Wednesday, May 30, 2007

Orang Bijak Taat Pajak

Waktu baca entry ini beberapa bulan lalu, gw sempet mikir, "Yo'olooh.. emang segitunya ya, Mir? Mau nyewa apartemen aja kena diskriminasi? Mesti bangga atau mesti sedih nih kita?" Kebayang tampangnya Mirna jadi dongkol tapi nggak bisa marah gara2 didiskriminasi kalo mau lihat apartemen.

*note: jaman baru masuk kuliah dulu Mirna pernah berdebat sama gw di Penataran P4. Yang akhirnya - seperti bisa diduga - terjadi komunikasi satu arah. Gw mencecar terus sementara Mirna yang lembut ini cuma diem dan jengkel.. dia baru bisa menumpahkan kejengkelannya ke gw setelah ketemu lagi di blogosphere 16 tahun kemudian ;-)*

Cerita serunya Mirna teringat kembali waktu kemarin malam nonton acara yang mewawancarai Lucy Rumantir mengenai hasil penelitian Jones Lang La Salle di salah satu TV swasta (maaf, gw lupa station apa).

Hasil penelitian Jones Lang La Salle itu antara lain menyebutkan bahwa 21% apartemen mewah di Singapura dimiliki oleh orang Indonesia. Padahal, harga apartemen2 ini bisa mencapai Rp 70jt/meter persegi, atau kurang lebih 3x lipat harga apartemen mewah di Jakarta yang cuma Rp 20jt/meter persegi. Sementara itu, warga asli Singapura sendiri hanya menguasai 30-an% apartemen kelas menengah dan kelas bawah di negerinya sendiri.

Sebenernya data2 ini wajar saja, kalau saja tidak terjadi suatu keironisan bahwa pendapatan per kapita Indonesia jauh lebih rendah daripada Singapura. Masih menurut penelitian di atas, pendapatan per kapita Indonesia hanya US$ 4,458 dan berada di urutan 110 dari 179 negara di dunia. Sementara Singapura berada di urutan ke-17 negara terkaya dunia dengan pendapatan per kapita US$ 32,870. Bayangkan! Betapa ironisnya bahwa salah satu negara termiskin di dunia menguasai property dan ikut memperkaya negara yang di atas kertas sudah 6x lebih kaya.

Mari bermain matematika sedikit. Kalau sebuah negara berada di urutan 110 dari 179, tapi creme de la creme-nya mampu menguasai pasar property negara yang jauh lebih kaya, maka... kesenjangan penghasilan sudah sangat besar kan? Sampai2 jumlah pendapatan seluruh orang Indonesia (dari yang super kaya itu hingga yang super miskin) dijumlahkan dan dibagi per kepala masih menghasilkan peringkat 29 dari bawah, berarti kan nggak imbang banget antara yang super kaya dan super miskin?

OK, dalam entry ini gw tidak berniat menyalahkan kaum the haves Indonesia yang cari keuntungan di Singapura. Gw nggak mau berkhotbah tentang membantu kaum papa, bahwa 2.5% adalah haknya si miskin, yadda yadda bla bla bla.. Gw nggak anti sosialis, dan juga bukan kapitalis sejati, tapi gw merasa bahwa it’s fair kalau orang lebih memilih untuk menggandakan duit (nya sendiri) daripada bersedekah atau membantu memulihkan perekonomian di Indonesia. After all, itu duit2nya sendiri, dan yang namanya sedekah itu harus tulus dari dalam hati. Nggak bisa dipaksa kan?

Tapiii.. gw jadi tempra ketika negara yang tugasnya “mengatur hajat hidup yang menguasai orang banyak” serta “memelihara fakir miskin dan anak terlantar” ikut2an nggak tenggang rasa.

Dongkol bener gw siang ini ketika mengikuti weekly internal meeting dan salah satu topik bahasannya adalah ekstensifikasi pajak yang bakal dimulai tahun 2007. Salah satu agenda dari ekstensifikasi ini adalah kewajiban bagi tiap individu untuk punya NPWP. Nggak boleh pakai NPWP kantor.

Setahun dua tahun lalu gw udah sempat ngebahas dengan bapaknyaima tentang masalah NPWP ini. Bego2 gini gw juga bisa ngitung pajak penghasilan yang menerapkan sistem progresif (thanks to fertob yg telah mengingatkan istilahnya ;-)) itu. Hasil hitung2an gw dan bapaknyaima: our life will be in peril kalau negara udah mewajibkan semua individu punya NPWP. Memang lebih menguntungkan kalau gw dan bapaknyaima masing2 punya NPWP sendiri, dibandingkan jika pakai NPWP gabungan. Tapi tetap aja.. kalau kami sudah tidak bisa pakai NPWP kantor, maka repelita untuk Ima mengalami kendala serius.

Nah lho! Pusing kan, gw?

Sementara, gw inget banget omongan almarhum bapak semasa hidup: punya NPWP tuh seperti memiliki never-ending nightmare atau karma [buruk] seumur hidup. Takdir yang tidak bisa diubah bukan hanya mencakup jodoh, lahir, mati.. tapi juga pajak ;-). Dan hal itu sudah gw alami sendiri: 6 tahun setelah bapak meninggal, tiap tahun masiiiiiih aja gw mesti “ngurus” NPWP beliau ke kantor pajak (note: kata “ngurus” di sini sengaja diberi tanda kutip. Please feel free to interpret the meaning ;-)). Padahal, nggak sampai sebulan setelah bapak meninggal, kita sudah lapor ke kantor pajak. Tiap kali lapor, kita udah bawa fotokopian surat keterangan kematian sebanyak belasan lembar seperti yang diminta. Tapi teteup, sekali punya NPWP, kayaknya seseorang dianggap jadi Highlander yang nggak bisa mati ;-).

Kenapa sih negara semangat banget memungut cukai dari kita2 yang kroco ini? Sementara.. apa kabar bapak2 dan ibu2 the haves yang menguasai property di negara yang 6x lebih kaya? Kenapa sih mesti mengejar2 individu yang memastikan anaknya bisa sekolah sampai jadi sarjana aja udah susah? Kenapa nggak menerapkan pajak yang lebih tinggi atau penalti besar bagi mereka yang membeli properti di luar negeri?

Atau.. kenapa sih nggak fokus menangkap koruptor? Sekali tangkap koruptor, yakin deh.. hasilnya bisa lebih dari memeras keringat orang2 susah.. hehehe..

Duoooh.. dongkol bener gw baca judul2 yang terkait dengan Ekstensifikasi Pajak seperti: Kejujuran Kita adalah Modal Bangsa. Siapa sih yang mau disuruh jujur? Kan yang gak jujur bukan kita.. ;-) Dan yang mana modal bangsa? Bukannya modal bangsa udah pindah ke Singapura ;-)? Kalau mau bikin Indonesia pulih perekonomian, cegah dong modal2 bangsa itu keluar dari Indonesia. Jangan kita yang diperas terus menerus untuk memperkaya negara ;-)

Anyway, apa tuh slogannya kantor pajak? Orang bijak taat pajak?

Kalau gw sih punya slogan sendiri seperti ini: Orang Bijak Taat Pajak, [tapi] Orang Cerdik Tidak Punya NPWP, [dan] Orang Beruntung Tidak Tertangkap Walaupun Tidak Punya NPWP ;-)

---------

NB (nambah): Tidak dimaksudkan untuk menyinggung yang suaminya orang pajak lho, nYam ;-)

NBL (nambah lagi): Bapak Dodol, setelah memastikan akan mendapat piala bergilir, apakah dikaw juga sudah kebagian sebuah apartemen mewah ;-)?