Sunday, August 28, 2005

Surabaya, setelah 7 tahun

Setelah bertahun2 perjalanan dinas gw lebih banyak berkisar antara Riau, Sum-Bar, Ja-Bar, Ja-Teng/Yogya, akhirnya gw dapat juga tugas ke Surabaya!  Perjalanan dinas terakhir gw ke Kota Pahlawan itu di tahun 1998[1], pas dua hari sebelum final World Cup antara Prancis vs. Brazil. Dan ternyata, bukan saja kota itu sudah berubah, tapi paradigma gw memandang dan mengingat kota itu juga sudah harus berubah.

HOTEL MIRAMA

Tahun 1998, gw bisa sombong sama teman2 sekantor gw krn bisa nginep di Hotel Mirama, salah satu hotel bagus dan lumayan mahal di sana. Accomodation allowance gw sbg Junior Research Executive sebenernya nggak cukup buat bayar kamarnya, tapi karena waktu itu gw bareng klien dari Inggris (yg maunya nginep se-hotel sama gw biar gampang koordinasi), boss gw akhirnya memutuskan gw boleh dapat sedikit kemewahan dengan biaya kantor.

Tahun 2005 ini, Hotel Mirama bahkan sudah bangkrut. Kemarin pas gw lewat di sana, bekas bangunan hotel sudah ditutupi seng dan siap untuk dibangun ulang, entah untuk apa. Kata teman gw, dan supir taksi yang gw tumpangi, Hotel Mirama sempat berubah dulu menjadi gereja sekitar tahun 2002 - 2003, sebelum muncul rencana untuk menghancurkannya beberapa bulan lalu.

GARDEN PALACE HOTEL

Sekitar tahun 1997 – 1998, Hotel Garden Palace masih salah satu aspired hotel buat kami para Junior RE. Gw inget, gw dan Yayuk (teman senasib sepenanggungan gw di Qualitative Team) selalu berusaha menyama2kan jadwal project di Surabaya dan Bandung. Tujuannya hanya satu: kalau kita berdua punya jadwal yg sama, accomodation allowance-nya bisa digabung untuk nginep sekamar berdua di Garden Palace Hotel (atau kalo di Bandung di Hotel Sukajadi).

Tahun 2005 ini, kantor memesankan kamar yg bagus untuk gw di salah satu hotel yg terbaik di Surabaya. Namun untuk pelaksanaan Group Discussion-nya kita sewa Suite Room di Garden Palace. Dan, betapa sedihnya gw lihat keadaan my former aspired hotel ini: suram, kamarnya mulai agak bau dan gloomy, lift-nya sering macet. Beda banget sama modern-but-cozy hotel yg gw tinggali di Surabaya, walaupun katanya level bintangnya sama.

SEORANG TEMAN

Paradigma gw yg lain yg juga harus berubah adalah menyangkut seorang teman, sahabat pena gw sejak tahun kuda masih nggigit jarinya sendiri[2].  Tahun 1998, dia menjemput gw di Hotel Mirama untuk menemani gw jalan2 dan nengok sepupu gw di daerah Wiyung. Gw masih ingat, dia nunggu gw di lobby sambil cengengesan khas anak muda. Kalimat pertama yg diucapkannya adalah, “Maaf aku gak datang ke kawinanmu ya! Maklum mahasiswa, masih miskin, nggak punya duit buat ongkos ke Jakarta!”[3] Dia menemani gw jalan2 ke Wiyung naik taksi karena dua alasan, “Aku punyanya motor, kasihan kalo kamu naik motor malam2 begini,” serta, “Aku nggak tahu Wiyung itu sebelah mana, jadi mendingan naik taksi biar jelas”

Tahun 2005 ini dia sudah jadi orang sukses. Jadi ayah seorang anak yg lucu, serta Rektor sebuah lembaga pendidikan swasta (hi Daddy-nya Niko, I know you read this.. ;). Sengaja gak sebut namamu, ntar bisa nggak berwibawa di hadapan mahasiswamu kalo mereka tahu kamu masih main sama orang celelekan kayak aku.. ;)). Waktu menyalami aku di lobby hotel Garden Palace, gayanya jelas formal dan nggak cengengesan lagi. Motornya juga udah berubah jadi mobil, dan sekarang, “Aku tinggalnya dekat sama sepupumu lho, di dekat Wiyung”.

Ah, we can never resist the change. And when the time has come for a change, all we can do is just accept and adapt to it; putting behind all the good old days on the corner of our mind, ready to retrieve only when we need the charm of the remains of the day.



[1] Tahun 1999, pas bapak dirawat di RS Darmo, gw sempat pp Jakarta-Surabaya tiap 2 minggu sekali. Tapi krn waktu gw habis di RS Darmo saja, nggak bisa gw anggap benar2 perjalanan.. ;)

[2] Tahu idiom jaman kuda gigit besi kan? Nah, ini adalah jaman sebelum kuda mampu beli besi untuk digigit2, sehingga harus puas menggigit jarinya sendiri *gak penting dot com*

[3] Waktu itu gw baru aja menikah 3 bulan sebelumnya

Saturday, August 20, 2005

Orang yg Paling Sulit Dihadapi

“What monkeys they are”, said a florid orthopedist to a fellow Brit.
“They are the most presumptuous imitators. They observe us for all of five minutes, then they think they can do it, too.”
(J. Irving, A Son of the Circus, p. 77)

Gw pertama inget kutipan itu beberapa minggu lalu. Predisposisinya adalah baru aja ketemu klien yang acts-like-she-knows-it-all-although-it-is-clear-that-she-does-not. Triggernya adalah sebuah pertanyaan di bul-bo Friendster: orang seperti apa yang paling bikin loe ogah ketemu? Kombinasi antara predisposisi dan trigger ini menyebabkan gw menjawab: orang pintar dengan pemahaman yang tidak memadai, karena dengan pengetahuannya yg sedikit dia merasa sudah mampu meraba the rest of the story. Otomatis, gw jadi ingat cerita tentang monyet ini: monyet kan binatang pintar, mereka cepat meniru apa yg dilakukan manusia (sebuah eksperimen psikologis yg dikenal sebagai Aha Experience adalah buktinya). Tapi, harus diakui bahwa sepintar2nya monyet, dia tetap saja hanya meniru. Dia nggak selalu ngerti konteks dan landasannya dengan benar. Dia hanya merasa benar.

Klien gw itu contohnya. Dia berasal dari sebuah perusahaan yg awalnya merupakan perusahaan keluarga, tapi kini berkembang pesat. The type of client who is not familiar with marketing research, let alone QUALITATIVE research. Masalahnya, dia itu cerdas, dan pernah nonton FGD (Focus Group Discussion) ecek2 yg dilakukan oleh Ad Agency-nya. Nah, bisa dibayangkan problemnya kan? Dia merasa tahu bagaimana caranya sebuah FGD harus dilakukan, tanpa sadar bahwa dia bahkan tidak tahu konteks dan landasan metodologinya dgn benar. Akibatnya, sepanjang project terjadilah permintaan2 aneh: dari yg minta moderatornya untuk menanyakan jawaban pada semua responden satu per satu (padahal justru ini adalah hal tabu di FGD, krn yg kita cari di sini adalah pattern yg terbentuk dari interaksi, bukan jawaban per se), terus ngajarin moderatornya untuk nanya langsung respondennya mau beli atau tidak (padahal ini juga hal tabu, krn purchase intention itu adalah hasil analisa keseluruhan. Kalau orang Indonesia sih ditanya mau beli atau enggak, pasti jawabnya mau, karena mereka sopan. Padahal kita harus lihat juga gesture, ekspresi, dan intonasinya), sampai terakhir beliau protes karena grupnya terlalu ramai.

“Aduh, kalau semua respondennya ngomong bersahut2an gini, kita nggak bisa dengar, nggak bisa catat! Percuma dong kita bayar mahal2, kita jadinya nggak dapat apa2”

Gw aja langsung melongo dan mati ucap, sebab justru grup yang beliau proteskan itu adalah grup yang dinamikanya mendekati sempurna! Dengan pendapat pro-kontra yang bersahutan, data yang didapat oleh analisnya sangat kaya! Klien2 lain (MNC yang sudah research-minded) bakal memuji setinggi langit kalau kita bisa bikin grup seperti ini, dan moderatornya bisa dapat imbas nama baik sebagai top moderator. Lha, ini kok malah protes?

Gw juga punya teman yang rada mirip sama klien gw itu. Dia seorang pria yang pinter banget, system analyst yang top. Suatu hari cerita kami menyinggung topik MBTI (Myers Briggs Type Indicator). Dia tertarik pada MBTI, dan karena tidak bertentangan dgn kode etik psikolog, dengan senang hati gw kasih link ke beberapa situs online tentang MBTI.

Ternyata gw melakukan hal yang salah! Dengan modal beberapa situs online itu, teman gw yang pintar ini merasa dia paham betul tentang MBTI. Dia mulai mem-profile semua orang di milis suatu reality show (tempat kami tergabung sebagai member). Tentu saja dia melakukannya dengan pendekatan yang sangat tidak psikologis, sehingga profile yang dibuat juga seenak udelnya sendiri. Gw coba mengingatkan bahwa pendekatannya kurang tepat; gw coba perkenalkan dia dengan teori Jung yg mendasari MBTI karena  dia harus memahami filosofinya dulu, bukan hanya mencocokkan item per item dari situs online ke perilaku orang yg dia lihat. Tapi dia malah menganggap gw sekedar punya kesombongan intelektual, nggak mau kesaingan sama dia,  dan mengatakan bahwa pendekatannya sudah benar karena MBTI hanyalah sebuah togel. Menurut si ahli komputer ini manusia itu sama saja dengan komputer jadi nggak perlu pendekatan beda.

Kepalang tanggung, due to my moral obligation towards my profession, udah sekitar 5 bulan ini gw terlibat polemik harian dengan teman gw itu untuk mengoreksi pendapatnya. Well, gw yang berdosa memperkenalkan MBTI kepadanya, jadi gw mesti tanggung jawab juga untuk tidak menggunakan hal ini diputarbalikkan seenaknya. What a dear price I must pay!

Terakhir, hari ini gw baru aja selesai membaca The Minds of Billy Milligan, cerita tentang seorang penderita DID[1]  yang salah satu pribadinya terlibat kasus kriminal. Awalnya dia dinyatakan tidak bersalah krn dia sendiri tidak sadar melakukan tindak kriminal tersebut. Dia dimasukkan dalam sebuah rumah perawatan mental yang melakukan pendekatan pengobatan modern. Namun kemudian banyak politisi yang ngublek2 dan menuntut dia dipindahkan ke RSJ tradisional untuk pelaku kriminal dengan gangguan jiwa berat (gila). Di situ para psikiaternya menafikan diagnosa DID, para referee yang meninjau ulang kasusnya nggak mau goes the extra miles untuk memahami dan mengerti tentang keadaan medisnya, sehingga dia harus dihukum seperti orang gila. Well, lagi2, ada orang yg harus membayar mahal hanya karena ada orang2 pintar yang sudah merasa cukup dengan kepintarannya, sehingga merasa sudah sangat tahu dgn data yg seadanya.

Menengok ketiga kasus di atas, rasanya setuju kan, kalau gw bilang bahwa orang yg paling sulit dihadapi di dunia ini adalah orang pintar yang pemahamannya tidak memadai?



[1] Dissociative Identity Disorder, atau dikenal juga oleh awam sebagai Kepribadian Ganda

Thursday, August 18, 2005

When NT met SJ

Kalau film komedi, gw seneng yg model2 Meet the Fockers. Penggarapannya serius banget, dibuktikan dgn karakter yang kuat. Gw ngakak abis waktu Jack Byrne (Robert de Niro) yang tipe temperamennya NT abis, harus menyesuaikan diri dengan calon besannya Bernie Focker (Dustin Hoffman) yg temperamennya jelas SP.  Benar2 natural, bagaimana si NT yg rasional merasa gemas krn si SP hidup dengan menabrak semua yang penting. Sementara di SP yg carpe diem, justru sebaliknya heran kenapa si NT selalu menganggap penting hal2 sepele.

Kemarin gw nonton film yang setipe, Along Came Polly. Tokohnya sekali ini adalah Reuben Feffer yang temperamennya SJ jatuh cinta pada Polly Prince yang temperamennya SP. Si SJ yang sangat kaku dengan aturan dan keteraturan mesti menyesuaikan diri dengan si SP ‘the roller coaster’. Asli, gw ngakak abis lihat benturan2 kepribadian yg terjadi antar tokoh2nya.

Dan tiba2 gw nyadar betapa di kehidupan nyata gw punya kemiripan dengan tokoh2 ini: seorang NT yang berteman baik dgn seorang SJ, walaupun tiap hari punya benturan2 pendapat tapi tetap merasa sayang serta dekat dengan yang lainnya.

Hehehe, harusnya nggak ada yang nyangkal bahwa gw NT banget! Semua yg kenal gw akan setuju bahwa gw over-critical terhadap hal2 di sekitar gw: semua gw analisa, semua gw komentari, semua gw pertanyakan logikanya. Dan, di salah satu milis, gw punya counterpart yang tipenya SJ banget (walaupun dia hingga detik ini masih menolak dibilang SJ ;))! Maka yang terjadi adalah komedi nyata: saban hari gw berpolemik dgn si teman gw itu.

Contohnya adalah polemik kami yang terbaru: tentang boleh/tidaknya posting OOT di milis kami. Kebetulan si moderator baru aja mengatakan boleh OOT untuk sementara waktu; suatu policy yg ditentang abis oleh teman gw itu.

Dia:        Setahu gw, yahoo groups itu buanyak! bahkan mungkin sangat banyak. Dan kenapa dibuat banyak?  Setahu gw ya supaya orang bisa memilih sesuai dengan interest masing-masing. Kalo toh belum ada milis2 yg dimaksud, orang dengan mudah (dan gratis tentunya) bisa membentuk Group baru dan kemudian bisa memasang link atau mempromosikan milis2 yg dibuat melalui milis lain

Gw:        Secara teknis loe benar banget! Masalahnya, apakah hidup itu segitu kakunya? Gw sih selalu ngerasa manusia bukan mesin. Sebelum mulai berbincang, seorang manusia perlu merasa diterima di suatu komunitas lebih dahulu. Nggak seperti mesin, yg begitu dicemplungin ke suatu komunitas baru langsung berfungsi optimal. Dengan demikian, gw menganggap bahwa mengikuti aturan Yahoogroups mentah2 adalah suatu bentuk dehumanisasi ;). Manusia dianggap bisa dikotak2kan berdasarkan topik ;).

Dia:        Gw masih heran kenapa banyak orang yg masih gak bisa membedakan kepentingan

Gw:        Waduh, kalau pertanyaan gw malah beda: orang OOT karena gak bisa membedakan kepentingan, atau krn apa yg digariskan oleh Yahoogroups itu justru tidak sesuai dengan kepentingan mereka?

Hehehe.., gw sendiri malah ngelihat OOT, selama masih belum kejauhan, itu adalah suatu berkah: itu menunjukkan bahwa kita di sini sudah menjadi teman. Kita gak ngumpul hanya demi acara, tapi mulai punya keterikatan dgn individu lainnya. Itu suatu hal yg gw syukuri dan ingin gw jaga ;). Dan untuk menjaganya tentu ada harga yg harus gw bayar, salah satunya adalah sesekali menerima posting OOT.

Dan yg kedua, gw sih melihat OOT yg belum kejauhan justru memperkaya khazanah pengetahuan kita. Rasanya udah gak jaman deh menilai sesuatu hanya dengan kacamata kuda (alias hanya lihat obyek yg di depan mata). Gimana kita mengenali plus-minusnya sesuatu kalo kita gak tahu yang lain seperti apa? Hehehe..

Dia:        Dan yg lebih memprihatinkan pengikut lebih percaya pada sosok penguasa daripada pada sistem/aturan yg ada

Gw:        Waduh, kalau gw sih selalu merasa bahwa aturan yg dibuat oleh manusia itu bukanlah suatu sabda Tuhan… hehehe… Aturan itu dibuat oleh manusia, untuk memudahkan manusia. Dan dengan demikian, kalau sudah dirasa tidak tepat, bukan manusianya yg harus mengikuti, tapi aturannya yg ditinjau ulang masih relevan atau tidak ;). Yahoogroups bukan kitab suci kok ;)

Dan wajar jika pengikut lebih percaya pada pemimpin. Pemimpin itu memang tugasnya begitu: menjadi decision maker untuk masalah yg dihadapi – sejauh apa mengikuti aturan atau menyesuaikannya

 

Well, menurut gw apa yang digariskan oleh Yahoogroups itu memang benar. Perlu suatu aturan dasar saat menciptakan suatu komunitas baru supaya kenyamanan sekumpulan strangers bisa terjaga sebaik2nya. Tapi, untuk milis yang sudah berlangsung setahun, dimana anggotanya sudah menjadi lebih dari sekedar teman virtual, haruskah kita terjebak dalam kekakuan birokrasi? Kalau menurut gw, aturan dasar sudah bukan jadi satu2nya pertimbangan lagi kalau kita sudah bicara soal teman, karena bukankah keakraban itu selalu berbanding terbalik dengan batas ketabuan?  

Hehehe, gw nggak mau bilang bahwa gw pasti benar, atau dia pasti salah. Yang jelas, kami berdua kok lama2 terdengar seperti Polly-Reuben atau Jack Byrne-Bernie Focker. Dan rasanya memang kami seperti karakter2 film itu, karena walaupun kami selalu berdebat, I know he is my good friend and he regards me as one of his best friend too.

Dan gw berharap, teman2 di milis itu juga menikmati persahabatan-nggak-mainstream kami seperti gw menikmati film2 di atas!

Catatan: kata temperamen di sini adalah istilah yang diambil dari Keirsey, dalam kaitannya dengan pembahasan MBTI (Myers Brigss Type Indicator)

Wednesday, August 10, 2005

Tanggapan: Kasus Akbar Tanjung - Retno Listyarti

Tulisan ini gw kirim ke milisnya almamater gw, SMA Santa Ursula. Lagi heboh pro dan kontra karena Santa Ursula (tempat anak Akbar bersekolah) memenuhi permintaan keluarga Akbar Tanjung agar tidak menggunakan buku tersebut. Beberapa my sorority sisters bilang Sanur udah mulai melempem, takut sama kekuasaan. Tapi gw punya pandangan yg berbeda.

Yang belum paham kasusnya, bisa dilihat di majalah Tempo, edisi 8 – 14 Agustus 2005 hal. 50, atau versi online dari harian2 lain yang isinya senada, seperti di Kompas atau Gatra


From: Maya Notodisurjo [mailto:mayanoto@p...]
Sent: Wednesday, August 10, 2005 12:55 PM
To: 'panekuksanur@y…’
Subject: Komentar yg agak Telat: Sanur-Akbar Tanjung

Lantaran kejar setoran, baru hari ini baca panekuksanur sejak Kamis lalu. Itu pun gara2 ada teman yg nanya, ada apa sih antara Sanur & Akbar Tanjung? Buru2 baca panekuk, dan ngambil Tempo-nya kantor (yg literally lagi dibaca sama teman lainnya. Judulnya gw ngerebut bacaan orang), dan sekarang rasanya pingin kasih komentar.

SANTA URSULA & KEPUTUSANNYA

Berangkat dari asumsi bahwa berita di Tempo itu benar, maka saya justru acung jempol kepada Santa Ursula karena mau menarik buku itu dari sekolah. Saya tidak melihatnya sebagai suatu bentuk penyerahan pada kekuasaan, tapi melihatnya sebagai bentuk menghargai perasaan murid dan orang tua murid (yg notabene adalah rekan kerjanya).

Kita balik lagi deh, kutipan itu kan adanya di bab “Keterbukaan dan Jaminan Sosial”. Nah, ada banyak kasus, ada banyak hal yg tetap bisa digunakan oleh guru Sanur untuk mengajarkan tentang hal ini. Bab ini tidak harus diajarkan dengan menggunakan kasus Akbar Tanjung. So, rasanya nggak ada alasan untuk mempertahankan buku itu dan menyakiti perasaan Triana hanya demi sebuah sikap bertahan. Toh, dengan menarik buku itu, bukan berarti Sanur berhenti mengajarkan tentang Keterbukaan dan Jaminan Sosial, kan? Sanur nggak melarang, apalagi mengintimidasi, murid-muridnya untuk membahas hal itu kan? Sanur nggak mengatakan bahwa Akbar Tanjung pasti benar dan Retno Listyarti pasti salah kan? Sanur hanya menghentikan penggunaan sesuatu yang bisa menyakiti hati orang lain.

Dan itu menurut saya suatu hal yang mulia dari Sanur. Itu berarti Sanur tidak hanya menggunakan logika (= dalam arti yang penting benar atau salah), tapi juga mempertimbangkan perasaan (= bahwa mengajarkan kebenaran pun harus dengan cara yg tidak menyakiti orang lain). Bukankah tujuan Sanur adalah mendidik anak supaya bukan saja sisi intelektualnya yg berkembang, tapi juga sisi hatinya? Menurut saya, justru di sini Sanur sudah menunjukkan suatu bentuk kebesaran hati dan diplomasi.

TRIANA – AKBAR TANJUNG: BELAJAR MENERIMA KESALAHAN

Saya mengerti, pasti sulit sekali menjadi Triana. Saya juga mengerti betapa sulitnya menjadi Akbar Tanjung. Tapi (kembali dengan asumsi berita di Tempo adalah benar) kalau boleh memberi komentar, saya pribadi merasa reaksinya agak berlebihan. Kalau kita kesampingkan perasaan kita, dan berpikir MURNI logika, maka apa yg dituliskan oleh Retno Listyarti itu adalah MURNI suatu studi kasus. Dengan menjabarkan pendapat Abdul Rahman Saleh, dan dengan adanya fakta bahwa 4 Hakim Agung lainnya menyatakan Akbar Tanjung tidak bersalah, maka pertanyaan “Apakah Akbar Tanjung harus dibebaskan? Apakah putusan itu telah memenuhi rasa keadilan masyarakat?” adalah MURNI sebuah tantangan terhadap kemampuan intelektual murid untuk menganalisa kasus. BUKAN untuk mengatakan bahwa Akbar Tanjung bersalah, atau bahwa keputusan MA salah.

Ketika kuliah di Fakultas Psikologi UI, ada seorang dosen saya yang senang membuat kasus-kasus hipotesis seperti ini untuk menguji logika dan analisa kita. Dari beliau, saya belajar satu hal: dalam sistem nilai manusia, hampir tidak pernah ada yang seratus persen benar atau seratus persen salah. Nothing is purely black or purely white, as everything concerning human being comes in the shade of grey. Demikian pula kasus Akbar Tanjung, bahwa beliau dibebaskan bukan berarti dia 100% benar, dan sebaliknya digunakan sebagai bahasan bukan berarti kesalahan ada di pundak beliau seluruhnya. Ini sekedar sebuah intellectual and moral challenge untuk menganalisa apakah Akbar Tanjung lebih banyak benarnya atau lebih banyak salahnya. Jawabannya bisa Akbar Tanjung memang pantas bebas, atau Akbar Tanjung seharusnya dipenjara, atau Akbar Tanjung bebas dengan syarat tertentu, tergantung kemampuan analisa dan sistem nilai murid-muridnya.

Oleh karenanya, sebetulnya saya berharap Santa Ursula bisa mengajarkan kepada Triana bahwa: It is okay to feel hurt finding your father there, but you have to open your mind that it doesn’t automatically mean that he’s totally wrong. It only means that he MIGHT HAVE made a SMALL mistake; a mistake so small that is not significant, but still it is a mistake. Mengajarkan cara berpikir dari banyak sudut, cara berpikir yang divergen. Belajar melihat bahwa kita tidak harus menafikan kebaikan seseorang hanya karena kesalahan kecil, dan tidak menafikan kesalahan besar orang hanya karena sebuah gesture baik yang tidak seberapa.

*Saya sebenarnya berharap Akbar Tanjung bisa mengajarkan ini kepada Triana. Tapi, melihat indikasi bahwa beliau justru bereaksi sama emosionalnya (dengan men-somasi dan meminta istrinya datang ke Sanur), rasanya saya harus mengubur harapan saya*

Salam,

Maya’91

From Her with Love


Minggu lalu gw perjalanan dinas ke Yogya. Sesampainya di hotel, seperti biasa, hal pertama yg gw lakukan adalah membongkar kopor dan memindahkan baju2 ke lemari. Tapi tidak seperti biasa, sekali ini gw menemukan sebuah surprise indah.

Saat gw mau memindahkan baju2, gw menemukan selembar kertas notes kecil bergambar kupu2 biru di selipan baju. Notesnya Ima. Gw tidak ingat memasukkan kertas notes itu ke kopor, sehingga mungkin itu catatan Ima yang tercecer. Dan gw sangat terharu ketika gw balik kertas itu, serta menemukan tulisan Ima:
To Ibu
Bu jangan sedih ya
Kalau di Yogya
Nanti Mbak Ima
akan selalu telefon
ibu
Dari Ima
With Love
Umur Ima baru 6 tahun. Tapi dia sudah bisa menulis seperti ini, membuat kejutan seperti ini, dan menunjukkan empati seperti ini. Hanya hati yang penuh cinta dan ketulusan yang bisa menunjukkan kepolosan seperti ini.
Betapa gw sebagai ibu merasa terharu!

Wednesday, August 03, 2005

Etika Menyebut Nama Tuhan

Gara2 Ima sekarang berangkat jam 6:00 tanpa harus gw antar, gw bisa punya waktu luang sebelum berangkat ke kantor jam 7:30. Untuk nonton gossip! Dan pagi ini gosipnya adalah tentang Bang Haji yang akhirnya mengakui sudah pernah menikah siri dengan Angel Lelga, dan baru saja menceraikannya.

Tapi bukan gosipnya yg mau gw bahas, melainkan jawaban Bang Haji ketika ditanya oleh wartawan kenapa menikah dan kenapa bercerai:

Kenapa menikah? Begini ya, yang namanya takdir mubrom itu ada tiga: lahir, jodoh, dan mati. Itu semua di tangan Allah, jodoh itu ditentukan oleh Allah. Dalam perjalanan rumah tangga kami, ternyata kami tidak berjodoh

Well, gw bukanlah orang yg bisa jadi contoh untuk ketaatan beragama. Dan gw juga nggak berniat (dan kalopun niat, yang pasti gw nggak credible) menghakimi keimanan orang lain. Tapi dengan segala kemanusiaan gw, gw merasa nggak nyaman bahwa takdir Tuhan (dan dengan demikian: Tuhan sendiri) dibawa2 sebagai sebab utama dalam kasus ini.

Jangan salah terka! Bukannya gw nggak percaya Tuhan. Gw sangat percaya Tuhan, dan sangat percaya pada takdir. Tapi gw juga percaya bahwa takdir itu adalah sesuatu di titik akhir: kalau segala logika dan penjabaran sudah tidak bisa lagi menjelaskan, baru kita bisa bilang bahwa itu adalah takdir. Kalau segala usaha sudah kita lakukan untuk menghindari atau mendapatkan sesuatu tidak berhasil, baru kita bisa bilang bahwa takdirnya begitu.

Buat gw, kata takdir adalah kata yang sakral. Takdir adalah alasan yang berani gw ungkapkan jika dan hanya jika sesuatu tidak bisa lagi diterangkan dengan cara lain. Kalau ditanya kenapa gw menikah dengan suami gw, misalnya, gw hanya berani jawab karena setelah bersama2 dengannya selama lebih dari 7 thn, dialah yang paling cocok dengan gw, dan in my human opinion tidak ada lagi alasan untuk meragukan bahwa dia jodoh gw. Karena setelah 7 thn mencoba mengenal dia, mencari sisi yang meruntuhkan hipotesa bahwa dia adalah jodoh gw, gw nggak menemukannya. Dan in my human opinion, 7 thn itu sudah cukup. Tujuh tahun yang gw mulai dari tingkat I kuliah hingga 1 thn bekerja, dari masa gw hanya sekedar lulusan SMA yang kekanak2an hingga bermetamorfosa menjadi wanita dewasa. Dari seorang remaja yang melihat pacar lebih sebagai teman hura2 hingga perempuan yg mencari pasangan hidup. Dengan bekal pengenalan selama 7 thn itulah gw berani melangkah ke pelaminan dan berkata insya Allah gw memang menikah karena ketemu jodoh; bukan karena gw asal nikah, tapi karena gw memenuhi takdir mubrom yang sudah digariskan Allah sebelum Ia memberi gw nyawa.

Nah, gw kok rada nggak sreg ya, kalau ada orang kenal dengan orang lain lalu tertarik, kemudian menikah, lantas bercerai sebelum melewati tahun perkawinan 2 digit mengatakan bahwa itu adalah Takdir Mubrom yang tidak bisa dipertanyakan. Kalau gw kok ngelihatnya itu lebih seperti kontrol diri yang lemah terhadap nafsu duniawinya. Dalam hal ini kan belum ada data signifikan untuk menolak/menerima hipotesa nol dan hipotesa alternative, karena kita belum menggunakan seluruh kemampuan kita untuk memastikan apakah dia jodoh kita. Bisa jadi memang itu takdir mubrom, tapi bisa saja kan, sebenarnya kita tidak berjodoh tapi ketidakjodohan kita itu baru terlihat setelah nafsu menyurut?

Dan, tanpa bermaksud menghakimi Rhoma Irama, gw kok merasa beliau terlalu enteng membawa2 nama Tuhan. Bukan mengenai pernikahannya dengan Angel Lelga saja dia menggunakan nama Tuhan untuk justifikasi keputusannya yang (sangat mungkin) lebih didasari nafsu manusia. Saat kisah hidupnya diulas oleh Kompas pun dia mengatakan hal yang sama mengenai keputusannya menikahi Ricca Rahim. Simak saja kisahnya di sini!

In my humble, humanly opinion, kok ini seperti menyebut nama Tuhan dengan tidak hormat ya? Atau mungkin memang sudah saatnya kita membuat panduan Etika Menyebut Nama Tuhan? Sehingga nama Tuhan tidak dilacurkan oleh orang2 yang memiliki locus of control eksternal.




Takdir Mubrom adalah takdir yang ditentukan secara pasti; pasti terjadi dengan atau tanpa ikhtiyar kita. Lengkapnya baca di sini.