Wednesday, May 30, 2007

Orang Bijak Taat Pajak

Waktu baca entry ini beberapa bulan lalu, gw sempet mikir, "Yo'olooh.. emang segitunya ya, Mir? Mau nyewa apartemen aja kena diskriminasi? Mesti bangga atau mesti sedih nih kita?" Kebayang tampangnya Mirna jadi dongkol tapi nggak bisa marah gara2 didiskriminasi kalo mau lihat apartemen.

*note: jaman baru masuk kuliah dulu Mirna pernah berdebat sama gw di Penataran P4. Yang akhirnya - seperti bisa diduga - terjadi komunikasi satu arah. Gw mencecar terus sementara Mirna yang lembut ini cuma diem dan jengkel.. dia baru bisa menumpahkan kejengkelannya ke gw setelah ketemu lagi di blogosphere 16 tahun kemudian ;-)*

Cerita serunya Mirna teringat kembali waktu kemarin malam nonton acara yang mewawancarai Lucy Rumantir mengenai hasil penelitian Jones Lang La Salle di salah satu TV swasta (maaf, gw lupa station apa).

Hasil penelitian Jones Lang La Salle itu antara lain menyebutkan bahwa 21% apartemen mewah di Singapura dimiliki oleh orang Indonesia. Padahal, harga apartemen2 ini bisa mencapai Rp 70jt/meter persegi, atau kurang lebih 3x lipat harga apartemen mewah di Jakarta yang cuma Rp 20jt/meter persegi. Sementara itu, warga asli Singapura sendiri hanya menguasai 30-an% apartemen kelas menengah dan kelas bawah di negerinya sendiri.

Sebenernya data2 ini wajar saja, kalau saja tidak terjadi suatu keironisan bahwa pendapatan per kapita Indonesia jauh lebih rendah daripada Singapura. Masih menurut penelitian di atas, pendapatan per kapita Indonesia hanya US$ 4,458 dan berada di urutan 110 dari 179 negara di dunia. Sementara Singapura berada di urutan ke-17 negara terkaya dunia dengan pendapatan per kapita US$ 32,870. Bayangkan! Betapa ironisnya bahwa salah satu negara termiskin di dunia menguasai property dan ikut memperkaya negara yang di atas kertas sudah 6x lebih kaya.

Mari bermain matematika sedikit. Kalau sebuah negara berada di urutan 110 dari 179, tapi creme de la creme-nya mampu menguasai pasar property negara yang jauh lebih kaya, maka... kesenjangan penghasilan sudah sangat besar kan? Sampai2 jumlah pendapatan seluruh orang Indonesia (dari yang super kaya itu hingga yang super miskin) dijumlahkan dan dibagi per kepala masih menghasilkan peringkat 29 dari bawah, berarti kan nggak imbang banget antara yang super kaya dan super miskin?

OK, dalam entry ini gw tidak berniat menyalahkan kaum the haves Indonesia yang cari keuntungan di Singapura. Gw nggak mau berkhotbah tentang membantu kaum papa, bahwa 2.5% adalah haknya si miskin, yadda yadda bla bla bla.. Gw nggak anti sosialis, dan juga bukan kapitalis sejati, tapi gw merasa bahwa it’s fair kalau orang lebih memilih untuk menggandakan duit (nya sendiri) daripada bersedekah atau membantu memulihkan perekonomian di Indonesia. After all, itu duit2nya sendiri, dan yang namanya sedekah itu harus tulus dari dalam hati. Nggak bisa dipaksa kan?

Tapiii.. gw jadi tempra ketika negara yang tugasnya “mengatur hajat hidup yang menguasai orang banyak” serta “memelihara fakir miskin dan anak terlantar” ikut2an nggak tenggang rasa.

Dongkol bener gw siang ini ketika mengikuti weekly internal meeting dan salah satu topik bahasannya adalah ekstensifikasi pajak yang bakal dimulai tahun 2007. Salah satu agenda dari ekstensifikasi ini adalah kewajiban bagi tiap individu untuk punya NPWP. Nggak boleh pakai NPWP kantor.

Setahun dua tahun lalu gw udah sempat ngebahas dengan bapaknyaima tentang masalah NPWP ini. Bego2 gini gw juga bisa ngitung pajak penghasilan yang menerapkan sistem progresif (thanks to fertob yg telah mengingatkan istilahnya ;-)) itu. Hasil hitung2an gw dan bapaknyaima: our life will be in peril kalau negara udah mewajibkan semua individu punya NPWP. Memang lebih menguntungkan kalau gw dan bapaknyaima masing2 punya NPWP sendiri, dibandingkan jika pakai NPWP gabungan. Tapi tetap aja.. kalau kami sudah tidak bisa pakai NPWP kantor, maka repelita untuk Ima mengalami kendala serius.

Nah lho! Pusing kan, gw?

Sementara, gw inget banget omongan almarhum bapak semasa hidup: punya NPWP tuh seperti memiliki never-ending nightmare atau karma [buruk] seumur hidup. Takdir yang tidak bisa diubah bukan hanya mencakup jodoh, lahir, mati.. tapi juga pajak ;-). Dan hal itu sudah gw alami sendiri: 6 tahun setelah bapak meninggal, tiap tahun masiiiiiih aja gw mesti “ngurus” NPWP beliau ke kantor pajak (note: kata “ngurus” di sini sengaja diberi tanda kutip. Please feel free to interpret the meaning ;-)). Padahal, nggak sampai sebulan setelah bapak meninggal, kita sudah lapor ke kantor pajak. Tiap kali lapor, kita udah bawa fotokopian surat keterangan kematian sebanyak belasan lembar seperti yang diminta. Tapi teteup, sekali punya NPWP, kayaknya seseorang dianggap jadi Highlander yang nggak bisa mati ;-).

Kenapa sih negara semangat banget memungut cukai dari kita2 yang kroco ini? Sementara.. apa kabar bapak2 dan ibu2 the haves yang menguasai property di negara yang 6x lebih kaya? Kenapa sih mesti mengejar2 individu yang memastikan anaknya bisa sekolah sampai jadi sarjana aja udah susah? Kenapa nggak menerapkan pajak yang lebih tinggi atau penalti besar bagi mereka yang membeli properti di luar negeri?

Atau.. kenapa sih nggak fokus menangkap koruptor? Sekali tangkap koruptor, yakin deh.. hasilnya bisa lebih dari memeras keringat orang2 susah.. hehehe..

Duoooh.. dongkol bener gw baca judul2 yang terkait dengan Ekstensifikasi Pajak seperti: Kejujuran Kita adalah Modal Bangsa. Siapa sih yang mau disuruh jujur? Kan yang gak jujur bukan kita.. ;-) Dan yang mana modal bangsa? Bukannya modal bangsa udah pindah ke Singapura ;-)? Kalau mau bikin Indonesia pulih perekonomian, cegah dong modal2 bangsa itu keluar dari Indonesia. Jangan kita yang diperas terus menerus untuk memperkaya negara ;-)

Anyway, apa tuh slogannya kantor pajak? Orang bijak taat pajak?

Kalau gw sih punya slogan sendiri seperti ini: Orang Bijak Taat Pajak, [tapi] Orang Cerdik Tidak Punya NPWP, [dan] Orang Beruntung Tidak Tertangkap Walaupun Tidak Punya NPWP ;-)

---------

NB (nambah): Tidak dimaksudkan untuk menyinggung yang suaminya orang pajak lho, nYam ;-)

NBL (nambah lagi): Bapak Dodol, setelah memastikan akan mendapat piala bergilir, apakah dikaw juga sudah kebagian sebuah apartemen mewah ;-)?

Tuesday, May 29, 2007

Each one is a blessing, but..

"Sweetie, sometimes when you're at work, and I'm home alone with three young boys, I'm not so happy, and now I'm gonna be alone with four kids. Each one is a blessing, yes, but I don't think I can take anymore blessings. More blessings could make me lose my mind. Do you understand?"

(Lynette Scavo, a fictional character in Desperate Housewives)

***

Selain small talk tentang ukuran badan sebagai indikasi kemakmuran, ada satu lagi small talk yang sering bikin tempra gw kumat: tentang kapan Ima punya adik.

Oh, well, gw tahu bahwa salah satu “takdir” manusia adalah menjawab never-ending chain of questions: dimulai dengan pertanyaan, “Udah punya pacar belum?” Yang kemudian diikuti dengan, “Kapan menikah?”, dan kalau sudah menikah pertanyaannya, “Kapan nih punya anak?”, dan.. terakhir, kalau sudah punya anak satu pertanyaannya, “Kapan ada adiknya?” .. dan kalau adiknya berasal dari jenis kelamin yg sama, maka ada pertanyaan bonus, “Kapan punya anak [sebut jenis kelamin anak yg belum dipunyai]?”

*habis pertanyaan ini, biasanya orang bisa santai beberapa tahun sampai muncul periode pertanyaan, “Kapan mantu?”, yang diikuti dengan, “Kapan punya cucu?”.. setidaknya itu yg gw lihat dari pengalaman nyokap yang sampai hari ini cucunya baru satu ;-)*

Pertanyaan pertama, kedua, dan ketiga gw lalui dengan sukses. Gw hati2 banget milih pacar, jadinya nggak sering putus sambung. Di resume pacaran gw daftarnya gak panjang, tapi lama. Nggak ada bolong2 yg bikin gw pusing untuk menjawab pertanyaan pertama (“Udah punya pacar belum?”). Beberapa bulan sebelum lulus kuliah juga gw udah diijon, jadi setelah lulus dan kerja nggak sempat memusingkan jawaban untuk pertanyaan kedua (“Kapan menikah?”) yang menjengkelkan itu. Terus.. baru lima bulan nikah, gw juga langsung hamil,.. dan dengan ketepatan presisi dan akuisisi, hamil yang pertama itu langsung muncul Ima. Jadi selamatlah dari kepusingan menjawab pertanyaan ketiga ;-).

But I’m not so lucky with the 4th question.. ;-)

Dari dulu, rencananya, memang baru mau mikir punya anak kedua kalau Ima sudah masuk SD. Atau paling enggak kalo Ima udah umur 5 tahun. Bukan gw nggak suka anak kecil, I do love children, and see a child as a blessing. Tapi.. gw sadar diri lah! Gw tuh perfeksionis dan butuh kepastian. Yang namanya punya anak tuh buat gw seperti Pak Harto waktu ngebangun negeri ini: ada era pembangunan yang lamanya 25 tahun sebelum masuk era tinggal landas.. hehehe.. Jadi, begitu hamil, gw udah mikir repelita untuk masukin anak ke SD, lantas untuk repelita ke-2 memasukkan dia ke SMP, .. demikian seterusnya hingga era tinggal landas saat si anak mencapai usia 25 tahun. Setelah umur 25 tahun, terserahlah bagaimana dia tinggal landas. Mau sekolah lagi dan menunda pernikahan, monggo.. mau menikah dan bikin gw mantu dulu juga monggo. Pokoknya, rencana gw, setidaknya secara material adalah: mengumpulkan biaya untuk era tinggal landas per anak, yang cukup untuk bayar kuliah S2 atau untuk bikin pesta pernikahan yang “lumayan” berkesan.

Nah, berhubung gw belum sampai tahap bekerja untuk mencari segenggam berlian, gw sadar banget bahwa dari sisi materi dan imaterial repelita gw terbatas untuk 1-2 anak saja. Dan kalaupun mau punya anak ke-2, itu mesti nunggu sampai repelita pertama berjalan dengan sukses. Gw nggak mau buru2 punya anak banyak, tapi malah nggak satu pun dari mereka tinggal landas.

Mengingat perkembangan akhir2 ini, dimana masuk kuliah aja muahalnya ampun2an, gw juga terpaksa lihat2 lagi repelitanya. That’s why ketika Ima sudah hampir berusia 8 tahun, dan udah kelas II SD, yang berarti sudah lewat 2-3 tahun dari rencana gw mulai mikir anak kedua, gw masih santai2 aja. Nggak ngerasa perlu usaha punya anak lagi. Nggak merasa sirik kalau ada yang hamil lagi. Punya anak satu lagi memang akan menyenangkan, as I do love children, tapi.. kalau nggak punya anak kedua juga menyenangkan. Setidaknya gw bisa fokus mendedikasikan waktu gw yang sedikit ini untuk Ima, dan mendedikasikan pendapatan gw yang nggak seberapa ini seluruhnya untuk Ima tinggal landas kelak.

I’m happy and contended with my life, with the only daughter I have.

Nah.. kalau kemudian gw terus dicecar dengan pertanyaan kapan Ima punya adik, menasihati gw supaya nggak usah khawatir punya anak lagi karena “Pasti nanti ada rejekinya”, atau membandingkan gw dengan orang2 lain yang anaknya sudah dua atau tiga.. it’s really annoying, you know ;-) Apalagi kalau mereka menatap dengan pandangan takjub saat gw bilang bahwa gw ngerasa cukup dengan satu anak, walaupun nggak nolak kalau diberkahi dengan satu anak lagi.

Hey, can’t you see what Lynette sees? Each one is a blessing, yes, but I don’t think I can take anymore blessing.. ;-) Yang namanya punya anak itu juga harus disesuaikan dengan kemampuan diri. Apa pun, kalau kebanyakan, dan nggak sesuai diri, jadinya nggak bagus ;-)

Gw rada2 skeptis dengan nasihat “Pasti ada rejekinya”. Iya, gw tahu Tuhan ngasih rejeki ke setiap orang. Jadi, kalau gw punya satu anak lagi, pasti anak itu juga sudah diatur rejekinya oleh Yang di Atas. Iya, gw juga percaya bahwa seberapa baiknya gw menghitung, kalau Tuhan mau, yang sekarang udah gw kumpulkan juga bisa hilang dalam hitungan detik. Tapi.. apa lantas itu jadi justifikasi untuk tidak usah melakukan kalkulasi?

Menurut gw, ada bedanya antara pasrah dan bodoh ;-). Kalau kita berusaha sebaik2nya mencukupi kebutuhan anak, dan kemudian terjadi bencana sehingga back to square one, itu kita harus pasrah. Tapi.. kalau mencukupi hidup satu anak aja kesulitan, lantas udah mau punya anak kedua, itu namanya bodoh. Kalau suami belum punya kerjaan tetap, anak pertama masih belajar jalan, hidup masih numpang orang tua dan menitipkan anak pada orang tua, lantas sudah hamil lagi, itu namanya [maaf] es-ti-yu-pi-ai-di.

Jangan sampai dong kita yang punya anak, tapi yang repot orang lain. Berani punya anak, ya mesti berani tanggung resikonya ;-) Dan yang namanya resiko itu bukan jangka pendek. Yang namanya siap punya anak, kalau buat laki2, bukan cuma siap menunggui istrinya di kamar saat istrinya menyusui. Harus siap banting tulang untuk ngasih makan anak-istri, bukan mengandalkan sokongan ortu. Siap punya anak, buat perempuan, bukan cuma siap menahan sakit saat melahirkan atau siap menyusui saja. Tapi juga harus siap tentang bagaimana mengurus dan mengasuh si anak. OK, perannya bisa dibalik: si istri yang kerja banting tulang untuk ngasih makan suami-anak, dan si suami yg bertugas ngurus dan mengasuh anak.. I don’t mind.. tapi, yg jelas, yang namanya punya anak itu harus siap. Siap material, dan siap imaterial.

Gw ngelihat anak itu sebagai sebuah titipan sih. Jadi mesti dijaga dan diperlakukan dengan baik dan penuh tanggung jawab. Karena bukan milik sendiri, mesti diperlakukan dengan baik dan istimewa. Kayak tamu kehormatan aja.. kita kan merasa mendapatkan kehormatan jika mereka menginap di tempat kita, dan karena itu menunjukkan rasa hormat dgn memberikan pelayanan terbaik. Dan untuk memberikan pelayanan terbaik, kita nggak bisa bermain di level masal.

Mungkin sulit bagi gw untuk jadi kaya dan memberikan materi berkelimpahan buat anak gw, tapi.. I’ll be damned if I let my child[ren] committed suicide seperti di berita ini, ini, atau kasus lama ini.

Hehehe.. gw udah mulai jengkel nih kalo ada pertemuan2 dan ditanya dengan pertanyaan yg sama. Dan mulai jengkel dengan pandangan takjub dan tuduhan egois kalo gw bilang gw happy dengan just one child. Mungkin udah waktunya gw menghentikan pertanyaan2 itu dengan jawaban yang lebih cynical ya? Hehehe..

Jawaban gw saat usia Ima 2-5 tahun masih sopan: “Masih belum kepikir. Nanti dulu sampai Ima agak besar, paling enggak sampai umur 5 tahun”. Jawaban gw saat usia Ima 5-7.5 tahun, which is sekarang: “Iya, belum dapat. Tapi nggak ngoyo kok. Kalau dikasih alhamdulillah, nggak dikasih alhamdulillah juga”. Mungkin.. alternatif jawaban berikutnya: “Iya nih, nggak tahu kapan. Masih nyoba2 terus sih, soalnya lupa dulu caranya gimana, ya, sampai bisa hamil”

Atau.. gw ganti aja dengan line andalan ibu ini ketika ditanya2 tentang menikah melulu, “Tenang aja, paling lambat 9 bulan sebelum menopause deh saya hamil lagi”.. hehehe.. Ada yang mau nambahin ;-) ?

Anyway.. ini sekedar curhatnya ibu2 yang udah sampai di Level 4 (hehehe.. game kali ;-)). Buat yang masih struggle untuk melewati level 1, atau level 2, gw punya sedikit saran: berhentilah bermain tenis. Lho, kok, sarannya gitu? Iya.. gw baca di Readers Digest, katanya no one will marry a tennis player, since love means nothing to them ;-).

Wednesday, May 23, 2007

Precious Moment with Little Ima


Bahwa karena gw suka memberikan tautan yang bisa dibaca lebih lanjut di setiap topik, jangan dikira gw suka bikin kliping untuk referensi. Waktu sekolah dulu, gw paling sebal disuruh bikin kliping.

Alasan pertama sih karena gw punya emotional attachment dengan setiap buku dan majalah yg gw punya.. dan nggak tega mengguntingi serta merusak artikel di belakangnya demi sebuah kliping yg belum tentu dibaca oleh pemberi tugas. Alasan kedua.. well, gw suka sakit hati juga bahwa akhirnya kliping dinilai (setidaknya oleh guru gw waktu itu) berdasarkan ketebalan dan kerapiannya, dimana murid2 yg bikinnya rapi dan tebal akan dapat nilai lebih bagus daripada yang benar2 membaca isinya. Gw masih inget tuh, dengan semangat 45 gw bikin kliping World Cup 86 untuk tugas Penjaskes, eeeh.. nilai gw lebih rendah daripada temen gw yg bahkan nggak bisa mbedain Maradona dengan Platini :-( Cuma karena dia bikinnya lebih tebal, sementara gw gak tega ngguntingin beberapa berita yg halaman sebaliknya juga menarik.

Makanya, ketika Ima bilang diberi tugas untuk bikin kliping, gw rada mengernyit. Emang masih jaman ya, bikin kliping? Hehehe.. Jaman paperless gini, apa nggak lebih bagus tugasnya bikin blog dengan tautan ke berita2 penting ;-)?

Tambah jengkel lagi melihat tema kliping yang harus dibuat: Kliping tentang Lingkungan. Oh, well, her teacher definitely needs a slap on the back ;-) Perlu kuliah tentang Piaget dan Stage of Intellectual Development, kali ye, supaya sadar bahwa pada usia 7 - 12 tahun anak-anak masih berada di tahap Concrete Operational, dimana mereka masih kesulitan mengolah logika abstrak. Dan.. tema "lingkungan" menurut gw terlalu abstrak, terutama untuk Ima yang masih di ujung awal tahap perkembangan ini. Mbok yao dioperasionalisasikan menjadi: "bagaimana menjaga lingkungan tetap bersih?" atau apalah yang lebih konkrit. Ada bedanya antara mengajarkan anak menjadi kreatif dengan membuat anak clueless ;-)

Tapi.. ternyata.. tugas yang awalnya menjengkelkan ini berubah menjadi kegiatan ibu dan anak yang mengasyikkan :-)

Bermula dari Ima yang bingung mau mulai mengguntingi apa, dan dari mana. We have the fun make the topic more concrete. Kebetulan beberapa waktu lalu, waktu Ima dapat tugas mengarang 5 kalimat dari sebuah kata, gw mengajarinya 5W+1H+1SW. Jadi.. dalam mengkongkritkan tema luas itu, gw ajak Ima mengacu kembali ke konsep itu: apa itu lingkungan? Apa saja yang terjadi di lingkungan? Mengapa lingkungan bisa rusak? Mengapa kita harus menjaga lingkungan? Bagaimana menjaga lingkungan?..

Akhirnya, tema luas itu berhasil dikonkritkan menjadi "kondisi lingkungan di sekitar kita saat ini". Sub-temanya terdiri dari bagaimana keadaan lingkungan kita saat ini (yang dipersempit lagi menjadi: kotor dan banyak bencana). Dan.. di akhir kliping ada tema tentang bagaimana menjaga lingkungan kita serta contoh lingkungan yang kita inginkan. It starts to be fun ;-)

Selanjutnya kita tinggal mengguntingi koran. Karena sudah lebih jelas bahwa kita harus mencari gambar dan berita bencana, Ima dengan gampang menemukan gambar banjir, gambar lingkungan yang kotor, dinding yang dicoreti, sampah, pembuangan limbah di kali ...

Selanjutnya, gambar2 itu diklasifikasikan. Banjir sama banjir. Lingkungan kotor sama lingkungan kotor. Dst. Kemudian, kita sama2 membuat judul untuk masing2 klasifikasi. Ada judul "Banjir adalah Bencana di Lingkungan Kita", "Kerusakan Hutan dan Lingkungan Hidup", "Lingkungan Asri Idaman Kita", dan "Bagaimana Menjaga Lingkungan Kita".

Oh, well, memang beberapa kata di atas adalah ide gw. Seperti kata "asri", "kerusakan hutan".. definitely too advanced for a 2nd grader, ya ;-) Tapiii.. justru di situ asyiknya! Kosakata Ima jadi lebih banyak gara2 terpaksa membuat judul dan membaca penjelasan gambar foto. Seperti jaman Ima belajar bicara dulu, gw juga menjelaskan arti tiap kata yang dia tidak tahu. And it is definitely a good thing ;-)

Nah.. setelah gw cetak judul2 dari masing2 kategori itu di kertas HVS warna pink (her favorite color ;-)), dan setelah semua gambar kliping ditempel, Ima harus menulis sedikit cerita untuk tiap gambar. Di situlah.. keasyikan dan pembelajaran lain dimulai :-)

Untuk membuat cerita di tiap halaman, kembali gw ingatkan Ima tentang 5W+1H+1SW. Tentunya kan dia gak bisa nulis kalimat yang sama dengan di gambar foto, jadi... dia harus mengarang. Dan.. karena gw anti membuatkan PR untuk anak, maka gw nggak mau mengarangkan kalimat untuk dia. Yg bisa gw lakukan adalah men-challenge apa yang dia lihat/baca untuk membuat tulisan lebih lanjut. Misalnya aja:

  1. Untuk gambar tentang air pasang yang menggenangi kota Padang, pertanyaan yg gw ajukan: letak kota Padang dimana (sambil menunjukkan peta)? Jauh nggak dari pantai? Dalam sehari semalam terjadi berapa kali air pasang? Biasanya kalau air pasang rumah-rumah di Padang terendam banjir nggak ya? Kalau enggak banjir, kenapa sekarang banjir ya? Kemudian, gw ajak baca berita lengkapnya, yang bicara tentang abrasi. Satu kata lagi dipelajari Ima, yaitu: abrasi ;-)
  2. Untuk gambar tentang limbah di sungai, kasusnya lain lagi. Gw tanya: limbah itu apa ya? Kalau limbah itu sampah, dan dibuang ke sungai, sungainya jadi gimana? Kalau sungainya kotor, apa akibatnya untuk kita? Jadi deh satu lagi cerita tentang bagaimana sungai yang kotor dan beracun membuat kita tidak bisa lagi mandi dan minum dari sungai itu, sehingga orang akan kehausan ;-)
Tanpa terasa sekian belas gambar yang dikumpulkan itu berhasil dibikin cerita semuanya. Bener2 tanpa terasa, sampai2 gw nggak inget bahwa Senin malam adalah jadwal nonton CSI:NY.. hehehe.. pas gw inget untuk nonton, ceritanya udah hampir abis ;-) Tapi nggak papa deh.. sayang anak, sayang anak... hehehe... dan lagipula it's worth some sacrifice kok, secara dengan kegiatan itu gw mendapatkan precious moment with little Ima, dan kosakata Ima menjadi bertambah. Mudah2an, kemampuan berpikir terstrukturnya Ima juga bertambah lantaran gw cekoki dengan konsep 5W+1H+1SW di tiap halaman.. ;-)

Ima is so proud about her project. Tuuh.. lihat di gambar, betapa dengan bangga dia menunjukkan kliping berjudul "Mari Jaga Lingkungan Kita". Lihat juga betapa tekunnya dia menulisi lembar demi lembar dengan cerita ;-)

Sekarang sih gw tinggal berharap supaya gurunya nggak berlaku seperti guru gw dulu, yang hanya menilai kliping berdasarkan tebalnya saja. Semoga gurunya lihat bahwa tulisan2nya juga nggak asal nulis saja. Biar Ima nggak demotivated bikin tugas sejenis lagi ;-) Karena ternyata.. bikin kliping itu banyak juga manfaatnya - tergantung dari bagaimana kita memanfaatkan kegiatan itu ;-)

*tapi.. kalaupun gurunya masih seperti guru gw.. yo wis, nasibmu, Nduk.. hehehe.. kenyataan itu menggigit ;-) Tapi.. kan yang penting adalah apa yg dipelajari, bukan sekedar berapa nilai yang didapat.. iya nggak ;-)?*

------------

PS: ohya, sebelum lupa, istilah precious moments with little Ima itu dicontek dari blog Daddy-nya Nico. A very nice term, pinjem ya, Dad ;-). Sementara trigger cerita ini muncul gara2 kemarin YM-an dengan BuMil ini tentang how working mom creates quality time with her kids ;-) Thanks to both of you ;-)

Saturday, May 19, 2007

Generasi Ketiga

Beberapa minggu lalu, gw mendapatkan email ini dari salah satu milis (dan setahu gw, email ini juga di-fwd ke milis2 lain ;-)):

--- In psiindonesia@yahoogroups.com, xxxx [xxxx@... ] wrote:

Dear kawan2...berikut berita yang cukup memprihatinkan, rasa depresi ini terjadi pada hampir semua lulusan S1 yang sekrang menganggur, termsuk kawan2 saya dari F.Psi univ terkenal di kawasan JaBoDeTaBek.

Apa yang bisa dilakukan oleh kita? Lembaga Himpsi Jaya bisa kontribusi apa ya supaya lulusan S1 F.Psi Indo gak ada yang gantung diri atau banting setir ke jurusan lain.(Denger2 malah katanya ada asosiasi tandingan baru...Gossip nih..)

Kesejahteraan para sarjana Psikologi dan Psikolog plus ilmuwan psikologi apa kabar ya?

..

(catatan: email aslinya nggak ada tautan, tapi berita dari tautan itu dijembreng sebagai bagian dari email)

Belum sempat dikomentari, tadi siang nonton siaran ulangan acara Padamu Negeri (Metro TV) yang temanya tentang “Indonesia, Bangsa dengan Minat Baca yang Rendah”. Peserta yang diundang adalah dari Komunitas Pembaca Buku, Komunitas Penerbit, dan Mahasiswa (yang diwakili oleh fakultas ilmu komunikasi di sebuah universitas swasta). Salah satu hasil pembicaraannya cukup bikin takjub, walaupun sudah bisa diduga sebelumnya: kelompok mahasiswa mengatakan bahwa mereka kurang berminat membaca, membaca hanya kurang dari 1 judul buku per bulan, karena lebih tertarik menonton televisi.

Oh, well, satu ditambah satu sama dengan dua, .. gw jadi pingin ngebahas keduanya secara simultan dan berkesinambungan, karena keduanya relevan dan signifikan ;-)

Dua kasus itu membuat gw teringat bahwa kalimat satir yang dikeluarkan oleh seorang teman:

“Pemeo ‘Kaya Tujuh Turunan’ itu sudah nggak jaman. Sekarang yang namanya kaya itu mentok di turunan ke-3. Habis itu melarat. Soalnya, by the third generation, yang mereka bisa hanya menunggu ditolong oleh angkatan sebelumnya”

Satir, getir, tapi banyak benernya ;-). Generasi pertama adalah generasi pejuang. Kalau mereka bisa kaya, itu karena usaha keras mereka membalikkan keadaan. Modal yang minim diolah dengan sebaik mungkin sehingga memberikan hasil maksimum. Generasi kedua pada prinsipnya adalah generasi penerus. Banyak dari mereka masih melihat dan mengalami periode perjuangan orang tuanya. Hal ini menginspirasi mereka untuk bekerja sekeras orang tuanya, menjalankan nilai2 yg dianut orang tuanya, tapi dengan sebuah kelebihan: karena ortunya sudah kaya, mereka mendapat lebih banyak modal baik berupa materi maupun imaterial (seperti pendidikan). Maka dari itu, nggak heran jika biasanya kejayaan suatu dinasti bisnis ada di generasi kedua.

Generasi ketiga.. nah.. this is the culprit. Kalau ayah/ibunya masih sempat ngalamin “masa susah” kakek/neneknya, generasi ketiga ini lahir dengan sendok perak di mulutnya. Seperti generasi kedua di paruh kesekian hidupnya, mereka mendapatkan semua kemudahan dan keuntungan. Tapi.. karena mereka mendapatkannya sejak lahir, mereka cenderung take it for granted, menganggap semua harus mudah. Menganggap bahwa mereka harus dilayani, harus diputarkan modalnya, setidaknya harus ada katebelece yang memudahkan jalan mereka, dan mereka cukup ongkang2 kaki.

Tanpa didikan yang keras sejak lahir, nggak heran kalau generasi ini malah menghabiskan sedikit demi sedikit apa yang sudah dikumpulkan keluarganya.

So.. apa hubungannya ada email, acara TV, dan kalimat satir di atas?

Hubungannya: gw kok merasa mahasiswa penulis email itu dan mahasiswa peserta acara TV di atas sama2 mencerminkan generasi ketiga pada cerita satir gw ;-)

Gw selalu mempertanyakan balik kalau ada orang yang teriak2 minta dibukakan lapangan kerja. Ohya, gw tahu, jumlah angkatan kerja dengan lowongan kerja di negeri ini tidak sebanding. Tapi gw juga mempertanyakan bila ada yang bilang kesempatan kerja di Indonesia itu kurang. Setelah jadi bagian dari “pemilik lowongan kerja”, gw makin yakin pada teori gw: lowongan kerja selalu ada, tapi yang siap duduk di lowongan itu terbatas sekali. Kita punya banyak penganggur, punya banyak orang yang siap melamar kerja, tapi.. yang siap kerja sedikit sekali.

Mungkin sebagian orang akan bilang: berarti, itu salah pendidikan di Indonesia dong? Mencetak orang2 yang tidak siap kerja? Tidak sesuai dengan yang dibutuhkan industri?

Well.. kalau menurut pendapat gw dari sisi “pemilik lowongan kerja”, pendapat ini tidak sepenuhnya benar.

Kami2 pelaku industri cukup sadar kok, untuk tidak menuntut terlalu tinggi terhadap fresh graduates. Kami sadar bahwa bagaimana pun, dunia akademis itu tidak sama dan sebangun dengan dunia bisnis. Kalau dengan analogi “kaya tiga generasi” di atas, dunia akademis itu ibaratnya cuma pemberi modal. Semua orang bisa diberi modal oleh dunia akademis, dan modalnya bisa sama semua jumlahnya. Tapi... yang namanya berhasil di bisnis itu bukan cuma masalah punya modal doang! Harus punya insting bisnis dan mampu mengembangkan modal juga. Dan.. insting bisnis serta kemampuan mengembangkan modal ini sifatnya personal sekali. Harus dikembangkan oleh diri masing2, tidak bisa diberi oleh dunia akademis.

Nah.. yang sering gw lihat dari lulusan2 baru adalah: mereka punya modal, tapi kemampuan mengolah modalnya itu kecil sekali. Mereka nggak membekali dirinya apa2 selain “modal standard” berupa pengetahuan yang diberikan oleh fakultas tempat mereka belajar. Wawasannya tidak dikembangkan, keingintahuannya terhadap hal lain kurang, dan.. [maaf] kadang2 logikanya pun tidak dikembangkan. Jadi.. sering terjadi bahwa seorang lulusan Psikologi hanya bisa nge-tes, nggak ngerti bagaimana membuat surat perjanjian atau surat kontrak sederhana, dengan alasan karena dia bukan anak Hukum. OK, memang technically right. Legal itu urusan anak Hukum. Tapi.. seingat gw, jaman gw di Senat Mahasiswa Fakultas Psikologi, gw juga udah biasa berhubungan dengan surat kontrak sederhana. And it comes handy ketika di bidang gw yang sekarang, Marketing Research, kadang gw harus bikin perjanjian sederhana dengan narasumber atau supplier (seperti transcriber, simultaneous translator, atau recruiter). Bagian legal di perusahaan gw emang ngurusin kontrak dengan klien dan supplier2 utama, tapi... kalau gw harus kerja dengan 350-an orang recruiter, 15-an transcriber, dan beberapa simultaneous translator, kan ya nggak bisa saban2 gw teriak minta legal department turun tangan ;-)

Lagipula, it’s not that difficult to draft. Asal nggak buta2 amat dengan yang namanya surat kontrak (kelas Senat Mahasiswa pun OK!), punya kemampuan bahasa, terbiasa berpikir, dan terbiasa menuangkan ide secara tertulis. Nggak sulit, asal waktu kuliah kita buka mata buka telinga, mau belajar dan mencoba yang gak ada dalam kurikulum, nggak sekedar catat buku dan ngapalin sampai habis ;-).

Dan selain pengalaman langsung, membaca adalah jalan yang terbaik untuk mempelajari hal baru.

Nah.. kalau sekarang mahasiswanya males baca, males ikutan kegiatan kemahasiswaan karena takut IP jeblok, sukanya senang2 aja, belajar yang dikasih sama dosen aja, .. ya mereka akan sulit memasuki lowongan kerja apa pun. Nggak perduli berapa pun lowongan kerja yang disediakan, kalau nggak bisa memberi nilai lebih buat diri loe sendiri, dan menjadi “berbeda” (dalam konotasi positif) dari yang lain, ya loe akan selalu terpinggirkan.

Lagian.. kalau masalahnya kayak gini, kalau inti masalahnya di kemampuan para lulusan yang dibangun sejak masa kuliah, mosok solusinya harus memberikan lapangan kerja baru sih? Apa iya yang kemudian dipertanyakan adalah apa yang bisa dilakukan oleh lembaga pendidikan sih? Apa iya kesejahteraan lulusannya (dalam bentuk kepastian mendapat kerja) ada di pundak lembaga pendidikan dan asosiasi profesi? Bener2 jadi generasi ketiga dong.. hehehe.. yang supaya sukses dan tetap kaya harus dikasih katebelece sana-sini, instead of usaha sendiri ;-)

Gw tetap yakin yang namanya lowongan kerja itu selalu ada. Tidak sebanding dengan jumlah penganggur, tapi selalu ada. Sekarang.. tinggal bagaimana kita membuat diri kita lebih baik dari penganggur yang lain, supaya kesempatan kerja yang sedikit itu bisa direbut. Bikin diri kita punya nilai jual yang lebih, jangan bertumpu pada katebelece ;-) Yang namanya kebijakan dan usaha dari lembaga pendidikan atau asosiasi profesi untuk meningkatkan kesejahteraan lulusan itu adalah sekedar bantuan mereka.. tanggung jawab utamanya tetap dalam diri kita masing2. Wong kita yang mau kerja kok ;-)

Life is not a matter of holding good cards, you know, but it’s a matter of playing any card well.. ;-) Jangan jadi generasi ketiga yang manja ;-)

Wednesday, May 16, 2007

Wisata Boga

Sebenernya foto2 ini mau dipajang awal April lalu, karena perjalanannya sendiri akhir Maret 2007. Tapi karena banyak yang lebih menarik untuk ditulis, plus males mengkompilasi foto2nya, jadi teronggok aja di folder foto sebulan lebih.


Foto2 ini diambil di Medan. Ke Medan dalam rangka kerja sih, dan kerjaan gw jelas bukan kayak Bondan Winarno yang icip sana icip sini ;-) Tapi.. berhubung salah ngatur jadwal pulang, jadinya gw & segerombolan klien punya waktu buanyaaaak banget buat nyobain berbagai makanan di Medan. Untungnya lagi, di Hari H itu, kami dapat pinjaman mobil dari bapaknya salah seorang researcher. Komplit dengan supirnya yang fasih banget mengenai makanan di Medan.

Pas baru mendarat di Medan sih belum dapat pinjaman mobil. Jadi.. cari makanan yang gampang aja: food court di Sun Plaza. Gw pesan makanan di gambar nomor 1. Coba.. tebak, makanan apa itu? Hehehe.. Jawabannya ada di bawah ya, jangan ngintip ;-)

Gw jelas kecewa ketika mendapatkan pesanan gw di nomor 1 itu tidak sesuai dgn yang gw bayangkan. Tapi, wong namanya orang lapar, dan mesti langsung kerja seusai makan siang, ya disantap aja. Untung, kekecewaan gw di siang hari itu terobati saat makan malam, di warung yang direkomendasikan supir mobil pinjaman itu, Bang Dian. Gw pesen makanan bernomor 2, dan.. I think it's quite unique. Ayo tebak.. apa namanya? Spaggheti? Bukaaan ;-)

Makanan nomor dua ini konon kabarnya ngetop banget di Medan. Letak warungnya di Jl Setiabudi, bagian barat arah barat laut Medan, yang lebih ngetop sebagai daerah Titibobrok. Konon kabarnya warung ini tidak buka cabang di tempat lain, tapi toh di jalan yang sama udah ada copy paste-nya, dan di Jakarta juga banyak bajakannya ;-). Tapi, swear, mie yang kayak spaggheti ini uenak tenan ;-)

Sebenernya, kalau nggak dapat pinjaman mobil malem itu, kita mau makan di dekat hotel aja. Selayang pandang dari hotel (mau dibilang sepelemparan batu kok kejauhan, dibilang jauh.. kok dari kamar masih kelihatan ;-)) ada lokalisasi warung tenda kayak di KTS...

*bentar.. bentar.. bahasa gw kok nggak enak ya? Lokalisasi, KTS. Kesannya jadi lokalisasi di Kramat Tunggak sekali.. ;-).. *

Gw ulang deh kalimat gw: .. selayang pandang dari hotel, ada sekumpulan warung tenda seperti di Kampung Tenda Semanggi. Namanya Taman Lili Suheri, di persimpangan Jl Listrik dan Jl Zainul Arifin. Salah satu makanan fenomenal di situ adalah Sop Sumsum. Sumsumnya masih berada di tulang sapi yang besaaaarrrr sekali. Sebesar kepala bayi manusia! Gw baru tahu kalo tulang sapi sebesar itu.. hehehe.. bikin gw gak tahan untuk mikir: untung di situ cuma jual Sop Sumsum Sapi ya? Kalau jual Sop Sumsum Gajah.. sekali makan seminggu nggak perlu makan lagi, kali ya ;-)?

Besok siangnya, karena kerjaan udah kelar jam 12:30, sementara pesawatnya masih jam 18:00, kami juga punya banyak waktu untuk makan2 dan sightseeing. Sekali ini gw ke Medan dengan koper yg lebih cocok dibilang dompet, jadi jelas nggak bisa "menyelundupkan" durian ke dalam pesawat kayak biasanya. Blessing in disguise, karena gw jadi nggak perlu mengunjungi tukang duren langganan gw, Bang Ucok, di daerah Peringgan. Sebagai gantinya, kami makan siang di salah satu warung yang juga [kata pemandu wisata dadakan kami] ngetop di Medan: Soto Medan.

Soto Medan itu yang nomor 3 dalam gambar. Sekilas, gw rada kecewa sama penampakannya. Apa bedanya sama Soto Betawi bikinan Haji Amin di belakang kantor? Cuma soto biasa dengan santan. Tapi.. emang bener ya, don't judge the soup by its color.. hehehe.. karena ternyata rasanya mak nyusss banget!

Rahasia kelezatan Soto Medan ini ada di sambalnya, nomor 4 dalam gambar. Sambalnya campuran antara kecap, a hint of tauco, dan entah apa lagi.. lidah gw rada bebal kalo harus membedakan bumbu, secara gw masak air aja gosong ;-). Gw sampai nambah sambalnya lho.. hehehe.. dan diketawain orang gara2 air mata gw berlinangan menahan pedas ;-)

Nah.. kalo mau nyobain Soto Medan yg asyik ini, lokasinya ada di Jl Sei Deli. Emang warung amigos (= agak minggir got sedikit - terjemahan ini ditujukan untuk anak2 non-Jakarta yg mungkin rada bingung sama istilah ini ;-)), tapi.. kan.. rumah makan bukan real estate yang kata kuncinya adalah location, location, and location ;-).

Yang terakhir.. lantaran masih punya banyak waktu untuk dibunuh, padahal udah ngiter2in Istana Maimun sampai puas - foto sana foto sini, sampai hafal setiap detil istana dan memperhatikan bahwa mereka langganan Astro TV ;-) - kami mampir nyemil rujak di depan Mesjid Raya. Salah satu klien gw tuh pingin banget ke sana, gara2 lihat di Wisata Kuliner liputan tentang rujak ini.

Rujaknya ada di gambar nomor 5. Menurut gw sih rasanya biasa aja, seperti rujak pada umumnya. Bedanya, rujak ini disajikan dengan bumbu yang udah tercampur baur. Buahnya dicampur dengan bumbu di cobek, jadi lebih merata gitu, terus dikasih topping kacang tanah goreng. Gw sih sibuk nyomotin kacang gorengnya.. hehehe..

Well.. bukan berarti rasa rujaknya nggak enak. Cumaa.. kayaknya di sini terjadi keberhasilan promosi aja: kalau udah diliput dan masuk TV, orang mempersepsikan sebagai enak. Yaaah.. bisa dua arah sih, karena enak lalu diliput masuk TV, atau karena masuk TV lantas dipersepsikan sebagai enak. Di kasus rujak depan istana, menurut gw sih faktor kedua yg lebih berperan. Mungkin, penyajiannya yang beda itu (dicampur dgn bumbu secara merata plus topping) yang membuat dia masuk TV, tapi imbasnya adalah kesan jauh lebih enak daripada rujak lainnya.

Kalo di psikologi, yang katanya ilmu memberi nama, fenomena ini namanya associative learning, atau simply disebut conditioning. Prinsip dasarnya seperti anjingnya si Pavlov, yang mengeluarkan air liur jika mendengar bunyi bel; karena dalam pengalamannya bunyi bel diikuti dengan penyajian makanan lezat.

Memang, kalau udah masuk TV itu kayaknya jaminan mutu ya? Kejadian juga lho, di warung tenda milik adik gw yang jualan Ayam Bakar Taliwang. Suatu hari, tiba2 muncul kru RCTI dan meliput warung itu untuk acara kulinernya (sorry, gw gak tahu nama acaranya. Gw gak nonton ;-)). Dan.. begitulah! Yang tadinya sehari cuma jual 40 - 60 ekor ayam, paling banyak 70 ekor, setelah diliput rata2 jual 100 ekor ayam per malam. Cukup signifikan untuk mengisi pundi2 uang adik gw ;-) Hehehe.. good for you, bro, inget2 mbak-nya ya ;-)


Hehehe.. promosi dikit nggak papa ya.. namanya juga kakak-adik. Kan harus saling mendukung ;-) Tapi bukan KKN lho, secara emang rasanya enak bener. Terutama Pelecing Kangkung-nya yang selalu bikin gw ketagihan. FYI, adik gw juga gak minta warungnya diliput, wong dia di Jakarta aja enggak. Tau2 ada aja gitu yg ngeliput dari RCTI. Berarti emang enak kan? Hehehe..

Tapi kalau masih penasaran, dan gak percaya omongan gw, boleh kok dibuktiin sendiri ;-) Keluar tol Kebun Jeruk, ambil kanan, terus belok kiri. Teruuuuusss aja sampai ketemu Hero dan Mc Donald. Nah.. di seberangnya Hero Supermarket itu ada Singapore School. Pas di emperannya adik gw buka warung; dianya sih cuma nengok warung kalo udah kembali ke peradaban Jakarta (selama ini dia tinggal di "hutan" karena tuntutan pekerjaan), tapi juru masaknya diimpor langsung dari Lombok. Jadi.. rasa terjamin lah! Kalo nggak enak.. yaaa.. berarti enak banget ;-)

OK, kembali lagi ke Medan, jawaban teka-teki nomor satu adalah... AYAM HAINAN. Hehehe.. kayak Nasi Rames ya ;-)? Ayamnya cuma 5 potong kecil. Bikin gw shock melihatnya ;-).

Dan.. untuk makanan kedua, namanya Mie Aceh. Mie-nya rada beda sama mie pada umumnya, dan.. konsep dituangi kuah itu memang mirip spaggheti. Yang gw foto di menu tercatat sebagai Mie Aceh CPC. Gw tanya, CPC itu singkatan apa, tapi pelayannya nggak tahu. Dia cuma bilang bahwa itu mie yang spesial. Jadi.. gw sih menyimpulkan sendiri bahwa CPC itu singkatan dari CEPECIAL.. ;-)

Anyway.. kalo pingin daftar makanan lain di Medan, bisa dilihat di sini ;-)

Sunday, May 13, 2007

Burnout

Hampir seminggu gw nggak ng-update blog. Lagi sibuk dengan kerjaan, itu sudah pasti. Sudah 4 minggu gw baru bisa meninggalkan tempat kerja paling cepat jam 21:30. Malah di beberapa hari tertentu gw baru bisa sampai rumah tepat sebelum kereta kencana gw berubah jadi labu ;-). Tapi.. mengingat gw pernah sok merasa diri hypergraphia, kayaknya kesibukan bukan alasan untuk nggak ng-update kan? Hehehe.. Malah semakin sibuk, semakin besar dorongan untuk babbling alias mengoceh nggak tentu arah.

Tampaknya, alasan utama gw nggak nggak ng-update adalah karena terjangkit burnout. Ohya, burnout ini adalah istilah untuk menggambarkan kelelahan mental akibat tekanan psikis (baca: stress) berkepanjangan. Panduan lengkap tentang burnout bisa dibaca sendiri di sini, tapi kurang lebihnya burnout dijelaskan sebagai:

“Burnout is a state of emotional and physical exhaustion caused by excessive and prolonged stress. It can occur when you feel overwhelmed and unable to meet constant demands. As the stress continues, you begin to lose the interest or motivation that led you to take on a certain role in the first place. Burnout reduces your productivity and saps your energy, leaving you feeling increasingly hopeless, powerless, cynical, and resentful.”

Sebenarnya, kalau patokan simtomnya adalah cynical dan resentful, agak susah mendiagnosa diri gw sendiri sebagai burnout..hehehe.. Soalnya, dua kata sifat itu kayaknya sudah built-in dalam diri gw sejak lahir *oops ;-)* Tapi.. kalau dipakai bahasan reduce productivity and saps your energy, apalagi dikaitkan dengan emotional and physical exhaustion dan disebabkan oleh excessive and prolonged stress, kayaknya gw memenuhi diagnosa tersebut, deh!

Pegang banyak project dalam waktu yang bersamaan, pulang malam berhari2, atau “pindah kerja” dari kantor ke rumah (baca: bawa setumpuk bahan untuk dikerjain di rumah) memang bukan hal baru buat gw. Hampir sepuluh tahun gw di industri yang “kejam” ini, dan sudah tak terhitung berapa malam yang gw lewatkan sambil kerja. Namanya juga penyedia jasa, mesti siap di-abuse klien kapan saja dan dimana saja. Seperti cerita Jeng Okke, pelanggan tuh rata2 adalah raja yang ngeselin, hehehe.. (OOT: makanya, nggak salah ya, kalau pas jadi pelanggan pun gw berlagak jadi raja yg ngeselin? Hehehe.. Itung2 balas dendam ;-)) Walaupun ada juga klien2 baik hati (yes, darling, it is still you.. and your current partner, my fellow Sanurian ;-)).

Tapi entah kenapa, 4 minggu terakhir ini rasanya beda. Gw bener2 merasa emotionally drained. Padahal CD player di ruang kerja gw udah minta2 ampun gara2 disuruh muter suara Karen Carpenter terus menerus (she’s still my favorite singer, menurut gw belum ada suara penyanyi lain yang punya soothing effect sebesar Karen). Padahal juga gw udah ngabisin hampir 2 botol minyak aromatherapy supaya tungku kecil di meja kerja gw ngebul terus. Padahal juga gw udah pijat refleksi, udah berenang lebih lama dari biasanya, udah baca novel yang nggak pakai mikir, udah nonton film sampai bego,.. Padahal juga project2nya tergolong menarik, bikin gw bisa ke Surabaya dan Medan, dan makan malam buffet tiap malam selama seminggu penuh di sebuah hotel bintang lima (hehehe.. lagak gw udah kayak ibu2 Arisan! aja deh, tiap malam makan di resto mewah ;-))

Biasanya, salah satu dari escape route gw itu bisa menanggulangi dan mengembalikan keseimbangan gw. Entah kenapa, kali ini tidak ada yang berhasil. Tetap aja gw plongo memandangi report yang harus dikerjakan. Malah, akhir2 ini produktivitas gw untuk nge-blog juga hilang.. hehehe.. Bahaya banget gak sih, secara nge-blog itu kan salah satu escape route gw juga. Lha, kalo nggak bisa nge-blog, writer’s block gini, tambah merasa nista gak sih.. hehehe..

Dalam keadaan burnout, gw jadi ingat satu puisi favorit gw bertahun2 lalu, buah karya Sapardi Djoko Damono:

Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa.

Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk memecahkan cermin membakar tempat tidur. Ia hanya ingin menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi.

Sapardi Djoko Damono, 1973
(karena gw males nyalin ulang, gw pinjam puisi ini dari sini)

Dulu2 gw nggak nyadar kenapa suka ama puisi ini. Baru sekarang gw nyadar bahwa puisi ini bagus banget karena “kena” banget untuk menggambarkan burnout. Kadang yang dibutuhkan hanya katup kecil untuk lepas dari semua tekanan. Seperti tokoh di puisi ini, yang hanya perlu menangis lirih saja. Lirih saja, karena yang penting ada katup yg terbuka supaya tekanan [dalam diri] tidak menjadi besar. Seperti a dry teapot over a high flame, yang hanya membutuhkan lubang kecil untuk memperkecil kemungkinan terjadinya ledakan. Nah.. yang diperlukan adalah menentukan di bagian mana katup itu terletak dan bagaimana membukanya.

Konon, katanya, where work is religion, then burnout is the crisis of faith. Well.. walaupun gw menyukai profesi gw sekarang, tetap belum se-dedicated itu sampai menganggapnya agama.. hehehe.. tolong dicatat! Tapi, kayaknya, bagian kedua dari pemeo itu tepat deh: burnout is the crisis of faith ;-) Untung aja gw udah pernah playing housewife, dan sadar bahwa buat gw playing housewife punya ambang burnout yang lebih rendah daripada bekerja, sehingga gw tidak impulsif dan resign.. hehehe..

Tapi, beneran deh! Sekarang gw lagi benar2 merasa jadi a dry teapot over a high flame (walaupun kata teapot mungkin harus diganti dengan jug atau kettle, biar lebih proporsional dengan ukuran badan gw ;-)). Nggak tau mau ngapain, padahal besok gw musti submit 1 proposal, kirim 1 report, dan meeting untuk mendiskusikan 2 project yg akan jalan dua minggu lagi. Report-nya baru jadi separoh, proposalnya belum kepegang sama sekali, sementara written brief untuk dua project yang mau jalan itu belum gw baca sama sekali.

Ngomong2.. kalau gw di-kloning, kira2 clone gw bisa langsung bantuin kerja gak ya? Soalnya ada satu escape route a.k.a katup lagi yang belum gw coba: cuti sampai bosen.. hehehe.. Orang HR udah ribut nanyain kapan gw mau ngambil cuti 5 tahunan (yang lamanya sebulan penuh itu), yang harus dihabiskan tahun ini. Weleh, Mas, Mas.. gimana mau ngambil cuti 5 tahunan, lha wong cuti gw tahun 2006 aja masih sisa 7 hari dan harus dihabiskan sebelum Juli 2007 ;-).

Tuesday, May 08, 2007

Girl Power dalam Legenda

Hehehe.. curhat Susilo yang lucu ini bikin gw pingin nulis tentang ”Kartini” dan kekuasaannya (note: Kartini di sini adalah generic term untuk perempuan ;-))

Gw memang tidak pernah ikutan gerakan feminisme, girl power, atau mendengang-dengungkan emansipasi wanita. Bukan apa2, walaupun secara de jure dunia ini penuh dengan chauvinisme laki2, tapi de facto tampaknya perempuan yg berkuasa. Tengok saja syair lama milik Oom Ismail yang berbunyi:
Namun ada kala pria tak berdaya
Tekuk lutut di sudut kerling wanita
(
Sabda Alam, Ismail Marzuki)
Tapi, sebenarnya, jauh sebelum Oom Ismail bikin lagu itu, indikasi atas kekuasaan wanita sudah muncul dalam bentuk legenda dan mitos. Cinderella dan Snow White yang disiksa ibu tirinya, apa bukan bukti kekuasaan perempuan? Hehehe.. Secara mereka tuh ibu tiri, yang kaya tuh bapak kandungnya Cinderella dan Snow White, tapi kok ya bisa menyiksa anak2 yang lebih berhak atas harta bapaknya ;-).

Jangan dikira cuma dongeng Barat yang menunjukkan indikasi demikian. Legenda Timur pun punya! Contoh yang pernah bikin gw ilfeel banget ada dalam legenda Mahabharata tentang asal-usul Pandawa dan Kurawa.

Menurut legenda, pewaris tahta Astina yang asli adalah Woro Bisma, aka Bisma Dewabrata. Namun, tahta itu lenyap dari tangannya lantaran ”kekuasaan” ibu tirinya, Dewi Satyawati. Si ibu tiri ini hanya bersedia dinikahi oleh Prabu Sentanu, ayah Bisma yang juga Raja Astina, jika ada jaminan bahwa putranya yang kelak menjadi raja. Bisma divetakompli untuk memilih antara mempertahankan haknya, atau membahagiakan ayahnya. Dasar si Bisma ini anak baik, dia memilih yang kedua: melepaskan tahta dan menuruti pre-marital agreement calon ibu tirinya. Apa isi perjanjian pra-nikah itu? Hmm.. Dewi Satyawati ini berargumen bahwa biarpun Bisma rela melepas tahta, belum tentu anak keturunannya kelak akan menghormati keputusan ini. Sang Dewi khawatir nanti anak-cucunya digugat oleh anak-cucu Bisma. Makanya, dia baru mau dinikahi ayah Bisma kalau Bisma janji tidak akan menikah dan punya anak. Coba, kurang jago negosiasi apa lagi nih si ibu ;-)? Berpikirnya udah 3-4 generasi ke depan untuk mengamankan posisi ;-)

*tuh, siapa bilang wanita Timur tidak sadar hak? Hehehe.. Jangan2 pre-marital agreement malah diilhami oleh ibu tiri si Bisma ini ;-)*

Yang lebih canggih lagi, ketika dua anak laki2nya meninggal sebelum memiliki putra mahkota, Dewi Satyawati tetap kekeuh pakai plan B untuk mengamankan posisi: dia panggil anak dari suami pertamanya (note: anak tiri Prabu Sentanu), untuk menyumbangkan sperma pada janda2 kedua putranya dan menghasilkan putra mahkota Astina. Dari situ lahirnya Destarata (ayah Kurawa), Pandu Dewanata (ayah Pandawa), dan Yamawidura. Bisma? Yaa.. Bisma tetap tinggal di sana untuk melayani raja2 Astina. Kasiyaaan.. deh Bisma! Nasib tragis bagi seorang pewaris tahta yang sah untuk melayani pemegang tahta yang bahkan tidak ada hubungan darah dengan pendiri tahta itu.

Hehehe.. biarpun gw ilfeel banget sama Dewi Satyawati, mesti gw akui bahwa perempuan ini adalah contoh bagus untuk girl power ;-).

Legenda Timur tentang kekuasaan perempuan bukan cuma di cerita wayang. Di novel sejarah Senopati Pamungkas pun ada contoh lain. Kali ini kisahnya tentang Permaisuri Indreswari, d/h Dara Petak, putri boyongan tanda takluknya Kerajaan Melayu pada Majapahit. Kalau baca novelnya Oom Arswendo ini, ada bagian yang menceritakan Permaisuri Indreswari dengan canggihnya menyingkirkan Tribhuana Tunggadewi dari daftar pewaris tahta, serta menggantikannya dengan Kala Gemet, putranya sendiri.

Well.. ini memang cuma fiksi imajinasi Oom Arswendo, bukan legenda apalagi fakta. Namun pemikiran ini cocok sekali dengan konteksnya; menurut sejarah ada ramalan bahwa Gayatri dan Raden Wijaya harus menikah karena mereka yang akan menurunkan raja2 Jawa. Jelas2 Tribhuana Tunggadewi ini adalah putri dari Gayatri & Raden Wijaya, tapi kok ya tiba2 Kala Gemet nyempil di tengah jadi raja ;-)

Memang, Kala Gemet adalah satu2nya anak laki2 Baginda Kertarajasa (d/h Raden Wijaya). Tapi.. kalau gw nggak yakin bahwa Sang Baginda mengangkat Kala Gemet jadi putra mahkota hanya karena alasan jenis kelamin setelah adanya ramalan bahwa raja Jawa justru akan diturunkan dari Gayatri. Kalaupun anak Gayatri perempuan semua, bukankah suami dari putri mahkota itu yang jadi raja? Baginda Kertarajasa sendiri kan jadi raja karena menikahi putri2 Baginda Kertanegara, bukan karena dia adalah putra mahkota?

So.. bukan mustahil bahwa di balik pengangkatan Kala Gemet ada unsur ”kekuasaan” sang ibu, Dara Petak ;-) And it fits the context, logically, mengingat Dara Petak berasal dari Kerajaan Melayu Jambi yang letaknya di Sawahlunto. Tradisi Sumatra Barat adalah matriakat, kan? Bukan mustahil hal ini menjadi bagian dari negosiasi sang Sthri Tinuheng Pura (= permaisuri)

Hmm.. dipikir2, cerita akan kekuasaan perempuan ini bahkan sudah ada sejak manusia baru diciptakan. Iya, pernah kepikir nggak betapa beruntungnya Hawa? Hehehe.. Bukan saja dia tidak punya ibu mertua (biasanya kan istri berkonflik sama ibu mertua ;-)), tapi juga karena Hawa punya suami yang nurut, mau aja disuruh2, termasuk disuruh nyolong sekalipun. Dan.. setelah suruhan Hawa terbukti bikin hidup mereka sengsara, si suami tetap saja cinta mati. Nggak ninggalin dia, nggak selingkuh, nggak poligami ;-) Ini faktor keberuntungan belaka, atau ada unsur girl power ya ;-)?

So.. female is not The Second Sex after all, we just pretend we are ;-). Untung Simone de Beauvoir sudah meninggal. Kalau belum, bisa2 dia mesti bikin revisi atas bukunya ;-) Lebih lucu lagi kalau buku revisinya malah dijudulin Das Uebergeschlecht (jenis kelamin unggulan), seperti konsep Uebermensch-nya Nietzsche ;-)

*hehehe.. buat filsuf2-wanna-be yang suka kelayapan di sini, paragraf di atas sekedar parodi atas istilah dari kedua orang itu ya. Tidak mengacu pada keseluruhan konsepnya ;-)*

Anyway.. ngapain sih nulis panjang lebar tentang ini?

Yaah.. nggak ada tujuan khusus sebenernya. Cuma terinspirasi komentar lucunya Susilo aja. Sekali2 nulis suatu topik yang gak ada wrap up-nya boleh kan?

BTW, gw kasih bonus gambar aja deh.. hehehe.. Komik lucu ini gw dapat dari email beberapa bulan lalu. Lucu aja melihat Disney's Desperate Housewives ini, terutama baca kata2 Sleeping Beauty .. "I just pretend I'm asleep".. Hehehe.. apakah Sleeping Beauty sedang memberikan kiat pada putri yang lain untuk mendapatkan apa yang diinginkan dari suami2 mereka? Who knows ;-)

UPDATE: 10 Mei 2007

Setelah memperhatikan beberapa komentar yang masuk, gw baru ngeh betapa entry ini berkesan punya nada female ueber alles, hehehe.. Klarifikasi aja, ini bukan propaganda untuk menguasai laki2, sekedar sebuah entry "nakal" tentang betapa dari sudut yg berbeda, dgn argumen berbeda, contoh kasus berbeda, sesuatu bisa dilihat sebagai berbeda pula :-) Dalam hal ini adalah anggapan tentang "perempuan", bisa dilihat sebagai "lemah", bisa dilihat sebagai "penjajah".. hehehe.. tergantung dari sisi mana. It doesn't mean that female has to take one of these position, kan dunia tidak hitam-putih ;-).

BTW, gw juga notice perbedaan nada komentar antara pria2 di comment box, yang berbanding lurus dgn perbedaan usia & pengalaman. Pria2 yg lebih tua dan "pengalaman hidup" yang lebih, komentarnya cenderung pro terhadap konsep "perempuan seringkali malah menjajah pria". Sementara komentar para brondong lebih ke arah persamaan gender. Hmm.. ada cowok2 lain yg mau komentar? Hehehe.. biar gw bisa lebih menguji hipotesa di atas ;-)

Sunday, May 06, 2007

This One's for the Children

Tadi pagi menjelang siang, sambil self-grooming menghilangkan kepenatan, gw dihibur dengan tayangan infotainment. Salah satu beritanya adalah tentang Kak Seto dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang berkomentar tentang anak-anak pasangan Maia – Ahmad Dhani sehubungan dengan pra-perceraian mereka. Komentar standard tentang betapa anak2 membutuhkan kedua orang tuanya, keluarga harmonis, bla.. bla.. bla..

Nggak ada yang aneh dengan komentarnya. Menurut gw 100% benar. Tapi, menjadi ironis ketika infotainment itu berakhir dan acara berganti dengan berita kejahatan.

Ada dua berita mengenai anak yang dibahas dalam crime news program itu: yang pertama tentang meninggalnya pelajar kelas II SD yang diduga akibat penganiayaan teman2nya (note sebelum diprotes ipra tentang tanggal dan jam link-nya: tautan yg gw kasih bukan yg tadi gw tonton, ini cuma untuk menunjukkan berita mana yg gw maksud ;-)), serta “perdagangan” bayi2 yang lahir di luar nikah untuk diadopsi. Dan letak keironisannya adalah: kalau perceraian, bullying, dan perdagangan anak adalah pelanggaran terhadap hak anak, maka perceraian adalah yang secara umum dampak psikologisnya paling minimal. Namun.. justru untuk kasus yang dampaknya cenderung paling minimal itulah sering kali KPAI diwawancara dan “turun tangan”.

Well.. gw tidak bermaksud bilang bahwa KPAI adalah lembaga materialistik yang hanya mau ngurusin anak2 artis yang bercerai seperti yang dituduhkan sebagian kalangan. Gw lihat KPAI nggak seburuk itu kok.. mereka masih turun tangan ketika Raju yang miskin dimasukkan penjara dewasa (laporan panjang lebar pendampingan Raju sempat gw ikuti di Psikonet, milisnya para psikolog) Mereka juga tampaknya memikirkan tentang bully yang semakin meningkat (setidaknya berita ini menunjukkan mereka aktif menerima laporan kekerasan dan ikut memikirkan jalan keluar). Kalaupun sekarang mereka lebih banyak diwawancarai sehubungan dengan kasus anak2 artis yg mau bercerai, well.. bukan berarti kerjaan mereka hanya mengurusi anak artis, kan ;-)? Yang menentukan angle mana dari pekerjaan mereka yang bisa dijual di media kan bukan KPAI, melainkan yg punya TV ;-) Dan.. menghabiskan slot TV membahas segala aspek perceraian artis [tampaknya] masih lebih laku dijual.

Kalaupun sekarang kesannya KPAI cenderung membela orang tua [baca: artis] yang melapor, hal ini juga bisa dimaklumi. Kalau KPAI tampak cenderung membela dan menggunakan teori psikologi yang pro-ibu (untuk kasus dimana Tamara Bleszynski, Maia Ahmad, dan Zarima, sebagai yg minta bantuan mendapatkan asuh) atau malah menggunakan teori psikologi tentang pentingnya ayah dalam kehidupan anak (untuk kasus Tommy Soeharto minta bantuan mendapat hak asuh), bukan lantas harus dibaca sebagai lembaga materialistik yang siap membelokkan ilmu demi kepentingan orang yg membayar. Ini logis saja: si peminta bantuan tidak mendapatkan hak asuh, tapi [mantan] pasangannya mendapatkan. Terjadi ketidakseimbangan pada pengasuhan anak, dimana si anak hanya mendapatkan asuhan satu orang tua saja. Padahal, seorang anak membutuhkan asuhan dari kedua orangtua sekaligus. Jadi.. dalam kasus2 seperti ini, KPAI berusaha meyakinkan pihak [mantan] pasangan bahwa mempertemukan anak dgn ayah/ibunya itu penting lho! Dan.. untuk meyakinkannya, tentu saja yang dipakai adalah teori yang sesuai.

Logis kan? Ibaratnya si artis orang punya duit sekian juta yang cukup untuk beli CPU dengan spesifikasi A. Tapi.. kalau beli CPU yang itu, dia nggak punya duit sisa untuk beli monitor. Nah.. KPAI ibaratnya mencoba meyakinkan si orang ini untuk membeli monitor sekalian, dengan konsekuensi spesifikasi CPU-nya turun. Tentu, dalam hal ini yang digunakan untuk meyakinkan adalah logika tentang kenapa monitor juga penting untuk dibeli. Ngapain buang2 waktu untuk menjelaskan bahwa komputer itu penting, bla.. bla.. bla.. Tapi, bukan lantas berarti bahwa CPU itu tidak penting kan? Emang kalo beli monitor gak ada CPU-nya, lantar monitor itu buat apaan? Buat ngaca? Hehehe..

Eh.. gw melantur, seperti biasanya ;-).

Anyway.. menurut gw, sebenernya KPAI sudah ke arah yang benar. Namun.. menurut gw banyak yang harus dibenahi oleh KPA supaya lebih bagus dan lebih bermanfaat untuk seluruh anak bangsa (tsah! “Anak bangsa”! Bahasa gw patriotik gak sih.. hehehe..)

Satu hal yang menurut gw paling penting adalah: KPAI mungkin perlu untuk lebih proaktif mencegah pelanggaran hak anak. IMO, selama ini gw melihat KPA lebih bersifat reaktif; ada kasus baru bergerak. Nggak di kasus Raju, nggak di kasus anak2 artis yang bercerai, nggak di kasus kekerasan terhadap anak yg makin meningkat. Baca2 websitenya juga kegiatannya lebih bersifat reaktif, seperti membuat Pekan Pengaduan.

Padahal, seperti di tautan berita Republika ini, KPAI sudah punya data bahwa dalam 2 tahun terakhir kekerasan terhadap anak di sekolah meningkat. Mereka juga punya data tentang siapa yang melakukannya. Bahkan, mereka sudah punya data tentang faktor2 penyebabnya: dari budaya (contoh: pemeo “emas di ujung rotan” yang dikatakan berasal dari Indonesia Timur), rendahnya pengetahuan guru terhadap UU Perlindungan Anak dan UU Guru, ketidaktahuan guru terhadap metode pengajaran disiplin yang tepat, .. ketiganya sudah terjabarkan dalam artikel itu. Gw juga yakin KPA cukup mahfum akan serapan anak2 terhadap sinetron2 keras di TV yang kadang ditiru anak tanpa memikirkan resikonya. Kasus Smackdown yang sempat ramai itu tentu juga sudah sampai ke telinga KPAI.

Dengan data di atas, mereka bisa merancang rencana kerja yang lebih proaktif dan lebih bersifat pencegahan. Sayang, sampai saat ini, hal itu tampaknya belum terlaksana. Atau.. sudah ada usaha ke arah itu, namun kurang terdengar hingga ke masyarakat.

Well.. semoga saja KPAI sudah memiliki usaha proaktif menanggulangi faktor2 tadi. Entah dengan menggalang sosialisasi UU Perlindungan Anak dan UU Guru, dengan mempublikasikan ke segala kalangan tentang serba-serbi sebab, akibat, dan tips menanggulangi pelanggaran hak anak, atau.. entah apa lagi jalan proaktif yang diambil untuk perbaikan nasib anak bangsa (aiyah! Gw nyebut “anak bangsa” lagi! Betapa patriotiknya gw.. hehehe.. )

Jadi.. jangan hanya muncul di TV untuk kasus anak2 artis yang bercerai saja.. hehehe.. Bisa dikira tidak punya pekerjaan lain dan hanya ngurusin rumah tangga orang ;-)

Berkaitan dengan itu, menurut gw hal kedua yang penting diperhatikan oleh KPAI adalah mengatur pemberitaan tentang kegiatan mereka di media, supaya tidak berat sebelah ke kegiatan yang itu2 saja. Memang, bisa jadi TV swasta/tabloid/media massa lain cuma tertarik mewawancarai KPA kalau ada artis bercerai.. tapi.. KPAI punya hak nego juga kan? Boleh mau, boleh nolak diwawancara. Naaah.. mungkin bisa nego: mau diwawancara untuk kasus anak2 artis, tapi TV/tabloid/media yang sama juga mesti menayangkan berita tentang kegiatannya yang lain. An eye for an eye.. dalam konotasi yang baik ;-)

Maju terus buat KPAI, semoga makin memperbaiki nasib calon2 penerus bangsa ini :-)

-----------------------------------

Current Video Clip: This One’s for the Children (NKOTB)

Wednesday, May 02, 2007

Mai

Sejak pertama kali lihat In the Name of Honor terpajang di TGA Mal Kelapa Gading, gw udah pingin banget beli. Kisah Mukhtar Mai (aka Mukhtaran Bibi), salah satu dari 100 tokoh paling berpengaruh versi Majalah Time tahun 2006, sangat ingin gw baca. Sayang, harga sekian ratus ribu buku import benar2 menjadi mooring factor yang menghambat pembelian ;-). Gw nggak sayang ngeluarin duit buat beli buku, tapi kalau masih pingin makan sebulan ke depan, gw mesti hati2 juga memilih buku yang benar2 perlu gw beli.. hehehe.. Untung, minggu lalu nemu terjemahannya di toko buku lain.

Ternyata memang bukunya bagus banget. Nggak rugi belinya. Apa yang awalnya gw kira sekedar kisah sedih seorang wanita di tengah masyarakat male chauvinism atau yang menerapkan not-quite-adequate interpretation of the Holy Quran, benar2 menjadi pembuka mata tentang sebuah masalah sosiologis yang besar.

Hmm.. gw bukan ahli sosiologi, jadi biarkan the future sociologist yang membahasnya lebih dalam. Gw coba ngebahas sedikit aja ya ;-)

Mukhtar Mai adalah seorang perempuan Pakistan dari suku Gujar, sebuah suku miskin berkasta rendah di Pakistan. Ketika adik laki2nya dituduh menggoda seorang wanita dari kasta yang lebih tinggi, dan dengan demikian (sesuai norma tradisional Pakistan) dianggap telah mencoreng kehormatan keluarga si wanita, ia dipilih sebagai wakil keluarga untuk memohonkan maaf bagi adiknya. Wanita adalah sumber kehormatan bagi sebuah keluarga menurut norma adat Pakistan, sehingga jika kehormatan itu tercoreng, hanya wanita dari keluarga yang dianggap bersalah yang bisa digunakan untuk menebusnya. Si wanita ini yang bisa memohonkan maaf dan [jika perlu] ”dihukum” untuk memulihkan kehormatan keluarga. Wanita [dari keluarga yang dianggap bersalah] ini bisa dinikahkan dengan seorang laki2 [dari keluarga yang tercoreng kehormatannya], atau bahkan menerima kenyataan yg lebih buruk lagi: diperkosa sebagai bentuk hukuman an eye for an eye.

Kenyataan yang kedua ini yang menjadi nasib Mukhtar Mai. Dia diperkosa secara masal oleh para lelaki dari suku yang [merasa] tercoreng kehormatannya, sebelum diusir pulang dalam keadaan setengah telanjang.

Dalam kebiasaan Pakistan, wanita yang sudah mendapatkan nasib ini tidak memiliki pilihan lain selain bunuh diri. First she has to restore her family honor in a degrading way, by being raped; and then she has to purify her family’s honor by killing herself. Dengan demikian keluarganya tidak lagi harus menanggung malu karena memiliki seorang perempuan yang sudah diperkosa sebagai anggota.

Tapi Mukhtar Mai menolak menyerah pada kebiasaan ini. Ia memilih untuk bangkit, memanfaatkan perhatian nasional serta internasional yang didapatkannya, untuk meraih sebuah cita2: mengajar lebih banyak lagi anak2 perempuan supaya mereka bisa lebih berpengetahuan luas dan membela dirinya sendiri kelak. Pilihannya ini tidak mudah. Mukhtar masih harus menghadapi tekanan sosial; berkenaan dengan penolakannya untuk bunuh diri, apalagi ditambah dengan aksi militannya yang amat sangat tidak biasa untuk perempuan dalam budaya mereka. Mukhtar pun masih harus menghadapi ancaman fisik (berupa pembalasan dendam karena sudah menyebabkan pemerkosanya ditangkap dan dipenjara), karena pada akhirnya hukum negara Pakistan yang melarang dehumanisasi perempuan tidak kuasa melindunginya dari hukum dan kebiasaan adat.

Menarik! Gw tahu bahwa norma adat tidak selalu sejalan dengan hukum negara. Dan gw tahu bahwa kalau kita bicara tentang sekelompok orang yang homogen, kemungkinan besar yang akan diikuti adalah adat istiadat, bukan hukum negara yang mungkin lebih mengakomodasi keberagaman. Namun.. menjadi menarik kisah Mukhtar Mai ini ketika hukum negara bertentangan dengan hukum adat, dan tidak memiliki kekuatan yang lebih besar untuk menganulir hukum adat? Seperti kata Presiden Pakistan di blognya yang lebih memilih meredam aktivitas Mukhtar Mai supaya tidak memperburuk citra Pakistan di dunia internasional, karena itu lebih mudah daripada memperbaiki kenyataan (baca: mengatasi hukum adat) di Pakistan.

Apa yang terjadi ya? Bagaimana dulu mereka menyusun hukum negara, hingga begitu bertentangan dengan hukum adat? Dan bagaimana proses penerapan hukumnya, kok malah ada kesan bahwa hukum negara nggak bisa apa2 menghadapi hukum adat? Menilik cerita di buku ini, hukum negara Pakistan didasarkan pada hukum Islam. Tampaknya berdasarkan interpretasi yang tepat terhadap hukum Islam, setidaknya jika menilik pada melarang dehumanisasi perempuan (note: gw tidak sealiran dengan Ayaan Hirsi Ali yang mencampuradukkan budaya dan agama ;-)). Nah.. yang jadi pertanyaan: kok bisa hingga akhir milenium ke-2, hukum negara belum bisa diterapkan sepenuhnya?

Hal kedua yang menarik buat gw adalah bagaimana adat istiadat yang begitu besar pengaruhnya (note: sampai2 pemerintah negara pun tidak kuasa mengatasinya) ternyata diajarkan turun temurun dengan cara yang sederhana sekali. Seperti diceritakan oleh Mukhtar Mai, hanya dua pelajaran yang boleh diterima anak perempuan tradisional di Pakistan: ayat2 Al Quran, serta nasihat2 dari perempuan yang lebih tua. Bahkan, seringkali nasihat dari perempuan yang lebih tua itu tidak disampaikan secara langsung, melainkan dibuat sedemikian rupa supaya anak2 perempuan yang lebih kecil bisa mencuri dengar:

Kemudian, ibu-ibu akan mengomentarinya dengan suara-suara keras agar anak-anak perempuannya dapat mendengarnya.. Begitulah anak-anak perempuan yang belum menikah mempelajari apa yang mesti dan tidak boleh dilakukannya. Di samping shalat dan membaca al-Quran, hal seperti itu menjadi satu-satunya pendidikan yang kami peroleh.

(hal. 108)

Menarik ya, betapa pemerintahnya tidak bisa berbuat apa2 untuk mengatasi penyebaran yang sebenarnya sangat sederhana ini? Pakistan mungkin bukan negara kaya, namun juga bukan tergolong sangat miskin atau sangat terbelakang. Banyak perempuan Pakistan yang sudah sekolah tinggi. Mereka punya Perdana Menteri wanita bahkan sebelum Indonesia punya Mbak Mega ;-). Sebenarnya mereka sudah punya sumber daya untuk menanggulangi hal ini. Tapi yang begini masih menjadi sesuatu yang ordinary di sana, yang bahkan presidennya pun memilih untuk mendhem jero (= mengubur dalam2) dengan justifikasi bahwa kekerasan perempuan bukan problem eksklusif yang hanya terjadi di Pakistan?

Well.. walaupun kasus ini sarat muatan sosiologisnya, buat gw yang paling menarik tentunya adalah sosok Mukhtar Mai ini sendiri. Betapa luar biasanya dia; perempuan buta huruf, diperkosa secara brutal dan mendapat tekanan sosial bertubi2 (atas keputusan untuk tidak bunuh diri, malah melakukan gerakan militan), tapi mampu bangkit dan membuat perubahan nyata.

Memang, perubahan yang dibuatnya tidak besar. Hanya membuat sekolah untuk beberapa anak2 perempuan, yang kadang pun harus direlakannya tidak masuk lantaran harus bekerja di rumah. Memang, dia tidak membuat keadaan di Pakistan berubah; bahwa kini hukum negara benar2 dijalankan sampai ke pelosok dan menanggulangi hukum adat yang merendahkan wanita. Tapi.. sekecil apa pun perubahan yang dibuat oleh Mukhtar Mai, perubahan (kecil) itu nyata dan taktis. Kekejaman laki2 dan adat yang meletakkan perempuan pada posisi setara kambing adalah default yang tidak bisa diapa2kan lagi, paling tidak untuk saat ini. Tapi, kalau perempuan (tradisional) Pakistan lebih melek pengetahuan, mereka lebih punya kesempatan dan kemampuan melindungi dirinya sendiri.

Gw terkesan sekali pada kata2 di halaman terakhir buku ini:

Mendidik gadis-gadis kecil masih lebih mudah dibanding mendidik anak laki-laki yang dilahirkan ke dunia berisi orang-orang kejam dan mereka belajar dari tingkah laku orang-orang tersebut, sehingga mendidik mereka menghadirkan sebuah tantangan yang jauh lebih sulit. Keadilan yang telah diberikan kepada perempuan harus dijadikan pelajaran bagi mereka pada setiap generasinya, karena penderitaan dan air mata tidak mengajarkan apa pun kepada mereka.

(hal. 193 – 194)

Selain ketegarannya, kemampuannya membalikkan obstacle into opportunity, hal ini yang juga membuat gw salut pada Mukhtar Mai. Dia tidak into big things, tidak menuntut macam2, tidak menyalahkan semua2, tidak ingin mengubah dunia. Dengan segala kesederhanaannya, dia hanya mencoba membuat perubahan kecil dengan kedua tangannya. Melakukan apa yang dia bisa untuk mengubah lingkungan menjadi sedikit lebih baik.. dan semoga setiap anak yang diajarnya untuk berubah akan mengajarkan hal yang sama pada orang lain, sehingga di suatu waktu kelak benar2 membuat seluruh bangsa menjadi lebih baik.

Well.. nggak salah dia dipilih menjadi salah satu Asian Heroes oleh Majalah Time. Sikap dan perjuangannya benar2 menjadi inspirasi bagi para wanita, dimana pun mereka berada.

*eh.. masih jaman nggak ya, ngucapin: ”Selamat Hari Kartini!” ;-)? Udah lewat hampir 2 minggu nih ;-)*

--------------

UPDATE 3 Mei 2007:

Menanggapi kebingungannya ipra yg nggak nemu nama Mukhtar Mai di daftar 100, kayaknya ada yg mesti gw jelaskan tentang namanya. Nama asli tokoh ini adalah Mukhtaran Bibi. Mai artinya "kakak perempuan terkasih". Jadi.. kurang lebih, Mukhtar Mai berarti: Mbakyu Mukhtar(an Bibi) ;-) Thanks ya, Pra, mengingatkan secara tidak langsung bahwa apa yang gw anggap gak penting ternyata bisa membingungkan orang lain ;-)