Tuesday, February 27, 2007

Count your Happiness

Kemarin gw nonton pengambilan data, berupa in-depth interview yang dilakukan oleh salah satu teman. Respondennya seorang stay-at-home mom yang dengan detil menceritakan kegembiraannya bertamasya ke sebuah taman bunga.

Eh, bentar! Detil bukan kata yang tepat! Yang tepat adalah super detil, karena dia menceritakan bagaimana dia bangun pagi2 sekali mempersiapkan perlengkapan untuk tamasya: rice cooker yang akan dibawa, piring2 dan gelas2, nasi yang harus dibuat sebelumnya, ayam yang harus digoreng, dst, dst.. jujur gw nggak inget, karena begitu banyak langkah persiapan yang terdengar asing buat gw.

Gw sempat bete karena kegiatan tamasya yang [menurut gw] ajang untuk bersantai dan berpraktis ria, malah jadi kegiatan yang merepotkan. Lantas, fun-nya dimana? Itu pertanyaan yg bikin gw bisik2 dengan sesama pengamat lainnya.

Kebingungan gw berlangsung cukup lama, hingga gw mendengar penggalan jawaban atas pertanyaan ini:

"Apa sih, Bu, yang membuat Ibu bahagia sekali? Padahal kan repot, mesti menyiapkan macam2, pindah makan di luar"

"Bahagianya melihat anak2 bisa lari2 begitu. Kapan lagi mereka bisa senang2 seperti itu, main, lari sama teman2nya. Kalau kita repot sih memang sudah biasa, yang penting anak senang"

Happiness, for her, is as simple as that!

Eh.. tiba2 aja gw jadi bertanya dalam hati: kapan ya, terakhir kali gw bisa bahagia untuk hal2 kecil seperti ini? Bahagia untuk hal2 yang remeh-temeh seperti si ibu ini?

Dan gw agak malu karena gw nggak ingat kapan kali terakhir gw bahagia akan hal2 yang kecil2 ;-)

Terus.. gw jadi mengingat2 lagi deh kehidupan gw 1-2 minggu terakhir ini. Bener nggak sih, hidup gw udah segitu nggak asyiknya, sampai gak ada hal2 kecil yang bisa bikin gw bahagia? Ternyata.. gw menemukan BANYAK hal yang bisa bikin gw bahagia, tapi berlalu begitu aja karena gak gw perhatiin.

Beberapa hal yang bisa gw masukkan dalam daftar hal2 kecil yang [sebenarnya] bisa bikin gw bahagia dalam 2 minggu terakhir adalah:

  1. Minggu ini Ima sehat wal afiat. Padahal, anak sepupu gw dirawat di RS karena diduga flu burung. Syukur alhamdulillah, ternyata cuma sakit "flu orang", ya Saras, walaupun sakitnya setelah ketemu anak burung yang mati mendadak ;-)
  2. Kemarin pagi, Jalan Pramuka yang sudah 1 minggu macet abis, tiba2 lengang luar biasa. Gw jadi punya waktu ekstra pagi2 di kantor, karena datang sebelum jam 8.
  3. Kemarin sore, gw sempat menginjak rem ketika ada motor bersinggungan dengan Metromini. Motornya jatuh tepat di depan gw, tapi karena gw udah nge-rem, jadi gw nggak ikut kena perkara. Bayangkan jika gw terlambat nge-rem 2-3 detik saja.
  4. Tadi pagi terpaksa jalan memutar; cari SPBU karena bensin tinggal 1/2 tangki. Udah yakin bapaknyaima bakal telat sampai di kantor, eeeh.. nggak tahunya nggak telat. Entah gimana, kami berhasil ngejar waktu. Lumayan, mengurangi satu absen merah di kartu kehadiran ;-)
  5. Sepuluh hari lalu, pas killing time di Kinokuniya, eeeeh.. lihat Harry Potter 7 udah boleh pre-order. Jadilah gw salah satu pemesan pertama :-) Asyeeek.. nggak usah bingung gimana beli Har-Pot, dan gak usah takut gigit jari kalau ada yang mau bikin spoiler ;-).
  6. Sepuluh hari lalu, seorang teman yang biasanya bilang baru bakal nikah menjelang menopause, akhirnya bertemu juga dengan calon mertua ;-) Dan ternyata sang camer cocok sama "sampelnya". Jadi deh berkongsinya ;-). Seneng deh mendengar kabar bahagia ini :-)
  7. Hampir dua minggu lalu, seorang teman lama tiba2 muncul lagi ke dalam lintas orbit gw. Hopefully it is a good sign ;-)

Yang terakhir.. Minggu lalu, gw udah panik karena transaksi kartu kredit [yang kami anggap] gagal di Hotel Sasando International Kupang, ternyata ditagihkan pada rekening gw. Nggak tanggung2, transaksi itu tercatat 3x! Padahal, saat digesek, slip transaksi tidak keluar karena kerusakan mesin.

Dan sedih sekali ketika bank pemberi kartu kredit "tidak mau tahu".. gw harus tetap bayar tagihannya, dan dana baru dikembalikan jika gw terbukti tidak bersalah. Gilaaaa... habis dong, duit gw untuk bayar tagihan gagal? Mosok gw mesti korupsi uang sekolahnya Ima?

Gw udah pingin nangis. Tapi.. tiba2, hotelnya itu dengan baik hati mentransferkan jumlah 3x transaksi itu dengan janji, "Nanti kalau dana sudah dikembalikan kepada Ibu, mohon ditransfer kembali ke kepada kami". Alhamdulillah, ternyata setelah kesulitan [selalu] ada kemudahan ;-). Biarpun masalah belum selesai tuntas, tapi sudah bikin gw bisa tersenyum.

Ternyata.. BANYAK sekali hal yang bisa bikin gw happy ya, yang selama ini gak gw perhatikan. Memang, gw (baca: kita?) sering sekali sibuk dengan batasan2 gw (baca: kita?) sendiri, sehingga lupa mengapresiasi hal2 kecil yang indah.

UPDATE malamnya:

Di perjalanan pulang, gw baru ingat bahwa beberapa minggu lalu seorang teman nge-SMS gw menjelang tengah malam cuma untuk tanya: define your happiness, please?. Waduh, pertanyaannya terlalu cepat beberapa minggu tuh.. HAHAHAHA.. BTW, Non, posting ini gak bermaksud nyontek ide loe tentang happiness sih, tapi entah ya.. kalau jejak2 ingatan gw terhadap SMS loe yang mengganggu jam tidur gw itu membuat antena gw lebih cepat menangkap kalimat si ibu responden ;-)

Wednesday, February 21, 2007

Apa Kata Wiki tentang Maya

Tadi malam nggak bisa tidur. Padahal udah baca buku yang bikin ngantuk, tapi malah segar.. hehehe.. Jadi gw browsing internet deh.

Berhubung buku yang dibaca tuh mengambil setting Ramayana, dimana kata maya, karma, samsara, moksha bertebaran dimana2, iseng2 gw nge-Wiki nama Maya. Ternyata.. banyak banget artikel tentang Maya di Wiki. Dan banyak banget hal menarik yang gw temukan dari nama gw tersebut.

Salah satu yang menarik, gw baru tahu bahwa ada bintang film porno asal Hungaria yang bernama Maya Gold. Bintang ini lumayan panas rupanya, kalau dilihat dari aksi2 apa yang membuat dia terkenal di bidangnya. Yang lucu, gw juga nemu bahwa nama Maya Gold dipakai sebagai merek coklat organik rasa jeruk. Nggak tahu juga deh, apakah merek ini memang diberikan karena mendapatkan inspirasi dari si bintang porno itu. Yang jelas, antara coklat dan bintang porno memang ada kesamaan: sama2 menawarkan kenikmatan indrawi.. HAHAHAHA..

Gw juga baru tahu bahwa Power Rangers yang kuning juga bernama Maya. Maya Mirinoi tepatnya. Hehehe.. kayaknya Power Rangers masuk Indonesia setelah gw gak tertarik film superhero, jadi gw nggak tahu bahwa masing2 Power Rangers punya nama manusia ;-). Eh, ternyata Yellow Ranger ini a wild woman lho, hehehe..

Selain itu, ternyata Jostein Gaarder, penulis Sophie's World, bikin buku berjudul Maya. Hmm.. lucu! Sophie's World merupakan sebuah buku yang menarik buat gw, dan ternyata sekarang pengarangnya bikin buku dengan nama gw sebagai judulnya ;-) Cari aaah.. :-)

Well, artikel yang memang gw cari dalam browsing kali ini adalah Maya (Illusion), karena memang lagi dalam konteks maya, karma, samsara, dan moksha. Ternyata.. isi artikelnya juga menarik banget buat gw. Antara lain dikatakan bahwa:

Maya is the phenomenal world of separate objects and people, which creates for some the illusion that it is the only reality. Maya is believed to be an illusion, a veiling of the true, unitary Self—the Cosmic Spirit. In Hinduism, Maya must be seen through in order to achieve moksha (liberation of the soul from the cycle of death and rebirth)

Hmm.. not a bad meaning for a name. I must say it is rather flattering.. HAHAHA.. Lucu juga, selama ini gw selalu tertarik pada the whys, selalu bertanya "kenapa?", dan ternyata nama gw sendiri berhubungan dengan sesuatu yang harus disibak untuk mendapatkan pemahaman yang jelas. Maya is something to be seen through, sesuatu yang mengecoh kalau nggak dilihat dengan hati2. A kind of test yang kalau berhasil akan mendatangkan karunia, dan kalau gagal akan membuat penderitaan bertambah.

Gilaaa.. gw nggak pernah tahu bahwa nama kecil gw punya arti sedahsyat ini.. hehehe.. Selama ini gw pikir Maya tuh artinya "tidak nyata" aja ;-) Sesuatu yang kabur, tidak punya bentuk pasti.. ternyata, "tidak nyata" di sini dalam konotasi bagus toh. Sesuatu yang menjanjikan hal yang lebih baik bagi yang benar2 berusaha.

Ada satu bagian menarik lagi di artikel ini. Maya as the Goddess. Dikatakan di situ bahwa:
In Hinduism, Maya is also seen as a form of Laksmi, a Divine Goddess.
Laksmi, dewi yang mengetahui masa depan, salah satu dewi utama dalam Hindu, ternyata disebut Maya juga. Cool, eh?

Dan fun trivia-nya: Laksmi adalah bagian dari nama ibu gw. Nggak nyangka aja, ternyata nama gw & nama ibu gw berhubungan erat ;-). Kirain cuma nama Ima & eyang kakungnya aja yang ditemukan kaitannya.

Tapi.. setelah semua hal menarik yang gw temukan, ada juga sih tentang Maya yang bikin gw rada down.. hehehe.. Yaitu artikel ini:
Maya was an hour-long U.S. adventure television series .. about an American boy searching for his missing father, a big game hunter. Raji's pet elephant, Maya, gave the series its name.
Hehehe.. gw inget waktu SD gw tuh sebeeeeeellll banget sama nama kecil gw. Soalnya nama Maya tuh pasaran banget, setiap angkatan ada minimal 1 orang. Gw sempat protes sama ibu, menuntut penjelasan kenapa gw dipanggil Maya, bukan dipanggil dengan nama depan gw.

Kata ibu, nama panggilan gw Maya karena waktu gw lahir ada film bagus yang gajahnya bernama Maya. Iiiih.. gw kira dulu itu jawaban bercanda lho, ternyata.. kalau di Amrik film ini diputar tahun 1967-1968, berarti kan diputar di Indonesia benar2 di jaman gw lahir ya?

Nah.. makanya, kalau sekarang potongan gw rada2 besar kayak gajah, blame it on my mom! Tega nian emak gw, anak perempuan semata wayang kok dikasih nama gajah. Biarpun gajahnya imut dan baik hati, teteup aja.. gajah gitu lho! HAHAHAHA..

UPDATE 24 Februari 2007:

Eh.. ternyata ditambahin penjelasan arti nama gw oleh ahlinya. Kutipan penjelasan yang diambil dari komentar ini:

The world is maya, and God has created it. It exists as a means by which to conceal and as a means by which to reveal. The world as illusion provides us with a context in which to understand the world to come. It is the womb of the next world, and our development here is crucial to attain to that world fully. In this sense, maya is unquestionably good. Also, maya serves God's purpose by veiling us from truths we cannot yet bear. This too is good.
Finally, maya can be bad if we look upon the veil and find nothing beyond it, nothing behind it, forgetting even the Creator of it. When this happens, we tie ourselves to the illusion without understanding the true purpose of that illusion and deriving from it none of its benefits.
Maya essentially is the outward expression of an inner state; though it represents that inner state, it is not the inner state itself. After all, Maya was the name of the mother of the Buddha

Thanks, Da'ud, for sending such a beautiful interpretation of my name ;-) Hope it helps people to understand the universe ;-)

Tuesday, February 20, 2007

Menulis itu Gampang

Saya hanya ingin bilang bahwa setiap orang berhak menulis! Tak ada yang melarang itu. Kadangkala, menulis diasosiasikan ke dalam kredo, “Saya Menulis maka itu saya ada.” Maksudnya, menulis adalah sebuah eksistensi.

Persoalannya adalah apakah tulisan kita bermanfaat bagi pembaca? Apakah, dengan membaca tulisan kita, pembaca mendapat sebuah pengalaman baru, pengetahuan baru?

Menulis memang gampang tapi menulis sesuatu yang bermanfaat bagi pembaca, ini yang sangat sulit. Artinya, seorang penulis harus berpengetahuan dan berwawasan yang luas. Menulis itu gampang jika tulisan kita hanya berisi: unek-unek, pengakuan ke-diri-an atau egosentris, dan hanya sekadar sebagai pelarian.

(dikutip dari sebuah komentar yang saya temukan di search engine)
Waktu menemukan komentar itu beberapa bulan lalu, gw spontan aja menyimpannya. Nggak tahu mau gw apain simpenan ini, tapi gw seneng aja bacanya. Pada intinya mewakili perasaan gw tentang menulis. Menulis itu gampang,.. or is it really?

Gw pernah baca di suatu tempat bahwa sekarang rumus 5W+1H itu sudah ketinggalan jaman. Rumus yang baru adalah 5W+1H=1SW. Artinya: setelah menjabarkan what, when, where, who, why, dan how, kita mesti sampai pada kesimpulan so what? Semua orang bisa memasukkan 5W+1H dalam tulisan mereka; tapi 1SW lah yang benar2 membedakan tulisan yang satu dengan tulisan yang lain. So what merupakan hasil pemikiran yang disumbangkan si penulis pada tulisannya.

Gw setuju banget dengan rumus baru tersebut. Dan gw menganggap bahwa sebuah tulisan tidak lengkap tanpa 1SW. Apa pun bentuk tulisannya – mau buku yang diterbitkan resmi sampai sekedar blog – baru komplit ketika dilengkapi dengan 1SW. Until then, it is not so much different from paraphrasing the news. Nggak banyak manfaatnya bagi pembaca, karena topik yang sama bisa mereka dapatkan di tempat lain. After all, mengutip kata seorang teman:

You search for a string on Google -- yeah, right, like... Dude, where else! -- and you'll likely end up with thousands of blogs having discussed that topic left, right, center, then back to left (and right and center) again. You read two different blogs by two different authors and you'll probably find at least one common topic that both have written about.

(dikutip dari sini, tanpa ijin, tapi gw yakin penulisnya nggak keberatan. Bukan begitu, Itsy Bitsy Spider?)

Kalau tulisan loe nggak punya 1SW, maka loe cuma nggocek bola kiri, kanan, tengah, balik ke kiper, tendang lagi ke pemain belakang.. kapan gol-nya?

Nah.. lantaran gw setuju bahwa 1SW adalah bagian paling sulit dalam menulis, gw jadi setuju juga bahwa menulis yang bermanfaat bagi pembaca itu sangat sulit. After all, 5W+1H itu tersedia dalam bentuk data, atau setidaknya bisa dicari datanya melalui investigasi. Sedangkan 1SW? Hmm.. ini murni hasil dari analytical thinking ability atau intuitive assessment ability; nggak bisa dicari dimana2, hanya bisa dibuat sendiri dalam kepala (atau hati – whichever you use more ;-)).

Yang jadi masalah, sekarang gw jadi ragu2: benarkah 1SW itu datangnya dari si penulis? Atau sebenarnya 5W+1H saja sebenarnya sudah cukup, karena 1SW itu adalah bagiannya pembaca?

Ada 2 hal yang bikin gw tiba2 meragukan bahwa seorang penulis harus memberikan 1SW dalam tulisannya. Yang pertama cukup self-confidence boosting: seorang teman tiba2 bilang bahwa omongan gw bikin dia tersedak dan terlempar ke dalam deep thought. Bikin dia berkata dalam hati, “Iya juga ya?”. Padahal, swear, omongan gw itu hanya omongan sambil lalu. Nggak pakai landasan teori ataupun referensi seperti yang sering gw lakukan di posting.

Pengalaman yang kedua adalah cerita seorang teman tentang sebuah blog yang dikaguminya. Dia merasa belajar banyak dari blog itu. Masalahnya.. I happen to know that particular blog, and it is a typical “documenting my daily lives” one. (lagi, sebuah istilah yang gw pinjam tanpa ijin dari si Itsy Bitsy Spider dari tautan di atas ;-)). Deskriptif murni 5W+1H, tapi tetap ada yang merasa mendapatkan 1SW dari situ.

Nah.. jadinya gw bingung deh! Dua pengalaman di atas menunjukkan pola bahwa 1SW itu datangnya bukan dari pengucap (=penulis), tapi dari penerima (=pembaca). Jadi.. rumus jurnalistik mana yang harus gw pakai nih? Yang pakai atau yang tidak pakai 1SW?

Anyway.. mungkin balik ke motif menulis aja kali ya? Kalau menurut George Orwell dalam essay-nya, ada 4 motif besar dalam menulis. Keempat motif ini ada dalam setiap diri orang yang menulis, dengan derajat yang berbeda2:
  1. Sheer egoism (= desire to seem clever, to be talked about)
  2. Aesthetic enthusiasm (= perception of beauty in words and their right arrangement)
  3. Historical impulse (= desire to find out true facts and store them up for the use of posterity)
  4. Political purpose (= desire to push the world in a certain direction).
Nah.. perlu tidaknya 1SW lebih berkaitan dengan motif apa yang dominan dalam diri si penulis.

Rasanya aesthetic enthusiasm dan historical impulse adalah motif yang tidak dominan dalam diri gw.. hehehe.. soalnya kalo dominan mungkin sekarang gw udah nulis puisi, atau udah jadi pengikutnya Pramoedya Ananta Toer yang detil banget menceritakan true facts dalam setiap karyanya.

Kayaknya motif yang dominan buat gw adalah political purpose; karena – seperti tertulis di awal tulisan – gw merasa tulisan yang baik itu harus memberikan kesimpulan a.k.a direction bagi pembacanya. Terserah direction itu diikuti, atau dijadikan bahasan lebih lanjut, yang penting direction-nya harus ada. Dan direction itu baru muncul kalau ada 1SW dari si penulis, bukan dilepas begitu saja bagi benak pembaca. Jadi motif dominannya adalah political purpose, mutlak 1SW harus datang dari penulis.

Atau ada yang menganggap motif utama gw sheer egoism? Well.. that’s for you to judge, and for me to deny.. HAHAHA..

Saturday, February 17, 2007

The Girl who doesn't want to Walk with God

Lantaran Mbak Evy cerita tentang spelling bee disini, gw jadi ingat sebuah film yang belum tuntas gw tonton. Judulnya Bee Season. Waktu itu gw hentikan menontonnya karena ngerasa ceritanya kurang asyik. Mungkin karena gw merasa tertipu oleh sinopsisnya, yang mengindikasikan bahwa film ini bertema psikologi - dengan menyebut "divert their emotional frustrations into secret channels" dan "what have been stable dynamic within family becomes disrupted".

Hehehe.. dari sinopsisnya, kesannya film tentang keluarga patologis banget kan? Makanya, bete banget ketika sampai setengah film kepatologisan dan kepsikologisannya gak muncul dgn jelas.

Ternyata, memang ceritanya bukan tentang sisi psikologis sebuah keluarga. Inti ceritanya lebih pada interaksi spiritual seorang anak kecil (Eliza Neumann) dengan Penciptanya. Keadaan keluarga, lebih merupakan latar belakang untuk membangun cerita saja. Tema ini baru terungkap jelas di akhir cerita, sekitar 25 menit terakhir - dimulai saat Eliza kecil mengalami kejang dan pingsan setelah membaca The Ancient Book of Kaballah, hingga dengan sengaja membuat dirinya kalah dalam babak penentuan kejuaraan mengeja nasional.

Untuk mengerti konteksnya, mungkin gw cerita sedikit tentang alur cerita film ini.

Ketika Eliza memenangkan babak demi babak spelling bee (= perlombaan mengeja) dan menjadi pemenang termuda dalam sejarah, ayahnya merasa bahwa Eliza mungkin adalah The Chosen One. Ayahnya memang mendalami kaballah, bagian dari Yahudi yang percaya bahwa sebagian manusia terpilih diberi "jalur khusus" untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Orang2 ini, the chosen one (kaballist), secara harafiah bisa berkomunikasi langsung dua arah dgn Tuhan. Kurang lebihnya, the chosen one ini menjadi seperti Nabi, karena mereka dipercayai "walk with God" (dalam arti harafiah).

Semakin tinggi babak yang dimenangkan Eliza, semakin yakin sang ayah bahwa anaknya adalah seorang kaballist. Dengan persiapan2 menuju kejuaraan nasional, terjadi banyak perubahan pada keluarga yang masing2 anggotanya punya luka batin ini. Kestabilan semu yang tercipta dalam keluarga perlahan2 runtuh, dan Eliza menyalahkan dirinya sebagai penyebab. Dalam kalutnya, dia ingat ayahnya pernah menunjukkan buku kaballah kuno; yang kata2 di dalamnya reach the ears of God. Dibacanya buku itu, dan kejang (lantas pingsan) lah dia.

Adegan selanjutnya dia sengaja salah mengeja pada babak penentuan kejuaraan nasional. Sengaja, karena "origami" adalah kata yang sudah pernah diejanya berulang kali. Pun, saat akan mengeja "origami", Eliza mendapat vision berupa burung yang terbang ke atas huruf2 yang benar. Tetap saja, dia mengucapkan huruf terakhir sebagai "Y", walaupun dia tahu dan sudah mendapatkan petunjuk spiritual bahwa huruf terakhir adalah "I".

Yang menarik adalah alasan yang dikemukakan dalam narasi seusai kekalahan:
"My father told me once that I could reach the ears of God; that words and letters will guide me to reach beyond myself, to know the world all we can't. And like the mystic, God will follow through me.. And we'll be together"
Kalau gw nggak mendengar dengan seksama narasi terakhir ini, mungkin gw akan tetap menganggap film ini membosankan dan nggak jelas. Mungkin gw juga akan terjebak menjadi penulis sinopsis film yang menganggap film ini adalah film tentang keluarga patologis. Terjebak dengan definisi gampang bahwa Eliza sengaja kalah karena dia cinta pada keluarganya dan menganggap kekalahan sebagai jalan terbaik untuk mengembalikan kestabilan keluarga. Seperti tagline standard yang dipakai untuk film ini: Words may define us, but it's love that connects us.

Tapi.. lantaran narasi terakhir di atas, gw akhirnya menganggap film ini insightful. Ini bukan film yang menceritakan cinta terhadap keluarga - terlalu dangkal untuk menyangkanya begitu - tapi merupakan film tentang pencapaian spiritual seorang individu.

Somehow, gw menganggap Eliza mundur karena something happens during her unconsciousness. Kejang dan pingsan itu adalah trance yang membawanya ke alam lain, dimana dia mendapatkan suatu insight. Apa sebenarnya insight yang didapatnya, kita tidak tahu. Bisa jadi dia mendapatkan petunjuk bahwa dia benar2 the chosen one, dan sengaja membuat dirinya kalah sebagai bentuk penyangkalan. Bisa jadi dia mendapat petunjuk bahwa dia bukan the chosen one, bahwa kemenangannya adalah kemenangan manusia biasa, dan karenanya memutuskan untuk kalah sebelum dirinya benar2 "dikultuskan". Atau bahkan insight yang lebih sederhana: bahwa benar/tidaknya dia the chosen one adalah rahasia Tuhan yang tidak boleh diutak-atik manusia, dan selama ini keyakinan ayahnya sudah cukup merupakan campur tangan yang terlalu besar terhadap rahasia Tuhan. Apa pun insight yang didapatkannya, hal itu membuat Eliza memutuskan untuk berhenti. Dia tidak mau [dianggap oleh manusia lain sebagai] walk with God, be together with God, and become the vessel where God follow through.

"Kerendahan hati" ini yang membuat film ini sangat menarik buat gw. Biasanya, manusia yang sudah ada di puncak tidak tahu kapan harus berhenti. Sekali sudah menuju puncak, dia tak bisa berhenti sebelum conquer all. Di suatu titik, manusia bisa merasa menjadi yang paling hebat bahkan tak jarang merasa lebih hebat daripada Tuhan. Menarik sekali betapa Eliza kecil punya kerendahan hati untuk memutuskan berhenti - entah karena merasa terlalu kecil untuk berada di dekat Tuhan, sadar bahwa ada hal2 yang tidak boleh dicaritahu lebih jauh, atau karena supaya tidak dikultuskan oleh manusia lain.

Film ini membuat gw teringat alasan seorang teman penulis untuk menyembunyikan identitas dirinya. Tulisannya bagus dan "dalem banget", sangat sarat filsafat dan read between the lines dari berbagai agama2 besar dunia. Sayang, dia tidak suka orang tahu siapa dirinya. Alasannya sederhana: dia ingin orang fokus pada tulisannya, bukan pada siapa penulisnya, karena dia tidak ingin orang berpikir bahwa dia punya esoteric knowledge atau "jalur khusus" menuju Tuhan. Dia tidak ingin dikultuskan.

Senang sekali melihat masih ada orang2 seperti ini di dunia. Orang2 yang tahu kapan harus berhenti. Semoga gw bisa menjadi seperti mereka, dan.. jika (mudah2an tidak akan pernah) suatu hari kelak langkah gw salah, orang2 ini akan menjadi mercusuar yang menunjukkan jalan yang benar.

Thursday, February 15, 2007

One Valentine's Day

Gw TIDAK pernah merayakan Valentine's Day.

Bukaan.. bukan karena gw termasuk kelompok yang men-
dismiss perayaan Valentine sebagai budaya agama tertentu . Bukan juga karena gw merasa setiap hari adalah hari kasih sayang, sehingga tidak perlu ada satu hari khusus untuk merayakannya. To tell you the truth, setiap hari adalah hari untuk menjadi lebih baik buat gw.. hehehe.. toh, gw tetap butuh Idul Fitri untuk merayakannya ;-). Alasan gw nggak merayakan Hari Valentine adalah: karena gw pelit! Hehehe.. Gw nggak ngerasa perlu mengeluarkan sejumlah [besar] uang, menjadi konsumtif, untuk merayakan sesuatu. Dan kebetulan, suami gw juga bukan sejenis orang yang suka perayaan2, apalagi perayaan dengan gaya romantis2an.. hehehe.. Klop dah! Hari Valentine selalu datang dan lewat begitu saja buat kami.

Tapi.. karena ternyata gw punya anak yang rada2 gaul kronis (
the gene she inherited from her grandmother - my mom, that is), sudah 2 tahun terakhir ini gw harus siap menerima ucapan Happy Valentine's Day dari Ima. Maksudnya: harus siap membalas hadiahnya dengan hadiah lain.. hehehe.. Namanya juga anak2, senengnya dikasih hadiah.

Dan kesiapan gw ternyata beralasan. Turun dari mobil kemarin, 14 Februari 2007, Ima langsung teriak, "
Happy Valentine's Day, Ibu. Aku punya hadiah buat kamu".

Hadiahnya Ima berupa sebuah puisi buatannya sendiri. Judulnya "Bunda", ditulis di selembar kertas surat bermotif
Sleeping Beauty. Sementara hadiah gw? Well.. karena nggak sempat beli apa2, gw kasih aja permen coklat hadiah dari temen gw. Maaf deh, Nak, secara ibunya nggak seneng palentinan, hadiahnya daur ulang aja ya ;-).

Yang bikin
Valentine tahun ini mencengangkan adalah pertanyaannya Ima setelah acara tukar kado dan saling puji kado selesai:
"Ibu, emang bener ya, kalau kita ngerayain Valentine, berarti kita bukan orang Islam?"
Hmm.. gw langsung garuk2 kepala. Gw tahu ini pasti penjelasan dari guru kelasnya. Tidak seperti guru kelas di kelas I, guru yang sekarang sudah agak berumur dan konservatif. Gw udah tahu harus njawab apa, tapi bingung gimana memformulasikan jawaban supaya Ima nggak mengalami konflik antara penjelasan gurunya dan penjelasan ibunya.
"Memang siapa yang bilang, Mbak? Bilangnya apa?"
*Akhirnya gw cari jalan aman. Cari tahu dulu gurunya bilang apa, baru menyesuaikan jawaban melalui analogi yang sesuai.*
"Kata Bu Ida, asal mulanya Valentine itu karena ada pendeta Kristen yang dibunuh. Jadi kalau kita merayakan Valentine, kita bukan orang Islam"
Yaah.. sebenernya sih sampai di sini gw pingin memberikan sedikit pelajaran sejarah pada ibu gurunya Ima ;-). Soalnya.. St Valentino itu Katholik, bukan Kristen. Gw nggak inget dia rohaniwan atau bukan, tapi berarti yang jelas bukan pendeta karena dia Katholik ;-). But.. since I'm busy raising a child who I expect to have critical thinking ability [and become a free of prejudice person] here, terpaksa keinginan itu gw tahan. Gw abaikan detil2 yg bikin gw gatal ini dan fokus pada masalah besarnya:
"Gini, Mbak Ima. Kita kalau shalat menghadap ke mana? Ka'bah. Mbak Ima tahu, ka'bah dulu pernah dijadikan tempat berhala? Tapi kenapa kita tetap shalat menghadap ka'bah, padahal kita nggak boleh menyembah berhala? Karena.. ka'bah sudah bukan tempat berhala lagi. Yang dulu ya dulu, yang sekarang ya sekarang. Nah.. Valentine juga gitu. Pertamanya hari Valentine dirayakan karena ada St Valentino lebih baik mati daripada murtad. St Valentino sangat cinta sama agamanya. Tapi.. sekarang orang merayakan Valentine bukan untuk mengingat St Valentino lagi atau cinta pada agama lagi. Valentine's Day sudah dijadikan hari cinta, cinta kepada siapa saja"
Well.. mungkin analogi yang gw kasih nggak tepat. Tapi ini penjelasan yang terpikir oleh gw dalam waktu singkat, yang kira2 aman buat semua. Aman buat bikin Ima nggak merasa bersalah dengan kegaulannya, sekaligus membuat Ima tidak menganggap enteng penjelasan gurunya ;-). Susah juga gw kalo Ima jadi nggak hormat dan nggak mau mendengarkan gurunya lagi.. hehehe.. or on the other hand: menganggap gw tidak perlu didengarkan lagi karena penjelasannya bertolak belakang sama gurunya ;-).

Lepas dari asal-usulnya,
Valentine's Day menurut gw sudah jadi sekedar momen untuk senang2 (dalam arti yang baik). Dengan demikian, gw nggak melihat pentingnya melarang anak gw merayakannya, asal nggak berlebihan. Kasihan sekali melarang seseorang bersenang2 hanya karena atribut kecil yang sudah tidak relevan.

Dan lagi.. kalaupun (catat: kalaupun ya.. ;-)), kalaupun merayakan kasih sayang itu masih dianggap sebagai bagian dari keagamaan, apakah lantas salah kalau kita menirunya? Gw rasa ajaran yang berbunyi "janganlah mengambil pemimpin dari luar kaummu" tidak harus direduksi menjadi makna harafiah bahwa kita sama sekali tidak boleh meniru semua yang dilakukan oleh orang yang tidak seajaran dengan kita. Kalau yang baik2, apa salahnya ditiru? Toh kita juga dianjurkan untuk "mencari ilmu hingga ke negeri Cina". Entah apa maksud sebenarnya, tapi saat anjuran ini diberikan, negeri Cina bukanlah tempat "kaummu".. ;-). Ini artinya kita boleh belajar (baca: meniru) dari orang lain yang tidak seajaran dengan kita kan ;-)?

Kembali ke intinya: merayakan kasih sayang itu baik atau jelek? Kalau setuju bahwa hal itu baik, ya.. mari kita rayakan seperlunya tanpa meributkan asal-usulnya ;-)

Belated Happy Valentine's Day!

UPDATE 17 Februari 2007:

Ngomong2, tiba2 gw ingat analogi yang lebih tepat untuk kasus Valentine ini. Mudik Lebaran ;-). Asal muasalnya mudik adalah karena dalam Idul Fitri kita saling bermaafan dan bersilaturahmi. Karena tinggal berjauhan, jarang bisa pulang, maka lebaran dijadikan legitimasi untuk bisa pulang kampung. Akhirnya, setiap lebaran terjadi eksodus besar2an ke kampung halaman. Akhir2 ini, temen2 gw yg kalo lebaran rumahnya jadi nggak ada pembantu sama sekali, ikut2an mudik sekalian. Padahal dia nggak lebaran. Tapi.. kalau dia mudik, tidak lantas dia berubah agama kan ;-)? Just a naughty thought of mine ;-)

Tuesday, February 13, 2007

From Guantanamo to Paradise Now

Dari kemarin mau ngerjain PR dari Mbak Evy, tapi kok ya tetap kena writer’s block. Yah.. itulah masalahnya jika menulis mengikuti emotional push. Giliran diminta ngebahas sesuatu yg mood-nya belum dapat, ya nggak bisa ;-). Jadi PR-nya ntar ya, Mbak, mesti cari the muse dulu ;-)

Meanwhile, yang keluar dari jari malah tulisan tentang ini:

Sampai setengah buku, gw rada bosan membaca Neraka Guantanamo (M. Begg, ditulis bersama V. Brittain). Tidak ada ketegangan setinggi Schindler’s List (T. Keneally), atau kengerian seintensif The Gulag Archipelago (A. Solzhenitsyn). Memang, Moazzam Begg disiksa oleh tentara Amerika. Tapi.. tanpa mengecilkan penderitaan Pak Begg, siksaan itu tampak seperti gelitikan saja jika dibandingkan dengan kekejaman Nazi atau KGB. Menjadi isyu lebih karena pelakunya Amerika (yang biasanya berkoar tentang human right), bukan karena perilaku luar biasa kejam. Ditendang, ditaruh dalam sel ukuran 6x8 kaki (1.8 x 2.5m), tidak boleh tidur, nggak boleh ngomong, dilecehkan.. sounds like [maaf] the standard-yet-mild-degree of torture dalam kondisi perang.

Ada juga sih, hal baru yg gw dapat dari sini. Seperti misalnya: ternyata kamp di Guantanamo menjadi notorius tidak sepenuhnya disebabkan karena arogansi Amerika, atau kebencian terhadap Islam. Kekejaman di sana sedikit banyak disebabkan kebodohan. Banyak tentara Amerika yang merupakan tentara cabutan, hanya bertugas 2-6 minggu per tahun. Tentara2 ini diambil dari orang2 yang bahkan bahasa Inggrisnya lebih jelek daripada gw (judging from their limited vocabulary, and the way they spell some English words ;-)); orang2 yang belum tentu lulus High School, seumur hidupnya tidak pernah keluar dari negara bagiannya, dan mungkin nggak bakal pegang paspor kalau nggak menjadi tentara cabutan.

So, setidaknya buku ini mengubah persepsi gw yang kadang menggeneralisasikan pandangan politik pemerintah Amerika Serikat dengan rakyat Amerika Serikat. Dan bikin gw diem2 ngakak: ternyata Amrik lebih parah daripada Indonesia.. hehehe.. di Indonesia mah kita cuma kenal supir [angkot] batangan, eh, di sana malah ada tentara batangan.. HAHAHAHA..

Tapiii.. pandangan gw terhadap buku ini benar2 berubah ketika menemukan percakapan tentang bom bunuh diri berikut ini:

“Nah, Moazzam, apa pendapatmu tentang bom bunuh diri?”

“Serangan bunuh diri bukan fenomena baru,” aku memulai, “dan jelas bahwa itu tidak eksklusif di dunia Muslim. Fenomena ini adalah produk dari situasi ekstrem, upaya terakhir, ditambah oleh keyakinan teguh untuk melawan penindasan, dengan senjata terakhir: nyawa. Tak seorang pun, Muslim atau bukan, yang dengan sadar mengorbankan nyawanya, menganggapnya sebagai sebuah tindakan jahat – karena dia melakukannya demi keluarga, teman, tanah air, atau keimanan. Ada perbedaan pendapat di antara para ahli fiqih. Sebagian sepenuhnya menolaknya, dengan mengutip pernyataan Al Quran yang dengan tegas melarang bunuh diri, dalam keadaan apa pun. Ahli fiqih lainya menukil contoh yang terjadi pada masa awal Islam, yaitu para tentara yang menyerang pasukan musuh yang jumlahnya jauh lebih banyak – itu berarti mereka dengan sengaja menyebabkan kematian mereka sendiri. Tentu saja dalam kasus ini, musuhlah yang membunuh mereka. Bagaimana menetapkan kasus itu pada masa sekarang juga menimbulkan perdebatan seru, terutama di wilayah-wilayah yang dijajah seperti Palestina dan Chechnya. Saya pikir, pada prinsipnya, tidak banyak bedanya antara menjatuhkan smart bomb dari ketinggian 20.000 kaki di angkasa, yang biasanya membunuh banyak penduduk sipil, yang Anda sebut sebagai collateral damage, dan seseorang yang membunuh penduduk sipil dengan bom di restoran..”

”Jadi kamu setuju dengan seseorang yang punya ’tujuan yang benar’, memasuki sebuah mal, dengan 40 pound TNT terikat di sekeliling tubuhnya, menunggu saat yang tepat untuk membunuh sebanyak mungkin orang kafir?” katanya,

”Tidak, saya tidak setuju. Tapi isunya bukan cara yang dipakai. Isu yang penting adalah targetnya. Saya percaya secara kategoris menjadikan penduduk sipil target dalam operasi militer adalah salah. Seperti juga melakukan carpet bomb atas penduduk sipil.. pada area yang dicurigai menjadi markas musuh, hanya karena para pengebom, dalam pesawat B52 mereka, tidak harus melihat wajah korban-korban mereka”

(Begg, Neraka Guantanamo, hal.239 – 230)

Mendadak sontak, gw merasa mendapat pencerahan ;-)

Sebenarnya pencerahan yang mirip sudah gw dapatkan saat menonton Paradise Now. Film Palestina pemenang beberapa penghargaan ini menceritakan sisi lain terorisme menggunakan bom bunuh diri: sisi pelakunya. Mengharukan sekali melihat ”pejuang yang terpilih” melewati hari terakhir bersama keluarganya, menguatkan hati mengucap ikrar di depan rekaman terakhir. Gw sempat mematikan film karena terharu ketika kedua pejuang terpilih ini dimandikan [seperti memandikan jenazah] dan melakukan shalat jenazah. Tapi yang paling bikin ”mak nyess” adalah adegan ketika Said ragu2 menaiki bis kota yang penuh berisikan penduduk sipil yang ”bukan targetnya”. It’s not an easy decision for them, but still they have to carry on.

Kalau sempat, nonton deh film itu. Bener2 bagus! Kalau nggak suka genre-nya, baca review menariknya di sini.

Tapi.. dengan buku dan film ini, gw jadi lebih bisa melihat bahwa segala sesuatu itu tidak hitam putih. Pun dalam kasus terorisme dengan bom bunuh diri

Selama ini kita selalu terfokus pada bayangan kita sendiri tentang detik2 terakhir: si pelaku bertatap mata dengan calon korbannya, menarik sumbu ledak, dan meledaklah mereka bersama2. Dalam bayangan kita, hal ini terlihat kejam sekali, pembunuhan berdarah dingin, karena hanya orang yang kejamlah yang tega melihat korbannya mati.

Dengan bayangan2 itu, kita selalu lupa melihat dari sisi si pelaku. Kita cenderung mengambil sikap bahwa si pembunuh pasti menikmati aksinya. Pasti melakukannya dengan senang hati, tanpa memikirkan orang lain. Kita selalu lupa melihat kemungkinan lain: bahwa ini adalah suatu keputusan berat, suatu upaya terakhir jika tidak punya senjata lagi. Karena mereka tidak punya pesawat tempur untuk menjatuhkan bom, mereka terpaksa membawa sendiri bom tersebut ke titik ledak. Bukan karena mereka menikmati meledakkan sambil menatap mata korban. Mekanismenya lebih mirip pejuang kemerdekaan RI yang menggunakan bambu runcing; bukan karena mereka menikmati menusuk perut musuh, tapi karena mereka tidak punya senapan.

Don’t take me wrong.. di sini gw bukan mau mendukung gerakan terorisme. Gw tetap masih menganggap bahwa bunuh diri itu dilarang. Nggak perduli alasannya karena putus asa atau demi memperjuangkan sesuatu. Tapi.. dengan buku dan film ini, gw jadi lebih bisa melihat bahwa segala sesuatu itu tidak hitam putih. Pun dalam kasus terorisme dengan bom bunuh diri.

Dan seperti biasa.. kalau gw udah mikir2, maka imajinasi gw bisa meluas kemana2.. hehehe.. Gw jadi mikir: kedua tokoh dalam Paradise Now memang sedang dalam keadaan berperang. Lepas dari apa kata kitab suci, de facto-nya Palestina sudah didiami bangsa Arab berabad2, dan Yahudi baru berpikir untuk kembali setelah holocaust. Suka nggak suka, ini kelihatan seperti agresi dan penjajahan. Oleh karenanya, gw sangat bisa memahami konteks mengapa Said & Khaled (kedua tokohnya) melihat nyawa sebagai senjata terakhir untuk membela negara.

Yang jadi masalah adalah bom di Indonesia. Apakah kita dalam keadaan perang? Apakah nyawa sudah menjadi senjata terakhir untuk menyelesaikan perbedaan? Biarpun pemerintah nggak puguh mengatasi banjir, kayaknya masih belum perlu kita mengambil tindakan sendiri2 dengan bom bunuh diri.

Dan gw juga tambah mikir.. kalau bom bunuh diri di Indonesia tidak sebanding dengan yang di Paradise Now, bandingan yang cocok apa ya? Jangan2 malah lebih sebanding dengan ”menjatuhkan smart bomb dari 20,000 kaki di angkasa lantaran mengira bahwa desa itu penuh dengan jaringan teroris”? Iya, kalau nge-bomnya adalah di cafe dan di mall, hanya karena menengarai bahwa di situ banyak turis asing, kan sama konyolnya dengan the collateral damage. Bukan merupakan upaya puncak dengan nyawa sebagai senjata terakhir, melainkan membunuh penduduk sipil dengan data yang tidak akurat.

Friday, February 09, 2007

Researching My Blog

Ada satu pertanyaan yang menurut gw lebih susah dijawab daripada: duluan mana, ayam atau telur? Kalau yang itu sih jawabannya gampang: pasti duluan ayam, karena kalau ada telur duluan, siapa yang mengerami? Kalau ayam kan bisa dibikin langsung oleh Tuhan. Masih ada yang ngeyel bilang telur ada duluan? Yeee.. ngapain juga Tuhan bikin telur yang harus susah2 dierami dulu supaya jadi ayam, kalau dengan effort yang sama Dia bisa langsung bikin ayam ;-)?

Jadi apa dong pertanyaan yang lebih susah daripada itu? Adaaaa! Pertanyaannya: May, loe suka ngutak-utik data karena kerja jadi researcher, atau loe jadi researcher karena suka ngutak-utik data?

Pertanyaan itu, swear, masih susah gw jawab.. hehehe.. Soalnya, sebelum kecemplung di bidang ini, gw gak pernah kebayang pingin jadi researcher. On the other hand, niat iseng2 gw kerja di bidang riset sambil nungguin turunnya ijin praktek, kok ya keterusan lantaran tugas2nya sesuai dengan hobby gw main teka-teki. Niatnya cuma 6 bulan, eeeh.. sekarang udah 10 thn di bidang ini.

Yup! Gw emang seneng banget main teka-teki, sampai kalau udah kehabisan bahan gw men-teka-teki-kan hal2 yang harusnya nggak usah dipikirin.. hehehe.. Seperti Juli lalu, misalnya, gw iseng2 menganalisa hubungan antara komentar dan kebermaknaan blog. Bener2 iseng, nggak pakai perangkat yang memadai.. hehehe..

Sampai sekarang gw masih penasaran sama teka-teki yg itu. Makanya, waktu bapaknyaima menyarankan nambahin Google Analytics di sini, dengan semangat langsung gw lakukan. Memang, belum bisa kasih detil hasil yg gw harapkan, namun data2nya lebih komplit untuk diutak-atik.

*Bapaknyaima mahfum banget bahwa istri tercintanya (tsah! tercinta!) tergila2 pada data.. hehehe.. Maklum, dia dulu juga merupakan bahan penelitian gw. Kalau gw belum bisa menolak semua hipotesa nol tentang dia, mana mau gw dipacari, apalagi diajak nikah.. hehehe.. *

Google Analytics tuh apaan sih? Ini adalah perangkat lunak dari google untuk mendapatkan data tentang bagaimana pengunjung menemukan blog kita, dan bagaimana mereka berinteraksi dengan blog kita. Tampaknya perangkat lunak ini disediakan untuk memenuhi kebutuhan para pemilik situs professional, yang harus memantau keberhasilan situsnya. Tapi.. lantaran gratis, kita2 bisa pakai juga.

Buat gw yang maniak data ini, Google Analytics sangat menarik! Data2nya komplit! Beberapa data sudah dikeluarkan dalam bentuk chart, seperti: darimana saja pengunjung mendapatkan blog gw, di mana saja lokasi pengunjung blog gw, keywords apa saja yang dipakai sehingga dari googling bisa mampir ke sini, entry mana saja yang dibaca, bahkan berapa menit lamanya entry gw dibaca.

Data kemarin, misalnya, menyebutkan bahwa dalam seminggu terakhir 393 pengunjung segera kabur dalam waktu up to 10 seconds. Rata2 pengunjung menghabiskan waktu 3 - 10 menit untuk membaca (48 orang), 10 - 30 menit (43), atau speed reading 1 - 3 menit (21 orang). Yang lucu.. ada 12 orang yang mantengin blog gw selama lebih dari 30 menit.. hehehe.. Secara gw jarang nulis dari situsnya (biasanya entry gw kirim via email), maka bisa gw bilang yg 12 orang ini tidak termasuk gw.

Nah lho, kalau lebih dari 30 menit, sebenarnya mereka2 ini lambat membaca atau segitu ngefansnya sama gw sampai blog gw gak ditutup2? HAHAHAHA.. Hayo, para secret admirers gw pada ngaku ya ;-) *narsis mode: ON*

Lantas, gunanya apa, kalau gw punya data2 ini? Kan blog gw bukan blog profesional, dan gw gak perduli traffic?

Yaah.. mungkin gunanya lebih sebagai feedback gw ya? Menulis, biar bagaimanapun, adalah suatu proses belajar. Dan yang namanya belajar tuh perlu dapat input tentang hasil belajarnya. Dengan data2 ini kan gw bisa tahu (setidaknya bikin asumsi lebih lanjut) tentang apa dan kenapa blog gw dikunjungi, apa dan bagaimana gw harus memperbaikinya.

Kalau makin banyak orang yang kabur dalam 10 detik pertama, misalnya, berarti tulisan gw memang bikin orang gak berminat baca lebih lanjut. Entah topiknya gak asyik, atau penyampaiannya gak OK. Baca lagi data tentang entry apa yg mereka kunjungi, entry keluarnya, kapan masuk, kapan keluarnya, dan bikin crosstab tentang data2 itu.

Kalau 3 - 10 menit nongkrong di blog gw kayaknya wajar, secara tulisan gw panjang2. Kalau makin banyak yang nongkrong lebih dari 30 menit, mungkin bapaknyaima yang harus mulai khawatir.. HAHAHAHA..

Ohya, buat 380 orang yang sudah mengunjungi gw hari ini (terdiri dari new visitors dan those who return after previous visit in one day), gw ucapkan terima kasih sebanyak2nya. Makasih juga untuk yg balik antara 1-3 hari terakhir (92 orang). Berdasarkan data hari ini, hanya 17 pengunjung yang baru datang lagi setelah 2 minggu atau lebih ;-) Makasih ya.. omelan dan gerutuan gw ada juga yang baca ;-) Semoga ada gunanya buat Anda2 semua :-)

RALAT 9 Februari, Malam:

Sebelum orang2 tercengang melihat angka 380, gw ralat dulu! Ternyata gw salah masukin data dari Visitor Recency, padahal gw mestinya ambil dari Daily Visitor ;-). Yang benar: ada 129 pengunjung hari ini ;-) Angka 380 adalah jumlah pengunjung (dalam 1 minggu) yang kunjungan baliknya dilakukan dalam waktu kurang dari 24 jam. Data selanjutnya juga dari visitor recency, jadi 92 kunjungan balik dalam jangka 1-3 hari, dan hanya 17 kunjungan balik yg berjarak antar kunjungan 2 minggu/lebih. Maaf atas kesalahan data ;-) Lieur, euy, bacanya ;-)

UPDATE 12 Februari:

Sepanjang akhir pekan, gw sempat dapat insight lain: Google Analytics membuat gw merasa menjadi Big Brother dalam 1984 (G. Orwell). Dulu, pas gw baru baca buku ini, gw sempat mengangankan betapa asyiknya dia, punya teknologi canggih untuk mengamati orang2 lain secara mendetil. Sekarang baru ngerasain sendiri, dan.. rasanya asyik juga ;-) Big Brother is watching you.. ;-) Eh, salah ya? Harusnya: Big Sister is watching you ;-)

Wednesday, February 07, 2007

Ichal Started a Joke

”Sometimes laugh is the only weapon we have”.
(Roger Rabbit)

***

Barusan baca posting terbarunya Tabah, tentang: apa yang akan dilakukan jika hidup cuma sehari.

Hmm.. pas banget pertanyaannya! Kalau ditanya begitu hari ini, maka jawaban gw adalah: menculik seseorang, membawanya ke tengah Bendungan Katulampa, lantas... *SENSOR*. Nggak mungkin dituntut dengan pasal subversif kan ;-)? Wong besok sudah tidak hidup lagi ;-)

Siapa yang mau gw culik? Petunjuknya ada di Liputan 6 Malam, edisi tadi malam:

"Kalau kita lihat para korban itu masih ketawa. Jangan sampai dikondisikan seolah-olah dunia mau kiamat seperti yang televisi Anda (SCTV) katakan demikian,"

(berita komplitnya di sini)

Hhhh... gw bener2 dualima-jigo-dualima-jigo (baca: c*pek deh!) mendengar ucapan tersebut di atas. Astaghfirullah.. Gusti Allah nyuwun pangapura.. nyebut, Pak, nyebut! Istighfar, mohon senantiasa diberikan kesehatan mata; baik mata fisik maupun mata hati.

Gw ngerti, mungkin bapak ini sedang muangkele puol. Kadang2 media massa [mungkin] juga [sadar tak sadar] membesar2kan sesuatu. Tapi mbok yao jangan bilang para korban itu masih ketawa, to Pak! Iku jenenge panjenengan mboten gadhah tepa selira babar blas.

Mungkin, Pak Menteri ini harus belajar pada Roger Rabbit. Atau pada Pumbaa & Timon. Para tokoh kartun ini pun tahu bahwa senyum dan tawa bukan selalu merupakan indikasi kegembiraan dan problem-free. Tertawa, seringkali justru merupakan satu2nya senjata yang kita punyai untuk menghadapi masalah yg sudah tidak mungkin kita apa2an. I laugh, therefore I keep my sanity.

Senyum dan tawa, sejak lama dikenal sebagai sebentuk defense mechanism. Mekanisme pertahanan diri dari kejadian2 traumatik yang bisa menyebabkan mental breakdown. Gw bisa kasih tautan ke ratusan literatur untuk membuktikan hal ini, tapi gw pilih salah satunya saja. Kalau kita mau main teori2an, mungkin bisa pakai teori Rational Emotive Therapy: senyum dan tawa adalah upaya rasional kita untuk mengubah keadaan emosi negatif supaya jiwa kita selamat dari keterpurukan. Seperti Pumbaa dan Timon ketika menyanyikan Hakuna Matata untuk menyemangati Simba yang hampir mati cemas.

Bisa saja Bapak Menteri mengatakan bahwa banjir tahun ini tidak perlu dibesar2kan. Cukup ditanggulangi saja, jangan dianggap mau kiamat. Tapi.. apa iya, para korban yang tersenyum dan tertawa itu juga merasakan hal yg sama? Apa iya, senyum dan tawa mereka adalah karena mereka masih menikmati keadaan? Karena keadaan belum mau kiamat?

Well.. mungkin, karena beliau tidak merasakan susahnya kebanjiran, beliau masih menganggap bahwa kiamat baru dekat ketika Jakarta sudah menjadi setting The Day After Tomorrow. Atau, bahkan lebih parah lagi: ketika Nabi Nuh AS sudah membuat kapal besar. Itu sebabnya, mungkin ada baiknya jika beliau direndam selama beberapa jam di tengah Bendungan Katulampa. Bukaaan.. bukan untuk menghukum beliau! Ini semata2 untuk memberikan pengalaman tentang betapa mengerikannya dan menyedihkannya banjir. Betapa tertekannya korban banjir. Mungkin, setelah mengalami sendiri, beliau baru bisa mengerti mengapa orang bisa tertawa saat di pengungsian.

Yaah.. empati memang bagian dari personality trait seseorang. Dan gak semua orang punya kemampuan empati sejak lahir. Kadang, untuk yg nggak punya kemampuan itu, dia harus dibenturkan ke masalah yg sama sehingga setidaknya bisa bersimpati.

Well.. sayang ya tadi malam SCTV nggak memutar background sound sebagai berikut ini:

I started a joke
Which started the whole world crying
But I didn't see, oh no, that the joke was on me, oh no

(I started a joke, Bee Gees)

Lagu itu cocok banget lho! Beliau tadi malam membuat the whole world crying dengan kata2nya. Kata2 itu memang hanya pantas diucapkan seorang menteri dalam keadaan bercanda. Otherwise, nggak ada lucu2nya sama sekali. The joke was on you, sir!

Next time, hati2 kalau bicara, ya Pak! Kalau nggak bisa menjamin kesejahteraan rakyat, setidaknya janganlah merangsang kreativitas rakyat ber-kinky fantasy seperti di atas!

UPDATE 8 Februari 2007:

Ngelihat komentar2 di entry-nya Tabah, gw jadi ngerasa sal-kom (=salah komen) karena mengutarakan ke-kinky-an gw ;-) Rata2 kalau cuma hidup sehari, mau bercinta dengan artis pujaannya, seperti Marshanda, Luna Maya, atau Nicholas Cage. Kenapa juga gw malah mau merendam orang di bendungan ya? Agresivitas tersembunyi, atau sekedar suka sok superheroine ya.. hehehe..

BTW, Pak Menteri dalam detik.com menyatakan dia sangat simpati pada korban banjir, buktinya sampai tidak tidur. Mudah2an bergadangnya benar2 efektif untuk memikirkan penanggulangan banjir ya, Pak. Bukan bergadang mikirin kenapa pengungsi masih bisa senyum kan ;-)? *oops.. ;-)*

Tuesday, February 06, 2007

Latah: Eh, Kok Lali Ya?

Lantaran mau mengomentari tulisan Mas Iman tentang latah ini, gw jadi mengaduk2 laci ingatan gw dari masa awal perkuliahan dulu. Gw ingat banget latah ini dibahas di mata kuliah Psikologi Umum I, mata kuliah prasyarat untuk hampir semua mata kuliah di semester II. Gw juga masih ingat di bab berapa hal ini dibahas. Masalahnya.. gw justru lupa istilah ilmiah untuk latah. Gw cuma ingat istilah ilmiah ini diakhiri dengan "IA". Padahal, gangguan yang diakhiri dengan "ia" itu ombyokan (= berjibun) di psikologi. Ada aphasia, amnesia, dementia, pedophilia, bulimia, anorexia dan ia-ia lainnya.

Googling kesana kemari, tetap aja gw nggak nemu istilahnya. Yang gw temukan cuma bahasan latah sebagai culture-specific syndrom saja. Well.. memang latah merupakan simtom yang lazimnya (atau malah hanya) terdapat dalam ras Melayu. Cumaaa.. gw yakin bahwa latah bisa digolongkan pada salah satu gangguan wicara (speech disorder).

*Note: yang gw bicarakan di sini adalah latah sebagai gangguan fisik ya, bukan latah gaul yang terbentuk karena proses belajar. Kalau latah gaul, nanti kapan2 aja dibahasnya ;-) Soalnya teorinya beda ;-)*

Naaah.. setelah berkali2 mencoba memasukkan berbagai keyword di google, bolak-balik ngutak-utik kata aphasia dan variannya tanpa hasil, akhirnya gw mendapatkan situs yg memuat istilah ilmiah latah. Nama canggih dari latah adalah.. COPROLALIA dan ECHOLALIA. Rupanya gw salah mengingat plesetan yg gw bikin untuk gangguan ini. Dulu, gw mengingatnya dengan nama ”Eh, Kok Lali ya?” (= eh, kok lupa ya?), tapi yg muncul dari ingatan gw adalah plesetan yang satu lagi: gangguan ”Apa sih ya?”, alias kode gw untuk gangguan aphasia.

*Catatan lagi: pelajaran buat yg masih berstatus pelajar dan mahasiswa! Hati2 kalau bikin jembatan keledai untuk menghafal materi kuliah/sekolah. Bisa2 kepleset kayak gw.. hehehe..*

Kenapa ”latah” punya dua nama ilmiah? Yaah.. karena latah itu juga berjenis2, dan berbeda satu sama lainnya. Sebenarnya malah bukan cuma dua jenis latah. Yang dua itu hanya menggambarkan latah verbal. Kalau latah non-verbal, istilahnya diakhiri dengan -praxia. Misalnya, kalau latah dengan membuat obscene motion saat kaget, istilahnya adalah copropraxia.

Balik ke latah verbal. Perhatikan deh, ada dua jenis. Latah yang pertama: mengulangi omongan orang lain secara spontan jika kaget. Ini yang disebut sebagai Echolalia (echo = mengulang); si penderita sekedar mengulang tanpa mengubah apa2. Tapi ada jenis latah lainnya, yaitu: kalau kaget, maka yang dikeluarkannya adalah sumpah serapah. Penderita tidak mengulangi apa yg membuatnya kaget, melainkan mengeluarkan reaksi khas berupa kata2 [yang biasanya] kotor. Nah.. inilah yang disebut Coprolalia, berasal dari kata Yunani ”Coprol” yang berarti.. feces!

Sebenarnya Echolalia dan Coprolalia ini tidak hanya terjadi pada ras Melayu. Pasien autistik dan sindrom Tourette biasanya juga menunjukkan gejala2 ini sampai batas tertentu. Tapi memang hanya di tlatah Nusantara dan Malaya terdapat orang2 dengan kondisi mental yang [bisa dibilang] normal menunjukkan either echolalia atau coprolalia. Itu sebabnya muncul satu istilah baru: latah, yang diaplikasikan pada kedua gangguan ini sekaligus.

Mengenai mengapa coprolalia (= latah dengan mengeluarkan reaksi khas kata2 kotor) sering terjadi pada ras Melayu yang ”normal” (baca: tidak autis, schizophrenic, menderita sindrom Tourette, atau gangguan lainnya), seingat gw memang belum bisa dijelaskan secara ilmiah. Tapi.. ada hipotesa menarik mengenai penyebabnya.

Hipotesa dari salah satu dosen gw, yang Psikoanalis sejati, tentang kenapa coprolalia itu berupa kata2 anonoh (=tidak senonoh). Katanya: latah jenis coprolalia ini merupakan pembuktian dari teori Freud. Freud mengatakan bahwa manusia adalah mahluk dengan instink kebinatangan, yang perilakunya didorong oleh instink kebinatangan tersebut. Nah.. instink binatang kan nggak jauh dari kopulasi dan proses reproduksi, jadi nggak heran kalau yang dikeluarkan sebagai reaksi adalah istilah2 ”seputar paha”.. ;-)

Mengenai mengapa terjadi pada manusia ”normal” (sekali lagi: tidak autis, schizophrenic, menderita sindrom Tourette, atau gangguan lainnya) di tlatah Melayu, gw juga punya hipotesa sendiri. Well.. hipotesa gw adalah: karena manusia2 di tlatah ini cenderung suka merepresikan segala sesuatu. Kalau pakai teorinya Freud, ya karena manusia2 ini punya superego (= the moral part) yang terlalu kuat. Dengan segala tabu dan norma sosial, serta keharusan mempertahankan keselarasan, membuat mereka menekan id (= the irrational and emotional part) dengan superego. Bukan dengan ego (= the rational part, which develops the sense that you can’t always have what you want). Makanya, walaupun kelihatan “normal”, sebenarnya ada bagian2 yang menggelegak dan akhirnya keluar dalam bentuk latah (= coprolalia) itu.

Hipotesa gw ini menjelaskan juga kenapa lebih banyak perempuan yang mengalami coprolalia di tlatah Melayu ;-). Budaya timur lebih banyak memberikan tabu kepada perempuan daripada pria kan ;-)? Nggak heran lebih banyak perempuan yang memaksimalkan fungsi superego. Lha wong bersikap rasional (baca: memaksimalkan fungsi ego) pun sering dianggap tabu untuk perempuan timur ;-).

Anyway.. bahasannya serius ya? Hehehe.. Ya deh, biar gak kelewat serius, gw kasih fun fiction. Perhatikan istilah echolalia dan coprolalia itu. Dua2nya mengandung kata Lali, yang dalam bahasa Jawa berarti Lupa. Hmm.. ada hubungannya nggak ya, antara latah (yang notabene ”lupa” atau ”terlewat” memproses informasi sebelum bereaksi) dengan bahasa Jawa? Katanya sih dari bahasa Yunani, tapi jangan2 nenek moyangnya Yunani itu Jawa ya? Yunani itu jangan2 anak turunnya (Mbak)Yu Nani.. HAHAHA.. Hidup Jawa! Jawa rulez!

Monday, February 05, 2007

The Amazing Race Jakarta

Mungkin gw memang sudah terlalu banyak nonton televisi. Soalnya, waktu salah satu klien meng-SMS gw menanyakan kabar pasca banjir, jawaban gw adalah: “I’m fine. I just feel like The Amazing Race contestant, with all these Road Blocks and Detours

Nggak sehat ya? Yaah.. tapi gimana lagi? Lebih gak sehat [mental] lagi kalau gw berharap keadaan negeri ini berubah ;-)

***

Jumat lalu, untuk pertama kalinya gw ikutan The Amazing Race Jakarta. Tugas untuk Jumat lalu adalah: Saving Princess Ima. Ya, hari itu Ima memang jadi sejenis Rapunzel: terkurung di sekolahnya lantaran jalanan sekitar sekolah berubah menjadi sungai. Supir jemputan sekolah sudah mengkonfirmasi bahwa mobilnya tidak mungkin menjemput anak2 dari sekolah.

Jam 09:00 Mbak Pengasuhnya Ima diterjunkan lebih dahulu. Rencananya adalah menggunakan bajaj, yang dipercayai mengerti jalan2 tikus anti banjir. Tapi, ketika jam 10:30 Ima menelepon dari sekolah dan mengatakan Mbaknya belum muncul, terpaksa team kedua yang terdiri dari gw & bapaknyaima diturunkan. Mbaknya Ima diasumsikan tidak berhasil mengatasi road block berupa [meminjam kata Gubernur DKI tercinta, Bang Sut] ”sekedar fenomena alam”.

Perjalanan team kedua (baca: sweeping team) lumayan mulus. Dari pemukiman kami hingga daerah Pulomas, sungainya hanya konstan berdebit setengah roda. Masih bisa dilewati mobil walaupun harus hati2 sekali! Tapi.. pas sebelum mencapai ujung Pulomas, kami harus detour. ”Fenomena alam” sudah 50cm, mustahil mobil melintas.

Detour pertama, kami memutar lewat jalan tembus ke arah Pulogadung. Gagal. ”Fenomena alam” yang sama sudah menjadi road block di sungai kecil ujung jalan. Terpaksa, kami detour untuk kedua kalinya. Kali ini melewati Terminal Pulogadung.

Jalanan sepanjang arah terminal sebenarnya juga sudah banjir. Sempat ingin tukar tambah mobil dengan pelampung renang, sayangnya pedagang asongan yang biasanya ramai menawarkan life saving device wannabe ini tak tampak batang hidungnya. Terpaksa, dengan mengucap bismillahirahmanirrohim, kami mengubah kodrat kereta besi menjadi kendaraan amfibi ;-). Mencemplungkan diri ke jalanan yang airnya sudah sekitar 30cm. Demi sang putri, lautan pun kuseberangi ;-)

Alhamdulillah, tak lama kemudian kami mencapai jalur Trans Jakarta yang bebas banjir. Gimana gak bebas banjir, lha wong di kanannya ada gorong2 dan di kiri ada pembatas dari batu ;-). Air yg jatuh ke landas pacu Trans Jakarta langsung masuk gorong2, sementara banjir dari jalan umum tidak masuk ke jalurnya. Terima kasih sekali lagi kepada Bapak Gubernur DKI tercinta! Untung Bapak cepat tanggap dalam masalah lingkungan, mendahulukan pembangunan Trans Jakarta. Coba, kalau awal 2007 ini busway belum jadi, lewat mana rakyat menghindari banjir?

*Catatan: ohya, lupa bilang. Dari awal tulisan, bacanya dengan Sarkastik Mode: ON ya ;-)*

Sayangnya, walaupun sudah lewat busway hingga mencapai RS Mediros, akhirnya kami harus menyerah pada road block terakhir. Perempatan yg memisahkan Kelapa Gading, Pulomas, dan Cempaka Putih sudah tidak mungkin dilalui.

Lantas, Ima bagaimana? Beruntung Mbak Pengasuhnya Ima (baca: advanced team) berhasil menyelamatkan sang putri dengan menggunakan.. BECAK! Jadilah sang putri menunggang becak mengarungi samudra.

Demikianlah akhir kisah Princess masa kini: bukan pangeran yang datang, melainkan inang pengasuh. Bukan kuda putih bersayap yg dikendarainya menuju kebebasan, melainkan becak pengangkut sayuran yang tidak beratap dengan air banjir merendam kakinya. Dan akhir kisahnya tidak happily ever after, melainkan fevery all night long. Iya! Ima jadi sakit tenggorokan dan demam selama akhir minggu :- (

***

Saat mengarungi Jakarta Jumat lalu, gw terus2an mantengin Suara Metro 107.8 FM mencari berita banjir. Tapi ada satu masa ketika gw pingin nimpuk radio, yaitu ketika sebuah Iklan Apologia Pemerintah disiarkan. Iklan itu berbunyi kurang lebih begini:

”Banjir yang melanda Jakarta bukan semata2 akibat kerja pemerintah Jakarta yang tidak transparan. Menurut Bang Yos, banjir di Jakarta disebabkan juga oleh kondisi geografis yang tidak menguntungkan. Sekitar 40% wilayah Jakarta terletak di dataran rendah, dengan ancaman dari 13 sungai besar”

Menurut gw iklan ini konyol banget. Pertama, kalau sudah tahu kondisi geografis kota kita parah, maka yang pertama2 harus dilakukan oleh pemerintah adalah merancang strategi untuk mengatasi kondisi yg tidak ideal ini. Kalau cuma terlahir dengan tanpa kaki, maka yang pertama harus kita beli adalah kaki palsu kan, biar bisa jalan? Bukan malah beli sepatu Nike buat lari, ngeceng, atau lari sambil ngeceng ;-)

Nah.. makanya, kalau udah tahu Jakarta rawan banjir, usahakan dong untuk mengatasi banjir. Kalau masyarakat yg jorok dianggap sebagai biang keladi sungai yang mendangkal, ya dana pembangunan daerah ditujukan untuk mendidik supaya mereka tidak jorok saja. Bukan malah mendahulukan Trans Jakarta yang bikin tanah gak rata ;-). Toh giliran banjir, Trans Jakarta juga gak bisa jalan :-(. Kalau memang fenomena alam ini tidak bisa mengatasi, ya cari alternatif lain. Bikin Jakarta jadi Venezia kedua, misalnya. Naah.. kalau Jakarta jadi Venezia, kan bisa bikin TransGondola Jakarta ;-)

Tapi, apa iya sih, banjir di Jakarta ini tidak bisa diatasi? Kok banyak yg bilang bisa2 aja, salah satunya pendapat di sini ;-)

Kekonyolan yang kedua: isi pesan iklan [yang katanya] layanan masyarakat itu adalah untuk mengajak masyarakat tidak mengotori sungai. Lha, kalau gitu, bukankah semestinya iklan tersebut dipasang di radio2 yg lebih mungkin didengarkan oleh penduduk di bantaran kali? Biar mereka lebih sadar? Kalau diputar di radio yg pendengarnya bukan masyarakat pinggir kali, apa hubungannya? Cuma jadi apologia saja, lempar tanggung jawab bahwa banjir bukan kesalahan pemerintah.

***

Apa pun penyebab banjirnya, gw acung jempol pada tindakan Pak Presiden meninjau langsung bencana banjir di hari pertama. Bukan cuma meninjau, tapi beliau juga mau berjalan dalam banjir. Padahal, gak akan susah buat beliau minta diistimewakan dan disediakan perahu karet – biar bisa meninjau banjir tanpa membuat kakinya basah. Personal touch yang kayak gini yang bikin gw salut sama presiden yg sekarang. Kalau beliau tidak bisa menyelesaikan masalah yg diwarisinya dari generasi sebelumnya, yaa.. mungkin memang masalahnya yg sudah terlalu kronis. Tapi, setidaknya, beliau mau turun dan menunjukkan keperdulian.

Dan gw salut, beliau langsung mengatakan bahwa pemerintah Jakarta harus mengambil tindakan secepatnya untuk menyelamatkan rakyat. Bahwa istana terendam tidak apa2. Jelas banget kok, beliau mengucapkan itu di layar televisi!

Makanya, ketika dua hari kemudian ada yang mengatakan belum bisa membuka pintu air ke arah istana belum dibuka karena ”belum ada ijin Presiden” [dan kemudian meralatnya menjadi, ”Ya, memang itu tidak membutuhkan perintah Presiden, tapi sopan2nya kan lapor dulu pada Presiden”], gw terpaksa garuk2 kepala gw yg gak gatal. Kemane aje, Bang, nggak nyimak omongan atasannya ;-)?