudah tambah2an orang lain )

lepas dari urusan siapa yang salah, yang saya tahu pasti dengan gambar2 seperti itu citra orang jakarta, indonesia, disamakan sadisnya dengan citra orang2 dari negara jazirah arab, atau bahkan lebih sadis.

Yup! I agree with you! Kita hanya akan menghina diri sendiri kalau masih bersikap seperti ini. Kalau pangkal masalahnya adalah persepsi, yang muncul karena ketidaktahuan, maka usahakanlah untuk memberitahu. Setidaknya, kalau pemberitahuan kita tidak mengubah persepsi mereka (atau kalau sebenarnya mereka memang benar2 ingin memprovokasi), kita tidak memberikan senjata pada mereka untuk makin mendesak atau menyalahkan kita.

Kalau kita ngeyel bertindak seperti ini, yg terjadi ya seperti di blog yang gw kutip tadi! Di blog ini bisa dilihat bagaimana terjadi persepsi Barat yang dikuatkan oleh senjata yang kita berikan ini menimbulkan kesalahpahaman yang lebih parah. Baca posting Please Leave, persepsinya malah melebar kemana2, instead of menemukan pencerahan atas masalah dasarnya. Atau mungkin memang dasarnya di penulis ini gak suka pada Muslim, dan dengan kejadian sekarang dia menemukan senjata baru untuk mengusir Muslim dari negaranya. Lihat kan, akhirnya kita yang dipojokkan? Semua karena persepsi dan penanganan yang tidak hati2 terhadap persepsi.

Well.. perception is a dangerous thing. Oleh karena itu dia harus diperlakukan sebagai fragile, breakable china. Karena kalau sampai terguncang sedikit saja, yang rugi kita sendiri. Tak perduli siapa yg mulai mengguncang dan siapa yang benar2 memecahkannya, yang jelas porselen itu sudah hancur.

Dan untuk bisa handle with care, maka yang harus kita lakukan pertama kali adalah: jangan tertipu oleh persepsi kita sendiri. Jangan menganggap persepsi kita adalah pengetahuan umum. Kalau kita sudah tertipu menganggap persepsi kita itu harusnya diketahui oleh orang2 lain, maka kita gak bisa lagi lihat inti masalahnya. Kita hanya akan melihat bahwa orang lain sengaja melakukan apa yg dia lakukan, karena harusnya dia sudah tahu isi persepsi kita.

Kesalahan yang mendasar dalam kasus kartun Denmark ini: hingga sekarang kita belum bisa benar2 membuktikan apakah si kartunis sengaja atau tidak sengaja, karena masing2 pihak sudah sibuk dengan persepsi masing2. Yang satu sibuk membela bahwa ini bagian dari kebebasan berekspresi yang harusnya diterima semua orang, sementara pihak yang lain sibuk mendemo karena merasa ini adalah bagian pengetahuan umum yang harusnya tidak dilanggar dengan sengaja.