Wednesday, December 28, 2016

"Passengers": When Joko Tarub Meets the Sleeping Beauty

Hari ini impulsif nonton "Passengers" karena anak lanang nan Trekkie ini mengajak. Ibunya pun tak hendak menolak karena yang main Jennifer Lawrence ;-) Jadilah kami menonton berdua saja, karena si Kakak menolak ikutan. Not her favourite genre, and she was convinced it wasn't a good movie ;-)

Terus terang nggak berharap banyak juga sih dari film ini. Maklum ... setelah nonton "Gravity" dan seluruh franchise Star Trek maupun Star Wars, benchmark SciFi gw agak tinggi. LOL. Syukurlah filmnya ternyata tidak mengecewakan. On the contrary ... malah cukup berkesan. Bukan dari segi scifi-nya atau dari segi pengambilan gambarnya, tetapi dari beberapa sudut cerita yang mengingatkan pada film dan kisah memorable lainnya.

Kalau ditanya apa asosiasi bebas gw terhadap film ini, jawabannya ya seperti di judul itu: when Joko Tarub meets the Sleeping Beauty.  "Membangunkan si Putri Tidur tanpa ciuman sang pangeran, tetapi dengan menghilangkan kesempatan kembali ke kahyangan". Bukan cinta sejati, tetapi dengan mengakomodasi witing tresna jalaran saka kulina.

Tetapi bukan itu saja segi kisah yang berkesan. Selain kedua kisah yang sudah gw akrabi sejak bocah sampai punya 2 bocah yang sudah tertarik pada kisah yang lebih advanced, film ini juga mengingatkan gw pada "Cast Away" dan "Titanic", dua iconic movies yang "kena" banget di hati ;-)

-- Spoiler Alert! --

Seperti dapat dibaca di sinopsisnya, film ini bertutur tentang dua penumpang pesawat ke koloni baru yang jarak tempuhnya 120 tahun. Malangnya cryogenic James Preston mengalami malfungsi saat perjalanan baru 1/4 saja. Jadilah ia terbangun 90 tahun lebih cepat ... dan mati gaya karena hidup sendirian di pesawat besar ini. Temannya cuma satu: Android penjaga bar yang - meskipun bisa jadi teman bercakap - tetapi bukan manusia.

See where's the "Cast Away" reference come from? ;-) Wilsoooooonnnnn ....!

Ketika nyaris bunuh diri karena frustrasi sendirian di pesawat, dia melihat Neng Aurora Lane di salah satu cryogenic. Neng cantik yang berbagi nama dengan Putri Tidur ini ternyata penulis yang very lively, sehingga James pun jatuh hati kepadanya.

Mulailah muncul keinginan untuk "membangunkan" the sleeping beauty. Buat jadi teman.. secara masih 89 tahun lagi sampai di tujuan. Keinginan manusiawi ... tapi juga melanggar hak azasi! Karena membangunkan si Putri Tidur tidak akan memberinya happily ever after. On the contrary, it would doom her into serving a lifetime sentence without parole! Lha gimana gak hukuman seumur hidup ... wong gak mungkin keluar dari pesawat itu sampai 89 tahun lagi. Ngirim pesan ke bumi aja 19 tahun baru sampai ... dan jawabannya mesti nunggu 55 tahun.

Tetapi mungkin Mas James ini pernah dengar legenda Joko Tarub. Makanya setelah bolak-balik berpikir positif/negatifnya, dia mengambil jalan Mas Joko: nggak usah bilang kalau dia yang bikin gara2, setidaknya sampai si Neng jatuh cinta sama dia :D

So ... bak Joko Tarub yang menyembunyikan selendang Dewi Nawangwulan, kemudian play hero memberinya tempat tinggal, Joko Tarub versi Bule ini pun menyabotase cryogenic Neng Aurora. Then he plays hero sebagai satu2nya teman senasib sepenanggungan.

Dan untuk beberapa waktu hidupnya pun menyenangkan. Dapat teman cantik jelita yang akhirnya mau jadi pacarnya. Lebih untung lagi: Aurora ini penumpang gold class, jadi bisa beli makan enak2 dari vending machine. Berakhirlah derita James yang setahun ini makan makanan kelas 3 melulu.

See why does this movie remind me of "Titanic" now? ;-)

Tetapi ... seperti yang Dewi Nawangwulan yang akhirnya tahu suaminya menyembunyikan selendangnya, Aurora pun akhirnya tahu bahwa James yang menyabotase cryogenicnya. Marahlah dia.

Sampai di sini muncul plot twist yang akhirnya membuat nasib James tak seburuk Joko Tarub. Rada2 mirip sama "Titanic" juga ... termasuk muncul kata2, "You die, I die!" yang sebelas dua belas dengan "You jump, I jump"

Khas Hollywood ya ... predictable banget. Tapi tetap tidak mengurangi kesan film ini.

-- Spoiler Ends --

Di akhir film, gw masih merenungkan apa yang membuat film ini berkesan and exceeds my expectation. Tadinya gw berpikir karena kisahnya mirip dengan kisah2 yang gw kenal serta beberapa film yang berkesan saja. Tapi kebetulan malam ini gw nonton "Enchanted", yang formulanya mirip namun tidak terlalu berkesan buat gw. It makes me rethink what is interesting in "Passengers".

Dan kemudian gw sampai pada kesimpulan: yang membuatnya menarik adalah the dawn of awareness of a specific emotional conflict. Berpuluh tahun gw menerima legenda Joko Tarub as is, tanpa menyadari bahwa keputusan Joko Tarub untuk mencuri selendang Dewi Nawangwulan itu mungkin menimbulkan konflik internal baginya. Bahwa keputusan itu bukan semudah ambil-sembunyikan-kawini :-)

Singkatnya gw baru menyadari bahwa hidup Joko Tarub mungkin bukan all unicorn and rainbow mentang2 dapat istri bidadari. Sebaliknya, hidupnya mungkin penuh konflik emosional ... approach-avoidance conflict antara mencuri selendang dan mendapatkan kasih sang Dewi, approach-approach conflict antara ingin jujur dengan ingin melindungi sang terkasih dari luka hati, dan avoidance-avoidance conflict antara terus berbohong dan kehilangan pujaan hati ...