Tuesday, June 10, 2008

The Anomic Nation

Nggak, judulnya nggak typo. Gw memang tak hendak menulis tentang ANEMIA. Bukan mau nulis the ANEMIC nation, alias bangsa yang kurang darah. Memang mau nulis the ANOMIC nation, alias bangsa yang menderita anomia.

Anomia, atau anomie, adalah konsep yang pertamanya dikemukakan oleh Emile Durkheim. Kurang lebihnya, anomie merupakan the breakdown of social norms; keadaan dimana norma2 pengharapan atas perilaku tidak lagi jelas. Kehancuran sistem, baik dalam situasi great depression maupun great prosperity, sama2 dapat menimbulkan anomie – karena menurut Durkheim anomie merupakan hasil dari perubahan [kondisi sosial] yang sangat cepat.

Belakangan, Robert K Merton mengajukan konsep yang serupa-tapi-tak-sama dengan apa yang sudah dirumuskan Durkheim ini. Bedanya, dalam Strain Theory ini, Merton mengatakan bahwa anomie muncul karena struktur sosial menetapkan tujuan (goals) yang sama bagi setiap individu, namun tidak menyertainya dengan kemampuan yang sama (means) untuk mencapainya. Dengan demikian, tiap individu dituntut untuk beradaptasi dengan keadaan tersebut dan mau tak mau memicu berbagai perilaku menyimpang.

Merton mengajukan 5 jenis adaptasi terhadap kondisi tersebut, yaitu:

  1. Conformity: ini adaptasi yang paling umum, yaitu menerima saja goal yang ditetapkan dengan cara yang ditetapkan untuk mencapainya. Anggaplah goal dalam masyarakat kita ini adalah “hidup sejahtera: cukup sandang, pangan, papan”. Tapi.. dengan kondisi ekonomi yg parah ini, BBM naik, dan semua harga mencekik leher, sangat susah untuk mencapai goal. Naah.. para conformist melakukannya dengan cara yang dapat diterima masyarakat. Misalnya dengan mengurangi apa2 yg di luar ketiga kebutuhan primer itu. Dengan mengatur lagi prioritas belanja bulanan, kalau perlu ganti merek produk. Dengan turun kelas dari pakai Pertamax jadi pakai Premium ;-)
  2. Innovation: di sini, mereka menerima goal yang ditetapkan, tapi tidak mencapai goal itu dengan cara yang dapat diterima masyarakat. Contohnya: yaah, biar bisa hidup sejahtera, maka “cari duit” tambahan dengan korupsi. Atau dengan mengakali petugas biar dapat BLT, misalnya ;-)
  3. Ritualism: di sini, mereka melupakan goal yang ditetapkan, dan fokus pada means yang ada saja. Ini yang mungkin dekat dengan apa yang disebut apatis. Mereka gak mikir lagi gimana caranya hidup sejahtera, yang penting kerja seperti biasa karena hanya itu yang mereka dapat lakukan.
  4. Retreatims: adalah apa yang dekat dengan kefrustrasian. Di sini, bukan saja goal yang sudah dilupakan, melainkan juga means-nya. Jadi udah nggak berharap lagi bisa hidup sejahtera, dan udah nggak perduli lagi dengan bagaimana supaya bisa [mendekati] sejahtera. Mereka “mundur teratur” ke pola hidup yang non-produktif. Di sini letak para pemabuk dan junkies.
  5. Rebellion: naaah... ini adalah jenis adaptasi yang benar2 seperti “bola liar” di pertandingan sepakbola.. hehehe.. Pada jenis ini, individu sudah tidak perduli lagi dengan goals dan means yang diamini masyarakat. Mereka simply membuat goals baru dan means baru. Yang sama sekali berbeda dengan apa yang umum di masyarakat, dan mungkin sama sekali tidak terduga.

Jenis adaptasi yang kelima ini, rebellion, yang tiba2 teringat oleh gw ketika berkali2 membaca suatu “mantra” dalam laporan utama Majalah Tempo, edisi 9 – 15 Juni 2008. Mantra yang berbunyi:

“Kalau polisi menjalankan tugas dengan baik, kami tidak perlu ada,” kata Rizieq suatu ketika.

(hal. 37)

“Bagi Front, aksi-aksi ini upaya terakhir,” kata Sidiq

(hal. 42)

Awalnya, membaca “mantra” itu memang membuat gw nyolot. Emangnya loe siapa?? Kok berani2 menjadi pengganti polisi? Merasa jadi bentuk yang lebih baik daripada polisi? Petugas quality control kerjaan polisi?

Tapi kemudian gw teringat teori yang gw gunakan dalam penelitian di jurusan Psikologi Sosial tahun 1995 itu.. dan.. tiba2 tersentak: inikah bentuk dari tipe adaptasi kelima? Dimana [sekelompok] orang kehilangan kepercayaan pada sistem dan kemudian mulai membuat sistemnya sendiri? Membuat goals baru dan means baru, yang totally different dari yang ada di masyarakat saat ini?

Kalau memang demikian, maka.. penyelesaian yang paling tepat adalah dengan mengembalikan kepercayaan rakyat pada sistem yang dimiliki pemerintah. Mengembalikan kepercayaan bahwa goals yang ada di masyarakat saat ini memang dapat dicapai dengan means yang disetujui masyarakat.

Dan.. jika demikian, maka gw ragu bahwa “memenuhi tuntutan” Munarman dengan mengeluarkan SKB Ahmadiyah adalah cara yang tepat untuk menyelesaikan masalah. Ya, ya, pemerintah boleh bilang bahwa SKB Ahmadiyah tidak diturunkan karena memenuhi tuntutan Munarman atau agar Munarman menyerahkan diri. Pemerintah boleh bilang bahwa ini untuk menjaga keharmonisan hidup bernegara. Tapi.. faktanya, SKB itu turun setelah Munarman menjadikannya syarat. Dan buktinya, tadi pagi di TV sudah terlihat Munarman menyerahkan diri ke polisi sambil tebar senyum kepada wartawan ;-)

At the very least, waktu penurunan SKB ini sangat tidak tepat karena bisa membuat Munarman & his gang ke-geer-an: merasa tuntutan mereka dipenuhi.

In the long run, hal ini sangat membahayakan, karena secara tidak langsung memberi justifikasi bahwa the new goals and the new means of the Rebels are acceptable. Ini bisa menjadi standar baru: bahwa mulai sekarang goals dan means yang berlaku adalah yang muncul dari mereka ;-)

Lantas, bagaimana berikutnya? Apakah para mahasiswa UKI yang sedang demo mogok makan menuntut turunnya harga BBM boleh mengikuti contoh ini? Melakukan tuntutannya dengan cara seperti Munarman & his gang aja? Daripada mogok makan, menjahit mulut, menyakiti diri sendiri, mendingan gebukin orang aja sampai bonyok ;-) Yang sakit kan orang lain.. hehehe... Udah gitu kabur, lantas nyebar rekaman video dan email yang menyatakan: bersedia menyerahkan diri kalau harga BBM diturunkan ;-)

Gimana ;-)?

*Eh, YouTube terima upload-an video2 kayak gini, gak ya? Kalau enggak, pakai photobucket aja.. HAHAHAHA.. *