Thursday, February 26, 2015

"Jamie is sure something wonderful died... and I'm still hurting"

Ketika setuju menemani Ima menonton The Last 5 Years, gw menganggapnya sebagai sekedar motherly duty. Meski si gadis mengatakan, "You're gonna like it, Mum, this is a MUSICAL", tapi... well... gw menata harapan dengan mengingat bahwa tidak semua musical adalah sekelas Les Misérables. Atau Rent. Atau The Phantom of the Opera.  After all, there was High School Musical ;-)

Lagu pertama yang dibawakan Anna Kendrick cukup mengusik gw. Lagu sendu patah hati ini tidak 'seringan', apalagi seceria, HSM. Puitis dan manis, meski menyayat hati. Padahal Anna Kendrick tidak membawakannya sebaik Lea Salonga di klip berikut ini:


Lagu kedua membuat gw agak ilfeel. Entah mengapa gw merasa agak terganggu dengan penampilan Jeremy Jordan. Oh, he's a good-looking fellow, indeed... but... kesan pertamanya kurang nendang! Dia tampil seperti bocah yang jatuh cinta dan mengambil keputusan terburu2. Definitely not my type of man... dan gw mulai tambah yakin bahwa ini cerita cinta monyet dua bocah kecil yang berakhir buruk.

Namun antena gw mulai tegak ketika di lagu ketiga gw menyadari gaya bertutur yang tak biasa di film ini. Gaya bertutur back-and-forth. Bukan sekedar kilas balik, tetapi bolak-balik. Baiklaaah... gw pasang mata untuk film ini.

... dan itu merupakan keputusan yang tepat, karena isi film ini ternyata sangat pantas direnungkan.

[SPOILER ALERT. Stop if you don't want to know]

Film ini menggunakan dua sudut pandang yang disajikan dalam urutan terbalik. Sudut pandang Cathy - sang istri - disajikan dengan urutan descending (akhir ke awal), sementara sudut pandang Jamie  - sang suami - disajikan dengan urutan ascending (awal ke akhir).

Itu sebabnya di awal kita mulai dengan patah hatinya Cathy karena Jamie pergi meninggalkannya. Itu sebabnya Cathy tampak begitu dewasa, dan sangat mudah bagi penonton (ehmmm... atau mungkin gw aja ya?) untuk men-judge Jamie sebagai pria brengsek kekanak-kanakan yang tidak cukup dewasa untuk setia pada komitmen. But in my defense, how could I ignore the statement like the following:

"Jamie arrived at the end of the line
Jamie's convinced that the problems are mine
Jamie is probably feeling just fine
And I'm still hurting

What about lies, Jamie?
What about things
That you swore to be true
What about you, Jamie
What about you"


Apalagi lagu ini disambung dengan penampilan pertama Jamie yang bak bocah yang pipis aja belum lurus tapi sudah sok tahu tentang cinta ;-)

Seiring berjalannya kisah, terlihatlah bagaimana Cathy bukan hanya korban. Dalam kisah yang dibalik, kita dapat melihat bahwa bagaimana seorang gadis penuh keyakinan bahwa "I Can Do Better than This" pelan-pelan menjadi frustrasi dan kehilangan mimpi - terpinggirkan oleh jalan hidup sang suami yang bertolak belakang.

Dan Jamie... bocah ini bukan saja berkembang menjadi penulis laris, melainkan juga menjadi pria dewasa yang sangat mencintai istrinya. Pria sukses yang tentu saja mendapatkan banyak godaan.

Begitu cintanya ia pada istrinya hingga akhirnya dia harus meninggalkan sang istri karena "kehabisan tali" untuk "menyelamatkan" sang istri dari "kepahitan"nya. Dan pahit, I must tell you, adalah sesuatu yang menular. Perlahan tapi pasti kepahitan sang istri meresap kepadanya dan melilitnya bak tali.

"We build a treehouse
I keep it from shaking
Little more glue every time that it breaks
Perfectly balanced
And then I start making
Conscious, deliberate mistakes

I grip and she grips
And faster we're sliding
Sliding and spilling
And what can I do?"


Jika lagu pembuka Cathy menyayat hati gw, maka lagu penutup Jamie melumatkan apa yang sudah tersayat-sayat itu:

"It's not about another shrink
It's not about another compromise
I'm not the only one who's hurting here
I don't know what the hell is left to do
You never saw how far the crack had opened
You never knew I had run out of rope and

I could never rescue you

No matter how I tried
All I could do was love you
God, I loved you so
So we could fight
Or we could wait
Or I could go..."


[SPOILER ENDS]

Mari kita bicara tentang tali. Tali yang membelit Jamie. Dari mana tali itu? Tali itu terbentuk karena Jamie sangat ingin mempertahankan treehouse-nya. Keep it from shaking by adding glue here and there every time it breaks. Maybe no one tells him that 'too much glue will kill you'... and it did! He started making mistakes.

But why does the treehouse keep shaking? Rentankah "rumah pohon" itu? Jika ditilik dari betapa bersemangat dan percaya dirinya Cathy di awal 5 tahun lalu, "rumah pohon" itu tidak lemah. Namun ia dilemahkan oleh rasa tak berdaya melihat bahwa life is not all unicorns and rainbows. Karena tidak siap bahwa it's not happily ever after.

...Or rather: because they do not realise that the description of 'happily ever after' constantly changes. It should be adjusted and revised every step of their life.

Mereka terlalu sibuk mengejar definisi mereka tentang "happiness". Sadly, it's a race they'll never win. And it costs them their relationship.

***
Saat film ini dimulai hanya ada 18 orang di dalam bioskop. Mungkin itu sebabnya BlitzMegaplex tidak segera memutar filmnya meski sudah 10 menit berlalu dari jadwal ;-). Dalam 15 menit pertama setelah film dimulai 3 pasang penonton bergabung. Namun.... belum lagi film diputar selama 45 menit, setidaknya 8 orang sudah hengkang.

I guess musical is never everyday dish for Indonesians ;-) Or perhaps the story is too heavy to digest ;-)

Sayang sekali. Padahal film yang diadaptasi dari kisah nyata sang komposernya, Jason Robert Brown, memberikan bahan renungan mengenai hakikat sebuah hubungan. Anyway.... filmnya terakhir tayang hari ini di bioskop, tapi sample lagu-lagunya bisa disimak di sini.

Thursday, February 12, 2015

Salam Manis buat Jeng Nanik

Prolog - 12 Februari 2015, sekitar pukul 5:45 pagi
Pagi ini saya mendapatkan bahwa saya diblokir... dan itulah awal mula posting ini :-)



***
Sesungguhnya saya tidak terhubung dengan Nanik Sudaryati, a.k.a Nanik S Deyang, ini di Facebook. Saya termasuk orang yang selektif dalam menerima Friend Request; hanya orang-orang yang sudah saya kenal di dunia nyata, atau yang sudah lolos skrining di dunia maya saja, yang saya terima. Apalagi beberapa bulan terakhir ini saya makin selektif dengan meng-Unfollow mereka yang gemar memposting / gemar me-Like posting yang sifatnya [maaf] "masturbasi pikiran" belaka.

Tetapi... tetap saja 1 - 2 posting macam ini lolos dari ayakan dan masuk ke Newsfeed saya. Biasanya karena banyak teman yang me-Like atau berkomentar di posting tersebut. Seperti posting berikut ini.



Posting ini merupakan komentar Jeng Nanik terhadap artikel di FastNewsIndonesia ini. Jujur, saya merasa ada yang aneh dengan artikel ini sejak paragraf pertama:

Sewaktu menjadi Gubernur DKI Jakarta, Jokowi sangat agresif mengambil utang luar negeri. Katanya untuk memenuhi ambisinya mengatasi banjir. Di hadapan publik, Gubernur Jokowi mengatakan anti utang dari Bank Dunia. Namun faktanya utang terus ditimbun.

Eh? Sempat gitu, mereka menimbun hutang? Beneran gitu, JUFMP dan JEDI itu gara2 JokAhok? Sampai mereka harus minta maaf ke publik malam ini juga karena Jakarta masih banjir?

Dan karena saya selalu berusaha melihat dari berbagai sisi, tentu saja saya mencari data pendukung. Perkiraan saya benar Jakarta Urgent Flood Mitigation Project (JUFMP) itu disepakati 17 Januari 2012, hampir 9 bulan sebelum JokAhok memimpin Jakarta. Kecuali Jokowi punya mesin waktu, JUFMP ini bukan "timbunan" dari duet JokAhok. Mereka cuma dapat "warisan" :-)

Demikian pula dengan Project JEDI. Meskipun pengerjaan pertama dimulai November 2013, tetapi proyek ini sejatinya merupakan lanjutan / kesinambungan dari "...collaboration carried out carried out a detailed and accurate land subsidence analysis in 2011 which is contributing to this assessment.". Dengan demikian kasusnya sama: ini bukanlah "timbunan" hutang JokAhok, mereka hanya "mewarisi" dari pemerintah DKI Jakarta sebelumnya.

Tentu saja saya lebih percaya pada data dari World Bank, yang jelas mencantumkan siapa saja penanggung jawabnya. Sementara FastNewsIndonesia, alih-alih mencantumkan data itu, malah mencantumkan disclaimer yang mengatakan bahwa " ... Segala isi baik berupa teks, gambar, suara dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggung jawab Fastnewsindonesia" :-) Dan itulah yang gw sampaikan pada ketiga teman yang gw colek, melalui komentar berikut:





Komentar inilah yang ditanggapi Jeng Nanik dengan posting PANJAAAAANG dan BANYAAAAK, yang membuat saya terkekeh-kekeh geli karena (mengacu pada pengantar artikel yang beliau tuliskan sendiri), beliau sudah, "... kehabisan kata-kata" :-) Duh, kalau kehabisan kata-kata saja bisa sepanjang ini menulisnya, apalagi kalau masih full energy ya? LOL.








Sesungguhnya saya ingin menanggapi komentar panjang itu. Namun saya, saya terlanjur diblokir, sehingga tidak bisa lagi mengaksesnya. Jadi terpaksa saya tuliskan di sini saja ya :-)

Jeng Nanik mengatakan bahwa:
"... Nah kalau memang mau menyetop utang atau nggak jadi ngutang, tinggal dibatalkan saja kok, anehnya malah baik Gubernur dan wakilnya penerus Foke malah marah-marah waktu Bank Dunia nggak nurun-nurunin Dana..."

Hmmm.... saya kurang paham Jeng Nanik ini hidup di realitas yang mana :-) Sepengetahuan saya hutang-piutang seperti ini ada kontraknya. Menurut etika bisnis, sekali kontrak sudah disepakati maka kedua belah pihak harus menepati. Tidak bisa dibatalkan kecuali ada yang melakukan wanprestrasi. Berikut saya kutipkan beberapa referensi mengenai itu:

"Terminating a contract is rarely a pleasant responsibility because you are saying that something you agreed and planned to do or have someone else do is not going to happen. Often, your business or the person or business you contracted with may lose expected income or money and time already invested into the contracted project" - dari sini 

Sebelum memutuskan kontrak, kita disarankan untuk mengkaji ulang caveat apa saja yan ada dalam kontrak itu, karena pihak yang dibatalkan berhak untuk mengurangi kerugian. Misalnya dengan menerapkan cancellation fee.

"Before you cancel a service agreement, review your contract. Determine whether the contract has an end date and if you are obligated to pay any fees to cancel early. In many cases, a service provider cannot enforce performance of a contract, but he can sue to recover damage " - dari sini

Jadi... "tinggal dibatalkan saja" dari mana? :D :D  Memangnya ini semacam pesan ikan asin dari tukang sayur yang lewat depan rumah? :D :D :D

Menjadi sangat wajar jika "gubernur dan wakilnya penerus Foke" lantas meneruskan perjanjian yang sudah terlanjur disepakati. Lha nanti kalau mereka bayar penalti karena membatalkan hutang, dikatakan merugikan masyarakat? Dibilang pembohong lagi? Dibilang foya-foya? :-)

Menjadi sangat wajar juga jika mereka (atau salah satu dari mereka) marah-marah ketika Bank Dunia tidak kunjung menurunkan dana. Jangan lupa... sifat kontrak adalah kedua belah pihak harus menepati janji. Jika janji pemerintah DKI untuk melengkapi masalah administrasi sudah dipenuhi, maka kewajiban Bank Dunia untuk menepati janji mengucurkan dana, kan? Dana itu sudah jadi hak pemerintah DKI. Nanti kalau mereka tidak marah-marah pada Bank Dunia dikatakan mereka tidak memperjuangkan hak rakyat? Rempong deh ih! :-)

Demikianlah komentar yang sesungguhnya ingin saya sampaikan dalam kolom komentarnya. Sayang saya terlanjur diblokir. Padahal saya senang lhoooo.... berdiskusi panjang lebar ;-)

Tanggapan Jeng Nanik sisanya tidak saya tanggapi. Termasuk ulahnya "mencuri" cover picture saya dan menayangkannya di FB. Monggo-monggo saja jika itu membuatmu bahagia, Jeng :D

Saya titip "salam manis" saja untuk Jeng Nanik, Diimbuhi dengan pesan: "Woles keleuuuusss... " :-)