Friday, December 30, 2016

Black Mirror

Sebelum 2016 berakhir, ada satu hal lagi yang ingin gw kenang dari tahun ini: "Black Mirror"

Seri TV dari Inggris ini pertama kali gw kenal saat membaca tulisan Ryan Aditya Achadiat yang dengan cerdas menyoroti tuntutan yang beredar di media untuk "membunuh" seorang pejabat. Menarik, karena menunjukkan bagaimana vox populi tidak selalu berarti vox Dei. Mengingatkan kita bahwa kadang populi adalah sekedar crowd. Bukan Dei. Sehingga mengikuti vox populi kadang hanya membuat kita euforia sesaat, untuk kemudian menyesalinya. Yaaah... persis dengan apa yang dirasakan rakyat Inggris dalam episode perdana "Black Mirror" ini. Mengutip kata Ryan Aditya Achadiat:

Semuanya tidak semenyenangkan seperti apa yang ada dipikiran mereka ketika hal ini benar-benar terjadi. Mereka baru menyadari kenapa mereka bisa bahagia saat reputasi dan harga diri seseorang dihancurkan di depan publik? 

Berbekal tulisan itu, plus fakta bahwa Netflix tersedia di rumah, gw pun menontonnya dengan khusyuk. Dan gw tidak menyesal! Seri TV ini benar2 menggambarkan "dark and satirical themes that examine modern society, particularly with regard to the unanticipated consequences of new technologies"

Konsekuensi gelap teknologi baru yang luput kita antisipasi. Itulah tema dasar dari hampir semua episodenya. Selain episode pertama yang bikin gw miris, karena turns out the Prime Minister Michael Callow fucked the pig for nothing, beberapa episode lain yang berkesan buat gw adalah episode kedua "Fifteen Millions Merits", episode ketiga "The Entire History of You" .... oh, shoot, I think I have to list down all the 13 episodes here!

Masing2 episode memiliki twistnya sendiri. Sebagian besar dari mereka menyayat hati. Tetapi temanya sama: pada satu titik, teknologi itu berbalik menghantam kita. Teknologi bagaikan api ... kecil jadi teman, besar jadi lawan. Dan ironisnya .... kita umumnya lupa dan tidak sadar kapan api itu menjadi besar. 

Ini yang membuat gw bergidik ... karena sangat mungkin terjadi in the near future. The TV series look so real!

Simak "Fifteen Million Merits" dimana manusia hidup hanya untuk mengayuh sepeda statis demi poin. Poin itu adalah mata uang untuk membeli sandang pangan dan virtual entertainment yang dinikmati sambil mengayuh sepeda. Jika kamu beruntung, poinmu cukup untuk membeli harapan: berupa tiket audisi reality show untuk menjadi bintang.

Tetapi ... benarkah ada harapan di situ? Tawaran yang didapat Abi lebih tepat dikatakan keluar kandang singa, masuk kandang buaya :-( Toh ... that's the best of the worst. Dan gw makin tercekat ketika Bing, yang ingin membalaskan dendam Abi, justru mendapatkan a different kind of the best of the worst. Yang juga terpaksa diterimanya. C'est la vie, mon ami! Life's a bitch!

Atau simaklah "White Bear". Bagaimana seorang accessory for murder dihukum dengan mengulang kengerian yang dirasakan korbannya berulang2. Setiap hari. Berbulan2. 

Buat gw yang Ratu Tega ini ... hukuman ini cocok sekali dengan my kinky imagination. Tetapi asli ... gw jadi bisa melihat ketidakmanusiawian yang selama ini gw abaikan. Melihat Victoria Skillane bangun setiap pagi, mengulang hidup sehari penuh kengerian, untuk kemudian di-reset ingatannya untuk besok paginya .... a bullet through the heart seems to be a better idea!

Simak juga "Men Against Fire" ... sebuah kisah sedih tentang bagaimana ilusi kebencian dapat menutup mata kita dari kebenaran. Kadang kita terjebak pada ilusi itu, hingga tak tahu bahwa yang tampak benar itu sebenarnya bukan kebenaran. 

Anyway .... I can't wait for the Season 4 to come! Sayang ... belum jelas kapan tanggal tayangnya. Sementara menunggu, gw mau mendengarkan lagu yang bolak-balik diputar di berbagai episodenya: 




Lagu yang aslinya dinyanyikan Irma Thomas ini sudah muncul 3x di "Black Mirror". Pertama, versi panjangnya muncul dinyanyikan Abi di audisi pada "Fifteen Millions Merits". Lagu ini muncul lagi di episode "White Christmas", dan kemudian "Men Against Fire". Sejauh ini sih belum ada klarifikasi kenapa lagu ini muncul bolak-balik. Mungkin karena produser cuma punya mampu beli hak tayang satu lagu, sehingga harus dimanfaatkan sebaik mungkin ya? HAHAHAHA .... Tapi gw gak akan heran jika ternyata lagu ini punya fungsi sebagai semacam benang merah.

Just wait and see ...

Wednesday, December 28, 2016

"Passengers": When Joko Tarub Meets the Sleeping Beauty

Hari ini impulsif nonton "Passengers" karena anak lanang nan Trekkie ini mengajak. Ibunya pun tak hendak menolak karena yang main Jennifer Lawrence ;-) Jadilah kami menonton berdua saja, karena si Kakak menolak ikutan. Not her favourite genre, and she was convinced it wasn't a good movie ;-)

Terus terang nggak berharap banyak juga sih dari film ini. Maklum ... setelah nonton "Gravity" dan seluruh franchise Star Trek maupun Star Wars, benchmark SciFi gw agak tinggi. LOL. Syukurlah filmnya ternyata tidak mengecewakan. On the contrary ... malah cukup berkesan. Bukan dari segi scifi-nya atau dari segi pengambilan gambarnya, tetapi dari beberapa sudut cerita yang mengingatkan pada film dan kisah memorable lainnya.

Kalau ditanya apa asosiasi bebas gw terhadap film ini, jawabannya ya seperti di judul itu: when Joko Tarub meets the Sleeping Beauty.  "Membangunkan si Putri Tidur tanpa ciuman sang pangeran, tetapi dengan menghilangkan kesempatan kembali ke kahyangan". Bukan cinta sejati, tetapi dengan mengakomodasi witing tresna jalaran saka kulina.

Tetapi bukan itu saja segi kisah yang berkesan. Selain kedua kisah yang sudah gw akrabi sejak bocah sampai punya 2 bocah yang sudah tertarik pada kisah yang lebih advanced, film ini juga mengingatkan gw pada "Cast Away" dan "Titanic", dua iconic movies yang "kena" banget di hati ;-)

-- Spoiler Alert! --

Seperti dapat dibaca di sinopsisnya, film ini bertutur tentang dua penumpang pesawat ke koloni baru yang jarak tempuhnya 120 tahun. Malangnya cryogenic James Preston mengalami malfungsi saat perjalanan baru 1/4 saja. Jadilah ia terbangun 90 tahun lebih cepat ... dan mati gaya karena hidup sendirian di pesawat besar ini. Temannya cuma satu: Android penjaga bar yang - meskipun bisa jadi teman bercakap - tetapi bukan manusia.

See where's the "Cast Away" reference come from? ;-) Wilsoooooonnnnn ....!

Ketika nyaris bunuh diri karena frustrasi sendirian di pesawat, dia melihat Neng Aurora Lane di salah satu cryogenic. Neng cantik yang berbagi nama dengan Putri Tidur ini ternyata penulis yang very lively, sehingga James pun jatuh hati kepadanya.

Mulailah muncul keinginan untuk "membangunkan" the sleeping beauty. Buat jadi teman.. secara masih 89 tahun lagi sampai di tujuan. Keinginan manusiawi ... tapi juga melanggar hak azasi! Karena membangunkan si Putri Tidur tidak akan memberinya happily ever after. On the contrary, it would doom her into serving a lifetime sentence without parole! Lha gimana gak hukuman seumur hidup ... wong gak mungkin keluar dari pesawat itu sampai 89 tahun lagi. Ngirim pesan ke bumi aja 19 tahun baru sampai ... dan jawabannya mesti nunggu 55 tahun.

Tetapi mungkin Mas James ini pernah dengar legenda Joko Tarub. Makanya setelah bolak-balik berpikir positif/negatifnya, dia mengambil jalan Mas Joko: nggak usah bilang kalau dia yang bikin gara2, setidaknya sampai si Neng jatuh cinta sama dia :D

So ... bak Joko Tarub yang menyembunyikan selendang Dewi Nawangwulan, kemudian play hero memberinya tempat tinggal, Joko Tarub versi Bule ini pun menyabotase cryogenic Neng Aurora. Then he plays hero sebagai satu2nya teman senasib sepenanggungan.

Dan untuk beberapa waktu hidupnya pun menyenangkan. Dapat teman cantik jelita yang akhirnya mau jadi pacarnya. Lebih untung lagi: Aurora ini penumpang gold class, jadi bisa beli makan enak2 dari vending machine. Berakhirlah derita James yang setahun ini makan makanan kelas 3 melulu.

See why does this movie remind me of "Titanic" now? ;-)

Tetapi ... seperti yang Dewi Nawangwulan yang akhirnya tahu suaminya menyembunyikan selendangnya, Aurora pun akhirnya tahu bahwa James yang menyabotase cryogenicnya. Marahlah dia.

Sampai di sini muncul plot twist yang akhirnya membuat nasib James tak seburuk Joko Tarub. Rada2 mirip sama "Titanic" juga ... termasuk muncul kata2, "You die, I die!" yang sebelas dua belas dengan "You jump, I jump"

Khas Hollywood ya ... predictable banget. Tapi tetap tidak mengurangi kesan film ini.

-- Spoiler Ends --

Di akhir film, gw masih merenungkan apa yang membuat film ini berkesan and exceeds my expectation. Tadinya gw berpikir karena kisahnya mirip dengan kisah2 yang gw kenal serta beberapa film yang berkesan saja. Tapi kebetulan malam ini gw nonton "Enchanted", yang formulanya mirip namun tidak terlalu berkesan buat gw. It makes me rethink what is interesting in "Passengers".

Dan kemudian gw sampai pada kesimpulan: yang membuatnya menarik adalah the dawn of awareness of a specific emotional conflict. Berpuluh tahun gw menerima legenda Joko Tarub as is, tanpa menyadari bahwa keputusan Joko Tarub untuk mencuri selendang Dewi Nawangwulan itu mungkin menimbulkan konflik internal baginya. Bahwa keputusan itu bukan semudah ambil-sembunyikan-kawini :-)

Singkatnya gw baru menyadari bahwa hidup Joko Tarub mungkin bukan all unicorn and rainbow mentang2 dapat istri bidadari. Sebaliknya, hidupnya mungkin penuh konflik emosional ... approach-avoidance conflict antara mencuri selendang dan mendapatkan kasih sang Dewi, approach-approach conflict antara ingin jujur dengan ingin melindungi sang terkasih dari luka hati, dan avoidance-avoidance conflict antara terus berbohong dan kehilangan pujaan hati ...

Friday, December 09, 2016

A Good Year: From all the things I did wrong ....

Hampir 2 tahun blog ini mati suri. Bukan berarti gw berhenti menulis; gw hanya lebih banyak berbagi di Facebook. Membuat siletan2 kecil melalui update status yang sifatnya lebih spontan tanpa harus meluangkan banyak waktu untuk menyusun kata seperti blog. Lagipula 2 tahun ini gw lebih banyak mengomentari situasi politik yang melelahkan ini ... jadi rasanya berbagi di Facebook yang restricted lebih nyaman (karena dibaca orang terbatas) dan lebih aman (resiko ada orang yang gagal paham lebih kecil ;-))

Tetapi bukan berarti hidup gw nyaris 2 tahun ini hampa. Sebaliknya ... this is a good year for me! Begitu banyak berkah yang gw dapatkah di tahun ini ... termasuk berbagai mimpi yang akhirnya gw dapatkan.

Dan berkah yang banyak itulah yang ingin gw abadikan dalam tulisan di penghujung tahun 2016 ini ... :-)

The First Blessing: Pride & Joy

Masih ingat bahwa cita2 masa kecil gw adalah jadi penulis? Sampai sekarang cita-cita itu belum terlaksana. Paling jauh gw baru mampu jadi blogger.... hehehe.... Tetapi, siapa nyana bahwa anak gadis gw Naima mewujudkan mimpi terpendam itu tahun ini? Bukan hanya sekali, tetapi 2x tulisannya diterbitkan!


"This Is not a Love Story" - Swastinika N. Moertadho
Terbitan pertama adalah cerpen berbahasa Inggris berjudul "This Is Not a Love Story", bersama tulisan teman-teman sekolahnya dalam buku kumpulan cerpen berbahasa Inggris "Effervescent Adolescence". Di situ dia tidak hanya menjadi penulis, tetapi juga menjadi editor :-)

Ceritanya gloomy tapi mendalam, seperti karya penulis2 Rusia semacam Fyodor Dostoyevsky yang gw kagumi semasa muda. Gw yakin gaya penulisannya yang "tidak biasa" ini yang membuat Ima diundang menulis di buku kedua, sebuah buku kumpulan cerpen berbahasa Inggris yang rencananya akan diikutsertakan di Frankfurt Book Fair 2017. Sebenarnya buku ini rencananya ikut dalam Frankfurt Book Fair 2016, tetapi karena terlambat cetak dan tidak sempat publikasi, akhirnya diundur menjadi tahun depan. Doakan saja yaaaa .... anak gw bisa jadi penulis terkenal :-)

Sebagai teaser, silakan dibaca halaman pertama tulisannya yang kedua itu. Judulnya "The Art of Learning to Love", dalam buku "The Melancholic Lullaby". Isinya masih mengingatkan pada keresahan yang philosophically gloomy ala Leo Tolstoy, meski judulnya seperti salah satu buku Erich Fromm :-)

Excerpt from "The Art of Learning to Love" - by Swastinika N. Moertadho

... dan ini sang penulis dengan proofread-nya .... :-)

Pengejawantahan (tsah!) cita2 terpendam gw bukanlah satu2nya kebanggaan yang dipersembahkan Ima, karena pada Mei 2016 ia berhasil diterima sebagai mahasiswa Ilmu Komputer, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Indonesia melalui jalur SNMPTN.


Kalau menjadi penulis adalah cita2 ibunya sejak kecil, maka belajar ilmu komputer secara formal adalah cita2nya bapaknya :-)

Naima & temannya. They are the Yellow Jacket now!
Ngomong2 soal masuk Fasilkom UI ini sempat bikin kami ketar-ketir :-) Pasalnya, waktu daftar SNMPTN lalu, gw dan bapaknya menyarankan Ima memilih 2 bidang dari fakultas yang berbeda; Ilmu Komputer dan Psikologi. Pertimbangannya logis: jurusan Ilmu Komputer UI itu standardnya tinggi banget! Salah satu jurusan tersulit dimasuki di UI. Meski kami tahu anak kami ini insyaAllah pintar, tetapi jiper juga kalau cuma punya satu pilihan. Apalagi ini jurusan yang didominasi laki-laki... jadi kami agak cemas kans Ima kecil sekali. Bapaknya pun masih terbayang kegagalan masuk fakultas impiannya ini dulu. Naah... kalau di Psikologi insyaAllah kansnya lebih besar. Sebagai sesama lulusan Psikologi UI, kami percaya kemampuan Ima cukup untuk masuk ke almamater kami.

Sayangnya ... kami baru tahu bahwa Ima menghapus Psikologi UI sebagai pilihan kedua 2 hari sebelum pengumuman SNMPTN. Dia merasa Ilmu Komputer adalah panggilan jiwanya, jadi dia hanya mau ambil pilihan itu. Garuk2 aspallah bapak dan ibunya! Kalau nggak keterima gimanaaaa????

Makanya ... saat Ima mengirimkan pengumuman lulus masuk Ilkom, gw langsung teriak dan sujud syukur :-) Alhamdulillaaaah.... sungguh besar rahmat Allah SWT kepada kami :-) From all the things I did wrong, I must've done one thing good to deserve this pride and joy!

Anyway .... ada 2 berkah lagi yang ingin gw abadikan di blog ini. Tetapi kita simpan untuk lain hari ya :-)