Thursday, January 18, 2007

Tatami dan Bento

Beberapa menit lalu di feeder list muncul update-nya Cahyo tentang Susahnya Mencari Nama Anak. Pas banget, karena beberapa hari lalu gw sempat juga pingin nulis tentang nama anak. Sayang, karena tertunda2, mood-nya hilang ;-). Baru muncul lagi sekarang ;-)

***

Mencari nama untuk anak adalah urusan serius di keluarga gw. Nama harus punya arti yang bagus karena dianggap doa/harapan orangtua bagi si anak. Nama juga sebaiknya tidak terdengar harafiah, lebih bagus kalau sedikit bermain2 dengan metafora. Nama panjang gw, misalnya, diambil Bapak dari dua kitab Jawa Kuno yang berbeda. Satu kata diambil dari episode Kidhang Kanaka (=kijang kencana) dalam cerita Ramayana, yang memiliki arti ”kumpulan berbagai batu permata”. Satu kata lagi, yang berarti ”kebijaksanaan”, diambil dari kitab yang gw lupa judulnya. Arti harafiahnya adalah ”Kebijaksanaan [yang terbuat dari] berbagai batu permata”, tapi kata Bapak harus dilihat sebagai metafora: dianugrahi "kebijaksanaan yang tak ternilai harganya". Bagus ya? Sayang, kayaknya nama ini keberatan buat gw.. hehehe.. Bukannya jadi bijak, gw malah jadi tukang cela ;-).

Sejak masih gadis, gw berniat meneruskan tradisi ini. Lantaran Ima diperkirakan lahir tepat di hari Pemilu pertama era reformasi, plus waktu hamil gw pernah terjebak nginep di kantor karena Tragedi Semanggi, maunya bikin nama yang berbau2 harapan terhadap orde yang lebih baru daripada orde baru ini ;-). Berhubung Ima itu ”indo”, satu kata mau diambil dari Bahasa Jawa Kuno atau Sansekerta seperti tradisi The Notodisurjos van Solo, sementara satu kata lagi dari Bahasa Arab atau Parsi sesuai kebiasaan The Moertadhos van Singosari.

*Uhm.. sebenernya sih gw maunya ngasih nama pakai Bahasa Jawa Kuno/Sansekerta seluruhnya. Biar lebih simetris aja, namanya gak campur2. Toh, Ima juga udah kebagian nama keluarga Moertadho, kalo ditambah Bahasa Arab/Parsi lagi, komposisinya nggak imbang dong 2:1. Tapi kata bapaknya, nggak aci kalau nama keluarga dihitung.. hehehe.. Gw tawar ngasih nama Jawa Kuno khas Singosari dan sekitarnya, seperti Ken, Rakyan, Mahesa.., tetap aja dia nggak mau. Katanya kalau Mahesa ntar dikira kader PDI-P, secara artinya ”banteng”.. ;-)*

Berhubung kami nggak mau minta dilihatkan jenis kelamin si bayi, tetap maunya sih menyiapkan satu nama laki2 dan satu nama perempuan. Untuk mencari nama anak perempuan perdebatannya nggak lama. Kami berdua sama2 ingin nama yang mengesankan ketentraman, makanya langsung suka dengan Swastinika Naima.

*Pemutakhiran 26 Desember 2008: Arti namanya terpaksa gw hapus dari sini, karena banyak yang nggak sopan main contek nama yang gw cari susah payah. Kreatif dong cari nama anak, mosok nyontek!*

Mencari nama anak laki2 ternyata jauh lebih susah, karena gw dan bapaknyaima beda parameter. Gw pinginnya nama anak laki2 tuh yang gagah. Sayangnya apa yang gw anggap gagah ternyata masuk kategori bombastis buat bapaknyaima. Jadilah nama2 bikinan gw diveto oleh bapaknyaima, seperti Adhimatratama Safna (=manusia unggul yang membawa kemakmuran) atau Gibran Maharashtra (=mengembalikan bangsa yang besar pada keseimbangan). Untung, akhirnya nemu juga kesepakatan sebuah nama yang kurang lebih berarti ”petunjuk [bagi] pikiran yang tak terbelokkan”. Masih sesuai dengan tema reformasi kan? Hehehe.. Semoga menjadi petunjuk bagi para pemimpin baru negeri ;-)

*Maaf, nama yang disepakati ini gak diekspose ya! Soalnya masih mau dipakai kalau nanti2 punya bayi laki2 ;-)*

Waktu ditetapkan nama panggilannya Ima, gw sempat teringat pelajaran Bahasa Jepang jaman SMA. Dalam Bahasa Jepang Ima berarti ”sekarang”. Bukan arti yang manis buat sebuah nama ya.. hehehe.. tapi gw pikir netral aja. Nggak papa kan punya nama panggilan yang berarti ”sekarang”?

Sayang, waktu itu gw lupa bahwa dalam Bahasa Jepang sebuah kata yang bunyinya sama, jika dituliskan dengan Kanji berbeda, maka artinya berbeda. Dan.. atas kecerobohan gw, gw nggak lihat lagi kamus Kanji. Akibatnya, baru pekan lalu gw tahu bahwa.. kata ”Ima” jika dituliskan dengan Kanji yang berbeda, maka artinya berubah menjadi.. RUANG TAMU ;-)

Hehehe.. Ima ngomel campur ngakak waktu lihat bahwa nama panggilannya punya arti ”ruang tamu”. Gw juga ikut ngakak, tapi dengan alasan yang berbeda ;-)

Dulu sekali, almarhum Bapak pernah cerita bahwa teman2nya di Jepang selalu tertawa terbahak2 atau mengernyitkan dahi jika beliau memperkenalkan diri. Nama Bapak sebenarnya punya arti yang bagus. Sayangnya, yang eyang2 gw nggak tahu [ataupun kalau tahu, tidak berpikir suatu hari Bapak akan terdampar di Jepang] adalah: nama Bapak sama dengan kata dalam Bahasa Jepang yang berarti.. KAMAR MANDI ;-)

Well.. cocok kan? Eyangnya kamar mandi, cucunya ruang tamu? Hehehe.. Berasa kayak anggota freemasonry ;-)

Mungkin kalau gw punya anak perempuan lagi, gw harus memberinya nama Tatami. Atau kalau punya anak laki2 dinamai Bento. Biar komplit bikin satu rumah.. hehehe.. kamar mandi, ruang tamu, tikar yang bisa buat tidur, dan rantang yang bisa buat makan ;-).