Sunday, August 28, 2005

Surabaya, setelah 7 tahun

Setelah bertahun2 perjalanan dinas gw lebih banyak berkisar antara Riau, Sum-Bar, Ja-Bar, Ja-Teng/Yogya, akhirnya gw dapat juga tugas ke Surabaya!  Perjalanan dinas terakhir gw ke Kota Pahlawan itu di tahun 1998[1], pas dua hari sebelum final World Cup antara Prancis vs. Brazil. Dan ternyata, bukan saja kota itu sudah berubah, tapi paradigma gw memandang dan mengingat kota itu juga sudah harus berubah.

HOTEL MIRAMA

Tahun 1998, gw bisa sombong sama teman2 sekantor gw krn bisa nginep di Hotel Mirama, salah satu hotel bagus dan lumayan mahal di sana. Accomodation allowance gw sbg Junior Research Executive sebenernya nggak cukup buat bayar kamarnya, tapi karena waktu itu gw bareng klien dari Inggris (yg maunya nginep se-hotel sama gw biar gampang koordinasi), boss gw akhirnya memutuskan gw boleh dapat sedikit kemewahan dengan biaya kantor.

Tahun 2005 ini, Hotel Mirama bahkan sudah bangkrut. Kemarin pas gw lewat di sana, bekas bangunan hotel sudah ditutupi seng dan siap untuk dibangun ulang, entah untuk apa. Kata teman gw, dan supir taksi yang gw tumpangi, Hotel Mirama sempat berubah dulu menjadi gereja sekitar tahun 2002 - 2003, sebelum muncul rencana untuk menghancurkannya beberapa bulan lalu.

GARDEN PALACE HOTEL

Sekitar tahun 1997 – 1998, Hotel Garden Palace masih salah satu aspired hotel buat kami para Junior RE. Gw inget, gw dan Yayuk (teman senasib sepenanggungan gw di Qualitative Team) selalu berusaha menyama2kan jadwal project di Surabaya dan Bandung. Tujuannya hanya satu: kalau kita berdua punya jadwal yg sama, accomodation allowance-nya bisa digabung untuk nginep sekamar berdua di Garden Palace Hotel (atau kalo di Bandung di Hotel Sukajadi).

Tahun 2005 ini, kantor memesankan kamar yg bagus untuk gw di salah satu hotel yg terbaik di Surabaya. Namun untuk pelaksanaan Group Discussion-nya kita sewa Suite Room di Garden Palace. Dan, betapa sedihnya gw lihat keadaan my former aspired hotel ini: suram, kamarnya mulai agak bau dan gloomy, lift-nya sering macet. Beda banget sama modern-but-cozy hotel yg gw tinggali di Surabaya, walaupun katanya level bintangnya sama.

SEORANG TEMAN

Paradigma gw yg lain yg juga harus berubah adalah menyangkut seorang teman, sahabat pena gw sejak tahun kuda masih nggigit jarinya sendiri[2].  Tahun 1998, dia menjemput gw di Hotel Mirama untuk menemani gw jalan2 dan nengok sepupu gw di daerah Wiyung. Gw masih ingat, dia nunggu gw di lobby sambil cengengesan khas anak muda. Kalimat pertama yg diucapkannya adalah, “Maaf aku gak datang ke kawinanmu ya! Maklum mahasiswa, masih miskin, nggak punya duit buat ongkos ke Jakarta!”[3] Dia menemani gw jalan2 ke Wiyung naik taksi karena dua alasan, “Aku punyanya motor, kasihan kalo kamu naik motor malam2 begini,” serta, “Aku nggak tahu Wiyung itu sebelah mana, jadi mendingan naik taksi biar jelas”

Tahun 2005 ini dia sudah jadi orang sukses. Jadi ayah seorang anak yg lucu, serta Rektor sebuah lembaga pendidikan swasta (hi Daddy-nya Niko, I know you read this.. ;). Sengaja gak sebut namamu, ntar bisa nggak berwibawa di hadapan mahasiswamu kalo mereka tahu kamu masih main sama orang celelekan kayak aku.. ;)). Waktu menyalami aku di lobby hotel Garden Palace, gayanya jelas formal dan nggak cengengesan lagi. Motornya juga udah berubah jadi mobil, dan sekarang, “Aku tinggalnya dekat sama sepupumu lho, di dekat Wiyung”.

Ah, we can never resist the change. And when the time has come for a change, all we can do is just accept and adapt to it; putting behind all the good old days on the corner of our mind, ready to retrieve only when we need the charm of the remains of the day.



[1] Tahun 1999, pas bapak dirawat di RS Darmo, gw sempat pp Jakarta-Surabaya tiap 2 minggu sekali. Tapi krn waktu gw habis di RS Darmo saja, nggak bisa gw anggap benar2 perjalanan.. ;)

[2] Tahu idiom jaman kuda gigit besi kan? Nah, ini adalah jaman sebelum kuda mampu beli besi untuk digigit2, sehingga harus puas menggigit jarinya sendiri *gak penting dot com*

[3] Waktu itu gw baru aja menikah 3 bulan sebelumnya