Wednesday, August 10, 2005

Tanggapan: Kasus Akbar Tanjung - Retno Listyarti

Tulisan ini gw kirim ke milisnya almamater gw, SMA Santa Ursula. Lagi heboh pro dan kontra karena Santa Ursula (tempat anak Akbar bersekolah) memenuhi permintaan keluarga Akbar Tanjung agar tidak menggunakan buku tersebut. Beberapa my sorority sisters bilang Sanur udah mulai melempem, takut sama kekuasaan. Tapi gw punya pandangan yg berbeda.

Yang belum paham kasusnya, bisa dilihat di majalah Tempo, edisi 8 – 14 Agustus 2005 hal. 50, atau versi online dari harian2 lain yang isinya senada, seperti di Kompas atau Gatra


From: Maya Notodisurjo [mailto:mayanoto@p...]
Sent: Wednesday, August 10, 2005 12:55 PM
To: 'panekuksanur@y…’
Subject: Komentar yg agak Telat: Sanur-Akbar Tanjung

Lantaran kejar setoran, baru hari ini baca panekuksanur sejak Kamis lalu. Itu pun gara2 ada teman yg nanya, ada apa sih antara Sanur & Akbar Tanjung? Buru2 baca panekuk, dan ngambil Tempo-nya kantor (yg literally lagi dibaca sama teman lainnya. Judulnya gw ngerebut bacaan orang), dan sekarang rasanya pingin kasih komentar.

SANTA URSULA & KEPUTUSANNYA

Berangkat dari asumsi bahwa berita di Tempo itu benar, maka saya justru acung jempol kepada Santa Ursula karena mau menarik buku itu dari sekolah. Saya tidak melihatnya sebagai suatu bentuk penyerahan pada kekuasaan, tapi melihatnya sebagai bentuk menghargai perasaan murid dan orang tua murid (yg notabene adalah rekan kerjanya).

Kita balik lagi deh, kutipan itu kan adanya di bab “Keterbukaan dan Jaminan Sosial”. Nah, ada banyak kasus, ada banyak hal yg tetap bisa digunakan oleh guru Sanur untuk mengajarkan tentang hal ini. Bab ini tidak harus diajarkan dengan menggunakan kasus Akbar Tanjung. So, rasanya nggak ada alasan untuk mempertahankan buku itu dan menyakiti perasaan Triana hanya demi sebuah sikap bertahan. Toh, dengan menarik buku itu, bukan berarti Sanur berhenti mengajarkan tentang Keterbukaan dan Jaminan Sosial, kan? Sanur nggak melarang, apalagi mengintimidasi, murid-muridnya untuk membahas hal itu kan? Sanur nggak mengatakan bahwa Akbar Tanjung pasti benar dan Retno Listyarti pasti salah kan? Sanur hanya menghentikan penggunaan sesuatu yang bisa menyakiti hati orang lain.

Dan itu menurut saya suatu hal yang mulia dari Sanur. Itu berarti Sanur tidak hanya menggunakan logika (= dalam arti yang penting benar atau salah), tapi juga mempertimbangkan perasaan (= bahwa mengajarkan kebenaran pun harus dengan cara yg tidak menyakiti orang lain). Bukankah tujuan Sanur adalah mendidik anak supaya bukan saja sisi intelektualnya yg berkembang, tapi juga sisi hatinya? Menurut saya, justru di sini Sanur sudah menunjukkan suatu bentuk kebesaran hati dan diplomasi.

TRIANA – AKBAR TANJUNG: BELAJAR MENERIMA KESALAHAN

Saya mengerti, pasti sulit sekali menjadi Triana. Saya juga mengerti betapa sulitnya menjadi Akbar Tanjung. Tapi (kembali dengan asumsi berita di Tempo adalah benar) kalau boleh memberi komentar, saya pribadi merasa reaksinya agak berlebihan. Kalau kita kesampingkan perasaan kita, dan berpikir MURNI logika, maka apa yg dituliskan oleh Retno Listyarti itu adalah MURNI suatu studi kasus. Dengan menjabarkan pendapat Abdul Rahman Saleh, dan dengan adanya fakta bahwa 4 Hakim Agung lainnya menyatakan Akbar Tanjung tidak bersalah, maka pertanyaan “Apakah Akbar Tanjung harus dibebaskan? Apakah putusan itu telah memenuhi rasa keadilan masyarakat?” adalah MURNI sebuah tantangan terhadap kemampuan intelektual murid untuk menganalisa kasus. BUKAN untuk mengatakan bahwa Akbar Tanjung bersalah, atau bahwa keputusan MA salah.

Ketika kuliah di Fakultas Psikologi UI, ada seorang dosen saya yang senang membuat kasus-kasus hipotesis seperti ini untuk menguji logika dan analisa kita. Dari beliau, saya belajar satu hal: dalam sistem nilai manusia, hampir tidak pernah ada yang seratus persen benar atau seratus persen salah. Nothing is purely black or purely white, as everything concerning human being comes in the shade of grey. Demikian pula kasus Akbar Tanjung, bahwa beliau dibebaskan bukan berarti dia 100% benar, dan sebaliknya digunakan sebagai bahasan bukan berarti kesalahan ada di pundak beliau seluruhnya. Ini sekedar sebuah intellectual and moral challenge untuk menganalisa apakah Akbar Tanjung lebih banyak benarnya atau lebih banyak salahnya. Jawabannya bisa Akbar Tanjung memang pantas bebas, atau Akbar Tanjung seharusnya dipenjara, atau Akbar Tanjung bebas dengan syarat tertentu, tergantung kemampuan analisa dan sistem nilai murid-muridnya.

Oleh karenanya, sebetulnya saya berharap Santa Ursula bisa mengajarkan kepada Triana bahwa: It is okay to feel hurt finding your father there, but you have to open your mind that it doesn’t automatically mean that he’s totally wrong. It only means that he MIGHT HAVE made a SMALL mistake; a mistake so small that is not significant, but still it is a mistake. Mengajarkan cara berpikir dari banyak sudut, cara berpikir yang divergen. Belajar melihat bahwa kita tidak harus menafikan kebaikan seseorang hanya karena kesalahan kecil, dan tidak menafikan kesalahan besar orang hanya karena sebuah gesture baik yang tidak seberapa.

*Saya sebenarnya berharap Akbar Tanjung bisa mengajarkan ini kepada Triana. Tapi, melihat indikasi bahwa beliau justru bereaksi sama emosionalnya (dengan men-somasi dan meminta istrinya datang ke Sanur), rasanya saya harus mengubur harapan saya*

Salam,

Maya’91