Wednesday, May 02, 2007

Mai

Sejak pertama kali lihat In the Name of Honor terpajang di TGA Mal Kelapa Gading, gw udah pingin banget beli. Kisah Mukhtar Mai (aka Mukhtaran Bibi), salah satu dari 100 tokoh paling berpengaruh versi Majalah Time tahun 2006, sangat ingin gw baca. Sayang, harga sekian ratus ribu buku import benar2 menjadi mooring factor yang menghambat pembelian ;-). Gw nggak sayang ngeluarin duit buat beli buku, tapi kalau masih pingin makan sebulan ke depan, gw mesti hati2 juga memilih buku yang benar2 perlu gw beli.. hehehe.. Untung, minggu lalu nemu terjemahannya di toko buku lain.

Ternyata memang bukunya bagus banget. Nggak rugi belinya. Apa yang awalnya gw kira sekedar kisah sedih seorang wanita di tengah masyarakat male chauvinism atau yang menerapkan not-quite-adequate interpretation of the Holy Quran, benar2 menjadi pembuka mata tentang sebuah masalah sosiologis yang besar.

Hmm.. gw bukan ahli sosiologi, jadi biarkan the future sociologist yang membahasnya lebih dalam. Gw coba ngebahas sedikit aja ya ;-)

Mukhtar Mai adalah seorang perempuan Pakistan dari suku Gujar, sebuah suku miskin berkasta rendah di Pakistan. Ketika adik laki2nya dituduh menggoda seorang wanita dari kasta yang lebih tinggi, dan dengan demikian (sesuai norma tradisional Pakistan) dianggap telah mencoreng kehormatan keluarga si wanita, ia dipilih sebagai wakil keluarga untuk memohonkan maaf bagi adiknya. Wanita adalah sumber kehormatan bagi sebuah keluarga menurut norma adat Pakistan, sehingga jika kehormatan itu tercoreng, hanya wanita dari keluarga yang dianggap bersalah yang bisa digunakan untuk menebusnya. Si wanita ini yang bisa memohonkan maaf dan [jika perlu] ”dihukum” untuk memulihkan kehormatan keluarga. Wanita [dari keluarga yang dianggap bersalah] ini bisa dinikahkan dengan seorang laki2 [dari keluarga yang tercoreng kehormatannya], atau bahkan menerima kenyataan yg lebih buruk lagi: diperkosa sebagai bentuk hukuman an eye for an eye.

Kenyataan yang kedua ini yang menjadi nasib Mukhtar Mai. Dia diperkosa secara masal oleh para lelaki dari suku yang [merasa] tercoreng kehormatannya, sebelum diusir pulang dalam keadaan setengah telanjang.

Dalam kebiasaan Pakistan, wanita yang sudah mendapatkan nasib ini tidak memiliki pilihan lain selain bunuh diri. First she has to restore her family honor in a degrading way, by being raped; and then she has to purify her family’s honor by killing herself. Dengan demikian keluarganya tidak lagi harus menanggung malu karena memiliki seorang perempuan yang sudah diperkosa sebagai anggota.

Tapi Mukhtar Mai menolak menyerah pada kebiasaan ini. Ia memilih untuk bangkit, memanfaatkan perhatian nasional serta internasional yang didapatkannya, untuk meraih sebuah cita2: mengajar lebih banyak lagi anak2 perempuan supaya mereka bisa lebih berpengetahuan luas dan membela dirinya sendiri kelak. Pilihannya ini tidak mudah. Mukhtar masih harus menghadapi tekanan sosial; berkenaan dengan penolakannya untuk bunuh diri, apalagi ditambah dengan aksi militannya yang amat sangat tidak biasa untuk perempuan dalam budaya mereka. Mukhtar pun masih harus menghadapi ancaman fisik (berupa pembalasan dendam karena sudah menyebabkan pemerkosanya ditangkap dan dipenjara), karena pada akhirnya hukum negara Pakistan yang melarang dehumanisasi perempuan tidak kuasa melindunginya dari hukum dan kebiasaan adat.

Menarik! Gw tahu bahwa norma adat tidak selalu sejalan dengan hukum negara. Dan gw tahu bahwa kalau kita bicara tentang sekelompok orang yang homogen, kemungkinan besar yang akan diikuti adalah adat istiadat, bukan hukum negara yang mungkin lebih mengakomodasi keberagaman. Namun.. menjadi menarik kisah Mukhtar Mai ini ketika hukum negara bertentangan dengan hukum adat, dan tidak memiliki kekuatan yang lebih besar untuk menganulir hukum adat? Seperti kata Presiden Pakistan di blognya yang lebih memilih meredam aktivitas Mukhtar Mai supaya tidak memperburuk citra Pakistan di dunia internasional, karena itu lebih mudah daripada memperbaiki kenyataan (baca: mengatasi hukum adat) di Pakistan.

Apa yang terjadi ya? Bagaimana dulu mereka menyusun hukum negara, hingga begitu bertentangan dengan hukum adat? Dan bagaimana proses penerapan hukumnya, kok malah ada kesan bahwa hukum negara nggak bisa apa2 menghadapi hukum adat? Menilik cerita di buku ini, hukum negara Pakistan didasarkan pada hukum Islam. Tampaknya berdasarkan interpretasi yang tepat terhadap hukum Islam, setidaknya jika menilik pada melarang dehumanisasi perempuan (note: gw tidak sealiran dengan Ayaan Hirsi Ali yang mencampuradukkan budaya dan agama ;-)). Nah.. yang jadi pertanyaan: kok bisa hingga akhir milenium ke-2, hukum negara belum bisa diterapkan sepenuhnya?

Hal kedua yang menarik buat gw adalah bagaimana adat istiadat yang begitu besar pengaruhnya (note: sampai2 pemerintah negara pun tidak kuasa mengatasinya) ternyata diajarkan turun temurun dengan cara yang sederhana sekali. Seperti diceritakan oleh Mukhtar Mai, hanya dua pelajaran yang boleh diterima anak perempuan tradisional di Pakistan: ayat2 Al Quran, serta nasihat2 dari perempuan yang lebih tua. Bahkan, seringkali nasihat dari perempuan yang lebih tua itu tidak disampaikan secara langsung, melainkan dibuat sedemikian rupa supaya anak2 perempuan yang lebih kecil bisa mencuri dengar:

Kemudian, ibu-ibu akan mengomentarinya dengan suara-suara keras agar anak-anak perempuannya dapat mendengarnya.. Begitulah anak-anak perempuan yang belum menikah mempelajari apa yang mesti dan tidak boleh dilakukannya. Di samping shalat dan membaca al-Quran, hal seperti itu menjadi satu-satunya pendidikan yang kami peroleh.

(hal. 108)

Menarik ya, betapa pemerintahnya tidak bisa berbuat apa2 untuk mengatasi penyebaran yang sebenarnya sangat sederhana ini? Pakistan mungkin bukan negara kaya, namun juga bukan tergolong sangat miskin atau sangat terbelakang. Banyak perempuan Pakistan yang sudah sekolah tinggi. Mereka punya Perdana Menteri wanita bahkan sebelum Indonesia punya Mbak Mega ;-). Sebenarnya mereka sudah punya sumber daya untuk menanggulangi hal ini. Tapi yang begini masih menjadi sesuatu yang ordinary di sana, yang bahkan presidennya pun memilih untuk mendhem jero (= mengubur dalam2) dengan justifikasi bahwa kekerasan perempuan bukan problem eksklusif yang hanya terjadi di Pakistan?

Well.. walaupun kasus ini sarat muatan sosiologisnya, buat gw yang paling menarik tentunya adalah sosok Mukhtar Mai ini sendiri. Betapa luar biasanya dia; perempuan buta huruf, diperkosa secara brutal dan mendapat tekanan sosial bertubi2 (atas keputusan untuk tidak bunuh diri, malah melakukan gerakan militan), tapi mampu bangkit dan membuat perubahan nyata.

Memang, perubahan yang dibuatnya tidak besar. Hanya membuat sekolah untuk beberapa anak2 perempuan, yang kadang pun harus direlakannya tidak masuk lantaran harus bekerja di rumah. Memang, dia tidak membuat keadaan di Pakistan berubah; bahwa kini hukum negara benar2 dijalankan sampai ke pelosok dan menanggulangi hukum adat yang merendahkan wanita. Tapi.. sekecil apa pun perubahan yang dibuat oleh Mukhtar Mai, perubahan (kecil) itu nyata dan taktis. Kekejaman laki2 dan adat yang meletakkan perempuan pada posisi setara kambing adalah default yang tidak bisa diapa2kan lagi, paling tidak untuk saat ini. Tapi, kalau perempuan (tradisional) Pakistan lebih melek pengetahuan, mereka lebih punya kesempatan dan kemampuan melindungi dirinya sendiri.

Gw terkesan sekali pada kata2 di halaman terakhir buku ini:

Mendidik gadis-gadis kecil masih lebih mudah dibanding mendidik anak laki-laki yang dilahirkan ke dunia berisi orang-orang kejam dan mereka belajar dari tingkah laku orang-orang tersebut, sehingga mendidik mereka menghadirkan sebuah tantangan yang jauh lebih sulit. Keadilan yang telah diberikan kepada perempuan harus dijadikan pelajaran bagi mereka pada setiap generasinya, karena penderitaan dan air mata tidak mengajarkan apa pun kepada mereka.

(hal. 193 – 194)

Selain ketegarannya, kemampuannya membalikkan obstacle into opportunity, hal ini yang juga membuat gw salut pada Mukhtar Mai. Dia tidak into big things, tidak menuntut macam2, tidak menyalahkan semua2, tidak ingin mengubah dunia. Dengan segala kesederhanaannya, dia hanya mencoba membuat perubahan kecil dengan kedua tangannya. Melakukan apa yang dia bisa untuk mengubah lingkungan menjadi sedikit lebih baik.. dan semoga setiap anak yang diajarnya untuk berubah akan mengajarkan hal yang sama pada orang lain, sehingga di suatu waktu kelak benar2 membuat seluruh bangsa menjadi lebih baik.

Well.. nggak salah dia dipilih menjadi salah satu Asian Heroes oleh Majalah Time. Sikap dan perjuangannya benar2 menjadi inspirasi bagi para wanita, dimana pun mereka berada.

*eh.. masih jaman nggak ya, ngucapin: ”Selamat Hari Kartini!” ;-)? Udah lewat hampir 2 minggu nih ;-)*

--------------

UPDATE 3 Mei 2007:

Menanggapi kebingungannya ipra yg nggak nemu nama Mukhtar Mai di daftar 100, kayaknya ada yg mesti gw jelaskan tentang namanya. Nama asli tokoh ini adalah Mukhtaran Bibi. Mai artinya "kakak perempuan terkasih". Jadi.. kurang lebih, Mukhtar Mai berarti: Mbakyu Mukhtar(an Bibi) ;-) Thanks ya, Pra, mengingatkan secara tidak langsung bahwa apa yang gw anggap gak penting ternyata bisa membingungkan orang lain ;-)