Friday, June 27, 2008

Pinky "Kompie" for my Little Lady

Atas rekomendasinya Oom Renatha a.k.a Oom Dodol, Ima mendapat kesempatan ikut mencoba Classmate PC. Intel-powered PC generasi pertama untuk pasar Indonesia ini memang punya program bagus sesuai dengan misinya mendukung pembelajaran di sekolah dengan teknologi komputer. Yang gw dengar, mereka sudah membantu suatu sistem belajar alternatif menggunakan komputer di dua SD Negeri di Jakarta. Dalam sistem belajar alternatif tersebut, masing2 murid di sebuah kelas dibekali dengan netbook ini. Netbook para murid ini terhubung via WiFi dengan komputer guru yang berfungsi sebagai komputer pusat. Kemudian, pelajaran diberikan secara online. Murid tidak perlu repot mencatat lagi deh.. :-) Ulangan pun jadi lebih asyik ;-) Susah nyonteknya.. hehehe...

Nah.. di luar program masal yang melibatkan seluruh kelas, ada juga murid2 SD yang diundang secara perorangan untuk mencobanya. Ima direkomendasikan karena suka nge-blog dan ngetik2 cerita. Dianggap sebagai cukup techie untuk ikutan mencoba. Jadilah, dua minggu lalu Ima dihubungi dan diminta kesediaannya mencoba - untuk kemudian dimintai pendapat. Tidak seperti ketika dihubungi Radio Singapore International, Ima jauh lebih antusias dan kooperatif. Bukan saja karena suaranya nggak akan terdengar di seantero negeri, melainkan karena dia jadi punya komputer sendiri - meskipun untuk jangka waktu tertentu saja.

Punya komputer sendiri memang impian Ima sejak lama. Hanya saja, gw & bapaknya masih maju mundur membelikan komputer sendiri. Selain komputer keluarga di rumah masih berfungsi dengan [cukup] baik, rasanya necara keuangan keluarga belum terlalu berlebih untuk membelikan Ima sebuah notebook. Lha wong bapak & ibunya aja masih "fakir" yang notebook-nya dipinjami oleh kantor kok.. hehehe..

So, akhirnya, minggu lalu Ima mendapatkan netbooknya. Merek Zyrex Anoa (catatan: intel-powered PC ini kabarnya juga dikeluarkan oleh Axioo dan Asus) Warnanya bikin dia langsung termehek2, karena... dapat yang warnanya pink ;-) Pengalaman Ima dengan netbook barunya sudah dituliskannya sendiri di posting ini dan ini. Sekarang sih gw cuma mau nge-review pengamatan gw aja ;-)

Yang pasti, sejak mendapatkan netbook ini, Ima jadi nggak rewel. Biasanya kalau libur panjang begini Ima tiap hari bete; minta diajak jalan2 melulu karena bosan di rumah. Sekarang.. karena punya mainan baru yang menunjang hobinya menulis, malah jadi susah ngajak dia pergi.. hehehe.. Pagi, siang, sore, malem, terus asyik dengan netbooknya. Rupanya memang punya sebuah komputer pribadi tuh besar pengaruhnya terhadap purpose of life ;-)


Karena PC ini nggak ada modemnya, hanya punya WiFi, Ima sempat gw ajak ke Starbucks. Ngopi2 sambil internetan. Dan di sana terlihat sekali Ima jadi lebih punya rasa percaya diri. Begitu masuk, langsung cari meja di sudut yang nyaman, buka kompie, dan.. connect to internet. Memang, sejak semalam sebelumnya Ima sudah diajari bagaimana menyalakan WiFi, plus dikasih username & password i-Vas yang bisa dipakai di Starbucks. Meskipun yang dibuka selama di sana ya cuma Game Online, tapi gayanya udah kayak eks-mud ;-)

*Sebenernya, kalau nyoba WiFi-nya di Setiabudi One atau di foodcourt Mal Ambassador, jatuhnya lebih murah. Kan bisa pakai CBN Hotspot gw. Tapi.. Ima bilang nggak asyik kalau nggak sambil ngopi2. Lagian Mal Ambassador panas. Terus.. bapaknya ngomporin bahwa cari parkir di sana susah. Terpaksa deh... nyetarbak ;-)*

Salah satu yang bikin Ima khusyuk banget dengan komputernya adalah desain ergonomis komputer ini. Tuts keyboardnya lebih kecil daripada keyboard biasa, karena [tampaknya] memang dirancang untuk anak2. Pas gw nyoba ngetik 10 jari, eeeh.. mencet apa, keluar di layar apa ;-) Mungkin gara2 jari gw pisang semua ya ;-)? Tapi.. kalau buat Ima, tuts ini benar2 pas buat jarinya. Dia jadi lebih gampang mengetik.

Yang membuat Ima excited juga adalah touchpad-nya. Dari dulu, yang membuat Ima curious terhadap notebook bapak-ibunya adalah touchpad yang nggak ada di desktop PC kami. Tapi, karena nggak boleh pegang notebook bapak-ibunya, terpaksa dia nggak pernah nyoba2. Baru setelah mendapat komputer ini rasa ingin tahunya terpenuhi.

Memang sih.. masih ada sedikit keluhan dari Ima: layarnya kurang gede untuk main game.. hehehe.. Maklum, yang dicoba Ima adalah first generation yang layarnya kecil banget. Tapi kalau baca di internet, 2nd generation-nya punya layar yang lebih gede :-) Malah ada web-cam segala ;-)

*Kalau buat ibunya, layar yang kurang gede untuk main game ini malah menguntungkan ;-) Kan bisa bikin Ima demotivated main game ;-)*

Untuk first generation ini memang masih ada bebeberapa keterbatasannya. Di samping layarnya yang kecil, storage yang hanya 2GB membuat Ima agak kurang leluasa menyimpan banyak data. Bapaknyaima mengakalinya dengan menambahkan SD Card sebesar 512MB sehingga Ima sedikit lebih leluasa berkarya. Ya, memang, walaupun spec-nya terbatas, tersedia escape route berupa slot SD Card untuk yang membutuhkan storage lebih besar ;-) Bisa juga pakai external harddisk, karena ada 2 USB port ;-).

Yang masih agak sulit diakali adalah RAM yang hanya 256MB. Dengan RAM sekecil ini, agak sulit meng-install anti-virus tanpa mengurangi performanya. Padahal, anti-virus sangat penting bagi komputer yang dipakai anak2, karena mereka cenderung punya pengetahuan yang sedikit mengenai virus dan penularannya. Kalau dibaca di situsnya, memang tersedia juga yang RAM-nya lebih besar, yaitu 512MB (atau maksudnya expandable, kali ya?). Yaah.. mungkin apesnya Ima aja dapat yang RAM-nya kecil. Kalau yang 512MB, pasti lebih leluasa.

Well.. kalau baca fact sheet-nya, memang komputer ini tidak diposisikan sebagai pengganti dari notebook atau desktop PC yang banyak beredar sekarang. Ini hanya diposisikan sebagai semacam PDA - pelengkap dari notebook atau desktop PC yang kita gunakan. Sebagai pegakses, bukan media bekerja [utama]. Jadi.. bisa dimaklumi jika spec-nya nggak terlalu tinggi.

Still, PC ini masih memadai untuk first time users, terutama anak2. Buat ortu yang techie seperti bapaknyaima, tapi nggak punya cukup dana buat mbeliin anaknya notebook serius buat diutak-atik, bisa pakai ini aja ;-) Dengan harga "bersahabat", sekitar separuh harga notebook "beneran", lumayanlah untuk memperkenalkan anak ke komputer. Apalagi katanya komputer ini waterproof dan tahan banting (biarpun gw belum pernah nyobain, dan nggak mengijinkan Ima mencoba,. hehehe.. sayang juga nuang air atau mbanting komputer ;-))

Buat orang2 kayak gw, mungkin komputer ini bisa jadi alternatif PDA juga ;-) Daripada gw berkutat dengan stylus di layar yang kecil, masih lebih enak mencet2 tuts yg kecil ini.. hehehe.. Toh juga kalau download ke PDA biasanya gw connect via WiFi aja.

Dengar2, malah salah satu dosen FPsi UI malah udah ada yang pakai netbook ini sebagai pelengkap komputer utamanya. Memang sih.. yang dipakai bukan Zyrex Anoa, melainkan yang satu tingkat di atasnya: Zyrex Ubud. Tapi.. hal ini menunjukkan bahwa memang netbook seperti ini sudah mulai dibutuhkan oleh pasar ;-) Jaman seret duit begini, kalau udah dipinjemin komputer dari kantor, ya mesti pinter2 cari komputer pelengkap lah! Yang bisa dipakai kerja dimana aja, tapi nggak untuk sehari2 dan setiap saat ;-)

MANDATORY UPDATE: June 29, 2008

Bapaknyaima&nara "panas" nih baca tentang Starbucks ;-). Langsung dia mbobol celengan buat beli 21 gelas Vanilla Latte sebuah router, sehingga koneksi internet broadband yang baru dipasang minggu lalu bisa diakses dari kamar Ima. Hehehe.. danke, Liebchen, jadi nggak perlu nyetarbak lagi ;-)

Purpose of life-nya Ima pun berubah: jadi nge-donlot youtube.. hehehe.. Baguslah, jadi agak lupa sama game online. Bentar lagi situs ini gw sabotase aaah.. dimasukkan daftar situs yang gak bisa diakses, pakai fitur Parents Carefree kompie Ima ;-)

*oops, moga2 Ima nggak baca ;-)*

Monday, June 23, 2008

Sure-a-Name


Nama belakang man of the match pada laga Jerman vs Portugal di Euro 2008 tersebut terlalu sulit diucapkan bagi seorang teman gw. Memang, buat yang nggak biasa berbahasa Jerman, deretan huruf mati yang bisa sampai 4 digit itu cukup bikin lidah keseleo ;-) Apalagi huruf hidupnya juga cuma dua jenis: e, dan ei ;-) Oleh karena itu, gw kasih pengucapan yang lebih user friendly buat teman gw itu: Bastian si Penunggang Babi.

Setidaknya, itu terjemahan awal versi gw terhadap surname Bastian, karena schwein memang berarti babi dan steiger gw tengarai berasal dari kata steigen yang artinya "naik". Belakangan, setelah merujuk pada kamus Jerman - Inggris, baru gw tahu bahwa steigen lebih tepat diterjemahkan sebagai to elevate, bukan to ride, sehingga kemungkinan terjemahannya adalah: Pengangkat Babi. Itu juga kalau tidak terjadi kemungkinan ketiga: bahwa Schweinsteiger merupakan bentuk ringkas dari der Teiger des Schwein, yang kurang lebih artinya adalah: Pembuat Adonan Babi ;-)

Apa pun terjemahan sebenarnya, gw jadi bertanya2: kakek moyangnya si Bastian ini kerjanya apa sih, kok memilih nama keluarga kebabi-babian gini ;-)?

*OOT: waktu masih menterjemahkan sebagai Penunggang Babi, gw kira kakek moyangnya adalah Ndoro Bei versi Jerman. Ndoro Bei Jawa nunggang jaran teji, sopo ngerti Ndoro Bei Jerman nunggange pancen babi ;-)*

Nama keluarga, atau surname, memang erat kaitannya dengan sejarah kakek moyang yang pertama kali memilih nama tersebut. Menurut cerita Bapak, yang mendengarnya dari guru sekolah dasarnya yang Meneer Belanda, penggunaan nama keluarga di Eropa diprakarsai oleh Napoleon Bonaparte. Gunanya untuk mengklasifikasikan dan memperjelas lajur keturunan masing2 orang.

Belakangan, berdasarkan percakapan di sini, gw baru tahu bahwa pendapat itu tidak sepenuhnya benar. Nama keluarga sudah dipakai oleh kaum priyayi Eropa sejak sebelum bapak-ibunya Napoleon Bonaparte pacaran (eh.. ortunya pakai pacaran nggak ya ;-)?). Tapi... memang baru digunakan oleh semua orang setelah Kaisar Napoleon mendekritkan hukuman bagi mereka yang tidak menggunakan nama keluarga pada tahun 1825.

Anyway.. menurut gurunya Bapak itu, dalam sejarah Belanda banyak orang yang buru2 ngambil nama keluarga. Sekenanya aja. Ada yang pas disensus kakinya lagi sakit, langsung terinspirasi menamai keluarganya Poot (= kaki). Atau ada yang nenek-moyangku-orang-pelaut-gemar-mengarung-luas-samudra.. maka ngambil nama keluarga Van der Sar (= dari laut). Gw nggak tahu apakah tradisi ini berlaku umum di seluruh jazirah Eropa atau enggak.. hehehe.. tapi dari situs ini sih kelihatannya bangsa Eropa punya pakem yang sama dalam membuat nama keluarga. Nama Franz Beckenbauer (becken = tanah ceruk, bauer = petani) dan Christian Ziege (ziege = kambing) menunjukkan bahwa pola surname Jerman jauhnya Berlin Timur - Berlin Barat dengan surname Belanda ;-)

Nah.. makanya gw jadi curious terhadap kakek moyangnya si Bastian. Dulu pekerjaannya apa ya? Jangan2 pas disensus dan "ditodong" bikin nama keluarga, kakek moyangnya si Bastian lagi nggendong babi. Atau.. memang pekerjaannya jadi kuli angkut babi? Bagian ngangkat2 babi di peternakan untuk dimasukkan ke gerobak yang akan membawa si babi ke pejagalan ;-)?

Loncat ke benua Asia.. ;-)

Orang Jawa sebenarnya tidak punya tradisi nama keluarga. Bagi orang Jawa, tradisinya adalah memberikan "nama tua" bagi orang yang sudah menikah. Tapi sekelompok orang Jawa yang terpengaruh didikan Belanda dan pemikiran Eropa, memang kemudian memulai kebiasaan menggunakan nama keluarga ini. Seperti Ki Hajar Dewantara, yang nama kecilnya adalah RM Soewardi. Setelah dewasa, alih2 mengganti namanya, beliau "mencomot" nama ayahnya, KPH Soerjaningrat sebagai "nama keluarga". Dengan demikian beliau terkenal sebagai RM Soewardi Soerjaningrat.

Kasus yang sama terjadi pada keluarga Bapak. Eyang Kakungnya Bapak sebenarnya punya "nama tua" Notodipuro. Karena bapaknya bernama Pak Noto, maka semua anak laki2nya setelah dewasa dinamai dengan "Noto" juga. Hanya kakak sulungnya Eyang Kakung yang diberi nama tua sama dengan ayahnya: Notodipuro. Selanjutnya, ada yang namanya Notodiputro dan Noto-Noto yang lain

*Catatan: tapi gw yakin 68% (dibuktikan secara statistik oleh Fertob) bahwa Notodiprojo ini nggak ada hubungan dekat dengan keluarga besarnya Bapak ;-)*

Eyang Kakung kebagian nama tua Notodisoerjo (ejaan Van Ophuysen). "Noto" artinya menata atau mengatur. "Soerjo" (baca: suryo) tentu saja artinya matahari. Sementara "di" hanya menunjukkan kata tempat. Kurang lebih artinya "tukang ngatur matahari".. hehehe.. Menurut gw, ini nama tua yang paling dahsyat dibandingkan dengan nama2 saudara lelaki Eyang ;-)

Mestinya, Eyang kemudian memberikan nama tua buat ke-8 putranya. Tapi.. Eyang malah menggunakan nama itu sebagai nama keluarga. Jadilah.. kesepuluh putra-putri Eyang semuanya menyandang Notodisurjo (ejaan Suwandhi). Dan kemudian, ke-8 putranya juga memberikan nama Notodisurjo pada anak2nya.

Walaupun semua anak Eyang menyandang nama Notodisurjo, sebenarnya hanya Bapak dan Budhe yang dengan tertib menggunakan dan meneruskannya. Budhe, mungkin karena pengaruh tinggal puluhan tahun di Eropa & Amerika. Sementara Bapak.. yaah.. Bapak mah emang orangnya teratur dan suka mengklasifikasi.. hehehe.. Mungkin juga karena hanya Bapak & Budhe yang sempat mendapat pendidikan gaya Belanda, sementara adik2nya yang lain bersekolah di jaman Jepang dan kemerdekaan.

Budhe Nini, satu2nya kakak Bapak, hingga meninggal tetap dengan tertib selalu menuliskan namanya sebagai Nini Tiley - Notodisuryo. Walaupun Budhe dulu suka ngomel2 karena namanya dituliskan dengan hyphenate gaya Amerika, dimana antara garis tidak diberi spasi (Tiley-Notodisuryo instead of Tiley[spasi]-[spasi]Notodisuryo).

Omelan Budhe memang beralasan, karena hyphenate gaya Amerika berbeda dengan gaya Belanda. Dalam gaya Amerika, maiden name (surname asli si perempuan) dituliskan lebih dahulu, baru surname suaminya. Sementara dalam gaya Belanda, surname suami dituliskan lebih dahulu. Dengan demikian, kesalahan penulisan ini menjadikan artinya berbeda: seolah2 Budhe adalah Ny Notodisuryo yang lahir dari keluarga Tiley, instead of the other way around). Nggak tahu juga kenapa Budhe tidak mengubahnya saja menjadi Nini Notodisuryo-Tiley, biar gak terjadi konflik lagi. Mungkin karena Budhe - seperti juga gw - orangnya ngeyelan... HAHAHAHA... Yup! Ngeyel runs in the family ;-)

Adik2nya Bapak & Budhe cenderung tidak membiasakan penggunaan nama keluarga pada anak2nya. Beberapa sepupu gw hanya menggunakan nama Notodisurjo di paspor, karena memang harus ada nama keluarga.. hehehe.. Untuk sehari2, bahkan di ijazah & KTP, nama ini tidak tercantum.

Tapi... adik2nya Bapak cenderung punya cara unik untuk melestarikan nama keluarga yang dahsyat ini ;-) Entah disengaja atau tidak, para paman gw memastikan salah satu anak laki2nya memiliki nama yang berarti "Matahari" ;-)

Jadilah.. nama Aditya yang artinya sama dengan Suryo itu disandang oleh 3 sepupu laki2 dari ayah yang berbeda2. Dengan variasi yang berbeda2 ;-) Yang satu namanya Aditya, satunya Raditya, dan.. yang terakhir Rachmanditya.

Panggilannya? Adit, Didit, dan Ditya.. hehehe.. Jadi, kalau ada yang teriak, "Diiiiit..." pada pertemuan keluarga, pasti yang nengok 3 orang ;-)

Now, sure, a surname in our family is a name to keep ;-)

Thursday, June 19, 2008

ASI itu Mahal, Jenderal!

*Gw sadar bahwa posting ini akan membuat Umminya Ankaa menjitak gw, lantaran dianggap sejenis kampanye anti-ASI ;-)*

***

Minggu ini gw menemukan pengetahuan baru: ternyata, di republik ini, harga ASI bisa jadi sama mahal (atau bahkan lebih mahal) daripada susu formula ;-)

Ceritanya, minggu lalu daerah rumah gw kena pemadaman listrik. Entah bergilir, entah tidak direncanakan. Yang jelas, tiba2 mati jam 9:00 pagi, dan sampai hampir jam 11:00 belum nyala lagi. Yang bikin panik gw tentunya adalah timbunan ASI di freezer. Memang sih, menurut petunjuk dari berbagai situs yang dapat dipercaya, ASI itu punya daya tahan cukup baik. Dalam suhu ruang bisa tahan 4 – 5 jam. Dalam kulkas bisa tahan 24 – 48 jam. Dalam freezer bisa tahan hingga 3 bulan. Dan.. dalam deep freeze bisa tahan hingga 6 bulan.

Menurut situs2 itu juga, kalau mati lampu 2 jam aja sih nggak apa2... selama freezer tidak dibuka, ASI tetap beku dan tidak turun kualitasnya. Yang perlu diwaspadai adalah kalau ASI-nya cair, sebab.. sekali ASI beku mencair, haram hukumnya untuk dibekukan lagi. Anti-oxidantnya sudah hilang, dan malah berbahaya untuk bayi.

Naah.. berhubung sudah mati selama hampir 2 jam, tentu gw mulai panik akan kelangsungan pasokan makan Nara tersebut. Dalam kurun kurang dari 2 bulan ini, gw sudah berhasil mengumpulkan logistik sebanyak hampir 3 liter, yang dimasukkan dalam kantong2 es mambo dalam satuan 60ml – 120ml (tergantung produksi yg terkumpul). Kalau sampai cair, rugi bandar dong!

Maka langkah2 penyelamatan ASI segera dijalankan ;-)

Beberapa hari setelah Nara pulang dari RS, gw memang sudah menyusun Standard of Procedure penyelamatan ASI ;-) SOP itu disusun lantaran kena pemadaman listrik juga. Waktu itu memang ASI yang terkumpul belum banyak, baru sekitar 400ml, tapi.. secara gw ini kikir dan gak mau rugi, langsung aja deg2an ngebayangin harus membuang modal sebesar 400ml itu. Langsung bikin Plan A sebagai berikut:

1. Pasrah menunggu hingga kapan listrik menyala lagi

2. Jika listrik menyala, TAMPUNG ASI beku yang terlanjur mencair dalam satu botol untuk diminumkan kepada Nara sesegera mungkin

3. Sisanya, yang masih beku, dimasukkan kembali ke dalam freezer.

Tapi, setelah krisis berlalu, gw mulai memikirkan Plan B. Sayang dong kalau tiap kali ASI yang sudah susah payah disimpan harus dibuang sebagian? Apalagi kalau listriknya sering mati. So.. Plan B yang gw susun adalah sebagai berikut:

1. Blue Ice harus selalu dibekukan di freezer.

2. Manakala listrik sudah mati selama 1 jam 45 menit, segera masukkan ASI ke dalam cooler box bersama blue ice,

3. TITIPKAN KE FREEZER yang tidak kena pemadaman listrik

Beruntung cooler box dan blue ice gw, yang gw beli 9 thn lalu saat masuk kantor lagi setelah maternity leave, masih berfungsi dengan baik. Mungkin karena mereknya Coleman.. hehehe.. kata Umminya Ankaa yang hobi kampanye ASI ini, merek itu memang yahud ;-) Dan iya, memang di toko2 sekarang susah banget menemukan Coleman ;-)

Beruntung juga, ada lokasi penyelamatan ASI yang dekat dengan rumah: Warung Ayam Taliwang “RINJANI” milik adik gw ;-) Jaraknya kurang dari 4km dari rumah, atau kurang dari 10 menit perjalanan dengan mobil (kalau macet jadi 15 menit sih ;-)). Dan.. karena gardu listriknya beda, besar kemungkinan warung tersebut tidak mati listrik secara bersamaan dengan rumah kami.

Jadi begitulah!

Akhirnya Plan B ini terlaksana minggu lalu. Setelah terjadi pemadaman listrik, ASI segera pindah ke warung Oom-nya Nara. Disimpan bareng tumpukan ayam beku .. hehehe.. tapi nggak papa, kan kompartemennya beda ;-) Baru diambil lagi jam 17:30, setelah listrik menyala. Krisis teratasi dengan baik!

Tapi.. kemudian.. timbul satu masalah baru ;-)

Ternyata, adik gw nggak punya genset di warungnya. Baru niat beli, tapi belum kesampaian. Sementara.. ada kabar burung bahwa minggu2 depan akan terjadi pemadaman listrik bergilir lagi. ADA KEMUNGKINAN SELURUH JAKARTA TIMUR MATI LISTRIK, yang artinya perbedaan gardu antara rumah dan warung adik gw nggak akan bermanfaat.

Terpaksa bikin Plan C: beli genset untuk dipasang di rumah ;-)

Begitulah... ;-) Gw mulai browsing internet dan jalan2 ke ACE Hardware hendak melihat2 keramaian yang ada harga genset. Sekalian melihat2 harga deep freeze. Maklum, produksi sudah mulai banyak, sampai2 daging dan ikan nggak kebagian tempat di freezer ;-) Dan inilah perkiraan harga Plan C gw:

Harga genset 1.500 watt + pemasangan

Rp 3.600.000

Harga deep freeze 100lt

Rp 1.400.000

Bensin untuk genset 15lt

Rp 90.000

Program ASI Eksklusif & Kesejahteraan Nara

Priceless!



Hehehe.. jadi ingat iklannya Mastercard nggak? There are some things money can’t buy. For everything else, there’s Mastercard ;-)

Hanya saja.. jargonnya sedikit berbeda: there are some things money can buy. For everything else, just be reasonable and rational ;-)

Iya.. gw pikir nggak rasional kalau harus mengeluarkan Rp 5.090.000 untuk investasi 4 bulan.. hehehe.. ASI Eksklusif kan sampai 6 bulan, alias 4 bulan dari sekarang. Setelah itu, Nara sudah makan makanan pendamping. Artinya, kalau Nara sudah 6 bulan, gw nggak perlu terlalu khawatir kehilangan ASI, karena bisa diganti makanan lain sementara.

Nah, kalau untuk investasi 4 bulan aja gw mesti keluar Rp 5.090.000, berarti kan nilai investasi gw sebulan Rp 1.272.500? Kalau beli susu formula termahal yang kemarin gw lihat, Morinaga BMT (yang premium), bisa dapat 11 kaleng yang 800gr. Siapa yang butuh 11 kaleng susu per bulan? Emangnya Nara cowok metroseksual yang suka mandi susu? Hehehehe..

Itu sebabnya gw gak jadi beli genset ;-) Dan.. mungkin itu sebabnya si bayi di emperan stasiun Tanah Abang minum susu formula, nYam ;-). Ibunya nggak sanggup beli genset dan freezer ;-) Jatuhnya lebih murah minum susu formula.. HAHAHAHAHA...

So, nambahin kampanye ASI Eksklusifnya nYam: mestinya PLN juga diingatkan untuk segera meningkatkan produksi listrik. Biar nggak pemadaman bergilir melulu ;-) Pemadaman listrik bergilir itu merupakan bentuk kampanye anti-ASI eksklusif ;-)

Sunday, June 15, 2008

How Deep is Her Love?

Suatu hari di pekan lalu, Ima berkata begini:

"Ibu, aku udah pesan kue susu sama Adela. Mamanya Adela pinter deh bikin kue susu. Rasanya enaak deh. Aku pesan buat Ibu. Harganya 5 ribu"

Tanggal 12 Juni 2008, saat menjemput the birthday girl dari sekolah, gw bertanya: jajan apa hari ini? Memang sengaja tanya begitu sebagai upaya untuk mengontrol jajanan Ima. Apalagi setelah baru2 ini ada kasus coklat narkoba.

"Aku nggak jajan apa2 hari ini. Uang jajanku kupakai buat bayar kue susu pesananku yang buat Ibu. Kuenya baguusss deh, Bu, bentuknya es krim. Nanti di rumah aku kasih Ibu"

-- sesampainya di rumah ... --

"Ini, Bu. Kue susu bentuk es krim-nya. Enak lho...!"

Gw tahu jaman sudah bergulir, tentu banyak perubahan di sana-sini. Termasuk bentuk es krim yang makin kreatif. Tapi.. kue bentuk es krimnya kok nggak kelihatan seperti es krim ya?

"Ini kue bentuk es krim atau bentuk wafel sih, Mbak? Atau seperti wafel-nya AW ya, yang dimakan pakai es krim di atasnya?"

"Bukan, Ibu. Itu bentuk es krim. TAPI TINGGAL CONE-NYA aja. Tadinya di atas cone-nya ada es krimnya, warnanya pink, kuning, sama putih. Tapi sudah kumakan."

Lho, kok?

"Iya, tadinya aku cuma mau makan choco-chip yang ada di es krimnya aja. Tapi susah nyopotnya. Jadi kumakan es krimnya"

Speechless ;-) Sambil sebuah puisi jaman TK dulu berdengung di kepala:

Dua ekor kelinci berebut sepotong roti
Minta tolong kepada kera
Roti dibelah menjadi dua
Ditimbang-timbang berat yang mana
Berat yang kiri, digigit
Berat yang kanan, digigit
Lama-lama rotinya habis
Dua ekor kelinci lalu menangis

"Tapi nggak apa-apa kan, Bu, tinggal cone-nya? Kan cone-nya masih gede"

Yah, nggak apa2, Mbak Ima. Cone juga enak kok ;-) Makasih ya, sayang :-)

Setidaknya gw masih lebih beruntung daripada dua ekor kelinci.. hehehe.. Setidaknya kue susunya nggak digigit sampai habis. Mungkin karena Ima bukan kera ;-)?

***

Ingat cerita kanak-kanak tentang seorang raja yang bertanya pada putri-putrinya tentang sedalam apa cinta mereka kepadanya? Para putri berebut menganalogikan betapa besar cinta mereka kepada ayahnya. Ada yang bilang seluas samudera, ada yang bilang seindah permata yang paling mahal, dll. Hanya putri bungsu yang mengatakan: cintaku kepada ayah sebesar sebutir garam ;-)

Sang raja sempat sangat marah mendengar jawaban itu. Terkesan seolah ayahnya nggak disayang, karena hanya dihargai sebagaimana sebutir garam. Si putri bungsu diusir. Tapi.. kemudian sang raja baru sadar bahwa makan pun jadi tak enak tanpa sebutir garam. Itulah bentuk cinta yang terbesar :-)

Yaah.. seandainya gw si raja, dan Ima si putri, maka mungkin jawabannya: cintaku pada Ibu sekenyang perutku ;-) Bahasa puitisnya: Cinta ibu sepanjang jalan, cinta anak selama perut kenyang ;-) Atau... bisa juga: perutku kenyang ibu disayang, perut tidak kenyang kue buat ibu melayang ;-) Hayooo.. ada yang tahu peri[h]bahasa aslinya nggak ;-)?

Tapi nggak apa2, darling Ima ;-) Bukan besar kuenya yang menunjukkan rasa sayang, melainkan kesediaan nggak jajan demi memesankan sebuah kue buat ibunya ;-). Kerelaannya nggak jajan selama sehari itu yang menunjukkan rasa sayang. Rasa sayang yang besar sekali kan ;-)? Sampai rela [berniat] berlapar-lapar sehari ;-)

***

BTW, soal rasa sayang ada juga cerita tentang rasa sayang ibu pada Nara ;-) Peribahasanya: cinta ibu sebesar rela nggak konsentrasi nonton Jerman, cinta anak semoga tidak sepenggalan ;-)

Iya, Nara sejauh ini sudah sukses membuat ibunya gagal menikmati Piala Eropa. Gara2 tiap pertandingan mau mulai dia pasti nangis minta digendong2. Jadi ketinggalan terus deh nonton bola :(

Yang paling parah, pas Jerman lawan Kroasia, Nara sama sekali nggak mau di depan TV. Nggak bisa nonton deh :( Mungkin gara2 gw nggak nonton makanya Jerman mainnya jelek banget dan kalah ya.. hehehe.. Atau kemungkinan lain sih sejak harga BBM naik, der Panzer minumnya bensin campur.. hehehe.. Jadi der Bajaj yang mesinnya suka mati mendadak ;-) Eh, kalau Bajaj itu artikelnya der, die, oder das ya?

Untung masih babak penyisihan grup, jadi pasti masih main 1x lagi. Masih ada kesempatan lolos ke babak selanjutnya, asal The Miracle of Cordoba gak terulang ;-). Moga2 Jerman lolos deh.. hehehe.. dan bisa menyelesaikan 3 pertandingan berikutnya ;-)

As for Nara.. gimana ya, biar ntar malem gak rewel? Kloroform aman gak sih buat bayi di bawah 3 bulan ;-)?

Tuesday, June 10, 2008

The Anomic Nation

Nggak, judulnya nggak typo. Gw memang tak hendak menulis tentang ANEMIA. Bukan mau nulis the ANEMIC nation, alias bangsa yang kurang darah. Memang mau nulis the ANOMIC nation, alias bangsa yang menderita anomia.

Anomia, atau anomie, adalah konsep yang pertamanya dikemukakan oleh Emile Durkheim. Kurang lebihnya, anomie merupakan the breakdown of social norms; keadaan dimana norma2 pengharapan atas perilaku tidak lagi jelas. Kehancuran sistem, baik dalam situasi great depression maupun great prosperity, sama2 dapat menimbulkan anomie – karena menurut Durkheim anomie merupakan hasil dari perubahan [kondisi sosial] yang sangat cepat.

Belakangan, Robert K Merton mengajukan konsep yang serupa-tapi-tak-sama dengan apa yang sudah dirumuskan Durkheim ini. Bedanya, dalam Strain Theory ini, Merton mengatakan bahwa anomie muncul karena struktur sosial menetapkan tujuan (goals) yang sama bagi setiap individu, namun tidak menyertainya dengan kemampuan yang sama (means) untuk mencapainya. Dengan demikian, tiap individu dituntut untuk beradaptasi dengan keadaan tersebut dan mau tak mau memicu berbagai perilaku menyimpang.

Merton mengajukan 5 jenis adaptasi terhadap kondisi tersebut, yaitu:

  1. Conformity: ini adaptasi yang paling umum, yaitu menerima saja goal yang ditetapkan dengan cara yang ditetapkan untuk mencapainya. Anggaplah goal dalam masyarakat kita ini adalah “hidup sejahtera: cukup sandang, pangan, papan”. Tapi.. dengan kondisi ekonomi yg parah ini, BBM naik, dan semua harga mencekik leher, sangat susah untuk mencapai goal. Naah.. para conformist melakukannya dengan cara yang dapat diterima masyarakat. Misalnya dengan mengurangi apa2 yg di luar ketiga kebutuhan primer itu. Dengan mengatur lagi prioritas belanja bulanan, kalau perlu ganti merek produk. Dengan turun kelas dari pakai Pertamax jadi pakai Premium ;-)
  2. Innovation: di sini, mereka menerima goal yang ditetapkan, tapi tidak mencapai goal itu dengan cara yang dapat diterima masyarakat. Contohnya: yaah, biar bisa hidup sejahtera, maka “cari duit” tambahan dengan korupsi. Atau dengan mengakali petugas biar dapat BLT, misalnya ;-)
  3. Ritualism: di sini, mereka melupakan goal yang ditetapkan, dan fokus pada means yang ada saja. Ini yang mungkin dekat dengan apa yang disebut apatis. Mereka gak mikir lagi gimana caranya hidup sejahtera, yang penting kerja seperti biasa karena hanya itu yang mereka dapat lakukan.
  4. Retreatims: adalah apa yang dekat dengan kefrustrasian. Di sini, bukan saja goal yang sudah dilupakan, melainkan juga means-nya. Jadi udah nggak berharap lagi bisa hidup sejahtera, dan udah nggak perduli lagi dengan bagaimana supaya bisa [mendekati] sejahtera. Mereka “mundur teratur” ke pola hidup yang non-produktif. Di sini letak para pemabuk dan junkies.
  5. Rebellion: naaah... ini adalah jenis adaptasi yang benar2 seperti “bola liar” di pertandingan sepakbola.. hehehe.. Pada jenis ini, individu sudah tidak perduli lagi dengan goals dan means yang diamini masyarakat. Mereka simply membuat goals baru dan means baru. Yang sama sekali berbeda dengan apa yang umum di masyarakat, dan mungkin sama sekali tidak terduga.

Jenis adaptasi yang kelima ini, rebellion, yang tiba2 teringat oleh gw ketika berkali2 membaca suatu “mantra” dalam laporan utama Majalah Tempo, edisi 9 – 15 Juni 2008. Mantra yang berbunyi:

“Kalau polisi menjalankan tugas dengan baik, kami tidak perlu ada,” kata Rizieq suatu ketika.

(hal. 37)

“Bagi Front, aksi-aksi ini upaya terakhir,” kata Sidiq

(hal. 42)

Awalnya, membaca “mantra” itu memang membuat gw nyolot. Emangnya loe siapa?? Kok berani2 menjadi pengganti polisi? Merasa jadi bentuk yang lebih baik daripada polisi? Petugas quality control kerjaan polisi?

Tapi kemudian gw teringat teori yang gw gunakan dalam penelitian di jurusan Psikologi Sosial tahun 1995 itu.. dan.. tiba2 tersentak: inikah bentuk dari tipe adaptasi kelima? Dimana [sekelompok] orang kehilangan kepercayaan pada sistem dan kemudian mulai membuat sistemnya sendiri? Membuat goals baru dan means baru, yang totally different dari yang ada di masyarakat saat ini?

Kalau memang demikian, maka.. penyelesaian yang paling tepat adalah dengan mengembalikan kepercayaan rakyat pada sistem yang dimiliki pemerintah. Mengembalikan kepercayaan bahwa goals yang ada di masyarakat saat ini memang dapat dicapai dengan means yang disetujui masyarakat.

Dan.. jika demikian, maka gw ragu bahwa “memenuhi tuntutan” Munarman dengan mengeluarkan SKB Ahmadiyah adalah cara yang tepat untuk menyelesaikan masalah. Ya, ya, pemerintah boleh bilang bahwa SKB Ahmadiyah tidak diturunkan karena memenuhi tuntutan Munarman atau agar Munarman menyerahkan diri. Pemerintah boleh bilang bahwa ini untuk menjaga keharmonisan hidup bernegara. Tapi.. faktanya, SKB itu turun setelah Munarman menjadikannya syarat. Dan buktinya, tadi pagi di TV sudah terlihat Munarman menyerahkan diri ke polisi sambil tebar senyum kepada wartawan ;-)

At the very least, waktu penurunan SKB ini sangat tidak tepat karena bisa membuat Munarman & his gang ke-geer-an: merasa tuntutan mereka dipenuhi.

In the long run, hal ini sangat membahayakan, karena secara tidak langsung memberi justifikasi bahwa the new goals and the new means of the Rebels are acceptable. Ini bisa menjadi standar baru: bahwa mulai sekarang goals dan means yang berlaku adalah yang muncul dari mereka ;-)

Lantas, bagaimana berikutnya? Apakah para mahasiswa UKI yang sedang demo mogok makan menuntut turunnya harga BBM boleh mengikuti contoh ini? Melakukan tuntutannya dengan cara seperti Munarman & his gang aja? Daripada mogok makan, menjahit mulut, menyakiti diri sendiri, mendingan gebukin orang aja sampai bonyok ;-) Yang sakit kan orang lain.. hehehe... Udah gitu kabur, lantas nyebar rekaman video dan email yang menyatakan: bersedia menyerahkan diri kalau harga BBM diturunkan ;-)

Gimana ;-)?

*Eh, YouTube terima upload-an video2 kayak gini, gak ya? Kalau enggak, pakai photobucket aja.. HAHAHAHA.. *

Monday, June 02, 2008

Dua 46

Salah satu novel dan film yang gw suka adalah The Godfather Trilogy. Selalu kesengsem dengan Don Corleone – dua2nya, baik Don Vito maupun Don Michael – karena they are everything I cannot be ;-) Ya, ya, gw suka dengan penggambaran karakter mereka yang cool, nggak pernah menunjukkan emosi sama sekali, tapi telengas ;-) Sementara gw cuma mirip telengasnya aja.. hehehe.. Gw selalu ngebayangin bahwa kalau gw jadi mafia, maka gw akan jadi Santino Corleone – the bad Don. Bukan bad karena jahat (aaah.. apa yang dilakukannya kan baik2 saja menurut ‘standar’ mafia ;-)), tapi .. seperti kata Don Vito, Santino adalah the bad Don karena dia nggak bisa cool ;-) Terlalu gampang menunjukkan perasaan. Makanya gampang terpancing dan cepat mati ;-)

Apa adegan yang paling berkesan buat gw dalam cerita ini? Ada banyaaaak banget. Tapi.. salah satunya yang paling2 berkesan adalah turning point-nya Michael; dari yang nggak mau terlibat menjadi paving the way to be the successor ;-) Yep! Yang paling berkesan adalah saat2 dia memutuskan, berencana, hingga akhirnya melaksanakan pembunuhan si bandar narkoba Virgil Sollozzo dan polisi korup Captain McCluskey. One giant leap, bukan saja buat Michael, tapi juga untuk the underworld. Seperti dituliskan pada paragraf yang mengakhiri buku pertama:

Later that day an emissary from the Families asked the Corleone Family if they were prepared to give up the murderer. They were told that the affair did not concern them. That night a bomb exploded in the Corleone Family mall in Long Beach, thrown from a car that pulled up to the chain, then roared away. That night also two button men of the Corleone Family were killed as they peaceably ate their dinner in a small Italian restaurant in Greenwich Village. The Five Families War of 1946 had begun.

(halaman 152)

Yang menarik dari cerita gangster seperti ini adalah: suatu kelompok gangster biasanya kehilangan kekuatan karena the war, bukan karena kekuatan hukum. Hukum negara (yang diwakili oleh - dalam hal ini - polisi) sudah tak berdaya menghadapinya. Satu “keluarga” hanya bisa dilawan oleh “keluarga” lain. Itu yang akan mengembalikan keseimbangan ;-)

Naaah.. menilik berita ini, ini dan ini, gw jadi teringat dengan cerita di atas. Gus Dur selamat dari amukan FPI, seperti Don Vito Corleone yang selamat dari upaya pembunuhan Virgil Sollozzo, yang menjadi cikal bakal the Five Families War di cerita tersebut. Apalagi kemudian ada berita bahwa GP Ansor tinggal tunggu perintah "go ahead" aja untuk membubarkan FPI kalau pemerintah nggak bisa menangani ini, dan ada yang berang mendengarnya ;)

Akankah kisah ini menjadi The Godfather, versi organisasi massa instead of versi gangster? Kita tunggu saja ;-)

Personally, gw sih setuju2 saja dengan Gus Dur – kalau Gus Dur benar2 mengucapkan seperti itu. Kadang, memang cuma “keluarga” yang lebih besar dan lebih kuat yang harus menghajar “little thugs” dari “keluarga” yang nggak mengikuti aturan main ;-).

Gus Dur takes it personal? Well.. nggak papa juga. Ini kutipan dari percakapan Michael Corleone dan Tom Hagen – the consigliere – yang ada di novelnya tapi dihilangkan oleh Coppola dalam filmnya:

“You should’t let that broken jaw influence you,” Hagen said. “McCluskey is a stupid man and it was business, not personal.”

For the second time he saw Michael Corleone’s face freeze into a mask that resembled uncannily the Don’s. “Tom, don’t let anybody kid you. It’s all personal, every bit of business. Every piece of shit every man has to eat every day of his life is personal. They call it business. OK. But it’s personal as hell. You know where I learned that from? The Don. My old man. The Godfather. If a bolt of lightning hit a friend of his the old man would take it personal.. That’s what makes him great. The Great Don. He takes everything personal..”

(halaman 146)

Ayo, Don Gus Dur, maju terus.. hehehe.. lanjut dengan rencana pembubarannya ;-)

Hmm.. kalau Gus Dur jadi Don Vito, lantas siapa yang mengisi peran Don Michael ya? Hehehe.. Moga2 sama gantengnya seperti Al Pacino ;-)

Catatan Penting Banget:

Sebelum ada yang tersinggung, gw menyamakan kasus ini dengan cerita The Godfather adalah karena kesamaan atribut mengenai adanya pertentangan antar organisasi2 yang mengusung dasar yang sama, yaitu Islam. BUKAN mengatakan bahwa organisasi2 ini adalah mafia ;-)

***

Ternyata cerita gw belum habis tentang 46.. ;-) Sekali ini, ceritanya tentang “layanan empat enam”

Ceritanya, akhir Maret lalu, Ibu menemukan bahwa saldo di salah satu rekening bank-nya surplus dua juta rupiah. Ibu tidak curiga, karena tahu bahwa anak2nya kadang melakukan transfer ke rekening ini tanpa bilang2. Jadi, dengan cuek Ibu menggunakan uang tersebut membayar berbagai keperluan rumah tangga.

Namun.. beberapa hari kemudian, Ibu mendapatkan telepon dari bank tersebut. Katanya terjadi salah transfer dan Ibu diminta mengembalikan uang itu secepatnya. Kata petugas bank, jika hingga akhir bulan uang belum dikembalikan, maka gaji Ibu yang ditransfer ke rekening itu akan LANGSUNG DIPOTONG untuk membayarnya.

Waduhh... emangnya bank bisa seenak jidat memotong uang nasabah? Bank model apa tuh? Terus, tanda terimanya apa? Gimana kalau terjadi kesalahan teknis dan rekening terpotong lebih dari sekali? Kemana kami harus mengadu? Mengingat pengalaman dengan bank lainnya ini, terus terang jadi skeptis bahwa kesalahan teknis bisa cepat diselesaikan.

Kebetulan ada suami keponakannya Bapak yang kerja di bank tersebut. Jadi kami lalu minta Mas B, suaminya Jeng T, untuk menjadi consigliere ;-) Dari Mas B kami mendapat saran berikut:

“Dalam kondisi apa pun, bank tidak berhak memotong langsung dari rekening Budhe. Jika ada dispute seperti ini, bank akan meneliti terlebih dulu. Jika kesalahan ada di pihak teller dalam memasukkan nomor rekening, itu menjadi tanggung jawab teller untuk mengembalikan uang pada pihak yang melakukan transfer. Kalau Budhe mau kembalikan, itu bagus dan kami berterima kasih, tapi Budhe tidak wajib melakukannya. Jika kesalahan ada di pihak yang melakukan transfer, maka bank akan mengeluarkan surat permohonan resmi kepada pihak yang menerima transfer (dalam hal ini: Budhe) untuk mengembalikan uang tersebut. Ketika Budhe mengembalikan uang, akan diberi tanda terima resmi juga.

Saran saya, Budhe jangan mengembalikan uang sebelum menerima surat permohonan resmi dan tanpa menerima tanda terima resmi. Kita bermain sesuai prosedur, supaya tidak ada pihak yang dirugikan”

Saran Mas B masuk akal, dan kami pun memberitahukan kepada pihak bank bahwa Ibu bersedia mengembalikan uang segera setelah mendapatkan surat permohonan resmi.

Sampai Jumat, 30 Mei, Ibu tidak pernah menerima surat permohonan tersebut ;-) Maka.. jangan salahkan bila life goes on as usual. Kami kira masalah sudah selesai, bahwa kesalahan ada di pihak dan sudah ditanggung oleh teller ;-)

Namun.. tiba2.. tanggal 30 Mei itu Ibu menerima SMS dari nomor tak dikenal! Isi SMS itu mencacimaki Ibu dengan kata2 kasar, yang intinya “bertobatlah-atau-azab-Tuhan-akan-jatuh-padamu”.. hehehe.. Kurang lebih (nggak verbatim), bunyinya:

Biarlah Allah SWT yang membalas jika Ibu tidak mau mengembalikan uang tersebut. Itu uang anak yatim. Tidak mengembalikan uang itu berarti Ibu mencuri dari anak yatim.. -- yadda-yadda-blablabla --

Mendengar itu, reaksi gw udah persis seperti Santino Corleone saat mendengar adiknya digebuki suaminya.. hehehe.. salah satu adegan fenomenal dalam novel The Godfather; dimana Santino terpancing untuk ngamuk, dan ternyata itu adalah strategi perang the other families untuk membunuhnya ;-) Beruntung, adik gw bisa bersikap seperti Michael Corleone. Jadi mainnya lebih taktis dan dapat informasi kenapa si pengirim SMS itu marah2.

Jadi, pokok persoalannya, bank menjanjikan pada si pengirim SMS (yang juga pelaku transfer itu) bahwa dalam sebulan uang akan dikembalikan, dipotong langsung dari rekening Ibu. Sebulan kemudian, ketika si pelaku transfer belum menerima kembali uangnya, bank dengan enak mengatakan bahwa Ibu menolak mengembalikan uang, dan lantas memberikan nomor HP Ibu serta mempersilakan pelaku transfer untuk “mengurusnya sendiri dengan Ibu”.

Huh? Berapa law of conduct yang dilanggar oleh bank itu ya? Sudah memfitnah Ibu, membocorkan data nasabah lagi! Padahal, bukannya bank TIDAK BOLEH MEMBOCORKAN DATA NASABAH dalam keadaan apa pun? Lha, nama dan nomor telepon (apalagi nomor HP) kan termasuk data nasabah, toh ;-)? Terus, siapa yang jamin data2 lain yang rahasia (password, nomor PIN, dll) tidak dibocorkan juga?

Yaah.. begitulah pelayanan BNI 46 ;-) Dulu gw kira angka 46 itu dipasang karena bank itu berdiri sejak tahun 1946 ;-) Nggak tahunya.. untuk menunjukkan bahwa “servis”-nya sekelas “empat enam” toh ;-)

Apa maksudnya servis BNI sekelas 46?

Bisa diartikan dua: yaitu.. nilainya cuma berkisar 4 – 6 skala 10 (alias dapat nilai merah atau paling tinggi nilai pas2an ;-)), atau.. servisnya memang, “Rapat, rapat, empat enam empat enam.. itu anaknya bayar nggak, Bu? Kalau nggak bayar dipangku aja!”

Maksudnya?

Yaa.. pelayanannya memang ala mikrolet dan angkot: yang penting penumpang nasabah masuk dan dia dapat duit, perkara penumpang nasabah nyaman sih entar dulu. Nyampe ke tujuan juga belum tentu, kalo angkotnya mau putar balik ;-)

Suntingan 17 Juni 2008:

Sampai tanggal 16 Juni kemarin, masiiiih saja si pemilik uang bolak-balik SMS Ibu minta uangnya ditransfer balik dan Ibu masiiiih saja harus telepon BNI minta surat resmi yang tak kunjung tiba. Padahal, menurut si pemilik uang yang ada di Aceh itu, masalah sudah jelas: teller SALAH memindahkan nomor rekening dari lembar transfer ke komputer, sehingga uang masuk ke rekening Ibu. Untuk tahu uang itu masuk ke rekening siapa, BNI Aceh sampai harus menelepon BNI Pusat di Jakarta. Dari BNI Pusat-lah diketahui data nama dan nomor HP Ibu.

Profesional sekali cara kerja BNI, bukan? Apa gunanya nama pemilik rekening di Jakarta tidak online hingga ke Aceh, jika kemudian pusat dengan gampang memberikan data itu? Bukankah harusnya BNI Pusat - sebagai pemegang data nasabah yg dirahasiakan itu - yang menghubungi Ibu? Jadi, pemilik uang hanya berhubungan dgn BNI Aceh, BNI Aceh hanya berhubungan dengan BNI Pusat, dan yang berhubungan dengan Ibu hanya BNI Pusat? Kok jadi di-bypass gini sih?

Kesalahan oknum? I don't think so.. ;-)